Kakashi melirik Sakura yang sedari tadi mengacuhkannya. Pertanyaan sepuluh menit lalupun tidak dihiraukan oleh gadis itu. Dengan gemas, ia kembali melirik Sakura lewat ekor matanya.

"Kubilang, gaun seperti apa yang dipilihkan oleh Mei?"

Sakura mengangkat kepalanya, menoleh ke arah Kakashi dengan pandangan malas. "Kenapa kau ingin tahu sekali, hah?"

"Tidak sopan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, nona." Kakashi mengingatkan, memberhentikan mobilnya ketika lampu lalu lintas berubah menjadi merah. "Aku mau melihatnya."

Gadis itu mendekap plastik berisi kotak yang berisi gaunnya, lalu menggeleng. "Tidak akan! Mei-nee bilang padaku untuk tidak menunjukkannya padamu, dan aku lebih mau menuruti Mei-nee."

Sakura kembali mengetikkan balasan pada Kiba yang sedari tadi dengan rajin mengiriminya pesan. Mengacuhkan Kakashi yang memandangnya sinis, sehingga banyak bicara adalah hobi barunya sekarang. Itu membuatnya senang karena bisa membalas perlakuan Kakashi selama ini.

"Kakashi," panggil Sakura, menatap Kakashi yang sedang memandangi lampu lalu lintas dengan pandangan tidak sabar. "Menurutmu, Kiba Inuzuka itu orangnya seperti apa?"

Pria itu menoleh bingung, alisnya terangkat. "Teman sekelasmu?"

"Iya." Jawab Sakura, menunjukkan sebuah foto. "Lihat, ia baru saja mengirimkan foto anjingnya padaku. Lucu, 'kan?"

Kakashi mengangguk dengan terpaksa. Ia tidak mau Sakura menyadari perubahan raut wajahnya, karena mau tak mau egonya sedikit terusik. Bagaimana bisa ia dikalahkan oleh bocah ingusan seperti Inuzuka itu?

Demi Tuhan. Apa yang baru saja kupikirkan?

"Kakashi, lampunya hijau.." tegur Sakura takut-takut karena pria itu masih tetap melamun sementara mobil-mobil di belakang sudah menekan klaksonnya dengan penuh tenaga. "Kakashi, lampunya! PRIA TUA MESUM!"

Kakashi tersentak pelan, lalu menatap Sakura dengan pandangan kesal. Ketika melihat gadis itu menunjuk ke depan, pria itu tergagap dan cepat-cepat menginjak pedalnya agar mobilnya kembali berjalan.

Mereka tertawa ketika sudah berada jauh dari mobil-mobil tidak sabaran itu. Sakura menatap pria di sampingnya yang masih terkekeh dengan mata yang menatap lurus ke depan, membuat tulang rahangnya terlihat sempurna dari samping sini. Diam-diam gadis itu tersenyum.

"Kau benar-benar tidak mau memberitahukan gaun itu padaku, ya?" tanya Kakashi, kembali membahas masalah awal. "Kalau begitu aku tidak akan mengajakmu pergi ke pesta itu."

Sakura menoleh malas. "Kau berkepribadian ganda, hah?"

"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, nona Haruno. Itu tidak sopan." Ujar Kakashi, membelokkan mobilnya dan melirik Sakura sekilas. "Aku rasa belum ada satu jam semenjak aku mengatakan hal yang sama, 'kan?"

Gadis itu lebih memilih untuk menikmati sisa perjalanan dalam diam. Kakashi menjadi sangat menyebalkan sekarang––meskipun sebelumnya ia memang sudah sangat menyebalkan––dan itu membuat Sakura jauh harus memupuk kesabarannya lebih dalam lagi.

Mereka turun dari mobil setelah Kakashi memarkirkan mobil tersebut ke dalam garasi. Sakura segera memasukkan gaunnya ke dalam kamar dan menguncinya, lalu berjalan ke dalam dapur karena ini sudah mendekati jam makan malam. Ia tidak mau Kakashi berkicau.


"Aku minta putra dan putri memisahkan diri. Masing-masing berhitung mulai dari siswa dan siswi yang berinisial paling awal." Ujar Namiki sensei, menatap murid-muridnya yang sibuk melakukan perintahnya. "Percepat gerakan kalian. Ingat, kaki harus bergerak lebih banyak dibandingkan mulut kalian."

Sakura membenahi bukunya dan segera berbaris di depan Sanorii Fukatsu. Ia menatap teman-temannya yang masih sibuk merapikan barisan, sementara ia sendiri mengeluarkan pulpennya dari dalam saku.

"Karena jumlah siswa dan siswi disini seimbang, kalian akan dipasangkan berdua-dua sesuai dengan nomor absen." Ujar Namiki sensei, menatap murid-muridnya. "Cepat cari pasangan kalian dan kerjakan tugas yang saya berikan. Perwakilan harap mengambilnya di depan."

Sakura berjalan menuju ke arah Shino Aburame yang tampak tediam menatapnya. "Kita satu kelompok, ya? Siapa yang akan mengambil kertas itu, kau atau aku?"

Shino lebih memilih untuk mengangguk sopan, mempersilahkan Sakura untuk mengambilnya. Tindakannya membuat suasana di antara mereka sedikit canggung. Padahal mereka duduk berdekatan kalau kelas biasa berlangsung.

"Jadi, kita harus mencari contoh pelapukan biologis." Ujar Sakura, menyerahkan kertas yang dipegangnya ke arah Shino. "Dan.. bisakah kau letakkan serangga itu dulu? Kau tahu, 'kan, menyembunyikan hewan peliharaan itu ilegal di sekolah kita. Bagaimana kalau mereka disita?"

Shino mengangkat kepalanya, menatap Sakura lewat kacamata hitamnya. "Mereka temanku. Bukan hewan peliharaanku."

Astaga, yang benar saja aku dipasangkan dengan manusia macam Aburame ini! Jerit Sakura dalam hati, hanya bisa meminta maaf dan tersenyum canggung. "Baiklah, bagaimana cara kita menemukan hal yang ada disini? Ada dua puluh pertanyaan yang harus di jawab dan kita hanya mempunyai waktu satu jam."

Sakura menatap Shino yang menarik tangannya dengan perlahan. Gadis itu tidak berani menolak karena ia tidak tahu seperti apa Shino ini. Karena meskipun mereka selalu sekelas sejak tahun pertama di sekolah ini, mereka sama sekali tidak dekat. Lebih tepatnya, Shino tidak pernah dekat dengan siapapun. Ia hanya dekat dengan serangga-serangga menakutkannya.

Mata Sakura membelalak ketika melihat pemuda itu membuka kacamatanya. Matanya menyipit saat melihat reaksi Sakura, dan ia tanpa sadar tertawa saat gadis di depannya tidak berkedip. Ditambah dengan gerakannya untuk menurunkan jaket membuat Sakura tambah menampakkan wajah seperti orang bodoh.

"Aku tidak bisa melakukannya di depan orang banyak," ujar Shino, melepas jaketnya dan menatap Sakura. "Jangan kaget begitu, Haruno. Aku masih manusia, kau tahu? Aku bukan orang aneh yang selama ini kau pikirkan."

Sakura tergagap bingung. "Tidak, hanya saja.."

"Tidak apa-apa. Sekarang, biarkan bayi-ku yang mengerjakan tugas kita." Ujar Shino, meraih kotak kaca dari dalam jaketnya dan mengeluarkan dua ekor laba-laba dari sana. "Kau hanya perlu menunggu satu sampai tiga puluh dan kita bisa langsung mengikuti jejak kaki kecilnya."

Tangan Sakura terangkat untuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maksudnya...?"

Shino berjalan dan duduk di samping Sakura. "Laba-labaku akan mencari pohon yang tepat untuk membuat jaring mereka. Biasanya, mereka akan memilih pohon yang akarnya kuat. Kalau pohon akarnya menyebar terlalu banyak, itu akan merusak batu-batuan yang ada di sekitarnya. Itu pelapukan biologis, bukan?"

Sakura mengangguk. "Selama itu karena aktivitas makhluk hidup, kurasa iya."

Gadis itu menatap Shino dengan pandangan takjub. Baru sekali ini ia melihat pria itu tanpa jaket abu-abu panjang dan kacamata hitamnya. Belum lagi, pengetahuannya dibilang cukup memukau karena tidak banyak orang yang tahu tentang hal itu.

"Kau tahu, Shino? Kurasa kau adalah pria yang baik." Ujar Sakura tanpa sadar, menatap Shino yang mengerutkan keningnya. "Kenapa kau tidak mencoba untuk lebih terbuka pada kami? Kau orang yang menyenangkan, pasti ada banyak orang yang akan mau berteman denganmu."

Shino tersenyum. "Aku tahu kenapa mereka menyayangimu, Sakura."

"Apa maksudmu?" tanya Sakura bingung.


Seorang pria berambut hitam menatap bingung ke arah adiknya yang sedang memperbaiki dasi kupu-kupu yang menurutnya menyebalkan itu. Rambut ravennya disisir rapi, membuatnya makin bertanya-tanya ada apa sebenarnya yang terjadi dengan adiknya.

"Tidak ada kuliah hari ini?" tanyanya pelan.

Adiknya menggeleng, menatap sang kakak dengan senyuman yang menurutnya aneh. "Aku mengosongkan semua jadwalku."

Itachi––nama pria itu mulai merasakan ada yang tidak beres dengan tingkah laku adiknya. "Apa yang kau rencanakan, Sasuke? Kau tidak akan membuat Sakura ketakutan lagi, kan?"

Sasuke menoleh, mendecih dengan kesal ke arah Itachi. "Sudah seharusnya ia tahu siapa yang menyelamatkan nyawanya saat itu, Itachi. Tidak mungkin kita terus menyembunyikannya. Dan kalau ia tidak mau bertanggung jawab.. ia bisa membayarnya dengan menjadi istriku."

"Kau gila. Cepat masuk kamar dan tidur!" perintah Itachi, melempar adiknya dengan koran. "Bahkan kau tidak memanggilku dengan sebutan kakak. Otakmu benar-benar sudah hilang, ya?"

Pemuda raven itu menoleh dengan kesal ke arah kakaknya. "Kau tidak sakit hati karena kematian ibu, hah? Putra macam apa kau ini? Ia harus membayar nyawa ibu, dan aku tidak mau semuanya terjadi dengan mudah. Gadis itu bahkan menganggapku sebagai seorang psikopat."

"Yah, jujur saja, kau memang terlihat seperti itu." gumam Itachi pelan.

"Kalau ia tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya, sepertinya pria perak itu patut diberi pengalaman berharga olehku." Sasuke menyeriangi, duduk di samping kakaknya. "Bagiamana menurutmu, apa aku perlu membuat Sakura menangis? Atau Kakashi yang menangis untuknya?"

Itachi bangkit dan mendorong adiknya. "Kau gila, Sasuke! Kau––"

"TUTUP MULUTMU! DIMANA HARGA DIRIMU SEBAGAI UCHIHA?!" jerit Sasuke, mendorong kakaknya sebagai balasan.

"Aku bukan Uchiha gila sepertimu, Sasuke. Bahkan ayah dan ibu tidak akan mengenalimu sebagai putra mereka kalau kau bertindak seperti ini." Ujar Itachi, berusaha menenangkan adiknya. "Berpikir jernihlah, Sasuke. Kau pikir, ibu akan dengan bodohnya menolong gadis itu? Lalu, kau pikir ayah akan bahagia melihat putra bungsunya menjadi seorang psikopat?"

"Bahkan kau tidak berada dipihakku. Kau kakakku, atau siapa?" desis Sasuke, menepis tangan Itachi dan berjalan dengan angkuh menuju pintu. "Aku pergi. Jangan mencariku, atau kau akan menyesal."

Sasuke berjalan dengan langkah panjang-panjang menuju mobil hitamnya yang sudah terparkir manis di halaman rumah. Pertemuannya dengan Kakashi kali ini tidak boleh batal, karena ia sudah merencanakan semuanya sejak jauh-jauh hari.

Pertemuannya dengan Hatake Kakashi adalah alah satu cara untuknya agar bisa mendapatkan Sakura. Dari lubuk hatinya yang terdalam, jujur saja ia sudah bisa memaafkan Sakura, tapi––egonya masih belum bisa mengakui. Malahan ia mulai tertarik pada gadis yang tiga tahun lebih muda darinya itu.

"Kau pikir, kau bisa mengalahkanku, Hatake?" desis Sasuke, membenci Kakashi dengan amat sangat meskipun sebenarnya ia tidak mengenal Kakashi sama sekali. "Tidak ada yang dapat mengambil Sakura. Ia sudah kukunci dan kau tidak akan bisa membuka kunci itu sama sekali.."

Mobil Sasuke berbelok memasuki sebuah hotel dan ia turun dari dalam mobil. Dengan senyuman kharismatiknya sebagai eksekutif muda, ia berjalan mantap menuju atap bangunan dan menarik nafas dalam-dalam.

Matanya tertuju pada seorang pria berambut perak yang sedang berdiri sambil menatap langit. Dengan gerakan lambat, ia berhenti tepat beberapa meter di belakang pria tersebut.

"Terimakasih sudah memenuhi undanganku, Hatake Kakashi."

Pria itu menoleh, lalu mengerutkan keningnya karena kaget ketika mendapati Sasuke sudah berada di belakangnya. "Ya, tidak masalah. Salam kenal." Ujarnya sopan, menganggukkan kepalanya dengan pelan.

"Kau bersikap seolah-olah kau tidak mengenalku." Ujar Sasuke dingin, memandang Kakshi yang kali ini mulai mengalami perubahan air muka. "Kau selalu menatapku seperti aku adalah seorang yang tidak waras, Hatake. Kau melupakan momen itu, hah?"

"Kau yang mengikuti Sakura." Kakashi tampak tersadar, menatap Sasuke dan seketika pandangan tersebut menajam. "Kenapa kau bisa kemari? Jadi kau anak dari Tuan Fugaku yang mengundangku?"

"Tidak usah banyak bicara, Hatake. Kita mulai saja."


"Kau tidak apa-apa pulang larut seperti ini?"

Sakura mengangkat kepalanya, lalu terkekeh pelan. "Santai saja. Tidak ada orang di rumah, mungkin saja ia sedang sibuk di luar sana dan aku bisa pulang kapan saja tanpa membuatnya marah."

Ino dan Hinata berpandangan. Hinata, wanita berotak cerdas itu kembali menelisik kata-kata sakura. Mungkin saja ia sedang sibuk...? Kenapa sepertinya Sakura menyebut subjek tersebut tertuju pada satu orang saja, ya?

Tenten datang dengan beberapa makanan di nampan yang dibawanya. Sakura berterimakasih pelan dan meraih chicken katsu-nya, sesuatu yang selalu ditertawakan oleh teman-temannya karena chicken katsu adalah makanan yang paling klasik yang pernah mereka makan.

"Hei, kalian tahu tidak, kalau Shino ternyata orang yang sangat menyenangkan?" ujar Sakura membuka pembicaraan antar wanita atau yang sering disebut gossip. "Dan ia benar-benar tampan. Kukira ia cocok denganmu, Tenten."

Yang disebut mengangkat kepalanya dengan bingung. "Aku?"

Keempat sahabat itu terus berbincang mengani Shino sampai jarum jam menunjukkan angka sembilan. Sakura mulai mengecek ponselnya yang sedari tadi tidak berdering dengan perasaan gelisah. Sebenarnya ia hanya ingin membuat Kakashi khawatir, namun mengapa pria itu tidak juga meneleponnya?

"Astaga, jangan sampai ada sesuatu buruk terjadi padanya," gumam Sakura, segera membereskan barang-barangnya dan meraih kunci motornya yang ada di atas meja. "Gomen, aku harus pulang terlebih dahulu. Ada masalah kecil yang harus kuurus!"

"Hati-hati, Sakura, jangan sampai kau jatuh dari motor lagi!" ledek Hinata, cukup untuk membuat gadis berambut merah muda itu tersenyum kecut dan hanya melambai sembari berlari meninggalkan teman-temannya.

Sakura berlari keluar dari mall tersebut dan segera mencari motor skuternya yang terparkir cukup jauh. Setelah membayar parkir, ia mengendarai motor tersebut menuju rumah Kakashi yang sebenarnya memakan waktu cukup lama dari tempatnya sekarang.

Perasaannya makin tidak enak ketika dilihatnya mobil Kakashi terparkir di depan rumah dengan mesin masih menyala, tanpa ada orang di dalamnya. Ia segera memasukkan mobil tersebut dengan seluruh kemampuannya––berbekal dengan latihan menyetir singkat dari Ino––lalu menahan nafasnya ketika melihat sebuah tubuh terongggok disana.

"Astaga, Kakashi.. kau kenapa?" ujar Sakura lirih, menatap wajah pria di depannya yang penuh dengan lebam. Tangannya meraih punggung Kakashi dan menatap mata pria itu yang terbuka sedikit.

Dengan kepala Kakashi yang berada di atas lantai, Sakura merogoh tas sekolahnya dan mencari kunci rumah disana. Tanpa berdiri, ia berhasil membuka pintu rumah tersebut dan dengan perlahan memapah Kakashi yang setengah sadar itu menuju sofa ruang televisi.

"Astaga, astaga, yang benar saja.." desis Sakura tidak habis pikir, kakinya berjalan menuju dapur dengan panik. "Apa yang dilakukan pria mesum itu? Kukira ia sudah cukup tua untuk tidak bermain tangan lagi untuk menyelesaikan masalah.."

Tangannya dengan cepat meraih baskom dan handuk. Setelah mengisi baskom tersebut dengan air dingin, Sakura kembali berjalan menuju sofa dengan baskom, handuk, dan kotak obat di tangannya.

"Jangan bergerak." Cegah Sakura, mendorong bahu Kakashi dengan lembut. "Maafkan aku.. seharusnya aku langsung pulang dan langsung merawatmu. Maafkan aku, Kakashi.."

Tanpa sadar, air mata Sakura terjatuh dengan penuh penyesalan. Kalau saja ia pulang beberapa jam lebih cepat, mungkin Kakashi tidak akan menunggu di luar rumah selama ini, dan luka-lukanya bisa dengan cepat di obati. Memikirkan hal itu, Sakura menangis makin keras saja.

"Sa.. Saku.."

"Diamlah. Aku akan merawatmu sampai kau kembali menjadi manusia yang benar dan kau hanya perlu diam." Ujar Sakura, membersihkan hidung dan matanya yang penuh dengan cairan. "Lagipula, hal apa yang kau lakukan sampai seperti ini, Kakashi? Kau sudah gila, hah?"

Sakura membersihkan luka-luka tersebut dan memberikan obat merah, lalu segera membereskan barang-barang tadi dan berlari untuk mencari selimut. Setidaknya, ia harus membiarkan Kakashi tidur agar pulih kembali karena ia tidak bisa menggantikan baju pria itu. Selain karena Kakashi jauh lebih besar darinya, Sakura merasa kalau ia tidak sanggup kalau harus menggantikan baju pria tersebut.

"Bergeserlah sedikit," ujar Sakura lirih, menyelimuti Kakashi sampai ke dagu. "Bergeserlah kalau kau tidak mau jatuh. Aku akan membersihkan rumah dan kuharap kau sudah bisa berdiri sendiri ketika aku selesai. Setelah itu, kau harus mandi dan aku akan kembali membereskan lukamu. Mengerti?"

Kakashi hanya mengangguk kecil. Melihat itu, Sakura menghela nafasnya dan berjalan menuju dapur untuk memasak makan malam mereka.

Ia meraih soup cream instan karena otaknya terlalu lelah untuk berpikir sekarang. Seolah meninggalkan Kakashi yang seperti itu belum cukup parah, hanya ada beberapa bahan makanan di kulkas. Ia tidak akan mau membuat dirinya sendiri lelah hanya karena berjalan menuju supermarket malam-malam begini.

Sakura menatap jam dan mendesah pelan. Jarum jam sudah menunjuk angka setengah sebelas dan ia bahkan belum sempat membenahi dirinya sendiri! Dengan putus asa, gadis itu duduk di samping Kakashi sambil menunggu waktu sampai sup yang dibuatnya matang.

"Astaga, bagaimana bisa aku membersihkan rumah kalau aku lelah begini?" ujar Sakura parau, suaranya mulai habis karena tertawa tidak ada henti dengan teman-temannya tadi. "Kau sudah tua, Kakashi. Tidak perlu bertengkar seperti anak kecil begitu, kan? Lagipula, siapa orang menyebalkan yang mengajakmu berkelahi, hah?"

Laki-laki itu hanya mengerang dan menggumam tidak jelas. Tangan Sakura terulur untuk membasahi handuk dan menempelkannya ke dahi pria tersebut, karena suhu tubuh Kakashi mulai meningkat. Udara malam cukup untuk membuatnya demam, ditambah waktu menunggunya yang tidak bisa dibilang sebentar.

"Ya sudah, tidurlah. Nanti kau akan kubangunkan, dan kau harus makan. Mengerti?"


Itachi menatap adiknya dengan perasaan panik. Bagaimana tidak? Sasuke pulang dengan penuh lebam di wajahnya. Perasaannya yang tidak enak benar-benar terbukti. Dengan cepat, ia menyeret Sasuke menuju mobil dan segera mengendarai mobil tersebut menuju rumah sakit.

"Apa yang baru saja kau lakukan, bodoh?!" bentak Itachi kesal, ke arah adiknya yang hanya menatap langit-langit mobil sambil sesekali mengerang. "Sudah kubilang, tidak usah mencari masalah. Kau tidak mendengarkanku?"

"Diam! Kalau kau hanya ingin menceramahiku, turunkan aku sekarang!" Sasuke menatap kakaknya dengan pandangan marah, duduk di tempatnya walaupun rasanya tulangnya akan remuk. "Kau seharusnya memperhatikanku, bukannya menceramahiku! Ternyata kau sama saja dengan ayah."

Itachi berdecak pelan. "Jangan menilai ayah seperti itu, Sasuke. Kau..."

"Tidak apa-apa. Bersikaplah seperti engkau orang yang paling mengenal ayah dan kau memang akan selalu menjadi anak kesayangannya." Gumam Sasuke pelan, namun tidak cukup samar untuk ditangkap oleh pendengaran Itachi.

Kedua kakak beradik itu selanjutnya hanya diam sampai pada akhirnya Itachi memarkirkan mobilnya di halaman rumah sakit. Ia segera menuntun Sasuke untuk masuk ke dalam.


Sakura menghela nafasnya dengan berat, lalu merebahkan dirinya di atas kasur. Setelah mengirim pesan singkat pada Ino yang memberitahu gadis itu bahwa ia tidak masuk hari ini dan memintanya untuk mengatakan alasan ada kerabatnya yang sakit––Sakura membereskan rumah Kakashi dan akhirnya baru selesai dua jam kemudian. Itu semua cukup untuk membuat tenaganya benar-benar terkuras.

Untungnya, demam Kakashi turun dalam semalam. Walau belum bisa bekerja, namun setidaknya pria itu sudah bisa menyuap makanannya sendiri dan mandi. Sedikit iba muncul di hati Sakura ketika mengingat keadaan Kakashi tadi malam.

Gadis itu memejamkan matanya, namun sinar matahari sepertinya tidak mengijinkannya untuk tidur. Baju-baju kotor seperti berteriak untuk dicuci karena mereka akan cepat kering dalam terik seperti ini––hal itu benar-benar membuat Sakura menjerit marah dan akhirnya berjalan menuju ruang cuci.

"Hei, ada apa dengan wajahmu?"

Sakura berbalik dan menatap Kakashi yang sedang menatapnya dengan kedua matanya yang berkantung hitam itu. Dengan malas, ia kembali melanjutkan jalannya menuju ruang cuci dan menatap cucian tersebut dengan pandangan nanar.

"Aku akan mencucinya. Beristirahatlah."

Sakura kembali menoleh ke arah Kakashi, namun gadis itu tetap melanjutkan aktivitasnya. Menyalakan keran air, lalu mulai duduk di tempat mencuci. Namun baru beberapa detik ia duduk dan ingin mengambil potongan pakaian pertama, sepasang tangan dengan mudah mengangkatnya dan orang itu menatapnya dengan pandangan tajam.

"Kubilang, beristirahatlah." Ujar Kakashi mengulang.

"Tidak usah sok kuat, Kakashi. Kau baru sembuh dari sakit, kau tahu? Aku tidak sanggup mengangkatmu kalau kau pingsan nanti." Sakura menolak dengan cepat, lalu mendorong Kakashi dan menatapnya lurus. "Lagipula sudah tugasku mengerjakan pekerjaan rumahmu."

Kakashi berdecak pelan. "Menyebalkan sekali. Lebih baik buatkan aku kopi dan mandi. Kau tidak tahu kalau kau itu bau?"

"Hei, kurang ajar!" jerit Sakura marah, melempar kemeja Kakashi yang sedang ia pisahkan ke arah pemiliknya. "Kau tahu kenapa aku bau? Karena mengurusimu! Bukannya berterimakasih, kau malah bersikap menyebalkan seperti ini. Kalau ada yang menyebalkan di rumah ini, itu pasti dirimu!"

Kakashi menahan tangan Sakura yang hendak memukulnya, lalu pandangannya pada gadis itu melembut. "Kalau kau terus berteriak seperti itu, tidak akan ada laki-laki yang tertarik untuk menjadi suamimu. Sekarang, beristirahatlah. Aku berjanji tidak akan pingsan saat mencuci baju-baju ini."

Sakura menatap pria di depannya beberapa detik, lalu secara perlahan melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman tangan Kakashi. Matanya masih mengerjap dengan bingung akan perlakuan pria itu yang berbeda dari biasanya.

"Jangan sentuh baju-bajuku. Sudah kupisahkan." Gumam Sakura, masih dengan nada ketus. Tentu saja. Siapa yang ingin pakaian pribadinya di ketahui bahkan di cuci oleh pria yang jauh lebih tua darinya?

Kakashi memandang punggung gadis itu dengan senyuman tipis di bibirnya. Untung saja teman lamanya yang juga menjadi guru di sekolah yang sama dengan tempatnya mengajar mau menggantikan jamnya hari ini. Tubuhnya memang masih belum mau diajak untuk bekerja sama, dan ini semua karena kejadian kemarin sore.

Memikirkannya membuat rahang Kakashi mengeras. Tanpa sadar, ia terus memeras baju yang ada dalam genggamannya tanpa tahu kalau air yang ada di baju itu sudah cukup habis. Dengan geram, ia meletakkan baju tersebut ke dalam bak dan mulai mencuci.

"Uchiha sialan. Kalau saja ia bukan rekan bisinis perusahaan, sudah kubunuh dia." Ujar Kakashi sedikit mendesis, agar Sakura tidak mendengarnya. Bagiamanapun juga, ia antipati pada reaksi gadis itu karena seperti yang kita tahu, Sakura sangat menghindari Sasuke. Kalau sampai ia tahu Kakashi tadi malam bertengkar dengan Sasuke, gadis itu bisa dipastikan tidak akan berhenti berbicara.

Untung saja pria itu jauh lebih muda darinya. Dibandingkan dengan lukanya, luka Sasuke jauh lebih banyak dan lebih ekstrem. Siapa yang salah? Mengajak seseorang yang delapan tahun lebih tua untuk berkelahi adalah suatu kesalahan fatal, bukan? Kecuali, kalau Sasuke adalah pemegang sabuk hitam yang sudah sangat mahir.

Sayangnya, Kakashi-lah pemegang gelar tersebut.

Kakashi mencuci baju-bajunya dan tersenyum kecil. Saat-saat seperti ini pernah dialaminya beberapa bulan lalu, sebelum Sakura datang malam itu dan akhirnya tinggal di rumahnya. Mengingat hal tersebut, senyuman Kakashi segera mengembang menjadi sebuah kekehan kecil.

"Terimakasih karena sudah menitipkannya padaku." Gumam Kakashi, menuangkan sabun cair ke dalam mesin cuci. "Aku berjanji akan menjaganya sampai kalian menyerahkannya menjadi milikku."

Pria itu kemudian menggelengkan kepalanya. "Apa yang baru saja kukatakan? Apa aku sudah gila?"

Kakashi terus berbicara pada dirinya sendiri sembari menatap kaca pada mesin cuci yang menampilkan baju yang berputar-putar di dalamnya. Pikirannya benar-benar kacau saat ini.

Entah sudah berapa lama ia memandangi mesin cuci tersebut, sampai sesuatu yang basah mengenai wajahnya. Pria itu mengerjap kaget, memfokuskan pandangannya dan berdecak kesal sembari melempar handuk itu kembali ke pemiliknya. Terdengar suara tawa lepas dari Sakura, lalu gadis itu berjalan mendekat ke arah Kakashi.

"Aku bisa menjadi pendengar yang baik, lho." Ujar Sakura, menampilkan matanya yang menyipit karena tersenyum. "Sudahlah. Kita lupakan semua beban dan sekarang chat time!"

Kakashi mengerutkan keningnya ketika sadar Sakura sudah menariknya menuju halaman belakang. Sinar matahari yang cukup terik membuat Kakashi sedikit menyipit. Sakura menarik sebuah kursi taman dan memberikannya pada Kakashi, lalu ia menarik sebuah kursi lagi untuk dirinya sendiri.

"Nanti kita akan menjemur pakaian karena sepertinya matahari akan terik hari ini." Sakura menatap Kakashi, mengeringkan rambutnya yang masih basah. "Sekarang, ceritakan padaku. Apa yang terjadi tadi malam sehingga kau bisa pulang dengan keadaan menyebalkan seperti itu?"

Kakashi menatap Sakura malas. "Ini tidak penting sama sekali."

"Hei, enak saja! Ini dapat membuatmu menjadi sedikit terbantu, kau tahu?" jerit Sakura kesal, merasa idenya benar-benar ditolak oleh Kakashi. "Jangan sampai aku menunjukkan jurus andalanku, karena itu akan menjadi sesuatu yang membuatmu menjadi terkejut."

"Apa?" tanya Kakashi bingung.

Sakura tersenyum. "Jangan. Nanti kau menyukaiku."

Sakura memang tahu apa yang dapat membuat wajah Kakashi memerah. Pria itu menyembunyikan wajahnya dengan menunduk; diam-diam ia menggerutu dengan sangat kesal. Kenapa gadis yang usianya jauh sekali dibawahnya sanggup untuk membuatnya berdebar seperti ini? Astaga!

Kakashi menghela nafasnya. "Kau benar-benar ingin tahu, ya?"

Gadis itu membeku dan menatap Kakashi dengan kaget. Kenapa nada bicaranya berubah? Apa Kakashi sudah mulai marah lagi padanya?

"Kalau kau tidak mau juga tidak apa––"

"Aku berkelahi dengan Sasuke."

Sakura menatap Kakashi dengan alis terangkat. "Siapa itu Sasuke?"

Kakashi balas menatap Sakura dengan sebuah senyuman terkembang di bibirnya. Tangan kanannya terulur untuk meraih puncak kepala Sakura, lalu mengacak rambut gadis itu dengan pandangan kau-terlalu-polos-dan-nyaris-dungu-nya.

Namun sepertinya, Sakura salah menfasirkan tindakan tersebut.

"Penguntitmu."

Sakura langsung membelalakkan matanya dan menatap Kakashi dengan bingung. Mulutnya terbuka dan tertutup, ia hendak menyampaikan sesuatu namun sepertinya hal tersebut tertunda karena ekspresinya yang masih tidak terbaca oleh Kakashi.

"Itu-lah kenapa aku tidak mau memberitahukanmu." Gumam Kakashi, menatap Sakua dengan matanya yang sayu. "Kau hanya ingin mengetahuinya, kan? Aku sudah memberitahumu, jadi––"

"Maafkan aku." Potong Sakura cepat, menarik kursinya agar ia dapat duduk lebih dekat ke arah Kakashi.

"Kalau aku tahu ia yang membuatmu seperti ini, aku benar-benar akan langsung pulang saat itu. Ditambah lagi, aku malah bersenang-senang dengan teman-temanku. Ia memukulmu karena aku, 'kan? Tidak ada alasan lain baginya untuk memukulmu selain aku. Ia melihat kau selalu ada disampingku sehingga ia berpikir kalau kau adalah kekashiku dan itu membuatnya marah, lalu mengajakmu bertemu untuk menghabisimu disana. Aku sangat menyesal, kau tahu itu? Aku benar-benar minta ma––"

Kakashi menyentil kening Sakura dengan jari tangannya. Ia tertawa ketika Sakura segera melepaskan tangannya dari wajahnya dengan ekspresi kesal. Dari air muka gadis itu, Kakashi dapat menebak Sakura kaget dan bingung karena biasanya––lebih tepatnya dalam drama romantis yang gemar ditonton oleh Sakura––untuk menghentikan seseorang bicara, telunjuk akan diletakkan di depan bibir atau mungkin sebuah kecupan singkat. Dan...

Tindakan tadi sama sekali tidak romantis.

"Tidak usah menyalahkan diri sendiri, nona Haruno." Ujar Kakashi, tertawa geli. "Biar kujelaskan padamu tentang semuanya. Pertama, ia hanya laki-laki ingusan yang terpancing emosi sesaat sehingga tidak dapat berpikir dengan akal sehatnya lagi. Ia pikir ia yang terhebat, tanpa tahu siapa lawannya."

Sakura berdecak. "Menjijikkan."

"Aku serius. Percayalah, luka Sasuke jauh lebih parah daripada lukaku." Pria itu menatap Sakura dengan pandangan lembutnya yang selama ini tidak pernah diketahui Sakura. "Kedua, kalau ia menganggapku sebagai kekasihmu, biarkan saja. Setidaknya ia tidak akan berani mengganggumu lagi, kan?"

Kepala bersurai pink itu menggeleng. "Aku tidak mau. Susah untuk melakukannya, kau tahu.."

"Maksudmu?" tanya Kakashi bingung.

Sakura menatap Kakashi dengan kedua mata beriris hijaunya. Bibirnya bergerak untuk mengatakan sesuatu, namun kemudian kepalanya menggeleng cepat.

"Lupakan saja." Ujar Sakura lirih, lalu bangkit dari duduknya. "Maafkan aku. Bagiamana kalau kita berbincang lain kali saja? Aku mengantuk dan aku belum tidur. Sampai nanti."

Kakashi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia menyadari perubahan suasana yang menjadi canggung––semua itu karena perkataan Sakura. Sebenarnya apa yang ingin gadis itu katakan? Apakah hal itu hal yang penting?

Sakura berbalik dan menggerutu dalam hatinya. Apa yang kau lakukan, bodoh?

Gadis itu terdiam ketika sepasang tangan meraih bahunya dan segera membaliknya dengan satu putaran.

Dengan sangat perlahan, Kakashi mengecup kening Sakura, seolah-olah gadis tersebut terbuat dari kapas dan sentuhan anginpun dapat menghancurkannya.

"Jangan mimpikan aku, ya?"

Dan sebuah tendangan pada tulang keringnya cukup membuat Kakashi mengumpat kesal.


halo semuanya! pertama-tama, aku ucapin makasih yang sebesar-besarnya buat kalian yang udah review, follow, dan favorite cerita ini. yeay!

yang kedua, aku minta maaf karena gak bisa balesin review kalian satu-satu. mungkin diawal-awal masih bisa, tapi sekarang udah gak bisa. jadi maaf ya :'

( tapi nanti kalo cerita ini udah selesai, aku bakal jawab pertanyaan kalian satu-satu kok. tenang aja.

yang ketiga, uas udah selesai! yeay! jadi sekarang bisa nulis ceritanya tanpa beban, deh!

oh ya, buat yang penasaran sama ini itu, tungguin aja ya. makanya, jangan lupa review supaya authornya semangat nulis! hihihi. maaf kebanyakan ngomong. semua apresiasi kalian aku tampung. enjoy this fic. bye bye!