Beberapa hari kemudian, Hana sudah di perbolehkan pulang setelah dipastikan bahwa dirinya dan calon anaknya sehat.

Chanyeol tersenyum lebar ketika selesai mengurus segala adminitrasi rumah sakit, setelah ini dia rencananya ingin membawa Hana menemui kedua orang tua yang telah lama tak dikunjunginya.

Chanyeol berjalan kembali menuju kamar rawat Hana dan menengakkan kepalanya yang sempat tertunduk mengecek ponselnya, barangkali ada pesan penting dari Sehun, dan saat itu dia melihat Kyungsoo yang juga melihat dirinya.

Kyungsoo. Do Kyungsoo.

Kalau tidak salah seingatnya perempuan itu teman mantan istrinya.

Dia pernah beberapa kali bertemu dengan teman mantan istrinya itu.

"Chanyeol-ssi." Sapa Kyungsoo dengan senyumana tipis yang sopan.

Chanyeol mau tidak mai harus berhenti melangkah dan menayap balik perempuan itu, "Sedang apa disini, Kyungsoo-ssi?" tanyanya.

"Hanya merawat seseorang." Jawab Kyungsoo. "Dan anda?"

Chanyeol mengerjapkan matanya. "Ah, Hana sedang dirawat di rumah sakit ini."

"Kenapa? Apakah terjadi sesuatu yang buruk?"

"Pendarahan kecil pada kandungannya, syukurlah janinnya sangat kuat seperti ibunya." Chanyeol tertawa kecil dan Kyungsoo hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.

"Syukurlah, semoga sehat selalu."

"Ya." Chanyeol tersenyum senang, "Ah, sudah lama aku tak melihat Byun Baekhyun? Bagaimana kabarnya?"

Kyungsoo diam tak menjawab pertanyaan lelaki itu dan hanya tersenyum tipis. "Saya pikir anda tidak ingin mengetahui kabar apapun tentang Baekhyun."

Chanyeol mengusap belakang kepalanya, "Yah, entah mengapa setelah bercerai hubungan kami sedikit membaik." katanya. "Jadi bagaimana kabarnya?"

Kyungsoo tersenyum tipis yang lebar, "Tentu baik, semuanya baik-baik saja."

Chanyeol mengangguk, "Baguslah."

Kemudian mereka diam satu sama lain beberapa detik, hingga Kyungsoo berkata, "Ah, saya harus kembali sekarang."

"Ah ya." Chanyeol mengangguk dengan kaku.

Kyungsoo membungkukkan kepalanya sekilas, "Sampai jumpa nanti jika begitu Park Chanyeol-ssi, senang dapat bertemu dengan anda kembali."

"Senang bertemu dengan anda juga Kyungsoo-ssi."

"Kalau begitu, saya pamit pergi terlebih dahulu."


Kyungsoo tersenyum lebar ketika dia membuka pintu kamar rawat itu. Dia melangkah mendekati ranjang rawat itu dan berkata, "Aku bertemu dengan Chanyeol tadi."

"..."

"Dia menanyakan kabarmu Baek."

Kyungsoo duduk di kursi samping ranjang itu lalu menggenggam tangan Baekhyun.

"Ayo bangun Baek, agar aku dapat menjawab pertanyaannya."

"..."

"Dan, bukankah kamu ingin menjadi orang yang pertama kali melihatnya?"


Chanyeol turun terlebih dahulu dari mobilnya kemudian memutarinya menuju kursi penumpang dan membantu Hana untuk turun.

"Terimakasih Chanyeol."

Chanyeol tersenyum lebut, "Sama-sama sayang." Dia mengecup pelipis calon istrinya itu sekilas, lalu menutup pintu mobilnya. Tangannya dia lingkarkan pada pinggang perempuan itu kemudian berkata, "Ayo kita masuk."

Chanyeol tersenyum lebar dan mereka berjalan masuk ke dalam rumah itu.

Park Hyun Jin yang sedang menatap album foto langsung mengankat kepalanya ketika mendengar suara Chanyeol yang memasuki rumahnya. Dia langsung berdiri kemudian menghampiri anak semata wayangnya itu dengan senyuman yang melebar karena bahagia.

"Chan-!" Serunya tertahan ketika dia melihat seorang perempuan dengan perut membulat disamping anaknya.

"Ibu." Chanyeol tersenyum lebar, dia melepaskan Hana sebentar untuk memeluk Ibunya, kemudian kembali pada sisi calon istrinya itu. "Ibu, perkenalkan ini Hana. Cho Hana. Calon istriku."

"Ibu." Sapa Hana dengan lembut dan membungkukkan badannya perlahan sebagai sopan santun.

Hyun Jin mundur beberapa langkah dan hal itu disadari oleh Chanyeol.

"Ibu?" Beonya.

Hyun Jin mengerjapkan matanya dan tersenyum kembali, "Ah, ayo masuk, Hana pasti lelah berdiri terus." Katanya.

Hana merasakan ada sedikit penolakan yang ditunjukkan oleh Ibunya Chanyeol dan dia dapat memakluminya.

Chanyeol mengalihkan pandangannya dan menatap Hana yang terlihat sedikit sedih dengan perlakuan Hyun Jin. Namun dia tak dapat melakukan apapun.

"Ayo kita masuk."


Hyun Jin segera membereskan semua barang-barang yang sedang dilihatnya tadi, berikut album foto yang baru saja dilihatnya beberapa menit yang lalu dan Chanyol melihat itu.

Album foto yang tak dikenalnya.

"Album foto siapa itu Ibu?" tanyanya sambil membantu Hyun Jin membereskan benda-benda yang berserakkan di lantai ruang santai mereka setelah memastikan Hana duduk di sofa yang nyaman.

Hun Jin tersentak, melirik pada album foto yang dipertanyakan oleh Chanyeol, kemudian tersenyum tipis, "Menurutmu yang siapa lagi kalau bukan yang anakku satu-satunya?"

"Tapi seingatku tak ada album fotoku yang seperti itu."

"Ibu baru membelinya dan baru mengisinya dengan beberapa foto yang waktu dulu ibu tidak sempat cetak."

Chanyeol mengangguk mengerti, "Ini disimpa dimana?"

"Tolong simpan di perpustakan Papamu saja."

"Oke." Chanyeol mengangkat barang-barang yang telah dikumpulkannya kemudian pergi menuju ruang baca Papanya setelah mengatakan, "Aku akan pergi sebentar, santailah disini." pada Hana.

Hana mengangguk mengerti.


Hyun Jin telah beres merapikahkan barang-barangnya, tinggal Chanyeol yang mengurusnya.

Dia melirik perempuan yang dibawa oleh anaknya itu kemudian betjalan meunju dapur.

"Minumlah." Katanya pada perempuan itu ketika dia kembali dari dapur.

"Terimakasih ibu, maaf merepotkan."

"Jangan panggil aku Ibu, aku tak menyukainya." Hyun Jin meminum airnya setelah menanggapi perkataan perempuan itu dengan sinis. "Aku takkan memperlakukanmu istimewa seperti yang Chanyeol lakukan padamu."

Hana meremat kedua tangannya dengan erat dan itu tak luput dari pandangan Hyun Jin.

"Jadi, sudah sejauh mana hubunganmu dengan Chanyeol?" Tanyanya.

"Ah, kami-"

Hyun Jin langsung memotong perkataan Hana, "Ah sepertinya aku sudah tahu jawabannya."

Hana menutup mulutnya.

"Jadi, itu anaknya Chanyeol atau bukan?"

Hana terkejut ketika Hyun Jin tiba-tiba bertanya seperti itu.

"Kamu tidak perlu menjawabnya jika sulit dijawab." Tambah Hyun Jin.

Dan Hana hanya diam tak menjawab pertanyaan Hyun Jin.

"Sudah berapa bulan?"

"..."

"..."

"Hampir 8 bulan."

Hyun Jin mengangguk kemudian meminuman minumannya kembali.

"Aku tidak peduli apa yang akan kalian lakukan nantinya, aku akan membiarkan Chanyeol untuk menikahimu tapi itu belum tentu kamu, aku terima sebagai menantuku."

"..."

"Terlebih lagi, kamu sedang hamil karena Chanyeol atau orang lain."

"..."

"Jika itu Chanyeol, aku takkan mempermasalahkannya."

"..."

"Namun sepertinya perkiraanku tepat sekali."


Chanyeol penasaran.

Dia menatap album foto terakhir di pegangannya kemudian menatap pintu ruang kerja itu.

Ibunya tidak ada.

Chanyeol mengerjapkan matanya, kenapa dia jadi seperti maling yang akan mencuri di siang bolong?

Chanyeol memutuskan untuk melihatnya debentar dan dia duduk pada sofa yang ada di ruangan itu.

Jangan-jangan ini album foto yang isinya foto aneh yang diambil oleh ibunya.

Chanyeol tersenyum lebar, kemudian membuka album foto itu dengan jantung yang berdegup cepat.

Kira-kira apa isi album foto itu, ya?


Hyun Jin tersenyum lebar ketika melihat Chanyeol kembali. Dia menghampiri putranya dan memeluknya sekilas.

"Istirahatlah kalian, eomma dengar dari Hana kalau kalian baru dari rumah sakit."

Chanyeol menatap ibunya dengan penuh kebingungan namun dia mengangguk, "Ayo Hana, kita istirahat dulu di kamarku."

Hyun Jin yang mendengar itu langsung berkata dengan tegas, "Dikamar tamu!"

Chanyeol semakin mengerutkan dahinya dan Hana menundukkan kepalanya dalam.

"Eomma kenapa?"

Hyun Jin menghela napasnya ketika sadar dia sedikit berlebihan. "Maaf." Katanya, "Eomma akan istirahat, jika kalian butuh apa-apa hubungin Bibi saja."


Kyungsoo tersenyum lebar melihat bayi itu dari hari ke hari semakin sehat dalam inkubatornya.

Dia ingin menyentuh bayi itu, namun dirinya belum bisa.

Belum.

"Eomma." Tae Oh yang berada di gendongannya memanggilnya dan itu membuat perhatiannya teralihkan dari bayi itu.

"Ya, sayang?"

"Bayinya lucu."

Kyungsoo tertawa kemudian mengecup pipi anaknya dengan gemas. "Tae Oh juga lucu waktu bayi, sekarang juga."

Tae Oh tertawa geli dengan ciuman yang terus Kyungsoo layangkan padanya.

"Kenapa Aga ada di dalam kotak eomma?"

Kyungsoo diam sesaat sebelum menjawap pertanyaan itu, dia menatap bayi mungil yang berada di dalam inkubator itu, "Karena Aga butuh kehangatan sayang."

Tae Oh menganggukkan kepalanya, sedikit mengerti.

"Bibi Byun kenapa belum bangun juga eomma? Kasian Aga sendirian."

Kyungsoo mengeratkan gendongannya pada sang anak dan mencium pipinya kembali dengan lembut.

"Bibi Byun lelah sayang, jadi bibi butuh waktu tidur yang sangat lama."

"Seperti Tae Oh waktu sakit?"

Kyungsoo tersenyum dan mengangguk. "Ya, seperti itu."

Beberapa menit kemudian mereka hanya diam menatap bayi itu dengan sesekali Tae Oh yang bertanya, hingga Jongin muncul.

"Tidak masuk?" Tanyanya.

Kyungsoo tersentak mendengar suara Jongin. Dia mengeratkan pelukannya pada Taeoh dan menyuruh anaknya itu untuk menundukkan kepala agar wajahnya tersembunyi.

"Eomma?" panggil Taeoh bingung.

Jongin melihat itu hanya tersenyum tipis kemudian menghampiri Kyungsoo hingga jarak mereka cukup membuatnya menyentuh Taeoh.

"Ini pasti Tae Oh?"

Tae Oh yang mendengar namanya disebut segera mengalihlankan pandangannya untuk menatap orang itu, namun Kyungsoo menahannya.

Jongin menghela napasnya, namun dia tetap tersenyum kemudian mengusap punggung Tae Oh.

"Hai, Tae Oh." Sapanya.

Tae Oh melirik ibunya yang terlihat tidak menyukai hal itu, jadi dia hanya diam saja.

"Kembalilah bekerja."

Jongin mengangguk ketika mendengar perintah Kyungsoo yang sinis.

"Ya, aku akan kembali." Katanya, kemudian dia mamajukan tubuhnya dan memeluk mereka dengan erat.

Untuk beberapa detik dia hanya diam memeluk perempuan itu dan Tae Oh yang berada di pelukannya, kemudian dia mengecup dahi Kyungsoo sedikit lama sebelum akhirnya melepaskannya.

"Aku kembali bekerja." Katanya.

Dia memutari tubuh Kyungsoo hingga di belakang perempuan itu dan saat itulah, dia bertemu pandangan dengan balita yang hampir mirip dengannya.

"Aku pergi dulu ya Tae Oh." katanya. Dia mengusap kepala balita itu kemudian mengecup puncak kepalanya setelah itu meninggalkan mereka berdua.


Chanyeol menatap takjub dengan apa yang dirasakan oleh tangannya. Dia terharu dan tidak bisa mengatakan apapun kecuali terus terkagum-kagum dengan apa yang dirasakannya.

"Bayinya menendang bukan?" Tanyanya pada Hana.

Mereka kini sudah diatas tempat tidur dengan Hana sedang duduk bersandar pada kepala ranjang dan di duduk disamping perempuan itu dengan menyamping menghadapnya.

"Ya."

Chanyeol terus terkagum-kagum hingga dia tak merasakan tendangan atau pergerakan kembali.

"Apakah ketika dia menendang terasa sakit?" tanyanya.

"Sedikit. Tapi itu bukan masalah."

Chanyeol tersenyum lebar, kemudian mendekatkan dirinya untuk mencium dahi Hana. "Sekarang istirahatlah, kamu pasti lelah bukan?"

Hana mengangguk, dengan bantuan Chanyeol, dia dapat sedikit posisi nyamannya untuk tidur.

"Aku akan menemui ibuku sebentar, istirahatlah dulu."

Chanyeol mengusap kepala Hana terlebih dahulu, kemudian pergi dari kamar itu.


Hyun Seung tersenyum tipis ketika melihat putranya, sedangkan Chanyeol terkejut melihat Papanya sudah ada di rumah.

"Papa." Sapanya.

"Sini Chanyeol, duduklah." Hyun Seung menepuk ruang kosong di sofa yamg di dudukinya dan Chanyeol menurutinya. "Papa dengar kamu membawa calon istrimu." Katanya. "Siapa namanya?"

"Hana. Cho Hana."

Hyun Seung memindahkan chanel televisi yang sedang di tontonnya pada saluran berita.

"Dan dia sedang hamil?"

"Ibu mengatakan apa pada Papa?" tanya Chanyeol dengan tidak suka. Ibunya selalu melebih-lebihkan dan berbicara yang tidak-tidak.

"Baekhyun memberitahuku." Chanyeol mengerutkan dahinya. "Papa tidak sengaja bertemu dengannya di salah satu taman kota kemudian membawanya ke rumah."

"Bukankah ibu membencinya?" tanyanya.

Hyun Seung mengangguk, "Ya. Dulu. Sejak kalian bercerai sepertinya sudah tidak."

Mereka diam beberapa saat.

"Jadi, kamu akan menikahinya?" Chanyeol mengangguk mantap. Hyun Seung menepuk bahu Chanyeol, "Papa tidak akan ikut campur lagi pada hidupmu, maaf telah memaksamu melakukan hal itu, dulu." Katanya. "Ibumu juga membebaskanmu untuk memilih."

"Terimakasih."

Hyun Seung mengangguk, "Istirahatlah."

Chanyeol berdiri lalu pergi menuju kamarnya.

Namun dia ingat sesuatu.

"Ah, Papa." Panggilnya, Hyun Seung mengalihkan pandangannya dan menatap putranya. "Album foto yang berwarna putih dengan bunga sebagai pembatasnya milik siapa?" Tanyanya. "Ada foto USG yang sepertinya baru diambil beberapa bulan yang lalu dan foto makanan." Lanjutnya, "Apakah itu foto yang ibu ambil dulu?"

Hyun Seung menggelengkan kepala dan tersenyum lebar, kemudian menjawab pertanyaan Chanyeol dengan riang.

"Itu foto album milik Baekhyun."