Fandom/Disclaimer. Axis Power Hetalia Himaruya Hidekaz-sensei
Warning(s). AU, OOC, typos, some character gender-bender, real name use, maybe some OCs.
.
Kejar-kejaran memang permainan yang paling menyenangkan, bukan? Kau bersembunyi, terus mengelak, terus menghindar dari apa yang ditudingkan kepadamu. Kau bermain, bermain hingga larut dalam tawa.—namun nyatanya, segala hal berbeda bila kamu sedang merenggang nyawa dari bedil lawan.
Dua lawan satu, Louise Bonnefoy baru saja menarik nafas lega setelah berhasil menghindari kematian hanya untuk meninggalkan sebelah tangannya akibat hujaman pisau dari gadis berkulit kuning langsat itu. Pistolnya terburu-buru membalas auman rifle yang dipegang oleh pria yang berketurunan pemegang kekuatan di Perang Dunia I. Pohon demi pohon dilalui, kaki sudah tak kuat berlari—sayang tak ada tempat kabur—Louise tahu betul hutan ini, di luar sana hanya ada lautan dingin menantinya.
"Sebaiknya kau menyerah, Mademoiselle."
Kartini sudah ada di hadapan tempatnya berlari, pisau berlumuran darah di tangannya. Gadis itu sekejap maju melihat target sudah dekat. Tersentak namun tak ada kesempatan untuk bertindak, Louise bersikeras untuk menghindari tusukan ancaman yang dapat menarik nyawa dari badannya. Entah selama apa ia bisa bertahan sebelum kemunculan Daniel Hedervary yang akan membuatnya makin terpojok.
"—Kau yang mati dengan pistolku, mon—"
"...Gupta."
Tanpa suara, lagi. Tanpa bunyi, lagi. Tanpa nada, lagi. Wanita muda itu terkulai begitu saja dengan potongan pemuda Mesir yang rapi. Tak lama, batang hidung Daniel terlihat, tampak senang dengan mereka membalik keadaan.
"Sekarang tinggal menunggu Nona Leiria dan Nona Tiina." Daniel menurunkan assault rifle-nya.
"Kita harus lebih jauh lagi ke dalam hutan. Kita belum tentu bisa menjamin wanita ini masih hidup atau tidak." Kartini menunjuk Louise Bonnefoy yang tersungkur di tengah-tengah mereka. "Aku yakin mereka berdua pasti menemukan kita."
Sebelum mereka pergi jauh, Gupta menyelipkan sebuah kertas ke tangan Kartini. Gadis itu seraya berlari sempat membuka dan membaca lamat-lamat isi kertas tersebut;
Buatkan kapal. Kita akan mengarungi lautan. –Leiria Carriedo.
x x x
Sementara, Laura Willem tidak akan menghabiskan satu detik lebih lama untuk mengedipkan mata.
Hujan peluru yang datang dari satu arah bisa saja ia lalui dengan menggunakan mayat anggota Triad sebagai tameng, granat bisa saja ia enyahkan dengan berlari menjauhi arah lemparan Ludwig, bahkan flashbang sekalipun cahayanya sudah ia akrabi setelah Ludwig terus memakaikannya pada gang-gang yang dilaluinya. Darah akibat lukanya yang terkena angin dan keringatnya sendiri pun tak lagi perih di rasanya.
Namun, pertarungan tidaklah menemui tanda penutup. Entah berapa belas magazin yang ia ganti untuk menggertak sang pria berdarah The Undead tersebut. Kini pertarungan mereka berlanjut dari gang-gang sempit Hangzhou Marketplace ke arah atap gedung terbuka. Laura membuka pintu terakhir menuju atap, melihat di ujung sana ada Ludwig—dengan rambutnya yang berwarna pirang pucat bercampur merah darah dengan pakaian compang-campingnya tengah menatap langit di depannya, masih bertumpu pada FN-FAL—senjata yang berlevel 'lebih' dari FN-FNC yang ia gunakan saat ini.
"Setidaknya, berikan alasan kenapa kau muncul di sini, Luddie." dara muda dari Belgia itu mendecak pelan. Mengarahkan laras panjangnya dengan maksud menggertak.
Ludwig menoleh ke arah wanita itu, tidak tersenyum. "Kau belum tentu ingin mendengarnya, Laura."
"Begitu?" Laura menurunkan FNC. "Bagaimana kalau kau ikut denganku saja, hentikan perburuan konyolmu ini? Setidaknya sebelum adikku datang."
"Menjadi budakmu? Jangan harap aku menerimanya dengan senang hati, Laura." tolaknya seketika. "Ini bukanlah saat kita kanak-kanak lagi."
"Kalau itu maumu—" Laura berlari ke arah Ludwig dengan assault rifle di tangan, menanduk angin menuju sang pria keturunan The Undead tersebut. "—sebaiknya kau pergi!"
DOR DOR
Dua peluru mampu melucuti FN-FAL dari tangan Ludwig, melemparnya jauh hingga batas gedung dan hancur di bawah sana. Laura tersenyum kecil, setidaknya, sebelum matanya perlahan melihat bahwa di tangan kiri Ludwig—di tangan kiri yang seharusnya dari awal tidak terdapat apapun—terdapat sebuah assault rifle. Kaki Laura tidak bisa berhenti lagi, ia hanya beberapa senti dari Ludwig yang mengacungkan ujung senjata yang ia pegang di jarak tembak, tepat akan menembus kepalanya tanpa halangan berarti.
"Itu—Pindad?" bisik wanita muda itu pelan.
"Maaf," pria itu bertutur dengan ekspresi kosong, ia menutup kedua matanya. "Sepertinya kau yang harus pergi."
DOR
Tak disangka Ludwig, ada tamu yang melihat hal tersebut. Ketika kepala itu tertembus peluru dan seluruh raganya terhisap gravitasi, semuanya kembali ke tanah. Pemuda yang memiliki warna rambut sama dengan wanita muda yang baru saja ia tumbangkan. Ekspresi yang ditampilkan pemuda itu jelas—raut wajah shock yang dengan cepat tergantikan oleh kesal dan benci.
"Hari indah untukmu, Drei. Dan aku turut berduka atas Zwei."
Ludwig tidak menghabiskan waktu, pria itu menenteng senjatanya dan segera melompat ke gedung selanjutnya tanpa melihat ke belakang lagi. Tidak mengindahkan dua orang yang ia kenal lagi, tidak meninggalkan kesan apapun bagi keduanya. Pemuda yang tertinggal itu tak bersuara, melihat darah segar perlahan turun dari jasad tanpa nyawa yang baru saja tertembus peluru di hadapannya. Tak bersuara, tak bernafas, tak berdenyut.
"Aku bersumpah akan membalasmu, Luddie." umpatnya lantang. Sigismund Willem bersumpah untuk melenyapkan kepala manusia penghuni District Undead itu untukselamanya.
...
[Chapter 5 – Dedaunan bisu yang mendengar]
A.D 2032, 29 April 2032. District-A Capital, Neo-Batavia
Cipto Mangunkusumo Hospital Ward
Sudah sekian lama Maria Beildschmidt menunggu, menunggu dan tidak ada apa-apa yang terjadi. Setelah penyerahan proposal permohonan kerja sama secara tidak resmi dengan Southern Asia Capital, dirinya belum memutuskan antara ya dan tidak. Keadaannya yang awal hanya mengemban tugas relasi berkembang menjadi kompleks: kembali ke medan pertarungan dengan senjata di tangan. Bukan berarti ia takut atau merasa tidak-awesome, hanya luka perang tak pernah luput dari dirinya—api yang menyala di bagian timur tembok Berlin itu pernah sekali dipadamkan dengan semena-mena oleh tangan dingin Russia. Baru saja ia nyaris menghilangkan nyawa. Semangat itu—api itu—sudah padam, sudah tak senyala dulu, sudah redam.
"Ah, kau tidak kemana-mana, nona Maria?" sosok wanita muda kembali masuk ke penglihatannya, Anita Rajak. Si wanita Asia yang menonjol walaupun keberadaannya di atas kursi roda. Dirinya jauh karismatik, Maria seperti melihat refleksi sesuatu yang tidak bisa ia kejar. Padahal, jelas dirinya yang sangat awesome dan dia?—hanya gadis lemah di atas kursi bantu yang bisa saja rodanya ia patahkan dengan mudah sehingga wanita itu kehilangan kakinya.
"Tidak..." apa yang dilontarkan Maria adalah jawaban lemah, sontak sang pemulai pembicaraan mengerut ekspresinya.
"Hmm? Ada apa? Tidak biasanya kau—yang kudengar dari nona Elise Vogel setidaknya—murung?"
"Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya merasa kurang awesome, biarkan saja." Maria menggeleng, mencoba berdalih. "Kenapa kau kehilangan kakimu?"
Menatap iris tidak serasi yang tak fokus seakan ingin kabur dari keberadaannya membuat Anita terdiam. Kini orang di depannya bertanya soal kakinya. Seutas senyum terulum sempurna, mengundang tanya bagi sang penanya sendiri. Ekspresi Anita jelas menyuratkan agar sang wanita muda dari daratan Eropa itu tetap di sana dan mendengar secuil ceritanya.
"Aku adalah korban The Light, satu-satunya yang masih hidup di reruntuhan Kuala Lumpur." Ia menerawang, "Eka, Li, Maka dan Pandi yang mambawaku kemari—juga orang-orang dari negara lain yang dengan perahunya mencari harapan—dan akhirnya kami menemukan satu-satunya rumah sakit yang selamat di Asia Tenggara yang sudah menjadi bubur. Kami juga bertemu dengan Kartini di rumah sakit ini."
"Mengenang masa lalu, Anita?"
Mereka berdua dikejutkan dengan kemunculan seorang wanita muda yang tampak seumuran dengan Anita, dirinya mengenakan pakaian seperti china dress dengan rambut hitam lurus yang ia ikat di belakang. Yang merupakan ciri lain dari dirinya adalah caping yang ada di punggungnya.
"Li, kau mengagetkanku saja." tawa renyah keluar dari wanita di atas kursi roda itu. "Ah, Nona Maria, ini adalah Liễu Thị, ia temanku dari Vietnam dan juga humas dari Southern Asia Capital."
Wanita muda yang disebut menunduk, "Senang bertemu dengan anda, Nona Maria."
"Hei, hei. Kenapa kalian menuju kemari? Kata kalian Asia Tenggara sudah menjadi bubur awesome?" Maria melipat tangan di depan dada, terlihat sangsi. "Kenapa kalian masih berharap dulu bahwa District-A ini masih—hidup?"
Lagi, tawa keluar dari Anita, kali ini lumayan keras. "Eka selalu bilang The Realm adalah pulau emas, dan memang itu tidak bisa dipungkiri lagi. Negara ini bagaikan awal untuk kami dan kami percaya sebuah awal tidak pernah hilang."
"Hmph, jiwa kalian yang penuh harap memang awesome. Berterimakasihlah aku memuji kalian!" Maria membusungkan dada. "Aku akan melihat kamar Sophia sekarang. Terserah apa rencana awesome-mu berjalan, Nona Anita dan temannya."
Meninggalkan mereka berdua dan menghilang menuju gelapnya lorong, Maria pergi. Anita lalu menepuk pundak Li.
"Sepertinya namamu memang sulit dihafal orang Eropa." ucapnya. "Ayo bergabung dengan Maka, kita akan ada rapat dengan Nona Elise."
"...Terima kasih, Anita. Terima kasih."
x x x
A.D 2032, 29 April 2032. England
Heaven's Marketplace
Suatu hal yang menyakitkan bagi District-L adalah keberadaan mereka yang merupakan District dan perlakuan mereka yang seperti pengurus hal-hal kotor yang tidak diurus Inggris. District-L atau nama lain mereka The Root adalah bangsa berkulit kuning yang merupakan penghuni di Asia Timur. Kali ini adalah permasalahan imigrasi beberapa negara yang hendak membuka lapak di Heaven's Marketplace sebagai pahlawan devisa negara masing-masing. Wanita muda itu mendecak karena ini adalah urusan Willem, bukanlah dirinya. Menghabiskan diri berjam-jam di penjara kertas, rasanya sangat membosankan. Sebelum akhirnya pintu kantor yang pengap itu terbuka oleh seorang pria yang mengenakan pakaian butler—
"Sakura."
Mendengar namanya dipanggil jelas, tanpa honorifik apapun, Sakura Honda muncul dari balik kertas. Menemukan seseorang yang sudah lama tidak ia jumpai. Pria unik dengan kacamata dan surai pirang, bedanya dengan lebam di sana dan di sini sekarang. Sunyi menerpa sejenak sebelum akhirnya wanita itu menyadari cengiran yang pria tersebut perlihatkan. "...Itukah kau, Al? Alfred?"
"Apa aku yang ganteng ini membuatmu terpana?"
"Omong kosong." Sakura mendengus. "Kau—kenapa kau di sini? Bukannya negaramu—"
"Aku dipaket Arthur kemari." mendadak nadanya serius. "Dan aku jadi anjingnya selama berminggu-minggu atau mungkin bertahun-tahun ke depan, lagi."
"Kita tidak punya pilihan, nee?" Sakura menghela nafas. "Mau apa kau di sini? Bisa-bisa Arthur menyeretmu."
"Tenang saja, aku hanya ingin menemui adikku. Kau bisa memanggilnya kemari, kan? Bilang saja surat-surat imigrasinya belum lengkap."
Sakura kembali tenggelam ke lautan kertas, kemudian kembali dengan sebuah map merah bertuliskan Canada. Wanita itu membuka map dan mencoba menelpon ke arah luar.
"...Ya, Christine...panggil dia kemari. Terima kasih, sire."
Menutup telpon dengan cepat, Sakura melirik lagi ke arah teman lamanya yang sepertinya sudah melonjak-lonjak bahagia.
"Kebetulan, tadi aku juga memanggil seseorang. Tak masalah untuk mengganggu reunimu, Al?"
Ekspresi Alfred masih bahagia. Ia menggeleng cepat, "Tak apa, siapa yang kau panggil?"
Sakura menunjukkan sebuah map biru bertuliskan North Italy, menampilkan foto imigran yang ada di sana, "...Katarina Vargas, District-B 'The Underdog'."
Senyum bahagia tergantikan seketika oleh senyum yang tipis. "Aku tahu apa yang ingin kau sampaikan, Sa-ku-ra~"
Bersambung.
a/n.
[1]Daftar District sejauh ini, bila anda lupa.
District-A The Realm
District-B = North & South Italy
District-C, C+= Spain, Portugal
District-D = Austria
District-E = Germany
District-G = Finland
District-K = Hungary
District-L = Japan
District-M = America
District-N = Egypt
[2] Terima kasih bangetbangetbanget atas review, hits, alerts dan fave nya! Saya akan terus berusaha!
[3] Drei, Zwei? Mungkin para pembaca bisa menyikapi apa itu #maksud
Itu adalah sebutan yang dipakai Ludwig untuk mempresentasikan Nether (Ein), Belgium (Zwei), dan Luxie (Drei).
[4] FYI, Pindad SS1 adalah assault rifle milik Indonesia yang memiliki modifikasi dari FN-FNC.
[5] Selamat lebaran!
