"Pria sejati pasti memegang kata-katanya."

"Hm, aku sudah berjanji padamu."

Senyum Naruto masih secerah biasanya, namun bagi Hinata sungguh menyesakkan melihatnya dalam keadaan seperti ini. Saat ia tahu perpisahan yang nyata sudah benar-benar di depan mata. Satu sisi ia takut kehilangan Naruto. Sisi dirinya yang lain merasa pantas untuk ditinggalkan setelah semua yang telah diperbuatnya.

Ia sadar dirinya yang berhati keji memang tak layak menerima cinta yang begitu besar dari Naruto. Ia juga tidak mau Naruto terpaksa bersamanya hanya lantaran terpasung rasa bersalah dan tanggung jawab atas celaka yang pernah menimpanya.

"Sebelum itu, aku harap kita bisa berdamai dengan masa lalu yang kita anggap buruk."

Hinata memberikan senyum balasan. Naruto seakan mampu membaca pikirannya. Bukan keinginannya juga untuk terus larut dalam masa yang telah lewat. Ia hanya tidak ingin harapannya melambung jauh hingga tak mampu ia kekang.

"Bebaskan semua beban yang mengganggu. Ini sebagai tanda untuk awal yang baru."

Naruto menunjukkan sepasang tiket menuju Okinawa, lantas meraih tangan Hinata yang semula terkulai pasrah di pangkuan. Disematkannya cincin zirkonium polos di jari manis Hinata. Cincin yang pernah dikembalikan padanya dulu. Cincin yang dijaganya melebihi perhatiannya pada kamera. Ia selalu menantikan momen ini, saat ia dapat menyematkannya kembali, dan ia tidak akan melewatkannya tanpa makna.

"Satu hari sebelum kepergianmu dari rumah empat tahun yang lalu, kau mengucapkan sesuatu padaku. Aku ingin kau mengulanginya, sekali lagi saja, meski kau tak sungguh-sungguh."

Sekarang Hinata baru menyadari bahwa cincin yang serupa miliknya tidak pernah terlepas dari jari manis Naruto. Begitupun dengan Naruto yang tidak pernah melupakan pernyataan cintanya. Jemarinya yang melemas saling menggenggam kuat, seakan-akan cincin kehitaman itu adalah satu-satunya barang berharganya yang tersisa.

"Aku bahkan bisa melakukan lebih."

.

.

.

Katanya, cinta bukan sekadar saling bertatap mata,
tetapi bagaimana kita bisa bersama-sama memandang ke arah yang sama.
Jika terus bersama, dapatkah kita menemukan halanya?

.

.

.


. VI .
Autumn Breeze


.

.

.

Nago yang dikenal sebagai kota turis adalah kampung halaman Naruto. Termasuk wilayah paling utara di Prefektur Okinawa, masih satu kawasan dengan Yanbaru, di mana kebun teh keluarga Uzumaki terhampar luas. Menggunakan jasa penerbangan, perjalanan Naruto dan Hinata dari Tokyo memakan waktu yang tak lebih dari 5 jam, terhitung hingga tiba di kediaman Uzumaki yang berada di daerah Minato.

Ini adalah kali kedua bagi Hinata melakukan perjalanan ke Okinawa. Jika yang pertama kali mendatangkan antusias tinggi baginya, dalam perjalanan kali ini hampir setiap saat ia menghitung waktu yang tersisa. Berharap waktu akan terhenti, di tengah penyesalan dan rasa putus asa manakala menyadari kebersamaannya dengan Naruto semakin mengikis.

Sepanjang perjalanan, ia enggan melepaskan dekapannya pada lengan kokoh Naruto. Bacaan yang telah disiapkannya menjadi tak tersentuh. Ia pun tak membiarkan tubuh letihnya tertidur walaupun bahu tegap Naruto sangat nyaman untuk dijadikan sandaran. Seolah-olah Naruto akan meninggalkannya begitu saja ketika ia lengah. Sungguh ia tak peduli jika Naruto akan menganggapnya melakukan sandiwara lainnya.

"Kau lebih kurus dari musim panas lalu."

Dekapan di lengan Naruto berubah menjadi remasan pelan. Dengkuran halus masih menjadi balasannya.

"Kau pria beristri tapi tidak ada yang memasak untukmu, bahkan hanya sekadar mengingatkanmu untuk makan dengan teratur juga tidak dilakukannya."

Digenggamnya telapak tangan Naruto yang lebar dan hangat, menautkannya erat melewati jari-jarinya.

"Kau terlalu banyak ambil job? Kau begadang setiap malam?"

Diusapnya punggung tangan Naruto dengan telapaknya yang bebas. Waktu bergulir lambat ketika ia sendiri dan merasa sepi, namun kali ini bagaikan berpacu dengan bom waktu.

"Kenapa kau bisa mencintaiku begitu besar, jika mencintai dirimu sendiri saja kau tak bisa?"

.

.

.

"Kami sudah berencana ke Tokyo, sekaligus mengunjungi Iruka, begitu Naruto bilang kalian sudah kembali bersama."

Uzumaki Kushina, ibu Naruto, selalu baik padanya. Bahkan setelah perpisahan itu, ia tetap diperlakukan seperti saat pertama kali ia datang kemari. Begitu pun dengan ayah Naruto, Minato, yang selalu tersenyum lembut padanya. Senyuman yang bahkan tidak pernah didapatkannya dari ayah kandungnya yang cenderung menyimpan sendiri isi hatinya. Senyuman yang justru menyadarkannya bahwa ia telah menyakiti banyak orang.

Kalaupun perlakuan manis dan senyum lembut mereka adalah topeng, ia merasa pantas mendapatkannya. Mulai sekarang ia akan dengan lapang menerima buah dari perbuatannya. Namun ia akan mulai dari dalam dirinya sendiri, memperlakukan orang lain dengan lebih tulus.

"Tapi Iruka tidak keberatan kami menunda kunjungan ke Tokyo setelah tahu kalian ke sini untuk berbulan madu lagi."

Naruto tergelak sembari memeluk ibunya, "Hari ini kami hanya mampir, setelah istirahat sebentar kami akan langsung ke resort."

"Yappari, kau sudah tidak sabar, eh?"

Naruto kembali terbahak, kali ini sambil mengerling pada Hinata yang lebih banyak diam.

"Kami akan cukup lama di Okinawa. Jadi sebelum kembali ke Tokyo, kami masih bisa menginap di sini. Karena itu kami tidak membawa semua barang bawaan ke resort."

"Syukurlah kalau begitu. Berarti ibu bisa menyiapkan pesta ulang tahun untukmu."

Hinata tersentak. Ia bahkan baru teringat bahwa Oktober adalah bulan kelahiran Naruto.

"Astaga, Ayaa … tidak perlu yang seperti itu, aku bukan anak kecil lagi."

"Kau masih akan menjadi anak kecil ibu sampai kau memiliki anak kecil sendiri."

Bahkan Minato yang biasanya hanya mesem kini tergelak pelan mendengar perkataan istrinya. Padahal putra semata wayangnya yang jangkung melebihi dirinya itu memang sudah tak pantas disebut anak kecil.

"Ajiimee saja setuju denganku."

"Aku tidak mengatakan apapun."

Minato memilih jalan aman. Istrinya tidak dalam keadaan tepat untuk ditentang. Apalagi rencana itu sudah dirancang semenjak mereka mendengar kabar bahwa anak dan menantunya akan ke Okinawa bulan Oktober ini. Lebih baik ia menyingkir dulu, kucing-kucingnya yang lapar bisa dijadikannya alasan.

"Ish, dasar Oyaji," gerutu Naruto melihat ayahnya mulai sibuk dengan piaraannya. Ia bahkan baru pulang, tetapi pria yang dipanggilnya pak tua itu lebih perhatian kepada kucing-kucingnya yang menyerupai buntalan gembul daripada ke dirinya yang merupakan anak semata wayang.

"Bagaimana Hiashi? Sekarang dia baik-baik saja, kan?"

"Tentu Anmaa, karena ayah juga memiliki besan yang perhatian seperti kalian."

Merasa tidak ada yang memerhatikannya, sementara ibu dan istrinya tengah berbincang seru di dapur, Naruto memasukkan koper Hinata ke kamarnya, sisanya akan menjadi bawaannya dan Hinata untuk menginap di resort pinggir pantai Busena.

"Tapi ibu jadi merasa kecolongan. Tahu-tahu dia sudah punya cucu."

Kushina membuka paper bag yang diberikan oleh Hinata, yang menjadi buah tangan untuknya.

"Ah, ginseng merah."

"Itu pemberian Kak Neji yang baru pulang dari melancong. Katanya ayah ingin membaginya dengan kalian."

"Besan tahu saja timing yang pas." Tampak binar-binar bahagia di mata violet Kushina, yang berubah menjadi kerlingan genit ketika bertemu pandang dengan Minato.

"Sebelum ke resort, makanlah dulu di rumah, ibu akan memasakkan kalian sup ayam ginseng. Bagus untuk meningkatkan stamina. Ibu juga akan membuatkan sesuatu yang istimewa untukmu, bawalah nanti."

Kushina tidak membuang waktu untuk menyiapkan jamuan bersama para asisten rumah tangganya. Hinata yang berniat membantu malah diminta untuk beristirahat, alhasil ia hanya duduk manis di ayunan taman belakang.

"Anak, ya…."

Hinata menggumam sendu mengingat topik tentang cucu. Jika dihitung dari saat ikrar, sudah 5 tahun usia pernikahannya dengan Naruto. Namun waktu yang dihabiskan berdua hanya sekitar seperlima dari umur rumah tangganya, selebihnya terlewat begitu saja tanpa sedikit pun komunikasi. Dan jika mengingat perpisahannya sepulang dari Okinawa, bukankah tidak mungkin untuk mewujudkan harapan mereka.

"Naruto, apa-apaan kau ini? Kenapa memberiku anzan? Ayah lihat kelakuan anakmu ini."

Hinata kembali masuk ke dapur mendengar suara keras Kushina. Ia jadi terkikik geli melihat suaminya menerima ketukan sudip dari ibu mertuanya. Respons ayah mertuanya hanya menggeleng pelan sambil mengelus kucingnya.

"Ayaa minta oleh-oleh dari Tokyo, kan. Nah itu sudah ku bawakan, kenapa malah dipukul."

"Kau kira masih mungkin memberimu adik."

"Berterimakasihlah kepada Shikamaru, Ayaa. Dia memberiku setumpuk omamori, dan aku tidak tahu harus diberikan kepada siapa lagi."

"Oh teman baikmu yang istrinya mau melahirkan itu?"

Naruto menggumam seraya mencomot potongan buah naga di meja dapur, buah tropis yang bisa berbuah sampai awal musim gugur di Okinawa. Ia lantas memanggil Hinata mendekat untuk kemudian ia suapi.

"Kalau kau kembali ke Tokyo nanti bawakan ikan salmon segar. Bagus untuk ibu hamil dan menyusui. Akan ibu belikan dari tambak Kakek Jiraiya."

"Buat apa repot-repot, di Tokyo juga banyak."

"Kau tinggal bawa saja, jangan protes."

Hinata selalu terhibur dengan interaksi antara ibu dan anak itu. Ia tidak bisa menahan tawa kecilnya karena Kushina kembali menggetok Naruto dengan gemas.

"Hinata…." Setengah merengek Naruto mendekap Hinata dari belakang dengan dalih meminta perlindungan dari Kushina, "Jangan-jangan suamimu ini anak pungut. Lihat bagaimana Ayaa memperlakukanku."

Senyum senang jarang absen dari wajah Hinata yang berseri-seri. Ia sungguh merindukan saat-saat seperti ini. Berada di antara mereka membuat hatinya hangat.

.

.

.

Hanya sekitar 20 menit perjalanan Naruto dan Hinata ke Busena Marine Park karena masih berada di kota Nago. Ia dan Hinata akan menginap di hotel pantai mulai malam ini. Sengaja berangkat malam dari kediamannya lantaran ia ingin mengawali vakansinya besok. Sesuai jadwal, bus wisata akan berangkat dari rumah pantai sejak pukul 9 pagi.

Ia tidak hanya berencana mengajak Hinata berkeliling resort dengan bus. Ada menara observasi bawah air—170 meter di bawah laut yang ingin dikunjungi oleh Hinata, yang merupakan satu-satunya di Okinawa. Kalau dirinya lebih ingin bersantai di glass bottom boat berbentuk ikan paus yang akan mengajaknya berlayar selama 20 menit untuk melihat terumbu karang dan ikan tropis.

Ini adalah awal, masih banyak tempat yang ingin ia datangi bersama Hinata, yang belum sempat ia kunjungi ketika bulan madu pertamanya.

"Naruto-kun … ada apa?"

Hinata agak kikuk mendapati tatapan Naruto yang tampak beda dari sejak memasuki kamar. Atau mungkin lebih lama dari itu, namun baru benar-benar ia sadari sekarang setelah ia selesai membereskan koper bawaannya.

Bukannya lekas menjawab, Naruto justru sibuk dengan fantasinya sendiri. Dihempaskannya tubuhnya ke sofa yang membelakangi ranjang di mana Hinata tengah duduk. Kepalanya tertunduk, sepasang jarinya memijit keningnya dengan asal.

Segala gerak gerik Hinata entah mengapa terlihat begitu menarik di matanya, menimbulkan efek yang hebat pula pada tubuhnya. Dari melangkah, duduk, bahkan gerakan ringan dari tangan atau kaki istrinya itu menciptakan debaran yang tak biasa. Otaknya menjadi keruh. Pikirannya tentu tak selalu bersih, tetapi kali ini kadar kotornya meningkat berkali-kali lipat.

Apa ia salah memasukkan makanan ke tubuhnya? Seingatnya ia hanya makan buah selain sup ayam buatan ibunya.

"Sebenarnya apa yang dimasukkan Ayaa ke masakannya," gumamnya gusar.

"Naruto-kun…?"

Bahkan suara lembut Hinata bagaikan semilir angin sejuk yang membelai kulitnya. Sontak ia tersentak saat telapak hangat Hinata menyentuh bahunya, tanggapan yang menurutnya terlalu berlebihan dari dalam dirinya. Ia jadi merasa berbahaya.

Ditariknya tangan Hinata, direngkuhnya ke dalam dekapannya. Dengan tak sabar digiringnya Hinata menuju pembaringan sambil disambarnya bibir peach itu tanpa peringatan, tak mengizinkan layangan protes menyela kesenangannya.

"A-anoetto … a-aku masih mens—g-gomen."

Ia bahkan sudah mengurung Hinata di bawah tubuhnya. Bak dijejali dering di telinganya yang membuatnya mulai sadar akan keadaan, ia segera membanting tubuhnya ke sisi Hinata. Mengerang frustrasi, ia berusaha keras untuk lekas tidur. Mulai sekarang ia harus lebih waspada jika mendapat makanan dari ibunya.

.

.

.

Naruto kembali mengangkat kameranya, tak jemu membidik sosok Hinata yang berlatar laut. Setelah puas berkeliling Busena Marine Park, ia membawa Hinata ke pantai Busena yang membentang dari kota Nago ke tanjung Busena. Pohon-pohon palem di pantainya yang putih menciptakan kesan tropis.

Hinata berjongkok di bibir pantai, sedari tadi tampak asyik dengan istana pasirnya. Tangan lentik itu lantas melambai padanya. Ia masih terlalu nyaman duduk di bawah payung besar dan menyantap semangka kuningnya. Sengaja memanasi Hinata, yang kemudian mendekat padanya sesuai harapannya.

"Ayolah sebentar saja."

"Itu permainan anak-anak, Hinata."

Naruto belum beranjak dari duduknya meski Hinata berusaha membangunkannya dengan menarik lengannya.

"Coba dulu."

Pada akhirnya ia tetap menyerah dan membiarkan Hinata menyeretnya. Sesuai arahan ia berdiri membelakangi istana pasir buatan Hinata, lalu membungkuk untuk mengintip lubang yang dibuat Hinata melalui celah kedua kakinya yang terbuka lebar.

"Apa yang kau lihat?"

"Cuma pantai." Dengan posisi terbalik. Bias matahari menjelang senja yang memantul di permukaan laut cukup menyilaukan matanya.

"Perhatikan lebih baik dan kau akan menemukan masa depanmu."

Naruto membenahi posisi kakinya agar lebih leluasa untuk mengintip di antaranya. Kepalanya lebih melongok untuk mendapatkan arah yang tepat. Dan kini didapatinya gadis berbalut terusan bunga-bunga selutut itu tengah berjongkok memandang ke arahnya. Angin yang berembus menggoyangkan rambut pendek itu dengan nakal, seakan-akan melambai padanya guna merayunya. Tak ketinggalan senyum manis yang hanya ditujukan kepadanya.

"Bagaimana?" tanya Hinata saat Naruto kembali menegakkan badannya.

"Jika yang ku lihat benar, aku harap itu adalah masa depan yang tak bisa diubah."

"Apa? Aku tidak bisa mendengarmu."

Naruto terkekeh, berbalik meninggalkan Hinata di tengah keingintahuannya. Dasar Hinata keras kepala, tak henti mendesaknya sepanjang mengejar langkahnya menuju hotel.

.

.

.

Udara malam tidak menyurutkan minat Naruto untuk berdiam di balkon kamar hotelnya. Pemandangan resort yang gemerlap di malam hari sangat sayang untuk dilewatkan. Beruntungnya ia masih mendapat bagian kamar yang menghadap langsung ke pantai Busena.

Meski mulai dingin, namun musim gugur di Okinawa kurang berasa karena termasuk subtropik—daerah yang terletak di antara daerah tropik yang beriklim panas dan beriklim sedang. Bahkan ia merasa sekarang masih musim panas, apalagi jika sedang berada di pantai.

Saat ini pun ia bisa melihat beberapa wisatawan masih asyik berenang di kolam yang membentang sepanjang sisi hotel yang menghadap pantai. Kolam renang yang airnya tampak lebih biru dari air laut, dengan pohon palem dan meja berpayung putih berjejer rapi di tepiannya. Mungkin ia bisa mengajak Hinata berenang bersama, tentu setelah istrinya itu tuntas dari tamu bulanannya.

"Uh, rasanya aneh sekali."

"Apa yang kau minum?" Naruto mengernyit, menatap Hinata yang menghampirinya bersama sebotol minuman yang berisi cairan gelap.

"Bekal yang dibawakan Anmaa kemarin." Hinata tampak memejamkan matanya erat-erat atau menjulurkan lidahnya sedikit setiap kali meneguknya.

"Ayaa tidak ada di sini dan tak akan melihatnya, kenapa kau tetap meminumnya jika tidak enak. Buang saja, aku tidak akan mengadukannya."

Naruto harap ibunya tidak meracuni Hinata, ia sudah menjadi korbannya kemarin dan membuatnya tersiksa sepanjang malam.

"Mana bisa, kata Anmaa ini adalah ramuan rahasia keluarga Uzumaki yang langka. Kapan lagi aku bisa meminumnya jika tidak sekarang."

Naruto mendengus, Hinata memang kepala batu. Dibiarkan saja Hinata memasukkan cairan mengerikan itu teguk demi teguk.

"Dan lagi, membayangkan Anmaa membuat ini khusus untukku—dengan penuh perasaan, aku jadi tidak bisa menyiakannya."

Ungkapan jujur Hinata mengundang senyum di bibir Naruto. Dipandangnya Hinata lamat-lamat, senang menemukan semu malu-malu Hinata saban ia melakukannya. Satu telapak tangannya bergerak lambat dari punggung bawah Hinata hingga sampai pada tengkuk ramping istrinya, diraihnya perlahan bersamaan dengan wajahnya yang kian merapat. Ia ingin mengecap bersama usaha dan perasaan yang dituangkan ibunya ke dalam minuman itu.

Namun tidak lama.

Bibirnya menjauh secepat kedipan mata.

"Ohok—ohok."

Naruto sampai tersedak ludahnya sendiri. Ia baru tahu kalau aneh dalam kamus Hinata adalah rasa getir yang seolah membakar lidahnya dan meninggalkan pahit di langit-langit mulutnya. Sejenak pengecapnya seolah kebas. Bagaimana bisa Hinata tahan dengan rasa yang seperti itu. Ia saja langsung meluncur ke kamar mandi guna membasuh mulut dan isinya.

Kini ia bersyukur jika Hinata masih dalam masa datang bulan selama menenggak ramuan ajaib ibunya. Paling tidak naluri lelakinya tidak akan terbangkitkan untuk sementara waktu jika mengingat rasa mematikan itu.

.

.

.

"Naruto-kun … ini serius?"

"Sudah ku bilang kan, aku tidak akan tanggung-tanggung, Hinata."

Begitu check out dari hotel setelah sarapan dan siap meninggalkan resort, Naruto memang mengatakan sedang ingin menjalankan ide gila bersamanya. Ia kira gagasan itu sebatas menitipkan koper kepada Yamato, sopir keluarga Uzumaki yang menjemput kepulangannya, lalu pulang dengan berboncengan sepeda.

Namun ternyata itu belum termasuk ekstrem bagi Naruto.

Seharusnya ia memang sudah menerka hal semacam ini akan terjadi.

Naruto mendirikan tripod kameranya di pinggir jalan, yang dapat mengambil foto secara otomatis dengan rentang waktu yang telah ditentukan. Lantas memintanya untuk kembali duduk di boncengan.

"Hinata, jangan lupa lihat ke kamera dan lambaikan tanganmu, oke?"

"Kyaaa~"

Jangankan melambaikan tangan. Untuk melihat ke kamera saja ia tidak fokus. Bagaimana mungkin ia bisa tenang jika Naruto membawa sepedanya untuk meluncur di jalan turunan tanpa mengurangi kecepatan.

Dan itu lebih dari satu kali, hingga Naruto puas dengan hasilnya.

"Lihat kau menemplok di punggungku seperti bayi koala." Naruto pun kembali tergelak untuk kesekian kalinya, "Aduh yang ini rambutmu seperti mau copot."

"Naruto-kun!"

Hinata yang memberengut malu memilih meninggalkan Naruto dengan langkah lebarnya. Jalan kaki pun akan sampai, pikirnya. Tetapi Naruto tentu tidak akan membiarkannya. Bunyi kring kring menggodanya untuk kembali naik. Ia sudah memutuskan untuk merajuk, jadi Naruto harus berusaha lebih keras lagi untuk membujuknya.

.

.

.

"Hari ini pergilah memancing dengan Ajiimee."

"Kalian harus pulang dengan banyak ikan."

Naruto tahu mengapa istri dan ibunya kompak mengusirnya dari rumah hari ini. Tidak lain karena mereka tengah menyiapkan hidangan istimewa untuk hari lahirnya. Tentu bukan kejutan lantaran memang sudah direncanakan dari jauh hari.

Jika seperti itu, mengapa pula ia tidak diperbolehkan tetap di rumah. Malah berjam-jam terdampar di tepi sungai, duduk berdua saja dengan ayahnya, ditemani sepasang ember yang masih kosong dan sekumpulan nyamuk yang gemar menggigitinya. Ia mulai lelah.

"Ajiimee, kita beli saja dua ember ikan dari Kakek Jiraiya."

"Ibumu tidak akan bisa dibodohi."

Minato masih terlihat tenang dan menikmati kegiatan memancingnya walaupun sama tidak beruntungnya dengan Naruto.

"Lagipula Jiraiya-san tidak menjual ikan sungai."

"Jadi kita akan pulang dengan tangan kosong?"

"Bukan tangan kosong jika ember di tangan kirimu dan tongkat pancing di tangan kananmu."

Naruto hanya mendengus bosan sebagai balasan. Ayahnya selalu tak lucu jika bermaksud melucu, apalagi dengan ekspresi yang tetap lempeng itu.

"Kau masih betah di Tokyo?"

Naruto kurang siap menghadapi keseriusan ayahnya yang tiba-tiba. Diletakkannya tongkat pancingnya di penyangga.

"Maaf aku belum bisa menemani kalian di sini. Aku masih menjadi seorang egois yang lebih memilih passion-ku."

"Kami bisa mengerti dan selalu mendukungmu untuk itu."

Minato menepuk bahu sang putra penuh pemahaman, "Yang sebenarnya ingin ku tanyakan; bagaimana perencanaanmu untuk tahun yang akan datang. Ingatlah usiamu semakin bertambah."

"Perencanaan, ya…." Naruto terkekeh, "Aku hanya ingin memotret sampai mungkin nanti aku tak bisa melihat lagi. Banyak hal yang belum ku lihat di luar sana. Banyak tempat dan wajah-wajah yang ingin ku abadikan dengan kameraku."

Minato mesem. Putra tunggalnya ini memang cenderung berpikir dengan sederhana serta tanpa rancangan masa depan yang muluk-muluk.

"Tidak hanya di Tokyo atau sekitarnya, bisa jadi keliling Jepang, atau mungkin dunia?"

"Huh? Apa yang kau bicarakan. Kau bermaksud meninggalkan istrimu?"

Entah mengapa itu yang terpikirkan oleh Minato. Padahal boleh jadi Naruto berniat mengajak Hinata serta. Hanya saja, cara Naruto menyampaikannya terdengar ganjil di telinganya, dan ia sangat mengenal putranya.

Selanjutnya Naruto memang tertawa, namun terdengar sumbang, "Akan ku pikirkan lagi jika dia masih ingin bersamaku."

"Bukankah hubungan kalian sudah membaik."

"Hm, tapi hati seseorang siapa yang tahu."

.

.

.

"Duapuluh delapan tahun yang lalu, seorang ibu mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan seorang bayi."

Naruto mendekap sayang sang ibu dari belakang, "Bayi itu diberi nama Uzumaki Naruto—yang hingga kini dan mungkin selamanya, tidak mampu membalas segala pengorbanan dan perjuangan itu."

Kushina menepuk lembut punggung tangan Naruto sebelum menggeplak kepala kuning sang putra, "Ibu sudah berdandan lebih cantik malam ini, jangan merusak penampilanku."

"Bahkan bila aku mengucapkan terima kasih sampai mati pun tak akan sebanding dengan semua yang telah kalian berikan padaku."

Naruto menyengir setelah mendapat dorongan dari ibunya, dan kembali ke tempat duduknya di sisi Hinata. Melihat Hinata juga menitikkan air mata, justru dicubitnya pipi tembam istrinya itu. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan Hinata, tetapi ia berharap air mata Hinata bukan pertanda kesedihan atas kondisi orang tuanya di masa yang telah lalu.

"Terima kasih telah melahirkan Naruto-kun, Anmaa…."

Naruto cukup terkejut setelahnya, tidak menyangka akan mendengarnya dari Hinata. Segera dirangkulnya bahu Hinata lantas mendekapnya di dada.

"Ah, aku kelilipan bulu mata," keluh Kushina sembari menyeka air matanya yang menetes.

"Mana sini ku lihat."

Kushina bersungut-sungut menghadapi Minato yang berlagak tidak paham akan maksudnya. Setelah Naruto, sekarang giliran sang ayah yang mendapat penolakan darinya. Ayah dan anak sama saja, batinnya, senang sekali menggodanya.

"Ayo cepat dimakan, jangan mengabaikan masakan super chef."

Naruto tergelak mendengar candaan ibunya. Sayang tak lama ekspresi senangnya ketika melihat sajian daging di mana-mana dengan kue tar di tengah meja panjangnya, digantikan tatapan curiga. Terbayang kembali malam pertamanya di resort.

"Ayaa tidak memasukkan sesuatu yang aneh lagi, kan?"

"Sesuatu yang aneh? Lagi?"

"Malam itu…."

Mulai mengerti, Kushina lantas terbahak, diikuti Minato dengan tawanya yang apik dan berwibawa. Mata biru Naruto menyipit tajam, benar dugaannya memang ada yang tidak beres dengan masakan ibunya kala itu.

"Cuma ginseng, apanya yang aneh? Namanya juga sup ayam ginseng. Ibu jauh-jauh mengadopsi resepnya dari negeri seberang, dan itu terbukti menyehatkan. Hargailah usaha ibumu ini, ayahmu dan Hinata saja tidak protes. Memang apa yang kau rasakan?"

Ujung-ujungnya sang ibu menjadikannya terperangkap dalam topik yang diangkatnya sendiri.

"Aa—lupakan."

Tidak hanya ibunya, bahkan ayahnya tampak puas melihatnya gelagapan. Sedangkan Hinata yang tak mengerti hanya diam menunggu mereka memulai acara santap bersamanya.

.

.

.

Hinata menutup jendela kamar Naruto yang lebar. Udara malam hari terasa semakin dingin meski ia sudah mengenakan sweter. Sembari menunggu Naruto yang tengah mandi, ia menyalakan perapian di kamar suaminya itu guna menghangatkannya. Salah satu hal yang paling ia sukai di kediaman Uzumaki, selain desain rumahnya yang penuh kayu dan lampu-lampu dinding bergaya klasik yang memancarkan cahaya redup.

Diambilnya gulungan kertas bertali pita putih yang telah disiapkannya selama Naruto tidak berada di rumah. Ia harap hadiah sederhananya dapat diterima oleh suaminya.

"Happy anniversary."

Hinata membawa langkahnya untuk menduduki bangku panjang di ujung tempat tidur. Padahal ia berdiri untuk menyambut Naruto, namun ternyata niatnya terbaca dan ia kalah cepat.

"Syukurlah tidak pakai failed lagi," ucapnya dibarengi senyum.

Naruto mengambil tempat di sebelahnya, menerima ulurannya dan segera menarik pitanya.

"Sebenarnya aku tadi tidak membantu Anmaa agar bisa menyiapkan itu. Maaf aku sempat lupa."

Hinata mengintip bagian yang diamati oleh Naruto. Apa ada yang aneh dari gambarnya hingga Naruto tak kunjung mengalihkan atensinya. Masih sama seperti yang digambarnya dari pagi, goresan pensil itu membentuk profil Naruto yang hendak membidik dengan kameranya. Ia terilhami saat diam-diam memerhatikan Naruto dari samping.

"Apa aku memang selalu setampan ini di matamu?"

Mendapati gelak pelan Naruto, ia anggap coretan tangannya masih layak disebut sebagai hadiah.

"Gambar saja tentu tidak sebanding dengan aslinya."

Itu terdengar seperti ungkapan tersirat bahwa Hinata mengakui ketampanannya. Sebetulnya Naruto ingin menggoda istrinya itu dengan menimpali pengakuannya. Namun urung, ia tidak tega melihat Hinata yang sudah tampak sangat malu akibat kejujurannya.

"Aku malah tidak menyiapkan apapun. Adakah yang kauinginkan?"

"Eh? Kenapa aku?"

"Sebagai kado hari jadi kita."

Hinata menimbang-nimbang, sejatinya ia malah tidak berharap akan menerima sesuatu dari Naruto, ia hanya ingin memberi untuk kali ini, namun tak lama ide jail itu muncul begitu saja.

"Bagaimana kalau photobook Sasuke? Katanya sudah rilis, aku ingin satu."

"Apa bagusnya." Naruto menggulung kembali kadonya dengan hati-hati. Ia simpan di laci sebelum menemukan pigura yang pas untuk memajangnya.

"Ada bonus foto topless … di air…." Hinata semakin mencicit mendapati tatapan Naruto yang menajam. Seharusnya ia senang reaksi Naruto seperti harapannya. Namun sepasang mata biru yang entah mengapa terlihat menggelap itu tetap membuatnya takut.

"Foto tidak akan sebanding dengan yang asli." Naruto mengembalikan kata-kata Hinata. Ia kembali ke tempatnya semula, semakin merapat pada Hinata hanya untuk berbisik mesra, "Aku bisa tunjukkan padamu. Kau juga boleh menyentuhnya."

Tak ayal Hinata semakin malu dibuatnya. Kepalanya tertunduk dengan jemari saling bertaut gugup.

"Baiklah, persiapkan dirimu, besok kita akan berenang."

Naruto mengembalikan handuk basahnya ke kamar mandi, sebelum ia terlupa dan membiarkan tergeletak di sembarang tempat. Hinata bisa mengomelinya.

Ia sudah hampir masuk selimut ketika ia teringat sesuatu, "Ah, kau kan masih…."

Kali ini Hinata cepat tanggap akan maksud Naruto, dan kata-kata itu meluncur dari mulutnya nyaris tanpa jeda akibat grogi, "Sebenarnya sudah dari seminggu yang lalu."

"Kenapa kau tidak bilang, padahal aku ingin mengajakmu berenang di resort waktu itu."

Hinata menyusul Naruto, perlahan berbaring di bawah selimut yang sama, "Di sini juga ada kolam renang, kan. Aku malu berenang di kolam publik."

"Baguslah, aku saja yang boleh melihatnya."

Naruto sudah mengganti lampu putih di langit-langit kamarnya dengan lampu dinding yang redup dan memberi kesan hangat. Ditambah penerangan dari bara perapian yang belum sepenuhnya padam. Tetapi di tengah keremangan itu Hinata mengurungkan niatnya untuk memejamkan mata. Lebih dari itu, pernyataan Hinata yang menghilangkan kantuknya seketika.

"Yang tadi sebenarnya hadiah ulang tahun. Untuk hari jadi kita yang kelima ini, aku … ingin dimiliki olehmu—seutuhnya."

Naruto menggeser tubuhnya lebih mendekat pada Hinata, menyangga kepalanya dengan satu tangan, membalas tatapan teduh yang penuh kesungguhan itu. Terus saja dipandanginya, berlagak tidak peduli akan kegugupan Hinata, yang bahkan sangat kentara dari usahanya untuk menyatakan keinginan itu kepadanya.

"Hm … jika kau ingin berarti itu akan menjadi hadiah untukmu."

Hinata tergagap-gagap, kembali memilah kata untuk meralat, "Kau—boleh memilikiku."

Betapa Naruto senang menggoda Hinata. Apapun itu akan ia pastikan tidak hanya akan menjadi kesenangan satu pihak. Sebab bukan hanya Hinata yang ingin.

.

.

.

Setetes peluh kembali jatuh, bersatu dengan air mata Hinata yang mengharu. Mata yang sayu, bibir yang terus tersenyum, ia berharap malam tak lekas berujung.

Ditangkapnya tangan Hinata yang menggapai lunglai, ditautkannya di antara sela-sela jari yang mencengkeramnya kuat seakan ingin meleburnya menjadi satu.

"Hinata."

"Hinata."

"Hinata."

Bagaikan mantra, seolah wanita dalam dekapannya akan lenyap jika ia berjeda. Ia ingin wanitanya tahu, bahwa dalam setiap desah napasnya, nama itu akan selalu terpatri dalam hatinya. Dulu, sekarang, maupun nanti, hanya Hinata.

.

.

.

"Kesiangan…."

Hinata mengerang pelan melihat jam digital di nakas, membandingkannya dengan cahaya yang menerobos tirai tipis jendelanya. Bahkan sisi di sebelahnya telah dingin, pun sudah tak ada tanda-tanda keberadaan Naruto di kamarnya.

"Istri dan menantu macam apa aku ini," rutuknya pada diri sendiri.

Pelan-pelan ia bangun. Membereskan segala kekacauan tadi malam sebelum membersihkan dirinya sendiri. Menemukan handuk basah terselip di lemari ketika ia hendak ganti, rasanya ia ingin menceramahi suaminya seperti biasa. Namun saat mengingat kejadian semalam, ia malah malu sendiri. Ia bahkan tidak tahu harus bersikap bagaimana jika bertemu dengan Naruto nanti. Sungguh memalukan karena ia yang memulai di pengalaman pertamanya.

Keluar kamar, suasana rumah begitu lengang. Ia seperti bisa membayangkan bagaimana perasaan Naruto sebagai anak tunggal. Hanya terlihat beberapa asisten rumah tangga yang berjalan mondar mandir untuk bebersih. Sapaan demi sapaan ditanggapinya dengan senyuman. Sampai langkah lambatnya membawanya pada halaman belakang, di mana Kushina tengah membaca majalah dengan ditemani kudapan dan teh.

"Anmaa…."

Menyadari kedatangannya, Kushina langsung menutup majalahnya dan memintanya untuk bergabung.

"Ayame, tolong buatkan teh untuk Hinata juga," titahnya pada maid yang hendak mengganti bunga segar di dapur.

"Naruto dibutuhkan ayahnya di perkebunan untuk menentukan jenis hama."

Kushina menjelaskan sebelum Hinata bertanya mengenai keberadaan Naruto, bahkan ia baru mendudukkan dirinya.

"Apa hama yang menyerang lebih dari satu, Anmaa?"

"Bisa begitu, tapi lebih sering satu jenis hama setiap satu periode panen. Biasa terjadi saat pasca panen begini, hama akan menyerang perkebunan setelah pemangkasan tunas daun."

Hinata mengangguk pelan seraya berusaha memahami penjelasan ibu mertuanya. Meskipun keluarganya memiliki tea house, ia tidak pernah terlibat secara langsung, apalagi dengan perkebunannya.

"Omong-omong, anak itu tidak biasanya langsung patuh dibangunkan pagi-pagi, apalagi kalau diminta ke perkebunan, tapi tadi malah senyam-senyum. Dia tidak kerasukan spirit dari sungai yang dia datangi kemarin, kan?"

Hinata tersenyum kikuk, "Di Tokyo dia terbiasa bangun pagi, Anmaa."

"Ah, benar juga, sudah lama sekali tidak serumah, ibu baru sadar."

Kushina meletakkan cangkir tehnya kembali saat Hinata memberanikan diri untuk menginterupsi, "Apa Naruto-kun tadi sudah sarapan?"

"Dia sempat makan roti, jangan khawatir." Kushina senang melihat Hinata berani menunjukkan perhatian kepada putranya, "Kau makanlah dulu, jangan menunggunya."

Kushina seolah mampu membaca pikiran Hinata. Ia mengangguk patuh sebelum menyesap tehnya yang baru diantarkan. Meskipun ia lebih ingin mematuhi gagasannya yang pertama, menunggu Naruto.

.

.

.

"Yo, Nyonya Uzumaki."

Naruto menduduki sisi Hinata. Menarik celananya sebatas lutut sebelum mencelupkannya ke kolam mengikuti aksi sang istri.

"Apa yang kaulakukan sendirian di sini?"

Hinata beringsut memeluk Naruto tanpa melontarkan jawaban yang disimpannya sendiri. Tidakkah tersirat bahwa ia tengah menunggu kepulangan suaminya ini. Ia pun tak mengerti mengapa dirinya begitu merindukan Naruto padahal tidak ada setengah hari berpisah. Tak mendapat penolakan dari Naruto, ia menghirup dalam-dalam aroma segar teh yang melekat pada kemeja sang suami.

"Maaf berenangnya ditunda dulu," gumamnya kemudian.

"Hei, aku kan tidak sedang menagihnya."

Lengan Naruto melingkari bahu Hinata, menariknya untuk lebih mendekat padanya. Sesekali dibelainya rambut Hinata yang beraroma lili.

"Lagipula sekarang kita punya kegiatan yang lebih menyenangkan dari itu."

"Mou." Hinata bahkan tidak sanggup lagi membuka mulutnya, dan membiarkan Naruto berpuas karena berhasil menggodanya untuk kesekian kali.

"Ayah lihat itu?" bisik Kushina dari balik pintu dapur yang terbuka sedikit.

"Aura-aura pengantin baru." Minato yang biasanya kurang peka pun turut berkomentar, sependapat dengan sang istri.

.

.

.

Menjelang akhir bulan Oktober, biasanya keluarga besar Uzumaki mengadakan perayaan sebagai bentuk syukur akan datangnya musim panen. Tahun ini festival tsukimi diadakan di kediaman Uzumaki Nagato yang merupakan adik dari Kushina.

Naruto yang sempat berujar untuk membawa Hinata ke peternakan pamannya, tentu tidak akan melewatkan kesempatan ini. Butuh waktu kurang dari satu jam untuk sampai di desa Yomitan, distrik Nakagami, dengan menggunakan mobil. Merupakan daerah penghasil krisan terbesar, diikuti tebu dan babi, juga ubi ungu.

Dengan satu mobil saja seharusnya sudah cukup untuk keluarga utama mereka, tetapi Kushina selalu tak ingin meninggalkan para asisten rumah tangganya, termasuk sopir pribadinya. Acara puncak dilakukan di malam hari sehingga mereka harus menginap.

Begitu tiba, ternyata bukan hanya kerabat Uzumaki yang hendak memandang bulan bersama-sama. Para warga sekitar juga antusias, bergotong-royong menggelar alas di halaman kediaman Nagato yang luas. Tak lupa menyiapkan tempat pemujaan yang dihiasi rumput pampas dan bunga khas musim gugur. Sebagian yang lain menghidangkan dango dan sake sebagai persembahan kepada bulan, juga makanan musiman lainnya untuk dinikmati bersama.

"Rasanya sudah lama sekali kau tidak berkunjung, Naruto."

"Paman merindukanku?" Naruto terkekeh atas pertanyaannya sendiri. Pasalnya jarang sekali pamannya yang pendiam itu mengungkapkan isi hatinya.

Sesuai dugaannya, pria berambut merah itu hanya tersenyum sedikit sebelum membantu rombongannya menurunkan bawaan, dan yang terbanyak adalah buah tangan ibunya.

"Paman, aku lihat kandangnya sebentar, ya!"

Sesuai janjinya, Naruto benar-benar mengajak Hinata mendatangi babi. Tidak jauh dari kediaman Nagato. Berjalan kaki melewati bagian belakang rumah yang diapit kebun tebu.

"Naruto-kun, aku tidak mau dikejar babi lagi."

"Cuma lihat sebentar saja, Hinata." Naruto menggenggam tangan Hinata erat-erat seolah istrinya itu bisa kabur kapan saja, "Lagipula kita harus kembali sebelum petang."

"Astaga, kau benar-benar memakai sepatu bot," gumam Hinata baru menyadari penampilan suaminya itu. Yang artinya ia harus waspada, boleh jadi Naruto akan sungguh-sungguh membebaskan satu kandang babi.

"Dan lihatlah dirimu, tidak biasanya kau pakai celana."

"Ku pikir akan dingin malam ini," elak Hinata.

"Oh, bukan karena takut digigit babi?" Naruto pun terbahak.

Hinata tidak bisa menyangkal lagi. Namun yang ditakutkannya tidak terjadi. Setibanya di dekat kandang yang mengurung ternak berlumpur itu, Naruto justru membuatnya hampir memekik lantaran mengangkat tubuhnya secara tiba-tiba.

"Kau bilang ingin digendong seperti putri, kan."

"Waktu itu aku hanya bercanda."

"Tapi aku menafsirkannya lain."

"Sampai belakang rumah saja, aku malu di depan ramai sekali."

Ragu-ragu Hinata mengalungkan lengannya di leher Naruto dan membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu. Ia lega Naruto bersedia menurutinya dengan menurunkannya di teras belakang rumah Nagato.

Mengingat apa saja yang telah dilakukan Naruto untuknya, seketika muncul keinginan untuk memeluk Naruto dengan begitu erat, dan ia tidak mengulur waktu untuk mewujudkannya.

"Kenapa, hm?"

"Aku hanya ingin memelukmu. Sebentar saja."

Hinata memejamkan matanya. Debaran yang mengetuk dada Naruto, aroma tubuh Naruto, dan usapan lembut di kepalanya. Ia harus mengingat semuanya sebelum ia kehilangannya.

.

.

.

"Nak Naruto, kau tidak tertarik pada gadis Yomitan? Tidak kalah dengan gadis Nago, lho."

"Lihat gadis yang di ujung sana. Dia cucuku, masih single."

"Dia baru lulus sekolah menengah, terlalu muda. Dengan keponakanku saja, Nak Naruto."

Naruto hanya bisa tersenyum kikuk menanggapi para nenek dan ibu-ibu yang duduk di sekitarnya. Apa cincin hitamnya tidak bisa dijadikan indikator. Atau ia memang tidak tampak sebagai seorang pria beristri. Padahal ia jarang terpisah dengan Hinata, sebelum gadis itu membantu ibunya dan para wanita lain untuk menyiapkan hidangan.

Kini yang ia khawatirkan terjadi, tak jauh di belakangnya Hinata memandangnya dengan muka masam, pasti mendengar semua penawaran yang ditujukan kepadanya. Tanpa mengurangi rasa hormat, ia membungkuk singkat sebelum menghampiri Hinata.

"Itu siapanya Nak Naruto?"

"Entahlah, katanya dari Tokyo."

"Aduh, mereka kelihatan dekat, sayang sekali."

"Gadis Tokyo sangat cantik, pantas saja."

Naruto bersila di sebelah Hinata. Hampir bersamaan dengan datangnya ibu dan ayahnya yang entah dari mana, menempati spot tak jauh darinya.

"Sepertinya semua orang di sini menginginkanmu menjadi menantu."

"Mungkin karena tidak semua tahu kalau aku sudah menikah."

"Dan kau diam saja."

"Aku ingin kau yang menunjukkan kepada mereka."

"Tidak mau."

"Ya sudah."

Naruto tidak bisa memaksa Hinata untuk mengklaimnya. Padahal dengan menunjukkan sedikit kemesraan saja ia kira akan cukup. Tetapi ia juga tidak akan memulainya jika Hinata tidak bersedia. Akhirnya ia turut memandangi bulan seperti yang lain, sambil menikmati sake dan hidangan yang disediakan. Tak lupa berdoa mengharapkan hasil panen yang terbaik. Hari ini bulan tampak sempurna dengan sinarnya yang terang, tanpa mendung.

"Katanya, bentuk bulan yang sama persis bisa kita lihat setiap 19 tahun sekali."

Naruto menenggak secawan sake lagi sebelum menanggapi Hinata, "Jadi bulan yang serupa ini baru bisa kita lihat lagi 19 tahun yang akan datang?"

"Hm."

"Menurutmu apa yang kita lakukan saat itu—19 tahun dari sekarang?"

Apa yang bisa Hinata harapkan jika satu minggu dari sekarang semua ini telah berakhir. Ikatan, kebersamaan, akan sampai pada penghabisan.

"Tergantung padamu."

"Bukan hanya bergantung padaku."

Ia menghindari tatapan Naruto dengan menyantap hidangan soba berkuah kaldu yang di atasnya diberi nori dan telur mentah. Baru satu suap ketika ia merasakan isi lambungnya seakan bergerak naik, menyumbat tenggorokannya bersama gumpalan tangis yang membuatnya sulit menelan.

.

.

.

"Meskipun sangat terlambat dan bukan musim panas, aku ingin menepati janjiku."

"Di sini rasanya masih seperti musim panas, kok."

Desa Kitanakagusuku berada di distrik yang sama dengan kediaman Nagato. Sebelum kembali ke Nago, Naruto membawa Hinata untuk singgah ke ladang bunga matahari yang pernah dijanjikannya. Kurang dari 20 menit mereka sudah tiba di sana. Tidak jauh dari pintu masuk tol dan terselip rapi di antara beberapa daerah perumahan.

"Biasanya di sini diadakan festival selama musim semi."

Hinata hanya menggumam mendengar perkataannya, namun matanya yang berbinar tertuju pada hamparan bunga matahari di sekitarnya. Rata-rata bunga setinggi 5 kaki, tampak anak kecil yang seperti terkubur jika berdiri di antaranya. Dengan tinggi badan yang tak lebih dari 160 sentimeter, Hinata juga nyaris tenggelam. Namun dengan penataan yang cermat, jalur-jalur menyerupai labirin dapat dilalui oleh pengunjung.

Naruto tidak melewatkan apa yang dilihatnya. Tak jemu ia mengambil potret Hinata dengan segala perubahan mimiknya. Di tengah keasyikannya ia terdiam. Satu telapak tangannya menangkup mata kanannya yang sesaat memburam diikuti rasa pusing yang hilang timbul. Ia teringat telah melewatkan terapinya bulan ini.

"Naruto-kun, ada stan suvenir dan oleh-oleh di sana. Apa kau tidak ingin membelikan sesuatu untuk teman-temanmu di Tokyo?"

Naruto mengerjapkan matanya sekali lagi. Penglihatannya belum pulih sepenuhnya kala ia mengekor pada Hinata, meluluskan setiap keinginan istrinya tercinta. Ada permainan musik tradisional di dekat stan yang diminati Hinata. Ia meminta sang penabuh gendang besar untuk mengizinkan Hinata menggantikannya sejenak yang kemudian ia abadikan.

"Rasanya malu sekali, sepertinya tadi ada pengunjung lain yang mengambil fotoku," ungkap Hinata dengan kepala tertunduk.

Cepat-cepat ia mendatangi stan yang menjadi tujuan utamanya setelah melepaskan rangkulan Naruto di bahunya. Naruto sama sekali tidak membantunya bangkit dari rasa malu, malah menjebaknya dalam ide-ide jail, seperti tak pernah puas menggodanya.

"Belikan untuk keluargamu juga."

"Iya, mungkin ini saja ya—minyak biji bunga matahari."

"Hm, disamakan saja semua."

Hinata mengangguk, mematuhi saran Naruto. Ia terlalu sibuk menghitung jumlah anggota keluarganya, sehingga tak sadar tatkala Naruto meninggalkannya.

Tak menemukan seseorang di sampingnya ketika ia hendak meminta pendapat lain, barulah ia kelimpungan. Diedarkannya pandangan resahnya memutari sekelilingnya. Perasaan takut kehilangan serta-merta menyergapnya. Dadanya bergemuruh tak nyaman.

"Naruto-kun…," lirihnya.

Ia nyaris menangis andaikata tidak ada sebuket bunga matahari yang disodorkan di depan wajahnya, dan Naruto muncul dari balik tubuhnya. Didekapnya buket itu erat-erat, tak mengindahkan Naruto yang menginginkan perlakuan serupa.

.

.

.

"Kita berpisah dari sini. Sampai kita menemukan tempat di mana kita tidak dapat mendengar satu sama lain."

Hinata mengambil ponsel Naruto, sementara miliknya ia berikan pada Naruto.

"Kita harus merekamnya dan baru boleh didengarkan setelah kita tak lagi bersama, sepakat?"

Naruto tergeming, tangannya yang menggenggam ponsel putih Hinata menggantung lemas di sisi tubuhnya.

Setelah semua yang dilalui bersama dalam satu bulan ini, ternyata Hinata tetap ingin berpisah darinya. Benar-benar tidak berubah pikiran.

Andaikata Hinata menyatakan masih ingin bersamanya, ia tidak akan melepaskan Hinata, ia rela disebut bukan pria sejati lantaran tidak dapat memegang kata-katanya.

Ia memaksakan sebentuk senyum dan menuruti keinginan Hinata.

.

.

.

"Terlalu banyak kata-kata yang ingin aku ungkapkan kepadamu. Tapi semakin memikirkannya, aku semakin kesulitan untuk mengatakannya, tidak tahu dari mana harus memulainya."

Hinata memeluk lututnya. Meringkuk di antara bunga matahari yang memayunginya dari panas terik. Ponsel hitam Naruto didekatkannya ke depan bibirnya, yang sempat membuatnya terkesiap kala menemukan fotonya di layarnya.

"Pada dasarnya aku juga tidak pandai berkata-kata."

Cukup lama Hinata bungkam, membiarkan detik demi detik bergulir tanpa rekam suaranya, hanya diisi tarikan napasnya yang terdengar berat.

"Bersamamu … aku merasa tidak membutuhkan obat-obatku lagi. Aku tidak keberatan bergantung padamu, tapi … apa itu artinya aku hanya memperalatmu jika aku membuatmu terus bersamaku?"

"Jika iya, akan lebih baik jika kau meninggalkanku. Kau masih bisa menemukan wanita yang akan lebih tulus kepadamu. Misalnya wanita berambut merah itu—siapa namanya … Saara?"

Hinata sungguh merasa munafik. Bibirnya menyebut nama wanita lain untuk suaminya, sementara hatinya meraung penuh harap agar Naruto hanya melihatnya.

"Mungkin hatiku memang tidak bersih, tapi satu hal yang ku yakini … aku mencintaimu."

"Aku jatuh cinta padamu." Betapa Hinata ingin menyerukannya dengan lantang. Kalau perlu hingga didengar oleh Naruto di ujung sana, "Dan aku sungguh-sungguh."

"Terima kasih atas panggung impian yang kau ciptakan untukku. Sekarang aku tidak akan menyesali apapun lagi. Ya, tidak akan…."

.

.

.

"Aku belum memutuskan untuk check in di mana. Bolehkah aku menginap malam ini?"

"Tentu itu rumahmu juga."

"Aku akan menjual bagianku."

"Oh—baiklah."

Sisa perjalanan itu hanya diisi dengan saling memalingkan kepala. Berbagi udara dalam satu taksi namun seakan tak saling mengenal. Tigapuluh menit dari bandara terasa bagaikan 3 jam untuk mereka.

Hinata turun mendahului Naruto dengan barang pribadinya di tas jinjing. Sedangkan untuk koper dan buah tangan dari Okinawa harus diangkut dengan mobil boks, tak ubahnya seperti pindah rumah.

Ia langsung naik ke lantai 3, tak peduli bagaimana mereka memasukkan barang-barang itu ke galeri. Segera dikeluarkannya surat pernyataan cerai yang hanya tinggal menunggu stempel dari Naruto.

"Jangan terburu-buru."

Hinata tidak siap menerima rengkuhan Naruto yang sekonyong-konyong. Amplop besar di tangannya terjatuh di dekat kakinya.

"Ini malam terakhir kita, tidakkah kau ingin membuatnya berkesan?"

Kedua lengan yang melewati sisi tubuhnya memeluk pinggangnya teramat erat. Tas jinjingnya meluncur jatuh bersama usaha Naruto untuk membuka mantelnya dalam sekali tarikan. Jika memang ini tantangan dari Naruto untuk terakhir kalinya, ia mampu meladeninya. Berbalik, ia melakukan hal yang sama kepada baju hangat Naruto hingga menyusul onggokan di lantai.

Sorot matanya begitu mantap ketika bertumbuk dengan sepasang mata yang tampak seperti lautan mengamuk itu. Jemari lentiknya bergerak gesit membuka kancing kemeja Naruto satu per satu. Ia merasakan tubuhnya melayang saat Naruto membawanya dalam ciuman panas. Punggungnya menghempas ke dinding, namun tak lama karena ia lekas membalik posisi.

Bibir tak henti bertaut, saling berebut dominasi, tak memberi kesempatan untuk bernapas dengan bebas. Pelapis tubuh atas keduanya tercecer sepanjang langkah menuju peraduan. Terus merengkuh dan menjamah, saling mematri ingatan akan sosok masing-masing.

Sepasang raga itu pun lantas terhempas bersama dengan Naruto yang memegang kendali. Naruto tak akan selembut biasanya, dan Hinata juga tak menahan diri.

.

.

.

Hinata tidak akan menjadi seperti Lysander dalam A Midsummer Night's Dream yang pergi meninggalkan Hermia sebelum sang kekasih membuka matanya. Yang serupa barangkali adalah bagian di mana segala sesuatunya bagaikan impian di tengah musim. Kebersamaannya dengan Naruto pun terasa begitu singkat, hingga Hinata berpikir bahwa Naruto adalah bagian dari mimpi indah yang datang padanya.

Begitu terbangun, didapatinya punggung polos Naruto yang membelakanginya. Ia bersikap seolah tak ada yang terjadi, membersihkan diri seperti biasa dan menunggu sepasang manik biru itu untuk menampakkan diri. Kali ini ia harus menuntaskannya dengan segera.

"Janji adalah janji."

Ia mengulurkan amplop cerainya tepat setelah Naruto keluar dari kamar mandi, tak memberi waktu untuk sekadar mengganti kimono mandinya.

"Mungkin aku bisa mengulurnya, tapi aku tidak ingin membuatmu mengingkarinya."

Jika memang itu yang diinginkan Hinata, Naruto akan kembali menurutinya. Tidak lama hanya untuk membubuhkan stempel namanya.

"Aku harap kau tidak muak dulu padaku," ucapnya datar seraya mengembalikan amplopnya kepada Hinata, "Kita masih akan sering bertemu setelah ini disahkan."

"Untuk bagianmu yang ingin kau jual, aku bisa membelinya darimu. Tapi setelah itu kita masih harus bertemu untuk mengurus surat kepemilikan."

Mendapati Naruto berbicara dengan suara rendah dan sorot tajam padanya, Hinata merasa sedang bersama orang lain. Jemarinya tanpa sadar meremas ujung amplop di tangannya.

"Lalu untuk cerai secara agama, kita akan ke kuil bersama dan menghancurkan cincin kita. Tapi sepertinya akan butuh waktu, ini keras sekali, lebih kurang satu tingkat di bawah berlian, kan."

Naruto terkekeh hampa, tak peduli jika Hinata sama sekali tidak menanggapinya.

"Bahkan bila tersangkut di jari pun sepertinya membutuhkan tenaga ahli untuk memotongnya. Sudah lama aku tidak melepaskan ini, apa menurutmu masih bisa ku lepas sendiri?"

"Jika tidak bisa, aku yang akan melepaskannya untukmu."

Naruto tersenyum aneh, rahangnya tampak mengeras sebelum ia kembali berucap,

"Sudah—kau sudah melakukannya."

.

.

.

Jika aku A, kau adalah B.
Kita saling bersisian namun tidak selalu berpadanan untuk bersama,
tetapi karena itulah kita dipertemukan,
untuk duduk berdampingan, atau saling memberi pelajaran.

.

.

.

Hinata sudah berjalan cukup jauh dari Gallery 1010 saat ia berani untuk membuka rekaman suara Naruto di ponselnya. Diselipkannya earphone di kedua lubang telinganya di tengah denyutan jantungnya yang menyakitkan. Ia mengingkari kesepakatannya sendiri, di saat seharusnya ia memutarnya jika tak ada kemungkinan untuk bertemu dengan Naruto lagi.

"Hinata…."

Dadanya berdebar hebat. Inilah Naruto yang sebenarnya, yang memanggil namanya dengan begitu halus, bukan seorang pria yang ditinggalkannya pagi ini.

"Yang kurasakan ini … aku tidak tahu bagaimana menyebutnya. Benarkah ini hanya perasaan bersalah?"

Genggaman di ponselnya berubah remasan, seakan-akan mampu mengais kehangatan Naruto yang pernah singgah.

"Sejujurnya … jika kau izinkan, aku ingin terus berada di sisimu."

Langkahnya terhenti. Matanya terpejam, melupakan keberadaannya saat ini, mengabaikan tatapan para pejalan kaki yang hilir mudik di sekitarnya.

"Aku ingin tua bersamamu. Sampai mataku rabun, bahkan hingga tak mampu melihat lagi. Sampai kau terpaksa menyimpan sepatu-sepatumu yang runcing itu karena tak mampu untuk berjalan lagi. Jika hari itu benar-benar tiba, aku yang akan menjadi kakimu, dan kau yang akan menjadi mataku."

Mengapa Naruto tak pernah menyatakannya secara langsung kepadanya.

"Ya—terus bersama. Sekarang, nanti, sampai aku mati."

Mengapa Naruto justru menjanjikan perpisahan dengannya.

"Tapi tak mungkin lagi, ya?"

Ia menyeret langkahnya yang seolah bukan miliknya lagi, terbawa arus manusia yang berjejal dikejar waktu. Tatapannya kosong, jiwanya seakan melayang.

"Hinata … kau harus mengingat ini. Meskipun aku pergi jauh darimu, atau kau yang pergi dariku, aku ingin tetap menjadi rumah untukmu, tempatmu kembali dan membagi suka dukamu, tempatmu pulang di kala lelah. Aku selalu merindukan saat-saat kita berbalas mengatakan tadaima dan okaeri tanpa bosan."

Tanpa terasa ia telah sampai di seberang jalan yang akan membawanya jauh dan semakin jauh dengan rumah yang telah dilepasnya. Dipandanginya sepanjang jalan yang pasti akan sangat dirindukannya.

"Hinata … banyak wajah yang ku lihat setiap harinya, banyak karakter yang ku temui di luar sana. Di antara mereka semua, salahkah jika aku hanya menginginkanmu?"

Berhalusinasi kah Hinata kini. Mengapa sosok yang memenuhi benaknya tampak berlari ke arahnya. Disekanya air mata yang menggenang, menghapus buram di matanya. Dan sosok itu masih ada, berusaha mencari celah di antara lautan pejalan kaki.

Naruto menyusulnya.

Ia melangkahkan kakinya kembali. Tak membiarkan Naruto berjuang sendiri tanpa sambutannya. Dadanya membuncah bahagia, sampai tak menyadari lampu penyeberangan telah berubah merah.

Senyumnya mengembang bersama tangis mendengar bisikan terakhir di telinganya,

"Bolehkah aku meyakini bahwa aku benar mencintaimu…."

.

.

.

.

.


NARUTO milik Masashi Kishimoto, saya tidak mengambil keuntungan apapun dalam penulisan fanfiksi ini | AU | OoC?

A dan B terinspirasi dari goldar NaruHina :D
konsep awal menulis ini 'tidak ada yang benar-benar baik atau benar-benar buruk'
inspirasi dari Yunnie the Pooh (kalo beneran ngikutin berarti ada narushion narusaara dan narux lainnya wkwk saya gak sanggup) yang maunya naruto dan hinata di sini happy end setelah failed di sana, tapi gimana ya :'D

mainan pasir terinspirasi suatu scene, tapi tidak untuk kata-katanya, harusnya cocok buat mirai tuh (masa depan = mirai)

untuk ukuran sepatu balet hinata, anggap kakinya gak terlalu numbuh ya dari 11 tahun lalu (kira-kira dia smp)
sepatu saya pas jaman smp aja masih muat sekarang xD

daripada menelantarkannya, sebenarnya ini hanya short story, karena tidak bisa terlalu lama di sini
masih ada plot hole ya, tapi saya suka yang gantung-gantung, saya biarkan pembaca menebak sendiri *plok* itu pun kalo ada yang baca :"D

Terima kasih selalu untuk para pembaca, juga untuk yang sudi review, fav, atau follow, maaf tidak bisa menyebutkannya, tapi saya membaca semuanya dan sangat menghargainya, sampai jumpa -/\-