Summary: Haruno Sakura tahu kalau Uchiha Sasuke adalah calon tunangan artis itu. Ia pun kini sudah memiliki pria lain. Tapi Sasuke terus bersikeras dan bahkan melarikan diri ke apartemen Sakura. Ada apa sebenarnya yang terjadi dengannya dan Sasuke dimasa lalu?
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Chapter 6:
Sai sudah menunggu sampai tangannya terasa memanas, ia berulang kali menelpon ponsel Sakura dan mengirimi pesan untuk gadisnya kalau ia menunggu di butik Sakura. Namun gadis itu belum muncul juga. Toko sudah ingin tutup dan akhirnya Sasori mengajaknya berjalan di sekitar taman untuk mengobrol.
Kedua pria itu kini duduk di bangku taman, Sasori tampaknya santai-santai saja. Sedangkan Sai nampaknya kurang senang. Ia terus memainkan cincin itu di tangannya, cincin yang akan ia berikan pada Sakura.
"Sakura baik-baik saja," kata Sasori mencoba menenangkan temannya yang nampaknya terlihat terlalu khawatir. "Kalaupun ia tersesat pasti ia akan segera menghubungi salah satu dari kita, mungkin ia bertemu seseorang."
Sai menjadi tambah gelisah, "mm, aku harap ia cepat menghubungi." Katanya sambil menatap sekeliling, berusaha menangkap setiap warna merah jambu yang ada disana.
"Hei, apa itu?" Tanya Sasori menemukan cincin yang kini di genggam Sai terus menerus, "jangan-jangan kau berniat..."
"Awalnya memang begitu, tapi aku rasa terlalu cepat. Jadi kuputuskan untuk memberikannya sebagai hadiah jadian setahun," kata Sai.
Wajah Sasori nampaknya cukup lega dengan keputusan Sai, entah kenapa ia masih ragu saja dengan Sai, "tidak terasa ya, sudah setahun berlalu ketika aku memperkenalkan kalian saat pesta kesenian di Suna, aku cukup terkejut kalau kau bisa mengenal Sakura. Dia beruntung bisa mendapatkanmu, setidaknya kau mengenalnya sebelum kecelakaan kan? Kau bisa membuatnya mengingat ingat, walaupun sepertinya sulit juga."
Sai terdiam, dalam hati ia berharap Sakura tak akan pernah mengingat apapun sebelum kecelakaan, terutama hal itu. "Ya, begitulah." Kata Sai.
"Hei, lusa ikutlah bersamaku ke Iwa, bantu aku menyiapkan pertunjukan seni di sana. Kau tahu hanya kau yang bisa kupercayai, mereka mengirimkan aku pemula dan kau tahu aku tidak bisa bersabar menghadapi pemula." Kata Sasori.
Sai menatap Sasori dengan senyuman tipis, "tentu saja aku bisa. Tapi kau akan berhutang banyak padaku," Sasori hanya mengangguk-angguk pasrah, namun sedetik kemudian terdengar suara keras dari saku Sai, pria itu langsung terkesiap mendapatkan sebuah telpon dan ia langsung menjawab, "Sakura! Kau kemana saja?" Tanya Sai dengan suara parau. "Apa? Kau ada di apartemen? Tunggu, aku akan kesana sekarang."
.
.
.
Haruno Sakura merasakan hatinya sedikit memerih, pria itu menangis tapi seperti tak menangis. Matanya yang kelam tak memancarkan emosi, tapi sesuatu membuat Sakura tertekan.
"Sakura, kau bercanda kan?"
Katanya dengan nada suara rendah. Matanya kini terlihat kelabu, bibir tipisnya hampir bergetar. "Aku tidak mengerti maksudmu, Uchiha-san. Tunggu, coba luruskan ini. Aku ingat sekarang, kalau tidak salah kau adalah calon tunangan Yamanaka Ino. Aku mendengar namamu di TV. Tapi sungguh, aku merasa kita belum kenal sebelumnya." Kata Sakura dengan nada suara mantap.
Sasuke menatap mata Haruno Sakura, mengabaikan suara ponselnya yang berdering di saku celana kainnya. Ia tak berkata apa-apa, namun genggamannya masih erat di lengan Sakura.
"Uchiha-san ponselmu berbunyi," kata Sakura, Sasuke hanya diam. Suaranya adalah suara Sakura, matanya adalah milik Sakura, kehadirannya adalah sepenuhnya gadis itu. Tapi kenapa?
"Mungkin aku salah orang," gumam Sasuke. Sasuke melepaskan genggamannya, namun bukan menjawab telponnya, Sasuke malah memperhatikan Sakura mengambil ponselnya yang terjatuh.
Gadis itu meliriknya sejenak, kelopak bunga Sakura dari pohon di seberang mereka berguguran, terbang membuat tempat itu seketika bernuansa merah muda, dan itu membuat Sasuke pusing. Gadis itu berjalan menjauh, "raja bunga Sakura!" Pekiknya tertahan dengan suara girang, seketika pria itu menggenggam tangannya lagi, menariknya bersamanya. Sakura terpaku.
.
.
.
Tangan itu...
.
.
.
...entahlah Sakura merasakan sesuatu yang bergetar di hatinya.
.
.
.
"Nanti saat ku kembali, aku ingin melihat..."
"...air mata jatuh..."
"...dari mata nanarmu."
Uchiha Sasuke mematikan radio di dashboard mobilnya, ia menatap lurus ke depan. Ia menyesal telah menghidupkan radio, lagu tadi membuat otaknya semakin ciut.
"Hn, jadi kau lupa? Maksudku, setelah kecelakaan banyak hal yang kau lupakan, kau amnesia."
"Aa, waktu itu umurku masih enam belas. Aku baru seminggu pindah ke Suna, dan kecelakaan itu terjadi. Maafkan aku jadi lupa tentangmu, Sasuke-san." Kata Sakura, "apa dulu kita dekat?" Tanya Sakura.
"Hn, tetangga." Kata Sasuke mencoba menyembunyikan rasa kesalnya yang menggerogoti dirinya sendiri.
"Hm, kau sampai memelukku seperti itu. Apa kita hanya tetangga?" Tanya Sakura penasaran.
Sasuke menoleh sedikit, namun kembali memfokuskan diri pada jalan, "ya. Tidak. Maksudku, kita berteman cukup dekat." Sasuke menginjak rem, dan ia berdecak. Jalanan menuju Big Town Konoha jadi macet.
"Sayang sekali bukan, aku jadi terlihat pikun begini. Jadi, apa yang kau lakukan sekarang Sasuke-san?" Tanya Sakura menatap pria yang kini terlihat sedikit rileks dan tidak sepenuhnya berkonsentrasi ke jalan.
"Aku? Hn, bekerja di kantor. Kau?" Katanya dengan sedikit ragu.
"Aku memiliki butik di Konoha Town Square, seminggu lalu aku pindah ke sini," kata Sakura pelan.
Sasuke mengangguk, "Sakura Botique? Aku baru saja habis dari sana, membeli tuksedo," kata Sasuke.
"Benarkah?" Sakura terlihat berseri namun ia tertahan, "oh, untuk pertunanganmu? Selamat ya," katanya ragu, sesuatu yang aneh menyelimuti hatinya.
Sasuke menatap Haruno Sakura seksama, benarkah ia melupakan Sasuke? Apa jangan-jangan dia bersandiwara? "Sakura, apa kau benar-benar tak mengingat aku? Sedikitpun?" Tanya Sasuke mencoba meyakinkan gadis itu.
Sakura terlihat bingung, "ya, maafkan aku. Aku benar-benar belum mengingatmu," kata Sakura, ia menatap sedih ke arah jalanan.
Sasuke terdiam, kemudian ia menjalankan mobilnya, "berhentilah meminta maaf, aku harusnya yang melakukannya." Kata Sasuke.
Alis Sakura bertautan dan tak mengerti, "kenapa kau yang harus meminta maaf?" Tanyanya dengan nada bingung.
"Hn, aku pernah melakukan sesuatu yang tidak baik padamu," Sasuke berkata pada Sakura, "dulu, sebelum kau pindah. Dan aku khawatir aku bisa saja melakukannya sekarang ataupun nanti," katanya.
Sakura merasakan dadanya berdegup kencang was-was. Pria tampan ini, apa yang pernah ia lakukan? Apa? "Kalau begitu aku harusnya tidak bersamamu sekarang ya?" Katanya bergurau dengan suara ringan.
"Hn, mungkin." Sahut Sasuke, Sasuke memutar kemudinya dan berhenti dengan mulus di depan gedung apartemennya. Namun Sakura masih menatapnya, "apa?" Tanya Sasuke.
"Apa yang telah kau lakukan dulu?" Tanya Sakura, "kau pernah berbuat apa?" Tanya Sakura lagi.
Sasuke menghela nafas, ia mengangkat bahu, "hn, banyak hal. Dan aku rasa hal yang paling sulit adalah bagaimana aku masih terus berharap agar kau bisa memaafkanku. Karena selama sembilan tahun aku tak bisa menemukanmu, aku takut jika menemuimu."
"Aku tidak bisa memaafkanmu jika aku tak tahu kesalahanmu," kata Sakura dengan tidak sabaran, "katakan saja," kata Sakura. "Kau pernah mencontek ulanganku?"
"Yang benar saja, kita bahkan tidak sekelas." Gerutu Sasuke.
"Lalu apa? Kau pernah mencuri makananku? Menyembunyikan buku catatanku? Merobek tugasku? Mengejekku?"
"Tidak, tidak, tidak, dan tidak." Kata Sasuke menjawab seluruh pertanyaan Sakura.
"Lalu apa?" Tanya Sakura tak sabaran, "kau pernah melecehkanku?"
"Sakura!" Kata Sasuke galak, ia mendengus dan menatap ke arah gedung apartemen Sakura, tiba-tiba ia mengalihkan pembicaraan, "kau suka bintang, kau pernah mengatakannya pada satu malam ketika kau mengerjakan tugas di rumahku." Kata Sasuke.
Sakura merasakan dadanya berdebar ketika pria itu menatapnya dengan lembut, Sakura membuang mukanya dan wajahnya memanas, "mm," Sakura bergumam, "aku memang suka bintang." Kata Sakura sambil merenung, dunianya teralihkan bagaimana ia sadar dari komanya dan semuanya terhapus begitu saja. Ia lupa segalanya, namun perlahan-lahan kenangannya kembali padanya sedikit demi sedikit.
"Aku rasa ini sudah larut, aku akan mengunjungimu kapan-kapan." Kata Sasuke, Sakura terbangun dari khayalannya.
"Ya, kurasa kau benar," kata Sakura melupakan apa yang mereka bahas tadi sampai-sampai ia jadi lupa menanyakan kesalahan apa yang Sasuke perbuat. Sakura keluar dari mobil, "apartemenku nomor 201, kalau mau kau bisa berkunjung kapan-kapan."
Setelah sampai di dalam apartemennya gadis itu terkejut dan mengambil ponselnya, "Halo Sai-kun, maafkan aku, tadi aku bertemu teman. Sekarang aku sudah di apartemen."
.
.
.
Sakura menyiapkan secangkir kopi di cangkir, ia berjalan keluar dari dapur dan menuju ke ruang tamu. Ia meletakkannya di atas meja, dan menatap kekasihnya.
"Aku mengkhawatirkanmu," kata Sai, "kau tadi bersama siapa?"
Sakura tertegun, haruskah Sai mengetahui tentang Uchiha Sasuke? Mungkinkah mereka saling kenal? "Ada kenalan Kaa-san," dustanya, Sakura mengalihkan pandangannya.
Sai menatap Sakura, kemudian ia mengeluarkan kotak berwarna merah kecil. "Lihatlah, kuharap kau suka." Kata Sai dengan suara tenang. Sakura menatap kotak itu dan mengambilnya perlahan.
Ia membuka dan terpampanglah cincin emas putih dengan bermata berlian di tengahnya. Kalau saja ia tidak bertemu dengan Uchiha Sasuke yang tiba-tiba mendominasi dirinya, ia pasti sekarang sangat gembira menerima hadiah dari Sai, "terimakasih Sai-kun, kau baik sekali." Sakura tersenyum, Sai menatap jam yang tergantung di dinding dekat TV di ruang tamu.
"Sudah malam, kau harus istirahat." Kata Sai, "oh ya, dua hari lagi aku harus terbang ke Iwa. Akan ada gelaran kesenian, dan aku diminta Sasori untuk membantunya mengkordinir segalanya. Seminggu atau dua minggu aku akan kembali kemari, kau tidak apa-apa?" Tanya Sai. Sakura mengangguk dan tersenyum untuk meyakinkan.
Dalam hati ia mendesah kecewa, padahal Sai berjanji akan menemaninya jalan-jalan. Sakura tersenyum dan mengantar Sai ke depan pintu apartemennya setelah ia menghabiskan kopi buatan Sakura.
Sakura memberikan kekasihnya sebuah pelukan dan kecupan ringan di pipinya. Pria itu pun berlalu.
.
.
.
Uchiha Sasuke menatap ke dalam kamar apartemennya, wajahnya kini sudah memucat dalam keheningan. Ia tak percaya, apa yang ia mimpikan kemarin malam? Hari ini begitu cerah sehingga tak ada satu pun pertanda kalau penantiannya selama ini terjawab tuhan.
Sasuke masih terpaku dalam diam, mata nanarnya. Ia menangis. Yang benar saja, kapan terakhir kali ia menangis? Saat kehilangan Itachi?
Ponselnya berbunyi, dan ia mengangkatnya dengan malas, "hn, ada apa?" Tanyanya datar.
"Sasuke-kun! Kenapa kau tidak menjawab telponku? Aku menelpon tujuh belas kali dan kau tidak menjawab satupun dari itu!" Suara menyebalkan dan membuat keningnya berkerut.
"Aku sudah mengangkatnya sekarang," katanya datar, malas menanggapi.
"Ck, lupakan! Ngomong-ngomong sudah beli tuksedo?" Tanya Yamanaka Ino.
Sasuke menatap sekeliling, sialan! Tertinggal! "Hn, sudah," katanya sambil berjalan ke arah TV dan menghidupkan benda berukuran 62 inci tersebut.
"Baguslah, kau mau lihat undangannya? Atau kau mau aku saja yang mengurusnya?"
"Kau saja," kata Sasuke singkat, "sudah, aku lelah." Sasuke mematikan ponselnya seketika, mencabut baterai ponselnya.
Ia memperhatikan acara TV yang sama sekali tak masuk dalam otaknya, ia hanya menatap malas. Sudah banyak hal yang terjadi selama sembilan tahun terakhir. Dan keadaannya sudah jauh berbeda dari sebelumnya. Kacau dan berantakan.
Walaupun dirinya kini tak menemukan alasan kekurangan di dalam hidupnya. Jabatan, reputasi, calon tunangan, harta, segalanya! Berbicara soal calon tunangan? Yamanaka Ino? Yang benar saja!
Uchiha Sasuke akan melakukan ribuan cara agar ia bisa terlepas dari perjodohan menjijikkan itu. Ia yakin Yamanaka Ino sejak awal sudah ada di balik semua itu. Uchiha Sasuke tidak mungkin langsung menyetujui perjodohan itu, kalau saja... kalau saja ayahnya tidak memaksanya. Ia merasakan salah satu sudut bibirnya terangkat, lihat saja nanti. Uchiha Sasuke belum menyerah dengan ayahnya yang keras kepala itu.
.
.
.
Saat itu Uchiha Sasuke sudah berdiri di dekat kasir, sementara pegawai yang menghampirinya kemarin melangkah dari dalam ruangan penyimpanan dan menyerahkan barang yang Sasuke tinggalkan kemarin. Sasuke berharap menemukan Sakura, tapi nampaknya Sakura tidak disana.
Namun suara familiar menyapanya, "oh! Sasuke-san, kau kemari." Sasuke otomatis menoleh dan mendapati gadis berambut merah jambu diikat satu itu turun dari tangga, dan pakaiannya terlihat manis. Sweter tipis berwarna krem dilapisi tanktop hitam di dalamnya, celana kain pendek bermotif bunga yang terlihat nyaman. Sepatu haknya membuatnya meninggi.
Jelas gadis itu sudah banyak berubah. Tapi Sakura memang selalu terlihat cantik di matanya.
"Hn, senang bisa bertemu denganmu lagi," kata Sasuke mendekat dan menatap lekat-lekat, "tokonya masih sepi?"
"Mm," Sakura menggumam membenarkan, "malam-malam biasanya ramai," kata Sakura, "banyak hal yang aku kerjakan diatas tapi aku sudah selesai, dan beruntung bisa menemukanmu disini." Kata Sakura terlihat senang, entah karena alsan apa.
"Hn, sudah makan siang?" Tanya Sasuke memperhatikan jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, jam makan siang. Sakura menggeleng, "mau makan siang bersama?"
"Tentu," kata Sakura, "aku akan mengambil dompetku, tunggu."
.
.
.
Keduanya tiba di sebuah cafe yang terlihat tak asing bagi Sakura. Coffe cafe. "Apa dulu aku sering kemari?" Tanya Sakura menaruh dompet merah jambunya di atas meja.
Sasuke menatapnya dengan seksama, "ya, bisa dibilang seperti itu. Kau ingat sesuatu?" Tanya Sasuke penuh harap.
"Tidak juga," kata Sakura membuat Sasuke hanya meneriakkan rasa kekecewaan dalam hati.
Keduanya memesan beberapa hidangan dan menunggu pelayan mengantarkan makanan, keduanya hanya diam dalam keheningan.
"Jadi Sasuke-san, kau belum menjawab pertanyaanku kemarin," kata Sakura dengan nada penasaran.
Sasuke berpura-pura tidak tahu apa yang mereka bicarakan, "apanya?" Tanyanya, Sakura baru saja ingin membalas tapi Sasuke memotongnya, "jangan memanggilku formal seperti itu. Kita teman lama," kata Sasuke.
Alis Sakura bertautan tak mengerti, "jadi aku harus memanggilmu apa? Sasuke?" Tanya Sakura sedikit bercanda, namun sepertinya ia berpikir keras, "Sasuke-kun?"
Sasuke tertegun, ia merindukan setengah mati suara Sakura yang memanggilnya dan memantrakan namanya. Sasuke hanya diam tak merespon.
"Sasuke-kun terlihat cocok. Tidak apa-apa?" Tanya Sakura, Sasuke hanya mengangguk dan memperhatikan Sakura lagi. "Kau tidak bekerja?" Tanya Sakura, "pekerja kantoran biasanya tidak punya waktu luang untuk mengajak teman lamanya makan siang," kata Sakura sejenak.
Sasuke mengangkat bahu, dan memutar otak mencari alasan yang tepat, "hn, aku bukan pegawai kantoran biasa," kata Sasuke.
Sakura memajukan tubuhnya, "tunggu, kau bekerja dimana?"
"Di kantor," jawab Sasuke.
"Kantor apa?"
"Uchiha Corps," kata Sasuke santai.
"Jangan bilang," Sakura menatap Sasuke tak percaya.
"Ya, aku penanggung jawab perusahaan. Ayahku terkena stroke beberapa bulan lalu," kata Sasuke dengan suara datar.
"Kau bilang kau pegawai kantoran," kata Sakura tak terima, "memang sesuatu sudah salah melihat mobilmu, seorang pegawai kantoran semuda kau tidak mungkin punya mobil mewah seperti itu," kata Sakura mantap. Bangga akan analisisnya.
"Maksudmu Lexus ku?" Sasuke bertanya-tanya. Sakura mengangguk. Sasuke hanya tersenyum, dan Sakura mematung ketika ia benar-benar melihat Uchiha Sasuke tersenyum. Oh apa yang kau pikirkan Sakura! Pekiknya dalam hati.
Ponsel Sakura berdering, gadis itu mengaduk-aduk tasnya dan meraih ponselnya, ia memutar tubuhnya sedikit agar membelakangi Uchiha Sasuke, "halo Sai-kun," kata Sakura pelan, "maaf, aku sudah makan siang. Kau mau menjemputku? Baiklah. Aku akan membeli makanan dan kau bisa datang ke butikku sebelum makan malam, kita akan makan malam diatas. Ya, sampai jumpa."
Sakura kembali ke posisi awalnya dan di meja sudah tersajikan makanan pesanannya. Sakura menemukan Sasuke menatapnya.
"Jadi, sampai dimana kita tadi?" Kata Sakura berusaha mengalihkan tatapan tajam Sasuke ke arahnya.
"Mobil Lexusku." Kata Sasuke singkat sebelum meminum cappuccinonya. Sakura tertawa, dan Sasuke sekilas menatapnya.
"Apa kau selalu kaku seperti ini?" Tanya Sakura mendapati pria bermarga Uchiha itu begitu cuek.
"Hn, makanya kau harus mengingat-ingat. Dulu kau mengetahui banyak hal tentang aku," kata Sasuke sembarang.
"Oh ya? Misalnya apa lagi?"
"Aku suka warna hitam, aku tidak suka makanan yang terlalu manis, dan aku suka tomat," kata Sasuke memotong daging asapnya dan menusukkan potongan kecil dengan garpu, melahapnya pelan.
Sakura memandang wajah Sasuke dengan seksama, "apa aku tahu lebih banyak dari itu?" Tanya Sakura ingin tahu. Sasuke hanya mengangguk dan bergumam, "lalu bagaimana dengan aku? Apa yang dulu aku katakan padamu?"
"Hn, kau cerewet. Aku bahkan tidak bisa mengingat keseluruhan, kau selalu menyebutkan apa yang kau sukai juga alasannya," kata Sasuke, "misalnya kau suka semua warna misalnya."
"Apa alasanku?"
"Karena kau berpikir kalau setiap warna memiliki karakter yang berbeda-beda."
"Sasuke-kun!" Sakura berkata dengan suara lantang membuat pria itu menatap heran, "kau seperti bisa membaca pikiranku!" Kata Sakura.
Sasuke hanya mendengus, "aku hanya mengatakan hal-hal yang dulu pernah kau katakan," kata Sasuke sebelum benar-benar menangkap tatapan penuh harap dari Sakura, "apa?" Tanya Sasuke.
"Mungkin kau bisa mengatakannya lebih banyak padaku," kata Sakura, Sasuke hanya mengangkat bahu dan melanjutkan makannya.
.
.
.
Sosok gadis berambut panjang berjalan dengan kekasihnya. Ia mengaitkan tangannya di lengan pria berambut kuning keemasan itu. Syukurlah kekasihnya sudah selesai mengajar, dan dia menceritakan bagainana lelahnya menjadi guru olahraga di sekolah khusus pria yang dulu menjadi almamater kekasihnya.
"Aku sekarang mengerti penderitaan Iruka-sensei ketika mengajarku dulu, ya tuhan! Mereka bahkan tidak mau lari mengelilingi lapangan." Keluh laki-laki yang bernama lengkap Uzumaki Naruto itu.
Sementara gadisnya hanya tersenyum, "nanti mereka akan mengerti kok, Naruto-kun. Syukurlah murid-muridku sangat penurut," kata gadis bernama Hyuuga Hinata, kini ia mengajar di Taman Kanak-kanak. Dan kadang-kadang ia mampir untuk melihat bagaimana keadaan restoran keluarga yang diserahkan padanya.
Sekarang mereka menuju kesana, untuk mendapatkan makan siang. Restoran tradisional itu berjarak tak jauh dari Konoha Town Square dan mereka ingin sekedar berjalan-jalan disana untuk membeli beberapa oleh-oleh untuk pegawai restoran.
Tiba-tiba Hinata berhenti di tengah jalan membuat Naruto yang disampingnya itu ikut berhenti juga. "Ada apa Hinata-chan?" Tanya Naruto sambil menatap gadisnya, ia berusaha memandang ke arah yang dituju oleh Hinata. Dan pandangan mereka tertuju pada objek yang sama.
Uchiha Sasuke, dan siapa dia? Memori keduanya kini terbuka lebar, melihat Uchiha Sasuke bukan yang mengejutkan. Karena mereka masih dalam hubungan yang baik-baik saja. Mereka bahkan diundang ke acara pertunangan Sasuke dan Yamanaka Ino. Tapi yang membuat mereka terkesiap adalah gadis berambut panjang berwarna merah jambu.
Gadis itu tertawa dan sekilas senyuman hangat terlihat di bibir Uchiha Sasuke. Keduanya terpaku, kapan terakhir kali Uchiha Sasuke tersenyum?
"Ki-kita harus menghampiri Sasuke-kun!" Kata Hinata dengan suara bergetar, "aku yakin, dia Sakura-chan!"
.
.
.
"Lalu, apa lagi?" Tanya Sakura sejenak.
Sasuke terlihat berpikir, "dan kau membantah kalau kau tidak secerewet itu. Karena kau tidak bisa memasukkan genggaman tanganmu ke mulutmu," kata Sasuke sambil mengingat-ingat banyak hal yang mereka obrolkan.
Sakura tertawa, dan Sasuke tersenyum. Bahkan cara gadis itu tertawa sama sekali tak berubah. Tawanya selalu mengalihkan dunia Sasuke.
Tiba-tiba dua orang yang sangat Sasuke kenal datang menghampiri mereka dengan wajah tak percaya, "Sasuke-teme, apa maksudnya ini? Dia Sakura-chan kan?" Kata Naruto tiba-tiba membuat Sasuke terkesiap begitu juga Sakura.
Sementara gadis di sebelahnya hanya menatap tak percaya dengan mata berkaca-kaca. Gadis yang ia kenali dengan nama Hyuuga Hinata itu langsung menyambar tangan Sakura, menggenggamnya erat, "Sa-Sakura-chan, benar kan?" Katanya dengan suara terbata. Sakura tak bisa berkata apa-apa, pandangannya linglung dan ia melirik ke Sasuke untuk meminta bantuan.
Sasuke berdeham membuat ketiga pasang mata berbeda warna itu menatapnya bersamaan. "Banyak hal yang terjadi, kalian bergabunglah sebentar kalau ingin tahu," putus Uchiha Sasuke.
.
.
.
Haruno Sakura merasakan kepalanya terasa sakit sekali, memang ia sering mengalami gejala-gejala itu setelah kecelakaan beberapa tahun silam. Setelah makan siang ia langsung naik ke studionya di lantai atas. Tempat itu terlihat berantakan, kertas-kertas gambar berserakan dimana-mana. Kain-kain perca maupun kain baru teraduk diatas meja besar tempat Sakura sering melakukan percobaan-percobaannya.
Sakura berjalan lunglai dan duduk di atas kursi tinggi di dekat meja, ia menggeser tumpukan kain dan menopang kepalanya yang terasa pusing. Setiap ia memaksakan diri mengingat-ingat masa lalunya selalu saja terjadi seperti ini. Ia menghela nafas, ia dan menemukan kain perca hitam yang berukuran segitiga kecil.
Uchiha Sasuke, memiliki mata jauh lebih gelap dari ini. Dan Sakura menoleh ke jendela, dan senyumannya lebih cerah dari pada cahaya matahari. Tunggu... Apa tadi ia membicarakan Uchiha Sasuke?
Sakura merasakan kepalanya nyeri kembali ketika ia menyingkirkan Uchiha Sasuke dari benaknya, buru-buru ia berderap menuangkan segelas air dingin dari botol air mineral yang ia simpan di kulkas dekat pojok ruangan. Ponselnya berdering dan ia buru-buru mengangkatnya, "halo, ya Sasori-niisan?"
Sakura bisa mendengar suara Sasori di seberang sana terdengar terburu-buru, 'Sakura, aku lupa sesuatu. Kau tahu kan kalau Sai akan ikut bersamaku ke Iwa untuk membantuku mempersiapkan pameran seni?'
"Ya, aku tahu." Kata Sakura dengan suara melemah.
"Yah, kau tahu selama itu tidak akan ada yang mengantarmu pulang-pergi ke butik. Bagaimana kalau aku akan menyuruh bawa-"
"Sasori-niisan, aku bisa naik bus atau kereta. Taxi juga banyak kan?" Kata Sakura memotong ucapan Sasori.
"Kau yakin?" Kata-kata Sasori terdengar mendesak dan saat itu juga Sakura menggumam meyakinkan, "ada apa denganmu? Kau sakit?"
"Tidak juga, kepalaku sedikit pusing, itu saja."
"Harusnya kau jangan terlalu kelelahan, besok aku dan Sai berangkat pagi-pagi, kau ikut mengantar?" Tanya Sasori.
"Kurasa aku tidak bisa ikut mengantar, banyak hal yang belum aku selesaikan di butik." Putus Sakura.
"Baiklah," kata Sasori ringan.
.
.
.
Uchiha Sasuke memandang ayahnya dengan tatapan masam, tiba-tiba saja ayahnya itu sehat kembali dan mendesaknya lebih dan lebih. Sasuke berharap ayahnya lebih lama di rumah sakit karena jalannya pertunangannya antara Ino dan dirinya tertunda lama akibat kesehatan ayahnya.
"Batalkan saja pertunangannya," kata Sasuke tegas, "aku bukan anak ingusan yang masih harus terikat dengan hal konyol seperti ini," Sasuke menambahkan.
Mata ayahnya menyipit marah, "tidak bisa. Kau sudah menyetujui ini dari awal. Dimana kau taruh martabat keluargamu jika kau membatalkan pertunangan ini?" Bentak Fugaku.
Sasuke tertawa menyindir, "setuju? Sejak kapan? Yang ada Otou-san yang memaksaku. Kalau Otou-san begitu peduli dengan martabat keluarga kenapa tidak Otou-san saja yang bertunangan dengannya?" Kata Sasuke, ayahnya menatapnya tajam. Namun Sasuke memberikannya tatapan jauh lebih tajam.
"Aku tidak peduli, besok acara pertunangannya dan aku tidak ingin mendengar bantahan lainnya!" Kata Uchiha Fugaku.
Sasuke mendorong kursi belakangnya dan beranjak berdiri, "bagaimana Okaa-san bertahan denganmu? Apa jangan-jangan Otou-san dan Okaa-san memang tidak pernah mencintai? Menggelikan." Kata Sasuke sebelum ia pergi dari ruang ayahnya. Sementara Fugaku tak bisa menjawab apa-apa.
Ia akan memutuskan. Lebih baik pergi dari sini.
.
.
.
Hyuuga Hinata sudah siap dengan gaun pesta putihnya. Ia jadi memikirkan kejadian tempo hari dimana pertemuan kembali dengan Hauno Sakura. Gadis yang meninggalkan Konoha tanpa kabar. Bahkan Sakura tak pernah membuka forumnya di grup otaku. Semuanya lenyap, bagaimana nomor ponselnya diganti dan tak ada kabar apapun mengenainya.
Bertemu dengan Sakura sekarang, dalam keadaan yang begitu berbeda. Mendengar bagaimana gadis itu mengalami kecelakaan dan amnesia membuat Hinata ingin sekali menangis. Ia memikirkan Sasuke. Ya, bagaimana pria itu menatap Sakura dengan tatapan yang pedih setiap kali gadis itu menanyakan hal-hal apa yang sudah ia lupakan. Walaupun pria itu sekarang lebih sering tersenyum. Oh! Hinata tidak ingin membayangkan bagaimana kacaunya Sasuke saat kehilangan Sakura.
Bagaimana mungkin itu tak menyakitkan? Haruno Sakura sudah membuat banyak kenangan bersama Sasuke selama sebulan pertama mereka bertemu, berawal dari kebetulan, dan hari-hari yang mereka bagi bersama. Walaupun Sasuke tak pernah bercerita apa-apa mengenai dirinya dan Sakura dulu, tapi Hinata tahu di dalam lubuk hati Sasuke sekarang ada seberkas harapan kalau ia ingin gadis itu mengingat kembali apa yang pernah terjadi.
Tapi apa yang bisa dijadikan panutan dari Sasuke sekarang? Keadaan sudah jauh berbeda, waktu tak bisa diputar kembali.
"Hinata-chan, kau masih memikirkan Sakura-chan ya?" Tanya Naruto, kini keduanya sudah berada di sedan puti yang meluncur di jalan aspal yang mulus menuju gedung di Wall Street Konoha.
"Mm," gumamnya membenarkan, "apa yang akan terjadi dengan Sasuke-kun? Bagaimana kalau Sakura-chan mengingat kembali ketika semua sudah terlambat?" Kata Hinata lagi dengan suara menyedihkan, Naruto hanya mengangkat bahu.
"Sudahlah Hinata-chan, coba santai sedikit. Itu kan urusan mereka, kita jangan ikut campur," Naruto mengemudikan sedan putihnya dengan seksama tanpa menyadari wajah kekasihnya berubah kecewa.
"Naruto-kun kenapa berkata seperti itu? Mereka berdua teman kita. Apa kau senang Sakura-chan lupa tentang Sasuke-kun?" Kata Hinata mulai merajuk.
"Oh, ayolah Hinata-chan. Maksudku bukan seperti itu." Kata Naruto gusar, ia melirik kekasihnya namun Hinata napak diam sambil melihat ke luar jendela.
.
.
.
Yamanaka Ino sudah menggunakan pakaian terbaiknya, pers akan datang dan menyiarkan langsung acara pertunangan dari artis yang sedang naik daun itu. Yamanaka Ino hanya tersenyum bangga di depan cermin, menatap wajah cantiknya serta melihat rambut pirangnya digulung anggun di kepalanya.
"Apa Sasuke-kun sudah datang?" Tanyanya setelah keluar dari ruangan ganti, ia mendapati managernya sedang mengkordinir para pelayan.
"Sepertinya belum, Fugaku-sama berkata kalau Sasuke-sama akan menyusul." Kata pria berjas hitam itu. Yamanaka Ino hanya tersenyum dan berlalu ke ruang pesta, menemukan beberapa kenalannya di aula besar itu.
"Wah-wah, Ino, kau terlihat luar biasa," kata Naruto menghampiri temannya dan tersenyum senang. Ino terlihat sedikit senang.
"Oh! Terimakasih sudah datang, Hinata, Naruto." Sapa Ino formal, "bagaimana kabar kalian?"
"Hm, baik-baik," kata Naruto. Ia melirik kekasihnya yang masih tampak lesu, "oh ya, kau tahu? Sakura-chan sudah kembali ke Konoha. Kemarin kita bertemu dengannya makan siang dengan Sasuke." Kata Naruto, sedetik kemudian Hinata langsung terkesiap.
Ino merasakan wajahnya mengeras, "apa?"
"A-ano, bukan seperti itu." Kata Hinata. Namun Ino segera berlalu, menyuruh bodyguardnya atau siapapun menjemput Uchiha Sasuke.
Karena Uchiha Sasuke pasti akan melarikan diri.
.
.
.
Uchiha Sasuke sudah menghabiskan gelas yang ke delapan, menegak alkohol bukanlah hobinya. Dan ia adalah orang yang gampang kehilangan kesadaran, tapi entah mengapa ia jadi membutuhkan alkhohol ketika suasana hatinya memburuk.
Sasuke mengacak rambutnya yang awalnya sudah tertata rapi, melepaskan beberapa kancing kemeja dalam tuksedonya. Matanya menerawang dan memperhatikan jam yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya, sudah hampir tengah malam. Ia merasakan puas, pesta pertunangannya pasti sudah dibatalkan, dan orang-orang akan kebingungan mencarinya.
Ia membayar bill dengan uang lebih, kemudian mencoba meluruskan pandangannya dan berjalan ke luar bar. Matanya berkunang, dan mengemudi bukan hal yang tepat di lakukannya sekarang.
Sasuke masuk ke dalam mobil dan menyandarkan kepala beratnya di sandaran kursi. Ia bernafas pendek-pendek, kemana ia harus pergi. Ia tak mungkin kembali ke apartemennya, ia bisa mati.
Beberapa saat kemudian ia menemukan jawabnya.
.
.
.
"Hinata-chan! Apa maksudmu aku tidak mengerti keadaan!" Tanya Naruto dengan suara heran ketika mereka dalam perjalanan kembali ke rumah. Pertunangan batal, semua pihak keluarga Ino dan Sasuke merasa malu dan kecewa.
"Naruto-kun! Harusnya kau mengerti kalau keadaan tidak sesederhana itu. Mengatakan kalau Sakura-chan ada di Konoha akan memperburuk ke pihak Sasuke-kun! Kau ini tidak peka sama sekali!" Kata Hinata, ia sudah marah besar.
"Apa? Ino berhak mengetahuinya, bagaimana kalau benar? Sasuke dan Sakura-chan melarikan diri?" Tanya Naruto.
"Naruto-kun! Kau tahu Ino-chan bagaimana? Aku mengenal Ino-chan dan aku tahu kalau Sasuke-kun tidak pernah setuju dengan pertunangannya. Yang Ino-chan lakukan itu dan segala pertunangan itu jelas-jelas hanya untuk memiliki Sasuke-kun!"
"Ya tuhan Hinata-chan! Ada apa denganmu? Bagaimana kau bisa berbicara seperti itu tentang Ino?"
"Naruto-kun tidak tahu apa-apa! Kau tidak tahu bagaimana rasanya dipaksa dalam suatu hubungan tanpa cinta!" Pekik Hinata, air matanya mengalir, "atau memang kau sengaja? Naruto-kun masih menyukai Sakura-chan kan? Kau tidak ingin Sasuke-kun bersamanya kan?"
"Hinata-chan! Hentikan! Bicaramu sudah ngelantur!" Kata Naruto kesal. Hinata keluar dari mobil ketika mobil itu berhenti.
"Coba kau pikirkan kau berada di posisi Sakura-chan! Kau melupakan segalanya! Kau tak tahu kenyataan! Dan ketika kau ingat kau sudah terlambat! Bayangkan kau ada di posisi Sasuke-kun! Kau tertekan, kau menemukan orang yang kau cintai. Kau menyerah karena orang yang kau cintai bahkan tak mengingatmu! Apa kau mau mereka berakhir seperti itu? Sakura-chan pernah membantuku, dan Sasuke-kun adalah satu-satunya orang yang bisa membuat Sakura-chan bahagia begitu juga sebaliknya. Tak bolehkah aku membantu mereka?" Hinata membanting pintu dengan Naruto terpaku.
.
.
.
"Mm, aku bersama Sara disini," Sakura merapikan sketsa-sketsa yang berantakan diatas meja ruang tamunya, melirik ke arah wanita berambut merah di sofanya dengan senyuman maklum. "Ya, tidak akan lama. Sara sudah ingin pulang kok, iya, aku tahu," Sakura akhirnya mendesah dan memindahkan ponselnya ke telinga kiri dan menjepitnya dengan bahu, "baik, aku tidak akan kelelahan. Kau juga jangan terlalu memaksakan diri, selamat malam." Sakura memutuskan hubungan telponnya dan segera beranjak dari kursi.
Gadis yang bernama Sara itu adalah rekan bisnisnya, ia adalah CEO dari sebuah departemen store yang ada di daerah Big Town Konoha. Sara juga merupakan teman sekaligus seniornya. Sekarang mereka menjalin hubungan yang baik.
"Sai?" Tanya Sara, Sakura mengangguk. "Dia itu terlalu protektif Sakura, tapi menurutku dia sangat seksi," goda Sara, Sakura memutar bola matanya malas. "Kalian harusnya bertunangan saja."
"Entahlah, setahun berpacaran lumayan juga. Apalagi kita sudah sama-sama dewasa. Tapi aku masih tidak yakin, sepertinya kita susah mengerti." Kata Sakura pelan, "aku merasa kurang nyaman."
Sara tersenyum prihatin, "woah. Tunggu dulu Sakura, kenapa kau berkata seperti itu? Jangan-jangan, kau bertemu pria lain ya?" Tanya Sara.
Sakura terkejut dan menggeleng lalu mengangguk, "maksudku, aku bertemu seorang pria," Sara mencondongkan tubuhnya ke depan, "sepertinya dia mengenalku dengan baik, dan dia bahkan memelukku ketika pertama kali bertemu. Dia juga tampan," Sakura terdiam kemudian ia menangkap pandangan menggoda Sara, "aku tahu, aku tahu! Maksudku aku hanya mendiskripsikan saja! Hanya saja, ada sesuatu di dalam dirinya yang begitu menarikku. Aku rasa banyak hal yang terjadi di masa lalu, dari caranya ia berbicara, tersenyum, bahkan menangis-"
"Ya tuhan! Pria itu menangis?"
"Tidak! Maksudku iya, dia menangis. Entahlah ia hanya meneteskan air mata, dan setelah itu ia menjelaskan kalau mungkin aku bukan orang yang dia cari selama ini." Sara tertegun, "tapi aku menceritakannya tentang kecelakaanku dan dia terlihat lebih lega. Sekarang aku bingung, kenapa ia bersikap begitu. Aku bahkan tak ingat apa-apa tentang dirinya."
Sara menatap sahabatnya dengan samar, "dan kau jatuh cinta?"
"Bukan! Tidak jatuh cinta. Aku hanya penasaran," Sakura terpaku.
Sara mengelus pundak temannya, "yah, menurutku sih dia sepertinya pernah bertemu denganmu, cinta monyet mungkin? Kesempatan hanya datang padamu satu kali. Aku percaya padamu Sakura, dan aku yakin kau bisa memilih yang mana yang memang di hatimu, walaupun kau ingat ataupun tidak ingat dengan masalalumu."
"Ya, kau benar." Sakura menambahkan.
Sara menepuk tangan, "baiklah, aku tidak ingin diomeli oleh Sai karena terlalu banyak mengajak kekasihnya curhat," Sara bangkit Sakura juga mengikutinya, "jadi, selamat malam Sakura." Kata Sara.
Sara keluar kamar dengan wajah tersenyum, mengobrol bersama gadis itu selalu menyenangkan. Teman bisnis dan teman sharing yang tepat. Sara membuka pintu depan apartemen dan menemukan pria tinggi dengan kulit pucat dan pakaian tuksedo berantakan berdiri di depan dan menerobos masuk.
Sara menaikkan bahu, dan sedetik kemudian pria itu sudah lenyap di lift.
.
.
.
Sakura baru saja akan mematikan lampu depan ketika suara bel apartemennya berbunyi. Sakura segera menghampiri, sepertinya Sara meninggalkan sesuatu. Sakura membuka pintu dalam sentakan cepat, dan disana ia terkejut.
'Bruk'
Tubuh besar dan lemas jatuh begitu saja menimpa tubuh Sakura yang tak siap menerima kejutan apa-apa. Sakura nyaris berteriak ketika ia hampir terjatuh tertidur. Sakura menahan pintu dan merangkul pelan dan meraba-raba kepalanya. Rambut hitam bak sayap gagap. Mencuat kebelakang seperti merak. Sakura menengok ke wajah tak sadar pria itu.
"Sa-Sasuke-kun!" Pekiknya panik, ia berusaha menarik Sasuke ke dalam dengan susah payah. Menutup pintu apartemen dan menyeret pria itu sampai di ruang tamu. Tenaganya habis, ia memperhatikan pria itu dengan seksama. Sepertinya ia mabuk alkohol. Sakura menatap wajah Sasuke lekat-lekat.
Ya tuhan, dia tampan sekali. Batin Sakura, ia menggeleng keras. Menepuk-nepuk pipinya sampai memerah, apa yang dia pikirkan! Ia menggigit bibirnya, dan menyapu wajah Sasuke. Ia berusaha mengingat, kepalanya meradang.
Sakura melupakan niatnya dan berusaha bangkit untuk mengambilkan bantal. Tangannya tertahan, sesuatu yang hangat menjalar di sekujur pergelangan tangan Sakura. Kini ia masih terduduk dan pria itu mengangkat tangannya yang bebas membelai wajah Sakura. Rambut Sakura terjatuh ke salah satu sisi kepalanya dan terjatuh seperti tirai antara wajah keduanya.
"Sakura," katanya lembut dengan suara rendah yang parau. Sasuke masih menyentuh pipinya, bergerak menelusuri rahang dan pundak, hingga berakhir di leher Sakura. Menariknya mendekat, "biarkan aku menciummu," dan hal terakhir yang Sakura ingat adalah ketika kelopak mata Sakura terpejam secara ajaib.
Dan saat itulah bibir mereka bertemu.
.
.
.
Perasaan aneh menggetarkan dada Sakura, ia jadi ingat sesuatu. Saat itu dingin sekali dan langkah kaki datang, dan Sakura berjalan pergi. Sebuah tangan menahannya, bibir seorang pria menempel di bibirnya. Rasanya...
Sakura membuka mata dan ia hampir kehabisan nafas. Sasuke menggerakkan bibirnya pelan, merasakan sedikit demi sedikit kehangatan yang mereka timbulkan dari pangutan lembut.
Sakura mendesah, ia menangis. Kenapa ia menangis? Kenapa ia merasa lega ketika pria itu semakin memperdalam ciumannya? Ia harusnya marah dan langsung menghantamnya kan? Tapi Sakura hanya diam, mengikuti irama bahkan berusaha mendapatkan lebih.
Sakura menarik dirinya menjauh tapi tak berhasil. Nafas Sasuke yang beraroma alkholol tak menjadi penghalangnya. Ego dan nalurinya terus meminta kalau ia menginginkan Sasuke.
Akhirnya Sakura terlepas ketika laki-laki itu terlelap tiba-tiba. Masih dalam keadaan terkejut, Sakura bangkit dan buru-buru mengusap-usapkan bibirnya pada lengan baju kaosnya. "Apa yang kau lakukan!?" Pekik Sakura tak terima pada pria yang sudah tak sadar itu.
Sakura berlari ke dapur dan mengambil pisau, namun ia berhenti. Ya tuhan, memangnya setelah ini Sakura akan berpikir membunuhnya? Tentu saja tidak. Baiklah, Sakura kini berusaha berpikir. Sasuke hanya mabuk, ia hanya berhalusinasi dan tidak berniat menciumku. Sakura memberi gagasan. Tapi kenapa gagasan itu membuatnya sedikit kecewa.
Sakura mengintip ke ruang tamu, dan ia tak mungkin menyeret pria yang bobotnya lebih berat itu ke kamar tamu. Memindahkannya dari lantai ke sofa saja tidak mungkin. Sakura berpikir sejenak, dan ia segera berlari ke kamar tamu, mengambil selimut dan bantal.
Sakura sudah duduk di dekat Sasuke yang sudah tertidur nyaman diatas karpet dengan bantal dan selumut tebal. Kemudian ia berpikir, meninggalkan Sasuke dan ia tidur di kamar? Akhirnya Sakura memutuskan ikut bergabung dalam acara reuni aneh yang ia ciptakan dari keadaan dadakan.
Sakura menatap Sasuke dari samping, hidungnya yang sempurna dan bibirnya yang tipis. Sakura merona, ya tuhan mereka baru saja berciuman! Sakura menggeleng cepat, tidak! Sekarang bukan tentang ciuman lagi.
Sasuke menggeliat, membuat Sakura berguling menjauh. Tapi pria itu hanya mengubah posisinya menjadi berhadapan ke Sakura. Sakura tertegun, "hei, Sasuke-kun," bisik Sakura mendekat. Ia menelusuri wajah Sasuke dengan telunjuknya, dan berakhir di pipi Sasuke. "Seperti apa wajahmu ketika kita pertama kali bertemu? Bagaimana pertemuan pertama kita? Apa saja yang kau ketahui tentang aku? Apa saja yang aku ketahui tentangmu? Dan, bagaimana ketika kita berpisah? Bagaimana perasaanmu?"
Sakura bertanya pada dirinya sendiri, Sakura membelai rambut Sasuke yang halus dan wangi. Ya tuhan! Sakura pasti sudah gila, bagaimana ia begitu ingin memiliki seseorang yang baru saja ia kenal dalam beberapa hari.
Tunggu, sepertinya itu agak familiar bukan?
.
.
.
Bau kopi dan roti bakar semerbak membangunkan Haruno Sakura dari tidur panjangnya. Gadis itu menggeliat dan merenggangkan otot kemudian membuka matanya perlahan. Ia menggosok wajahnya dengan kedua genggaman tangannya yang hangat lalu melihat jam di dinding dekat dapur.
Sudah hampir jam delapan. Ia bangkit menyadari kalau ia sudah bertransportasi ke sofa. Kalau tidak salah ia kemarin tidur di atas karpet dan sebelumnya Sasuke datang lalu ada... Sakura menggeleng cepat, wajahnya jadi memerah. Ia menggumamkan dalam hati, anggap saja kemarin tidak terjadi apa-apa.
Sakura berjalan lunglai ke dapur dan tidak menemukan siapa-siapa disana, ia melirik tumpukan roti bakar pada satu piring ditemani satu teko kopi di dekat meja makan.
"Hn. Selamat pagi," sebuah suara yang datang dari belakang membuatnya terkejut dan hampir memekik, Sakura menoleh dan mendapati Sasuke sudah terlihat segar. Ia mengenakan baju kemeja dan celana panjang formalnya. Wajahnya masih terdapat air yang belum terserap handuk putih. Mungkin Sasuke mendapatinya di kamar mandi Sakura, "hn, aku tadi menggunakan kamar mandimu. Kau bersih-bersih dulu, kita bisa sarapan sama-sama." Katanya.
Sakura mengangguk dan gadis itu beranjak ke kamar mandi dan sepuluh menit kemudian Sakura sudah keluar dengan rambut digulung di kepalanya. Poni datarnya ia jepit ke samping agar tak menghalangi.
Ia bergabung dengan Sasuke di meja makan. "Jadi," Sakura menggantungkan kata-katanya berpikir apa yang harus ia katakan, apa yang harus ia tanyakan duluan, "kau membuat sarapan?"
"Hn."
"..."
"..."
"..."
"Kau tidak bertanya kenapa aku kemari?" Sasuke berkata membuat gadis itu berhenti mengoleskan selai kacang pada roti bakarnya. Sakura menatap Sasuke lekat-lekat kemudian ia meletakkan roti dan pisau olesnya.
"Yah, mungkin harusnya begitu. Jadi, kenapa kau kemari?" Sakura mengulang pertanyaan Sasuke dan mendapati pria itu hanya tersenyum tipis.
"Aku kabur," kata Sasuke, melihat wajah Sakura yang masih kebingungan ia menjelaskan lagi, "kemarin pertunanganku, dan aku kabur." Jelas Sasuke.
Sakura membiarkan dagunya jatuh ke bawah, "apa?" Katanya dengan suara tinggi, "lalu kenapa kau kemari?" Tanya Sakura heran.
"Aku mabuk dan aku tidak tahu harus kemana, jadi aku kemari."
"Maksudku, kenapa kau ke apartemenku? Kau bisa ke tempat Naruto atau siapapun itu." Kata Sakura masih dengan suara tinggi.
Sasuke mengangkat bahu dan menggigit rotinya, mengunyahnya pelan dan menatap Sakura lagi, "karena aku pikir mereka tidak akan menemukanku di tempatmu." Kata Sasuke santai.
Sakura menepuk meja makan pelan, memusatkan perhatian Sasuke pada emosi di wajahnya, "bagaimana kalau mereka menemukanmu disini? Apa yang kau katakan? Mereka akan salah paham!" Kata Sakura keras.
"Kalau begitu bilang saja pada mereka kalau kita tinggal bersama." Kata Sasuke datar.
"A-apa?" Sakura merasakan wajahnya memanas karena malu, "kau bahkan belum meminta izinku! Ini apartemenku dan aku membiarkanmu masuk karena kau tak sadar ketika aku membukakan pintu."
"Sakura," panggil Sasuke dengan nada rendah, dan tiba-tiba membuat emosi Sakura mereda. Tatapan matanya dan Sasuke tiba-tiba tersenyum lebar. Membuat Sakura memalingkan muka ke rotinya karena malu.
"Kenapa kau tersenyum! Aku sedang marah-marah! Dan ini serius!" Kata Sakura mengambil rotinya dan menggigitnya kesal.
"Hn, tidak apa-apa." Kata Sasuke ringan, ia lega. Sakura masih bisa marah padanya, "aku lebih senang kau marah-marah daripada kau pindah tanpa kabar."
Sakura berhenti mengunyah dan menatap Sasuke, apa yang pria itu bicarakan? Jangan-jangan ini soal masalalu mereka, Sakura mengunyah rotinya dan berusaha mengalihkan pembicaraan, "jadi bagaimana sekarang? Kau akan benar-benar tinggal disini?" Tanya Sakura bingung.
Sasuke mengangguk dan memusatkan perhatiannya seluruhnya pada gadis di depannya, "sampai Otou-san benar-benar menyerah tentang pertunanganku dan Ino," kata Sasuke.
Sakura mengernyit bingung, "tunggu dulu, kenapa kau kabur?" Tanya Sakura.
Sasuke mengangkat bahu, "karena aku tidak mood," Sasuke merasakan wajahnya termenung. Hei, itu ucapannya waktu itu kan?
Sakura merasakan kepalanya sakit tiba-tiba tapi ia bisa menahan emosinya, "tapi kan," Sakura menggantungkan kata-katanya, Sasuke menatapnya. Pria itu berharap sesuatu, "baiklah, kau harus menceritakan aku dari awal!" Kata Sakura membuat Sasuke merasa kecewa, pancingannya tak berhasil, "kau dan tunanganmu yang artis itu sudah-"
"Hn, dia bukan tunanganku," sela Sasuke.
"Ya terserahlah! Jadi ceritakan padaku seluruhnya dan aku akan memutuskan kau boleh tinggal atau tidak," putus Sakura.
"Aku dan Ino dijodohkan karena ayah kita berteman."
"Lalu?"
"Aku tidak menyukainya."
"Mm..."
"Kita batal bertunangan."
"Ya, ya."
"Tamat."
"Mm, lalu?"
"Tamat."
"Apa?" Sakura membelalak, "itu saja?" Mencerna kata-kata Sasuke ia baru sadar kalau Sasuke sebenarnya tidak bisa membuat satu paragraf dari kata-katanya.
Sasuke mengangguk dan menuangkan kopi pada cangkir, ia diam-diam memperhatikan Sakura yang masih meminta penjelasan. "Hn, jadi?"
"Jadi apanya?" Tanya Sakura sangsi.
"Kau mengizinkan aku tinggal atau tidak?" Tanya Sasuke.
"Oh, baiklah!" Kata Sakura pasrah, "tapi kalau sampai ketahuan dan masalahnya akan bertambah lebar, aku mau kau yang bertanggung jawab seluruhnya tentang aku!" Kata Sakura.
"Hn."
"Sekarang aku akan bekerja," Sakura menjelaskan, "jadi kau bisa tinggal disini, aku akan membawakanmu pakaian baru sepulangnya nanti. Jadi sekarang kau bisa memakai pakaian Sasori-niisan yang disimpan di kamar tamu." Jelas Sakura.
"Hn, aku akan mengantarmu." Kata Sasuke, "mobilku ada di depan."
"Tunggu!" Kata Sakura, "kenapa kau bawa mobil!? Mereka akan tahu kan?" Kata Sakura hampir histeris.
"Hn, tenang saja. Itu mobil pribadiku." Kata Sasuke tanpa menjelaskan lebih lanjut, Sakura masih tak mengerti dan berharap pria itu menjelaskan lebih. Tapi Sasuke malah beranjak dan menghidupkan TV di ruang tamu, Sakura mengikutinya.
Sasuke menyalakan TV dan mengubah-ubah chanelnya sampai pada sebuah infotaiment lokal, dan disana terpampanglah berita mengenai batalnya pertunangan Yamanaka Ino dengan seorang Uchiha Sasuke. Dan para pers menambah-nambahkan kalau Sasuke kabur bersama wanita lain. Sasuke melirik Sakura.
"Bersiap-siaplah, kau bilang kau akan bekerja?" Tanya Sasuke, Sakura kelihatan berpikir. Kemudian gadis itu masuk ke dalam kamar tamu dan masuk ke lemari pakaiannya, lalu keluar membawa segunung pakaian dan perlengkapan lainnya.
"Aku tidak ingin kau ketahuan, dan sekarang turuti perintahku. Pakai ini, ini, dan ini. Oh yang ini juga!"
.
.
.
"Hn, sekarang aku bahkan terlihat lebih mencolok." Kata Sasuke melihat pantulan dirinya di kaca jendela mobilnya. Pria itu mengenakan baju kaos dengan rompi, dan celana jeans. Juga kacamata hitam mahal, ada earphone juga yang mengalung di lehernya. Ya tuhan! Sasuke bahkan tidak percaya kalau pakaian ini milik kakak sepupu Sakura yang namanya Sasori! Umurnya lebih tua tapi pakaiannya sungguh trendi. "Dan aku terlihat seperti boyband." Kata Sasuke terpuruk.
"Oh! Ayolah Sasuke-kun," Kata Sakura sungguh-sungguh, "Sasori-niisan selalu terlihat imut kalau pakai itu, tapi kalau kau yang memakai terlihat sangat-sangat keren." Puji Sakura.
"Hn, aku tidak bisa membayangkan Sasori-niisanmu." Keluh Sasuke sembari menyalakan mesin mobilnya.
"Kau tahu Sasuke-kun? Kalau saja Sasori-niisan bukan kakak sepupuku, mungkin saja aku akan menikah dengannya." Canda Sakura sambil terkekeh, "tapi kalau aku berjalan bersamanya dia jauh terlihat lebih muda dan itu membuatku kesal. Sepanjang jalan aku pasti dicekcoki karena suka daun muda."
Sasuke mendengus, ia melajukan mobilnya, "terserahlah."
"Jadi Sasuke-kun, maksudmu mobil pribadi ini tidak diketahui oleh keluargamu? Jadi mereka akan sulit melacaknya ya?" Tanya Sakura.
"Hn." Jawab Sasuke. "Kalaupun mereka melapor polisi atau sebagainya, apa yang akan mereka lakukan? Menyeretku pulang?" Gurau Sasuke.
"Bagaimana kalau mereka benar-benar menyeretmu pulang?"
"Hn, Otou-san tidak suka masalah keluarga terlalu di humbar di publik. Tentang pers yang ada di acara pertunangan Ino saja dibatasi, kalau dia menyeretku pulang pasti banyak media akan menyorot." Kata Sasuke, "kaburnya aku tidak akan menjadi masalah untuk Otou-san. Masalahnya terletak kalau aku kembali."
Sakura mengangguk-angguk mengerti. Tiba-tiba sesuatu terbesit di benaknya, "ne, Sasuke-kun. Apa dulu aku mengenal Yamanaka Ino ini?" Tanya Sakura sambil mengaduk-aduk isi tasnya.
"Hn, bisa dibilang begitu."
"Wah, sungguh kebetulan ya? Kita saling sejak SMA." Kata Sakura, "aku dan Sai-kun juga begitu," lanjut Sakura, sedetik kemudian Sasuke menepikan mobil tiba-tiba dan menginjak rem membuat gadis itu hampir tersungkur.
Sakura ingin marah, tapi melihat Sasuke terkejut melebihi dugaannya Sakura jadi bungkam, "apa katamu?"
"Apa? Yang mana?"
"Kau dan Sai?"
"Eh? Memang ada apa?"
"Sai? Pria berambut hitam, berkulit pucat, dan entahlah," Sasuke terlihat terkejut.
"Iya, ini aku punya fotonya," Sakura mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Sai.
"Kau mengingatnya?"
"Ingat? Awalnya tidak, tapi sepertinya kau dan Sai-kun saling kenal ya?"
"Tidak begitu, lalu kalian dekat?"
"Dekat? Tentu, dia kan pacarku."
.
.
.
(A/N)
Greetings Minna-san!
Chapter 6 sudah di update. Dan tolong jangan lempar saya dengan apapun yang ada di sekitar kalian kalau chapter ini mengecewakan. T_T"
Menghadapi WB dan berusaha agar para readers tidak kecewa karena harus menunggu update'an Fic saya itu adalah suatu kendala yang nggak mudah! 3
Tapi saya sangat seneng deh dengan feedback yang sudah diberikan. Terimakasih ya!
Special thanks to: dee-chaan, karimahbgz, Novrie TomatoCherry, Tsurugi De Lelouch, Eky-chan, Rinachan, Harumi Mana, Maya Kimnana, akasuna no ei-chan, salsalala, uchiruno, , Caroline Fulloxar, Guest, Tomatoprince.
Apabila ada kesalahan penulsan penname mohon maaf ya, ini lagi ada kesalahan teknis. Makanya chapter kemarin jadi berantakan. Nanti saya akan coba perbaiki lagi.
Check juga; 'A Piece of Love' karya Alapenny :)
Review please! :)
