Jari-jari lentiknya mengetikkan balasan singkat, sebelum akhirnya memejamkan matanya yang sudah sangat kelalahan. Ia tidak tau sihir apa yang dimiliki Yongguk, tapi yang jelas, malam itu, ia tertidur dengan lelap tanpa mampu untuk melepaskan seulas senyuman yang terpahat di bibirnya.

.

.

Please See Me

Author : L ( XVLove )

Cast : Kim Namjoon / Rap Monster, Kim Seokjin / Jin, Jeon(Kim) Jungkook / Jungkook, BTS' Members

Pair : NamJin x Kookie Monster, JiKook x Secret, Vkook x Secret, and others

Rate : T

Genre : Romance, Angst, School life, Sad

Summary : Jin bersahabat sangat dekat dengan Namjoon, bahkan Namjoon sudah mengenal dekat keluarganya Jin. Tapi Jin sebenarnya memiliki perasaan lebih dari sekedar sahabat, perasaan yang juga dirasakan oleh adiknya, Kim Jungkook. Rumit? Well itu belum seberapa, ini berisi tentang cerita sang adik yang mencintai hyung kandungnya, sahabat yang mencintai sahabat, anak remaja abg yang bahkan tidak tau siapa yang dicintainya. ups, ini adalah boys love

Warning : BL/Boys Love, Typo, OOC dan kekurangan Author lainnya

.

Something Called Brother

.

Ini memang bukan kali pertama Jungkook dan Taehyung datang kerumah seorang Park Jimin, tapi tetap saja mata mereka tidak bisa untuk tidak takjub melihat halaman depan rumah Jimin yang begitu luas. Daripada disebut halaman, bagi Jungkook itu lebih cocok disebut sebagai lapangan karena memang begitulah adanya. Jungkook tersenyum riang sambil menunjuk kearah kelinci-kelinci peliharan sang empunya rumah yang tengah berlarian disana. Sementara disisi lain "halaman" depan itu, ada sebuah taman yang indah dengan sebuah pancuran. Rumah Jimin-pun terlihat begitu indah dan megah ditambah dengan design gaya eropa yang seakan tidak mau kalah dengan halaman depannya. Jungkook dan Taehyung benar-benar kagum dengan design rancangan Appa Jimin itu. Ia memang hanya seorang pengusaha bidang perhotelan, tetapi untuk urusan design, ia tidak ingin menyerahkan semuanya kepada arsitek atau bawahannya. Tidak hanya seorang pengusaha berbakat, Ia juga sangat ramah, ceria, lucu, dan yang paling Jungkook suka adalah senyumnya yang lebar, yang sepertinya diwariskan juga ke anaknya.

"Jimin, kita hanya bertiga disini?" Ucap maknae yang langsung mendapat jitakan kasih sayang dari Jimin.

"YAA! Aku masih hyung-mu! Dan ya, kita Cuma bertiga. Appa sedang ada urusan diluar negri dan satu orang lagi sedang sibuk mempersiapkan penampilan festival nanti. Jadi kita bebas, paling tidak sampai tengah malam" Mereka berdua menganggukan kepalanya.

"Jadi sekarang kalian mau apa?" Tanya Jimin sambil mendudukan diriya di sofa.

"Bukannya kita mau latihan ya?"

"Kalau begitu ayo kita keruang dance!"

"Jimin, aku iri dengan rumahmu. Kau punya segalanya, taman, ruang dance, ruang rekaman,bahkan ruangan game. Hah... andai Appa mau membuatkan ku ruangan untuk dance" Jimin menghentikan langkahnya lalu memandang Jungkook.

"Jangan sedih, kau juga bisa memiliki ruangan dance-mu sendiri nanti"

"Aku sudah pernah minta tapi appa tidak mengizinkanku, katanya sudah tidak ada tempat lagi..." memang jika dibandingkan dengan tempatnya sekarang ini, rumahnya jauh lebih kecil. Bagian depannya hanya ada jalan untuk mobil dan parkir motor dan halaman kecil, sementara halaman belakangnya tidak bisa dibangun lagi karena ada sebuah pohon besar disana. Maklum saja, rumahya berada di kompleks perumahan sih.

"Hmm... Ada cara lain kok kalo kau mau punya ruangan dance-mu sendiri" Jungkook memandang Jimin yang kini tengah tersenyum bingung.

"Menikahlah denganku Jungkook-ah, chu~~~" Dengan sekuat tenaga Jungkook mendorong Jimin yang hendak menciumnya hingga Jimin sedikit terdorong kebelakang. "Kau menyebalkan hyung" Ia berjalan meninggalkan Jimin berdua dengan Taehyung yang sedang tertawa.

"Kau ditolak hahahahhahaha" Jimin memberikan "hadiah" terlebih dahulu dikepala sahabatnya itu sebelum berjalan menyusul Jungkook.

.

Jimin tidak tau kalau kata-kata yang diucapkannya barusan benar-benar membuat Jungkook mencuekinya. Ia terus mencoba mengajak anak itu bicara, tapi tanggapan yang didapat olehnya hanyalah "Hn". Akhirnya ia mencoba untuk fokus untuk pemanasan terlebih dahulu sebelum mulai. Jungkook mengajarkan Taehyung gerakan-gerakan untuk stretching dan terkadang Jimin-pun ikut membantu, yah walaupun Jungkook bahkan tidak mengindahkan kata-kata Jimin. Hal itu tentu saja membuat Taehyung bahagia. Selain ia bisa melihat bagaimana bingung dan frustrasinya Jimin saat Jungkook marah, ia juga dapat berbicara dan menghabiskan waktu lebih banyak dengan maknae kesayangannya. Dan disinalah mereka sekarang, disebuah ruangan yang luas, yang dindingnya dihiasi dnegan cermin.

"Jadi kita mau latihan lagu apa?" Jungkook langsung memutar sebuah lagu dari laptop Jimin sebagai jawaban.

Mereka mulai latihan dengan lagi pertama Her - Block B. Jungkook dan Jimin, meskipun tidak saling berbicara, tau kalau Taehyung sudah mengerti dan terbiasa dengan gerakan-gerakan lagu ini, dan memilih lagu itu sebagai lagu pertama adalah keputusan yang tepat, karena Taehung dapat menari dengan tanpa kesulitan di lagu ini. Lagu berikutnya, sedikit membuat Taehyung kesusahan. Mereka menarikan Growl – EXO, tapi justru itu menjadi sebuah keberuntungan untuknya. Ia jadi lebih banyak skinship dengan Jungkook, tak jarang juga jarak muka mereka menjadi sangat dekat dan tentu saja itu membuat benda yang berada didada kirinya memacu laju detakannnya dengan cepat. Ia hanya bisa berharap Jungkook tidak dapat mendengarnya, atau memang sebenarnya jauh didalam hatinya ia mengharapkan Jungkook untuk mendengarnya?

Lagu berikutnya, tidak terlalu sulit untuk Taehyung namun ia masih belum terbiasa. Save Your Good Bye - Mike Posner memang lagu yang sedang mereka pelajari saat latihan intensif untuk festival, walaupun sebenarnya Taehyung lebih merasa itu latihan untuknya karena baik itu Jimin, Jungkook dan teman-temannya yang lain sudah menguasai lagu tersebut. Bahkan ia merasa kalau latihan intensif itu benar-benar intensif dan eksklusif dari Hobi-hyung untuknya.Latihan mereka diakhiri dengan lagu Ring Ding Dong – Shinee yang tidak terlalu sulit untuk Taehyung.

Selesai? Tentu tidak!

Jimin langsung memutar lagu Something - Girls' Day dan menari dengan heboh, Taehyung bahkan tertawa melihat ekspresi yang dikeluarkan Jimin dari cermin. Senyum mengembang lebar dibibir Jimin ketika melihat Jungkook ikut menari disebelahnya dengan semangat. Selanjutnya mereka menarikan Mini Skirt - AoA. Taehyung semakin tertawa dengan keras melihat Jungkook dan Jimin melakukan gerakan yang seksi, ditambah lagi terkadang mereka membuat ekspresi yang lucu. Sesi menari mereka diakhiri dengan Whatca Doin' Today - 4minutes, dan yang paling membuat Jimin bahagia adalah Jungkook memeluknya pada salah satu bagian dilagu itu.

Mereka mendudukan diri dilantai ruangan itu dengan penuh keringat, tawa dan kebahagiaan.

.

Jungkook menekan deretan angka yang tertera di benda berbentuk persegi kecil ditangannya itu. Ia menempelkan benda itu ditelinganya, menunggu suara dengungan yang didengarnya berubah menjadi suara manusia.

"Jungkook-ah, ada apa?"

"Tidak hyung, umm apa kau sedang sibuk?" Jawab Jungkook pada suara kakaknya diujung sana.

"Hyung sedang makan dengan teman, ada apa?"

"Umm... Tidak, aku hanya ingin memberitahu hyung kalau aku akan menginap dirumah Jimin bersama Taehyung-hyung"

"Menginap? Tumben, ada apa?"

"Ah, aku belum bilang ya. Jimin, aku, Taehyung dan beberapa murid Hoseok-hyung lainnya akan menampilkan sesuatu untuk festival nanti. Tapi berhubung Taehyung-hyung masih belum terlalu bisa melakukan gerakan dance-nya, aku dan Jimin memutuskan untuk latihan dirumah Jimin"

"Ya sudah, tapi Jungkook-ah, jangan lupa makan malam dan jangan sampai telat makan pagi. Dan jangan tidur terlalu malam! Besok kau sekolah kan?"

"Ne hyung, jangan khawatir aku tidak akan tidur terlalu malam"

"Dan Jungkook-ah..."

"Ne?"

"Jangan lupa tambahkan 'hyung' saat memanggil Jimin. Meskipun kalian sekelas dan dia lebih pendek darimu, dia tetap lebih tua darimu" Jungkook terkekeh mendengar ucapan Jin barusan.

"Akan kuusahakan hyung"

"Dasar kau ini... Eh tunggu dulu, apa maksudmu dengan 'terlalu malam'!? YA Kim Jungkook! Jangan tidur mala-"

"Ne hyung! Jangan bekerja terlalu keras! Annyeong" Jungkook kembali terkekeh, membayangkan bagaimana wajah kesal kakaknya saat ini.

Jimin, dengan setengah berlari, menghampiri Jungkook yang tengah duduk dipinggir lapangan basket itu. "Jungkookie, kau menelpon siapa? Jin-hyung?" Bukannya menjawab, Jungkook malah asik memainkan hp-nya tanpa memperdulikan Jimin.

"Jungkookie, tadi kau menelpon Jin-hyung?" Kali ini Taehyung yang bertanya sambil membawa bola basket ditangannya. Berbeda dengan Jimin, Jungkook menganggukkan kepalanya dengan semangat dan juga tersenyum, menjawab pertanyaan Taehyung.

Jimin yang melihat itu memutar kedua matanya malas dan berlalu meninggalkan mereka berdua. Jungkook memandang punggung Jimin yang semakin menjauh darinya dengan rasa bersalah. Mungkinkah ia terlalu berlebihan? Jungkook ingin memanggil Jimin tapi Taehyung lebih dulu mengalihkan perhatiannya.

"Kookie, ayo kita main lagi" Ajaknya

"Kau saja hyung, aku masih lelah" Sayangnya punggung Jimin sudah tidak terlihat lagi saat ia ingin meminta mengalihkan pandangannya untuk melihat Taehyung yang tengah asik bermain basket dilapangan sendirian sambil sesekali tersenyum kearahnya.

Meskipun matanya tertuju kedepan, pikitan kembali berkelana ke beberapa detik yang lalu saat Jimin meninggalkan mereka. Saat itu entah kenapa, entah kenapa ia merasa sendirian. Bersalah? Mungkin. Tapi untuk sesaat, ia merasa takut. Takut kalau Jimin akan pergi meninggalkannya dan tidak kembali.

Tidak, Jimin pasti akan kembali, seperti saat-saat sebelumnya. Tidak peduli berapa kali Jungkook tidak menghormati atau bahkan menyakiti Jimin, Ia akan terus kembali. Tapi semakin Jungkook meyakinkan dirinya, semakin takut pula ia membayangkan dirinya tanpa kehadiran Jimin disisinya. Dan entah kenapa, ia semakin merasa kalau suatu saat nanti Jimin akan melangkahkan kakinya menjauhi dirinya.

Jungkook tersadar dari lamunanya saat merasakan pipinya ditekan oleh benda berbulu halus. Matanya membulat saat menemukan orang yang tadi dilamunkannya kini tengah memegang seekor kelinci berbulu putih dengan mata merah dan bintik hitam didahinya.

"Jungkookie~~ kenapa kau terlihat murung? Apa kau tidak merindukan Kookie? Kookie saaangaaat merindukan Jungkookie! Kookie sangat senang bisa bertemu Jungkookie, jadi Jungkookie jangan murung lagi ya. Ugh, ini pasti karena Jiminnie! Ya! Jiminnie! Ayo cepat minta maaf pada Jungkookie!" Jungkook tersenyum melihat Jimin bertingkah seolah-olah kelinci itu berbicara kepadanya.

"Ne. Jungkookie, maafkan aku karena tadi aku mengganggumu, aku hanya ingin mengajakmu bercanda. Maaf kalau hyung-mu ini keterlaluan, hyung meminta maaf dari dalam lubuk hati hyung yang terdalam. Karena itu Jungkookie, tersenyumlah" Jungkook tidak dapat lagi menahan senyuman yang sedari tadi siang ingin dikeluarkannya. Sungguh, ia juga hanya ingin bercanda dengan Jimin.

"Nah, seperti itu Jungkookie. Tersenyumlah terus dan jangan bersedih. Kalau Jimin mengganggumu lagi, laporkan saja pada Kookie. Kookie akan membuat Jimin meminta menyesalinya! Karena yang terpenting bagi Kookie dan Jiminnie adalah senyuman Jungkookie" Jungkook tidak dapat menahan senyumannya lagi. Jimin berhasil, dan akan selalu berhasil memunculkan senyuman diwajah orang yang dicintainya itu. Jungkook mengambil kelinci itu dari tangan Jimin dan memeluknya erat.

"Ne, terima kasih Kookie. Aku sangat senang! Maaf membuatmu merindukanku Kookie tapi sungguh, aku juga sangat merindukanmu! Aku berjanji akan lebih sering main kesini jadi kau tidak akan sendirian Kookie!"

Seulas senyuman terpampang jelas diwajah Jimin saat melihat adegan yang menurutnya sangat kekanak-kanakan itu. Jungkook mungkin sekelas dengannya, lebih pintar dari anak seumurannya, lebih berbakat, lebih tinggi darinya dan sering tidak menghormatinya, tapi Jimin tau. Dibalik itu semua, Jungkookie hanyalah seorang anak kecil yang masih menginginkan banyak perhatian dari orang-orang disekilingnya, menginginkan cinta dari semua orang.

"Kookie siapa?" Kata-kata yang keluar dari bibir Taehyung itu sukses membuyarkan lamunan indah Jimin.

"Ini hyung, kenalkan namanya Kookie" Taehyung memegang salah satu kaki kelinci itu seolah-olah sedang berjabat tangan dan berkata "Kim Taehyung imnida" Jungkook tertawa melihat tingkah aneh hyung-nya yang satu itu.

"Tapi... Kenapa ia diberi nama Kookie?"

"Oh itu, itu karen-"

"Ceritanya sangat panjang dan..." Taehyung memandang Jimin kesal karena telah memotong perkataan Jungkook, namun rasa penasarannya itu masih lebih besar dari rasa kesalnya, "Dan?" Jimin menyeringai kecil dan dengan sekali gerak, ia mampu merebut bola ang sedari tadi ditangan Taehyung sambil berkata. "Dan pertandingan dimulai!"

.

Jika ada hal yang paling disukai oleh keluarga Park, maka hal itu adalah olahraga. Mulai dari tenis meja, voli, bulu tangkis, dan terutama basket, mereka sangat menyukainya. Karena itulah halaman belakang rumah mereka dipenuhi dengan lapangan-lapangan untuk olahraga dan didalam rumah mereka terdapat gym, mereka semua sangat menyukai olahraga. Mungkin tidak semuanya. Ada satu orang dikeluarga Park yang tidak menyukai olahraga dan lebih senang menghabiskan waktunya untuk tidur, Jimin tidak pernah mengerti kenapa orang itu tidak menyukai olahraga padahalkan olahraga itu sangat menyenangkan.

Dan karena Jimin sangat suka dan sering olahraga, stamina yang dimilikinya jauh lebih besar dibandingkan teman-teman lainnya. Lihat sasa sekarang, Jungkook dan Taehyung terduduk lemah karena kelelahan bermain sementara Jimin masih berdiri dengan tegak dihadapan mereka.

"Ya, kalian lemah sekali!"

"Ya...hosh hosh... Jimin, aku rasa kau yang aneh. Hosh... Kita sudah bermain dari sore sampai matahari sudah tidak terlihat lagi sekarang, bagaimana mungkin kau tidak kelelahan! Tubuhmu benar-benar aneh... hosh" Jimin baru menyadari kalau cahaya matahari sudah menghilang dari langit tergantikan oleh sinar rembulan. "Ah kau benar Tae. Ini sudah malam" Ucapnya tanpa dosa sedikitpun.

"Aish, anak ini!" Taehyung ingin sekali menjitak kepala orang yang bertubuh pendek itu, ia ingin sekali membuat tubuhna makin pendek hingga sekecil kurcaci dan nanti akan ia pajang didepan rumahnya untuk mengusir binatang buas seperti kodok dan kecoa. Dia sangat kesal, tapi bukan karena kata-kata Jimin barusan. Melainkan karena fakta kalau Jimin itu lebih "tahan lama" dibandingkan dirinya. Dia jadi khawatir, bagaimana kalau suatu saat nanti Jungook akan mengadakan sayembara untuk mendapatkan dirinya dan mereka berdua harus berlomba dengan stamina, misalnya saja berlari, atau bahkan basket dan lebih parahnya lagi lomba siapa yang bisa memuaskan Jungkook paling lama. Sudah jelaskan Jimin pasti menang! Memikirkan itu benar-benar membuat seorang Kim Taehyung kesal, dan bahkan ia merasa kalau harga dirinya menjadi jongkok seperti IQ-nya yang lebih pendek dari tubuh Jimin. Please deh Tae =,=

Jimin merogoh saku celananya dengan rusuh saat ia merasakan getaran disana dan ia sangat menyesali karena menempelkan benda itu ditelinganya.

"YA! PARK JIMIN! KENAPA KAU KUNCI GERBANGNYA EOH! KAU INGIN AKU MEMANJAT PAGAR!? CEPAT BUKA GERBANGNYA SEBELUM AKU MENGOBRAL TUBUHMU KE PELELANGAN"

Entah Taehyung dan Jungkook harus merasa kasihan atau bahagia dengan teman mereka yang satu ini. Taehyung tidak bisa membayangkan bagaimana keseharian Jimin jika kakaknya itu ada dirumah setiap hari, yang pasti tidak menyenangkan. Jungkook-pun semakin bersyukur karena meskipun kakaknya itu terkadang menjengkelkan dan cerewet, tapi setidaknya ia tidak segalak kakaknya Jimin.

Jimin menghela nafas kesal melihat temannya dan calon suaminya tertawa diatas penderitaannya. Andai saja kakaknya itu lebih tenang, pasti sifatnya itu akan lebih cocok dengan wajah manisnya. Ia menghela nafas berat sebelum menggerakkan kakinya mengambil seekor kelinci yang dari tadi memandangi pertandingan basket mereka dengan setia. "Ah Jimin, biar aku saja yang mengantarkannya" Ucap Jungkook mengambil kelinci itu dari tangan Jimin setelah mendapat anggukan dari sang empunya kelinci.

"Kalau sudah mengantarkan Kookie, langsung kekamarku" Jungkook menganggukan kepalanya dan pergi meninggalkan tempapt itu dengan Taehyung yang mengikut dibelakangnya begitu pula dengan Jimin.

.

"Tidak terasa ya, sebentar lagi sudah ujian akhir, dan setelah itu kita akan menghadapi ujian untuk masuk ke universitas. Jin-hyung juga semakin sibuk mengerjakan novelnya. Namjoonie-hyung sibuk dengan lagunya. Haah... akhir-akhir ini semua terlihat sibuk" Taehyung memandang anak kecil disebelahnya yang sedang berjalan sambil membawa makhluk kecil yang mirip dengannya itu sambil tersenyum.

"Yah, itulah kehidupan. Ketika kau memalingkan pandanganmu sejenak saja, waktu mengalir begitu cepat. Tidak terasa kau sudah berada di penghujung masa SMA dan harus lanjut entah untuk kuliah atau bekerja" Jungkook memandang Taehyung takjub. Ia tidak menyangka ucapan seperti itu dapat keluar dari mulut hyung-nya yang terkenal absurd. Derajat(?) Taehyung kini sedikit meningkat dimatanya.

"Waktu itu memang singkat, tapi aku menikmatinya. Karena pada umur yang segini memang seharusnya aku kuliahkan. Kalau kau mungkin akan merasa lain, pengalaman masa SMP-mu tidak tuntas dan langsung naik ke kelas 2 SMA, pasti hidupmu terasa membosankan dan masa kecilmu kurang indah. Suatu saat nanti, ketika kau sudah tua, kau akan merasa bosan karena tidak dapat menikmati waktu mudamu"

Damn! Kata-kata Taehyung menusuk telat dihatinya. Padahal baru saja ia mengangkat(?) derajat Taehyung sedikit lebih tinggi di hatinya, dan sekarang ia malah membuatnya ingin menurunkan "derajat" itu bahkan berkali-kali liapt lebih rendah dari sebelumnya.

"Hyung! Kau jahat sekali!" Ucap Jungkook berjalan meninggalkan Taehyung.

Taehyung tersenyum melihat tingkah Jungkook yang menurutnya sangat menggemaskan itu. Ia lalu berlari dan merangkul bahu Jungkook. "Yang ingin kukatakan adalah kau harus berterima kasih padaku dan juga Jimin karena telah membuat masa remajamu tidak seburuk yang seharusnya" Jungkook memandang sebal Taehyung. Tapi pada akhirnya ia menghela nafas berat. Apa yang dikatakan Taehyung memang benar. Ia tidak dapat membayangkan masa remajanya akan jadi seperti apa tanpa dua hyung-nya itu.

Mereka berdua berhenti didepan sebuah lubang kecil didepan gundukan tanah yang besar.

"Kookie, annyeong" Ucap Jungkook melihat Kookie menghilang kedalam lubang itu.

"Kenapa namanya Kookie? Kenapa kau terlihat akrab sekali dengan kelinci ini?" Tanya Taehyung

"Um, oohh ceritanya panjang hyung"

"Ya! itu tidak menjawab pertanyaanku!" Taehyung memandang sebal Jungkook yang tertawa karena berhasil mengerjai hyung-nya itu

"Hahahaha... baiklah, baiklah, jadi waktu ulang tahunku yang kemarin, aku dan Jimin merayakannya disini dan kebetulan waktu itu hanya aku berdua dengan Jimin yang ada dirumah ini. Tapi meskipun Chanyeol-ahjussi tidak disini, aku mendapatkan sepasang sepatu baru darinya. Aku juga dapat jam tangan dari Jimin, dan pagi sebelumnya, baju darimu hyung. Nah kebetulan saat kami bermain disini, ada kelinci yang melahirkan. Jimin bilang kelinci itu hadiah kejutan untukku. Tapi aku bingung menamainya siapa dan juga Umma tidak memperbolehkanku membawa binatang kerumah. Karena itu Jimin bilang biar kelinci itu tinggal dirumahnya saja. Dan dia juga bilang ingin menamainya Kookie karena dia bilang jika dia kangen padaku, dia tinggal melihat kelinci itu. Dia bilang kelinci itu, Kookie, adalah tanda rasa sayangnya padaku, semakin lama akan semakin berkembang dengan sehat dan lucu" Mata Taehyung membulat mendengar kalimat terakhir Jungkook.

"Tunggu bukannya itu artina dia sudah menyatakan cintanya padamu!?" Jungkook berjalan pergi dari tempat itu diikuti oleh Taehyung. Dan saat Taehyung ingin protes karena Jungkook belum menjawab pertanyaannya, Jungkook membalikan badannya sambil tersenyum.

"Tapi yang dikatakannya bukan cintakan? Tapi sayang, bukankah pertemanan itu seperti itu, Saling menyayangi satu sama lain. Hyung juga, hyung juga menyayangiku kan?"

Cepat. Detak jangtungnya berdetak begitu cepat saat ini. Ia betul-betul kaget dengan ucapan Jungkook barusan. Apa jangan-jangan selama ini dia tau? Tolong tidak, Taehyung masih belum siap dengan semua ini, ia benar-benar belum siap. Ia memang menantikan saat-saat dimana ia akan menyatakan perasaannya, tapi saat kesempatan itu datang, entah kenapa ia begitu takut untuk mengambilnya. Ia takut untuk berbicara, ia takut untuk menjawab, dan ia takut dengan jawabannya. Tapi saat melihat senyuman diwajah Jungkook, ada secercah keberanian yang muncul dihatinya, keberanian yang seolah-olah mengatakan "inilah saatnya". Ia menganggukkan kepalanya. "N-ne J-Jungkook-ah, aku sangat menyayangimu! Aku menyayangimu lebih dari apapun!"

Jungkook tersenyum mendengar ucapan Taehyung. Ia bahagia, meskipun ia tau, ada sesuatu yang mengganjal dari kebahagiaannya.

"Kau tau hyung, saat aku pindah kelas karena program akselerasi, aku sangat takut. Aku ditinggal sendirian oleh teman-temanku hyung, mereka semua membenciku karena mereka mengira aku meninggalkan mereka semua, dan memang itu kenyataannya. Sebagai murid akselerasi satu-satunya saat itu, aku tidak mendapatkan teman baru. Dulu aku bingung, kenapa Jin-hyung tidak pernah membawa teman baru kerumah, kenapa teman-temannya sangat sedikit, kenapa ia hanya menghabiskan waktunya berdua saja dengan Namjoonie-hyung. Aku dengar dari percakapan Umma dan Appa kalau Jin-hyung memang seperti semenjak ia kecil, ia takut dengan orang yang tidak dikenalnya. Hal itu membuatku semakin bingung. Tapi saat itu, saat aku berdiri didepan pintu kelas kita untuk yang pertama kali, aku mengerti. Aku dapat merasakan apa yang Jin-hyung rasakan, untuk pertama kalinya, berkenalan adalah hal yang menakutkan untukku. Konyol memang, tapi aku tidak bisa menghilangkan bayang-bayang penolakan yang akan terjadi kepadaku, tapi untungnya, kalian tidak menolakku, meskipun itu tidak menghilangkan rasa takut dan kesendirianku. Dan saat itulah kalian datang, hyung dan Jimin-hyung, dua orang yang pertama kali mengajakku berbicara, bahkan mengajakku berteman" Taehyung tertegun. Ia dapat melihat Jungkook mengepalkan erat tangannya. Taehyung memang tidak merasakan apa yang dirasakan oleh Jungkook, tapi ia tau, rasanya pasti menyakitkan. Dan semakin ia melihat Jungkook kesakitan, semakin sakit pula dada kirinya.

"Kau tau hyung, saat itu adalah saat yang paling membahagiakan untukku" Taehyung dapat melihat hal penting yang telah dilupakannya. Bagaimana bisa, bagaimana bisa ia melupakan sisi Jungkook yang seperti ini, sisi Jungkook yang lemah dibalik sisi kuat yang selama ini ditunjukkannya, sisi yang mampu membuat seorang Kim Taehyung jatuh cinta padanya.

"Jungkook-ah..." Kata-kata tak mampu menunjukkan apa yang dirasakan olehnya saat ini. Ia berlari dan menghamburkan pelukannya pada Jungkook.

Hangat, itulah yang dirasakannya saat ini. Kehangatan ini, kehangatan yang selama ini sangat disukai oleh Jungkook, kehangatan yang dengan yang dirasakannya dengan Jimin. Kehangatan yang hanya bisa ia dapatkan dari Kim Taehyung. Berbeda dari Jimin, ia tidak pernah merasa Taehyung akan meninggalkan dirinya. Entah kenapa ia selalu merasa kalau Taehyung akan selalu ada disisinya, menemaninya disaat sedih ataupun susah, selalu menemaninya sebagai...

"Hyung... Terima kasih... hyung dan Jimin-hyung, kalian sangat baik padaku. Bagiku kalian adalah..."

"...Teman, ya teman terbaikku"

Hanya teman. Kata itu memang begitu menyakitkan untuk Taehyung, tidak hanya ditelinganya, tapi juga dikepala dan hatinya. Tapi meskipun hanya teman, Jungkook menganggapnya penting dan hal itu penting baginya. Ia yakin, meskipun saat ini ia hanya bisa menjadi teman untuknya, akan tiba waktunya ia menyatakan perasaannya yang sesungguhnya pada Jungkook, dan itu bukan sekarang. Ia akan bersabar, hingga waktu itu datang. Hingga waktu penantiannya berhenti akan tiba.

"Hyung, ayo kita pergi kekamar Jimin" Ucap Jungkook setelah melepaskan pelukan Taehyung. Mereka berdua berjalan berdampingan dengan tangan Jungkook merangkul leher Taehyung.

.

"Bisa-bisanya kau mengunci pintu gerbang! Aku sudah mengatakan adamu kalau aku akan pulang kan! Kau ini selalu..."

"Ne..." Sejujurnya Jimin sudah tidak peduli lagi dengan apa yang dikatakan hyung-nya itu. Hell, hyung-nya itu masih belum berhenti memarahinya mulai dari gerbang hingga mereka sampai kedalam rumah. Apa kalian tau sejauh apa jarak dari gerbang kedalam rumah? JAUH! Sepertinya ia benar-benar harus memeriksakan telinganya ke-THT besok.

"YA! KAU MENDENGARKANKU TIDAK!?" Bentakan dari hyung-nya itu sukses mengembalikan nyawa Jimin yang barusan terbang entah ke planet mana.

"N-ne..."

"Ambilkanaku air minum" Titah pria berambut perak itu sambil mendudukan dirinya disofa. Tak sampai semenit Jimin sudah kembali dengan segelas air minum ditangannya. "Sudah makan?" Jimin menganggukkan kepalanya. Hyung-nya ini memang terlihat menakutkan karena kegalakkannya, tapi dibalik itu semua Jimin tau kalau dia adalah orang yang sangat perhatian. Mengingat hal itu selalu saja membuat Jimin tersenyum.

"Tadi sebelum bermain basket dengan Taehyung dan Jungkook, kami makan dulu" Jimin tidak tau kenapa, tapi setiap hyung-nya itu tersenyum, firasatna selalu saja buruk seperti sekarang ini.

"Ohh... Pantas saja kau melupakanku. Princess-mu itu ada disini ternyata" Tuh kan...

"Harusnya aku sudah bisa menebaknya, kau kan hanya mengingatku jika princess-mu itu tidak ada atau meninggalkanmu" Jika ada hal yang ia benci dari hyung-nya selain omelannya, itu adalah kata-kata pedasnya.

"Hyung... bukan begitu.."

"Yah... memang selalu seperti itu kan. Kau hanya akan datang padaku jika kau membutuhkanku saja"

"Hyung..."

"Tapi apa yang bisa kau lakukan. Karena bagi seorang Park Jimin, Min Yoongi bukanlah siapa-siapa-"

"HYUNG!" Yoongi a.k.a Suga tersentak akibat bentakan yang dikeluarkan oleh Jimin. Muka yang memerah, dengan tangan terkepal dan raut wajah yang tidak bisa dikatakan "baik". Siapa sangka Jimin yang biasanya tersenyum ramah dan lugu bisa terlihat semenyeramkan ini saat ia marah, bahkan Yoongi pun takut dengan Jimin saat ini.

"Hyung... kita berdua tau, kau TAU. Bagiku, kau lebih dari itu hyung!" Yoongi bangkit dari tempat dudukna dan menatap Jimin dingin...

"Tapi memang seperti itukan. Dikeluarga ini, aku hanyalah orang luar" Kalimat terakhir yang sangat menyakiti hati Jimin itu keluar dengan mulus dari bibir Yoongi sebelum ia berbalik pergi meninggalkan Jimin sendirian diruangan itu.

.

Jimin melangkahkan kakinya lesu kedalam kamarnya. Sebuah kamar yang besar yang sengaja dibuat oleh Appa-nya agar ia bisa mengisi kamar itu dengan barang kesukaannya. Dulu Jimin sangat suka mengisi kamarnya dengan mainan-mainan untuk anak seumurannya, yang saat itu ia hanyalah seorang anak berumur 7 tahun. Namun setelah Jimin beranjak dewasa, ia lebih memilih membiarkan kamarnya hanya ada sedikit barang sehingga ia dapat berlatih dance dengan leluasa. Sekarang kamar itu hanya berisi lemari pakaian, komputer, meja belajar dan tempat tidur yang kini tengah ditempati oleh seekor kelinci jadi-jadian dan turunan alien.

Jimin tertawa kecil saat melihat dua makhluk itu tertidur dengan nyenyak. Ia biasanya akan marah ketika melihat Taehyung dekat-dekat dengan Jungkook, apalagi sampai tidur sambil memeluk Jungkook begini, tapi kejadian barusan membuatnya tidak mood untuk melakukan itu. Ia membaringkan dirinya dengan perlahan agar tidak membangunkan mereka berdua. Jimin memalingkan wajahnya kearah Jungkook.

Terkadang Jimin merasa takjub, hanya dengan melihat wajah damai tidur Jungkook yang bak malaikat itu mampu membuat hatinya tenang. Ia dapat dengan mudah melupakan kejadian tadi dan kembali memunculkan senyuman diwajahnya. Tapi ada kalanya Jungkook menjadi perusak suasana hatinya. Misalnya saja ketika ia tersenyum, namun bukan untuk Jimin. Ketika Jungkook membicarakan "perasaan"nya terhadap Monster sialan itu, namun tidak dengan Jimin. Hanya dengan satu kalimat tentangnya saja mampu membuat hati Jimin meradang karenanya. Tapi sebagai obat dan racun, Kim Jungkook dapat memenuhi tugasnya dengan baik untuk mewarnai hidup Jimin.

Pikirannya kembali melayang kesaat-saat mereka bertemu. Kesaat-saat dimana Jimin merasakan cinta pada pandangan pertama untuk kedua kalinya. Andai saja, andai saja saat itu ia tidak bertemu Jungkook, tidak melihat pandangan ketakutannya yang seperti seekor kelinci tersesat itu, andai saja ia tertidur dan melewatkan kelasnya, andai saja ia pindah sekolah jauh sebelum mereka bertemu, andai saja Min Yoongi tidak datang ke kehidupannya, andai saja. Tapi ia tau hidupnya tidak akan berubah hanya dengan kata "andai saja". Dan kalaupun berubah, ia tidak yakin ia menginginkan untuk kehilangan dua orang yang paling disayanginya. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menatap kedepan dan melangkahkan kakinya kemana masa depan akan membawanya...

TIDAK!

Apa yang ia katakan!? Apa yang terjadi padanya!? Kemana Jimin yang selalu bersemangat dan bahagia!? Ialah yang akan membawa dirinya menuju masa depan, bukan sebaliknya! Untung saja Jungkook sedang tertidur sekarang, jika tidak ia pasti akan kecewa melihat dirinya lemah dan depresi seperti ini. Ia harus kuat, ia harus bahagia agar Jungkook juga bahagia! Ia harus semangat dan terus bahagia untuk Jungkook! Ya, untuk Jungkook. Untuk seseorang yang tengah ditatapnya saat ini.

Jimin memindahkan tangan Taehyung dari pinggang Jungkook dengan perlahan dan menggantikannya dengan miliknya. Ia juga menempelkan kepalanya dibahu Jungkook. Dengan satu keyakinan didalam hatinya, Jimin memejamkan kedua matanya. Keyakinan yang mampu menenangkan hatinya malam itu.

Ya, satu buah keyakinan.

Ia akan tetap terus tersenyum dan gembira hanya untuk Jungkook seorang. Ia akan menjadi enyemangat hidupnya saat ia lesu. Penopang baginya saat ia jatuh. Meraih tangannya saat ia tidak mamu untuk bangkit. Mengusap air matanya saat ia menangis. Menjadi perisai baginya, menerima segala luka yang ditorehkan kepadanya. Tetap mencintainya, tak peduli apa. Tidak peduli kalau itu artinya ia harus melukai dirinya sendiri demi Jungkook. Ia akan tetap berdiri, berjalan dan tertawa demi Jungkook. Meski saat itu hatinya sudah hancur tak berbentuk, meski hatinya sudah membisu, meski otaknya mengelu, ia akan tetap mencintai Jungkook.

Hanya untuk Jungkook seorang.

.

.

TBC

.

.

HELLOOOOOOO! HAPPY HALL-O-WEEN! #Dilempar

Hehehe ketemu kagi dengan L dalam kesempatan yang berbahagia ini X3, mungkin cuma L kali ya yang bahagia udah bisa update hehehe. L seneng banget soalnya L udah bisa update chapter ini! Yahh meskipun L updatenya lama sih hehehe. Maklum L kan ingin menikmati libur :3 #digeplak. L juga lagi bahagia banget pas tau kalo Vhope abis kencan kemarin XD. btw nulis chapter ini banak cobaannya... mulai dari tombol "Y" susah dipencet, dosen minta ganti jadwal, ngantuk tiba-tiba ampe internet tiba-tiba mati... dan akhirnya chapter ini selesai.

DAN! AKHIRNYA CHAPTER 6 Update! Disini L gak Cuma kasih kejutan dengan peran mang aguS, L juga mulai ngasih konflik ke Jungkook hehehhe. Dan sesuai janji L disummary, konflik cerita ini ga Cuma serumit cinta segitiga adek kakak doang, masih banak kejutan dari L yang lain dan moga-moga reader-nim pada suka hehehehe. Dan Jin nyempil dikit di pertengahan hehehe. Btw ini pertama kalinya L bikin Vkook ama Yoonmin, dan L berjuang keras banget disini buat ngemunculin feel yang kuat, yah walaupun L gak tau ngena atau engga. Semoga reader pada pennasaran ama Yoonmin dan moment Vkooknya kena. Dan salah satu cobaan lain saat nulis chapter ini adalah saat L lagi nulis bagian Vkook, Vhope update mereka lagi kencan... kampret emang XD. Semoga reader-nim pada puas dengan chaper 6 yang penuh cobaan ini X3.

Untuk chapter depan bakalan ada kejutaaaaaannn! Jadi nantikan yaaaaaa

[Teaching Hall]: HAI! ini adalah tempat L memberikan pengetahuan yang L tau#yaiyalah ke reader-nim~ :3. Kali ini L bakal ngebahas hal yang gampang, yaitu narrator. Narator adalah penarasi atau orang yang menarasikan sebuah cerita. Perlu diingat, meskipun L bilang "orang" tapi narrator itu belum tentu orang. Wujud narrator sendiri bermacam-macam, ada sebagai karakter di sebuah cerita, makhluk tak berwujud dan tak beridentitas, dan ada didalam cerita sebagai manusia tapi tidak memiliki identitas. Dan menurut Genette(L lupa cara penulisannya) narrator juga dapat dikenali berdasarkan kedekatannya dengan karakter. Nah segitu dulu pembahasan dari L. Semoga ilmunya bermanfaat :3

[Balas Review] Dan inilah saat yang paling L tunggu-tunggu!

[Princess Phi25]: Makasih banget readeeeeer ku tertjintaaaaah... makanya jangan lupa mandi kalo lagi nungguin ff ini, bulukan kan jadinya :v #dilempar. L juga udah ga sabar nungguin moment-moment si joonie tersiksa~~ hahahahahahah. Nononono, Hobi only for V kalo diduta, disinimah liat aja entar hwahwahwa. Ikutin terus yaaach

[Aoi-chan to Seiyuu-chan desu]: HAAAIII! Emang pasti bakal menarik, kaya author yang ngeharepin harry potter ada lagi dnegan draco jadi tokoh utamanya. Tapi kalo author tunjukkin semua sisi ceritanya, entar gak suprise dong :(. Inget, semua yang tidak dapat dilihat dan digapai itu terkadang "terihat" lebih menarik dari apa yang dapat dilihat. Semoga kamu ngerti ya ama penjelasan L. Eh tapi kalo L lagi mood entar L bikin deh, tapi gak mungkin dari Namjoon side sih hehehe entar kejutanna ilang. Heheh tetep ikutin ya

[GitArmy]: No! Jin is not okay~~~ Jin needs a doctor, a love doctor XD please someone call Namjoonie #plak. Awas lho Jin senyum-senyum, kemarin ada ayam tetangga yang mati pas si Jin senyum. Keep Reading yaaa.

[Anunya Bangtan]: MMmmmm... mungkin itu karena Pen Name kamu terlalu "indah" dan menjual :v. Iya dong mereka emang deket dari masih janin juga... Yoonseok~~~ Kita lihat saja entar~~~ apakah mereka akan ada atau tidak.

[Aiko Vallery]: Makasih udah nyemangatiiiin :') Kamu juga terus ikutin ff ini yach.

[she3nn0]: iya maaf... L tau kemarin itu L lagi vacuum cleaner soalnya baru masuk kuliah, banyak yang diurusin blablabla tapi gimana rame ga chapternya? Iya, babeh Yongguk emang lucu yeth... kita tungguin aja moment-moment hurt dan angstnya baby joonie okay hahahaha... kita lihat entar siaa yangbakal menangin hati Kookie, V atau Jimin, dan ada apa sebenarnya antara yoonmin... tunggu di chapter selanjutnya! Btw hobi buat V aja, L gak doyan laki :v

[esazame]: makasih udah nungguin! Dan makasih semangatnyaaa! Tetep ikutin yaa.

[vhopeisreal]: hayo diobral mau Vhope, Vkook, apa Jikook, mumpung lagi diskon 99%. Btw Vhope kemarin kencan lagiiiii wkwkwkwk mereka udate fotonya di fancafe XD.

[kim eun bom]: wah maaf ya, L bikin kamu nungguin lama. L janji bakalan usahain update cepet deh. Iya dong secara Jin pan princessnya bts jadi wajar banyak yang suka.

[alhun]: tenang aja, ceritanya bakal dilanjut kok, Cuma waktunya gak tau kapan... #plak. Weh makasih udah muji ff aku, jadi terharu banget hehehe. Tetep ikutin ff ini yaa~~

[eldorahun]: Sippp! Ini dilanjuuuttt~~ kalo penghambatnya ga banyak entar gak rame dong~~ :) #ngajakribut. Btw gimana moment Vkooknya dapet ga? Yoonminnya rame ga? Terus ikutin ff ini yaaa

[sekarzane]: Iya nih, babeh yongguk emang jagonya menggoda hati pria, wanita dan pertengahan(?). tunggu kamu bilang kalo JinV ama Jinkook itu crack pair? Berarti kamu mengakui dong kalo VHOPE, JIKOOK, AMA NAMJIN ITU Official XD yeeeeeyyy! #dilempar. What!? Incest!? Author masih terlalu polos untuk bikin incest :3. Kalo babeh dae ikut ngegodain Jin entar, Baek ama Tae gimana... pan kasihan... Btw gimana ceritanya, makin menarik gak? Rame gak?

[kimkyu]: Yeey ada reader baru! Semoga kamu suka ya ama ff bikinan L ini! Terus ikutin yaaaaa

Yey akhirnya selesai juga! Makasih buat para reader yang masih setia buat ngebaca ff ini, buat para silent reader juga makasih L bahagia banget kalian baca ff L ini, meskipun L bakal sangat berterima kasih kalau kalian mau ngereview ff L ini walau hanya sekedar curhat atau membicarakan soal kekurangan L di ff ini, karena itu sangat membantu L buat ngembangin ff ini. L makasih banget, apalagi buat para reader yang udah setia ngereview ff L ini, soalna L juga jadi bisa curhat dan gerasa kalo kerja L dipeprhatiin sama orang hehehhe! Tetap ngereview yaaa~~

Last but not Least

Mind to Review?