"Ini kamu yang buat, Hinata?"
Gadis manis itu mengangguk mantap saat ayahnya bertanya. Seperti tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya. Hyuuga Hiashi mengusap kedua matanya.
"Ini beneran, ayah. Bukan mimpi!" Hinata menyahut gemas.
Di sampingnya Neji dan Hanabi tertawa kecil. Memaklumi reaksi ayahnya melihat Hinata membuatkan makanan. Selama ini anak kedua dalam keluarga Hyuuga selalu payah soal masak memasak.
Dan malam ini Hinata berhasil membuatkan satu makanan yang 'layak' untuk dimakan. Tentu saja mereka semua terkejut, terutama Sang Ayah.
Hiashi terkekeh pelan, ia segera mengambil sumpit dan mencoba masakan putri sulungnya. Wajahnya jelas menunjukkan betapa senangnya dia. Dan saat ia melahap makannya, senyumnya semakin lebar.
"Enak!"
Hinata tersenyum lebar sebelum bernafas lega. Merasa lega, karena ia tidak gagal dan berhasil memasak sesuai ajaran Naruto tadi siang.
Neji mengangguk setuju, "Ini enak, kamu belajar masak dimana?"
"Aku meminta temanku untuk mengajariku memasak." Jawab Hinata dan mulai mengambil lauk sebelum memakannya. "Udah gitu sabar lagi ngajarin aku masak. Aku belajar buat ini sampai gagal lebih dari lima kali!"
Hanabi tertawa mendengarnya, "Uwa! kalau dia laki-laki kau harus menjadikannya pacar, kak! jarang tau ada yang sanggup sabar ngadepin kakak soal masak!"
Hinata berdecak pelan, "Anak kecil cukup taunya belajar sama nyari banyak teman. Bukan ngomongin pacar!"
Hanabi menjulurkan lidahnya, mengejek Hinata sebelum tertawa. "Kakak aja yang telat pubernya."
Neji menepuk pelan puncak kepala Hanabi. Menghentikan perdebatan konyol kedua adiknya.
"Sudah cepat habiskan makananmu, dan berhenti menggoda kakakmu."
"Iya, kak Neji!"
Suara pintu yang terbuka mengundang perhatian mereka berempat. Suara seorang gadis yang terdengar lelah. Ia memasuki ruang makan dan langsung disambut Neji.
"Selamat datang Shion."
"Kau datang tepat waktu, ayo makan!" Hinata segera beranjak dan membawa Shion untuk duduk di sampingnya.
Shion mengambil cangkir berisi teh hijau dan menyesapnya pelan. Gurat lelah di wajahnya berangsur hilang.
"Ah! apa ini surga?" Shion menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya ke kursi. "Aku pikir kepalaku akan meledak mencoba mengingat puluhan kosa kata itu!"
Hiashi terkekeh pelan, ia segera mengambilkan nasi dan memberikannya pada Shion. Gadis dengan rambut panjang yang ia kuncir tinggi-tinggi itu tersenyum lebar.
"Terima kasih, om. Kau yang terbaik!"
"Kau sudah berusaha keras. Setelah ini cepetan mandi dan beristirahat."
Shion mengangguk dengan mulut yang sudah penuh dengan makanan. "Aku pasti bisa masuk ke SMA Konoha seperti Neji-nii dan Hinata-nee!"
Hinata mengacungkan jempolnya dengan senyum lebar. "Itu baru Hyuuga!"
Senyum Shion kian melebar dan bergumam pelan, "Dan mungkin dia ada di sana."
Hinata yang samar mendengar gumaman Shion, langsung menoleh. "Siapa?"
"Eh? enggak kok!" Shion menggeleng cepat, gelagapan dan segera melahap makanannya.
Setelah selesai makan, Shion langsung membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan piyama berwarna merah muda. Gadis remaja itu masuk ke kamar Hinata dan merebahkan dirinya di atas kasur.
Hinata yang baru saja selesai membaca buku segera berbalik menatap adik sepupunya.
"Hei, keringkan rambutmu dengan benar!"
Shion menggeleng malas, "Nanti aja kak "
Putri dari Hyuuga Hiashi itu menggeleng pelan. Ia segera beranjak dan menarik tangan adiknya agar terbangun.
"Sini biar kakak keringkan,"
Shion hanya mengangguk, menurut lalu duduk di atas lantai dan membiarkan Hinata mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Akhir-akhir ini semangat belajarmu jadi tinggi, apa terjadi sesuatu?"
"Um... Bisa dibilang begitu."
"Apa alasannya seperti yang kau bilang kemarin? kalau kamu lagi jatuh cinta?"
Shion mengulum senyum malu, wajahnya merona sebelum ia mengangguk.
Giliran Hinata yang tersenyum, "Hm... Jadi kamu lagi kasmaran, nih ceritanya?"
"Apa sih, kak! jangan ngeledek!"
Tawa renyah hadir dari Hinata, "Siapa sangka, si tomboi Shion bisa jatuh cinta."
"Bisa, lah! kan udah puber, hehe."
Hinata mengacak rambut Shion gemas. "Bagus sih, udah puber. Tapi jaga diri,pacaran yang sehat."
"Emang pacaran sehat itu, gimana?" Shion menoleh menatap Hinata ingin tahu. "Jangan bilang cuma pegangan tangan terus pulang bareng. Gak ada saling meluk atau ciuman gitu? Ih, ngebosenin amat!"
"Astaga, Shion!"
Gadis manis itu terbahak, puas menggoda kakak sepupunya. Shion mengibaskan tangannya, "Tenang Nee-sama, aku rasa orang yang aku suka bukan tipe laki-laki yang suka melakukan hal itu dengan mudahnya."
"Tau dari mana? sementara kamu bilang baru sekali ketemu dia."
"Sebut aja insting perempuan?"
Hinata mendengus geli, ia kembali mengeringkan rambut Shion. Lalu kilas balik tadi siang hadir dalam benaknya.
Saat tiba-tiba saja Naruto memeluknya erat. Membenamkan kepalanya pada celah leher dan bahu Hinata. Tanpa menyadari bahwa nafas hangatnya menggelitik Hinata, membawa dentuman kecil di dadanya.
'Terima kasih, Hinata.'
Dan ucapan terima kasih itu, masih membingungkan Hinata. Untuk apa pemuda itu berterima kasih padanya. Padahal selama ini harusnya dia yang merasa bersyukur bertemu dengan Naruto.
"Hei! saat laki-laki tiba-tiba memelukmu tanpa alasan. Itu artinya apa?"
Shion mendongak sebelum ia berbalik menatap Hinata.
"Hinata-nee dipeluk dia?"
Hinata mengangguk pelan, "Dia juga tiba-tiba bilang makasih, padahal seharusnya aku yang bilang begitu."
Shion tampak berfikir keras sebelum ia mengedikkan bahunya. "Entahlah, aku hanya bisa menduga dia mungkin suka sama nee-sama."
Dan kata-kata itu sukses membulatkan mata Hinata. Gadis itu berubah gugup dengan rona merah menjalar di pipinya.
"Ta-tapi kami baru kenal gak lama, dia dan aku juga belum kenal satu sama lain!"
Shion menatap kakaknya datar, "Lupa yah kak? kalau adikmu ini jatuh cinta pada pandangan pertama sama orang asing yang baru dia temui sekali di perpus?"
"Mungkin itu yang namanya cinta monyet?"
Shion langsung melotot, ia tak terima bahwa perasaannya ini hanyalah sekedar cinta sesaat.
"Aku yakin ini cinta!"
"Ha ha ha! iya, kakak percaya."
"Malah aku yang gak percaya sama omongan kakak."
"Dih, dibilang kakak percaya sama kamu, kok."
"Tapi nada suara kakak kayak nyindir!"
"Astaga, terus kakak mesti gimana?"
"Gak tau, ah!" Shion langsung beranjak dan naik ke atas kasur lalu menyelimuti dirinya dengan selimut tebal.
Hinata tertawa kecil, "Ngambek nih ceritanya?"
"Bukan, lagi ketawa."
Dan tawa Hinata kembali meledak.
...
Malam kian larut namun lampu kamar di sebuah rumah berlantai dua masih menyala. Menandakan masih ada yang terjaga di malam hari.
Naruto beranjak bangun dan mengacak rambut pirangnya frustasi.
"Kenapa aku memeluknya?! Hinata pasti merasa risih dengan tindakanku!" Naruto mengerang pelan, ia kembali menghempaskan badannya ke kasur. Lalu ia berguling ke kanan dan ke kiri sebelum kembali bangun.
"Besok aku harus menatapnya dengan wajah seperti apa? harus bersikap gimana?"
Tak tahu harus bagaimana, Naruto memutuskan untuk mengambil buku oranye miliknya. Ia berniat untuk meminta saran pada Kurama. Bagaimanapun dirinya yang lain itu, adalah sosok dewasa yang bisa diandalkan. Jadi pasti Kurama tahu apa yang harus Naruto lakukan.
Remaja pirang dengan tiga garis halus di kedua pipinya itu menggenggam pulpen ditangannya. Menghembuskan nafas kasar untuk menetapkan hati.
Namum hampir sepuluh menit berlalu, Naruto masih belum menuliskan apapun. Ia hanya mematung dengan wajah memerah.
"Aku terlalu malu untuk bertanya." gumamnya dengan suara melas.
Ia kembali beranjak dari meja belajar dan memilih tengkurep di atas kasur. Kedua kakinya ia banting ke kasur dengan rasa gemas dan frustasi.
Manik biru laut itu menoleh menatap keluar jendela. Dimana bulan purnama menggantung indah di langit malam. Mengingatkannya pada sepasang rembulan indah yang menatapnya lurus tadi siang.
'Menjadi sosok kakak dan anak yang bisa diandalkan, bukan lah hal mudah. Kamu keren Naruto-kun.'
Naruto menutup wajahnya dengan bantal. Berusaha agar senyum lebarnya tak semakin melebar. Namun suara tawa aneh lolos dari mulutnya.
'Kamu keren, Naruto-kun!'
Lagi ketika ia teringat senyum dan kata-kata Hinata. Naruto tidak mampu mengontrol dirinya untuk tidak tersenyum dan terkekeh pelan.
Ia tidak bisa meredam rasa bahagia dan kehangatan yang ia rasakan saat ini. Kata-kata Hinata seakan memiliki sihir untuk membuatnya sebahagia ini.
Naruto mengangkat kepalanya saat samar ia seperti mendengar suara. Ia segera keluar dari kamarnya dan mengintip dari balik tangga. Takut mengira suara aneh itu berasal dari maling.
Namun saat ia mendapati sosok Kushina tergeletak di depan pintu rumah. Naruto berubah panik dan cemas, ia segera turun menghampiri ibunya.
"Kaa-san?!" Naruto menggoyangkan bahu Kushina, berharap dia akan menyahut.
"Ukh..."
Naruto menatap lekat wajah Kushina yang terlihat merah. Samar ia juga mencium bau alkohol, dan ketika Kushina mengerang pelan. Naruto bernafas lega menyadari bahwa Kushina hanya mabuk.
Senyum tipis hadir di wajah Naruto sebelum ia mengangkat Kushina menuju ruang tamu. Senyum Naruto sedikit memudar begitu ia merasa Kushina terasa ringan dalam gendongannya.
Setelah menidurkan Kushina di sofa, Naruto mengambil selimut untuk menyelimuti ibunya. Hatinya terasa mencelos, sedih melihat gurat lelah diparas Ibunya.
Pelan Naruto berjongkok disamping Kushina. Menepuk pelan tangan kecil dalam genggamannya dan mengusapnya lembut.
"Aku harap Ibu mau bersabar, tunggu sampai Naru lulus sekolah." Naruto berujar pelan dengan senyum getir. "Setelah itu, Naru janji akan bekerja keras untuk Ibu dan juga Menma, sebagai pengganti Ayah."
Naruto menyeka air mata yang turun pelan di ujung mata Ibunya. Dan terkejut begitu mendapati Kushina membuka mata.
Lama mereka saling terdiam dan menatap satu sama lain. Ketika Naruto hendak berujar, Kushina lebih dulu memotongnya.
"Sayang,"
Dan seketika Naruto membungkam mulutnya.
"Kau pulang, Minato... Setelah sekian lama." Kushina menarik bibirnya, mengulas senyum tipis saat ia mencoba menyentuh wajah Naruto. "Aku merindukanmu."
Kushina mulai terisak pelan, "Kau tidak tahu betapa sulitnya aku setiap melihat Naruto."
Naruto sontak menggenggam erat tangan Kushina. Ia menunduk, mencoba meredam sakit dalam dada. Saat Kushina kembali berucap.
"Semakin ia tumbuh dewasa, ia semakin mirip denganmu. Membuatku semakin merindu."
"Ibu, aku bukan ayah..."
Kushina menggeleng pelan, "Tetaplah di sini, dan jangan tinggalkan aku lagi, Minato."
Usai berucap, Kushina memejamkan matanya dan terlelap. Membiarkan Naruto dalam diam, mencoba meredam tangisnya sendiri dengan setumpuk perasaan bersalah dalam dada.
...
Pagi datang dalam sekejap mata. Naruto hanya memandang cermin dengan tatapan kosong. Tidak memedulikan wajahnya yang kusut dengan lingkaran hitam di kantung mata.
Semalaman ia mencoba meredakan emosinya. Menekan rasa bersalah, frustasi dan amarah di dadanya.
'Semua akan baik-baik saja.'
Kata-kata puluhan tahun lalu terus terngiang dalam kepala. Memaksanya untuk mengingat kembali masa sepuluh tahun lalu.
'Jaga adikmu, dan tunggu Ayah kembali!'
Naruto mendengus kasar, tertawa tanpa suara. Janji itu sampai akhir tidak bisa ditepati.
Manik biru lautnya menatap lekat pada rambut kuningnya serta mata birunya. Wajah ini, memang hampir serupa dengan wajah Almarhum Ayahnya.
Naruto menghela nafas pendek, ia berusaha menepis perasaan berat dalam hatinya. Tak mau berlama lagi, ia mengambil tas sekolah dan turun menuju ruang dapur.
"Pagi, kak!" Menma menyapa dengan roti bakar di tangan.
Naruto tersenyum kecil, "Pagi." mata birunya beralih pada sosok wanita yang tengah menikmati sarapannya.
"Cepat makan dan berangkat, jangan telat sekolah."
Naruto mengangguk, ia mengambil tempat duduk dan mulai menikmati makan pagi.
Baru beberapa suap, namun Naruto merasa perutnya penuh. Ia meletakan sumpitnya dan beralih menatap Ibunya.
"Kaa-san," panggilnya yang dibalas gumaman Sang Ibu. "Apa ibu benci wajahku?"
Pertanyaan itu membuat Kushina dan Menma berhenti makan. Adiknya menatap Naruto tak mengerti, sementara Kushina menyesap pelan kopinya.
"Habiskan sarapanmu!" ujarnya tanpa menoleh.
Sinar mata remaja pirang itu mengepalkan tangannya, membuat buku-buku jarinya memutih. Ia menunduk dan bergumam pelan.
"Aku mengerti."
.
.
.
To Be Continue...
Terima kasih untuk para reader terkasih yang udah mau baca, favorite, follow dan mereview cerita ini.
Senang baca review kalian, semoga aku bisa bikin kalian makin larut dalam cerita ini. Bisa bikin kalian makin baper dan melting dan bisa bikin kalian gemes dengan cerita ini. ha ha ha!
Jangan bosan menuangkan emosi kalian setelah membaca FF ini, yah. Tapi emosi positip loh, bukan flame dengan bahasa barbar hehe. Sampai jumpa selasa depan.
