A/N : Maaf lama updatenya Minna-san~ Author sibuk liburan (?) Bisa-bisa ini fic update sebulan sekali nih (=_=)
Oh ya, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan ya~ Author juga puasa lohh, lumayan seharian ngetik fanfic sambil nunggu adzan magrib :3
Disclaimer : Akira Amano
Because Of You
Chapter 6
Miharu's POV
"Boleh aku masuk ke Vongola Family?"
Reborn hanya terdiam, sedangkan Tsuna, Gokudera dan Yamamoto melihatku dengan tatapan tidak percaya.
"Huwaaa apa yang aku katakan sih?! Pasti gak boleh lah, masa anak yang baru aja tau tentang rahasia mereka tiba-tiba udah gini?! Sudah pasti gak boleh nihh, aku bodoh!" Teriakku panik dalam hati.
"Boleh kok."
"Eh?" Tanyaku tidak percaya setelah mendengar suara Reborn, di dalam ruang tamu seketika menjadi hening lagi, sampai suara Tsuna berteriak memecahkan keheningan ini.
"Hieee! Re-Reborn! Kamu serius?!"
"Tentu saja."
"Ahahahaha, selamat ya Miharu! Family kita jadi makin seru nih!" Ucap Yamamoto dengan senyuman khas-nya.
"Reborn-san! Apa anda yakin mau masukin cewek gak guna kayak dia ke Family kita?!" Ucap Gokudera keras.
"Hei!"
"Tch, dari tadi nanya itu melulu. Tentu saja aku yakin, lagipula Miharu punya potensi yang bagus."
"Ha? Aku? Punya potensi...?"
"Heh, potensi apaan. Potensi gampang marah?" Ucap Gokudera lagi, lama-lama aku kesel banget sama dia...
"Hei! Emang kamu gak gampang marah hah?!" Teriakku sambil menunjuk ke arahnya.
"Apa kau bilang?!"
"Kamu gak denger?! Aku bilang-" Belum sempat aku selesaikan bicaraku, pintu ruang tamu terbuka. Di sana ibunya Tsuna sedang berdiri, dia membawa 4 buah kue dan 1 cangkir kopi di atas sebuah nampan berwarna krem.
"Ara ara, Miharu-chan dan Gokudera-kun sangat akrab ya." Ucap ibunya sambil berjalan dan mulai menaruh kue di atas meja.
"Kita gak akrab!" Kataku berbarengan dengan Gokudera, tapi sepertinya ibunya Tsuna tidak mempedulikan itu dan tetap menaruh kue-kue di depanku, Tsuna, Gokudera dan Yamamoto. Sedangkan secangkir kopi itu langsung diberikan ke Reborn yang sedang berada di atas kepala Tsuna.
Kamipun memakan kuenya dengan sedikit beberapa pertengkaran diantara aku dan Gokudera, Gokudera dan Yamamoto juga sempat bertengkar dan Tsuna sibuk menenangkan Gokudera. Lagi-lagi prilaku Gokudera berubah kalau disuruh oleh Tsuna, yahhh kali ini sih aku tau alasannya.
"Apa benar gak apa-apa aku masuk ke Vongola? Vongola itu kan organisasi mafia... Bagaimana kalau aku masuk ke dalam bahaya...? Huwaaa aku gak kepikiran sampai ke sana!" Pikirku, sekarang pikiranku sedang penuh dengan kejadian tadi. Akupun sudah berhenti memakan kueku, aku hanya memandang kuenya yang sudah setengah termakan dengan tatapan kosong. Aku memegang garpu di tangan kananku dan memainkan kueku.
"Hei, kamu gak apa-apa?" Suara itu membuatku lepas dari pikiranku yang mungkin gak ada ujungnya.
"Reborn...?" Entah sejak kapan dia sudah duduk di sebelah kananku sambil menatapku, aku melihat ke sekitar ternyata Tsuna sudah pindah dan duduk bertiga dengan Gokudera dan Yamamoto, sejak kapan? Ah, mungkin saat tadi aku melamun ya...? "Ah... Aku gak apa-apa kok, memang kenapa?"
"Apa pembicaraan tadi terlalu berat untukmu?"
"Nggak terlalu sih... Cuma rasanya gak aneh kalau Tsuna jadi Boss, soalnya dia baik, perhatian kepada sekitar, kuat... Pasti Tsuna akan jadi Boss yang baik untuk Family-nya, aku gak tau kenapa tapi rasanya aku... Tau aja." Kataku sambil mengalihkan pandanganku yang tadinya ke Reborn sekarang ke arah Tsuna.
"Hn, ternyata kamu memang berpotensi ya." Kata Reborn, yang membuatku mengalihkan pandanganku ke dia lagi.
"Potensi? Memang apa sih? Aku cuma kan cuma gadis biasa, mana mungkin aku punya potensi."
"Rahasia, pokoknya kamu punya potensi." Setelah itu aku berhenti bertanya, soalnya kalau aku tanya lagi pasti gak akan ada akhirnya.
"Kalian lagi bicara apa sih?" Tanya Tsuna kebingungan.
"Bukan urusanmu Dame-Tsuna." Reborn lalu melompat ke arah Tsuna lalu menendangnya tepat di dahi, "Ow! Apa-apaan sih?" Tsuna lalu mengusap-ngusap dahinya yang agak memerah, sedangkan Reborn hanya tersenyum. Aku tertawa kecil melihatnya, akupun melihat ke arah jam yang tertempel di dinding.
"Ah! Udah jam setengah 6! Aku pulang dulu ya Tsuna!" Kataku panik sambil mengambil tasku yang dibelakang punggungku.
"I-iya..." Jawab Tsuna, akupun memberi senyuman kepadanya sebelum keluar dari ruang tamu. Mukanyapun berubah menjadi merah, "Lucu..."
Aku berlari ke perjalanan menuju rumah, aku takut dimarahi oleh orang tuaku. Maklum, orang tuaku ini agak 'overprotective'. Keluar malam sebentar untuk ke supermarket dekat rumahkupun gak boleh, benar-benar...
Untung saja orang tauaku tidak memarahiku, kalau sampai dimarahi... Uhh kayaknya gak usah di bahas deh, yang penting kalau orang tuaku sudah marah itu sangat menyeramkan!
.
.
"Aku pergi dulu!" Kataku setelah selesai memakai sepatu, bersiap untuk berangkat ke sekolah.
"Miharu" Panggil ibuku sambil menepuk bahuku dengan pelan, "Apa bu?"
"Ini, bawa syalnya ya. Belakangan ini angin sedang kencang." Kata ibu sambil menyodorkan syalku, aku mengambil syalnya dan melilitkannya di sekitar leherku.
"Makasih bu!" Akupun membuka pintu, "Hati-hati di jalan ya." Akupun berbalik dan menatap ibuku sebelum akhirnya keluar dari rumah.
"Ya!" Akupun mulai berjalan ke sekolah, anginnya memang agak kencang. Aku beruntung karena memakai syal. Di tengah-tengah perjalanan aku melihat Tsuna dkk sedang berjalan di depan, aku berlari untuk mengejar mereka. Setelah berada tepat di belakang, aku menepuk pundak Tsuna.
"Pagi!" Tsuna terlihat terkejut sekali dan membalikkan badannya, "Mi-Miharu-chan? Pa-pagi."
"Hehehe maaf, kaget ya?"
"Pagi Miharu!" Sapa Yamamoto yang berada di sebelah kiri Tsuna, "Pagi Yamamoto-kun." Akupun berjalan dan akhirnya sampai di samping Gokudera.
"Pagi Gokudera-kun." Aku mencoba menyapanya, "Hn." Tapi dia malah nyuekin aku, dasar... Padahal sudah baik-baik aku menyapanya.
"Ihhh dingin, coba saja aku bawa syal atau sarung tangan tadi. Miharu-chan enak bawa syal." Kata Tsuna sambil menggosok-gosokkan tangannya.
"Ehehehehe."
"Ngomong-ngomong motifnya lucu tuh, beli dimana?" Tanya Yamamoto sambil menunjuk ke arah syalku. Syalku yang bewarna pink muda dengan motif bunga sakura warna pink tua.
"Gak beli kok, aku merajut ini sendiri. Ini selesainya hampir setengah tahun, tapi hasilnya memuaskan." Jawabku sambil memegang syalku.
"Miharu hebat ya! Kalau aku sih pasti gak akan selesai-selesai." Kata Tsuna agak sedih.
"Gak juga kok, aku ini masih banyak yang salah. Selesainya setengah tahunpun karena banyak yang salah, Tsuna juga kalau berusaha pasti bisa kok! Kamu ini gak Dame!" Tanpa sadar aku agak mengeraskan suaraku.
"Gi-gitu ya... Makasih ya Miharu." Jawab Tsuna dengan muka yang agak memerah entah karena malu atau kedinginan.
"Sama-sama." Dengan itu, kami berempat melanjutkan perjalanan ke sekolah.
Apa perasaanku saja atau... Dari tadi sepertinya Gokudera terus melihatku. Apa ada yang aneh di mukaku? Apa ada bekas makanan di mukaku? Atau bajuku ada yang aneh?
"Apa?" Akupun menanyakannya, dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain dan memperlambat jalannya. Membuat kami agak tertinggal dari Tsuna dan Yamamoto, tapi sepertinya mereka tidak terlalu perduli ke kita.
"Gokudera?" Kupanggil namanya dan agak mendekat kepadanya.
"Itu..." Ucapnya dengan suara kecil, tapi pandangannya masih menatap kearah lain.
"Hm?"
"Itu.., syalnya cocok sama kamu. Manis..." Eh? Apa aku salah dengar nih? Seseorang tolong beritau aku ini tuh cuma aku yang salah dengar!
Mukakupun langsung memanas dan memerah, hatiku mulai berisik... Berdegup kencang gak karuan. "Haduhh hatiku jangan berisik dong..." Keluhku dalam hati.
"Ma-makasih..." Jawabku, entah kenapa hawa yang tadi terasa dingin sekarang terasa...
Panas.
.
.
Bel istirahat telah berbunyi, dari tadi Gokudera dan aku bertingkah seperti tidak terjadi apapun... Tentu saja soal yang tadi pagi. Tapi sepertinya Tsuna menyadari ada sesuatu yang aneh, mungkin karena 'Hyper Institution'-nya ya?
Kami berempat langsung berjalan menuju atap sekolah, aku pertama yang membuka pintunya. Seketika angin berhembus menerpaku, anginnya sangat segar sekali.
"Padahal tadi pagi dingin banget tapi kok sekarang jadi panas gini..." Kataku sambil berjalan dan memandangi ke sekitar, "Tumben Hibari gak ada di sini." Pikirku heran. Kamipun duduk melingkar di pinggiran, kali ini Kyoko dan Hana gak ikut. Katanya sih ada keperluan sedikit.
"Lho Miharu-chan? Kamu gak bawa bekal?" Tanya Tsuna yang duduk di sebrangku.
"Uhh tadi kelupaan di rumah, karena sudah agak jauh dari rumah aku malas membawanya." Jawabku.
"Hmm, kenapa gak beli saja? Biasanya kan kamu suka beli." Tanya Tsuna lagi.
"Gak ah, lagi malas ke kantin. Lagipula aku gak terlalu lapar." Sebenarnya aku lapar juga sih, tapi mau bagaimana lagi, uang sakuku sudah menipis.
"Kalo gitu aku mau ke kantin dulu mau beli minum, aku lupa bawa minum." Kata Tsuna sambil berdiri dari tempatnya.
"Kalau begitu aku akan menemanimu, Juudaime!" Kata Gokudera yang ikut berdiri.
"Ah, makasih Gokudera. Miharu-chan, mau aku beliin minum?" Tanya Tsuna sambil tersenyum kepadaku, "E-eh? Gak usah Tsuna! Aku juga gak haus kok." Aku menolaknya, aku gak mau merepotkan Tsuna.
"Bagus kalau begitu, Juudaime gak akan menghambur-hamburkan uangnya cuma buat kamu." Kata Gokudera dengan santai.
"Hei! Eh, daripada itu cepet kalian pergi! Nanti keburu penuh loh!" Kataku, "Hieeee! Ayo cepat Gokudera!" Tsuna lalu menarik tangan Gokudera dan cepat-cepat menuruni tangga. Dengan begitu di sini aku hanya berdua dengan...
Yamamoto.
"Yamamoto-kun, kamu bekal apa?" Tanyaku penasaaran daripada terus diam seperti ini, di hanya tersenyum dan membuka kotak bento-nya.
"Sushi! Aku bikin sendiri loh!" Di dalamnya berjejer beberapa macam sushi, "Huwaaa Yamamoto ternyata bisa bikin sushi!"
"Ehehehe ini karena aku punya restoran sushi, aku belajar dari ayahku."
"Wahhh punya restoran sushi."
"Mau coba?" Tanya Yamamoto, "Ah gak usah, aku-" Belum selesai aku menolaknya Yamamoto memasukan sepotong sushi ke mulutku, akupun memakai tanganku dan memakannya.
"Gimana?"
"Enak!" Kataku dengan semangat, soalnya baru pertama kali ini aku memakan sushi seenak ini. Sejujurnya aku gak terlalu suka sushi, tapi kali ini rasanya beda banget!
"Makasih!" Aku dan Yamamoto langsung berbicara tentang sushi, pokoknya seru banget ngobrol dengan dia, pembicaraan kita terputus saat aku berteriak.
"Kya!" Aku berteriak kecil karena aku merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipi kananku. Refleks aku langsung menoleh ke belakang, di sana ada Gokudera yang sedang memegang kaleng minuman dingin.
"Gokudera!" Dia nyuekin aku lalu duduk kembali di sebelah kananku, tak lama kemudian dia menyodorkan minuman itu ke padaku.
"Eh?" Aku agak terkejut dengan sikapnya, di depanku ada sekaleng minuman lemon tea dingin.
Kesukaanku.
"Nih, buat kamu. Karena disuruh Juudaime, jadi aku beliin." Aku mengambilnya dari tangannya, dan menatap kaleng itu sesaat.
"Eh?" Kata Tsuna agak terkejut.
"Juudaime?"
"Tsuna?"
"A-ah, gak apa-apa." Jawab Tsuna yang mengalihkan pandangannya ke arah bento-nya, dia lalu membuka kotak bento-nya.
"Kok gak ada?" Kata Tsuna setelah membuka kotak bento-nya.
"Ada apa Tsuna?" Kali ini Yamamoto yang berbicara.
"Sumpitnya gak ada, mungkin tertinggal di tas." Jawab Tsuna sambil mencari sumpitnya.
"Biar aku yang ambilkan Juudaime!" Gokudera langsung berdiri.
"Gokudera-" Sebelum Tsuna selesai bicara, Gokudera sudah berlari menuruni tangga. "Oh ya, Tsuna. Tadi kamu kayak terkejut gitu?" Tanya Yamamoto.
"Oh tadi, Gokudera bohong."
"Eh?" Kataku dan Yamamoto serempak.
"Aku gak menyuruhnya membelikan Miharu minuman, dia membelinya begitu saja. Tapi utung ya kamu suka minuman itu, soalnya tadi Gokudera belinya kayak asal milih." Aku agak tidak percaya dengan apa yang baru saja Tsuna katakan.
"E-Eh? Aku suka banget lemon tea loh, aku juga sering beli ini waktu aku istirahat bareng kalian." Kataku, memang aku sering beli ini jika lagi males bawa minum dari rumah karena tasku sudah berat.
"Hahaha, kalo gitu Gokudera memerhatikan banget Miharu ya!" Aku terkejut karena Yamamoto berkata itu, membuatku hampir menumpahkan lemon tea-ku yang sudah kubuka.
"E-eh? Gak mungkin ah! Bisa aja itu cuma kebetulan!" Teriakku yang berusaha menyembunyikan mukaku yang memerah.
"Lagipula aku-"
"Juudaime! Aku sudah membawakan sumpitnya!" Kata-kataku terputus karena Gokudera yang sudah kembali dari kelas.
"Makasih ya Gokudera-kun." Tsuna mengambil sumpitnya dari tangan Gokudera, "Ini sudah tugasku sebagai tangan kanan Juudaime!" Kata Gokudera sambil menepuk-nepuk dadanya dengan bangga, lalu duduk di sampingku. Kita mulai berbincang-bincang sambil memakan bekal, aku sesekali ikut bicara sambil meminum lemon tea-ku.
Aku memandang terus ke Gokudera sambil bertanya-tanya kenapa dia sedang baik kepadaku hari ini, "Oh Tuhan- eh salah, oh Reborn apa yang sudah kamu lakukan kepadanya? Apa kamu memukulnya dengan palumu sehingga sikapnya jadi aneh begini?" Pikirku.
Belakang ini tanpa sadar aku selalu memandanginya dan hatiku juga selalu berdebar-debar kalau didekatnya. Apa aku... Gak mungkin! Gak mungkin! Masa aku suka sama dia sih?! Memang dia itu tampan dan pintar, tak heran kalau para cewek di kelas tergila-gila padanya.
Tapi sepertinya aku punya kesempatan, soalnya sampai sekarang gak ada seorang cewek yang dekat dengan dia. Gokudera juga kelihatnya gak tertarik sama cewek di kelas maupun di sekolah ini.
"Ahh... Gokudera, kenapa aku jadi suka sama kamu sih?" Tanyaku lagi kepada diriku sendiri, aku masih menatapnya...
"Apa?" Suara Gokudera menyadarkanku dari pikiranku.
"Eh? Maksudmu?" Tanyaku agak panik, apa dia sadar aku dari ngeliatin dia? Ah aku bodoh, sudah pasri dia sadar. Kalau gak sadar pasti gak akan nanya!
"Hmph." Dengan begitu dia langsung menoleh ke arah Tsuna lagi.
Tak lama kemudian bel berbunyi, kami langsung beres-beres dan pergi ke kelas. Bersiap-siap untuk pelajaran matematika... Ughh...
.
.
Bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi, aku cepat-cepat membereskan barang-barangku dari meja. Setelah selesai, aku menutup tasku. Aku menoleh-noleh lagi ke kolong mejaku memastikan tak ada barang yang tertinggal, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.
"Tsuna?"
"Miharu-chan, mau pulang bareng?" Tanya Tsuna.
"Un!" Akupun berjalan bersama Tsuna berjalan keluar kelas, di dekat pintu ada Gokudera dan Yamamoto sudah menunggu sambil menyadar ke tembok. Setelah aku dan Tsuna datang kita berempat jalan bersama, kita mengobrol di sepanjang perjalanan menuju gerbang sampai... Saat kita sampai di gerbang aku melihat Kyoko sedang berbicara kepada seseorang.
"Kalau hari minggu saja bagaimana?"
"Hahi, itu ide bagus Kyoko-chan!"
"Terus, di sana- eh Tsuna-kun!" Kyoko lalu membalikkan badannya ke Tsuna.
"Kyoko-chan." Jawab Tsuna.
"Hahi! Tsuna-san~!" Cewek yang tadi mengobrol dengan Kyoko sekarang melaimbaikan tangannya ke Tsuna.
"Eh? Kamu kenapa ada di sini?" Tanya Tsuna agak terkejut saat melihatnya.
"Tadi kebetulan ketemu dengan Kyoko-chan di sini."
"Ngapain kamu di sini sih cewek bodoh?" Gokudera lalu ikut bicara.
"Haru bukam cewek bodoh!" Jawab cewek itu, sepertinya sih namanya Haru. Setelah kuperhatikan baik-baik seragam sekolahnya berbeda denganku, dia mempunyai rambut cokelat tua yang di ikat dan warna mata yang sama seperti rambutnya.
Dia dan Gokudera terus bertengkar, tapi... Terlihat sangat akrab. Sesekali dia memukul-mukul Gokudera dengan maksud bercanda, Gokudera langsung memarahinya. Tapi muka Gokudera tidak terlihat benar-benar marah, bukan seperti saat memarahi cewek-cewek di kelas karena mendekati dia terus.
Muka itu... Sama seperti mukanya kalau kita sedang bertengkar.
"Mereka memang akrab ya." Aku langsung menoleh ke arah Tsuna yang di sebelahku, "Mereka berdua memang selalu seperti itu?" Tanyaku kepadanya.
"Iya, walaupun mereka bertengkar seperti itu. Gokudera sebenarnya perhatian sama Haru, Gokudera pernah nyelamatin Haru waktu ada serangan dari Family lain." Jawab Tsuna.
"O-oh gitu..." Kata-kata Tsuna langsung membuat dadaku sakit. Aku tidak berani menatap Gokudera... Nafasku terasa sesak, rasanya ingin langsung menangis dan pergi dari sini... Padangan mataku mulai agak tidak jelas, rupanya mataku sudah berlinang karena air mata...
Kenapa selalu begini?
To Be Continued
A/N : Ciaossu! Bagaimana chapter ini? Semoga gak mengecewakan kalian:)
Review + like + follow, ya kalau bisa! Ehehehehe XD
Arrivederci!
