XX

"Jadi, bagaimana?"

Jihoon bertanya sambil menyeruput milkshake stroberinya. Wonwoo duduk didepannya, mengaduk-aduk kopinya tanpa minat untuk minum. Mereka sedang ada di cafe dekat kampus, menghabiskan sore berdua. Mengobrol hal-hal ringan, tapi yang mereka bahas sekarang tidak begitu ringan sepertinya.

Wonwoo menghembuskan nafas pelan. "Entah."

Jihoon menumpu kepala dengan sebelah tangannya, memandang Wonwoo malas.

"Bilang saja iya, selesai kan?"

Wonwoo memandang Jihoon dengan dahi berkerut,

"Mudah untukmu bilang seperti itu, aku? Lagipula ya nanti akan menjalaninya kan aku. Aku tidak bisa bilang iya begitu saja."

Wonwoo akhirnya menyesap kopi yang sedari tadi cuma ia aduk-aduk. Jihoon berdecak, selalu seperti ini. Terlalu banyak alasan.

"Woo dengar, mungkin memang yang akan menjalaninya nanti itu kau. Tapi sebagai sahabatmu, aku lebih dari tahu kalau Jisoo hyung itu tulus padamu. Kalau kau peka sedikit kau akan tahu kalau dia sudah mencoba menunjukkan kesungguhannya dari dulu. Walaupun aku tidak begitu dekat dengannya, aku yakin kalau dia orang baik. Dia akan menjagamu Woo, itu pasti."

Jihoon bicara mantap, kali ini menatap Wonwoo serius. Giliran Wonwoo yang sekarang menumpu kepalanya, pandangannya ia arahkan ke luar cafe. Melihat jalan diluar sana.

"Aku ingin bilang iya Hoon, sungguh. Tapi aku belum bisa. Bagaimana aku bisa bilang iya pada Jisoo hyung sementara hati dan pikiranku masih terisi oleh orang lain? Aku tidak mau seperti ini, itu sama saja aku menyakiti Jisoo hyung. Aku tidak bisa."

Wonwoo menatap Jihoon dengan pandangan yang sarat akan kesedihan, Wonwoo tahu kalau selama ini Jisoo menyukainya. Ia tahu tentu saja, tapi ia selalu menyangkalnya. Mengatakan pada dirinya sendiri bahwa semua perhatian dan sayang yang lelaki itu berikan padanya selama ini adalah sebuah perhatian dari seorang kakak pada adiknya, tidak lebih. Wonwoo menelungkupkan wajahnya pada meja café.

"Aku lelah pada diriku sendiri."

Wonwoo bicara, masih dalam posisi sama. Jihoon memandangnya prihatin, dielusnya kepala Wonwoo pelan. Jihoon tak habis pikir, butuh berapa lama lagi untuk Wonwoo bisa menghapus luka dihatinya? Jihoon jadi sebal sendiri, pria itu. Pria yang membuat Wonwoo jadi begini. Kalau bisa, Jihoon mau melempar orang itu ke sungai Han sekarang juga. Dasar tidak tahu diri.

"Hei, ponselmu berbunyi. Cepat angkat, sebelum menganggu pelanggan lain."

Jihoon bicara saat Wonwoo tak kunjung menyentuh ponselnya yang saat ini berbunyi. Wonwoo cuma menggumam dan mengambil ponsel di saku jaket tanpa ada niat untuk mengangkat kepalanya.

"Ya, Wonwoo disini."

"..."

"Apa?"

Kali ini Wonwoo mengangkat kepalanya, duduk tegak dengan tatapan menghadap kedepan. Jihoon terkejut dibuatnya.

"Aku pulang sekarang."

Kemudian Wonwoo menutup telfonnya, memandang Jihoon sebentar.

"Aku harus pergi sekarang, ibuku mau berkunjung ke apartment. Kau masih mau disini atau mau pulang bersamaku?"

Jihoon berpikir sebentar.

"Aku tinggal, Soonyoung tadi bilang mau menyusul kita kemari. Kasihan kalau Soonyoung nanti datang tapi kita sudah pulang. Kau pergilah, salam untuk Bibi ya."

Wonwoo mengangguk, kemudian melambai singkat sambil tersenyum pada Jihoon. Wonwoo menghilang ditelan pintu café, bergabung dengan para pejalan kaki lainnya sore itu. Jihoon mengambil ponselnya, memainkannya ditangan kiri seakan sedang menimbang sesuatu.

"Apa aku perlu memberitahu Jisoo hyung tentang ini?"

XX

"Kau lebih suka paprika atau cabai dalam makananmu?"

Wonwoo memandang dua benda yang Mingyu sodorkan padanya, kemudian menunjuk sebuah paprika merah ditangan kanan Mingyu setelah diam sesaat. Mingyu mengangguk kemudian memasukkan beberapa paprika kedalam troli belanjaan mereka.

"Aku akan memilih daging, kau ambillah sabun dan yang lainnya. Ambil yang biasa kau pakai saja, kita akan menggunakannya bersama."

Wonwoo mengangguk patuh, kemudian pergi ke bagian alat-alat kebersihan yang tak jauh dari area bahan makanan. Saat Wonwoo membalikkan tubuhnya, tiba-tiba seorang anak laki-laki menabraknya sampai terjungkang jatuh kebelakang.

Wonwoo terkejut, Mingyu juga. Kemudian dengan segera Wonwoo menghampiri si anak yang kelihatan sudah mau menangis. Anak itu masih kecil, mungkin umurnya masih kisaran 3-4 tahun. Wonwoo membantunya berdiri, kemudian berlutut didepannya.

"Kau tidak papa? Apa pantatmu sakit? Maafkan hyung ya, hyung benar-benar tidak sadar kalau kau sedang berlari kearah hyung barusan."

Anak itu diam, matanya memerah. Kelihatan sekali sedang menahan sakit.

"Ah, hyung benar-benar minta maaf. Jangan menangis ya? Apa pantatmu sakit sekali? Maaf, jangan menangis."

Wonwoo terus membujuk anak itu agar tidak menangis, tapi sayang si anak malah mulai terisak kecil. Wonwoo bingung, kemudian memandang Mingyu yang berdiri dibelakangnya. Wonwoo memandang Mingyu melas, minta bantuan.

Mingyu sudah mau menghampiri Wonwoo saat Wonwoo malah mengalihkan pandangannya kembali pada si adik kecil. Wonwoo teringat sesuatu, dirogohnya saku celana miliknya. Dapat.

"Ini."

Wonwoo menyodorkan sebuah lollipop pada si adik. Si adik berhenti terisak, kemudian memandang Wonwoo dan lollipop ditangannya bergantian sambil mengerjapkan mata sipitnya.

"Hyung akan memberikan lollipop ini padamu, tapi jangan menangis ya?"

Wonwoo bicara sambil tersenyum, si adik terdiam sebentar lalu mengangguk kemudian mengambil lollipop ditangan Wonwoo. Dipegangnya lollipop itu dengan kedua tangannya, sebuah senyum kecil terbit diwajah imutnya.

Anak itu kelihatan senang sekali mendapatkan lollipop dari Wonwoo. Mingyu mengamati mereka berdua dalam diam. Tidak sadar sebuah senyum kecil terbit diwajahnya.

"Telimakasih."

Senyumnya mengembang makin lebar, Wonwoo juga ikut tersenyum setelahnya. Diusaknya rambut si adik dengan lembut, ah Wonwoo jadi gemas.

"Siapa namamu?"Wonwoo bertanya masih dengan senyum diwajahnya.

Adik itu memandang Wonwoo dengan tatapan polosnya.

"Seunghun, Oh Seunghun."

Kemudian tersenyum memperlihatkan gigi susunya, matanya ikut menyipit. Wonwoo ber-ooh ria. Seunghun ya,

"Seunghun-nie?"

Seunghun menoleh saat ia mendengar seseorang memanggilnya.

"Ibuuu!"

Kemudian ia berlari sambil merentangkan kedua tangannya, memeluk Ibunya saat mereka sudah berhadapan. Dalam hati Wonwoo kecewa, padahal ia masih mau bicara dengan Seunghun.

Wonwoo berdiri, masih memperhatikkan Seunghun dan Ibunya yang kini kelihatan sedang bicara. Seunghun tampak menunjuk-nunjuk kearah Wonwoo, kemudian menarik Ibunya untuk mendekat kearahnya.

"Ibu, ini hyung yang membeli Hunnie permen. Dia menolong Hunnie waktu Hunnie jatuh Bu."

Seunghun bicara dengan antusias, tangan yang tadi ia gunakan untuk menarik Ibunya kini ia gunakan untuk memegang celana Wonwoo. Tangan satunya masih setia memegang lollipop pemberian Wonwoo. Seunghun kelihatan senang sekali. Wonwoo tersenyum, kemudian kembali mengusak rambut Seunghun.

"Aku minta maaf karena sudah merepotkan. Tadi Seunghun tiba-tiba berlari saat aku sedang belanja, jadi aku tidak sempat mengejar."

Wonwoo tersenyum maklum,

"Saya mengerti, anak-anak memang sering seperti itu. Saya yang harusnya minta maaf, karena saya Seunghun jadi terjatuh. Mohon maafkan saya. Dan, halo. Saya Wonwoo."

Wonwoo membungkuk kecil, kemudian tersenyum kikuk. Si Ibu cuma menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tidak, tidak. Harusnya aku yang bicara begitu, karena Seunghun acara belanjamu dan kekasihmu jadi terganggu. Maaf ya."

Wonwoo menboong,"Ya?"

Ibu itu memasang wajah bingung,"Pria itu kekasihmu kan?"

Bibi-bibi itu menunjuk kearah belakang Wonwoo. Belum sempat Wonwoo menoleh seseorang dengan seenaknya merangkul pinggangya, menarik Wonwoo mendekat kearahya.

"Halo, saya Kim Mingyu. Salam kenal, saya suaminya."

Mingyu bicara santai, lalu membungkuk sebentar kemudian ia memandang Wonwoo dengan senyum terkembang diwajahnya. Wonwoo menganga, maksudnya apaaa.

"Ah, kalian sudah menikah rupanya. Aku pikir kalian masih pacaran, anak jaman sekarang."

Wonwoo menggelengkan kepalanya, mencoba menjelaskan.

"Kalian kelihatan serasi sekali, kalian tampan dan manis. Aku jadi iri melihat kalian, kalian pasangan yang sempurna."

Bibi itu bicara dengan nada kelewat antusias, Wonwoo jadi curiga. Jangan-jangan bibi ini seorang fujoshi. Wonwoo sebenarnya tidak keberatan dengan pujian yang bibi itu berikan pada mereka berdua, yang mengganggu adalah bibi itu mengatakan manis sambil memandang Wonwoo. Wonwoo cemberut, dia kan tampan bukan manis. Iya kan?

"Kalian baru menikah atau bagaimana? Kalau dilihat dari wajah kalian aku rasa kalian masih kuliah atau semacamnya. Apa kalian masih pelajar? Kalian pengantin baru ya?"

Bibi itu kembali bertanya, pertanyaan beruntun. Nadanya makin terdengar antusias. Wonwoo makin yakin kalau bibi ini fujoshi, binar di matanya membuat Wonwoo silau. Wonwoo memandang Seunghun yang kelihatan bingung dengan apa yang Ibunya bicarakan, Wonwoo meringis. Mulai tidak nyaman. Wonwoo jadi malah merasa bersalah pada Seunghun karena harus mendengar percakapan tidak mutu antara Mingyu dan bibi-bibi ini.

"Iya, kami pengantin baru. Kami menikah sebulan yang lalu. Sebenarnya aku mau menikah saat kami sudah sama-sama lulus kuliah, tapi Wonwoo-ku ini terlalu terburu-buru jadi ya begitulah."

Mingyu tersenyum tampan, mencoba tebar pesona seperti biasa. Wonwoo mendengus pelan. Wajah Mingyu benar-benar minta ditonjok saat ini.

"Saat malam pertama-pun dia agresif sekali, aku bahkan tidak menyangka Won-ie bisa seliar itu diranjang."

Mingyu bicara santai, bahkan masih sempat-sempatnya mencubit kecil pipi Wonwoo. Wonwoo cuma diam, tapi tatapannya pada Mingyu. Aura membunuh Wonwoo bahkan sudah mulai keluar sekarang. Mungkin kalau Wonwoo menatap batu dengan tatapan seperti itu batunya bisa hancur tidak berbentuk. Cuma perumpamaan, tentu Wonwoo tidak punya kekuatan semacam itu.

Bibi-bibi itu mulai merona mendengar omongan Mingyu yang kelewat vulgar. Sementara Mingyu, dalam hati tertawa puas karena bisa mengerjai Wonwoo. Melihat Wonwoo menahan marah seperti ini adalah sebuah kesenangan tersendiri baginya. Bibi-bibi itu berdehem,

"Kalau begitu kami permisi dulu, kami sudah mengganggu kalian terlalu lama. Sekali lagi maaf ya, selamat berbelanja. Dan oh-aku doakan semoga kehidupan pernikahan kalian bahagia."

Bibi-bibi itu pergi sambil melambai kearah Mingyu dan Wonwoo. Mingyu balas melambai, senyuman masih bertengger diwajahnya. Sedangkan Wonwoo, ikut tersenyum tapi kesannya malah dipaksakan. Ekspresinya kelihatan aneh.

"SAMPAI JUMPA SEUNGHUN-NIE, KAMI AKAN BEKERJA KERAS MEMBERIMU ADIK. TUNGGU SAJA!"

Mingyu bicara dengan volume lumayan keras, matanya mengerling nakal pada Seunghun yang balas melambai padanya. Beberapa pengunjung yang sedang berbelanja ikut menoleh kearah mereka bedua mendengar omongan Mingyu barusan. Wonwoo menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah tomat. Antara marah dan malu juga. Cukup, Wonwoo tidak bisa menahannya lagi.

"Ya! Apa yang kau lakukan?!"

Mingyu mengaduh, Wonwoo baru saja memukul kepalanya dengan sendok sup besi yang ia dapatkan dari rak-rak peralatan dapur disebelahnya. Mingyu meringis mengusap-usap pucuk kepalanya, itu sendok besi dengan ukuran lebih besar dari kepalan tangannya dan Wonwoo dengan tanpa berdosanya memukulkan benda itu kekepalanya.

Wonwoo cuma memandangnya datar, lalu mengembalikkan sendok itu ke tempat semula kemudian pergi kearea peralatan mandi. Mingyu masih setia mengusap-usap kepalanya yang terkena pukulan sayang Wonwoo. Apa Wonwoo tidak sadar kalau Mingyu itu juga manusia? Bagaimana dia bisa memukul Mingyu menggunakan tenaga seperti itu dengan santainya?!

Mingyu menatap Wonwoo yang mulai menjauh darinya dengan tatapan dendam, kemudian mendorong trolinya menuju bagian daging.

"Idiot, semua orang bilang kalau Kim Mingyu itu jenius. Tapi kenapa saat kami sedang bersama dia selalu bertingkah bodoh seperti itu? Aah, hidup tenangku hilang dalam sekejap karena kemunculannya."

Wonwoo menggerutu sambil memilih beberapa sabun cair juga shampoo dirak didepannya, moodnya langsung berubah drastis karena peristiwa barusan. Suami ia bilang? Yang benar saja! Wonwoo akan punya suami tentu saja, tapi tentu bukan Mingyu. Wonwoo badmood, wajahnya cemberut. Kim Mingyu sialan.

Wonwoo tiba-tiba teringat sesuatu, dirogohnya saku jaketnya lalu Wonwoo mengambil sebuah kertas dari sana. Wonwoo memandang kertas ditangannya, bukan cuma kertas sebenarnya. Itu sebuah origami, origami burung lebih tepatnya. Origami itu seukuran telapak tangannya, warnanya merah.

Wonwoo termenung, entah ini origami keberapa yang ia dapat dari Mingyu. Mingyu memang tidak pernah memberikan origami-origami itu padanya secara langsung, tapi Wonwoo dengan pasti tahu bahwa semua origami yang ia terima selama ini adalah pemberian Mingyu.

Kadang saat terbangun dipagi hari Wonwoo menemukan sebuah origami diatas meja kamarnya, kadang juga saat Wonwoo sedang mengambil buku di loker kampusnya ia menemukan sebuah origami menempel di pintu lokernya. Jihoon juga kadang sering bertanya siapa yang memberikannya semua origami itu. Wonwoo memilih diam, kadang cuma mengedikkan bahu.

Wonwoo kadang sering berpikir, apa sebenarnya maksud Mingyu memberikan semua origami seperti ini padanya. Bukan hanya sekali dua kali, ini sudah berkali-kali. Warnanya juga selalu berbeda, dan jumlahnya. Seperti yang Wonwoo bilang tadi, entah sudah berapa.

Wonwoo tersadar dari lamunannya, kenapa Wonwoo jadi memikirkan hal tidak penting seperti ini? Semua ini mungkin hanya bentuk keisengan Mingyu saja padanya. Ya, pasti itu. Wonwoo menyimpan origami ditangannya kembali kedalam saku jaket, kemudian mulai mencari sabun dan shampoo yang biasa ia gunakan.

Wonwoo masih sibuk memilih sabun saat dirasa seseorang menepuk pelan bahunya. Wonwoo menoleh, dan ia berharap bumi menelannya saat itu juga. Wonwoo membeku, tolong siapapun bawa Wonwoo kabur dari sini sekarang!

"Belanja?"

Wonwoo mengerjap, otaknya langsung ngeblank begitu saja.

"Hei. Woo?"

Wonwoo kembali mengerjap, Wonwoo yakin wajahnya kelihatan seperti orang bodoh saat ini.

"Hei Jeon Wonwoo. Kau mendengarku?"

Orang itu mengguncang pelan bahu Wonwoo, Wonwoo kenapa sih?

"Aaa-aku, aku apa?"

Benar kan, malah sekarang Wonwoo balik bertanya. Jisoo cuma tersenyum, Wonwoo yang memasang tampang bingung seperti ini adalah favoritnya.

"Aku tanya, kau belanja? Sendirian saja?"

Wonwoo membulatkan mulutnya,

"Aah itu, ya. Aku...belanja. Dan aku, sendirian? Ya, aku sendiri."

Wonwoo akhirnya menjawab, walau ekspresi wajahnya masih sama. Wonwoo tersenyum, tapi malah jadi kelihatan aneh.

"Mana trolimu? Kau kesini cuma mau beli sabun?"

Jisoo kembali bertanya, pandangannya ia edarkan kesekeliling Wonwoo. Kembali ia pusatkan perhatiannya pada Wonwoo saat dirinya tidak menemukan troli didekat mereka. Wonwoo menggaruk lehernya, ah kenapa jadi seperti ini? Ini akan benar-benar jadi jackpot kalau Mingyu tiba-tiba datang menghampirinya lalu-

"Sudah selesai memilih sabunnya sayang? Ayo pulang, suamimu ini benar-benar lapar. Aku akan masak-oh Jisoo hyung. Belanja?"

-apa yang Wonwoo pikirkan benar-benar terjadi. Mingyu berujar santai, mendorong troli kearah Wonwoo dan Jisoo yang diam ditempat. Mingyu memandang Jisoo yang kelihatan bingung didepan Wonwoo. Jisoo memandang Wonwoo, tapi Wonwoo malah menunduk merutuki nasibnya.

"Kalian…menikah?"Jisoo bicara setelah lama diam.

Mingyu mengangguk,"Hyung belum tahu?"

Dan Wonwoo sungguh berharap Superman datang menyelamatkannya.

XX

"Jadi, kalian dijodohkan begitu?"

Wonwoo mengangguk, dipandanginnya ramen didepannya tanpa minat. Mingyu mengangguk seadanya, perhatiannya kini terfokus pada semangkok besar ramen dihadapannya.

Jisoo diam,"Kalian akan tinggal bersama untuk 6 bulan kedepan lalu menikah begitu?"

"Tidak/Iya."

Wonwoo dan Mingyu berpandang-pandangan, Wonwoo memutar matanya malas.

"Tidak akan, kami cuma akan tinggal bersama 6 bulan kedepan. Setelah itu sudah, tidak ada apa-apa."

Wonwoo bicara sambil memandang Jisoo yang duduk didepannya. Mingyu mendengus mendengarnya.

"Berhentilah menyangkal dan cobalah untuk menerima. Pada akhirnya kita juga akan menikah,"

Mingyu bicara sambil menyeruput mienya. Wonwoo memandangnya datar, dilipatnya kedua tangan didada lalu ia bersender dikursi.

"Aku akan berhenti menyangkal kalau kau berhenti jadi brengsek."

"Aku akan berhenti."Mingyu bicara, kali ini memandang Wonwoo serius.

"Waah, aku terkejut."

Wonwoo merespon dengan nada mengejek.

"Kami tidak akan menikah, tidak 6 bulan lagi atau kapanpun itu. Tidak akan, aku akan menikah. Tapi bukan dengan orang ini."

Mingyu menatap Wonwoo dengan pandangan tidak suka.

"Apa kau tidak sadar kalau orang yang barusan kau sebut 'orang ini' itu sekarang sedang duduk disampingmu?"Mingyu bertanya sinis.

Wonwoo mengedikkan bahu acuh,

"Aku berkata seperti ini karena aku tahu kau duduk disampingku. Bukannya bagus? Kau jadi tahu kalau aku memang benar-benar tidak menyukaimu."

Jisoo cuma tersenyum, jadi Wonwoo sudah terikat ya? Apakah itu artinya penantiannya selama ini tidak berarti?

"Kau tahu, kalau orang tuamu sudah memutuskan seperti ini, itu pasti yang terbaik untukmu kan? Semua orang tua tahu apa yang paling baik untuk anaknya."

Jisoo masih tersenyum ,tapi ia meringis dalam hati. Ia mengatakan semua itu seakan-akan itu tidak ada apa-apanya. Wonwoo mendesah frustasi, kemudian memijat hidung atasnya pelan. Kepalanya tiba-tiba terasa pening.

"Aku tidak tahu hyung, tidak tahu. Aku hanya ingin setidaknya sekali seumur hidup mengikuti kata hatiku. Rasanya lelah kalau kau terus-menerus melakukan apa yang orangtuamu katakan sekalipun itu menyebalkan."

Wonwoo bicara pelan, kelihatan stres. Mingyu diam, tatapannya kosong menghadap depan, sementara Jisoo. Ia memandang Wonwoo iba, Wonwoo kelihatan lelah.

"Ngomong-ngomong…"Wonwoo kembali bersuara. Memecah keheningan yang sempat melanda mereka.

"Bagaimana kalian bisa saling mengenal?"

Jisoo dan Mingyu sama-sama facepalm, Wonwoo bahkan tidak tahu kalau Jisoo dan Mingyu itu bertetangga. Jeon Wonwoo dan segala ketidakpeduliannya.

XX

"Jangan dekat-dekat dengan Jisoo hyung."

Mingyu bicara setelah mereka sampai diapartment malam itu. Wonwoo sedang sibuk memasukkan bahan-bahan makanan kedalam kulkas.

"Kenapa?"

Wonwoo bertanya, masih sibuk memasukkan daging ke dalam freezer. Mingyu menghela nafas.

"Karena aku tidak suka."Mingyu berujar singkat.

Wonwoo mengalihkan pandangannya kearah Mingyu, dipandanginya Mingyu dengan serius.

"Dekat atau tidak, bukan urusanmu."

Wonwoo berujar sambil berjalan melewati Mingyu, berniat masuk ke kamarnya. Saat ia sudah berada didepan pintu Mingyu mencekal tangan Wonwoo erat. Ditariknya Wonwoo agar berbalik menghadapnya.

"Dengar Jeon Wonwoo, aku serius saat menyuruhmu untuk jangan dekat-dekat dengan Jisoo hyung. Aku tidak peduli apakah kau menyukaiku atau tidak, apakah kau mau menikahiku atau tidak. Yang jelas, kau itu milikku. Dan tak peduli seberapa kerasnya kau menolak, pada akhirnya kau akan tetap jatuh padaku. Aku jamin itu."

Mingyu bicara dengan suara rendah yang membuat Wonwoo merinding mendengarnya. Jarak wajah mereka tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh juga. Dari jarak sedekat ini Wonwoo dapat melihat tatapan Mingyu yang tepat menusuk matanya. Ah, hal aneh itu lagi.

"Kau harus tahu kalau aku juga serius dengan perkataanku barusan. Aku tidak peduli Mingyu-ssi. Semua omonganmu terdengar seperti omong kosong bagiku."

Wonwoo menghempaskan tangan Mingyu yang memegang pergelangan tangannya. Ia berbalik, bersiap membuka pintu kamarnya.

"Dan juga.." Wonwoo menoleh kearah Mingyu.

"Kalau kau memberiku semua perhatian ini cuma agar kau bisa meninggalkanku pada akhirnya nanti, kau tidak perlu repot-repot melakukannya. Aku sudah lebih dari cukup untuk tahu seperti apa rasanya ditinggal sendirian."

Dan dengan itu, Wonwoo menutup pintu kamarnya. Menguncinya, meninggalkan Mingyu seorang diri. Mingyu menatap pintu kamar Wonwoo yang tertutup dengan pandangan kecewa, namun tak lama sebuah senyum miris terbit di wajahnya.

"Aku memang brengsek, apa yang aku harapkan?"

XX

Wonwoo duduk dilantai, punggungnya bersender di pintu kamar. Kedua lututnya ia peluk, ia tempelkan kedadanya. Wonwoo menerawang, melamun.

"Kau tahu? Aku juga takut aku akan jatuh padamu pada akhirnya."

Wonwoo bicara, menggumam. Suaranya terlalu pelan,

"Tapi itu tidak akan terjadi kan?"

Wonwoo bertanya, lebih kepada dirinya sendiri.

Wonwoo tersadar dari melamunnya saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan, dari Jisoo hyung.

'Apa kau sudah tidur? Sudahkah? Atau belum? Aku cuma mau memastikkan kalau kau baik-baik saja, aku melihatmu tadi dan ya, kau kelihatan lelah. Jangan terlalu memikirkan hal ini dengan berat Woo, ayahmu juga bilang kalau pada akhirnya semua ini tergantung padamu kan? Jalanilah harimu seperti biasa, aku yakin kau bisa. Semangat!'

Wonwoo tersenyum membaca pesan yang Jisoo kirim padanya. Jisoo hyung selalu seperti ini, selalu tahu kapan Wonwoo butuh dorongan. Wonwoo sudah mau mengetik balasan untuk Jisoo saat pesan lain darinya masuk.

'Tidak perlu dibalas, aku tahu kau lelah. Tidurlah, kau besok ada kelas kan? Semoga mimpimu indah.

Oh dan juga, kau tahu aku selalu ada kan? Selamat malam.'

Wonwoo kembali dibuat tersenyum, aku tahu hyung. Aku tahu. Wonwoo meletakkan ponselnya disebelah kakinya. Ia kembali menerawang, seandainya Wonwoo bisa membuka hatinya pada Jisoo, seandainya ketulusan Jisoo bisa menyentuh hatinya. Wonwoo menutup matanya pelan, tanpa sadar setetes air mata meluncur begitu saja dari matanya. Wonwoo menangis dalam diam, sendirian. Dari sekian banyak orang didunia ini, kenapa Wonwoo? Kenapa Wonwoo yang harus merasa sakit yang begitu dalam seperti ini? Wonwoo membuka matanya,

"Hyung.."

Karena cinta pertama memberi harapan pada hati yang masih benar-benar kosong.

TBC

(-) Kemaren apdetan lama karena nggak punya kuota sih, hoho. Apalah dayaku yang masih sekolah ini. Kemauan buat beli kuota besar tapi uang buat belinya yang nggak ada -_-

(-) Aku baper karena meanie, aku BAPER

(-) Aku ada rencana mau masukan soundtrack (bahasaku -.-) buat beberapa scene di chapter mendatang. Kayak pas scene ini kalian ngeplay lagu ini biar lebih ngefeel atau semacam itu. Itu menurut kalian aku ngasih taunya gimana? Langsung tulis aja sebelum adegan yang dimaksud judul lagunya atau aku ngasih tau di awal chap? Tapi kalo aku ngasih tau diawal chap kayaknya nggak asik ya? Soalnya ada beberapa scene yang menurutku bakal lebih feel kalo sambil ngedengerin lagu-lagu tertentu. Atau pas ngetik adegan itu aku ngederin lagunya. Gimana?

(-) Maaf kalo penulisanku yang dulu bikin kalian yang baca nggak nyaman. Ya semoga aja penulisanku akan lebih baik kedepannya, jadi mohon sabar :)

(-) Bikin chap panjang itu susah, susah buat aku. Susah mikirnya, hem.

(-) Mungkin aku emang super kudet atau apalah, tapi sampe sekarang aku masih nggak tau kenapa Seungkwan bisa punya nama panggilan Ajeng. Ada yang bisa jelasin nggak sih asal-usul itu nama gimana?

Selamat hari Jumat!