Fall in Purple
Disclaimer: Inazuma Eleven GO Galaxy (c) Level-5
Warning: spoiler episode 35-37, gaje, jayus, typo, Tsurugi Palsu, Ozrock dan Nenek
.
.
Before The Storm
.
"Balaskan. Ingatkan mereka atas apa yang telah lakukan pada kita."
Hanya suara samar dari para orang dewasa yang terdengar sesaat sebelum kegelapan tidur panjang menyelimuti kesadaran masa kecilnya. Tapi bagi Ozrock, suara itu sudah seperti jantung kedua yang memompa darahnya agar tetap hidup, sampai detik ini. Setelah sekian lama, akhirnya tiba saatnya untuk mewujudkan keinginan terakhir para pendahulunya itu.
"—sama. Ozrock-sama."
Ozrock membuka mata. Meja kerja yang jadi tumpuan sikunya tampak kabur. Sambil berusaha memfokuskan pandangan, perlahan ia mengangkat dagunya yang ditopang telapak tangan.
"Ozrock-sama. Persiapan sudah selesai," Ishigashi merundukkan badan, menyamakan tinggi dengan sang atasan yang masih belum bangkit dari posisi duduknya.
"Begitu?" Ozrock menyahut tanpa menoleh. "Lalu, bagaimana dengan mereka? Tim yang akan melawan Earth Eleven itu?"
"Sedang menunggu di luar," jawab Ishigashi hormat. "Apa perlu mereka saya bawa masuk?"
"Tidak. Antarkan saja mereka langsung pada Earth Eleven."
Ishigashi mengangguk hormat, berlalu dari hadapan bosnya.
Sekelompok orang sedang menunggu di luar ruangan Ozrock. Sebagian duduk, sebagian lagi menyandari dinding. Begitu melihat Ishigashi keluar, mereka pun menegakkan tubuh. Ishigashi mengisyaratkan mereka agar mengikuti langkahnya.
"Tunggu."
Satu suara menghadang gerak iring-iringan yang dipimpin Ishigsashi.
"Apa maksudnya ini? Bukankah Earth Eleven akan melawan Faram Dite di pertandingan fnal?"
Ishigashi memandang sosok yang barusan menghadangnya.
"Ilmuwan Planet Kiel, Potomuri Emnator," sebutnya dengan nada datar. "Kami tidak bermaksud apa-apa. Rencana untuk menghimpun life energy demi menyelesaikan Cosmic Plasma Photon Cannon buatan Anda, akan kami laksanakan sesuai dengan yang sudah Putri Katora katakan. Hanya saja, kami tidak akan menggunakan Faram Dite. Karena kami punya rencana lain untuk mereka."
Potomuri menyipitkan mata, "Lantas…?"
"Kami sudah siapkan…," Ishigashi menggeser badan. Mempersilakan Potomuri untuk melihat lebih jelas sosok-sosok yang ada di belakangnya. "Tim lain yang akan 'bekerja sama' dengan Earth Eleven untuk menghimpun life energy."
"Ini…?" Potomuri terbelalak. Menatap sekumpulan wajah yang sama sekali tak asing lagi baginya.
.
.
.
Kendati Manuuba sebelumnya telah mengatakan bahwa ia sedang mempersiapkan kepergian rakyatnya dari kendali Ozrock, Earth Eleven sepakat tidak mengijinkannya pergi, sebelum mereka dipertemukan dengan Tsurugi yang asli.
Manuuba tampak tak keberatan. Bersama Katora, sosok serupa Tsurugi itu tanpa protes mengikuti Earth Eleven masuk kembali ke dalam kereta Galaxy Nauts, duduk manis di ruang rapat, mendengarkan Shindou yang membuka topik mengenai apa-yang-harus-mereka-lakukan-selanjutnya.
"Yang jelas, tak ada gunanya lagi meminta tolong pada Ozrock, kalau dia sudah menganggap kita musuh," ujar Shindou, sembari melirik Manuuba.
Dalam keadaan normal, Shindou tak mungkin mempercayai begitu saja ucapan orang asing, apalagi orang yang sudah menipu mereka. Tapi kenyataan bahwa ucapan Manuuba dijamin oleh Putri Katora yang sangat dipercaya Tenma itu, Shindou tak punya pilihan kecuali turut mempercayai keduanya.
"Pertandingan final kali ini… mungkin takkan berjalan lancar," gumam Zanakurou. Anak-anak lain tampak setuju. Terpekur diam, tak melontarkan argumen.
Shindou menatap Tenma. "Bagaimana, Tenma? Terlalu bahaya jika kita tetap maju dalam pertandingan ini. Apa sebaiknya kita mengundurkan diri?"
Katora menunggu jawaban Tenma, berharap-harap cemas. Terlepas dari bahaya yang harus mereka tanggung, Katora tidak ingin Tenma dan kawan-kawan mundur. Karena jika demikian, sia-sialah usaha Potomuri menciptakan kembali Cosmic Plasma Photon Cannon.
Setelah terdiam beberapa saat, Tenma akhirnya menggeleng.
"Jika mau menyelamatkan semesta, kita harus tetap maju. Seperti yang sudah dikatakan Katora dan Sarjes. Benar, kan. Katora?"
"I, iya…" Meski menjawab begitu, Katora menunduk. "Sebenarnya, saya juga tidak ingin melibatkan kalian semua dalam bahaya… Tapi, hanya ini satu-satunya cara menyelamatkan bumi kalian, dan juga alam semesta. Walau Ozrock berencana membalaskan dendamnya pada Faram Obius, tapi ia sudah berjanji. Jika Cosmic Plasma Photon Cannon berhasil rampung, ia akan menggunakannya untuk menghapus black hole."
"Apa bisa dipercaya?" Matatagi skeptis.
"Ozrock tidak akan membiarkan Faram Obius hancur," suara 'Tsurugi' terdengar dari pojok ruangan tempat Manuuba duduk bersedekap. Suara bernada yakin, yang langsung menarik perhatian seisi ruangan. "Planet dengan kekuatan militer nomor satu di galaksi, benar, kan? Jika Ozrock berhasil menguasai planet itu, sama saja dengan ia menaruh seisi galaksi di bawah todongan pucuk senapannya, seperti yang selama ini Faram Obius lakukan."
"Begitu rupanya …," Minaho mulai menyimpulkan. "Kalau Cosmic Plasma Photon Cannon rampung, maka Ozrock bisa memulai rencananya menguasai Faram, yang artinya sama dengan menguasai galaksi. Tapi kalau gagal, Faram tinggal melanjutkan rencana mereka mengambil alih planet kita dan planet lain untuk dijadikan tempat tinggal baru."
Manuuba merespon kesimpulan Minaho dengan sedikit gerakan mengangkat bahu.
"Tidak juga," katanya. "Apapun yang terjadi pada Cosmic Plasma Photon Cannon, Ozrock sudah memastikan rencana balas dendamnya, dengan merusak pesawat-pesawat yang akan digunakan Faram Obius untuk mengungsi. Jadi, meski tidak bisa menguasai Faram, ia masih bisa menikmati pemandangan rakyat yang ketakutan karena terkurung di planet yang akan hancur."
Tetsukado menggeram. "Bisa-bisanya dia berbuat begitu!"
"Tunggu dulu. Merusak pesawat…?" ulang Manabe, tak yakin. "Planet secanggih Faram Obius, harusnya punya sistem keamanan yang ketat, kan?"
Manuuba tertawa ringan. "Membobol keamanan begitu, sih, mudah saja. Jika yang menyusup adalah teman-temanku yang menyamar."
Mulut anak-anak spontan membulat. Menyadari betapa berguna sekaligus berbahaya kemampuan Manuuba dan teman-temannya itu.
"Mereka lebih menakutkan dari pada orang-orang Sazanaara, ya?" bisik Sakura pada Konoha, yang cuma menyahut dengan anggukan pelan.
"Bagaimana?" Mata 'Tsurugi' yang diarahkan Manuuba padanya, membuat Tenma terpana sesaat. "Apa dengan ini kau masih ngotot ingin maju ke babak final? Kalau pulang sekarang, mungkin Ozrock akan melepaskan kalian. Berbeda dengan Faram Obius, Ozrock tak membutuhkan bumi. Terlalu jauh dan terlalu membuang waktu jika ingin ke sana. Lagipula…," Manuuba memejamkan mata. Ingatan Tsurugi tentang bumi terbayang di benaknya. "Bumi kalian bukan planet menonjol yang punya teknologi atau sumber energi yang bisa dibanggakan. Ozrock tak mungkin tertarik."
Alih-alih marah karena planet asal mereka direndahkan, anak-anak Earth Eleven justru merasa seperti menemukan titik terang. Pulang? Ya, kenapa tidak? Sudah tak ada gunanya lagi bertanding di pertandingan final. Alat pemusnah black hole itu sedikit lagi tuntas. Kalaupun tidak, Ozrock tetap akan membereskan Faram, dengan mengurung rakyat Faram di planet yang akan hancur ini.
Meski mungkin kemenangan Earth Eleven bisa menyelamatkan semesta—seperti yang dikatakan Katora—tapi tidak ada jaminan kalau mereka akan menang. Bahkan sekalipun mereka menang, tak ada jaminan kalau mereka takkan ikut menjadi korban drama balas dendam Ozrock.
Jika pulang ke bumi sekarang, mungkin masih bisa selamat….
"Lalu …Tsurugi …?" suara Tenma mengempas harapan yang sempat melambung. "Kita harus menemukan Tsurugi dulu, kan?"
"Tapi Kapten," kata Kusaka, dengan nada sehati-hati mungkin. "Kita bahkan tidak tahu pasti Tsurugi ada di mana…"
"Kalau lebih lama di sini, cuma masalah yang akan menanti kita," Matatagi berkata terus terang. "Apalah artinya mengorbankan satu orang demi keselamatan yang lebih banyak."
"Tapi, kan…!"
Tenma memandang Shinsuke dan Shindou, meminta dukungan. Dan terkesiap saat tak menemukan reaksi yang diharapkan pada wajah mereka. Shinsuke menunduk. Shindou memalingkan muka darinya. Setengah putus asa, Tenma mencari bala bantuan lain.
"Tetsukado, hei Tetsukado! Kemarin kamu sudah bertekad tidak akan pulang sebelum ketemu Tsurugi kan? Iya, kan?"
Tetsukado menggigit bibir. "Maaf, Kapten. Kalau begini keadaannya… aku…"
Setelah Tetsukado yang tak melanjutkan kata-katanya, tak ada lagi yang bersuara. Dalam kediaman itu, Katora memandang Manuuba, kecewa. Mantan pengikut Ozrock itu memang tidak berbohong, tapi ia telah membeberkan kenyataan yang seharusnya tidak diketahui Earth Eleven. Kenyataan yang mungkin akan membuat Earth Eleven lebih memilih kabur ketimbang mengikuti taruhan besar untuk menyelamatkan semesta di babak final.
Satu-satunya harapan, penculikan yang dilakukan Faram terhadap teman-teman Tenma. Katora berharap, hal itu setidaknya akan menjadi pertimbangan Tenma untuk tetap bertahan di Faram Obius.
"Anak-anak!" satu suara memecah sunyi dari ambang pintu. Anak-anak Earth Eleven—juga Katora dan Manuuba, spontan menoleh. "Maaf, ya. Mengganggu rapat kalian…."
"Bibi Kamata?"
Kalau tidak penting sekali, bibi pengurus asrama itu tak pernah menginterupsi kegiatan mereka. Karenanya anak-anak langsung memfokuskan perhatian.
"Ishigashi-san menghubungi kalian," ujar Bibi Kamata. "Ia bilang, ada hal penting yang harus disampaikan."
Awalnya tidak ada yang merasa aneh pada Ishigashi, yang memang bertindak sebagai pemandu mereka selama Grand Celesta Galaxy berlangsung. Tapi kemudian, Tenma teringat akan cerita Manuuba, bahwa Ishigashi terlibat dalam penculikan Tsurugi. Maka tanpa basa-basi lagi, Tenma bertanya dengan nada menuntut. "Mana Tsurugi?"
Ishigashi tak tampak terkejut dengan perubahan sikap Tenma padanya.
"Rupanya, Anda semua sudah tahu," Ishigashi berkata. Matanya menatap sepintas pada Manuuba dan Katora yang juga ikut berkumpul di gerbong depan. "Kalau begitu, ini memudahkan pekerjaan saya."
"Mana Tsurugi!?" Tetsukado mengulang pertanyaan Tenma lebih keras.
"Dia baik-baik saja," jawab Ishigashi, sebelum semua anggota memberondongnya dengan pertanyaan yang sama. "Jika ingin bertemu dengannya, silakan datang ke stadium seperti yang telah dijadwalkan. Saya akan mengantar Anda semua ke tempatnya."
Ishigashi memutuskan hubungan. Gerbong depan untuk sesaat menjadi hening.
"Menggunakan Tsurugi-kun sebagai sandera untuk memaksa kita mengikuti babak final, ya...?" Minaho menggumam.
"Dengan begini jelas. Pihak Ozrock tidak ingin membiarkan kita pergi dari sini," lanjut Shindou.
Konoha menelan ludah, "Jadi..., kita tidak bisa pulang...?"
Tenma menatap semua yang ada di gerbong depan.
"Teman-teman, aku tahu kalian semua mengkhawatirkan tindakan Ozrock. Tapi kalau memang pertarungan di final bisa menolong Tsurugi dan alam semesta, sekecil apapun kemungkinan itu, aku akan mencobanya. Karena itu, aku…."
"Tak usah bicara lagi, Kapten," Tetsukado memotong. Bibirnya bergerak membentuk senyum. "Aku juga tetap di sini, sampai Tsurugi ketemu."
"Tetsukado," Tenma berucap lega. Kembali dipandanginya anak-anak lain, penuh berharap. Dimulai dari anggukan Shindou, lalu disusul anak-anak lain satu persatu.
Matatagi yang paling terakhir ditatap Tenma, menghembuskan napas keras, sebelum menjawab, "Baik, baik! Tapi kalau nanti keadaannya tampak berbahaya, kita langsung pulang, ya?"
Sementara di belakang anak-anak, Katora mendengar Manuuba berdecih. Wajah serupa Tsurugi itu merengut jengkel.
.
.
.
Panggung babak final, Stadium Grand Celesta Galaxy, telah ramai dipenuhi penonton. Terlihat Yang Mulia Ratu Lalaya menempati bangku VIP-nya. Sepasukan pengawal elit pimpinan Minel sudah ditempatkan untuk menjaga di luar, namun wajah sang ratu cilik tampak gelisah.
"Minel."
"Ya, Yang Mulia?" Minel membungkukkan badan.
"Perasaanku … tidak enak."
Minel tercenung mendengar ucapan ratunya. Ia pun sebenarnya merasa begitu sejak kemarin-kemarin. Tapi tak pernah diungkapkannya firasat itu karena takut membuat Lalaya cemas.
"Tsurugi mana?" Pertanyaan Lalaya membuyarkan lamunan Minel.
"Tsu-Tsurugi-sama…?" Minel mengerjap. "Saya rasa, seluruh anggota Faram Dite sudah tiba di sini. Mungkin, sedang di ruang ganti…"
"Bisa tolong panggilkan dia?"
Minel kembali mengerjap. Rasanya, baru sekali ini Lalaya menggunakan kata "tolong" dan tanda tanya untuk menyampaikan perintahnya. Selama ini perintah Lalaya selalu ditutup dengan tanda seru, yang artinya bersifat mutlak dan harus dipenuhi tanpa kecuali.
"Tapi … beliau pasti sedang bersiap-siap untuk pertandingan final."
"Kalau begitu, tolong lihatkan dia di ruang ganti?" pinta Lalaya lagi. "Paling tidak, aku ingin memastikan kalau dia masih ada di sini."
Minel terpana sebentar, tapi dianggukannya juga kepala.
Sebelum Minel sempat meninggalkan box VIP, gaung kepanikan sekonyong melingkupi stadium. Lalaya pun melihat jelas suasana rusuh itu dari bangkunya.
"Apa yang terjadi…?" Sang ratu cilik bertanya-tanya.
Beberapa anak buah Minel yang berjaga di luar, menerobos masuk ruang VIP Lalaya.
"Kondisi darurat, Komandan!" seru mereka pada Minel. "Bitway Ozrock telah…"
"Ozrock?"
Lalaya menyuarakan keheranannya. Ia selama ini hanya mengenal Ozrock sebagai salah satu pesuruh. Tapi Minel mengenalnya lebih dari itu.
Salah satu dari sebelas anak yang terdampar di Faram beberapa tahun lampau, yang kemudian dibesarkan oleh Yang Mulia Akurous, sebelum akhirnya bisa hidup mandiri dan menjadi pejabat penting dalam jajaran keanggotaan Dewan Perwakilan Galaksi.
Sekarang pun, Ozrock masih belum melepas keterikatannya pada Faram, sebagai pihak luar yang telah mengucap sumpah setia pada Ratu Lalaya. Minel menganggap, sikap Ozrock itu adalah wujud balas budinya pada planet yang sudah membesarkannya.
"Seluruh sistem kendali Faram Obius telah di bawah kendalinya!" lanjut sang anak buah, di tengah kepanikan dan ketidakpercayaannya. "Baru saja lewat siaran visual yang ia bajak, Ozrock memberi kita peringatan invasi! Dia berencana membangun kembali planetnya—Ixal—di planet kita!"
"Apa!?"
Lalaya melihat Minel menahan napas kaget, mendengar nama planet asing yang tak pernah dia dengar.
"Minel, omae … nanika shitte oru no ka? Kau tahu sesuatu…?"
Minel menggertakkan gigi. Menyesali kebodohannya. Ozrock mengabdi sekian lama pada Faram bukan dalam rangka membalas budi. Melainkan demi mempelajari seluk beluk planet ini, untuk membalas dendam para pendahulunya.
.
.
.
"Kalian, rakyat Faram Obius, kini berada di bawah kekuasaan kami, Ixal Fleet!"
Peringatan invasi Ozrock sampai juga pada siaran televisi di ruang ganti Faram Dite.
"Percuma melarikan diri. Seluruh pesawat yang akan kalian gunakan untuk mengungsi telah diprogram agar meledak jika dipakai sebelum babak final selesai. Tapi, jika kalian memenangkan pertandingan final ini, pesawat-pesawat itu akan kami kembalikan, dan kalian bisa meninggalkan planet ini."
"Hei, hei… ini cuma bercanda kan?" Rodan yang biasanya santai bersuara gemetar.
"Kalau kalah, kita akan mati…?" ucap Hilary tak percaya
Di antara semuanya, mungkin cuma Tsurugi yang tidak terguncang dengan ancaman itu. Sebaliknya, tindakan Ozrock justru memudahkan rencananya menghimpun life energy, seperti yang sudah disebutkan Akurous. Dengan menempatkan Faram Dite dalam posisi yang sama dengan Earth Eleven, para Shitennou yang bengal itu pun tak punya pilihan kecuali bertarung mati-matian dalam babak final ini.
Terpikir oleh Tsurugi, bahwa Ozrock juga berada di balik pembuatan Cosmic Plasma Photon Cannon, pantas saja dia bisa dengan santai mengatakan, akan menguasai Faram meski tahu tanah planet ini ada di ambang kehancuran.
"Bukan masalah besar, kan?" reaksi Tsurugi yang bernada lain daripada yang lain, seketika itu juga menarik perhatian. "Planet-planet yang ikut dalam turnamen ini—termasuk bumi, planetku—selama ini bertarung demi melawan takdir kehancuran mereka di tangan kalian. Dan kali ini, posisi kalian sama dengan mereka. Mempertaruhkan nyawa demi melindungi tanah kelahiran. Itu adalah tugas yang bahkan sanggup ditanggung oleh para pemain dari planet-planet kecil. Kalau kalian memang berasal dari planet terkuat di jagat raya, harusnya memiliki jiwa yang lebih besar daripada mereka."
Kata-kata itu seperti tamparan bangun tidur bagi anak-anak Faram Dite. Terlebih para Shitennou, yang sudah melihat sendiri bagaimana gigihnya planet-planet lain bertarung.
"Bertaruh nyawa untuk melindungi planet sendiri, ya...?" Ryugel menerawang. "Benar juga. Orang Ratonik yang umurnya pendek itu saja, berjuang mati-matian demi mempertahankan tanah kelahirannya."
Gandales mengangguk-angguk. "Padahal mereka hidup di planet itu cuma sebentar, ya, Ryuugel-nii?"
Argo, sang kiper, memandang Baran bersaudara dan berkata, "Perasaan kita yang ingin melindungi planet ini pun, harusnya juga sama dengan planet-planet lainnya."
Terdengar suara Rodan tertawa kering, "Seandainya planet-planet yang sudah kita kalahkan melihat kita ketakutan begini, mereka pasti akan menertawakan kita, ya?"
Hilary melengos. "Aku tidak suka ditertawakan."
Barga mengangguk sepakat. "Harga diri kita tidak boleh kalah dari harga diri orang-orang Sandorius!"
"Aku … merasa terhormat bisa ikut serta dalam pertarungan ini." Bahkan Salfer, si pemain cadangan, angkat suara, mewakili anggota di luar Shitennou, "Meski aku hanya akan duduk di bangku cadangan."
Sementara itu, Minel yang tak sengaja mendengar kata-kata Tsurugi dari balik pintu, membatalkan niatnya untuk masuk. Tanpa menemui Tsurugi, ia kembali ke tempat Lalaya dan mengatakan bahwa Tsurugi memang ada di sana.
"Faram Dite memang sempat ciut karena ancaman Ozrock tadi. Tapi Tsurugi-sama berhasil membangkitkan semangat mereka kembali."
Laporan Minel yang disampaikan dengan nada menenangkan, tak membuat mendung di wajah Lalaya surut. Ia tercenung sambil menatap ke bawah. Barisan pemain Faram Dite mulai memasuki tengah lapangan.
"Tsurugi dan Faram Dite …. Mereka menanggung beban hidup dan mati planet ini." gumam Lalaya mengambang. "Sementara aku sebagai ratu mereka… malah tidak bisa berbuat apa-apa…."
.
.
.
Kepanikkan yang melanda Grand Celesta Stadium, akhirnya membuat Earth Eleven yakin akan kebenaran cerita Manuuba dan Katora.
"Selamat datang, di Grand Celesta Stadium," Earth Eleven mendapati Ishigashi menanti di depan ruang ganti mereka.
Tenma kembali bertanya, "Mana Tsurugi?"
Ishigashi tak langsung menjawab. Ia mempersilakan Tenma dan yang lain masuk, lalu mengaktifkan sebuah panel angka dan huruf yang menempel di lengannya. Pada panel itu, ia menekan serangkaian kode yang sepertinya sudah ia hapal di luar kepala. Tak lama, salah satu pojok dinding ruang ganti terkuak, menampakkan sebuah lorong bertangga yang mengarah ke bawah.
"Sebelah sini," Ishigashi melangkah turun mendahului, diikuti semua anggota Earth Eleven, Katora, juga Manuuba yang masih dilarang pergi. Begitu semua masuk, pintu ruang bawah tanah itu tertutup seketika. Kegelapan meraja. Ishigashi memandu di depan dengan sumber cahaya yang ia bawa.
Semakin ke bawah, Shindou makin merasa janggal. Muncul kecurigaan kalau Ishigashi sedang menjebak mereka. Tapi Tenma tampak tak ambil pusing. Langkahnya menuruni tangga dengan cepat, tak sabar lagi ingin mencapai Tsurugi.
Begitu anak tangga habis, lantai yang dipijak seketika menjadi datar. Lorong sempit berganti menjadi sebuah ruangan lapang. Ishigashi mematikan lampunya. Seberkas cahaya baru yang menyilaukan ganti menyinari ruangan. Tenma dan kawan-kawan serempak menyipitkan mata.
Sambil berusaha membiasakan diri dengan cahaya, mata mereka mulai menangkap penampakan sebuah lapangan sepak bola, dengan hamparan rumput ungu khas Faram Obius. Sepuluh pasang kaki yang berdiri di atasnya takkan terlalu mengejutkan, andai wajah-wajah pemilik kaki itu tidak dikenal baik oleh Tenma dan lainnya.
"Mereka…?"
Shindou. Ibuki. Matatagi. Tetsukado. Sakura. Kusaka. Konoha. Manabe. Minaho. Zanakurou. Kecuali warna seragam yang berwarna merah dan beberapa karakteristik lain, tak ada yang membedakan sosok yang berdiri di atas rumput ungu itu dengan mereka yang ada di kubu Earth Eleven.
"Hei… hei… apa maksudnya ini…?"
Tanpa bicara, Ishigashi mundur dari posisinya yang memimpin di depan rombongan Tenma. Bersamaan dengan Manuuba yang bergerak maju menggantikan tempatnya.
Tenma dan kawan-kawan hanya bisa bertanya-tanya saat menatap punggung Manuuba yang kini berdiri di depan mereka.
Membuka jaket Earth Eleven milik Tsurugi yang ia kenakan, Manuuba memutar tubuh menghadap Tenma dan kawan-kawan. Sehingga mereka bisa melihat, baju yang ada dibalik jaket Tsurugi itu sama persis dengan seragam merah yang dikenakan 'Earth Eleven' palsu.
Kecuali ban kapten warna kuning yang melingkari lengan seragam merah itu.
.
.
.
Sementara di atas sana, di dalam Stadium Grand Celesta Galaxy, Tsurugi dan Faram Dite memandang tak percaya pada tim tak terduga yang muncul, dan lantas menempati bangku di samping mereka. Bangku yang harusnya ditempati oleh Earth Eleven.
"Ozrock…?"
Yang disebut namanya mengembangkan seringai lebar. Begitu pula dengan rekan-rekan satu tim di belakangnya.
"Bagaimana rasanya? Terdesak di bawah tekanan pihak yang lebih kuat?" Ozrock bertanya sinis. "Tentu ini pengalaman baru buat kalian, ya?"
"Kurang ajar…!" Barga meradang, merangsek maju. "Kembalikan planet kami seperti semula!"
Tsurugi yang berdiri di depan Barga memberi isyarat padanya agar tenang.
"Mana Tenma dan yang lainnya?" Tsurugi bertanya.
"Ah, Earth Eleven, ya?" Ozrock berlagak teringat. Jarinya menunjuk ke tanah yang dipijaknya. "Mereka sedang menghadapi lawan lain, tak jauh di bawah kaki kita saat ini."
"Apa maksudnya itu?" Tsurugi berusaha keras menjaga ketenangannya. "Bukankah lawan kami adalah Earth Eleven?"
"Daripada memikirkan mereka, bukannya lebih baik kau mengkhawatirkan diri sendiri?" balas Ozrock menatap Tsurugi. "Seperti yang kau lihat, aku datang ke sini untuk membalas dendam. Kau tidak ada hubungannya dengan Faram. Untuk apa membela mereka?"
"Aku tidak membela siapa-siapa," Tsurugi menjawab tegas, sedikit mengejutkan anggota tim Faram Dite yang berdiri di belakangnya."Aku hanya ingin melindungi apa yang bisa kulindungi."
Ozrock menegakkan kepala. Tampak terkejut. Namun sesaat kemudian ia tertawa terbahak. "Jadi kau benar-benar berpikir Faram Obius akan selamat? Lucu sekali!"
Lalaya menyaksikan pemandangan itu dari bangku VIPnya. Meski tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, Lalaya yakin betul kalau yang ada di depan Tsurugi adalah Ozrock, orang yang bertanggung jawab atas teror yang melanda planetnya. Segera ia menyuruh Minel menambah pasukan di sekitar lapangan, untuk jaga-jaga seandainya Ozrock melakukan hal yang tak terduga.
"Tsurugi," Argo sang kiper berbisik dari belakang Tsurugi. "Lawan kita bukan Earth Eleven. Apa kita akan tetap bertarung?"
"Tentu saja," jawab Tsurugi dengan suara rendah. "Jika ingin menyelamatkan planet ini, kita harus menang."
"Menang?" Seringai Ozrock terkembang, lebih lebar dan licik dari sebelumnya. "Kalian tahu kenapa aku mengajukan syarat demikian? Itu karena aku yakin sekali bahwa kalian takkan menang melawan kami. Ixal Fleet."
Sementara Ozrock menyebut nama tim pimpinannya, rekan-rekan Ozrock yang berdiri di belakang, bergerak maju menjajari kanan dan kiri sang kapten. Di antara mereka, Tsurugi mengenali salah satunya sebagai Ishigashi Gorham, guide Earth Eleven. Tak terlalu mengejutkan karena dari awal, pemuda berambut biru aqua itu memang mengaku sebagai anak buah Ozrock. Terlebih mereka juga memiliki tampilan serupa, bukti bahwa keduanya berasal dari planet yang sama.
"Sombong sekali!" seru Gandales sebal. "Padahal bertanding saja belum, sudah ngaku-ngaku bakal menang! Orang kayak begitu, disebutnya apa, ya, Ryugel-nii?"
"Sok tahu," jawab Ryugel. "Tapi tak apa. Biar kita lihat sejauh mana mereka mampu melawan kita."
.
.
.
"Apa maksudnya ini?" tuntut Tenma pada Ishigashi. "Bukannya kau mau mengantar kami ke tempat Tsurugi?"
Ishigashi bungkam. Ekspresinya masih membeku. Namun wajahnya perlahan-lahan mengerut ke dalam. Tenma yang kaget karena melihat kejadian itu dari jarak dekat, sontak mundur.
Di depan Tenma dan yang lain, wajah pucat Ishigashi perlahan tapi pasti mulai berubah warna, dari pucat menjadi abu-abu pasir. Rambut birunya tertarik masuk ke dalam kulit kepala. Matanya berubah bentuk, mulutnya melebar.
"Ke-kenapa dia?" gidik Aoi, melompat ke balik punggung Katora. "Seram…!"
"'Ishigashi Gorham' yang mengantar kalian ini adalah temanku yang menyamar." Manuuba bicara, menjawab kebingungan anak-anak. "Ishigashi yang sebenarnya sedang menghadapi Faram Dite bersama Ozrock di stadium Grand Celesta Galaxy, yang tepat berada di atas kita."
"Hah?" Earth Eleven mendesah kaget.
"Jadi, si Ozrock itu mengambil posisi kita di babak final!?"
"Apa-apaan dia? Curang!" sewot Sakura.
"Bukan. Bukan pertandingan final." Manuuba mengoreksi. "Sudah kukatakan bukan? Dia melawan Faram Dite untuk membalas dendam. Kalian harusnya bersyukur kubawa ke sini. Balas dendam bukan tontonan yang menyenangkan."
"Jadi sambil menunggu Ozrock menyelesaikan urusannya, kami harus bertanding melawan kalian?" Shindou memastikan.
"Bisa dibilang begitu."
"Kami tidak punya waktu melawan kalian!" sahut Tenma keras. "Kami harus menolong Tsurugi—"
"Apa setelah melihat ini kalian masih mau menolongnya?"
Manuuba mengarahkan pandangannya ke dinding. Sebuah layar besar muncul, menampilkan siaran persiapan pertandingan di Grand Celesta Galaxy, antara Faram Dite dan Ixal Fleet.
Mulanya Earth Eleven tak mengerti apa gunanya menunjukkan pertandingan itu pada mereka. Sampai mereka melihat para anggota Faram Dite yang tengah bersiap di bangkunya.
"Tsurugi?" Shindou menatap takjub. "Itu … Tsurugi, kan?"
"Be-benar!" seruan Tenma paduan antara kaget dan lega. "Syukurlah, dia selamat!"
Matatagi mengangkat alis. "Selamat, sih, selamat. Tapi dia mengkhianati kita, lho?"
Memang begitulah situasi yang terlihat. Tsurugi berada di tengah-tengah pemain Faram Dite, memakai seragam yang sama dengan orang-orang itu.
"Kenapa dia ada di sana…?" suara Ibuki kebingungan
"Aku tahu! Yang ada di sana itu pasti Tsurugi palsu juga!" seru Tetsukado yakin.
"Atau mungkin… dia dikendalikan," Manabe membuka kemungkinan lain.
"Tapi kalau memang dikendalikan…," Minaho menunjuk bagian lengan kiri Tsurugi yang dilingkari ban kapten warna hijau. " Mengapa dia bisa menjadi kapten? Rasanya tak mungkin tim sekuat Faram Dite mengambil risiko menunjuk orang yang tak memiliki kesadaran sendiri, sebagai kapten mereka."
"Aku tidak tahu kenapa dia bisa di sana. Tapi dia Tsurugi Kyousuke yang sebenarnya," ucap Manuuba. "Ozrock tidak pernah menyuruh siapapun menyamar menjadi Tsurugi, kecuali aku."
"Te-teman-teman! Lihat itu!" Shinsuke menunjuk layar. Pelatih Kuroiwa muncul dan mengambil tempat di bangku Faram Dite.
"Pantas beliau meninggalkan kita," gumam Shindou. "Rupanya, beliau juga memihak sana…"
"Haah! Tahu begini, lebih baik aku pulang saja dari kemarin!" Matatagi menghembuskan napas keras. "Tim ini sudah dipenuhi pengkhianat!"
Tenma masih terpana, dengan mata yang masih lekat memandang monitor.
"Aku sudah memperingatkan kalian agar cepat pulang, kan? Tapi kalian malah berkeras," Manuuba mengangkat bahu. "Sekarang, sudah terlambat untuk kabur. Kalian tak punya pilihan kecuali melawan kami."
"Kalau kami menang, apa kau akan membebaskan kami?" Shindou bertanya.
"Tentu saja." Manuuba mengiyakan tanpa ragu.
"Tapi kalau kalian kalah—" Salah satu teman Manuuba angkat bicara. Seseorang dengan rupa Ibuki. Ia menudingkan jarinya yang dibungkus sarung tangan kiper, pada Earth Eleven. "—kami akan mengambil alih identitas kalian."
Ibuki yang asli mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Seperti yang sudah kuceritakan, aku dan rakyatku sedang mencari tempat tinggal baru," Manuuba menjelaskan, setengah mengingatkan. "Jika Earth Eleven kalah, kalian akan terkurung selamanya di sini, sementara kami akan pulang ke bumi menggantikan kalian."
"Bagaimana jika kami menang?" Shindou menyela desah napas teman-temannya yang terkesiap.
"Jika kalian menang, Ozrock maupun kami berjanji tidak akan menganggu planet Bumi," jawab Manuuba. "Bagaimana? Syarat yang cukup adil, kan?"
"Apanya?" bantah Ibuki sewot. "Kami akan kehilangan tempat tinggal kalau kalah. Sedangkan kalian? Meski kalah, masih bisa mencari tempat tinggal lain dengan kemampuan menyamar kalian. Apanya yang adil kalau begitu?!"
"Kau tidak mengerti, ya? Ozrock akan menguasai galaksi. Semua yang tidak tinggal di bumi, akan menjadi budaknya dia!" Wajah Manuuba mengeras. Dengan suara berbisik, ia melanjutkan. "Harusnya, dari awal aku tidak usah mempercayai si licik itu…."
"Baiklah. Kami sudah mengerti situasinya. Kami akan bertanding melawan kalian." Shindou mengambil keputusan. "Kau setuju kan, Tenma?"
Setengah sadar, Tenma mengangguk. Tapi benaknya masih belum lepas dari tayangan di layar.
Tsurugi, apa yang terjadi padamu…?
.
.
.
"Begitu, ya? Baik, teruskan penjagaan."
Melihat wajah muram Minel saat mematikan alat komunikasinya, Lalaya segera memburunya dengan pertanyaan.
"Apa yang terjadi di bawah sana, Minel?"
Minel menuturkan kembali laporan yang didapatnya dari pasukan yang berjaga di lapangan.
"Balas dendam…?" Kata itu terasa asing di lidah Lalaya, yang selama ini dibesarkan dalam keyakinan bahwa planetnya hidup dalam kedamaian dan kenyamanan mutlak.
"Maafkan saya, karena tidak mampu mengungkap ambisi rahasia Ozrock selama ini," Minel tertunduk menyesal.
Mungkin berbeda dengan pendapat orang-orang. Tapi menurut Minel, Lalaya bukan ratu tanpa kemampuan. Hanya saja, karena kepergian Ayahanda-nya yang terlalu cepat, Lalaya tak sempat mempelajari banyak hal dari beliau.
Dan Donolzen yang kemudian melanjutkan pelajaran tersebut malah berbalik memusuhinya.
Mungkin, beban ini sudah di luar batas kemampuan Yang Mulia, pikir Minel. Digoyang dua kudeta berturut-turut. Dari dalam, dan juga dari luar.
Sekalipun berpikir demikian, Minel tak sedikitpun meragukan kepantasan Lalaya menempati tahta Faram Obius. Juga segala bentuk tindak kudeta itu, ia takkan pernah menyetujuinya.
Tapi, kalau keadaan seperti ini terus berlanjut…
"Minel...! I-itu…!"
Suara Lalaya sontak membuyarkan lamunan Minel. Sebelum ia sempat bertanya, jari Lalaya menunjuk seseorang yang baru hadir di lapangan, dan menempati bangku pelatih milik Ixal Fleet.
"Penasehat… Donolzen…?"
.
.
.
(bersambung)
Ungg…, chapter ini jauh lebih singkat dari sebelumnya, ya ? ==' Maaf kalau mengecewakan. *bungkuk2*
Sneak Peak chap depan:
Earth Eleven (Kapten : Tenma, Pelatih : Kosong)
VS
Fake Eleven (Cocok ga namanya ?^^) (Kapten : Tsurugi Palsu, Pelatih : Kosong)
.
Faram Dite (Kapten : Tsurugi, Pelatih : Kuroiwa)
VS
Ixal Fleet (Kapten : Bitway Ozrock, Pelatih : Donolzen (*geh! Dasar Nenek ga ada matinya XD))
Karena author orangnya ga kreatif, anggaplah seragamnya Fake Eleven mirip-mirip sama seragam Earth Eleven biasa, cuma warna birunya diganti jadi merah. XD
Ngomong2, sekarang kalau ngedit cerita di FFN, hurufnya jadi kecil-kecil, ya? Imut... *w* tapi bikin sakit mata... orz. Jd mohon maaf kalo ada typo yg tak terdeteksi ya? (_ _)
