'Eunghh'
Kubuka mataku ketika kudengar suara berisik dari arah dapur. Jam berapa memangnya sekarang?
Pukul 4 pagi.
Ya tuhan, siapa yang mau memasak pukul 4 pagi? Bahkan matahari pun masih tidur dibalik selimut 'mungkin dan belum berani menampakkan wujudnya. Dengan berat hati dan beratnya menahan kantukku, aku berjalan kearah dapur untuk melihat siapa yang tengah berada di dapur dan membuat keributan.
Dan sampai di lantai dasar, dan betapa terkejutnya aku melihat Oh Luhan, istriku yang paling aku cintai ini sedang memasak sup. Dan malangnya, sup itu tumpah ke lantai dan aku dapat menyimpulkan bahwa suara keributan tadi adalah suara sup yang jatuh.
Aku segera menghampiri pria kecilku dan membantunya memberishkan lantai. Tapi lengan kecil itu menepis lenganku yang sudah bersiap untuk mengelap lantai.
"Tidurlah."
"Aku tak bisa tidur karena kau membuat keributan. Aku akan membantumu."
"Jangan memaksa. Tidurlah. Aku akan ke pasar membeli beberapa sayur."
"Pagi-pagi seperti ini kau mau keluar ke pasar? Tunggulah sampai matahari mulai terbit."
"Tidak, aku akan pergi sekarang."
Luhan, pria itu langsung mengambil serbet yang tadi ia gunakan untuk mengelap lantai. Ia pun pergi meninggalkanku yang hanya mematung menatap kepergiannya. Beginilah Luhan jika sedang dalam keadaan hati yang buruk. Pertengkaran kami tadi malam pasti penyebab 'penyakit' keras kepala Luhan kambuh.
'Hahh'
Aku pun mengejarnya yang kebetulan masih didalam kamar dan sedang bersiap mengambil sweater dan dompetnya. Ia juga sengaja tak menoleh ke arahku atau hanya melirik saja.
"Aku akan mengantarmu." Ucapku tanpa basa basi dan langsung to the point.
"Tak perlu, aku akan pergi sendiri. Kau jagalah anak-anak."
'Hahh'
Aku menghela nafas 'lagi' dan benar saja Luhan pasti akan menolaknya. Bahkan ia juga langsung pergi begitu saja melewatiku didepan pintu kamar. Aku mengejarnya lagi.
'Srekk'
Kuraih lengan Luhan yang sudah berbalut sweater rajut abu-abu hadiah Baekhyun natal tahun lalu.
"Tenanglah Lu, anak-anak tidak akan kenapa-kenapa selama kita pergi." Aku mencoba untuk meyakinkan Luhan yang sudah menunjukkan wajah kesalnya padaku.
Sehun POV END
Luhan menatap suaminya kesal. kenapa Sehun dengan mudahnya menggampangkan soal anak-anak. Bagaimana jika Ziyu dan Haowen menangis saat mengetahui Orang tuanya tak ada dirumah. Apa lagi Ziyu yang selalu bangun pagi saat tiba-tiba perutnya merasa kosong karena kelaparan.
"Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu Sehunah?!"
Sehun awalnya terkejut dengan jawaban yang dilontarkan istrinya itu langsung terkekeh. Ia memegang kedua bahu istrinya.
"Kan ada Irene disini. Ia bisa menjaga Haowen dan Ziyu. Dia wanita yang baik."
'DEG'
Sakit. Itulah yang dirasakan Luhan. Entah sakit karena suaminya ini habis memuji seorang wanita yang ia benci dihadapannya atau karena wanita yang ia benci sekarang tinggal satu atap dengannya. Ia benci ini. Luhan rasa kedua alasan itu benar. "Jadi, dia tinggal disini?"
"Nde, dan anak-anak akan baik-baik saja."
Luhan yang sejak tadi memang dalam keadaan hati yang buruk langsung membalikkan badannya, ia berusaha untuk menahan emosinya. Ingin sekali ia memukul kepala Sehun dan memotong gundul rambut Sehun.
"Kenapa Lu?"
Butuh beberapa detik untuk Luhan menjawab. "Aku.. aku tak apa."
Dan akhirnya Luhan hanya menundukkan kepala, kecewa, marah, sedih bercampur aduk. Tangannya meremas sebuah dompet yang sejak tadi ia genggam. Ia melampiaskan kekesalannya pada dompet tak bersalah iu. "Tidak usah belanja. Masih ada persediaan kok."
Sehun yang melihat perubahan ekspresi Luhan seperti itu langsung menyentuh pundak Luhan, tapi Luhan malah menghindar dan berjalan cepat menuju dapur .
'Sehunah, kenapa kau bodoh sekali'
.
.
.
.
.
.
.
Pukul 06.30 waktu Seoul
Keluarga Oh sudah berkumpul dimeja makan dan siap untuk menyantap sarapan yang Luhan siapkan seadanya. Dan dengan sepenuh hati, Luhan berusaha tersenyum didepan Irene yang sedang berbincang-bincang dengan suaminya. Lebih tepatnya menggoda suaminya.
"Kau tau Oppa, eomma benar-benar menyebalkan. Dia meninggalkanku sendiri dan tak mengurusku sama sekali. Aku merasa tak dianggap" dengan bibir yang mengerucut imut itu Irene berhasil membuat Sehun gemas dan mengelus lembut kepala Irene dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
"Eomma mu sangat menyayangimu. Tidak mungkin dia tak menganggapmu Irene."
Hati Luhan benar-benar tengah diuji sekarang. Benar-benar sakit rasanya. Melihat suaminya sendiri berbincang-bincang, ah, tepatnya bercanda dengan penuh kemesraaan. Bahkan didepan istrinya sendiri.
Dan ketahuilah, Luhan dan Irene belum berbaikkan sejak pertengkaran itu. Luhan juga tak mau meminta maaf. Ia merasa tak bersalah.
"Oppa, cepat habiskan sarapanmu." Irene dengan telaten mengambil sebuah roti dan mengoleskan selai kacang di atasnya. Bahkan ia juga sempat menyuapi Sehun roti tapi Sehun menolak dengan halus dan mengambil alih roti itu dari tangan Irene.
"Kau juga harus makan, Irene."
Dan akhirnya sarapan dikeluarga Oh dan Irene itu berjalan dengan tenang walaupun salah satu dari anggota keluarga itu, Luhan, merasa benar-benar tak nyaman. Sejak tadi ia benar-benar tak napsu untuk makan. Ia hanya mengoleskan selai roti dan memberikannya pada anak-anaknya.
"Eomma, lagi." Suara kecil Haowen menginstruksi Luhan untuk kembali mengoles rotinya. "Arraseo."
"Haowen, nanti kamu jadi gendut loh kalau makan banyak." Dan Irene yang memang sejak tadi belum berinteraksi dengan Haowen maupun Ziyu akhirnya mau mendahului percakapannya.
"Biar saja, aku gendut juga tidak apa-apa. Eomma dan appa tetap sayang pada Hao. Memangnya tante ini siapa sih? kenapa bisa dirumah Haowen?" Dan jawaban dari Haowen yang Irene pikir akan malu-malu dengan jawaban "Oh iya. Hehehehe" atau meng'iya'kan, tapi malah berbanding balik. ia malah menjawab dengan ketus dan dingin.
Sejak tadi memang Haowen tidak suka dengan kehadiran Irene. dan ia selalu menatap tajam kearah Irene setiap Irene tertawa renyah dengan appanya.
"Hao, berbicaralah dengan lembut. Dan tante ini adalah teman appa. Jangan kasar padanya arraseo?" ucap Sehun memperingatkan Haowen.
Haowen yang mendengar penuturan sang ayah langsung mendelik kesal. "Hao tidak kasar. hao hanya bertanya!"
Sehun terkejut dengan jawaban Haowen, ia memincingkan matanya heran. "Hao, jangan nakal. Kenapa Haowen jadi kasar begini?"
"Siapa yang nakal!?"
Dan jadilah pertengkaran seorang ayah dengan anaknya. Sehun dan Haowen yang terus beradu mulut dan membuat 3 orang yang melihatnya hanya mampu terdiam. Luhan yang bingung langsung mendekap tubuh Haowen dan mengelus punggungnya pelan bermaksud menenangkan.
"Jangan bertengkar." Ucap Luhan yang menatap Sehun dan Haowen bergantian.
Sehun menghela nafas pelan, ia mengalihkan perhatiannya pada Haowen yang berada didekapan Luhan. Ia menutupi wajahnya dengan baju Luhan dan tak mau melihat kearahnya. Setiap ia mengintip dan menangkap sorot mata elang sang ayah ia pasti akan menutupi wajahnya lagi dan tak mau melihat kearah Sehun.
"Baiklah, aku akan kekantor sekarang." Baru akan berdiri, untuk keluar rumah. Sebuah tangan langsung mengaitkan lengan Sehun dengan lengannya. Irene tersenyum manis melihat raut wajah Sehun yang terkejut. "Aku antar sampai pintu ya?" Sehunpun mengangguk setuju, mereka akhirnya berjalan berdampingan keluar kamar meninggalkan luka hati yang begitu mendalam bagi Luhan.
Luhan hanya dapat menahan sedihnya Sehun yang berubah begitu drastis setelah kehadiran Irene di rumah mereka. Sehun bahkan tidak menciumnya lagi dan begitu pula pada anak-anak.
"Appa popo!"
Dan tiba-tiba saja Ziyu yang berada dikursi langsung berlari mengejar Sehun. dan dari perkataannya tadi, bisa dilihat bahwa ia tengah meminta cium dari sang ayah. Luhan langsung gelagapan melihat tingkah laku Ziyu dan hanya bisa tetap duduk di kursi dan melihat kegiatan Ziyu dan Sehun tak jauh dari dapur.
"Anak appa minta popo hmm?" Sehun mensejajarkan tubuh tegapnya dengan sang anak, ia memeluk Ziyu dan sedikit memberi kelonggaran pada tubuh mereka.
"Nde appa, cium." Ucap Ziyu dengan logat khas bayinya. Dan dengan gemas Sehun mencium kedua pipi Ziyu dan bergantian mengecup pelan bibir Ziyu. "Sudah"
Akhirnya Ziyu dan Sehun mengakhiri kegiatan mereka dan Sehun pun berdiri hendak meninggalkan Ziyu. Tapi, Ziyu masih mengikuti Sehun dan Irene yang berjalan didepannya. Ia menarik pelan celana Irene dari belakang. Sontak Irene menolehkan kepalanya melihat siapa yang menarik-narik celananya.
"Tante, jangan. Jangan."
Irene dan Sehun mengernyitkan dahinya bingung, mereka hanya saling menatap sebentar dan kembali mengalihkan perhatiannya pada Ziyu. "Maksud Ziyu apa?" sekarang gentian Irene bertanya pada Ziyu.
"Jangan! Jangan!" Ziyu terus berteriak keras dan menarik-narik celana Irene. Irene masih tak mengerti, ia hanya melongo mendengar teriakan Ziyu.
"Sudahlah Irene. biarkan saja, aku akan pergi langsung. Kau tak usah mengantar. Ziyu, jangan nakal oke?" Sehun segera berjalan cepat menuju pintu utama rumah mereka. meninggalkan Ziyu dan Irene di ruang tengah.
"Hihihihi" Suara gelak tawa terdengar dari bibir Ziyu. Ia terlihat sangat senang dan pergi meninggalkan Irene yang kesal karena ia gagal mendekati Sehun dan berusaha mengambil perhatiannya.
"Jangan tertawa!" Irene dengan perasaan kesalnya langsung pergi meninggalkan Ziyu sendiri. Sedangkan Ziyu dengan senangnya langsung berlari menghampiri ibunya dan kakaknya didapur.
"Apa yang Ziyu lakukan?" Tanya Luhan instens pada Ziyu karena tadi ia melihat Irene yang terlihat marah dan kesal pada Ziyu.
Ziyu hanya terseyum polos menanggapi pertanyaan Luhan. Luhan menggelengkan kepalanya pelan.
"Ya sudah, lanjutkan sarapanmu. Eomma mau membersihkan tempat mainanmu itu."
.
.
.
.
.
W
O
A
I
N
I
.
.
.
.
.
.
Ditempat inilah sekarang Byun Baekhyun berada. Ia baru saja mengajar disekolah khusus menyanyi. Ia baru saja akan pulang, tapi keputusannya itu ia urungkan ketika ia melihat seorang pria manis sedang berjalan sendirian melewati depan gedung sekolah tempat ia berada sekarang. Senyum merekah dibibir Baekhyun. Pria berusia 26 tahun itu berlari pelan mengejar pria manis yang telah berjalan agak jauh dari depan gerbang.
"Yak Luhan!"
Pria yang dipanggil Luhan itu menoleh ke sumber suara yang menyebutkan namanya. Luhan tersenyum tipis melihat siapa yang memanggilnya. "Baekhyun?"
Baekhyun, pria itu mendekati Luhan dan memeluknya erat. Dan semakin lama semakin erat pula pelukannya. "Yak Byun Baekhyun kau bisa membunuhku tau!"
"Hhehe.. mianhae. Ngomong-ngmong kau mau kemana hyung?"
"Aku akan pulang. Baru saja membeli camilan untuk Ziyu dan Haowen." ucap Luhan sambil memperlihatkan barang belanjaannya pada Baekhyun. Baekhyun mengangguk paham.
"Aku merindukan mereka berdua. Kapan-kapan aku ingin kerumahmu Lu, bolehkah?"
"Tentu saja boleh. Bahkan sekarangpun boleh."
"Ani, besok saja. aku ada urusan penting. Oh ya, kau sudah bertemu dengan Chanyeol?"
"Sudah kemarin waktu belanja. Kami bertemu tanpa kesengajaan. Kau tau, aku benar-benar terkejut."
"Aku terkejut juga waktu menemuinya kemarin. Kau tau, dia benar-benar tampan." Ucap Baekhyun dengan malu-malu dan pipinya juga memerah padam.
Luhan tertawa mendengar penuturan Baekhyun. Ia menepuk pelan pundak Baekhyun. "Jika suka katakan padanya. Aku rasa kalian memiliki perasaan yang sama."
Baekhyun yang mendengar itu bertambah malu. "Aku tak mungkin mengungkapkannya."
"Yakinlah. Dia juga pasti menyukaimu. Chanyeol pasti.."
Ucapan Luhan terpotong begitu saja ketika ia melihat seorang pria bertubuh tinggi besar berada dibelakang Baekhyun. Ia menggigit bibir bawahnya dan ternyum lima jari.
"Pasti apa hyung?" Tanya Baekhyun heran. Tapi dengan cepat Luhan menunjuk-nunjuk arah belakang Baekhyun dengan dagunya. Baekhyun reflek langsung menoleh dan terkejut ternyata itu adalah Chanyeol.
"Chanyeol!? Kau sudah lama disitu?" Tnya Baekhyun heboh. Ia malu sekali Chanyeol ternyata ada dibelakangnya. "Aku sudah lama Baek." Ucap Chanyeol pasti.
Baekhyun menunduk malu lagi. ingin sekali ia melemparkan tubuhnya ke sungai dan menenggelamkan wajahnya Luhan yang hanya tertawa pelan tapi terlihat seperti mengejeknya.
"Luhan, kau mau kemana?" Chanyeol pun balik bertanya pada Luhan.
"Aku baru saja belanja. Dan aku harus cepat-cepat pulang. Aku duluan nde?"
Tanpa ragu-ragu Luhan berlari cepat seperti seorang pelari maraton. Bahkan ia seperti lupa umur dan lupa jika ia sudah beranak dua. Tapi lihatlah, ia berlari seperti anak umur 5 tahun.
"Luhan Hyung sangat lucu ya."
Chanyeol melihat kerah Baekhyun yang masih terdiam. Ia tersenyum tipis dan merangkul pundak Baekhyun. "Aku bisa jelaskan Chan.."
"Ssstt… tak perlu. Kau tau, aku juga menyukaimu Baek. Sangat menyayangimu. Dan sangat mencintaimu."
"Mwo?"
"Itulah alasan sebenarnya aku pulang ke Korea Baek."
.
.
.
.
.
.
"Tuan, hari ini direktur dari perusahaan Lee sudah datang. Dan beliau sudah beraada diruang rapat."
"Baiklah. Aku akan segera kesana."
Perbincangan singkat itu segera kusudahi dan segera aku menjalankan tugasku sebagai direktur diperusahaan yang Appa wariskan padaku. Dan hari ini, aku baru saja akan meeting dengan direktur Lee yang akan bekerjasama dengan perusahaan kami. Ini adalah waktu yang tepat untukku menambah pundi-pundi uang untuk perusahaan, bukannya aku bermata duitan, tapi ini juga untuk menghidupi istri dan anakku. Aku ingin mereka serba tercukupi dan bahagia. Itulah tujuan hidupku saat ini, membahagiakan mereka.
Sudah 6 tahun ini pernikahan kami, aku dan Luhan. Walaupun kadang-kadang kami bertengkar hebat tapi tak sampai membuat salah satu dari kami pergi dari rumah. Mungkin, pertengkaran paling hebat adalah saat Irene pertama tinggal dirumah. oh, ngomong-ngomong soal Irene, aku belum berbincang-bincang dengannya soal kedatangannya kerumah. Sesungguhnya aku juga tak keberatan dengan kedatangannya. Menurutku ini akan sangat menyenangkan, tapi karena hubungan Luhan dan Irene yang tidak bisa akur jadi membuatku sedih.
Ya, aku harus dapat membuat mereka dapat akur. Sahabat dan istriku harus akur kan? Mereka tidak boleh saling membenci.
Ya.
Sehun POV End
.
.
.
.
.
Di rumah kediaman keluarga Oh
Irene, wanita itu sekarang sedang duduk disofa sambil mengotak-atik ponsel pintarnya. Ia bahkan seperti seorang pemilik rumah ini. Luhan, sang tuan rumah sekarang sedang menyapu diruang tengah dan kebetulan Irene sedang berada disana. Duduk santai sambil tertawa renyah melihat ponselnya.
Luhan mulai mendekati Irene dan menyenggol kaki Irene yang bergoyang-goyang keudara tak jelas.
"Wae?!" Irene merasa tak terima Luhan menyenggol kakinya hingga kakinya terhempas kelantai.
"Pergilah, aku ingin menyapu tempat ini." Ucap Luhan dengan ketus.
"Kau mengusirku? Ya! Luhan, aku adalah tamu dan tamu adalah raja. Setidaknya perlakukan aku dengan baik!"
"Kau ini bodoh atau bagaimana? Yang benar adalah pembeli adalah raja."
"Eh, itu sama saja tau!"
Luhan memutar bola matanya malas mendengar jawaban terakhir Irene. iapun kembali menatap tajam Irene. ia menarik tangan Irene dan membuat sang pemilik tangan menjerit kesal dan menghempaskan tangan Luhan.
"Jangan sentuh aku! Aku jijik padamu! Penggoda lelaki! Dasar namja murahan!" Irene mulai emosi pada Luhan. Ia menghina Luhan sekenanya dan membuat Luhan tak kalah marah saat itu.
"Murahan? Apa kau tak punya cermin? Siapa yang murahan disini? Siapa yang kau sebut penggoda lelaki itu? bukankah itu adalah ciri-ciri wanita sepertimu eoh!? Penggoda suami orang."
"Apa kau bilang!? Luhan, aku dan Sehun saling mencintai dulu dan.."
"ITU DULU KAN!? DAN SEKARANG DIA MENCINTAIKU! INGAT ITU!"
"Jangan sok tau Luhan. Apa buktinya dia mencintaimu? Aku berani taruhan jika ia menikahimu karena ia dipaksa orangtuanya untuk menikah setelah aku meninggalkannya. Dan sebenarnya ia masih mencintaiku."
"Oh, jadi kau meninggalkannya dan sekarang kembali pada Sehun? benar-benar murahan kau Irene."
Irene menatap Luhan tajam. Kuku tangannya mulai memutih karena genggaman eratnya. Ia menggigit bibir bawahnya menahan diri untuk tak memukul Luhan saat ini.
"Luhan, aku akan merebutnya kembali. Aku berani sumpah akan menghancurkanmu. Dan aku akan membuktikan padamu, bahwa Sehun masih mencintaiku." Irene berkata dengan amat lirih, tapi Luhan masih bisa mendengarkannya.
Dan Luhan hanya bisa tersenyum tipis, ia berusaha menahan amarahnya. Ia menatap Irene dalam dan langsung pergi meninggalkan wanita itu sendiri.
"Kau akan hancur Luhan."
.
.
.
.
Saat ini Ziyu dan Haowen sedang bermain di halaman depan. Mereka tengah bermain mobil-mobilan bersama. Ziyu yang menaiki mobil mainan itu dan sang kakak Haowen yang mendorongnya. Mereka terlihat sangat bahagia dan sesekali Ziyu terlihat akan jatuh dari mobilnya, tapi dengan sigap Haowen langsung menahannya dan akhirnya mereka akan tertawa lagi.
Berbeda dengan sang ibu dari si Ziyu dan Haowen. Suasana hatinya benar-benar memburuk dan ingin sekali ia melampiaskannya dengan memukul kaca-kaca dirumah mereka. sekarang Luhan sedang berada dikursi taman. Ia menatap sendu anak-anaknya yang sejak tadi tengah bermain dengan gembira tanpa dirinya.
Sesungguhnya, hal yang membuatnya seperti ini adalah perkataan Irene tadi siang. Kata-kata it uterus terngiang di pikirannya. Ia takut. Sangat takut Sehun akan berpaling pada Irene dan meninggalkannya bersama anak-anak. Tidak. ia harus percaya pada Sehun. Sehun mencintainya dan sebaliknya pun begitu. Ia mencintai Sehun.
"Eomma! Itu appa pulang" Luhan menoleh melihat Ziyu yang turun dari mobil-mobilannya dan berlari kearah Sehun yang baru pulang dari kantor. Luhan ikut tersenyum senang, iapun berlari kecil menghampiri Sehun yang menggendong Ziyu.
"Sehunah"
'Bruuk'
Tanpa aba-aba dan tanpa diduga, Luhan memeluk Sehun dengan erat dan sangat-sangat erat. Tak seperti biasanya yang hanya memeluk sebentar atau bahkan tidak memeluk hanya sekedar bertanya 'sudah pulang? Mau ku ambilkan apa?'
Ini berbeda. Luhan lain dari sebelumnya. Sehun menjadi heran, ia memincingkan matanya. "kenapa, Lu?"
"Aku merindukanmu Sehun." Luhan masih setia memeluk Sehun dan mencuri ciuman dipipi wajah tampan seorang Oh Sehun.
"jangan menggodaku oke? Nanti malam saja sayang." Sehun balas memeluk tubuh mungil Luhan dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menggendong Ziyu.
Oh, aku hampir lupa. Kita melukapan Haowen? Apa yang terjadi dengannya? Mengapa ia tak ikut dalam acara saling memeluk itu. oh ya, Haowen sedang marah pada Sehun. jika sudah begini, pasti sulit untuk membujuknya, pikir Sehun.
Dengan hati-hati Sehun menurunkan gendongan Ziyu dan melepas rangkulan tangannya pada Luhan. Ia menghampiri sang anak yang menunduk sedih disamping mobil-mobilannya. Sehun berusaha mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh sang anak sulung. "Haowen."
Haowen mendongakkan matanya ketika ia merasa ada seorang yang berada didepan wajahnya dan memanggil namanya. Itu appa.
Haowen dengan wajah polosnya hanya menatap Sehun datar. Ia tidak terlihat marah, sedih, ataupun senang. Karena dalam keadaan apapun Haowen akan menunjukkan ekspresi wajah yang sama. Mirip seperti Sehun.
"Appa minta maaf pada Haowen ya? Appa jahat pada Hao. Appa minta maaf nde?" dengan wajah yang dibuat-buat sedih dan menyesal, Sehun berusaha untuk meminta maaf pada Haowen dengan sepenuh hati. Tapi, yang ia harapkan Haowen akan memaafkannya, ia malah menghindar darinya dan berlari menuju rumah tanpa meninggalkan sepatah katapun. Ya, Haowen memang susah untuk dirayu jika sudah marah besar.
"Huhh.." Sehun menarik nafas panjang, ia harus bersabar menghadapi Haowen. Lagi pula memang ini salahnya yang membuat Haowen marah dan tak mau bicara dengannya.
'Puk'
Sehun berdiri langsung ketika ada seseorang yang menepuk pundaknya yang ia yakin pasti Luhan.
"Oppa, kau sudah pulang ya?"
Itu Irene.
"Nde, Oppa sudah pulang." Ucap Sehun sederhana sambil tersenyum tipis. Walaupun dengan wajah lelah seperti ini, Sehun masih terlihat tampan.
"Apa Oppa lelah? Apa Oppa lapar? Aku sudah membuatkan spaghetti yang enak untukmu." Ucap Irene dengan senyum nakalnya. Tak lupa tangannya yang sejak tadi terus bergelayut manja dilengan kekar Sehun.
"Oh, aku tertarik. Ayo makan." Ajak Sehun pada Irene untuk masuk kedalam rumah.
Dan kembali..
Sehun menambahkan goresan luka hati Luhan yang belum sembuh sepenuhnya. Luka yang semakin lama semakin membesar dan sakit untuk diingat.
Ia takut Sehun akan pergi. Ia takut Sehun berpaling. Ia takut Sehun berkhianat.
Luhan menggelengkan kepalanya. Ia menepis semua pikiran jelek pada suaminya. Ia harus percaya.
.
.
.
Sehun sedang asyik menonton TV bersama Ziyu dan Irene. sedangkan Haowen dan Luhan sedang didapur membuat susu dan kopi untuk mereka semua minum. Sejak tadi Haowen terus menempel pada Luhan dan tak mau lepas darinya. Luhan memaklumi itu. Sehun dan Haowen memang belum baikan. Dan mungkin prosesnya akan lama untuk memperbaiki hubungan antara ayah dan anak ini.
"JJa Haowen. Kita keruang tengah."
Luhan dan Haowen beriringan menuju ke ruang TV. Luhan dengan nampannya membawa kopi dan susu untuk mereka semua minum, termasuk Irene. untung Luhan masih memiliki hati, jika tidak, mungkin ia akan memasukkan minuman beracun diminuman Irene.
"Ini minumannya. Masih panas ya."
"Yeayy! Susu! Eomma! Susu!" Ziyu dengan sigap meloncat kearah Luhan dan mengambil botol susu khusus untuk Ziyu. "Tidak panas eomma." Ucap Ziyu imut sambil meminum susu dibotol.
"Punya Ziyu memang tidak panas." Jawab Luhan menimpali.
"Gomawo Luhan"
Luhan melirik Irene sebentar dan tersenym kecut, "nde"
"Akhhh!" Mereka diruang TV terkejut bukan main melihat Irene memuncratkan kopinya dan menjatuhkan cangkir itu ke lantai dan untung tidak pecah. Karena tertahan oleh karpet dibawah.
"Panas." Irene terus menjulurkan lidahnya keluar dan mengipas-ngipaskan tangannnya dimulutnya sendiri.
Sehun yang kasihan pada Irene segera mengambil tissue dan memberikannya pada Irene. irenepun meraihnya dan mengelap mulutnya dengan tissue.
"Aku kan sudah bilang kalau minumannya panas." Dengan santai Luhan menanggapi ulah Irene yang menurutnya konyol. Dalam hati ia sangat senang dan menertawai Irene yang kepanasan karena kopinya.
"Dasar tante bodoh."
Semua tatapan tajam mengarah pada Haowen yang baru saja mengatai Irene 'bodoh'.
"Kenapa kau bicara seperti itu Haowen?" Sehun tidak suka dengan ucapan Haowen barusan. Ia tau kata-kata itu untuk mengejek Irene.
"memangnya tidak boleh?" Haowen kembali menantang sang ayah. Sungguh, sekarang Haowen benar-benar berani melawan Sehun.
"Oh Haowen, minta maaf. Dan jangan ulangi kata-kata kotor itu." dengan mata elang yang tajam, Sehun menyuruh Haowen untuk meminta maaf pada Irene.
"Itu tidak kotor."
Irene mendelik tajam menatap Haowen. Ia mengernyitkan dahinya.
"Oh Haowen. Pergi kekamar sekarang." Final. Sehun yang pusing menghadapi Haowen yang makin hari makin menjadi itu menyuruh Haowen untuk kekamar. "Jangan keluar kamar sampai besok pagi. Mengerti?"
Haowen melongo mendapati perintah sang appa. Tapi, ia berusaha menyembunyikan raut wajah kagetnya dan segera berlari menuju kamarnya dan menutup pintu kamar dengan amat keras.
"Sehunah, apa-apaan kau ini!?" Luhan tidak terima dengan hukuman Sehun untuk Haowen. Ia berusaha membela Haowen tapi..
"Luhan, jangan mambantah dan sebaiknya kau nasehati baik-baik Haowen. Jangan membelanya. Ia akan menjadi anak yang manja dan sulit untuk diatur seperti sekarang!"
"Kau menyuruhku? Kenapa kau tak melakukannya sendiri? Bukankah kau ayahnya? Kau juga orangtunnya kan?"
"Tidak usah banyak bicara Lu. Urusi saja Haowen dengan baik" Sehun menekankan kata 'dengan baik' pada kalimatnya. Ia menyindir Luhan yang menurutnya tak bisa menjaga Haowen.
"Jadi menutmu selama ini aku menjaga Haowen dengan buruk eoh?" Luhan mulai marah sekarang. Ia menatap kesal kearah Sehun.
Luhan pun beranjak berdiri dari sofa. "terimakasih nasehatnya. Aku akan menjaganya dengan baik."
Dan akhirnya Luhan pergi meninggalkan Sehun, Irene, dan Ziyu. Dan sepertinya Luhan masuk kekamar milik Haowen yang sepertinya tidak terkunci.
Sehun mengurut dahinya yang tiba-tiba merasa pusing. Pusing karena banyak memikirkan Luhan dan Haowen. Keluarga mereka. Akhir-akhir ini mereka selalu bertengkar seperti ini.
"Oppa, jangan marah nde. Lebih baik oppa minta maaf pada Haowen. Kasihan dia, dia kan masih kecil. Dan jangan kasar pada Luhan."
Sehun mengalihkan pandangannya pada Irene yang tersenyum manis padanya. Ia balas tersenyum. "Gomawo Irene. aku akan meminta maaf pada mereka."
.
.
.
.
.
.
TBC!
Gimana nih? Masih kurang greget? Mianhae!
Oh ya, lama tak berjumpa ching. Gua mau curcol bentar. Jadi kenapa gua ga update kira-kira 1 bulan ini? Itu karena gua diblok sama T*lkomsel. Jadi Yoora ga bisa buka FFN huwee… sedih bgt. Dan Yoora harus update pakek wifi baru bisa. kalo pakek modem ga bisa. mianhae ya? Mianhae… jujur aja Yoora ga mau bikin kalian kecewa. Mianhae….
Ini juga udah agak panjang kan? :')
Sekali lagi maaf kalo kalian nunggu lama. Ato malah kalian uda lupa sama ff ini? Maaf juga ga bisa bales satu-satu.
Review ya chingu! Thanks yang udah review, follow, dan favorite'in ff gaje ini.
.
.
Salam HHHS
