Kusagakure, Kantor pusat

Disebuah ruangan kerja yang penuh dengan gulungan dan kertas laporan, ruang kerja dari sang pemimpin Kusagakure. Murata, sang pemimpin menghela nafasnya, menunjukkan kembali raut serius dimatanya.

"Cari tahu segala sesuatu tentang Zero !, identitas, kekuatan, kerabat, apapun itu !"
, Seluruh Jounin kusa dihadapanya mengangguk setuju, pergi dengan shunsinya masing-masing.

Murata diam sejenak, kedua tanganya memegang halus kepalanya. Berusaha menenangkan pikiranya. Selangkah lagi dia berhasil mendapatkan sang Zero, tapi seakan nasib tidak memihaknya. Dalam sekali hentakan dia melemparkan punggungnya ke kursi pemimpin yang ia tempati. Berusaha memikirkan penyelesaian dari permasalahan yang ia hadapi. " Zero itu, apakah dia bagian dari konoha ?", batinya penasaran. Membayangkan kembali jubah Zero yang terkoyak tak bersisa, dengan lambang Uzumaki berwarna merah dipunggungnya.
"Dia memiliki lambang pusaran air tepat dipunggung jaketnya, Hanya Ninja konoha yang menggunakan simbol klan uzumaki",
" Apa mungkin dia seorang Uzumaki ?!",
"Tidak mungkin"
"Lupakan! Uzumaki itu berambut merah ", Ia berusaha membuang pikiranya tentang kemungkinan ia seorang uzumaki, setidaknya dia tidak ingin memikirkan masalah klan berambut merah tersebut. "Tapi, aku punya seorang penduduk dari klan Uzumaki !",


Disclaimer : Naruto is belongs to Masashi Kishimoto

Chasing My Dream by Ardion's Heart

Warning!

[Smart n strong Naru !, OOC, Typo, Gaje, bahasa kacau, Alur tak beraturan n Etc]

...

Don't like don't read

.

...


"Terima... kasih... telah menolongku !"

Beberapa patah kata berhasil membuatnya diam beribu kata. Ditambah lagi gadis itu pingsan dihadapanya, lengkap sudah masalah yang dia alami. Dan terlebih lagi, apa yang harus ia lakukan padanya ! Dia bukan orang bejat yang mengambil kesempatan dalam kesempitan kan.

"Terpaksa ", batinya menghela nafas penuh lelah, menarik tangan kirinya. Berusah mengangkat tubuhnya yang tak sadarkan diri.

" Shunshin no Jutsu ",

Kedua Uzumaki itu lenyap dengan shunshinnya, meninggalkan hutan gelap yang dingin ditengah gemerlapnya para bintang.

Sesosok bayangan hitam melintas dengan cepat, berhenti sejenak menampakkan shinobi bertopeng putih polos berlambang konoha hanya menatapnya dari jarak jauh. "Lokasi Zero telah ditemukan ", ucapnya kembali pergi dengan shunshinya.

"Kau sudah sadar ?",

Mata merah Crimson yang terlindung kacamata cokelat itu menatap dengan jelas seseorang bertopeng yang duduk disampingnya. Merasakan suatu chakra yang berbeda dalam orang tersebut. 'Chakranya berbeda, aku tak pernah merasakan chakra lain yang sama dengan dirinya', batinya berusaha tak menunjukkan ekspresi apapun.

" Akhirnya kau sadar , kau pingsan semalaman dan aku tak tahu siapa kau , jadi aku menunggumu sadar", Ucap sang Zero bangkit dari duduknya, membenarkan topeng polosnya.

"Siapa kau ?",

"Karena kau telah sadar, saatnya aku pergi ",

" Kenapa kau menolongku ?..", pertanyaan itu tak terjawab karena Naruto telah pergi dengan shunsnhinya.

...

[Skip Time]

Naruto masih diam termenung, diam menatap awan putih dibalik beberapa awan kelam yang mendominasi, menyelimuti angkasa yang luas. Sebuah kombinasi yang indah ciptaan Kami-sama, menurutnya.

'Kenapa...kenapa aku bisa kalah ?, dia dapat memojokkanku dengan mudah', Batinya menatap kembali kearah Training ground milik Kusagakure. Sembari memegangi perban dilengan kanannya, tertutupi oleh jaket hitam miliknya. Menyembunyikan lilitan perban yang menyelimuti seluruh bagian lengan kanan miliknya.

'Aku harus berlatih lebih keras !, aku... Aku ini masih lemah !', Batinya mencoba menyemangati dirinya sendiri.

'Tempat berlatih mereka juga diluar gerbang desa, sama seperti Amegakure.', Batinya tersenyum. Yah, kenangan latihanya tak bisa pudar begitu saja. Apalagi dengan Anikinya yang malah bersemangat mengajarinya jutsu yang dia punya.

'Jika aku di Ame, mungkin dia akan langsung menawarkan diri untuk melatihku', batinya tersenyum menatap awan kelam yang mulai mendominasi. Menyelimuti awan putih yang menghalangi pancaran sinar matahari diangkasa.

"Siapa kau, Untuk apa kau disini ?", Suara seseorang berhasil membuyarkan lamunanya, suara seseorang yang tak terasa asing. Suara seseorang yang kemarin bilang telah ditolongnya, siapa peduli.

" Eh... Siapa kau ?!", Balas Naruto, membalikkan tubuhnya menatap seseorang yang mengajaknya bicara. Mata Biru kelamnya menatap kearah orang tersebut. Seorang gadis seumuranya, memakai jaket berwarna cokelat terang dengan dalaman kaos bermotif jaring-jaring, memperlihatkan hitai-ate Kusagakure didahinya.

"Jangan balik bertanya !, Siapa kau ,baka ?!", Balasnya menekan kata-katanya. Sang uzumaki bersurai hitam terdiam, menatap balik padanya. Seorang gadis berambut merah dengan kacamata cokelatnya.

" Kau tidak perlu tahu !", jawab Naruto tak peduli. Memalingkan wajahnya, tidak peduli. Menatap kembali awan gelap yang telah memudar. Sang gadis mulai mengerutkan bibirnya, cemberut.

"Jawab Baka, jangan mengelak !", mulut Naruto berhasil terbungkam, baru kali ini ada seseorang yang mampu membuatnya terbungkam. Bahkan Nagato dan Hiruto tak mampu membuatnya bungkam.
"Jangan menggangguku, aku sedang istirahat !", dingin sang uzumaki bersurai hitam, tak memperdulikan seseorang yang kini malah semakin menatapnya kesal bercampur rasa penasaran.

Sang gadis menjulurkan tangan kananya, menatapnya tersenyum. Walau terlihat tak peduli, tapi akhirnya dia menerimanya.

" Untuk apa ?", "Perkenalkan, aku Uzumaki Karin, siapa namamu ?", sang gadis itu menjabatnya.

" Uzumaki Naruto "

"Sama-sama uzumaki ", lirih naruto. "Kau tak mungkin seorang Uzumaki !", Protesnya langsung ke intinya, tak menghiraukan seseorang yang didepanya memasang wajah malas.

'Apa dia bilang ?!, aku bukan Uzumaki ! Apakah karena rambutku, alasan klasik !'

"Kata Ibuku Uzumaki berambut merah ! ",

'Tepat seperti perkiraanku', batinya malas menatap kembali cakrawala luas. Menghiraukan gadis tak dikenal yang dengan semangatnya ingin berkenalan denganya.

"Tapi.. Terima kasih... Telah menolongku ! ",

'Dia tahu rupanya', batinya malas. Berusaha memikirkan cara untuk melindungi identitasnya sebagai Zero.

" Aku tidak menolongmu, untuk apa kau berterima kasih padaku ?!", Karin hanya berpaling sejenak setelah mendengar sebuah jawaban yang berhasil terucap, menatap kearah awan kelam diangkasa.

"Aku tahu itu kau, Aku merasakan kau memiliki chakra yang sama dengan orang yang telah menolongku",

'Tipe sensor !', batinya syok, memikirkan rencana lain yang mungkin muncul untuk melindungi identitasnya. 'Siapa sangka dia mampu mengenali chakraku dengan mudah, dia memang tipe sensor yang hebat', batinya menarik sebuah kesimpulan singkat.

" Mungkin saja dia memiliki chakra yang terasa sama denganku !", sangkal Naruto membiarkan surai hitamnya berkibar terkena angin.

" Memang semua chakra orang yang kurasakan itu hampir sama, tapi berbeda denganmu, Naruto-sama. Tolong jelaskan sebuah alasan, kenapa kau menolongku !",

'Alasan ?, bukankah aku hanya kasian padanya.. tapi kenapa ya ?', batinya bingung sendiri, entah apa yang ada dipikiranya. Seorang Oinin menyelamatkan seseorang, itu bukanlah hal yang dilarang kan ! Ditambah lagi dengan pernyataan Karin yang terang-terangan menyatakakan bahwa chakranya berbeda dengan yang lain, cukup untuk membingungkan pikiranya yang dipenuhi oleh deduksi.
'Sepertinya aku memang terpojok, siapa sangka dia bisa mengenalku saat memakai topeng dengan mudah, aku tak bisa membiarkanya membocorkan identitasku pada Kusagakure'

"Alasan, aku hanya ingin mendapatkan beberapa kepala Nukenin untuk ketuaku, dan kau ada disana tak sadarkan diri.. jadi aku sekalian saja menolongmu"

"Oh, begitu..", Ucapnya murung, ' Kupikir ada alasan lain ', lanjutnya dalam pikiranya

"Sudah dipastikan, alasan kau berkenalan denganku untuk membalas budi dan mengucapkan terimakasih padaku.. Tapi, aku tak butuh terimakasihmu ",

"Dasar, sok keren..", balasnya dengan nada sinis, dengan tangan kiri memegangi kacamatanya. Membenarkan posisinya kacamata cokelatnya yang sedikit bergeser.

" Tapi, Ada hal yang ingin kukatakan padamu ",

"Katakan !, aku tak punya banyak waktu !", ucap dingin Naruto, berusaha mengacuhkanya. Untuk apa peduli pada orang yang belum dikenalnya, walaupun dia uzumaki sekalipun.

"Aku.. Ingin melarikan diri dari desa ini, mereka tak menganggapku sebagai manusia, aku hanya alat", ucapnya lirih.. dengan volume suara yang hampir menyamai suara bisikan.

" Jadi kenapa kau tidak melakukanya dari dulu, hidup hanya untuk dimanfaatkan... membosankan", balasnya malas, setidaknya dia hanya menyampaikan pendapatnya.

"Aku ingin tapi.. Aku tak punya kekuatan yang cukup untuk itu !, tapi aku punya permintaan ", Naruto hanya diam, mencoba menebak apa yang akan dia katakan, memutuskan suatu deduksi yang terlalu mudah untuknya.

" Dan aku ingin... ', Sang uzumaki bersurai hitam masih diam, mencoba mendengarkan sebuah permintaan yang akan didengarnya.

"Menjadi bawahanku, mungkin akan kupikirkan nanti "

"Darimana kau tahu.. ",

" Perkiraan, dan perlu kau ingat. Keinginanmu terlalu mudah untuk ditebak, hanya dengan mengikuti alur pembicaraanmu, bahkan murid akademi akan langsung menyadarinya", jelasnya panjang lebar.

...

"Jadi, kau menerimanya ? "

" Mungkin, setelah aku bisa 'sedikit' mempercayaimu... ", ucapnya memperhatikan hitai ate Kusagakure yang masih terpasang dengan rapi dikepala lawan bicaranya.

"Tapi.. apa kau sadar kalau Murata sedang mengawasimu !"

"Eh.. Apa maksudmu.. Naruto-sama",

"Tiarap !", Teriak Naruto keras, dengan tanganya yang memaksa Karin menundukkan kepalanya. Dan benar saja sebuah jutsu Suiton hampir melubangi kedua kepala mereka. Karena beberapa detik saja terlewat, mereka tak akan selamat.

'Tunggu, kenapa aku tak menyadarinya, hawa chakra kehadiranya begitu tipis tapi.. tak mungkin tak bisa kurasakan', batin sang Uzumaki berambut merah

'Suindan.. lagi ?', batinya malas, memegangi luka dilenganya yang berbalut perban, hasil dari pertarungan seminggu yang lalu, yang belum benar-benar sembuh. Menatap seorang berpakaian jounin Kusagakure yang menatap mata mereka dengan tatapan musuh.

'Murata-sama', ' Sang pemimpin Kusagakure ', batin kedua uzumaki berbeda gender itu bergantian. Mata biru kelam Naruto mengawasi setiap inchi hutan disekitarnya, menatap 4 orang jounin yang bersembunyi dihutan.

" Bagaimana mungkin dia tak terlacak, bukankah cakranya masih dapat kurasakan dengan jelas !", gerutunya, sepertinya nasib tak memihaknya.

"Soal kenapa chakraku tak terlacak.. Aku memasang segel chakra ditubuhku.. segel untuk menyembunyikan chakra dari seorang tipe sensor setingkat Mito Uzumaki sekalipun ", Perlahan murata melepaskan sebuah kertas yang tertempel dibalik rompi jounin yang dipakainya. Sebuah kertas seukuran kertas peledak, terdiri atas puluhan kanji fuin yang ditulis dengan sangat rapi.. berkali-kali lipat lebih rumit dari fuinjutsu yang dipelajari oleh Naruto. Naruto kali ini tertarik dengan apa yang diperlihatkan padanya, lebih dari tertarik.

" Hebatnya segel itu diciptakan oleh sang Uzumaki Kiseki sendiri.. Bisa dikatakan ini sebuah karya yang diciptakan oleh keajaiban ",

(a/n , Kiseki dapat diartikan sebagai keajaiban)

"Lupakan !, Kau berniat berhianat pada desamu.. Karin !",

Kedua Uzumaki mendadak diam seribu bahasa, terpaut oleh pikiranya masing-masing. Naruto masih diam menatap keduanya, perselisihan antara dua belah pihak dengan peringkat yang jelas terpaut jauh. Menyiapkan katana bermata ganda miliknya. Memperkirakan kemungkinan buruk yang akan terjadi.
' Aku tak heran, tapi dia langsung menanyakanya dihadapaku ',

"Jawab... Uzumaki karin !, kau adalah seseorang yang penting bagi desa ini !", Murata membentaknya dengan keras.

" Penting.. ! Ya.. Aku penting bagi desa ini.. aku hanya alat kan !", Ucapnya keras, melepaskan semua beban penderitaanya dihatinya.

"Mengorbankan ibuku hanya untuk menyembuhkan kalian semua, kau pikir dia apa hah !", Untuk pertama kalinya, Naruto tertarik dengan apa yang diucapkanya. Seakan tak peduli ia akan terseret masalah denganya,

" Awas, ada 4 orang dengan chakra setara jounin yang bergerak menuju kemari ", lirih Karin berusaha menyadarkan Naruto yang terlena dengan masahnya.

"Kalian semua, tangkap mereka !", Tepat setelah komando dari pemimpin mereka. Tepat empat jounin dari Kusagakure mengepung mereka dari keempat penjuru mata angin. Naruto perlahan meraba saku ninja dikakinya.. Melemparkan sebuah gulungan berwarna hitam keudara , dan berhasil ditangkap dengan mudah oleh sang gadis uzumaki.

" Karin, Jika kau ingin hidup gunakan gulungan itu saat terdesak !", lirihnya menarik katana dari sarungnya, menyiapkan kuda-kuda bertarungnya. Menatap tajam musuh didepanya, mengulum senyuman khasnya.
"Sepertinya akan menarik !",

Trangg..

Suara dentuman kunai dan katana tak mampu terelakan. Serangan dan tangkisan tak mampu dihindari oleh kedua belah pihak. Percikan logam berbalut melodi yang diciptakan antara gesekan beberapa benda tajam dengan ritme yang seimbang. Irama pertarungan yang mulai mencapai puncaknya. Naruto, membiarkan musuhnya mendominasi serangan, menangkis setiap serangan dari keempat jounin yang berusaha menyerangnya. Mata biru kelamnya tak mampu berkutik dari apa yang dilihatnya, 4 orang jounin mengeroyoknya.. apa yang mereka pikirkan. Empat orang jounin, menyerang seorang remaja berumur 12 tahun. 'Sepertinya Murata tak main-main dengan ucapanya', batinya melemparkan sembarang sebuah gulungan berwarna hitam keudara.

"Doton : dosekidake",

'Hebat' , batinya tersenyum menundukkan tubuhnya, menghindari 4 tanah berujung lancip yang berusaha menusuknya dari keempat arah yang berbeda, yang mengincar dadanya. Menghindar dan memotongnya dengan katananya yang terselimuti chakra angin.

'Jangan gunakan sharingan, mereka sebelumnya telah mencurigaiku', batinya menatap sekilas Murata yang telah menangkap karin dengan mudah, terlalu mudah. Pikiranya telah siap untuk menghindari skenario terburuk, karena tepat setelahnya tiga orang jounin menyerangnya bersamaan dengan kunainya masing-masing dari udara.

'Sepertinya mereka telah memojokkanku dengan mudah', batinya menginjak sebuah gulungan fuinjutsu ditanah.

'Kuharap kalian belum berakhir... ',

"Kai", tepat dari fuinjutsu yang dilemparkanya, rentetan shuriken dari ratusan shuriken menghujani mereka semua, tak ada cara tepat untuk lolos dari hujaman shuriken didalam radius 5 meter dengan jarak renggang kurang dari 10 cm tanpa terluka, kecuali..

'Shunshin no jutsu', 'Kawarimi no jutsu', batin mereka semua menggunakan jutsunya masing-masing untuk menghindar. Membiarkan ratusan shuriken miliknya menhantam tanah, menancap keakan menggantikan posisinya sebagai makibishi.

'Yah... aku kehabisan shuriken', gerutu Naruto memegang erat katananya. Salahnya sendiri menggunakan shuriken sebanyak itu dalam satu waktu. Yah, walaupun sebagian besar adalah senjata rampasan dari setiap nukenin yang dibunuhnya.

'Mereka belum menyerah rupanya', batin Naruto menangkis setiap kunai yang mereka lemparkan, menghalau serangan mereka dengan katananya. Menggunakan jumlah dan Pangkat jounin sebagai keuntungan mereka. Menyerangnya dengan brutal.. tak membiarkanya beristirahat sedikitpun..

" Begitu ya ! ", gerutu Naruto menarik nafas panjang, berusaha mengembalikan staminanya yang telah terkuras habis karena pertarunganya. 'Mereka berusaha menguras habis tenagaku rupanya', Naruto hanya tersenyum melempar sebuah kunai yang ia ambil dari sakunya, melemparkan sembarang dengan tangan kirinya.. Tapi bukan sekedar lemparan sembarang.

'Kunai kagebunshin no Jutsu"

"Sialan kau Naruto", teriak sang Murata mengangkisnya dengan kunainya. Memaksanya untuk melepaskan Karin dari dekapanya. Sang Uzumaki berkacamata hanya mampu berlari kearahnya menghindari terjangan kunai yang naruto lemparkan, berlari kebelakan punggung naruto. Menatap setiap jounin yang mengincar kedua Uzumaki berbeda gender tersebut.

"Berhenti", tepat setelah perintahnya, kelima jounin berhenti menyerangnya. Mundur beberapa langkah kearah Murata. Naruto hanya memasukkan kembali katananya kedalam saya miliknya, meletakkanya dipunggungnya.

" Anda Yakin ingin menghadapinya sendirian. Murata-sama !", lirih salah seorang jounin menatap Naruto dengan tatapan berbahaya.

"Ya.. Aku sendiri cukup untuk melawanya."

"Tapi dia itukan -", Ucapan sang jounin terpotong, oleh suara aduan dari dua kunai dari dua orang yang berbeda. Kali ini Naruto telah menantangnya dalam pertarungan dengan kunai. Menginjakkan kakinya ketanah dengan sedikit keras, menampakkan sebuah kaligrafi fuinjutsu berdiameter 5 cm ditanah.

Merapal sebuah segel walaupun tanganya masih menggenggam sebuah kunai. Menarik Nafasnya panjang.

" Futon : Kazekiri ", batinya mengucapkan jutsunya, mengirim puluhan angin tipis berkecepatan tinggi untuk mencabik-cabik apapun yang nenghalanginya. Sedikit kejutan untuk Murata yang hanya menghindari setiap seranganganya. Membiarkan puluhan angin yang mengincar nyawanya memotong-motong dan menghancurkan apapun yang menghalanginya. Merapal handseals dengan kecepatan tinggi.

" Giliranku "

" Suiton : Suindan ", Tepat setelah mengucapkan jutsunya, ratusan peluru air bertekanan tinggi bersiap mengincar sang Uzumaki, memaksanya bermanuver dengan dua buah kunai yang beraliran chakra angin dikedua tanganya. Naruto masih berkelit dalam pikiranya, menghindari peluru air bertekanan tinggi bukanlah hal yang mudah. Terlebih staminanya banyak terkuras untuk pertarungan yang sebelumnya.

Murata hanya tersenyum mengejek, menghentikan seluruh seranganya.
" Yo, lama tidak bertemu Uzumaki Naruto. Kupikir kau telah mati 3 tahun yang lalu ",

"...", tak ada sepatah katapun yang berhasil terucap dari sang Uzumaki bersurai hitam.. sepertinya Naruto memang tak peduli padanya.

'Yah apa boleh buat, sekarang dia tahu aku masih hidup. Tinggal menunggu waktu sampai informasi ini bocor kekonoha. Dasar, kupikir hidupku bisa lebih tenang'

" Kau tuli ya Naruto.. Tapi sepertinya kau tak lagi menjadi pihak konoha ?, ya kan!", tak ada jawaban apapun yang berhasil dilontarkan oleh sang uzumaki bersurai hitam. Diam, dalam artian memancing amarah musuhnya, ditambah dia sekarang melawan orang dengan tempramen setingkat Murata.

" Hey Jawab pertanyaanku, Naruto ! Atau memang kau ini tak peduli denganku, Jahat ! ", Teriaknya keras dengan bantuan chakranya, kemudian merajuk. Membuat Naruto hanya 'sedikit' sweatdrop denganya.

'Jika dia tahu siapa diriku, aku tak heran. Tapi, dia terlalu berisik !', pikirnya melempar katana miliknya diudara, menyiapkan kuda kuda bertarungnya. Melemparkan semua kunai yang digenggamnya, melompat untuk menangkap kembali katananya. Menyerangnya dari udara sekuat tenaga, tapi ditangkis dengan mudah. Terlalu mudah, mengingat Murata bukan seorang Shinobi yang lemah. Tapi melupakan sejenak fakta bahwa dua kunai yang dilemparkan Naruto masih mengincar nyawanya.

'Sugee !.. tapi sepertinya mereka terlalu bersenang-senang', Karin hanya diam memperhatikan pertarungan antara dua orang dihadapanya. Apa yang bisa dilakukanya, dia bahkan belum tahu caranya bertarung dengan seseorang. Mata merah crimson miliknya masih menatap tarian dari kedua belah pihak yang berbeda fraksi tersebut.

" Terlalu mudah !", Murata menangkis kedua seranganya dengan mudah, menangkis dua kunai dan serangan katananya dengan kecepatan yang tak mampu dilihat oleh mata biasa. Melompat mundur untuk kembali menyerangnya dengan bertubi-tubi. Serangan dari kedua belah pihak berlangsung sengit. Satu persatu luka goresan senjata tajam menghiasi pertarungan mereka. Serangan dari Murata berhasil mengenai lengan kirinya, namun serangan dari sang Uzumaki seakan membalas dendam dengan berhasil melukai kaki kanan Murata.. Mengirim kedua orang yang berbeda fraksi itu sebuah rangsangan rasa sakit yang cukup untuk mengganggu konsentrasi mereka.

Hingga akhirnya Naruto bersalto mundur dengan indah, merapal sebuah segel tora dengan tangan kirinya. 'Saatnya percobaan !',

"Uzumaki no fuin : Akai no Kusari ", Sebuah rantai berwarna kemerahan yang terbuat dari chakra menghujam Murata dengan ganas. Muncul tepat berasal dari fuinjutsu yang beberapa menit yang lalu diinjaknya. Mengincarnya bagaikan benda hidup yang sengaja mengincar nyawanya.
' Sepertinya berhasil, mengendalikanya tidak semudah yang kupikirkan ', Naruto melompatinya, mengayunkan katananya dengan cepat. Mengincar kepala Murata yang masih bergelut dengan rantai chakra ciptaanya.

" Maaf Murata sepertinya pertarungan kita berakhir disini ",

" Kau benar, tapi kau yang akan kalah !", Naruto tak mampu menahan keterkejutanya, katana miliknya telah patah menjadi dua hanya dengan satu serangan. Menatap Murata yang menggenggam katana berbilah lurus yang berkilat karena terkena cahaya.

"Kuroi tsukki, salah satu pedang terkuat buatan Uzushiogakure ", Naruto tak mampu berkutik, menatap katana lurus terbuat dari logam berwarna hitam kelam yang memantulkan cahaya. Menimbulkan kesan menawan sekaligus mengerikan dalam satu katana berbilah lurus yang berkilat terkena cahaya.
'Sepertinya akan sulit !', Batinya merogoh saku ninjanya menggenggam sebuah gulungan berwarna hitam ditangan kirinya. Memainkan kunai di tangan kananya,mengalirkan chakra futon, mempertajam kunainya. Dan bersiap dengan kuda-kuda bertarungnya.

'Firasat apa ini !',

Serangan pertama dalam beberapa detik berhasil ditangkisnya, dalam beberapa waktu singkat, perkiraan yang tepat saat Murata menebaskanya vertikal beberapa kali. Menangkis semua serangnya hanya dalam waktu kurang dari 2 detik. Melemparkan gulungan yang dibawanya melayang diudara, perlahan terbuka menampakkan kaligrafi fuinjutsu yang tertulis rapi. Sebuah katana berbilah lurus berkilat terkena cahaya, menunjukkan kilatan dari katana bermata ganda yang sengaja ia siapkan untuk pertarunganya.

' Aku terdesak.. aku hanya membawa dua katana ',

Jrass

Serangan dengan kecepatan tinggi berhasil melukai lengan kanan sang Uzumaki, mengirim rangsangan rasa sakit yang berhasil mengganggu konsentrasinya. Membuat tubuhnya lengah, hingga tanpa sadar terkena tendangan Murata. Memukulnya mundur beberapa meter kebelakang.

" Sepertinya tak ada pilihan lain.. lupakan soal identitas jika menghadapi orang yang setingkat denganya ",

Naruto bangkit dari keterpurukanya, menatap musuhnya dengan mata sharingan 3 tomoe miliknya. Mata kebanggaan Uchiha, warisan gen dari ibunya. Menggenggam erat katana ditangan kirinya menatap tajam seseorang yang berdiri didepannya.

" Jadi... Kita mulai saja pertarunganya !",

Naruto kali ini tidak main main dengan ucapanya, Menggunakan chakra angin dikatananya, mengalirkan sebagian chakranya untuk mempercepat gerakan tubuhnya. Menyerangnya dengan kecepatan yang tak mampu untuk diimbangi oleh seorang ninja biasa. Tarian pedang katana yang selalu dibanggakanya, kebanggaan seorang Uzumaki selain fuinjutsunya.
"Jadi inilah Naruto yang sebenarnya !", Murata tersenyum mengimbangi gerakan Naruto Menangkisnya dengan kecepatan yang setara. Suatu keajaiban ?, Katana beraliran chakra angin milik sang Uzumaki berambut hitam tak mampu untuk menumpulkan Kuroi tsukki, bahkan tak mampu untuk menggoresnya.

' Suge.. tapi, siapa sebenarnya Naruto Uzumaki yang sedang dilawan oleh Murata-sama ? ', kagum salah seorang Jounin yang mengawasinya. Masih menjaga karin yang beberapa menit yang lalu hampir lolos dari mereka. Rencana Naruto tak berjalan lurus.

" Naruto.. Siapa sebenarnya dia.. Mengapa dia bisa sekuat itu ! ", Karin tak mampu berkutik dari pandanganya kearah Naruto. Seakan dia telah menjadi pengagumnya dalam waktu singkat.
" Siapa sangka... Kupikir dia orang lemah ",

' Lemah !, Aku masih Lemah !, Dia bahkan tak terdesak sedikitpun oleh seranganku ', bayangan mereka berdua tak selaras dengan pemikiran dari Naruto. Seseorang yang selalu menginginkan kekuatan lebih.

Dalam kecepatan tinggi sang Uzumaki melompat mundur, mendarat dengan mulus dengan kedua kakinya. Hingga, dia melempar katananya, mengincar mata kiri Murata dengan katananya.
" Dia.. Melempar katananya ? ", syok Murata

, Naruto hanya bisa menatap sekilas tatapan Murata yang menatapnya ragu. Merapal 5 segel tangan dalam waktu kurang dari 1,5 detik.

" Katon : Goukakyu no jutsu ", Dalam kecepatan tinggi Naruto menghembuskan nafasnya, mengirim sebuah bola api berukuran 7 kali bola voli dengan kecepatan tinggi. Menyiapkan kuda-kuda bertarungnya, tepat setelah sebuah bola api berukuran besar yang dilepaskanya.

" Suiton : Sujinheiki ", logika air melawan api , Serangan Naruto terpatahkan dengan mudah, menciptakan sebuah kepulan asap dari dua jutsu yang beradu. Menanfaatkan kesempatan yang lebih dari cukup, memberikanya waktu untuk membuat sebuah Uzumaki hanya tersenyum, berlari dengan kecepatan penuh meninggalkan bunshinya yang mengacungkan kunainya pada Murata dari balik asap yang tebal.

" Perlambat gerakanya ! ", Sang bunshin menyeringai,setelah mendengar sebuah perintah mutlak dari tubuh aslinya. Mengalihkan pandanganya sekilas menatap Murata yang telah bersiap untuk serangan selanjutnya.

"Shunshin no Jutsu", Naruto menghilang dengan shunshin miliknya, muncul tepat dibelakang Shinobi yang menyekap Karin, menusuk dadanya dengan kecepatan penuh, walau hampir saja mengenai Karin yang berada didekapan tubuhnya.

" Hey, karin.. Kenapa kau bisa tertangkap dua kali ", Singkat Naruto ,memegang pundak sang Uzumaki berambut merah. Menghiraukan fakta, ketiga orang jounin yang kini berbalik mengejarnya.
'Setidaknya Murata masih sibuk dengan bunshinku',

Kedua Uzumaki itu mulai berlari dengan kecepatan yang hampir sama, walaupun dengan tingkat stamina yang sama sekali berbeda. Mata sharingan Naruto mulai memudar, berganti dengan mata biru kelamnya.

" Karin, hati-hati dengan Ranjau Fuinjutsu !", Teriak Naruto, sesekali mengalihkan matanya menatap ketiga jounin yang mengejarnya.
"Baik ",

'Tunggu dia bilang ranjau.. ', batin sang gadis Berkacamata syok.

Satu persatu ledakan turut mengiringi langkah Naruto dan Karin. Tapi seakan apa yang dilakukanya tak banyak membantunya. " Naruto-sama, Apa yang akan kau lakukan ?", Sang pemilik nama tak merespon ucapanya. Membiarkan hembusan angin karena satu-persatu ledakan dari kertas peledak turut mengiringinya.
" Rencana Cadangan !", balas Naruto berlari, sesekali menatap Karin yang mulai kelelahan.
' Kuso, Ranjau peledak bukan ide yang bagus ', Naruto hanya mampu menahan kekecewaanya. Jounin Kusagakure tak sebodoh yang dia kira. Menggunakan kunai untuk mengetahui letak setiap fuinjutsu peledak miliknya. Berlari kearah tebing yang jaraknya hanya berkisar 600 meter dari tempatnya dan Murata bertarung beberapa menit lalu.

Hingga langkah kedua Uzumaki itu berhenti. Terpojok, dikelilingi oleh Jounin Kusagakure, apa yang harus ia pikirkan sekarang. Rencana pelarianya telah gagal total, rencana apa lagi yang dipikirkanya. Diam , melempar sebuah kantong dari atas tebing, membiarkan orang selain dirinya tidak menyadari bahwa kantung itu berisi puluhan makibishi yang ia rampas dari setiap Nukenin yang dibunuhnya.

"Karin, Loncat !", teriaknya menatap waspada kesekitarnya, menyiapkan gulungan kurayami tenshi ditangan kiri, dan sebuah kunai ditangan kananya. Tatapan tajam dari mata biru gelapnya menatap setiap detail musuh kesekelilingnya.

'Loncat.. Apa dia ingin aku mati konyol', batin Karin syok, menatap sesaat kebelakang, tinggal tiga langkah dia mundur, dia akan jatuh dari tebing setinggi 800 meter.

" Apa kau gila hah !", Teriaknya protes, apa yang dipikirkan oleh Naruto sebenarnya. 'Dia masih waras kan ? ', batinya berusaha menyangkalnya, tapi tak menghilangkan fakta bahwa dia bertarung untuk melindungi orang seperti dirinya.

"Karin-chan, aku telah memasang peledak disekeliling tempat ini jadi tolong melompatlah, atau kau akan kehilangan nyawamu karena ledakan, atau karena jounin dari desamu sendiri", ucapnya secara manis dan (sok) ramah padanya. Tapi tak cukup untuk membuatnya menuruti perintahnya.

Dalam kecepatan penuh Naruto menarik Nafasnya, kunai miliknya mampu menangkis kunai dari seseorang yang berusaha mengincar nyawanya. Berusaha tak menunjukkan bahwa dia adalah sang Zero.

" Doton : Tobi Tsubute ", Naruto mendengar jutsu tersebut. Dan seakan merasakan sebuah dejavu, Naruto bersiap melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukanya tiga tahun yang lalu.

Perlahan puluhan batu ditanah mulai bergerak melayang keudara, bersiap menghancurkan setiap bagian tubuhnya.

"Celaka !", batin kedua uzumaki itu syok melihat ratusan batu melayang menuju kearahnya. Naruto dengan kecepatan penuh menarik nafas, merasakan hormon adrenalin yang mengalir deras dalam tubuhnya. Dan dengan kecepatan penuh mengajak (menyeret) Karin untuk melompat dari ketinggian lebih dari 800 meter.

" Hyaaaa... Aku belum ingin Mati !", teriak keras sang gadis berkacamata, melihat sejenak Naruto yang perlahan melakukan sebuah segel hijutsu.

"Kai..",

Ledakan beruntun terdengar keras bersama hancurnya tanah dan batuan dipuncak tebing, batu-batu hasil ledakan berjatuhan membalas dendam dengan menghujaninya.

Karin Uzumaki hanya bisa tersenyum pasrah, membiarkan rambut merah dan pakaianya berkibar keatas, melebarkan tangan dan kakinya berusaha memperlambat laju tubuhnya. Memikirkan betapa konyolnya mati karena melompat dari ketinggian lebih dari 800 meter. Terlebih 3 orang Jounin dari desa asalnya muncul dari balik asap ledakan. 'Lupakan soal mati konyol, tiga shinobi setingkat jounin ?, melakukan hal bodoh seperti itu dengan menyusul kami melompat, sebenarnya akal mereka dimana ?', batin Karin, mata crimson dari balik kacamatanya teralihkan, menatap Naruto yang masih bertarung dengan kunainya.

'Sial, aku tak punya senjata lagi.. senjata lainya ada dipenginapanku ', batin Naruto kesal menangkis ketiga kunai dari tiga jounin yang mengejarnya. 'Sepertinya aku memang harus menggunakanya. ', batinya membuka gulungan bertuliskan kanji Kurayami Tenshi.

" Sekkai Tenshi ",

Tubuh seorang jounin terbelah menjadi dua dengan mudahnya, karena sebuah kekuatan tak kasat mata dengan ketajaman yang tak tertandingi. Ceceran darah terlihat melayang diudara karena perbedaan kecepatanya dengan tubuh utamanya.

Dentangan senjata kembali terdengar, tepat dua buah kunai melawan sebuah sabit raksasa. Dan kembali terjadi, Pertarungan yang berat sebelah. Saling tangkis dan serang, terjadi dalam waktu singkat, berakhir ketika Naruto berhasil memotong masing masing sebelah tangan mereka, dan memenggal salah satu kepala mereka , menjadikan tubuhnya sebagai pijakan. Dan dengan sigap meloncat ketebing, menancapkan sebuah kunai kedinding tebing untuk mengurangi kecepatan jatuhnya.

Mata biru kelamnya menatap sekilas kedua jounin dan seorang gadis berambut merah serta mayat shinobi yang jatuh dengan kecepatan tinggi. seakan berlomba untuk mendapatkan posisi terdepan dalam menghantam permukaan tanah yang berbatu.

'Ketinggian kurang dari 200 meter, dengan kecepatan setinggi ini kemungkinan yang paling mendekati. Cidera parah pada tubuh, patah seluruh tulang punggung, posisi yang tak menguntungkan, belum lagi aku baru saja menabur puluhan makibishi dibawah sana ', batinya melompat kebawah, mengarahkan tubuhnya kearah sang uzumaki berkacamata. Melepas kunai ditangan kanannya dan dengan cepat memegangi tangan kiri Karin. Dengan tangan kirinya masih memegang erat kurayami tenshi. Yang pada akhirnya ia lepaskan, tapi entah kebetulan apa karin dengan cepat menangkapnya.

"Jangan lepaskan tanganku !",

Ia melompat secepat keatas secepat yang dia bisa, berbekal pijakan dari seorang mayat shinobi yang beberapa detik lalu dibunuhnya, menggunakan kunai ditanganya untuk memperlambat gerak jatuhnya. Sratttttt

Gesekan antara kunai dan permukaan kunai perlahan mulai menggerogoti ketajaman kunai itu sendiri, tumbal dari kecepatan mereka yang perlahan mulai menurun. Menatap puluhan makibishi yang menancap pada tubuh shinobi yang telah tak bernyawa. Menimbulkan sebuah presepsi lebih dari mengenaskan.

"Kau terlalu sadis !, Naruto-sama ",

"Jangan mengejekku. Aku bahkan belum kenal lebih dari satu hari denganmu"

"Ya, tapi sepertinya aku menimbulkan masalah baru untukmu ",

"Akan kubuat kau membayarnya nanti !", Naruto menurunkanya dengan melepaskan genggaman tanganya. Menatap kesekeliling tempatnya berdiri.

' Cih, setidaknya aku tidak mengalami dejavu ', batin Naruto,

'lalu, masalah apa lagi yang telah muncul dihadapanku',

...

...

...

To be Continue

...


Data info

Shunshin no Jutsu - Body Flicker technique

Doton : dosekidake - Earth Bamboo shot

Kunai kagebunshin no Jutsu - kunai shadow clone technique

Suiton : Suindan - Water bullet

Katon : Goukakyu no jutsu - Fireball technique

Uzumaki no fuin : Akai no Kusari - Red chakra chains

Sekkai Tenshi - angle slash

Author Note

Mengecewakan ya. Maafkan author amatiran ini yang telat ngupdatenya, karena banyaknya godaan. Tugas menumpuk, manga update, acara, dan yang paling parah sebut saja namanya light novel, apa lagi dari fanfom tetangga yang berinisial NGNL. Sumpah aku habisin beberapa hari cuma untuk baca vol 1-7, lupakan. Aku hanya berharap fic ini tidak mengecewakan.

...

Jika ada saran atau pertanyaan bilang aja di Review atau di PM. Karena aku masih butuh saran kalian.

...

See you in next chapter

...

...

Ardion's Heart

Logout


...

Next chap

[Assault]