Yosh! hiatus selesai! selamat baca~ :D

Oh ya, makasih bwat semua yg dah review

Warning : OOC, Yaoi, ga suka jangan baca, mungkin ada sedikit typo. adegan2 tertentu yg memiliki kesamaan dengan suatu anime, manga, atau acara tv lain mungkin disengaja *slapped*

Disklemer : Naruto milik Masashi Kishimoto

acara Masterchef bukan milik kazu

Fic ini punya kazu. enjoy~


Mine, Yours, Our Future

.

Chapter 6

Normal POV

"Hei Gaara, deadlinemu tinggal tiga hari loh. Kau tidak mengurus kuliahmu?" Sambil menyalakan rokoknya Neji memandangi Gaara yang sedang sibuk di dapur, membereskan makan malam mereka.

Tidak ada jawaban dari Gaara. Neji hanya menggelengkan kepalanya. "Dasar keras kepala" gumamnya sambil meghisap rokoknya dan memencet-mencet remot tv berusaha mencari acara yang menarik.

Gaara tiba-tiba sudah berdiri di depannya, meraih rokok yang dihisapnya dan membuangnya di tempat sampah.

"Sudah berapa kali kubilang. Jangan merokok di dalam rumah apalagi jika aku ada didekatmu. Mengerti?" Neji memasang tampang tidak senang. Yah, sudah berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus kali Gaara memperingatinya untuk berhenti merokok, tapi tidak semudah itu menghentikan kecanduannya.

"Memangnya kenapa si? Ini kan juga rumahku." Kali ini Neji berusaha melawan.

"Aku tidak ingin mati muda karena kanker paru-paru. Kalau kau mau celaka, celakalah sendiri, jangan mengajakku." Jawab Gaara datar sambil kembali berjalan ke dapur. Neji lalu menyusulnya.

"Hehh, kau jahat sekali Gaara. Padahal aku begitu baik padamu." Neji lalu mendekati Gaara dan memeluknya dari belakang. Gaara yang terkejut sampai menjatuhkan sendok yang sedang dicucinya.

"Le-lepaskan!" dia berusaha menjauhi Neji, namun sayang pelukan Neji jauh lebih kuat.

"Hehe, tidak akan sampai kau minta maaf."

"Hah? Mi-minta maaf untuk apa? Aku tidak salah apa-apa." Gaara masih menggeliat, berusaha lepas dari pelukan Neji. Kejadian seperti ini sudah sering terjadi sejak Neji menyatakan perasaannya pada Gaara beberapa hari yang lalu. Entah kerasukan apa, Neji jadi mesum dan sering menyentuhnya, yah walaupun tidak pernah lebih dari sekedar ciuman.

"Minta maaf karena kau sudah jahat padaku. Kalau tidak aku akan bertindak lebih jauh loh, Gaara-chan." Neji lalu menciumi tengkuk Gaara. Gaara langsung terdiam seketika.

"I-iyuh! Le-lepaskan!" dengan hentakan keras, akhirnya Gaara berhasil lolos dari pelukan Neji. Neji nampak kecewa.

"Ja-jangan kaulangi lagi atau akan kuracuni makananmu!" bentak Gaara, namun terlihat jelas dia malu, wajahnya sudah semerah tomat.

"Mou, Gaara-chan, kau jahat sekali." Neji yang kecewa kembali ke sofa dan melanjutkan kegiatannya, memencet-mencet tombol remote tv dengan bosan.

"Hahh, aku pengen merokok." Gumamnya sambil menghela nafas. Gaara yang sudah selesai merapikan dapur menyusulnya ke ruang tamu dan merebut remote tv dari tangan Neji.

"Memangnya kau tidak bisa baca ya?" Tanya Gaara ketus. Neji menatapnya dengan ekspresi bingung.

"Kan di bungkus rokok sudah ada tulisannya. Merokok dapat menyebabkan penyakit-penyakit itu, tidak baca? Atau tidak mengerti?"

"Oh. Itu kan hanya bohong. Lagian tulisannya juga kecil sekali. Siapa yang mau repot repot membaca." Jawab Neji datar. Gaara terlihat kesal dengan jawaban itu.

"Baka. Itu beneran tahu! Mulai hari ini kau harus berhenti merokok. Benar-benar berhenti!" perintah Gaara dengan tegas.

"Kau tahu darimana itu beneran? Lagian aku tidak bisa berhenti begitu saja. Aku butuh sesuatu yang membuatku tenang dan tidak bosan." Ujar Neji sambil merebut kembali remote dari tangan Gaara dan mengganti-ganti channel lagi.

"Heh, kau lupa kalau aku mahasiswa kedokteran? Sepertinya benda beracun itu sudah membuatmu pikun ya 'Kakek'?" jawab Gaara dengan menekankan pada kata terahir dari kalimatnya. Neji menatapnya kesal. Umur memang topic sensitive buat Neji.

"Apa? Tidak terima kupanggil Kakek?" Tanya Gaara menantang. Neji hanya memasang tampang cemberut. Dia memang tidak akan bisa menang beradu mulut dengan bocah berambut merah itu. Gaara masih memelototi Neji menantang, tidak mendapat perlawanan, dia hanya menghela nafas.

"Hahh. Aku serius tahu."

"Soal apa?" Neji malah balik bertanya sambil masih memainkan remote di tangannya, berpura-pura bodoh.

"Soal merokok!" Gaara terlihat kesal, "Otakmu memang sudah dibuat lemot oleh benda beracun itu." Ia lalu merebut remot dari Neji dan mengganti ke channel memasak lalu menyembunyikan remotenya di balik bantal.

"Iyaa, aku mengerti." Neji lalu menyandarkan punggungnya ke sofa, "Tapi tetap saja aku masih tidak bisa menerima ide berhenti merokok begitu saja. Apa alasanmu menyuruhku berhenti?"

"Jelaslah karena efek merokok itu, bodoh. Asal kau tahu ya, Kakekku meninggal karena kanker paru-paru, pamanku juga dan mereka semua adalah perokok. Apa kau mau mengalami hal yang sama? Oh ya, kakak dari temanku ada yang mengalami impotensi karena dia merokok sejak smp, lalu saudari dari sepupuku mengalami abortus kare-" belum sempat Gaara menyelesaiakan pidato anti rokoknya, Neji menghentikannya.

"Jadi kau khawatir padaku?" tanyanya diiringi dengan cengiran. Gaara diam sejenak, lalu menjawab dengan ketus sambil memalingkan wajahnya dari pandangan Neji, malu?

"Huh, siapa juga yang mengkhawatirkanmu. Aku hanya tidak ingin aku mengalami nasib yang sama karena jadi perokok pasif darimu." Meskipun menyangkal, jelas terlihat kalau kata-kata Neji benar, bahwa Gaara mengkhawatirkannya.

"Hahaha. Iya iya. Aku mengerti. Mulai hari ini aku akan berusaha berhenti untuk merokok. Makasih ya Gaara." Jawab Neji sambil menepuk-nepuk kepala Gaara. Gaara mengalihkan pandangannya. Wajahnya kini memerah. Dengan kedua telapak tangannya, Neji lalu mengalihkan pandangan Gaara ke arahnya. Gaara memandang Neji sebentar, lalu mengalihkan bola matanya, enggan untuk bertemu pandang.

"Hei, pandang aku." Gaara masih tidak bereaksi.

"Gaaraaa." masih tetap sama. "Bandel amat si." Neji lalu maju dan mempertemukan bibirnya dengan bibir Gaara. Gaara yang shock hanya terdiam, berusaha mencerna kejadian yang sedang terjadi. Neji lalu mundur, menghentikan ciuman singkat mereka itu. Gaara kini memandangnya.

"Nah begitu donk. Kalau orang lain berbicara kau harus memandang mereka." Ujar Neji santai sambil berlalu ke dapur, meninggalkan Gaara yang masih terdiam dengan wajah seperti kepiting rebus.

Suara televisi masih terdengar dari ruang tamu sementara Neji ke dapur untuk mengambil minum. Gaara sepertinya sudah cukup sadar untuk bergerak dari posisinya.

'Si-sial. Kenapa aku tidak pernah bisa melawannya. Argh! Gaara bodoh. Bukannya melawan malah menikmatinya. Baka baka.' teriak Gaara dalam hatinya.

"Hei Gaara, kalau kau tidak mau nonton, matikan saja televisinya. Sudah malam, kau tidak tidur?" Tanya Neji sambil berjalan ke ruang tamu dengan membawa dua cangkir gelas berisi susu hangat dan memberikan salah satunya pada Gaara.

"Be-belum ngantuk." Jawabnya sedikit gugup sambil mengambil cangkir dari Neji, mungkin masih teringat kejadian tadi.

"Ya sudah, aku duluan ya, besok aku harus ke kampus pagi-pagi. Oyasumi."

"Eh, Ne-Neji." Panggilan Gaara menghentikan langkah Neji.

"Kenapa?"

"Umm, malam ini aku tidur di sofa saja." Gumamnya sambil tertunduk. Neji tersenyum penuh arti, seperti mengerti jalan pikiran Gaara.

"Terserah kau saja. Jangan lupa nyalakan pemanasnya kalau begitu. Jangan sampai kau masuk angin."

"Iya. Oyasumi Neji." Neji hanya mengangguk lalu masuk ke kamarnya.

'Hah, aku memang payah. Seharusnya tadi tidak perlu sampai menciumnya. Malam ini tidur sendirian lagi deh.' Gumam Neji dalam hati.

Gaara lalu mengganti-ganti channel televisi. Jam sudah menunjukan pukul 11.30 malam, tapi dia masih belum mengantuk. Kejadian tadi terbayang lagi olehnya. Semburat merah muda kembali menghiasi kedua pipinya.

'Arghh. Kenapa terbayang terus sih? Neji bodoh!' Gaara bergumam sambil menenggelamkan wajahnya ke bantal.

"Segeralah daftarkan diri anda. Konoha Masterchef! Ikutilah ajang bergengsi pertandingan memasak seluruh koki amatir di Konoha untuk memperebutkan gelar sebagai masterchef pertama. Jangan lewatkan juga hadiah uang tunai ratusan ribu dollar dan kesempatan menerbitkan buku memasak milik anda sendiri. Tunggu apa lagi,ikutilah penyisihannya di studio Konoha pada tanggal 20 November jam 10.00 pagi. Anda bebas memasak apa saja. Buatlah juri kami terkesima dengan hasil masakan anda …" Iklan dari televise tadi menyadarkan Gaara dari lamunanya.

'Masterchef Konoha? Ti-tidak mungkin!' pikirnya. Ia terdiam sebentar, lalu tiba-tiba,

"Yeah!" Gaara meloncat girang. (AN:Gaara loncat-loncat, OOC abis -,-))

"Ini kesempatanku, jika aku bisa menang dalam ajang ini berarti aku dapat membuktikan pada Ayah bahwa aku pantas menjadi seorang koki, dan lagi hadiah uangnya bisa kugunakan untuk membiayai sekolahku!" Gaara terlihat bersemangat

"Tunggu, audisinya tanggal 20, hari ini.. umm.. Eh? Hari ini tanggal 19? Berarti audisinya besok?" sekarang ia terlihat panik.

"Tenang-tenang Gaara. Yah, aku bebas memasak apa saja. Untunglah buku resep ibu kubawa kesini."

'Eh, tunggu. Aku harus memberitahu Neji.' Tiba-tiba Gaara teringat pada Neji

'Ah, tidak, sudah malam. Dia pasti sudah tidur. Besok saja akan kuberitahu. Sekarang sebaiknya aku tidur saja, mengumpulkan tenaga untuk besok.'

Saking senangnya Gaara sampai lupa menyalakan pemanas. Udara dingin sudah tidak dirasakannya. Dia mematikan televisi dan lampu lalu langsung membaringkan diri di sofa dan terlelap, memimpikan masakan apa yang besok akan dimasaknya. Sayangnya dia tidak sadar kalau tubuhnya yang tidak tahan dingin mungkin bisa membuatnya gagal dalam audisi besok.

.

TBC a.k.a bersambung


Okeh!

akhirnya bisa update. meskipun ini hanya sekedar selipan kecil, yg g ada plotnya sama skali, stidaknya kazu dah update. hehe

next chap abis Easter ya :D, kazu mo liburan, pulang kampung. wkwk

y uda, makasih dah baca, review yah.

oh btw, royal fiance belum bisa diupdate, maap, belum sempat diketik lanjutannya. kazu usahain nanti abis lburan *slapped*