.
"Of The Fallen Angel"
.
.
Chapter 5 : What a confusing puzzle.
.
Rumah Chanyeol termasuk sebuah rumah yang nyaman dan hangat. Tidak terlalu mewah, terkesan sederhana namun rapi dan cantik. Ketika Baekhyun memasuki pekarangan, ia bisa melihat beberapa tanaman bonsai dan bunga-bunga tertata dengan indah. Siapapun yang melihatnya pasti bisa mengira kalau pemilik rumah adalah seorang pecinta bunga. Chanyeol mengajaknya untuk memasuki ruang tamu dan ditempat itu terlihat sepi. Namun sayup-sayup telinganya mendengar tawa dari arah belakang rumah. Ketika kaki mereka sampai di pintu kaca dekat dapur, Baekhyun bisa melihat tiga orang dewasa tengah duduk dan berbaring santai di atas kursi kayu dengan penutup payung diatasnya.
"Aku pulang!" ucap Chanyeol lantang, namun nada malas terdengar jelas darinya.
Seluruh mata terarah pada mereka, terutama Baekhyun. Pemuda bersurai pinkish itu hanya bisa tersenyum canggung. Orang pertama yang bergerak adalah wanita paruh baya yang sangat mirip dengan Chanyeol. Orangnya tidak terlalu tinggi, jika Baekhyun ingat-ingat, tingginya nyaris menyamai ibunya dulu.
"Oh—" Ibu Park terduduk dengan kaki menginjak tanah seutuhnya. Tersenyum kearah mereka dengan ekspresi keibuan. Ekspresi yang cukup lama tidak dilihat Baekhyun. Dia merasa begitu hangat melihat senyuman itu. Tiba-tiba merindu ibunya sendiri. "Baekhyun, kan?" sebelum Chanyeol menjawabnya, Baekhyun lebih dulu menunjukkan dirinya. Membungkuk penuh kesopanan dan memberikan senyuman terbaiknya. Kesan pertama harus baik, bukan?
"Halo, bibi. Saya Byun Baekhyun, teman Chanyeol."
"Teman apa teman?" Seorang wanita berambut sebahu berwarna dark brown memasang ekspresi menggoda dengan seringaian jahil di bibir kissablenya yang lagi-lagi mirip dengan Chanyeol. Baekhyun membuka mulut hendak mengatakan sesuatu, namun urung. Bibirnya hanya bisa mengulum senyuman canggung dengan wajah yang perlahan merona. Kakak Chanyeol kah? Sepertinya kedua kakak beradik ini memiliki sifat yang sama. Sama-sama jahil.
"Sudahlah, jangan ganggu dia, noona." Chanyeol menatap malas kakaknya.
"Sebaiknya kalian membersihkan diri dan segera bergabung. Ayahmu akan segera mengambil pemanggangnya." Setelah kalimat dari ibu Park itu keluar, Chanyeol segera menggandeng tangannya untuk memasuki rumah kembali. Menariknya ke arah salah satu pintu ruangan yang bisa ia pastikan adalah kamar Chanyeol. Ketika pintu telah ditutup dan Chanyeol bergegas melepaskan jaketnya, saat itulah mata bulan sabit Baekhyun bisa meraba keseluruhan ruangan milik temannya itu.
"Wow, cukup rapi." komentarnya.
"Maaf, aku terlalu lelah untuk membersihkannya kemarin." Baekhyun tertawa sebagai respon. Kamar Chanyeol memang seharusnya rapi kalau saja tidak ada bekas bungkus camilan dan kaleng bir di kamarnya. Juga beberapa helai baju yang entah mengapa bisa meronggok di bagian atas televisi 42 inchi miliknya. "Aku akan mandi sebentar, kau bisa melakukan apa pun yang kau mau. Kau sudah mandi kan?" Ekspresi Baekhyun menunjukkan kebingungan. Dahinya berkerut.
"Bagaimana kau tahu?"
"Itu kebiasaanmu setelah selesai hapkido." Chanyeol menggedikkan bahu. "Selalu mandi setelah selesai berlatih, karena itu aku tidak mempercayai alasanmu tadi." Baekhyun terkagum-kagum olehnya. Chanyeol banyak tahu tentangnya. Sementara dia hanya tahu kalau Chanyeol seorang ketua jurnalistik, seseorang yang banyak akal, dan memiliki keluarga yang hangat. Yah, sekedar itu. Pintu kamar mandi tertutup rapat setelah Chanyeol mengatakan ucapan terakhirnya. Sementara menunggu pemuda bersurai ashgrey itu, Baekhyun memilih untuk melihat-lihat isi kamar Chanyeol.
e)(o
Banyak yang Baekhyun kagumi dari ruangan pribadi Chanyeol. Pemuda jangkung itu ternyata tidak hanya menyukai tulisan, namun juga musik. Beberapa gitar bahkan satu set drum ada di dalam kamar besarnya. Diantara banyaknya barang-barang berharga tersebut, berjejer koleksi kaset original grup band luar negeri, juga beberapa dvd game. Benar-benar kamar seorang pria sejati, kekeh Baekhyun dalam hatinya. Tanpa sadar ia tersenyum pada setiap pemandangan di depan matanya. Merasa nyaman begitu saja.
"Oh?" Ia kembali berjalan, kali ini pada pajangan foto di rak yang tertempel di dinding. Banyak sekali foto Chanyeol disana. Dari foto USG –yang Baekhyun pikir pasti Chanyeol, foto balita, anak-anak hingga sekarang. Semuanya terlihat lucu. Apalagi ketika ia melihat wajah gendut Chanyeol ketika masih kecil. Semakin beranjak dewasa, semakin tampan pula dirinya. Salah satu contoh pubertas yang berjalan dengan baik. Meskipun Baekhyun juga pernah berhasil mengecilkan bentuk tubuhnya, tetap saja tinggi badannya tidak terlalu keren menurutnya.
Dia sebelas senti lebih pendek dari Chanyeol.
Bagaimana dia tahu? Tentu saja dari profil Chanyeol di web kampus.
"Sudah lihat-lihatnya?" Baekhyun refleks berbalik ketika suara Chanyeol masuk pendengarannya. Pemuda jangkung itu tampak cemberut dan ekspresinya sangat menggemaskan menurut Baekhyun. Jadi, bibir tipisnya tertawa. Lembut terdengar. Baekhyun terlarut dalam tawanya tanpa menyadari pandangan terpesona Chanyeol padanya. Tampak sangat konyol dan bodoh. "Aku sangat jelek saat masih kecil, itu kenangan yang mengerikan." Chanyeol berujar demi menetralkan ekspresi wajahnya yang sedikit memerah itu. Berjalan kearah Baekhyun dengan tangan yang sibuk mengusak rambut ashgreynya.
Wow, itu gerakan yang keren bagi Baekhyun.
"Kau butuh bantuan?"
"Huh?"
"Rambutmu."
"U-ugh, baiklah. Boleh juga." Dengan senang hati Chanyeol memberikan handuk putihnya pada Baekhyun dan duduk di kursi belajarnya. Jemari Baekhyun perlahan mengusak helaian basah Chanyeol, tak lupa untuk memijit kulit kepalanya perlahan. Mata Chanyeol sampai terpejam karena rasa nyaman. "Pijatanmu lumayan."
"Tentu saja. Aku setiap hari melakukannya pada tubuhku sendiri."
"Ah, benar. Kau adalah seorang atlit." Kepala Baekhyun mengangguk meskipun Chanyeol tak melihatnya. Usakan dan pijatan di kepalanya berhasil membuat ia merasakan kantuk. Mungkin terlalu lelah dan Baekhyun memperlakukannya seperti seorang ahli. Jadi, sebelum ia benar-benar jatuh tertidur, Chanyeol memilih untuk meraih tangan Baekhyun dan berhasil menghentikan gerakannya. Ditariknya sedikit sehingga dada dan punggung Chanyeol menempel tanpa celah. Wajah keduanya memerah tanpa disadari masing-masing. "Kau harus menghentikan itu atau aku akan tertidur dan melupakan acara barbeque kita." Baekhyun lagi membalasnya dengan tawa yang renyah.
"Aku dengan senang hati akan membangunkanmu, Chanyeol."
Chanyeol kembali menarik jemari Baekhyun dan kali ini keduanya berhadapan. Jemari yang saling tergenggam itu tak ada yang menyadarinya. Terlarut dalam paras indah masing-masing. Mengagumi setiap detailnya secara diam-diam. Kapan lagi Chanyeol bisa memperhatikan keindahan itu. Bagaimana bibir tipis Baekhyun semakin menarik dengan tahi lalat mungil di sudutnya. Bagaimana hidung Baekhyun terlihat pas dengan kontur wajahnya yang oval. Juga, bagaimana alisnya sangat rapi dan bulu matanya lentik.
"Bagaimana jika setelah barbeque kau menginap disini?"
"Apa tidak apa-apa?" Chanyeol mengangguk, tapi senyuman Baekhyun perlahan luntur. "Aku harus menjaga kakakku, Chanyeol-ah. Aku juga belum membereskan kekacauan di rumahku. Pasti sangat kotor karena aku lebih sering di rumah sakit." Ah, benar. Bagaimana mungkin Chanyeol lupa akan hal itu. Hubungan mereka terjadi juga karena permasalahan Baekhyun.
"Sayang sekali, padahal aku ingin membantumu dengan sedikit pijatan juga."
"Kau ingin memijatku juga?"
"Ya, sebagai ucapan terima kasihku untuk pijatanmu tadi."
"Baiklah, aku akan menginap malam ini." Keputusan Baekhyun membuat lengkungan di bibir kissable Chanyeol melebar. Oh, lihatlah. Keduanya bahkan tidak menyadari tautan mereka yang tak terlepas sejak tadi. Tingkah keduanya sudah seperti kekasih sungguhan saja. Andai Jongdae dan Kyungsoo tahu, mereka pasti akan menertawakan keduanya.
e)(o
Ketika keduanya berjalan bersama kearah belakang rumah, hal yang mereka lihat pertama kali adalah kesibukan keluarga Park. Ayah Chanyeol terlihat sibuk menyiapkan bara api untuk memanggang, Yoora berkutat dengan sayuran dan Ibu Chanyeol sibuk menggunting lembaran daging menjadi bentuk yang panjang. Baekhyun dengan inisiatifnya langsung mendekati ibu kekasih palsunya itu. Melihat pergerakan cekatan Baekhyun, senyuman mengembang di wajah Chanyeol. Sial, bentuk perhatian itu… Baekhyun benar-benar terlihat seperti calon menantu saja.
"Biar aku yang melakukannya, bibi."
"Oh, Baekhyun!"
"Aku belajar dengan cepat, bi. Bibi hanya perlu mengajariku bentuk seperti apa yang harus kubuat." Ibu Chanyeol tertawa mendengarnya. Hendak memberi usapan pada helaian Baekhyun namun baru ingat jika tangannya berbau daging. Tawa mereka pecah ketika menyadari kekonyolan tersebut. Disisi lain, Yoora dan ayah Chanyeol ikut tersenyum melihat interaksi itu. Yoora diam-diam mengedip kearah sang adik yang duduk disebelahnya dan Chanyeol yang menyadari itu langsung memerah.
Sialan kakaknya memang.
"Ya! Kau dapat darimana yang seperti itu, menggemaskan sekali."
"Di toko perliharaan." Jawab Chanyeol malas dengan ekspresi yang juga datar. Namun tak benar-benar bisa menyembunyikan rona malu di wajahnya yang tampan.
"Ah, pantas, dia memang anjing kecil yang sangat lucu." Yoora memekik sembari menatapi sosok Baekhyun yang berjarak sekitar enam meter darinya. Mata peri Chanyeol berputar malas. Dia tahu keluarganya itu memang sedikit gila, namun jangan segila ini juga. Dia bisa frustasi lama-lama. Ini baru Baekhyun yang dibawa kemari. Bagaimana jika kekasih aslinya kelak? Apakah mereka juga akan bersikap hiper seperti ini? Hah. Berdoa saja semoga Baekhyun tidak menyesali keputusannya untuk menginap semalam disini.
.
.
Malam itu terasa lebih menyenangkan dibandingkan makan malam sebelumnya. Kehadiran Baekhyun sedikit banyak membuat Keluarga Park semakin terhibur. Baekhyun adalah sosok yang lucu dan dewasa pada satu waktu. Dia mudah berbaur dan tahu bagaimana cara membuat orang tertawa sehingga siapapun akan langsung menyukai pembawaannya. Ketika makan malam telah selesai dan Baekhyun bergegas untuk membersihkan wajah di kamar Chanyeol, tinggalkan Chanyeol, Yoora bersama ibunya membersihkan sisa-sisa kekacauan BBQ mereka. Sementara sang ayah telah kembali berkutat dengan pekerjaannya.
"Aku akan mencuci piringnya!" ucap Yoora yang kemudian pergi meninggalkan taman belakang untuk segera membersihkan tumpukan benda kotor ditangannya dan diatas bak pencucian. Ketika mata Nyonya Park telah memastikan punggung anak perempuannya yang perlahan hilang di balik tembok, ia pun segera mendekati bungsunya yang sibuk membenahi meja dan kursi. Wajahnya terlihat ragu-ragu dan bibirnya bergerak ingin mengucap sesuatu namun ragu.
"Yeol—" sang ibu memanggil ketika Chanyeol sibuk melipat kursi taman dan hendak menyimpannya di gudang. Mulutnya bergumam sementara kepalanya tak sedikit pun ingin menoleh. "Apa dia… apa dia adalah Byun Baekhyun yang itu?" Gerakan tangan Chanyeol berhenti, sementara dahinya berkerut heran. Pertanyaan sang ibu jelas membawa tanda tanya besar baginya. "Dia… anak menteri itu kan?" Helaan nafas keluar dari belah kissable-nya. Mau tidak mau, ia membawa pandangannya pada sang ibu dan melihat bahwa wanita yang melahirkannya itu menatapnya dengan khawatir.
"Itu memang dia, bu." Taunya Nyonya Park tercekat, sedikit terkejut oleh penuturan santai Chanyeol. "Memang kenapa kalau dia anak lelaki Menteri Byun?"
"Bukannya apa, sayang. Hanya saja ibu khawatir. Kau tahu keluarganya sedikit… maksud ibu, yah, sangat misterius." Chanyeol benar-benar menghembuskan nafas frustasi tanpa peduli kalau tindakannya barusan terkesan tidak sopan. Bukankah keluarganya sendiri telah melihat dan mengamati bagaimana sopannya dan menyenangkannya sosok Baekhyun? Ia mendengus kesal, hatinya merasa gondok seketika. Tanpa sadar sikapnya sudah seperti kekasih yang tak direstui saja.
"Ibu," ujarnya pelan. "Dia hanya Baekhyun, aku mengenal dirinya lebih dari siapapun. Jadi, tolong bu, jangan melihat bagaimana keluarganya tapi lihatlah ketulusannya. Percayalah padaku, Baekhyun adalah orang yang baik." Chanyeol mengenggam tangan ibunya, menyembunyikannya diantara genggaman tangannya yang besar. Kehangatan itu membuat secerca senyuman muncul di wajah cantik ibunya. Kemudian, anggukan menjadi jawaban sang ibu.
"Tentu, Chanyeol. Ibu tahu kalau pilihanmu adalah yang terbaik."
Keduanya saling melempar senyum.
Tak ada yang sadar jika Baekhyun mendengar semua obrolan itu dari balik tembok pembatas. Telapaknya merambat kearah dada dan menyadari benda disana berdetak dengan sangat tidak wajar sementara wajahnya terasa sangat-sangat panas sekarang. Jadi, sebelum Chanyeol dan Nyonya Park menyadari keberadaannya, ia segera melenggang pergi dengan langkah cepat. Mengabaikan pertanyaan yang keluar dari mulut Yoora. Ia sangat malu, sungguh.
e)(o
"Hei." Baekhyun terlonjak ketika Chanyeol memanggilnya dari arah pintu. Pemuda bersurai ashgrey itu tersenyum meskipun wajahnya jelas menunjukkan tanda tanya besar. Baekhyun menyadari itu, karena dia tidak keluar dari kamarnya sejak ijin untuk membersihkan wajah. Duduk termenung tanpa melakukan banyak hal selain menenangkan pikirannya. Seharusnya mereka menonton televisi bersama sekarang. Namun gara-gara mendengar percakapan Chanyeol dan ibunya, ia jadi malu sendiri untuk menunjukkan wajah. Ya, sebaik-baiknya Keluarga Park, terlibat dengan Keluarga Menteri Byun tidak cukup bagus. Baekhyun, meskipun dia teramat bahagia mendengar ucapan Chanyeol pada ibunya, tetap saja ia merasa bersalah.
Seharusnya dia tidak melibatkan Chanyeol.
"Kau baik?"
"Tentu saja, kenapa?" Ia balas dengan senyuman menenangkan yang justru membuat kecurigaan Chanyeol bertambah. Pria jangkung itu mendekat, menempatkan dirinya disamping Baekhyun hingga tanpa sadar tubuh mungil itu menegang. Chanyeol hendak meraih pundaknya namun Baekhyun langsung berdiri dan terkekeh hambar. "Bukankah kita akan menonton horror bersama Yoora noona? Ayo ke bawah! Dia pasti sudah menunggu kita." Chanyeol menatapnya selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk dan mengikuti Baekhyun yang berjalan lebih dulu. Menyimpan rasa ingin tahunya dalam-dalam.
Setiap kali Chanyeol memperhatikan Baekhyun, selalu ada rasa ingin tahu besar dalam dirinya. Ingin sekali ia mengenal Baekhyun lebih dalam agar dia mampu membaca apapun yang tersembunyi di dalam mata indahnya. Setiap kali ia ingin membuka mulut dan membuat Baekhyun mempercayainya, tatapan menghindar anak itu selalu berhasil mengurungkan niatnya. Mungkin mereka baru saja mengenal, baru saja menjalin pertemanan dan bahkan membuat skandal bersama. Namun tak cukupkah hal-hal yang ia lakukan membuat Baekhyun mempercayainya sepenuhnya?
Jadi, sebelum Baekhyun benar-benar keluar dari kamarnya, Chanyeol mencengkeram pergelangan pemuda itu dan menariknya. Membuat tubuh mungil itu berbalik dan menabrak dadanya dengan mudahnya. Hal paling mendebarkan yang entah mengapa menjadi favorit Chanyeol.
Mata onyx-nya bertemu hazel indah Baekhyun.
"Kau menyembunyikan sesuatu."
"Aku tidak, Chanyeol." Baekhyun balas menatapnya penuh keyakinan namun tak jua membuat Chanyeol percaya. Akhirnya, si surai pinkish menghela nafas dan menyerah pada cengkeraman Chanyeol yang mulai melonggar. "Aku mendengarnya, percakapanmu dengan ibumu." Tubuh Chanyeol menegang selama beberapa detik dan wajahnya memerah tanpa disadarinya. Baekhyun hanya mengulas senyuman, Chanyeol tampak manis jika seperti ini dan dia suka. Jemari Baekhyun tanpa sadar mengusap lengan pemuda yang lebih tinggi. "Kurasa aku terlalu membebanimu, Yeol."
"Apa maksudnya? Kau tidak."
"Bagaimana pun kita tidak dalam hubungan dimana kau perlu membelaku seperti itu, Yeol." Sorot mata Baekhyun meredup meskipun bibirnya jelas mengukir senyuman yang tampak dewasa. "Kita bisa memberi tahu orang tuamu kalau hubungan kita hanya pura-pura. Kita akan berakhir ketika semuanya sudah dapat diatasi."
"Tapi aku tidak mau, Baek!" Ucapan refleks Chanyeol jelas mengundang debaran di jantung keduanya. Baekhyun bisa merasakan ucapan tegas itu berhasil mengetuk-ngetuk sudut hatinya yang kosong. Mencoba membuka paksa pintunya yang selalu tertutup rapat. Tapi Baekhyun tidak dalam posisi dimana dia bisa jatuh cinta dengan seenaknya. Chanyeol hanya membantunya. Dia tak bisa meminta lebih dari perlindungan yang ditawarkan Chanyeol selama ini. Mereka sudah melangkah terlalu jauh dan pemuda mungil itu tidak ingin terjatuh dengan mudahnya.
"Semua ini akan segera berakhir, kau ingat?"
"Baek—"
"Kau memiliki Chaeyoung dihatimu. Kau tidak bisa melupakan itu begitu saja, Chanyeol-ah."
Keduanya terdiam. Baekhyun menatapnya dengan sorot yang tak mampu Chanyeol baca sementara pemuda tinggi itu sendiri tidak memiliki kalimat tepat untuk membantah ucapan Baekhyun. Karena memang benar, sudut terkecil dalam hatinya masih terdapat nama Chaeyoung.
e)(o
Percakapan malam itu menjadi terakhir kali mereka berbicara. Baekhyun batal menginap dan hari-hari setelahnya dilewati mereka dengan tenang. Mereka lebih seperti seseorang yang tak saling mengenal. Tak ada Baekhyun yang datang ke ruang jurnalistik atau bahkan Chanyeol yang melihat latihan Baekhyun. Bahkan ketika mereka berada dalam kelas yang sama, mereka sama sekali tidak saling bicara. Hal tersebut membuat spekulasi datang-pergi seperti burung di sore hari. Ada yang berpikir mereka telah mengakhiri hubungan yang menghebohkan itu, ada juga yang berpikir bahwa mereka hanya sedang break. Kyungsoo dan Jongdae yang melihatnya hanya mampu menghela nafas tak mengerti.
"Baek," Kyungsoo yang berada dekat dengan Baekhyun, merasa harus berbicara dengan pemuda manis itu. "Sejujurnya, banyak yang ingin kutanyakan tapi aku akan membuatnya lebih mudah." Ada jeda dimana digunakan Kyungsoo untuk menarik nafas panjang-panjang. Tak peduli jika ulahnya akan membuat dosen di depan sana mengamuk karena terganggu. "Apa kalian berdua baik-baik saja?" Manik Baekhyun bergulir ketika kalimat itu meluncur dari belah heartlips-nya. Tepat pada sosok Chanyeol yang duduk paling pojok bersama temannya, Kasper.
Hingga mata sipit Baekhyun kembali padanya.
"Memangnya ada apa dengan kami?"
"Kalian sedang dalam hubungan, kau ingat?" Baekhyun memberikan anggukan. "So?"
"Kami harus segera mengakhirinya, Kyungsoo-ya."
"Kalian tidak harus terburu-buru." Tanpa sadar kalimat yang keluar berupa desakan. Yang mana menimbulkan perempatan siku-siku pada dahi si surai pinkish. Kyungsoo gelagapan sendiri. Sebenarnya, jauh dari lubuk hatinya, dia menyukai bagaimana Chanyeol terlihat begitu cocok bersanding dengan Baekhyun dan hal itu tanpa sadar membuatnya menjadi pendukung hubungan mereka. To be real relationship. "Baek, ini bahkan masih sebentar."
"Skandal tidak harus berlangsung lama, Kyungsoo-ya~" Kekehan geli keluar dari bibir tipis temannya itu. Tapi hal itu terlihat aneh. Baekhyun seolah terpaksa mengeluarkan tawa seperti itu. Dia tidak semisterius kelihatannya, bahkan kebersamaan selama beberapa minggu ini pun Kyungsoo telah mampu mengenalnya. Jelas Baekhyun hanya berpura-pura sekarang. "Aku juga harus menghargai perasaan Park Chanyeol dan Park Chaeyoung. Mereka sangat cocok bersama. Aku tidak bisa menyakiti hati seorang perempuan."
"Chanyeol pernah bilang jika—"
"Kalian hanya tidak memahami perempuan." Senyum Baekhyun melembut. "Chaeyoung jatuh cinta, dia hanya tidak bisa mengungkapkannya. Aku bisa melihat dari caranya menatap Chanyeol ketika aku masih sering bersama Chanyeol. Itu adalah tatapan kecewa, Kyungsoo-ya. Aku tidak bisa menyakiti seorang perempuan. Aku tidak sejahat itu."
Namun Kyungsoo tetap meragu. Benarkah hanya karena itu?
e)(o
Baekhyun tidak bisa tinggal diam sementara sahabatnya, Kris, menghilang bagai ditelan bumi. Ini adalah waktu terlama Kris tidak menghubunginya dan jelas itu membuat Baekhyun merasa kecewa sekaligus merasa bersalah. Mungkin benar apa kata Luhan, mungkin Kris benar menyukainya dan mungkin sekarang telah membencinya. Baekhyun memang menyadarinya sejak dulu, dia hanya tak ingin memberikan harapan karena itu dia berpura-pura tidak tahu. Ia lebih suka jika Kris bisa bersama Luhan. Namun harapan itu berbanding terbalik dengan kenyataan bahwa Kris dan Luhan tidak bisa sedekat yang ia inginkan.
Sore ini, setelah kelasnya usai, Baekhyun memilih pergi untuk menemui Kris di rumahnya. Tak ada yang ia harapkan selain hubungan mereka akan membaik.
Ya, semoga saja.
Rumah megah Kris tampak jelas di penglihatannya ketika Baekhyun berhasil menapakkan kakinya disana. Meskipun cukup sunyi, Baekhyun tahu betul jika di dalam rumah besar itu banyak terdapat maid dan penjaga berkeliaran. Seorang pangeran China sepertinya tidak mungkin dibiarkan sendirian di mansion sebesar dan semegah itu. Baekhyun mengucapkan salam ketika sampai pada pintu gerbangnya. Seolah hafal diluar kepala, sang penjaga langsung membukakan pintu untuknya dan mengatakan jika Kris keluar sebentar untuk mencari camilan dan akan pulang sebentar lagi. Baekhyun kemudian dibawa pada salah satu maid dan digiring masuk ke dalam mansion. Kemegahannya mulai terlihat dari dalam ruangan ini.
"Baekhyunee? Itu kau?"
"Ah, bibi, selamat sore." Baekhyun membungkuk sopan pada Nyonya Wu yang berbalut apron warna ungu yang mewah. Aksen chinanya kental namun tidak membuat Baekhyun kebingungan untuk memahaminya. Wanita paruh baya itu terlihat masih muda dengan rambut warna coklat sepinggang dan diikat tinggi seperti kuncir kuda. Wajah cantiknya terlihat natural tanpa make-up. Nyonya Wu adalah mantan aktris, karena itulah dia selalu terlihat cantik meskipun tidak menggunakan polesan. "Maaf karena kunjungan mendadakku ini."
"Tidak apa. Duduklah, sayang." Nyonya Wu membawanya duduk bersama dan Baekhyun tersenyum menyambutnya. "Kris sedang pergi bersama saudarinya. Dia akan pulang sebentar lagi." Nyonya Wu melepaskan apronnya dan memberikannya pada maid yang siap siaga. "Tolong buatlah dua gelas jus strowberi." Maid itu mengangguk dan segera berlalu untuk melaksanakan perintah. "Bibi sebenarnya mengharapkan kedatanganmu sejak beberapa minggu yang lalu, Baek."
"Kenapa, bi?"
"Wu Yifan. Bibi tidak mengerti kenapa dia bolos kuliah dan hanya bermain game di kamarnya. Anak itu sepertinya patah hati, karena itu bibi tidak berani mengusiknya." Mendengar ucapan tersebut, Baekhyun merasa bersalah. Seharusnya dia memikirkan perasaan Kris sebelum melakukan hal beresiko dengan Chanyeol. Bagaimana pun Kris adalah sahabatnya. Mereka bersama lebih lama, mengenal lebih lama. "Tolong bujuklah dia, Baek. Kurasa dia akan luluh kalau denganmu."
"Aku akan berusaha, bi."
"Aku pulang!" teriakan menggelegar masuk ke dalam gendang telinga Baekhyun. Ia mendapati Wu Xuanyi, adik Kris tampak melompat-lompat dengan menjinjing belanjaan yang dipastikan isinya adalah rumput laut kegemarannya. Langkah gadis cantik itu terhenti ketika matanya menangkap keberadaan Baekhyun. "Oh, Baixian!" Ia mempercepat langkahnya dan langsung duduk disamping Baekhyun, menatap pemuda manis itu dengan senyuman lebar. "Lama tidak bertemu~"
"Iya, lama tidak bertemu, Xuanyi~"
"Baek? Kenapa kau ada disini?"
Ketika matanya beralih oleh suara berat itu, disana ada Kris terdiam dengan wajah bingungnya.
.
"To be continued—"
.
