I don't own Naruto.

Naruto is belong to Masashi Kishimoto.

But this story is mine. Please enjoy the story. ^o^

.

.

.

.

.

Summary: "Shion-nee adalah cinta pertamanya. Mereka cukup bahagia ketika menikah..." / "Kakakku tidak pernah berpikir serumit itu, Nee-chan. Dia hanya tidak ingin disakiti lagi. Baginya menikah 1 kali sudah lebih dari cukup..." / "Kumohon, hentikan aku sebelum aku melakukan hal yang lebih jauh dari ini, Naruto." / "Aku akan bertingkah sesuai dengan apa yang kau lakukan. Kau bertingkah bodoh, aku juga akan melakukan hal yang sama. Kau bertingkah baik, aku juga akan bertingkah baik."/ "Tersenyum terus, eh? Apa yang kau pikirkan Uchiha?"/ "...Namaku Namikaze Sakura. Kalau-kalau kau lupa."

.

.

.

.

.

.

.

6. Deeping

.

Naruto terbangun dari tidurnya. Aroma cherry menusuk-nusuk hidung membuat tubuhnya 'bereaksi'. Dia benci keadaan seperti ini. Selama 2 minggu setelah Sakura melakukan hal gila untuk membawanya pulang dari bar, reaksi tubuhnya selalu seperti ini.

"Gadis menyebalkan. Apa yang sebenarnya kau lakukan padaku?"gerutunya sembari menatap gadis yang tertidur di sampingnya.

Wajah Sakura begitu lembut dan damai. Dengkur halusnya membuat Naruto tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok yang ada di sampingnya.

"Kalau tidur dia terlihat lemah. Coba saja kalau bangun. Tingkahnya selalu membuat kepalaku pusing. Dasar tsundere."gumam Naruto.

Laki-laki pirang itu merebahkan dirinya kembali ke tempat tidur. Merubah posisinya sampai tidak menghadap Sakura. Berusaha memejamkan mata. Benar saja, kehidupan tanpa alkohol sangat memusingkan. Dia selalu kesulitan untuk tertidur karena Sakura memaksanya membuang semua persedian alkohol yang ada di rumah. Melarangnya untuk pergi ke bar atau club. Dasar gadis aneh.

.

.

Air dingin membasahi kerongkongan Sakura. Kegelisahan yang didapatinya karena untuk kesekian kalinya dia terkejut ada sosok laki-laki yang tidur di sampingnya. Sekalipun sudah berbulan-bulan itu terjadi, tetap saja membuatnya panik. Kegelisahan itu berkurang ketika Sakura melirik jari manis kirinya dan mendapati cincin berlian sederhana yang terselip di sana. Dia sudah menikah. Wajar saja kan kalau dia tidur di satu tempat dengan suaminya?

"Tidak... jangan..."

Sakura mengerutkan alisnya. Apa Naruto mengigau? Penasaran, Sakura melangkahkan kakinya kembali ke kamar.

"Naruto?"

Laki-laki itu bergerak gelisah dalam tidurnya. Alisnya berkerut dan seluruh tubuhnya berpeluh. Semenjak tidak mengonsumsi alkohol, tidur dengan penuh kegelisahan selalu mewarnai tidurnya.

"Jangan... kumohon..."

"Naruto?" Sakura mengguncang bahu Naruto lembut. Berharap laki-laki itu terbangun dari apapun mimpinya. Tapi laki-laki itu bergeming. Gerakan tubuhnya semakin gelisah. Tanpa berpikir panjang, Sakura memeluk tubuh tegap itu dan mengelus rambut pirangnya secara ritmis. Gerakan yang semula gelisah itu perlahan mulai tenang. Kerutan di dahi Naruto berkurang dan gumaman di bibirnya perlahan hilang.

"Apa yang sebenarnya terjadi padamu sampai kau jadi begini Naruto? Apa benar hanya karena sebuah perceraian kau jadi terlihat kacau seperti ini?"gumam Sakura tanpa melepaskan pelukannya.

Rasa nyaman yang dirasakannya sejak beberapa saat yang lalu mengundang rasa kantuk. Sakura kembali terlelap dengan masih memeluk Naruto. Menikmati wangi citrus yang menguar dari tubuh Naruto. Sesuatu dalam dirinya berubah. Sesuatu dalam dirinya mencair. Hari ini, entah mengapa Sakura terketuk ingin menghilangkan duka yang dirasakan Naruto. Tidak hanya menyembuhkan kehausan Hikari akan sosok ibu, tapi juga menjadi tempat sandaran terbaik bagi Naruto, suaminya.

.

ooo

.

"Kenapa kau melotot? Apa ada berita penting yang disampaikan atasanmu, Shika?"tanya Ino. Laki-laki berambut nanas yang duduk di hadapannya itu masih belum bereaksi. Matanya masih tertuju pada ponselnya seolah ponsel itu mengirimkan berita duka dari neraka.

"Ada apa?"desak Ino. Kali ini mengguncang lengan atas Shikamaru agar mendapat perhatian penuh darinya.

"Sasuke..."

"Kenapa dengan Sasuke-chan, Shika?"

"Dia pulang ke Jepang Ino. Dia memintaku menjemputnya."

Gadis pirang itu tertawa begitu tau hanya karena berita itu saja Shikamaru terlihat pucat. Seolah darah sudah tersedot habis dari darahnya.

"Harusnya kau senang Shika. Kita sudah lama tidak melihat Sasuke-chan kan? Kenapa harus merasa panik?"

"Apa kau lupa kondisi Sakura saat ini?"

"Apa maksudmu?"

Shikamaru menggelengkan kepala gemas. Ino luar biasa menyebalkan saat seperti ini. Otak encer wanita itu tidak bisa menangkap apa yang dimaksudkannya.

"Sakura yang sekarang adalah Sakura yang sudah menjadi istri orang lain. Dia bukan lagi pacar Sasuke. Dan kau pikir apa yang pertama kali akan ditanyakan olehnya kalau bukan Sakura, Ino?"

Ino tersedak jus mangga yang diminumnya. Kenapa bayangan tentang itu tidak terpikir olehnya? Padahal sudah jelas sekali hampir 3 tahun Sasuke tidak memberi kabar. Tentu saja 'mereka' lupa memberitahukan kabar itu kepada Sasuke. Berita menikahnya Sakura di awal kedatangan Sasuke hanya akan membunuh pria itu.

"Ap...apa yang harus kita lakukan? Aku akan memberitahu Sakura dan..."

"Aku ke bandara sekarang."

Shikamaru berdiri dari kursinya dan berjalan ke meja kasir. Membayar makan siang mereka tanpa menunggu Ino bersiap.

"Tunggu Shika! Aku ikut."

"Terserah saja. Jangan berlama-lama Ino."

.

ooo

.

"Baka Otouto. Kau ingin membuatku terkena serangan jantung karena datang tanpa mengabari? Kau lihat ibu? Dia tidak berhenti menitikkan air mata karena kepulanganmu yang tidak didului dengan kabar. Kau bahkan mengabari Shikamaru tapi tidak dengan kami."omel Itachi pada adik semata wayangnya.

"Yare yare... kau berlebihan Aniki. Kau tidak senang aku pulang?"tanya Sasuke dengan senyum jahil. Dia tau Itachi akan menyerah dan duduk di sampingnya. Balkon kamar Sasuke tepat menghadap jalan pertokoan. Membuat mereka bisa mengamati lalu lalang yang ada di hadapannya. Keramaian yang sangat dirindukan oleh Sasuke setelah 3 tahun pergi.

"Kami semua senang. Tapi sikapmu itu memang mengejutkan. Seharusnya kau tidak membuat kami sepanik ini."

"Tidak akan kuulang. Aku janji."

"Kau tidak akan mengulanginya karena setelah ini kau tidak akan pergi ke luar negeri lagi. Benar begitu kan?"

Sasuke tergelak. Sikap kakaknya ini benar-benar menggelikan. Laki-laki yang terkesan dingin itu terlihat seperti anak kecil yang baru saja melihat adiknya kembali dari perjalanan jauh. Yang benar saja. Mereka sama-sama bukan anak kecil. Itachi sudah berkeluarga dan memiliki 1 putra. Itachi sendiri sudah meneruskan restoran soba turun-temurun milik keluarga Uchiha. Sementara Sasuke... usianya sudah 24 tahun. Sudah cukup dewasa untuk menentukan apa yang akan dilakukannya tanpa bertanya pertimbangan siapapun kecuali itu memang dibutuhkan.

"Kakak tau? Ketika aku pertama kali menginjakkan kaki kembali di Tokyo, aku sempat kebingungan. Banyak sekali yang berubah. Banyak tempat yang nyaris tidak kukenali. Aku takut... terjadi banyak perubahan yang tidak dapat kuterima. Apakah semua teman yang kukenal masih sama? Apakah keluargaku akan memberikan sambutan sehangat yang aku ingat? Aku ketakutan. Sampai akhirnya aku meminta Shikamaru menjemputku. Dia datang bersama Ino. Mereka berdua memperlakukanku sama persis dengan sebelum aku pergi. Aku lega sekali."

"Kau merasakan semua itu karena kau menutup diri selama 3 tahun terakhir. Selama bertahun-tahun kau hanya mengirim email kepada keluargamu 1 bulan sekali. Seolah menjadi pertanda kau masih hidup saja. Kau tidak mengabari teman-temanmu. Banyak hal yang sudah berubah, itu benar. Tapi tidak ada satupun dari itu semua yang boleh kau sesali."

"Aku tau."

Itachi tersenyum sembari menjitak kepala adiknya. "Kau bertambah dewasa dalam beberapa hal. Tingkahmu yang seperti ini membuatku merasa tua."

"Umur 34 memang sudah tua kan? Baka Aniki."

"Yare yare... terserah saja."balas Itachi malas. Laki-laki itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. "Ah, lupa. Ibu menunggumu di bawah Sasuke."

"Hai. Aku akan turun sebentar lagi."

Sepeninggal kakaknya, Sasuke kembali melamun. Apa yang kira-kira akan dilakukannya setelah ini? Menemui Sakura? Melamarnya?

Tidak... dia tidak mungkin melakukannya dulu tanpa adanya pekerjaan. Dia harus mengurus kepindahannya ke kantor pusat yang ada di Jepang. Menemui bagian kepegawaian dan memberikan surat dari kantor lamanya.

"Kuharap kau masih Sakura yang sama. Maafkan aku. Bahkan setelah pulang ke Jepang pun aku masih belum bisa menemui dirimu dulu Sakura. Bukannya aku pengecut. Aku hanya... ingin bertemu denganmu dan merancang kehidupan kita sebagai satu keluarga. Kuharap ini semua tidak mengubah apapun."gumamnya.

Sasuke menatap ke arah bulan dan merapalkan banyak doa. Pertemuannya dengan Sakura kali ini harus berakhir dengan bahagia. Bagaimanapun caranya.

.

ooo

.

"Apa penjelasanku semalam kurang jelas, Murakame? Kalau kau tidak melakukan tiltrasi terlebih dahulu, kita tidak bisa melakukan uji produknya. Lagipula, apa sih yang kau lakukan 1 minggu terakhir? Ini hanya soal sederhana. Aku hanya memintamu untuk melakukan tiltrasi yang bahkan anak SD saja mampu melakukannya."

"Ma...Maaf Hinata-san. Ini benar-benar..."

Brak. Laporan berisi hasil kerja Murakame dilempar begitu saja oleh Hinata. Dia harus memulai penelitiannya dari awal hanya karena kecerobohan seseorang seperti ini.

"Perbaiki itu dan keluar dari ruanganku. Aku akan melaporkan pada bagian produksi kalau uji produk tidak bisa dilakukan sekarang."

Murakame membungkuk 90 derajat sebelum keluar dari ruangan Hinata. Wanita muda itu salah satu pimpinan perusahaan yang memiliki standar tinggi dalam menilai pekerjaan. Dia tidak segan memecat karyawannya jika karyawan yang dipimpin dirasa kurang kompeten olehnya. Dengan mata lavender pucatnya, rambut indigo yang disanggul tinggi, dan keseriusannya dalam menangani sesuatu membuat wanita itu dikenal sebagai ratu es di kalangan para pekerja.

Wajar saja. Hinata terbiasa hidup dalam kesempurnaan dan ketepatan. Sesuatu yang tidak sesuai perkiraannya adalah sesuatu yang salah. Begitu juga dengan bagaimana cara Hinata menata hidupnya. Laki-laki, keluarga, dan juga pekerjaannya. Semua haruslah sempurna.

.

.

"Jadi Tuan Uchiha, anda sudah bekerja di Dubai selama 1 tahun? Kau juga tercatat sebagai mahasiswa selama masa kontrak percobaan?"

"Benar."

"Baiklah... Sepertinya kau memang memiliki kualifikasi seperti yang diterangkan Tobi. Kuharap semua yang tertulis memang benar-benar bentuk dari dedikasimu terhadap perusahaan."

"Saya akan sangat berusaha, Orochimaru-san."

"Bagus. Semangat yang luarbiasa di awal bekerja. Selamat bergabung kalau begitu, Tuan Uchiha."

"Terima kasih."

.

.

"Baiklah... Aku akan ke sana... Ya... Tunggu saja... Ne..."

Hinata menutup ponselnya dan mendengus sebal. Dia tidak suka seluruh rencananya gagal. Dia harus menyelesaikan banyak proyek dalam 3 bulan terakhir ini. Sementara sepupu jauhnya, Hyuuga Neji, sibuk mengurus pernikahannya dan membuat Hinata pusing karena permintaannya yang tidak masuk akal.

"Dia pemaksa yang luar biasa. Dasar aneh."gerutu gadis bermata amethyst itu.

Tanpa menyadari sekitarnya, atau lebih tepatnya menyadari lantai basah yang baru saja di pel oleh karyawan di sana, Hinata berlari dan...

BRUK!

"Aw."

Sengatan nyeri yang dirasanya di pelipis tidak sebanding dengan sesuatu yang terasa menyangga dadanya. Mata Hinata terbelalak ketika menyadari tangan laki-lakilah yang menyangga 'tubuhnya'.

"Ap...Ap...apa yang kau lakukan dasar hentai!"

Buagh!

Laki-laki yang semula ada di bawahnya itu jatuh terkapar. Bagian belakang kepala laki-laki itu membentur lantai dengan keras. Sementara Hinata berjalan menjauh sembari mendekap dadanya dengan air mata yang membayang di sudut kedua matanya.

"Tunggu... Apa salahku?"tuntut laki-laki berambut raven itu dengan tatapan galak. "Kau yang jatuh di atasku kan? Kenapa kau memukulku?"

"Kau... Apa yang tadi kau sentuh?! Hah?!"

"Ap... " Sasuke membeku selama beberapa saat. Menyadari kalau selama beberapa detik tadi dia merasakan tekstur kenyal dari sesuatu yang... lembut? Apa mungkin... Kami-sama. Ini hari pertamanya bekerja di sini. Kenapa harus mengalami masalah menjijikkan seperti ini sih?

"Hei! Bukan salahku kan? Kau yang jatuh sendiri. Kenapa jadi aku yang salah?"protes Sasuke setelah berhasil berdiri tegak. Oh, ini buruk. Dia sudah menjadi tontonan massa sekarang. Banyak dari karyawan yang berlalu lalang menatap mereka berdua dengan tatapan penasaran.

"Po...Pokoknya..."

Sasuke mendengus sebal. Tangan kekarnya menarik lengan ramping Hinata. Membawa wanita menyebalkan itu menjauh dari kerumunan yang mulai terbentuk.

"Ba.. Baka! Apa yang ingin kau lakukan?! Lepaskan tanganku!"

Setelah menemukan lorong yang cukup sepi dari hingar-bingar karyawan, Sasuke melepaskan lengan wanita itu. Ekspresi dingin yang keluar dari kedua matanya mampu membekukan air dalam gelas. Hinata berusaha menjaga nafasnya agar tidak ikut membeku seperti air dalam bayangannya. Ya ampuuunn... bagaimana bisa ada laki-laki seperti ini?

"Nah, sekarang katakan apa masalahmu Nona? Jangan membuatku merasa seperti orang paling brengsek di dunia."

"Kau memang... pervert!"

"Atas dasar apa kau mengatakannya?"

"Kau tidak ingat? Kau... Kau sudah memegang dadaku!"

"Dan? Apa kau tidak bisa membedakan mana yang sengaja dan tidak? Apa aku terlihat sangat ingin melakukannya? Aku bahkan syok kau terjatuh di atasku. Reaksi tanganku hanya karena aku ingin melindungi diri."

"Tetap saja! Kau sudah menyentuh bagian tubuh yang amat kujaga!"

"Cih!"rutuk Sasuke. Amarah yang sudah menyebar di otaknya berusaha di tahan olehnya. Dia tidak boleh terpancing. "Aku memiliki pacar yang lebih dari segala-galanya dibandingkan kau, Nona. Aku benar-benar tidak tertarik sekalipun kau cantik."

"Aku kasihan pada pacarmu karena harus terjebak dengan laki-laki mesum sepertimu."

"Oh ya? Aku juga cukup kasihan dengan siapapun pasanganmu karena kau terlihat seperti setan bermata putih yang galak."

"Baka!"

"Sadako!"

"Setan pantat ayam!"

...

Setelah beberapa teriakan dan juga ejekan yang tidak bermutu...

Sasuke terengah. Lelah untuk marah dan berteriak. Wanita ini memang benar-benar menguji ketahanan mentalnya. Emosinya sudah dipancing semaksimal mungkin. Dia tidak ingin berdebat dan menghancurkan segala kesempatan emas yang bisa dicapainya ketika bekerja. Dan sekalipun Uchiha tidak pernah bisa mengalah dalam banyak hal, kali ini Sasuke memilih untuk diam dan pergi meninggalkan wanita itu.

Sementara itu, Hinata berteriak histeris karena bukannya selesai, masalah yang dihadapinya malah menggantung dengan sempurna karena laki-laki itu meninggalkannya. Dia juga terlambat bertemu dengan sahabat baiknya.

"Awas saja kau pantat ayam... akan kubuat kau menyesal karena mengenal Namikaze Hinata."

.

ooo

.

Deidara berusaha menyadarkan Naruto yang melamun di tengah meeting penting. Sejumlah client hanya bisa menahan rasa penasaran atas sikap tidak biasa dari direktur perusahaan ternama di Jepang itu.

"Apa kau sudah selesai Naruto?"bisik Deidara setelah 10 dehaman darinya tidak mampu membuat Naruto bangun dari pikirannya.

"De...Dei-nii! Apa yang..."

Naruto terdiam. Ditatapnya satu per satu wajah orang yang duduk melingkar di hadapannya. Sial! Dia bahkan lupa kalau dia sedang meeting.

"Maaf. Ada beberapa hal yang menyita perhatianku tadi. Bisa kita lanjutkan diskusinya?"tanya Naruto. Beberapa dari rekan kerjanya hanya tersenyum maklum.

"Apa memang ada permasalahan serius Namikaze-san? Kami akan menunda rapatnya beberapa jam kalau anda mau."

"Tidak usah. Yang kupikirkan sudah bertemu solusinya. Jadi, sampai dimana kita tadi?"

"Mengenai persetujuan proyek di Fukuoka. Kami sedang merencanakan pembangunan di distrik..."

.

.

Naruto menghembuskan nafas panjang. Rapat tadi dapat dilaluinya dengan baik sekalipun sempat terhenti karena lamunan konyolnya atas wajah Sakura. Kami-sama! Wanita itu tidak hanya mengusik ketika wujudnya ada. Tapi juga ketika raganya tidak ada di hadapan Naruto, kehadirannya sangat mempengaruhi.

"Banyak hal yang dilalui pengantin baru, eh?"tanya Deidara jahil.

"Kau menyebalkan."

"Menikah bukan masalah yang harus dibicarakan sampai kau bertingkah seolah tidak memiliki kesempatan untuk bahagia."

"Kau tidak tau aku menikah dengan siapa kan?"

Deidara tertawa kencang. Membuat Naruto semakin sebal dengan wanita yang bahkan kehadirannya tidak ada di ruangan ini. Sakura telah sukses membuatnya menjadi bahan ejekan.

"Justru sebaliknya. Aku sangat mengenal gadis itu. Cukup lama malah. Jauh sebelum aku mengenalmu."

"EH?"

"Dia sahabat baik adikku. Kau ingat Ino kan?"

Naruto mengangguk.

"Kami sudah berteman bahkan sebelum dia lahir."

"Jangan konyol, Dei-nii."

"Sungguh. Aku mengenal baik keluarganya. Pasangan yang saling mencintai. 2 tahun setelah menikah, mereka mendapatkan bayi cantik berambut pink yang diberi nama Sakura."

"Bagaimana kau bisa mengenalnya? Apa dia tetanggamu?"

Deidara mengangguk. Tatapan matanya menerawang ke arah langit-langit. Berusaha mengenal masa kecilnya dulu.

"Dia tetanggaku. Sebelum Ayahku membeli kediaman Yamanaka yang sekarang, kami tinggal di kawasan pertokoan Konoha. Dan secara kebetulan, Ayahku dan Ayah Sakura adalah teman baik selama kuliah. Ayah menikah lebih dulu dan ibu melahirkanku 1 tahun setelah pernikahan mereka. Tapi, aku tidak hanya mengenal keluarga Haruno saja. Aku juga mengenal beberapa keluarga lain. Termasuk keluarga sepupumu."

"Keluarga Uzumaki?"

"Ya." Deidara mengangguk.

"Dan bagaimana kau mengenal Sakura selama ini?"

"Kau ingin tau?"goda Deidara. Naruto merengut sebal dan memandang jendela ruangannya seolah tidak tertarik dengan topik yang membicarakan istrinya.

"Sakura gadis yang baik. Dia sangat peduli dengan keluarganya. Tapi masa lalunya buruk. Keluarganya hancur hanya karena kabar yang tidak benar. Ayahnya difitnah dan dipenjarakan. Ibunya sakit-sakitan semenjak itu. Dia yang masih SMA waktu itu berusaha menghidupi ibu dan juga adiknya. Karena masa lalunya, dia tidak pernah membiarkan orang lain hidup dalam penderitaan. Terutama kesepian."

Hening. Naruto hanya bisa menatap sosok seniornya itu dengan tatapan tidak percaya. Apa benar itu yang menjadi salah satu alasan mengapa Sakura begitu bertekat ingin menyelamatkan putranya?

"Tapi, yang tidak pernah hilang dari Sakura adalah... dia orang yang berisik. Sikapnya yang tsundere itu masih belum hilang sekalipun sudah dewasa. Kau harus tahan dengan semua itu."

"Dei-nii..."

"Oke. Baiklah... sepertinya aku berbicara terlalu banyak. Orang yang menjadi objek pembicaraan kita sudah berdiri di depan pintumu sejak 15 menit yang lalu. Dan tentu saja, dia mendengar semua yang kita bicarakan dari awal."

Deidara berjalan menuju pintu ruangan. Menepuk kepala Sakura dengan tatapan sayang seorang kakak.

"Jaga dia ya? Hatinya benar-benar rapuh Sakura. Hanya kau yang keras kepala ini yang mampu membuatnya keluar dari zona bekunya."

"Um. Aku akan berusaha, Dei-nii."ujar Sakura yakin.

Sementara itu, Naruto yang saat ini tengah memandang sosok dua orang yang dikenalnya sembari mendengus sebal. Kenapa orang-orang di sekitarnya begitu mudah terikat dengan gadis merah muda itu? Kenapa gadis itu pandai membuat semua orang menyukainya? Kenapa?

"Ada apa?"tanya Naruto sengit.

"Aku hanya ingin mengajak suamiku yang cerewet ini berbelanja."

"Aku tidak tertarik."tolak Naruto dingin.

"Hei, baka! Apa kau ini memang hobi dipaksa? Aku sudah mengajakmu secara baik-baik."

"Dan aku sudah menolaknya, Permen."

"Kau ikut atau aku akan membuat keributan 'panas' di sini?"

Naruto menelan ludah. Sudah cukup banyak yang dilakukan gadis itu padanya. Sakura sudah membuatnya teringat dengan segala rasa di tubuh wanita itu hanya dengan wangi cherry yang selalu menguar dari tubuhnya. Dan beberapa hari ini Naruto bangun dalam dekapan wanita aneh itu. Dan membantahnya? Itu bukan pilihan yang baik karena Naruto amat yakin, sekali tubuhnya bersentuhan untuk kesekian kalinya dengan wanita itu, Naruto akan kehilangan semua pengendalian dirinya dan terjebak dalam candu yang tidak pernah habis.

"Baiklah. Terserah saja."

"Yey!"

Sakura terlonjak girang dan menarik tangan Naruto. Tidak peduli dengan raut malas yang ditampakkan suaminya.

"Kaa-chan berhasil mengajak Tou-chan mu, Hikari. Mari kita pergi sekarang."

Mata Naruto membulat. Menatap bingung sosok balita yang memiliki wajah persis sepertinya itu tanpa berkedip. Sakura sudah merencanakan ini. Sakura berusaha mendekatkannya dengan anak kandungnya sendiri.

"Aku sayang Tou-chan."ucap balita itu spontan sembari memeluk kaki Naruto.

Tubuh Naruto bergerak tanpa disadarinya. Diangkatnya tubuh balita itu ke dalam gendongannya dan berjalan bersama Sakura menuju mobil sport Jaguar kuning miliknya. Dalam diam, Sakura tersenyum. Dia tau sedikit demi sedikit dia sudah berhasil meluluhkan hati Naruto. Laki-laki itu akan menjadi ayah terbaik bagi Hikari. Dan mungkin juga... menjadi suami terbaik untuk Sakura. Siapa yang tau masa depan yang menanti mereka akan berakhir dengan indah? Sakura yakin masih ada kesempatan untuk meraihnya.


.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

Hai minna... Di kesempatan kali ini, Chiyo ingin mengucapkan mohon maaf sebesar-besarnya. Minal Aidzin wal Faidzin ya untuk semua umat muslim yang turut membaca fic nggak jelas ini.

Sebelumnya, Chiyo mau menyampaikan banyak terima kasih atas semua review yang... sampai Chiyo sendiri nggak tau mau bales gimana. Semua masukan yang kalian berikan bagus banget. Tapi, ada beberapa yang bisa direalisasikan karena sesuai dengan plot awal yang sudah disusun, dan ada juga yang nggak bisa. Gomennasai karena keterbatasan otak saya.

Untuk semua penggemar SasuHina, saya mau minta maaf dulu. Di chapter ini hanya bisa sampai sebatas itu dulu interaksi mereka. Maaf kalau agak garing. Saya mau menyelesaikan konflik yang terjadi antara Sasuke-Sakura plus Sakura-Naruto. Tapi Chiyo berjanji Chiyo nggak akan menelantarkan pairing SasuHina karena pairing ini selalu keren di mata saya. Lagian mereka berdua juga salah satu tokoh utama di sini. Saya nggak mungkin telantarkan begitu saja kan? Saya sudah mempersiapkan beberapa adegan romantis yang saya aja baper waktu bacanya (kamu emang tukang baper kalee). Tapi kalian harus sabar dengan semua kekurangan dan keterbatasan saya. (T^T)

At least, Selamat menikmati sajian aneh dari saya ini. See you next chap. ^_^