Chapter 4
Disclaimer : Kuroshitsuji © Yana Toboso
Warning : Typo(s) Yaoi, BL, Sebastian MichaelisxCiel Phantomhive
Genre : Angst/Romance
Rating : T
Summary : Apa yang terjadi pada Ciel? Apa yang akan dilakukan Sebastian? Dan apa yang akan dilakukan si author sneh ini? (!)
Balasan Reviews :
fetwelve : hahaha pertanyaanmu bakal terjawab dichap ini, maaf ya updatenya lama ^^
makasih ya ^^
review lagi ya ^^
Ayumi Phantomhive : apa ya, yang terjadi sama si uke ? *ditabok Ciel* hahaha baca aja deh ya ^^
kalau pendek sih itu sudah pasti –plak-
makasih ya ^^
review lagi ya ^^
michaelis yuki : ah makasih ya, kamu teliti banget ya ^^ *padahal sudah saya teliti lagi* ==
nah mungkin chap ini bakal banyak typo ny ^^ -plak-
aih Ciel kok kejam banget sih sama aku yang baik hati ini *yang baca langsung muntah-muntah)
makasih ya ^^
review lagi ya ^^
UzumakiKagari : tenang Ciel gak mati kok ^^ Cuma –piiiiiiiiiiiiipppp–
Hehehe makasih ya reviewnya ^^
Review lagi ya ^^
"Kau benar, seperti ini saja dulu, kita masih punya banyak waktukan Sebastian?" kata Ciel seraya memeluk pinggang Sebastian, dan menyandarkan pipinya pada dada bidang Sebastian.
"Anda benar Tuan muda" jawab Swbastian penuh keyakinan.
"Sakit, sakit sekali Sebastian..." lirih Ciel seraya memejamkan matanya pelan.
"Tuan muda?" tanya Sebastian, matanya membulat melihat apa yang terjadi pada 'tuannya'
"Sa... sa... kit..." rintih Ciel lemah, sambil mencengkram kepalanya.
"Tuan muda, bertahanlah!" kata Sebastian seraya menggendong tubuh ringkih Ciel menuju kamarnya.
~OoO~
"Se... bas.." kata Ciel tertahan, terlihat dia begitu kesakitan sambil mencengkram kepalanya.
"Tenanglah Tuan muda, tidurlah" kata Sebastian dan membisikkan sebuah mantra agar Ciel tertidur.
'Tuan muda, apa yang terjadi pada anda? Apa saya harus menanyakan hal ini pada 'dia'? ya hanya 'dia' yang bisa membantu' batin Sebastian.
~OoO~
Keesokan harinya Sebastian membawa Ciel yang tengah tertidur dari tempat tinggal mereka. Sebastian membentangkan sayap hitamnya, membentangkan dan megepakkannya, lalu terbang menuju langit. Beberapa saat setelah berada diantara gumpalan awan dan udara yang mulai berkurang kadar oksigennya, barulah Sebastian dan Ciel berhasil naik kepermukaan. Terlihat taman bunga mawar putih dan ungu pekat yang warnanya hampir menjadi hitam.
Tempat dimana Ciel dan Sebastian tinggal sebenarnya ada didasar jurang tanpa dasar, tidak ada 'manusia' yang pernah bisa mencapai dasar jurang itu. Tubuh mereka akan hancur karena termakan oleh waktu dan udara yang hampir tidak ada. Tempat yang lebih buruk dibanding nereka. Tapi siapa yang tahu ternyata dasar dari jurang itu adalah tempat yang sangat indah. Dimana terdapat dua mahluk yang keberadaannya tidak diakui oleh sebagian besar 'manusia' mahluk yang selalu direndahkan dan dianggap sebagai pengganggu dan sebagainya, mahluk yang dianggap sebagai ras yang menjijikan dan kotor.
Ah tapi 'manusia' memang tidak tahu tempat seperti apa yang ada didasar jurang itu. Tempat yang penuh siksaan bagi manusia. Sepertinya Tuhan tidak merelakan mahluk-nya yang sempurna dan bisa lebih kotor dibanding iblis itu menikmati keindahan dasar jurang itu.
Disanalah Sebastian dan Ciel tinggal, di dasar jurang tanpa dasar. Ditempat yag sangat indah dan menenangkan. Tempat yang jauh lebih indah dibanding tempat wisata dibelahan dunia manapun.
Sebenarnya Sebastian sangat tidak ingin menginjakan kaki kembali kedunia manusia yang kotor dan busuk ini. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Hanya inilah satu-satunya cara agar 'master'-nya bisa diselamatkan. Hanya satu tempat yang ada dibenak Sebastian, tempat yang sebenarnya sangat tidak ingin dia kunjungi.
~OoO~
Saat ini Sebastian yang sedang menggendong Ciel tengah berdiri didepan sebuah toko yang sangat diragukan kalau tempat itu layak dihuni oleh 'manusia' ah, memang bukanlah manusia yang menghuni tempat suram nan mengerikan ini.
KRIIIEET
Bunyi derit pintu tempat suram tersebut setelah Sebastian membukanya. Sebastian yang masih menggendong Ciel.
"Undertaker, kau ada?" tanya Sebastian setelah beberapa langkah memasuki tempat nan suram itu.
"Khi khi khi, long time no see tuan Butler khi khi khi" sapa seorang pria tua, saat keluar dari sebuah peti yang bertuliskan 'My Room' pria itu memakai pakaian hitam terusan panjang dan mengenakan selendang yang diselempangkan dibahunya.
"Undertaker saya membutuhkan sebuah informasi" kata Sebastian to the point, sepertinya dia tidak ingin berlama-lama ditempat suram ini.
"Khi khi khi, akan saya berikan asal saya mendapatkan bayaran yang sesuai khi khi khi" jawab Pria bersurai perak panjang yang tengah mencium sebuah tengkorak yang ada disampingnya.
"Baiklah, tapi sebelum itu, bisakah author dan readers keluar sebentar" kata Sebastian seraya megeluarkan senyuman mautnya.
Dan tentu saja tanpa pikir panjang *tidak ingin ditendang oleh Sebastian* author dan readers keluar dari pondok Underteker.
Lima menit kemudian.
"GYAAAAAAAAA HAHAHAHAHAHAHA!"
Yap bertepatan setelah beberapa detik dari suara tawa yang menggelegar, yang mampu menggetarkan dunia langit barulah author dan readers diperbolehkan masuk oleh si iblis kampret *digeplak Sebastian*
"Maaf menunggu lama" kata Si iblis kampret, Cuma sekedar basa-basi.
"Khi khi khi, saya berasa terbang kelangit ketujuh, khi khi khi dan dikejar-kejar senior somplak, khi khi khi lalu diselamatkan oleh sapi betina yang-" yak sudah cukuplah kita mendengar ocehan Undertaker yang ngaconya minta ampun.
"Jadi, bisakah anda jelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Bocchan?" tanya Sebastian yang entah kenapa berusaha untuk bersabar menantikan jawaban dari Undertaker.
"Begini, sebenarnya apa yang dialami oleh Earl adalah hal langka" jawab Undertaker yang entah mengapa jadi berubah menjadi serius *author ikutan serius*
"Apa bisa anda jelaskan?" tanya Sebastian yang masih menggendong Ciel.
"Kau tahu butler, Earl dulunya adalah seorang anak 'biasa', anak bagsawan' biasa' kau tahu?" kata Undertaker yang menekankan suaranya pada kata 'biasa'
"Ya, saya tahu" jawab Sebastian.
"Khi khi khi, Earl adalah anak 'biasa' sampai kejadia tiga tahun lalu, kejadian saat seluruh keluarga Phantomhive dimusnahkan, saat Earl mengikat janji bersama iblis yang kelaparan. Sampai saat itulah Earl bukan seorang anak biasa lagi" terang Undertaker.
"Ya, anda benar" jawab Sebastian, tersirat sebuah kesedihan diwajah indahnya.
"Hidupnya yang redup menjadi gelap seketika saat Bangsawan Trancy itu hadir dalam hidupnya, saat Bangsawan itu menjadikan Earl sebagai demon, atas kontraknya dengan iblis wanita bersurai ungu itu" kini Undertaker memejamkan matanya untuk selama-lamanya (Undertaker : mau gue sambit?!) oke saya salah, kini Undertaker memejamkan matanya sejenak.
"Ya" kini hanya kata itu yang terucap dari mulut Sebastian. Sekarang nampaklah raut kesedihan diwajah sempurnanya.
"Kau tahu hal itu tidaklah mudah bagi Earl? Kau tahu, bagi iblis yang dulunya seorang 'manusia' akan sangat berat kalau dia harus menjalani hari-harinya sebagai seorang demon. Earl terluka akan hal itu, karena itulah dia akan tertidur, tertidur dalam waktu yang sangat panjang" yap penjelasan Unudertaker kali ini sukses membulatkan mata ruby Sebastian.
"A.. apa? Ja... jadi, maksud anda Tuan muda akan.." Sebastian tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
"Khi khi khi, tenanglah Butler, Earl ktidak akan mati. Dia hanya akan tertidur, tertidur dalam waktu yang sangat lama, tapi sebelum itu dia akan merasakan sakit yang amat termat sakit" Jawab Undertaker, sepertinya dia ingin menenangkan Sebastian yang telah kalap.
"Apa ada cara untuk mencegahnya?" tanya Sebastian.
"Kalau kau menginginkan 'master'mu untuk tetap terjaga kau akan menyakitinya" kata Undretaker.
"Apa?!" kata Sebastian yang hampir berteriak.
"Kau tahu Butler, kalau kau terus memaksa Earl untuk terus terjaga itu akan membuatnya mati perlahan karena dia akan termakan oleh perasaan bersalahnya" kata Undertaker tajam.
"Tapi saya tidak mugkin membuat Tuan muda-" belum sempat Sebastian menyelesaikan kalimatnya, lagi-lagi Undertaker memotongnya.
"Kau salah, Butler, satu-satunya cara agar Earl dapat terjaga lebih lama kau harus membuat beban hatinya berkurang buat dia melupakan semua kenangan masa lalunya, kenangan buruknya. Hanya itulah satu-satuya cara agar Earl bisa terjaga lebih lama."
~OoO~
Sebastian berjalan lunglai sembil menggendong Ciel, dia menyesal tak sempat menyelamatkan Ciel waktu itu.
"Nghh.." desah lembut Ciel saat dia mulai terbangun dari tidurnya.
"Tuan muda, anda sudah bangun?" tanya Sebastian seraya menghentikan langkahnya dan tersenyum lembut kearah Ciel.
"Se... Sebastian di.. dimana kita?" tanya Ciel saat dilihatnya cahaya yang tidak seperti biasanya.
"Maaf, Tuan muda saya telah lancang, kita berada di London, entah kenapa saya ingin mengajak anda menikmati pemandangan London, mungkin anda rindu?" bohong Sebastian.
"Benarkah? Kita di London Sebastian! Tu...turunkan aku, aku ingin berjalan Sendiri" kata Ciel yang sangat kegirangan karena telah diajak ke kampung halaman setelah sekian lama tidak kembali.
Tapi sayang kegembiraan Ciel harus terhenti karena beberapa orang.
"Ci... Ci.. el?!" panggil sebuah suara yang sangat Ciel kenal.
DEG!
Jantung Ciel yang telah berhenti, entah kenpa terasa sakit kembali, sangat sakit sampai-sampai Ciel tidak berani menoleh kearah sumber suara. Karena Ciel tahu, Ciel telah hafal akan siapa pemilik suara ini. Suara yang sangat dia ridukan, suara yang sangat dia cintai.
"Se... bastian?" kali ini seorang pemuda bersurai pirang pendek juga nampak terkejut melihat laki-laki tinggi yang berada di belakang pemuda kelabu yang tengah membatu tadi.
"CIEL! Kau kemana saja?! Aku mengkhawatirkanmu! Syukurlah kau baik-baik saja" kata gadis berrambut pirang –gadis yang memanggil Ciel sebelumnya– seraya berlari dan memeluk Ciel.
Sungguh Ciel sangat ingin memeluknya, namun itu tidak mugkin dia lakukan, itu adalah hal yang mustahil.
"Le.." gumamnya yang tengah mempersiapkan dirinya.
"Ciel, ayo pulang, ayah dan ibu pasti sangat senang melihat kau baik-baik saja, para pelayan juga pasti-" kata-kata Elizabeth –gadis yang tengah memeluk Ciel– terpotong oleh–
"LEPASKAN ELIZABETH!"
–bentakkan keras oleh Ciel.
"A... ap.. pa, mak..sudmu?" tanya Elizabeth yang tengah menatap ktak percaya pada Ciel.
To be Continued
Fuh~ lagi-lagi saya bingung mau dibawa kemana ini alur cerita, ckckckck
Berhubung saya besok sudah mulai uts, makanya saya kebut satu malam, yah saya minta maaf kalau ceritanya rada ngaur, tapi mungki beberapa chap lagi fic ini kayaknya mau saya tuntasin, do'a-in ya semua, semoga uts saya cepat kelar biar bisa update lagi ^^
Yap ditunggu ya reviewnya ^^
