Secret BodyGuard

.

Disclaimer: Kazuki Takahashi

Story © YuGiOh Newbie Author

Kyora Yagami © Runa Ryuuokami

.

YOU ARE WARNED!

This Story is so—Weird, I must say. There might be some wrong spelling or Grammar but feel free to read. Critize or Advice are welcomed.

.

Johan: Gue harap gue ngak bawa payung item kayak chap 3!

Judai: Gue harap gue ngak ketiban pohon lagi di chap 6!

Litte: -_- belom juga nulis udah protes aja loe bedua ke gue~

Johan & Judai: Cuma buat mastiin biar Author kayak situ ngak bikin kita malu lagi..

Litte: Haizz! Jangan salahin Litte kalo Litte mulu yang bikin adegan Fightingnya! Haiyah! Lagian situ ketimpa pohon juga harus bersyukur kagak kena serangan kan? Wahahahah… berterimakasihlah pada Litte

Judai: -_- NO THANKS!

Litte: Johan juga! Berterima kasih udah Litte kasih payung! Kalo kagak loe bakal kehujanan and sakit~ Kita ngak mau kan Agent kita yang ganteng jadi sakit gara-gara kehujanan~ Wahahahaha

Johan: -_- Lebih baik w lari-larian daripada bawa PAYUNG ITEM!

Litte: *mundung* Kenapa kalian kejam sekali sama Litte~ Hiks~ padahal sama 2 Author yang laen pada jinak~ Hiks

.

Written Rolled: The one and only—Litte Yagami Osanowa

-_- Heem.. Yosh Minna, jumpa lagi dengan saya Author Abal nan Gaje yang menulis Fic sendiri ngak tuntas-tuntas—Plak! Malah buka AIB sendiri, Oh well disini Litte akan melanjutkan Chapter 6 dengan akses seperti biasa~

" Drive Thru like there's no Tomorrow "

.

Here We Go Again For:

Chapter 6: S.A.C.S

S-eperate

A-nd

C-ornered

S-ituation

.


Older Chapter

Untuk: Judai Yuki

Kutunggu kau di tebing belakang Osiris Dorm sepulang sekolah

Datanglah sendirian, Jangan membawa orang lain

Kutunggu!

Surat tantangan atau semacamnya yang dikirim untuk Judai oleh seorang misterius kepada Judai—Siapakah gerangan?

Present

"Yang jelas siapa sih orang itu—Huuh, seenaknya saja dia mengirim surat yang aneh memintaku bertemu di tebing belakang…" gerutu Judai sambil menghentakkan kakinya menaiki bukit menuju tebing "Kenapa dia tidak memilih tempat yang enak! Aku capek kalau harus menaiki bukit!" keluh Judai lagi

Sementara Judai repot berjalan sambil melontarkan kata-kata protes yang tidak sama sekali ditujukan pada orang tertentu—dibelakang Jesse (a/n: -_- di Chapter 3 sudah Litte jelaskan kenapa kita memanggilnya Jesse daripada Johan) malah ber-sweatdropped ria mendengar celotehan Judai—Gadis ini benar-benar something, yah? Oh,well daripada memusingkan hal bodoh yang dicelotehkan Judai—Jesse lebih memilih untuk memfokuskan diri mengamati keliling, tempat ini dipenuhi semak-semak belukar yang tinggi dan juga pepohonan, cocok untuk bersembunyi dan juga membuat jebakan ditambah lagi si pelaku pengirim surat menyatakan tempat pertemuannya adalah di tebing belakang, berarti si Pelaku sudah memikirkan cara untuk membunuh Judai yaitu, mendorongnya dari atas tebing—cara yang sangat mudah untuk dipikirkan.

"Tapi siapa yang mengirim surat aneh itu—Apakah Half Vampire?" gumam Jesse sambil berjalan dengan gerakan yang lincah dan tidak menimbulkan suara berusaha agar tidak terlalu jauh dengan Judai kalau ia tidak mau dihadapkan dalam situasi yang genting seperti kemarin

Judai akhirnya bisa bernapas lega karena kini ia sudah sampai ditempat tujuan—Ia merentangkan tangannya kemudian mulai mengambil napas yang sudah sejak tadi terengah-engah lantara harus menaiki bukit untuk mencapai tempat tujuan sesuai dengan apa yang dituliskan di dalam surat—setelah itu yang melirik ke kanan dan ke kiri berusaha mencari sosok yang adalah si pengirim surat misterius itu.

Dilain tempat Jesse sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi—Hei, lebih baik bersiap dan berjaga-jaga daripada kau tertinggal nantinya kan?

"Kau datang juga akhirnya, Judai…" ucap sebuah suara yang ada di belakangnya

'Half Vampire—Apakah itu dia yang sebenarnya?' pikir Jesse yang sudah mulai siaga di tempatnya

Judai menoleh kebelakang kemudian berkacak pinggang memandangi sosok yang ada di depannya kini "Jun-Jun! Sebaiknya kau punya alasan yang tepat untuk memanggilku ke tempat ini~" protes Judai

Twitch! Twitch!

Sosok yang dipanggil Jun-Jun itu malah tersenyum miris sebelum kemudian meledak karena panggilan aneh yang dilontarkan Judai kepadanya.

"Jangan seenaknya kau memanggilku dengan sebutan ANEH milikmu itu SLACKER! Aku Jun Manjoume Pewaris ke-3 Manjoume CORP! Kau tidak berhak memanggilku dengan embel-embel aneh seperti tadi!" serunya sambil menunjuk Judai

Judai hanya mundur beberapa langkah "Hiee~ Padahal, kan—Nama 'Jun-Jun' itu Imut sekali denganmu, Nee?"

"TIDAK SAMA SEKALI!" seru Jun ngak terima

Judai mengembungkan pipinya sebal ngak terima padahal nama pilihannya itu kan IMUT untuk seorang Jun Manjoume a.k.a Chazz Princeton a.k.a Pangeran Muda Obelisk Dorm dan masih banyak lagi deh julukannya~ Mereka adalah Rival! Yupe, setidaknya itulah yang selalu dikatakan Jun setelah ia berhasil dikalahkan secara tidak sengaja oleh Judai waktu penerimaan siswa baru di Duel Academy—Kehormatannya dan segalanya akhirnya membuat Jun tidak mau mengakui kekalahan itu sehingga ia berlatih demi untuk mengambil kembali gelar yang disandangnya itu! Dan ini adalah saatnya~

"Jadi—Kau memanggilku kemari…" ucap Judai menggantungkan kalimatnya

"Sudah jelas aku akan membayar kembali kekalahanku yang waktu itu—Judai Yuki! Bersiaplah!" ucap Jun lantang

Judai malah mengibaskan tangannya sambil menggeleng "Bukannya menolak tawaranmu Jun-Jun—Tapi aku sedang tidak mood bertanding melawanmu~ Lagipula aku lapaaarrr~" sahut Judai sambil tercengir

GUBRAK!

Baik Jesse maupun Jun sama-sam terjungkir mendengar ucapan Judai—Dasar cewek yang kelewatan polos, dengan tampang sebegitunya dia bisa santai saja menjawab apa yang dia pikirkan tanpa adanya malu sedikitpun. Jesse hanya mendengus karena dugaannya kali ini malah meleset TOTAL! Bukannya bertemu si aksi Criminal dia malah bertemu adegan seperti ini? Cih—Apa Agent Pro sepertinya harus melihat adegan seperti ini? Konyol sekali! Ditambah lagi membuang waktu saja kalau Judai tidak berada dalam bahaya apapun sekarang..

"H—Hei! SLACKER! KAU MAU KEMANA?" tanya Jun melihat Judai beranjak pergi meninggalkannya

"Makan Malam~ Mana mungkin aku melewatkan Tempura Udang yang dibuat oleh juru masak Osiris Dorm~" sahut Judai ceria banget—BANGET kalo soal makanan! Pasalnya Osiris itu kan Asrama Bobrok yak—Ehemm Author terlalu menikmati menulis kata barusan—Makanya Menu sarapan mereka selalu saja—koreksi—SELALU! Nasi dan Sardin kering! Ouh~KWACIAN—Beda banget sama RA Yellow dan Obelisk Blue yang sama-sama mendapat jatah makanan mewah setiap harinya dengan menu makanan ala restoran mewah bintang 5, bahkan saking bosannya dengan makanan yang disajikan di Osiris, Judai juga rela menyelinap ke Asrama Obelisk hanya untuk meminta jatah makanan Asuka—Bener-bener something, kan? Tempura Udang yang disajikan di Osiris paling hanya disajikan pada hari tertentu saja~ Bisa 2 kali salam sebulan atau 1 kali atau juga bisa tidak sama sekali tergantung si Juru Masak yang menentukan—ANAK-ANAK OSIRIS YANG MALANG~

Dilain pihak Jesse hanya bisa menepuk dahinya sambil menggeleng "Apa di otaknya tidak ada hal lain kecuali Makanan?" gumamnya

Judai langsung berlari menuruni bukit dengan cepat menuju Asramanya tidak mau tertinggal Acara Makan Malam dan tentunya menu hidangan Istimewa yang menantinya disana dan meninggalkan Jun Manjoume berdiri disana seorang diri yang ditolak tantangannya oleh Judai—Miris sekali yah nasibmu, Chazz—Merasa tidak memiliki tujuan apa-apa lagi pada akhirnya juga Jun meninggalkan lokasi kejadian untuk kembali ke Asramanya lagi sementara Jesse?

Rupanya Jesse masih ada di belakang pohong mengamati kepergian Jun kembali ke Asrama miliknya—Ternyata dugaannya salah, mana mungkin Jun Manjoume adalah Half Vampire si Penjahat itu, kalau dia Half Vampire maka dia sudah langsung menyerang Judai sejak tadi. Menghela napas, Jessepun beranjak dari tempatnya bersembunyi kemudian berjalan santai menuju Asrama miliknya kembali tidak mneyadari sekelilingnya sekarang karena merasa tidak ada bahaya apapun disekitaranya saat ini—Tapi ia salah perhitungan…

'Jesse Andersen… Aku sudah mengetahui semua permainanmu—percuma saja kalau kau masih bersembunyi dibalik baying-bayang untuk menutupi keberadaanmu di depanku…' ucap sesosok bayangan hitam mengamati Jesse yang kini tengah berjalan tanpa memedulikan apa-apa

'Semua bidak yang menghalangi jalanku… Harus ku singkirkan apapun itu caranya…' tambahnya lagi sambil menatap tajam 'Saatnya tirai permainan dibuka~'

Jesse terlalu menganggap santai sekelilingnya hingga ia hampir tidak mewaspadai hawa mencekam disekitarnya ini merasa ini hanyalah sebuah semilir angin yang dingin menghembus dirinya saja dan juga suara-suara aneh yang ada di sekitarnya yang serasa hanya sebuah suara yang dihasilkan oleh gemerisik dedaunan diatas pohon—Jesse you are so DEAD! (Johan: WOY! AUTHOR! U ngutuk w gitu ceritanya? *marah*, Litte: Dih, kagak! Sumpah! Cumin peribahasa duank~, Johan: -_- kok u menikmati banget yah ngetik 'DEAD'nya?, Litte: *innoncent* Masa?)

SLASH!~ JLEB!

Sebuah senjata berbentuk tombak dengan mata pisau yang sangat tajam dan terasah berukurann kurang lebih sepergelangan tangan menancap di depan pohon tempat Jesse berjalan setelah sebelumnya Jesse berhasil menundukkan tubuhnya mengelak incaran senjata tersebut—Jesse melihat senjata yang menembus permukaan batang pohon di depannya itu, Half Vampire disini?

Ckrek! Srek! Srek! Srek!~

Sebuah suara yang aneh mulai bergemerisik di permukaan tanah—Apa itu sebenarnya? Jesse melirik kebawah mencari asal suara tersebut yang ternyata berasal dari rantai pengikat dari senjata tombak tersebut yang dengan otomatisnya mengulur sendiri rantai yang mengikatnya—Tunggu? Mengulur secara otomatis? Jangan-Jangan..

"Oh—Tidak, jangan katakan…" ucap Jesse dan kemudian melihat sebuah rantai kini mengarah padanya dan lebih parahnya lagi di ujung ranjai tersebut terdapat mata pisau yang sangat tajam dan berukuran lumayan besar cukup untuk membuat beberapa luka dalam di tubuhnya—Tidak mau benda itu menggores sedikit bagian tubuhnya Jesse melompat menghindar kebelakang sehingga rantai tadi bukannya melilitnya melainkan melilit pohon samping yang bersebelahan dengan tombak tadi tertancap.

Jesse menghela napas lega—Dua seranggan berturut-turut datang bertubi-tubi kepadanya, Tapi kenapa ia yang diincar? Ini berarti Half Vampire sudah mengetahui bahwa ada seseorang yang tidak diharapkan ikut campur kedalam permainannya dan berniat untuk menyingkirkan orang penganggu itu—Ia tidak menduga semuanya akan terbongkar begitu cepat seperti ini!

Pip… Pip… pip! Pip! Pip! PiPipIpIpIpIiiiippp~

"Hah!?" tersentak dari pemikirannya oleh suara yang aneh, Jesse mengarahkan pemandangannya menunju senjata yang menancap di pohon tersebut yang kini tengah mengeluarkan bunyi yang sangat aneh dan tidak ingin ia harapkan untuk terjadi—sebuah titik merah menyara secara otomatis di bagian mata pisau tersebut yang diduga adalah bom yang sudah dipasang secara otomatis—WAIT! BOMB?

"OH—SHIT! GODDAMNIT!" seru Jesse menarik sesuatu dari sakunya kemudian mengarahkan benda tersebut kearah ranting pepohonan sebelum kemudian menekannya membuat sebuah tali otomatis keluar dan melilit di pepohonan tersebut dan kemudian menarik si pemilik keatas untuk kemudian meloncat menjauhi lokasi senjata tersebut yang berbunyi semakin keras

Jesse melompat dari satu pohon ke pohon yang lainnya sebelum kemudian meloncat turun kesebuah lapangan rumput yang sangat luas yang tidak ditutupi oleh pepohonan ataupun semak-semak—tidak ada apa-apa disekitaranya sebelum ia menoleh kebelakang dan…

DHUAR!

Ledakan yang dihasilkan senjata barusan tadi hampir membuat beberapa pohon disekitarnya tumbang dengan jarak jangkauan yang sangat tinggi—untung saja Jesse sempat menghindar ke tempat yang aman, Apa jadinya kalau ia tidak bisa memprediksikan hal ini? 3 serangan tadi mungkin direncanakan dengan sangat sempurna, pasalnya—kalau ia tidak bisa menghindar serangan pertama maka ia juga akan menerima serang kedua dan ketiga dan begitu juga sebaliknya.. Permainan yang sangat mengerikan!

"Agent—Jesse Andersen…" ucap sebuah suara dibelakangnya membuat Jesse dengan spontan membalikkan tubuhnya mendapati sesosok berpakaian hitam dengan wajah yang kini terlindung oleh topeng untuk menyembunyikan wajah aslinya "Senang sekali melihat Agent sepertimu antusias sekali mengikuti 'Permainan Kecil' milikku ini…" tambahnya

Jesse mengerutkan dahi—Inikah Half Vampire? Daripada itu—Darimana ia tahu semua tentang dirinya? Darimana ia mendapatkan informasi itu tentang dirinya yang menyamar memasuki Duel Academy ini—Apa dia sudah menyadari keberadaannya sejak awal ia memasuki wilayah ini?

"Aku—sudah mendapat banyak informasi tentangmu!" ucap Jesse menatap tajam

Si sosok hitam itu hanya berdecak kagum "Begitukah? Aku sungguh terkenal di kalanganmu—Hmm?" ucapnya

"Cih—Menyerah saja kau Half Vampire!? Kau tidak akan bisa memenangkan permainan terkutukmu ini!" ucap Jesse menantang "Aku akan mengalahkanmu!"

Sungguh mengejutkan, reaksi sosok itu malah tertawa lebar mendengar ocehan Jesse terhadapnya seakan ucapannya hanya sebuah lelucon kecil yang sangat sering ia dengar—Hei, kalian tidak tahu kan? Semua Agent yang ditugaskan untuk memburunya hidup atau mati selalu berakhir dengan nasib yang sama yaitu—MATI dengan cara yang sangat mengenaskan, entah dengan tercekik tali khusus sehingga leher mereka copot ataupun tersangkut diatas tiang layar sebuah kapal yang merobek isi perut mereka lebar-lebar—sudah biasa menurutnya mengahdapi para Agent bermulut besar seperti mereka itu.

"Hahhaahhaahahahaha…." Tawanya puas " Kau—Seorang Agent sepertimu sungguh menarik sekali…"

Jesse menggeram "JANGAN BERCANDA!" seru Jesse "Apa kau pikir yang kukatakan itu Lucu HAH!" serunya

Si sosok tadi hanya menggeleng "Apapun yang kau katakan—Aku tidak akan membiarkan satu saja kutu pengganggu menganggu jalan kerjaku… dan kalau kutu penganggu itu menantangku—Baiklah, akan kuladeni dia…" ucapnya "…Apa kau akan bernasib sama seperti para pendahulu Agent-mu itu—Hmm?" ucapnya

"JANGAN ANGGAP REMEH!" seru Jesse langsung menyerbu untuk menyerang Si Sosok Hitam itu dengan tendangan kakinya tapi—dengan mudahnya dihindari "SIALAN! APA KAU TAKUT HAH!" seru Jesse melihat lawannya sama sekali tidak menunjukkan perlawanan malahan menghindarinya

"Aku tidak mau membuang tenagaku hanya untuk menghadapi AMATIR sepertimu…" ucapnya "Aku hanya ingin melihat siapa yang mereka kirim kali ini untuk menghadangku—ternyata mereka hanya mengirim seorang bocah ingusan saja—benar-benar mengecewakan sekali…"

Ctik!

Kesabaran Jesse sudah habis mendengar celotehan tersebut terlebih lagi kata yang menghinanya barusan—Dia Agent yang PRO ini dianggap hanya seorang BOCAH INGUSAN! Ini tidak bisa DIAMPUNI! Dengan segera ia meraih lempegan besi dari sakunya menekan tombol yang langsung memperlihatkan sebuah jeruji yang sangat tajam yang bisa memotong apapun yang melewatinya kemudian…

"Jangan sekali-kali kau mengatakan aku BOCAH!" serunya dan kemudian langsung melempar senjatanya yang diperkirakkan langsung menghujam sosok itu hingga tidak berdaya lagi

Crack! Prang! Trang! Plak! Trak!

Dengan gampang dan hanya menggunakkan sabuah tangan—Busett dah—SEBUAH tangan doank! Sosok itu bisa menangkis 5 senjata berbahaya tersebut!

"Ckckck—Sungguh bodoh, butuh senjata khusus kalau kau ingin melukaiku dan 100 tahun latihan!" ucapnya kemudian melemparkan sesuatu dengan cepatnya mengenai bagian pipi kiri milik Jesse yang langsung tersayat tipis mengeluarkan dari sementara Jesse hanya bisa melebarkan matanya tidak bergeming sedikitpun

Apa itu barusan? Gerakannya begitu cepat sehingga ia yang Agent berbakat seperti tidak bisa berdaya dengan serangan yang dilancarkannya barusan

"Bersyukurlah Nyawamu kuampuni~ Mana mungkin aku melawan Orang yang sama sekali tidak sebanding dengan kekuatanku…" ucapnya sebelum menambahkan "Sungguh membosankan…" setelah mengucapkan itu ia menghilang dengan cepatnya di depan mata Jesse yang kemudian meraba pipinya yang terluka—tubuhnya bergetar merasakan sensasi yang sangat besar ini, ketakutan? Bukan—Tidak mungkin ia ketakutan! Tapi perasaan apa ini?

~Osiris Dinner Time~

"Lho—JOHAN!" seru Judai dengan suara tinggi beberapa oktaf melihat Johan yang sedang lesu memandang makanannya tidak berselera

"…." Johan tidak menanggapi panggilan suara Judai terhadapnya dia tampaknya masih memikirkan kejadian yang tadi sempat menimpanya

Sho tampak sepertinya mengkhawatirkan Johan "Ada apa denganmu, Johan? Apa kau sakit?"

Johan hanya menarik napas dalam-dalam—semua masalah ini begitu rumit untuknya, sangat, SANGAT rumit sehingga membuat otaknya begitu susah berpikir saat ini ditambhan lagi mengingat apa yang dikatakan Half Vampire kepadanya—Ia lemah, sangat Lemah sehingga ia tidak bisa menghadapi dia tadi—Apa kemampuannya masih tidak bisa menghadapi Half Vampire yang begitu kuatnya? Apa pada akhirnya ia akan kalah?

Pluk!

Sebuah sentuhan hangat menyentuh wajahnya, Johan menatapi mata Coklat itu yang kini berada di depannya—Judai? Judai yang kini sedang memapah kedua wajahnya yang tadi sempat menunduk…

"JOHAN! HEI! SADARLAH!~" serunya "KAU INI LESU SEKALI! KALAU TIDAK NAFSU MAKAN AKU AKAN MENGAMBIL JATAH TEMPURA UDANGMU—LHO~" serunya sambil menepuk-nepuk pipi Johan mencoba menmbuantnya tersadar

"Nee-san… Jangan memperlakukan Johan seperti itu—Nanti bisa-bisa…" ucap Sho berusaha menghentikan aksi Judai tadi takut-takut membuat percikan api menyala

"HEII~ JOHAN! SADARLAH!" ucap Judai kali ini sambil menggoyang-goyangkan kepala Johan layaknya boneka

Ngek! Ngek! Trak!

Suara apaan tuh? Rupanya tanpa disadari Judai sedikit mematahkan tulang leher Jesse—WOW! Something sekali yah? Jesse dengan sontak yang merasa tersadar akbiat rasa sakit yang LUAR BINASA langsung

"HOI! APA YANG BARU SAJA KAU LAKUKAN!" serunya

Judai langsung melindungi diri dari amukan Johan "A-Anu Johan~ Aku hanya ingin menyadarkan pikiranmu yang daritadi terus bengong~ Hahahaha~" jawabnya sambil tertawa garing

Twitch!

"SETIDAKNYA JANGAN SAMPAI MEMATAHKAN LEHERKU! IDIOT!" serunya lagi

"Hoo~ Akhirnya JOHAN sadar juga~ Yatta~ Aku ambil Tempura Udangmu yaaa~" tambah Judai bak tidak mempedulikan apa-apa langsung mengambil tempura udang di makanan Johan

"Hei! ITU MILIKKU!"

"Lalalalala~ Sekarang sudah jadi milikku~"

"SEJAK KAPAN!"

Sho yang berada di tengah-tengah keributan hanya bisa mengangkat bahu sambil mendesah "Benar-Benar deh~…"


Litte: Yatta~ *lemes*

Judai: YAY! Aku ngak menderita lagi~

Litte: Terima kasih sama Litte dund~ *ngarep*

Johan: WOY! AUTHOR! TANGGUNG JAWAB SAMA LEHER W! KENAPA W MALU-MALUIN!

Litte: Hah! Apa dayaku~ *merana* yang penting uda SELESE yeeee~ wkwkwkwkwk… Author selanjutnya GANBATTE aj!

Johan: HOI! JANGAN ILANK DULU!

Litte: *kabur*