A/N: Chap ini saya munculin Indonesia. Saya pake nama Nesia untuk chara ini karena saya males mikr nama buat dia *PLAK. En saya juga lebih enjoy pake nama ini buat Indonesia. Netherland disini saya pake nama yang digunakan di fic God Father nya kak are. Key. take. Tour. ^^v

segini aja, HN nya saya lagi kena virus magernya nesia pas getik dia sih *PLAK (ITU BUKAN ALASAN!)

Don't Like? Don't Read.


Warning: cerita didominasi oleh konten Boys Love a.k.a Yaoi, OOC demi keperluan cerita, miss typo.

Pairing: PrusCan, USUK and other pairing (ini OTP saya, kalau tidak suka jangan dibaca) , Slight SpaMano, GerIta and NetherIndo(ini juga OTP)

Summary: Dimana ketika hati itu terkoyak. Dimana saat kau bawa diri itu menghilang. Kupastikan aku akan menemukanmu. Karena tanpa kau sadari, benang merah yang selalu menghubungkan kita lah yang membawaku ketempat mu.


.

Meninggalkannya sendiri.

Dalam gelap yang begitu dingin.

Tanpa sehelai simpati.

Begitu saja membuangnya, seperti sampah tak layak pakai.

Dalam sisa-sisa perasaan yang tengah dihancurkan.

.


.

Red Thread

(...Tak akan pupus... meski langit dan bumi menjadi pembatasnya...)

Original Story by Rin

Disclaimer © Hidekaz Himaruya

Family, Friendship, Hurt/Comfort, Romance

Rated M

.


Chapter. 6


.

London. 25 September Year 20XX. 04.16 A.M

.

Mercedes hitam itu berlari kencang dijalan yang licin karena beku kristal salju yang mengendap pada bumi ketika malam. Menyalip semua kendaraan dihadapannya. Melanggar setiap rambu yang terpasang pada pasak jalan. Sang pengemudi menginjak dalam pedal gasnya, memegang kendali setir dalam cengkram kuat, tak peduli meski sudah beberapa mobil yang hampir menabrak –atau lebih tepat ditabraknya. Hanya ada satu rasa yang menghantui pada Safir yang terbingkai itu.

Kecemasan.

'Dimana kau, Matt?' batinnya sedari tadi berseru dalam batinnya.

"ALFRED! TURUNKAN KECEPATANMU,GIT! KITA BISA MENABRAK!" pekik arthur yang duduk disamping Alfred dibangku penumpang saat matanya menangkap angka pada dashboard itu menunjuk 140 km/jam.

"GIT! KUBILANG TURUNKAN!"

"DIAM ARTHUR!" satu bentak meluncur mulus dari bibir American yang sedari tadi tertutup, tanpa panggilan sayang yang biasa situnjukkan pada pemuda itu. Safirnya menatap tajam pria British disampingnya, "KITA HARUS MENEMUKAN MATT!"

"Aku tahu! Tapi kita tidak bisa menemukannya kalau kau seperti ini!" bentak Arthur balik.

"Lalu apa? Sudah hampir dini hari Matt menghilang dan kau menyuruhku untuk berhenti?"

"Aku tidak menyuruhmu begitu. Kubilang turunkan kecepatanmu!"

"Percuma kalau kau mencarinya dalam keadaan kacau seperti ini,Git! Sampai kapanpun kau tidak akan bisa menemukannya."

"KAU DENGAR KATAKU ALFRED. F. JONES!"

CKITTTT!

Rem mendadak yang membuat Arthur terpental menabrak dash board mobil. Geram ia menetap pelaku pengereman mendadak yang terdiam disampingnya.

"Ouch, Alfred! Kau...!" katanya terhenti, membelalak mendapati apa yang kini menghias pandangnya. Ketika bulir air berturunkan perlahan tetes demi tetes dari permata safir yang setengah tertutup.

"...aku sudah berjanji akan menjaganya..."

Dia tidak tahu. Memang tidak tahu, apa hal yang membuat Alfred mengkhawatirkan kembarannya hingga sedemikian jawab sebagai seorang kakakkah? Entahlah. Satu hal yang pasti Arthur mengerti, perasaannya yang ingin melindungi ketika memiliki seseorang yang dia sayangi. Dan dia salah satu yang memiliki perasaan itu. Jauh ketika mereka bertiga bertemu.

Dia menyayangi Matthew hanya sebatas adik. Namun, ia menyadari rasa sayang pada pria dihadapannya ini perlahan berubah, menjadi rasa sayang semu yang disebut cinta.

Tubuhnya merangkak, memposisikan dirinya lebih dekat dengan 'adiknya'. "Al..." panggilnya membuat safir yang bersembunyi dalam lipatan, kembali tertangkap retina emeraldnya. Semakin lama wajahnya didekatkan pada pemilik permata itu, sebelum melumat bibir merah pria yang secara usia lebih muda darinya.

Alfred terkejut dengan perlakuan yang tiba-tiba terjadi. Mencoba memproses sadar pada pkirannya. Ia mengangkat tangannya, menekan piran british itu memperdalam sntuhan diantara mereka.

"Mmmpph..." erang Arthur saat lidah Alfred membalas perlakuannya, bahkan balik mendominasi dirinya.

Entah berapa lama mereka saling menikmati kesatuan satu sama lain dikala kristal putih malam yang berturunkan perlahan memijak bumi, hingga akhirnya kesatuan mereka terpisah.

Uap nafas yang memburu cepat secepat ia muncul lalu menghilang. Safir itu menatap emeralda yang kini tidak mau memandangnya. Bersembunyi dalam merah pekat yang menjadi semburat yang ketara jelas. Setelah satu perlakuan orang yang dia sebut 'kakak'.

Ah, sekarang status kakak adik itu sudah tidak ada.

Yang ada hanyalah kini mereka yang telah menyadari jalin benang yang tengah menyatukan mereka.

Tangan besar miliknya bergeser meraih tangan yang sedikit lebih mungl darinya. Membawanya dalam genggam hangat. Menatap senyum pada 'kekasih' yang menatapnya malu-malu.

"Sekarang kita kemana?" tanya Alfred memacu kembali perjalanan yang sempat terhenti, tentu dengan perasaan yang lebih tenagn dibanding tadi.

"Tadi pagi Matthew bilang padaku, kalau ia ingin pergi kerumah temannya. Mungkin dia tahu kemana Matthew pergi lagi setelah itu."

"Dimana?"

"Kediaman Willem Van der Plast."

.


.

Pemuda dengan hitam ikal sebagai mahkota mengangkat tangannya yang tengah menyeduh air untuk kopi tamu mereka. Tangannya mencampur gula sebelum mengaduknya menyatu rasa dengan cair hitam yang tengah dibuatnya. Meletakkan cangkir itu satu persatu dalam nampan dan membawanya keruang tamu dimana sang pemilik rumah yang sekaligus menjadi kekasihnya tengah tengah menerima kedua tamunya.

Sempat berpikir untuk menusuk mereka dengan bambu runcing kesayangannya dibanding menerima mereka sebagai tamu, karena dini hari begini ada orang yang dengan beringasnya menggedor pintu masuk dan mengganggu tidur nyenyaknya.

Kilau abunya menangkap siluet tiga orang dimana mereka tengah berbicang dalam hening yang mendominasi. Mengingat atmosfer disekitar mereka terasa begitu berat. Ditambah raut wajah serius dan cemas yang terpasang pada wajah mereka. Dia tahu pembicaraan mereka bukanlah pembicaraan ringan. Ayolah, tidak ada orang yang dengan gilanya menggedor rumah orang dinihari pagi hanya untuk sekedar bersilahturahmi dan berbincang ringan. Pastikan dia untuk mengasah bambunya bila menemukan orang seperti itu dalam hidupnya.

Trek.

"Kopi?" tawarnya pada ketiga orang itu.

"Ah, terima kasih Nesia." Jawab Willem tersenyum, meyembunyikan kejut yang ia dengar ketika kedua orang tamunya membawa berita tidak mengenakkan untuknya.

"Jadi kau tahu dimana dia sekarang?" pemuda berkacamata itu mulai geram, dia ingin secepatnya tahu dimana keberadaan adiknya sekarang.

Nesia menatap Willem yang menghela, sebelum berkata, "Aku tidak tahu. Memang dia sempat kesini. Tapi, setelah itu aku tidak tahu dia pergi kemana lagi." Ucapnya kecewa.

"Mungkin ditaman." Satu kata yang meluncur dari pemuda berkebangsaan Asia itu mampu membuat mereka menoleh melempar pandang padanya. "Yang kalian bicarakan itu, Matthew 'kan?"

"Kau bertemu dengannya?" tanya Arthur yang melihat adanya titik terang dari masalah ini. Willem sendiri terkejut mendengarnya.

"Dibilang bertemu sih tidak... tapi aku melihat pemuda yang mirip dengannya disana. Mungkin menunggu seseorang."

DEG

'Menunggu seseorang? Yang dimaksud Nesia itu apa mungkin...?' batin Willem bertanya khawatir.

"Ayo, Iggy." Mendengar Informasi itu, Alfred segera beranjak dan menarik pergi tangan Arthur dengan beringas. Dia tidak mau menyia-nyiakan waktu.

"Tunggu!" satu teriak menghentikan langkah mereka yang ingin segera berpergi meninggalkan rumah ini. "Izinkan aku ikut." Pinta pemuda Belanda itu pada mereka. "Dia temanku..."

"Baiklah, tapi sebaiknya cepat." Jawab Arthur segera. Ia melirik Alfred meminta persetujuan, yang dijawab dengan anggukan.

"Terima kasih." Hijau itu melirik pada abu disampingnya. "Kau ikut, Nesia?"

"Terserah kau saja."

.


.

Kembali Mercedess itu berpacu cepat pada jalan yang licin. Jarak dengan taman yang dimaksud pemuda Asia itu tidak begitu jauh, akan lebih baik ika mereka segera sampai.

"GIT! SUDAH KUBILANG JANGAN NGEBUT!" maki Arthur yang hanya disambut dengan diam sang pengemudi karena berkonsentrasi dengan jalan.

Sementara, dua orang yang ikut menumpang yang tengah duduk pada jok belakang. Hanya diam. berkali-kali mata abu itu melirik pemuda Belanda disampingnya. Berusaha tenang. Meski, ia tahu dalam hati cemas yang hebat melanda pikirannya. Sama sepertinya. Cemas yang beralasan, karena sedari tadi firasat buruk terus menerus menghantuinya. Dia bukan cenayang. Tapi, firasatnya terkadang selalu tepat. Dan firasat yang dirasanya adalah sesuatu yang sangat tidak baik.

"Kau tidak apa-apa, Nesia?" cemas Willem menatap kekasihnya yang terlihat gelisah. "...Ya."

"Tidak apa-apa."

Yang sebenarnya kata itu hanyalah doa dan permohonan untuk menenangkan hatinya agar firasatnya itu salah.

.


.

Seonggok barang yang tadi hanya sepi dengan bulir salju yang perlahan menimbunnya dalam selimut putih dingin, kini mendapat kebebasan ketika tangan itu meraihnya.

Emerald miliknya membelalak mendapati apa yang tengah dipungut tangan kekasihnya. Cepat ia merampas benda itu dari dia yang terheran-heran dengan sebuah kotak yang sudah tidak bisa disebut kotak lagi yang digenggamnya. Yang hancur dalam injak mereka yang menghancurkan harapan pembuatnya.

"..ini 'kan?" Willem tahu kepemilikan siapa kotak itu. Matthew. Itu artinya Matthew ada disini, atau bukti pernah disini. Tapi kemana dia?

Beribu bayang menakutkan menghantui alam bawah sadarnya menatap seonggok barang yang ia kenal tengah tertutupi salju."Kelihatannya ini milik Matthew." Jelas Nesia menyatakan isi pikiran buruknya. "Kita beritahu mereka." Ucap Nesia.

Dan mereka menemukannya, diambang pintu sebuah gedung kecil ditaman. "Hei! Alis Tebal!" seru Nesia memanggil. Willem hanya sweatdrop mendengar panggilan yang keluar dari mulut kekasihnya yang ditunjukkan pada Arthur. Tapi berapa kali pun mereka berseru memanggil tidak sedikit pun Arthur merespon panggilan hanya berdiri diam terpaku diambang. Dengan emeraldnya yang terbuka lebar menatap pemandangan dihadapannya. dimana punggung sang kembar kakak berlutut menyentuh lantai, menangis dalam jerit yang bisu saat melihat kondisi pemuda yang mereka cari.

.


.

Alfred berlari. Matanya menelusuri berkeliling setiap langkah yang ia ambil. Pikirannya terus berkutat pada keberadaan kembarannya. Sampai matanya menangkap sebuah lebam pada selimut salju ditanah.

Jejak kaki.

Matanya mengarah mencari dimana jejak kaki itu berawal dan mengikutinya. Hingga jejak itu berhenti pada sebuah bangun kecil. Mungkin sebuah gudang. Yang dimananya sedikit celah terbuka pada pintu yang seharusnya terkunci.

Sebuah firasat tidak enak menyergap relung hati. Ia menengguk ludahnya sebelum akhirnya mengambil langkah maju memperkecil jaraknya dengan gedung yang menjadi arah tujuannya. Gemetar ia dorong pintu yang sudah sedikit terbuka. Terbatuk sedikit karena debu yang menguar ketika pintu itu terbuka sempurna. Menyusupkan sinar rembulan dan lampu-lampu penerang jalan dikala malam menjadi pengganti terang.

Bola mata safir itu bergetar, begitu pula dengan seluruh tubuhnya, menatap sesuatu diruang galap dimana barang-barang yang dibiarkan bertumpuk mengendap hingga terlapisi tebalnya debu. Menatap sebuah sosok yang tergolek dalam dingin lantai yang jahat.

Bau besi menusuk hidungnya. Dimana darah kering menjadi bercak pada putih seonggok daging lemas tak berdaya tanpa berlapiskan kain. Merah yang mengering mengalir diantara selangkangannya beserta air mani yang mengotori sebagian tubuhnya. Membuat suci putih itu kini menjadi hitan.

Korban pemerkosaan.

Adiknya.

–Matthew...

Bruk.

Tubuh itu merosot jatuh berlutut. Bertumpu pada kedua tangannys, merenungi semuanya. Sampai safir itu menitikkan air mata. Tanpa menyadari sesosok emerald ikut menangis dibelakangnya.

Dia sudah gagal.

Dia tidak bisa melindungi adiknya.

Tidak bisa menjaganya.

Apa guna janji yang terucap saat mereka bertemu setelah sekian lama?

Melindungimu? Menggelikan.

Tak satupun dari ikrar itu berhasil dilaksanakan.

Dia telah gagal menjadi seorang kakak.

Dan air yang tengah mengalir ini adalah bukti sesal yang dalam karenanya.

"...Matthew."

.


.

PRANG!

Nada yang dihasilkan ketika jemari itu mencampakkan sebuah botol ditangannys, hingga pecah berantakan. Menodai lantai dengan sisa-sisa alkohol itu.

Tangannya meraih sebotol lagi, menenggaknya seperti orang gila kemudian melemparkannya lagi entah untuk keberapa kalinya hingga hancur dan bibirnya melafalkan tidak jelas tentang sebuah nama tanpa mempedulikan pintu kamarnya yang digedor dari luar oleh sang adik.

"Matt...Matthew.."

Ruby itu sayu tidak senyalang elang seperti beberapa waktu lalu. Gemetar pada tangannya ia tatap dan usap pada wajahnya menyembunyikan ruby permatanya. Memori beberapa jam lalu kembali terputar ulang. Dimana saat ia merebut pria yang didambakannya dengan paksa, tanpa mempedulikann jerit tangis yang dielukannya. Dan meninggalkannya begitu saja sendiri layaknya sampah.

Pikirannya bimbang akan perasaan sesungguhnya pada pemuda itu.

Apa di abenar-benar mencintainya?

Atau semua itu hanya ego semata?

Hanya mempertahankan sesuatu yang pernah dimiliki agar tidak hilang darinya?

Serendah itukah baginya dia yang selalu menunjukkan ulas senyum malaikat yang hangat untuknya?

Setidak begitu berharganya kah dia yang selalu menghiburnya dengan meluncurkan kata-kata lembut disaat dia benar-benar ingin mendengarnya hingga ia tega meninggalkannya? Mencampakannya?

Seiblis itukah ia hingga tega pada orang yang dikasihinya?

PRANG!satu suara lagi ketika ia menghancurkan beling botol ditangannya, menyisakan pedih ketika serpih kaca itu melukainya hingga merah mengalir pada celah.

Sesal pada hatinya menusuk dadanya. Mengalirkan butir sunyi ketika menarik nafas.

.


.

Kelopak itu mengerjapkan matanya. Hinnga violet itu terbuka dan mendapati putih memenuhi retinanya. Bau antiseptik yang khas bila dia berada dirumah sakit tercium indranya.

Rumah sakit? Kenapa dia disini.

"Matt?"

Matanya beralih pada sebuah suara dimana seseorang tengah menunggu terduduk disamping tempat tidurnya.

"Kau sudah sadar."

.

DEG

Tidak ada senyum lega dan senang yang tertangkap. Hanya seringai puas penuh nafsu.

Tidak ada safir yang memancarkan keceriaan. Yang ada hanya Ruby yang menatapnya tajam dan dingin kearahnya.

Tidak ada kasih. Hanya ada benci.

"ARGGGGHH!"

Dirinya menjauh dari segala bentuk interaksi membentuk suatu perlindungan dengan takut yang sangat ketika tangan itu hendak menyentuhnya. Menghenyakkan sang kakak akan reaksi yang didapat.

"Matt, ini aku..."

"Jangan mendekat!"

"Ma –..."

"Jangan! Hentikan!"

"MATTHEW!"

"MENJAUH DARIKU GILBERT!"

Tubuh itu terhenyak mendengar sepanggal nama yang menyebutnya. Kembali ia tatap ringkih tubuh yang gemetar dalam ringkuk perlindungan. "Apa maksudmu, Matt? Ini aku, Alfred!" serunya meraih tangan yang tengah bergetar hebat diseluruh tubuhnya.

"...ngan."

"?"

"...ngan...Hentikan." pintanya dalam isak sebuah tangis yang mengalir. Membeku, Alfred menatap tidak percaya dan sedih padanya. Menatap pada dia yang telah kehilangan harga dirinya, yang tengah hancur hati juga tubuhnya dalam waktu bersamaan. Menyisakan sesuatu yang kosong. Hampa. Hancur. Atau kata apapun itu.

Bibirnya melantunkan sebuah kutuk pada sepenngal nama yang meluncur, "Gilbert...Beilschmidt..." desisnya benci.

.


.

Arthur melangkahkan kakinya pada sebuah kediaman bergaya Jerman. Tangannya mengetuk pada daun pintu memanggil sang pemilik rumah untuk menyambutnya. Menunggu sedangkan salju itu terus berturunkan bisu menyelimuti dibelakangnya. Tak lama daun pintu itu terbuka, menampilkan sosok seorang pria kekar dengan bola mata safir dan pirang yang tersisir rapi kebelakang. Adik orang yang ingin ditemuinya.

"Arthur? " tanya Jerman yang terheran-heran dihadapannya.

"Selamat siang, Ludwig. Apa kakakmu ada?"

"Dia ada... sebaiknya kau masuk dulu." Ucap Ludwig mempersilakan Arthur masuk. Yang dijawab oleh sebuah anggukan.

Arthur memposisikan dirinya nyaman pada sofa diruang tamu. Emeraldnya beralih pada sang adik yang tengah menyuguhkan segelas minum hangat untuknya. "Terima kasih."

Ludwig ikut duduk pada sofa yang satu lagi, bersebrangan dengan tamunya, atau lebih tepat tamu kakaknya. "Lalu dimana Gilbert?" tanya Arthur to the point. Dia ingin segera menyelesaikan masalahnya.

Ludwig menghela, "Itulah... Bruder* mengurung diri dikamar sejak dua hari lalu. Entah kenapa."

Arthur berdecak kecil mendengar penjelasan Ludwig, "Antar aku kekamarnya."

"... Ada urusan ap-?"

"Setelah selesai aku akan pergi." Mendengar kesungguhan dari nada bicara seorang British dihadapannya, Ludwig pun mengalah. Ia beranjak, berjalan mendahului Arthur memberi tahu letak kamar kakaknya. Dia tidak tahu ada apa. Tapi, apa pun itu ia akan hentikan bila keadaan semakin memburuk.

.

TokTok

"Bruder* kau didalam? Ada tamu untukmu." Sebuah ketuk pada daun coklat yang hanya bergema sunyi dalam ruangan.

"Ini tidak berguna." Decak Arthur menyingkirkan Ludwog dari ambang pintu. "Tung –Kau mau apa?"

"Kirim tagihannya kerekeningku." Entah dia dapat dari mana Arthur mengeluarkan sebuah baretta dari balik jaketnya. Suara tembakan ketika pelatuk itu tertarik menembakkan peluru yang menghantam gagang kunci sebuah pintu.

DOR!

Satu tembakan lagi dan menghancurkan gagang pintu sehingga daun pintu itu dapat terbuka. Kakinya menendang kasar daun pintu dihadapannya. mendapati sosok seorang albino yang tengah berdiri ditengah ruangan yang gelap dengan alkohol yang menjadi aroma. Dapat dilihat serpih kaca yang berserakan disekeliling kamar yang berkilat-kilat tertimpa minim terang yang masuk.

Gilbert menggeram karena kamarnya didobrak begitu saja. "Mau apa kau?"

Hijau pada emerald itu berkilat dingin. Tajam menatap seperti seorang pembunuh berdarah dingin. Tanpa interupsi apapun sebuah tinju dilayangkan pada Albino didepannya.

BUAGH!

Tubuh itu terlempar begitu keras, menjatuhkan barang-barang yang menjadi alas pendaratannya.

"Bruder!"

"Diam disitu Ludwig!" bentak Arthur.

Arthur melangkahkan kakinya mendekati pria yang kini telah tergeletak. Mencengkram kerah baju putih itu dan kembali melayangkan tinju membabi buta pada Gilbert.

"ARGH!" rintihnya ketika tubuhnya dilempar dan mendapat tendangan telak pada daerah perut dan dada. "Ini belum apa-apa... dibandingkan derita yang kau lakukan pada Matthew..." desisnya penuh kebencian pada Gilbert.

Ruby itu membelalak ketika tangan sang British meraih kantong jaketnya. Apa yang ingin diambilnya? Pistolkah? Mengingat ia mendengar suara tembakan ketika pintu kamarnya didobrak paksa.

"Hentikan! Kau keterlaluan Arthur Kirkland!"dari belakang Ludwig menahan keduia tangan Arthur. Membuat terjatuh benda yang dikeluarkan dari kantong jaketnya.

Benda itu pecah berkeping-keping ketika beradu dengan keras lantai. Terbelah dua dengan sisa serpih disekitarnya. Ruby itu terus menatap lekat pada benda yang tengah hancur itu. Sebuah bendacoklat yang berbentuk hati, yang bertuliskan kata manis bersama dengan nama yang ia kenal sebagai putih yang menghias pada atasnya.

"Nasib Matthew sama seperti coklat itu." Kembali Arthur berkata dengan dinginnya. "Hancur." Paksa, ia melepaskan kedua tangannya yang tengah ditawan oleh Jerman adik. Arthur membetulkan letak jaket yang berantakan.

"Kau beruntung Alfred tidak disini. Karena aku yakin.. dia sanggup membunuhmu sekarang juga."

Jemari miliknya meraih sebelah patahan coklat itu.

"Jangan pernah menemui Matthew lagi. Kuperingatkan padamu." Dengan itu Arthur melenggang pergi, meninggalkan dua kakak beradik yang kini tengah sibuk dengan pikirannya masing-masing.

Ludwig melirik sang kakak yang masih menunduk menatap kebawah, lebih teoatnya pada benda yang berada padanya. "Bruder..." panggilnya

"Tinggalkan aku sendiri, West."

"..."

"Kumohon."

Ludwig ingin menghargai perasaan kakaknya yang tengah kacau saat ini, maka ia pun memutuskan untuk pergi meninggalkannya.

Iris ruby miliknya masih terus menatap patahan coklat yang berada ditangannya. Menatap tidak percaya pada apa yang tertulis disana. Setitik air penuh penyesalan mengalir bisu dalam tangisnya. Kenapa? Kenapa ia tidak bisa menunggu?

Prak.

Benda itu meluncur jatuh dari tangannya. Kembali mematahkan hati itu menjadi dua. Dimana kalimat yang menunjukkan perasaannya tertulis disana dalam bahasa Jerman.

.

'Ich liebe dich, Gilbert'

.


.

Seperti kata orang.

Tidak ada penyesalan yang muncul kepermukaan di awal cerita ini dimulai.

.


.

.

TBC

.

.


A/N: Hyaaaa, saya sempet bingung gimana ngelanjutin pas bagian tengah-tengahnya. Jadi maafin kalau rada ngegantung. Saya gakbales review dulu, lagi mager. *plak

Maafkan atas keegoisan author ini, tapi masih bersediakah anda memberikan...

REVIEW?