Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

Setting: selalu AU

Warning: diusahakan tidak terlalu OoC

.

.

.

~* Koi Monogatari *~

Junsuino Koi

Cinta Sejati

.

.

.

Di kelas tiga, Hinata tidak sekelas lagi dengan Sasuke dan Karin. Tidak ada kelas unggulan seperti tahun lalu. Bahkan Sasuke dan Karin juga terpisah. Kelas diacak dengan harapan semua murid bisa lulus dengan nilai yang memuaskan, tanpa kesenjangan yang terlalu lebar. Sialnya, Hinata satu kelas dengan pemuda yang waktu itu mempermainkannya. Ia baru tahu kalau nama pemuda berambut merah itu adalah Akasuna Sasori. Sungguh menyebalkan karena Sasori berlagak tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Memang benar mereka tidak memiliki hubungan apapun selain rekan seangkatan, dan kini menjadi teman sekelas. Setidaknya Hinata ingin mendengar permintaan maaf dari pemuda yang bersangkutan, walaupun sebenarnya ia tidak menaruh dendam.

Sepertinya tahun ini Hinata memang kurang mujur. Saat festival olahraga, teman sekelasnya memaksanya untuk turut berpartisipasi dalam perlombaan. Ini kali pertama Hinata turut berperan serta dalam kegiatan tahunan tersebut. Dari undian yang diadakan, ia harus mewakili kelas dalam lomba lari tiga kaki. Ia tidak ingin mengecewakan teman sekelasnya karena kemampuan larinya yang kurang cepat. Namun, sayangnya ia tidak bisa menolak, dan ia jadi serba salah.

Keberuntungan seolah semakin jauh darinya saat ia tahu kalau rekan setimnya adalah Akasuna Sasori. Tetapi, ia tidak boleh melarikan diri. Hari menyebalkan itu akan tetap datang, dan ia harus menjalaninya.

.

.

.

Di belahan bumi yang lain, Naruto tampak berkali-kali meremas kertas yang baru ia tulisi lalu melemparkannya ke tempat sampah. Terkadang, bola-bola kertas itu dilemparkannya secara asal hingga tercecer di lantai kamarnya. Kalau ibunya tahu kamarnya sekotor itu, pasti telinganya tidak akan selamat dari jeweran. Untungnya ibunya sedang belanja bulanan bersama ayahnya. Pasti mereka akan lama, dan ia masih punya waktu untuk membereskan semua kekacauan yang dibuatnya.

Naruto menghela napas untuk ke sekian kalinya. Ternyata menulis surat tidak semudah yang dibayangkannya. Padahal ia hanya ingin mengikuti saran Karin untuk memberikan kabar kepada Hinata. Sayangnya ia kurang mampu untuk menuangkan perasaannya dalam bentuk tulisan. Sebenarnya ia bisa berinteraksi secara langsung dengan Hinata melalui telepon, surat elektronik, atau mungkin video call. Tetapi ia ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Meski terkadang menulis surat di secarik kertas dianggap kuno, namun terkesan lebih romantis.

Kalau dipikir-pikir, tulisan gagal yang sedari tadi dibuangnya berisi tentang keinginannya untuk meminta balasan dari Hinata atas pernyataannya waktu itu. Ia merasa kurang nyaman jika menanyakannya. Ia jadi teringat akan rangkaian kata dalam novel yang ditulis oleh kakeknya, bahwa cinta sejati adalah memberi tanpa dalih dan pamrih. Itulah kebahagiaan sesungguhnya, di mana seseorang bisa memberi tanpa meminta, serta mencintai tanpa tahu alasannya.

Meskipun sebagian orang mengatakan kalau cinta sejati hanyalah cinta Tuhan kepada hamba-Nya, atau cinta orang tua kepada anak-anaknya, Naruto ingin membuktikan bahwa ia juga dianugerahi cinta sejati kepada Hinata. Mungkin ia memang naif. Tetapi, bukankah ia masih mampu untuk bertahan meski ia tidak tahu perasaan Hinata kepadanya…?

Kali ini Naruto menuliskan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya.

Hai, Hinata,

Apa kabar?

Basi. Namun Naruto terus mencoba. Ia pun melanjutkan kegiatan menulisnya.

Aku dengar dari Karin kalau kamu akan mengikuti perlombaan lari tiga kaki untuk festival olahraga tahun ini. Pasti sangat seru bisa setim denganmu.

Aku berharap agar aku yang jadi pasanganmu….

Wajah Naruto sedikit bersemu merah seusai membaca ulang kata per kata yang ditulisnya. Rasanya sedikit ambigu. Atau mungkin … seperti gombalan…? Ah, ia tidak peduli. Ia hanya ingin mengutarakan isi hatinya saat ini.

Ayo, ayo, semangat! Kamu pasti bisa!

Sign,

Naruto

Pemuda beriris biru laut itu memandang prihatin pada surat yang ditulisnya. Terbukti kalau ia memang tidak berbakat dalam menulis surat. Kemampuan menulis kakek dan ibunya sama sekali tidak menurun kepadanya. Sekali lagi ia harus menerima kenyataan bahwa ia sangat mirip dengan ayahnya.

Setidaknya itu adalah surat terbaik dibandingkan surat-surat yang ia tulis sebelumnya. Ia melipatnya dengan hati-hati, begitu pun saat memasukkannya ke dalam amplop. Ia menyertakan selembar foto yang diambil di pantai Santa Monica, saat berlibur bersama teman-temannya yang berasal dari berbagai ras. Ia menuliskan sedikit keterangan di belakang foto tersebut, dan juga sekelumit harapan.

Lain kali kita harus foto di pantai….

.

.

.

Ternyata memang sulit berlari dengan salah satu kaki diikat dengan kaki orang lain. Apalagi Sasori sering salah memberikan aba-aba padanya. Tetapi Sasori malah menyalahkannya setiap kali mereka terjatuh. Ditambah gerutuan yang seolah terus berdengung di telinganya.

Hinata bisa merasakan lutut dan telapak tangannya yang perih. Namun, mengingat surat dari Naruto tempo hari, ia tidak jadi mengeluh. Ia harus berjuang sampai akhir. Sekarang menang atau kalah tidaklah terlalu penting. Karin juga tidak henti-hentinya menyemangatinya dari tepi lapangan, meski sebenarnya gadis berkacamata itu mendongkol karena Sasuke berpasangan dengan siswi lain dalam perlombaan yang sama.

Hinata dan Sasori meraih posisi ketiga. Mereka berdua bergegas melepaskan diri. Hinata tidak tahan berdekatan lama-lama dengan pemuda itu.

"Dasar lamban," desis Sasori yang kemudian meninggalkan Hinata seorang diri.

Hinata sudah biasa mendengar pemuda sok imut itu berkata kasar. Ia hanya bersikap tak acuh, lalu menghampiri Karin yang juga mendekat padanya. Ia menerima handuk kecil dan air mineral yang diberikan Karin, kemudian duduk di bawah pohon. Sambil membuka tutup botol bening itu, ia melihat Sasuke yang baru selesai melepaskan diri dengan pasangan larinya. Pemuda berambut gelap itu tampak kurang bersemangat, bahkan tidak meraih juara seperti biasanya. Di sebelahnya, Karin menyibukkan diri dengan luka di lututnya.

Sasuke menduduki tempat di samping Karin, namun kekasihnya itu langsung pindah ke sisi Hinata.

"Aku juga haus, Rin," keluh Sasuke.

Karin berlagak seolah tidak mendengar suara Sasuke. Ia menempelkan plester di lutut Hinata yang sebelumnya ia bersihkan dengan alkohol.

Hinata kurang nyaman berada di antara pasangan yang sedang bersitegang itu. Ia ingin memberikan kesempatan pada mereka untuk berdua. Sayangnya Karin terus menahannya agar tetap di sana. Beberapa kali Sasuke memanggil Karin, namun yang bersangkutan masih menulikan telinganya.

Sasuke menghela napas. Karin yang sedang cemburu memang tidak bisa diajak bicara. Sebaiknya ia memberikan waktu kepada Karin untuk mendinginkan kepala. Tanpa kata ia bangkit dan beranjak dari posisinya.

"Kamu mau ke mana!" hardik Karin, "Lukamu 'kan belum diobati!"

Langkah Sasuke terhenti, namun ia tidak berbalik. Sebelum Karin menarik lengannya dan menyuruhnya untuk duduk di tempatnya semula, senyum tipis tersungging di bibirnya.

Karin menyerahkan sebotol air mineral pada Sasuke tanpa menyembunyikan tampang sebalnya.

"Itu tidak gratis," gerutu Karin ketika Sasuke mulai meminum airnya, "ganti seratus kali lipat."

Hinata sedikit menggeser posisinya untuk memberikan ruang kepada mereka berdua. Sesekali ia melirik pasangan yang sering putus-nyambung semenjak semester baru itu. Entah mengapa ia jadi semakin kagum pada Karin. Meskipun sedang kesal, sahabatnya itu mengobati luka Sasuke dengan hati-hati.

"Dasar cewek genit!" Karin menggerutu dalam bisikan, dengan perhatian yang tak lepas dari plester yang akan ditempelkannya di lutut Sasuke. "Pasti pura-pura jatuh biar kamu tolong, terus larinya dilambat-lambatin biar bisa lama-lama sama kamu. Mana jatuhnya ajak-ajak lagi. Kamu 'kan jadi ikutan luka."

Karin malah meninju kaki Sasuke untuk melampiaskan kekesalannya.

"Kamu juga sama saja," omelnya sembari memelototi Sasuke.

Pemuda minim ekspresi itu hanya menyeringai. Ia merangkum wajah Karin dengan sebelah tangannya sembari mendekatkan wajahnya. Sadar dengan apa yang akan terjadi, Hinata menggeser duduknya agar membelakangi mereka.

"Baka! Aku bisa jerawatan!"

Spontan Hinata berbalik. Ia mendapati Karin yang tampak histeris karena pipi kirinya belepotan tanah basah. Ia tahu kalau Sasuke sedang tertawa pelan di balik handuk kecil yang menutupi kepalanya—dan sudah dapat dipastikan kalau Karin yang sebelumnya melemparkannya ke sana.

.

.

.

Hinata tengah menulis surat balasan untuk Naruto sambil senyum-senyum sendiri ketika Neji mengetuk pintu kamarnya. Kakak laki-lakinya itu menyuruhnya bergabung ke meja makan karena hidangan makan malam sudah siap. Sembari menyimpan peralatan tulisnya, ia menyanggupi ajakan Neji. Ia lalu bergegas keluar kamar dan mengejar Neji yang baru menuruni tangga. Seraya menggandeng lengan pria berambut cokelat itu, Hinata mengawali perbincangan yang menemani mereka ke ruang makan.

Ternyata malam ini keluarga Hyuuga kedatangan seorang tamu. Neji memperkenalkan perempuan berambut pirang panjang itu sebagai Shion, calon istrinya. Katanya mereka akan segera menikah, padahal ini kali pertama Neji memperkenalkan Shion pada keluarganya. Mereka semua tercengang, kecuali pasangan muda itu. Meski ketika masih berada di luar negeri Neji sudah memberitahukan perihal kekasihnya, keluarganya tidak menyangka kalau mereka akan menikah secepat ini. Lagipula, baru tiga bulan Neji berpenghasilan sendiri sebagai seorang dokter di rumah sakit.

Seusai makan malam, Neji berunding bersama kedua orang tuanya. Sepertinya mereka membicarakan sesuatu yang serius dan menyangkut rencana pernikahan Neji dan Shion. Sementara itu, Hinata dan Hanabi diminta Neji untuk menemani Shion di ruang keluarga. Sekian menit mereka masih saling diam. Perhatian mereka terpusat pada layar televisi, walau sebenarnya pikiran mereka sama-sama berkelana. Apalagi Hinata yang sudah tidak tahan untuk menuangkan isi hatinya pada secarik kertas yang akan dikirimkannya pada Naruto. Sayangnya Hanabi tidak mau ditinggal sendiri bersama orang yang masih asing baginya.

"Kalian kelas berapa?" Akhirnya Shion mencairkan suasana.

"Tujuh."

"Dua belas."

Hanabi dan Hinata menjawab hampir bersamaan. Shion membulatkan mulutnya tanpa suara kemudian tersenyum singkat.

"Kalau Oneesan?" tanya balik Hanabi.

Shion sempat bingung dengan pertanyaan ambigu Hanabi, namun ia tetap memberikan jawaban, "Aku seangkatan dengan Neji, jadi sudah lulus kuliah. Sekarang kami bekerja di rumah sakit yang sama."

"Dokter juga?" Hanabi kembali bertanya.

"Bukan, aku ahli gizi." Shion tersenyum ramah.

Setelah itu hanya terdengar suara dari televisi setelah Hanabi dan Hinata mengangguk-angguk sebagai tanda mengerti, sampai si bungsu Hyuuga kembali mengeluarkan suaranya.

"Oneesan beneran suka Neji-nii?"

Sesaat Shion tampak merona. Ia juga terkejut, tidak menyangka adik kekasihnya yang masih menduduki bangku sekolah menengah pertama akan menanyakan hal tersebut.

"—Tentu saja," jawabnya gugup.

"Kenapa?"

Cukup lama Shion tidak bersuara, membuat dua adik Neji itu mulai meragukan perasaannya terhadap kakak mereka.

"… Entahlah," jawabnya kemudian.

"Kenapa begitu?" Hanabi tampak tidak terima.

Shion malah tersenyum lembut.

"Kalau kamu sudah dewasa, kamu pasti akan mengerti, Hanabi-chan…."

Hanabi hanya menggembungkan pipinya, lalu mengalihkan pandangan pada televisi yang sebenarnya kurang menarik. Neji bergabung bersama mereka tidak lama kemudian, dan duduk di sebelah Shion.

Hinata sudah bisa kembali ke kamarnya. Selama perjalanan ke lantai dua, ia jadi memikirkan jawaban Shion untuk pertanyaan Hanabi. Kalau ia juga ditanya mengenai alasannya mencintai Naruto, pasti ia juga tidak bisa menjawabnya. Sebab, rasa itu hadir begitu saja tanpa membutuhkan alasan atau syarat tertentu—bukan karena keindahan fisik maupun berbagai nilai yang tak kasat mata. Ia sama sekali tak mampu mencegah kehadirannya, dan cinta memang tak butuh alasan.

.

.

.

~* TSUZUKU *~

.

.

.

Arigatou gozaimashita, Minna-san….

Wednesday, June 13, 2012