Eye-witness

Himkyu's Present

SVT Fiction_Mingyu x Wonwoo (Meanie)

Genre : Romance Hurt/Comfort

Disclaimer : SVT cast are owned by Pledis Entertaiment , this fic n plot by me (himkyu a.k.a Miyu)

.

.

.

.

.

Warning!

Typo(s), Yaoi

I have warned you. If you dont like it, dont continue. Thank you^^

.

.

.

.

.

.

.


Chapter 6

"Bolehkah aku menciummu?"

Kedua mata Wonwoo mengedip-ngedip. Dirinya tak paham dengan permintaan tiba-tiba yang Mingyu ujarkan. Wajahnya Mingyu saat ini serius, malu-malu, takut. Membuat Wonwoo tidak tahu harus merespon bagaimana.

"Ci—cium?"

Mingyu hanya terdiam tidak memberikan sama sekali petunjuk bagi Wonwoo yang kebingungan. Mungkin menyembunyikan hasrat yang mendorongnya begitu gila. Entah kontrol besar ini datang darimana, tapi ia ingin sekali mengunci bibir manis Wonwoo di bibirnya. Sama seperti yang manga ia baca terakhir ini.

"Mingyu?!"

Mata Mingyu terbelakak saat ia tersadar hadapannya suda terlalu dekat dengan wajah Wonwoo. Pemuda di depannya mencoba mundur dan mundur, tanpa menangkas perbuatan Mingyu.

"Apa yang ingin.." Wonwoo menahan pundak Mingyu. Tubuh pemuda itu terlalu dekat dengannya. Ia bingung. Otaknya penuh akan banyak pilihan. Meninju? Menampar? Menendang? Mendorong? Atau diam? Selagi memilah-milah, tangannya hanya sibuk menahan tubuh besar Mingyu agar masih memberi jarak.

Tak lama kemudian..

Tangan Mingyu melonggar di atas pundak Wonwoo. Laki-laki itu bergerak mundur. Membiarkan Wonwoo kembali leluasa dengan pendiriannya.

Namun, Wonwoo masih bingung. Ya. Dia mungkin pintar. Tapi, bersosialisasi dengan orang semacam Mingyu masih belum ia biasakan. Apa bergaul dengan anak semacam dia akan melakukan hal-hal demikian? Apakah itu normal? Selama 17 tahun dia belum pernah didekati orang-orang sejenis Mingyu. Itu saja.

"Ma—maafkan aku.. Aku hanya terbawa suasana." Mingyu mengusap tengkuknya. Tahu tidak gatal. Tapi ia sedang nerveous. Canggung. Wajahnya hampir tersipu mengingat kejadian berbahaya yang hampir ia lakukan.

"Itu hanya tanda bahwa aku sangat serius ingin berteman denganmu."

Mata Wonwoo berkedip cepat. Ekspresi nya polos seperti anak kecil di balik wajah sangarnya. Mingyu berusaha menahan diri untuk tidak segera memakan Wonwoo kembali. Kenapa rasanya penglihatan dan pikirannya menjurus hal-hal yang tidak semestinya?

"Oh begitu." Tatapan Wonwoo menghindar dari tatapan lurus Mingyu yang begitu tegas sekaligus indah. Ups..

Berusaha menahan gejolak hatinya. Ya. Ini pertama kalinya seseorang begitu serius ingin berteman dengannya.

Selama ini ia tidak mudah percaya untuk melakukan pertemanan kembali. Selanjutnya teman-temannya hanya akan memanfaatkan dan mencaci makinya.

Apakah Mingyu akan sama seperti mereka? Ia tidak tahu. Tapi, kita lihat saja nanti.

"Kalau begitu sebagai perayaan pertemanan kita, nanti malam kau datang lagi kan ke rumahku?!" Mingyu berucap begitu riang, sehingga membuat ketermenungan Wonwoo berhenti. "Kau tahu. Minji begitu merindukanmu."

"Rindu? Padaku?"

"Hei.. hei! Hanya sebagai 'kakak' , kau tahu! Jangan berharap dia rindu padamu karena niat lain. Aku tidak pernah mengijinkanmu berpacaran dengan adikku."

Wonwoo mendecih. "Siapa juga. Kenapa kau selalu berpikir tidak-tidak tentang kami?"

"Ya. Kan, aku cembu—" Mingyu mengatup mulutnya dengan segera. Hampir saja kata-kata itu keluar. Wonwoo yang menunggui dirinya meneruskan kalimatnya, jadi ikut penasaran. Kenapa?

"Hehehe.. Kutunggu saja nanti malam! Kau makan malam di rumahku saja , oke!"

Wonwoo tersenyum. Ia mengangguk paham.

Senyuman ke sekian, membuat hati Mingyu terpanah ke sekian kali juga. Dalam benaknya ia berteriak kepada hatinya, "Bisakah kau tahan sekali ini saja, Bodoh?!"

"WONWOO!" Tiba-tiba teriakan Mingyu membuat kehirauan Wonwoo lekas berubah jadi perhatian kepada sikap Mingyu yang begitu salah tingkah. "Bo—bolehkah aku memelukmu?"

Wonwoo terkejut dengan permintaan lainnya yang Mingyu inginkan. Anak itu begitu banyak keinginan rupanya. Wonwoo jadi keabisan akal.

"Boleh." Ucapnya datar.

Sekejap, tubuh tegap Wonwoo berada dalam rengkuhan Mingyu. Anak itu memeluknya begitu erat, seperti tak ingin dilepaskan. Mingyu ingin menumpahkan semua hasratnya yang tertunda, kepada pelukan sederhana ini.

Tidak sadar.

Bahwa orang lain merasakan ketidaknyamanan di dalam tubuhnya. Jantungnya mendadak berdetak lebih cepat. Kehangatan yang berbaur dan ketidakadanya jarak di antara mereka, membuat Wonwoo merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan.

Rasanya aneh, aneh, dan aneh. Ia tidak tahu harus ia sebut apa perasaan ini. Pipi Wonwoo terasa panas dan panas.

"Oke. Selesai." Mingyu melepas rengkuhannya dan bernafas lega. Hasratnya sudah cukup terbayar.

"Sampai ketemu lagi di rumahku, ok!?" Mingyu tepuk pundak Wonwoo sampai akhirnya dirinya tenggelam di balik pintu besi.

Wonwoo terdiam. Tak bisa bergerak kemana pun untuk sejenak.

Lepasnya pelukan itu, berangsur menumbuhkan rasa kekecewaan di hati kecil begitu singkat?

Ada apa ini?

.

.

.

.

.

.

[Flashback]

Wonwoo's POV

"HUAAAA"

Aku menangis sekejar-kejarnya saat darah keluar dari kulit yang terbuka. Ku habis terjatuh setelah sepedaku tidak dapat mengerem cepat, dan terlanjur terjungkal oleh batu di depanku. Rasanya sakit sekali seluruh badanku. Luka di tangan dan kakiku tidak membaik setelah kutekan lama. Bahkan luka di kakiku semakin membesar. Sangat mengerikan. Lihat darah, sangat menakutkan!

"Wonnie!" mataku yang basah melihat pada sesosok pria berlari mendekat. Itu ayahku! Dia sedari tadi memang menggunakan kaus bergambar ikan besar, sehingga aku langsung cepat mengenalnya.

Aku semakin menangis ketika ayah muncul. Karena aku ingin menunjukkan seberapa sakit luka ku ini, dan ayahku pun langsung menyadari. Ia sangat kelelahan, terbukti dari tarikan nafasnya yang begitu berat. Ia pasti habis lari begitu jauh.

"Jangan menangis, Puteraku." Ayah memelukku dengan erat.

"HUAAA" karena itulah kulangsung memeluk erat ayahku. Kubutuh penahan untuk rasa nyeri ini. Kutarik kuat-kuat baju ayahku , sebagai pelampiasan. Ayahku terus menepuk kepalaku, dan memintaku untuk tidak menangis.

Semakin lama tangisanku semakin mereda. Kehangatan yang disalurkan dari pelukan ayah membuatku bisa meredakan rasa sakit apapun yang kumiliki.

Aku bahagia karena ada ayahku. Ayahku sudah sebagai obat penyembuh dari sakit apapun. Aku bersyukur ayah masih menemaniku meski ibu udah gak ada.

Aku berharap aku masih bisa merasakan pelukannya sampai kubesar nanti. Karena tanpa ayah, siapa lagi yang memelukku. Gak ada pelukan terbaik dan sehangat punya ayah. Tidak ada pelukan yang akan membuatku begitu nyaman dan sayang untuk dilepas.

Tidak ada. Jadi, aku bahagia ayah ada untukku selamanya.

.

.

.

.

.

.

[End-Flashback]

Aku segera membuka mataku. Sedikit menguap karena tidur nyenyakku begitu membuai sekali. Kuperhatikan sekitarku, masih di tempat yang sama. Sebuah kelas dengan anak-anak membosankan memperhatikanku begitu lekat. Mereka menatapku begitu aneh. Ya, aku orang aneh.

Kusadari bahwa tanganku sudah basah oleh buliran air. Aku tidak tahu darimana tetesan air itu berasal. Namun, pipiku yang kusentuh juga ikut basah. Air mataku? Mengalir begitu saja selama aku tidur sedari tadi.

Semua orang tertegun melihatku menunggu respon. Aku juga tidak tahu harus bagaimana, aku bahkan tidak mengerti kenapa tetesan air mataku jatuh sendiri.

Aku muak dengan berbagai bidikan ke arahku, sehingga aku segera melarikan diri. Merapikan peralatan secepatnya, dan memasukkan asal ke dalam tas hingga timbul suara mengacak cukup nyaring. Lalu menapak cepat keluar kelas.

Kepalaku mendadak pusing karena kenangan jaman dahulu datang kembali ke mimpiku. Aku seharusnya tahu bahwa tidur di kelas bukan pilihan terbaik dalam mengusir bosan. Timbul pemikiran sudah orang-orang bahwa aku ini seorang yang cengeng dengan mimpi tak wajar.

Bagaimana, ya? Mungkin inilah efek kerinduan pada Ayah. Mimpiku memutar pada kejadian di waktu kecil terus menerus. Kejadian yang selalu ada ayah hadir di dalamnya. Tidak ada mimpi buruk lainnya, misalkan aku yang dipukul hingga tulang dadaku patah oleh anak-anak sekolah Gangnam, atau pengusiran ke sekian kali dari semua tempat kerja part-time ku.

Aku melenguh nafasku dengan setengah lega setelah langkahku sudah tidak menapak di lingkungan sekolah. Kulihat jam tangan, sudah menunjukkan dekat angka jam 5 sore.

"Masih ada waktu untuk ke Bank!" ungkapku setelah teringat bahwa sedari kemarin, check dari Mingyu belum kucairkan. Aku segera berlari cepat. Jarak yang terlampau jauh tidak menjadi masalah lagi, karena hanya fokus pada 1 tujuan saja.

Baru beberapa meter , hingga sampai di lampu merah. Aku berusaha secepat mungkin melewati jalan penyeberangan.

"TINNNNN!"

Aku langsung terjatuh kaget.

Bokongku mencium tanah begitu keras. Sangat sakit.

Mobil di hadapanku, bumper nya tinggal beberapa cm menyentuh tubuhku. Apa yang akan terjadi jika pengendara sialan ini tidak mengerem cepat? Tubuhku akan ditemukan sudah hancur.

"APA-APAAN INI! Kau tidak punya mata, hah?!"

Sudah kuduga. Pengendara menyebalkan yang hanya menggunakan otot dan nada keras agar menunjukkan kehebatannya dan menutupi ketidakbersalahannya. Muak sekali menemukan spesies sejenis ini.

Aku tidak menggubris. Lebih tepatnya, tidak punya waktu. Setelah membangunkan diri sendiri, aku siap kembali melaju cepat menuju lokasi tujuan tanpa membalas dengan kata-kata.

Sampai akhirnya, tanganku malah di tarik keras olehnya. Apa lagi maunya?!

"Apa-apaan kau! Kau membuat saya dan bos saya hampir saja celaka, dan kau pergi bergitu saja?! Kurang ajar sekali!" ia mencengkeram kerah seragamku.

Pria ini berbadan cukup bongsor, dan lebih tinggi 10 cm dariku. Tatapannya tajam dan dingin. Bahkan kulihat ada luka di ujung kiri bibirnya. Baru kusadari, betapa memuakkannya pria ini jika dilihat lebih dekat. Aku ingin membuang air ludahku, dan masalah kelar.

"Hei, lepaskan anak itu."

Kulihat, wajah pria yang cukup berumur, muncul dari balik jendela mobil. Jadi itu bossnya? Kukira tertukar.

"Dia hanya murid SMA, dan lihat. Kau bisa membuat macet jalan. Cepat lepaskan."

Tanpa debat sekalipun, pria sok menakutkan ini pada akhirnya bisa melepaskanku. Begitu patuh seperti anjing kecil. Dasar pengecut.

"Terima kasih." Ucapku sembari membungkuk pada pria di dalam mobil itu. Ia hanya membalas dengan anggukan yang terlihat angkuh layaknya pemimpin besar pada umumnya.

Kulirik sinis pada pria tadi , ia pun membalasku juga sebaliknya seperti itu. Seperti mengikatkan tali permusuhan. Untung saja setelah ini kami tidak bertemu lagi.

Ku langsung melarikan diri. Sudah tidak tahu lagi jam berapa sekarang, atau tahu apa pelayanan sudah ditutup atau tidak.

.

.

.

.

.

.

Kudapati dari penjaga keamanan di Bank yang mengatakan bahwa pelayanan sudah ditutup dari 5 menit yang lalu. DAMN! Telat 5 menit saja?!

Aku jatuh terduduk di atas trotoar dengan begitu gusar dan kesal. Kekesalan yang begitu membuih ini, membuatku ingin menendang tulang kering pria tadi yang mencari masalah denganku.

Sudah 2x aku mencoba mencairkan check Mingyu ini. Takut-takut penagih datang kembali ke panti asuhan. Seandainya setengah uang sudah masuk ke kantong orang itu, mungkin bisa menutup mulutnya untuk beberapa minggu ke depan.

"ARGHH SIAL!"

Kefrustasian ini tidak berlangsung lama setelah aku bangkit kembali dan menemukan sesuatu terduduki. Selembar kertas. Dengan isi yang mengundangku segera ke alamat yang tertera.

"Dicari pelayan bar..."

.

.

.

.

.

Author's POV

Minji berjalan bolak-balik dari setengah jam lalu. Sepulang sekolah, ada hal yang begitu meresahkan dia sedari tadi. Ia menunggui orang yang meresahkannya itu. Yang belum pulang juga. Hingga membuatnya menggigit jari dengan tidak sabar.

"Aku pulang."

Mendengar suara sang Kakak sampai ke telinganya. Ia lekas berlari menuju pintu masuk. Dilihatnya sang kakak sibuk melepas sepatunya.

"KAK MINGYU!"

Mingyu mendongak , dan memperhatikan gadis muda itu berkerut alis padanya. "Tumben sekali kau menyambutku. Panggil dengan formal, pula."

"Aku tidak menyambutmu. Aku ingin manga ku kembali."

Mingyu rada kecewa. "Dasar, Bocah aneh." Mingyu yang tak ingin adik kecilnya menangis tidak berguna, ia segera melemparkan buku tersebut ke arah Minji. Gadis itu tampak riang.

"Lalu, Wonwoo oppa?"

Mingyu langsung membidik cepat Minji dengan tatap awasnya. "Kau mau aku kembalikan 'Wonwoo'? Aku tidak pernah bilang meminjamnya darimu."

Minji memutar bola matanya. Ketololan kakaknya ini kadangkala membuat dirinya agak emosi. "Maksudku, kau mengajaknya lagi ke rumah, kan?"

"Hei hei. Kalau iya, kenapa? Aku tidak mau kau ambil kesempatan untuk nempel-nempel sama dia, ya." Mingyu memperingatkan. Ia berjalan menjauh dari Minji , dan meneruskan kegiatan rapih-rapih sepulang sekolah.

"Syukurlah." Gadis itu menepuk dada dengan lega. "Aku tidak pernah punya niat merebut Wonwoo oppa darimu kok, tenang aja."

Mingyu yang mendengar timpalan Minji, langsung melihat gadis itu tidak percaya.

"Lagipula aku punya standart terlalu tinggi untuk seorang laki-laki. Dan tentu saja, salah satu syaratnya, 'yang tidak dipunyai Kim Mingyu'."

"Maksudmu?"

"Maksudku, kalau cowoknya pacar Kak Mingyu, aku gak bakal suka, gitu." Gadis itu dengan tingkah tak bersalah, berlalu begitu saja. Melompat girang sambil memeluk buku yang sudah kembali ke tangan. Menghiraukan sang Kakak memelototinya hingga tubuhnya tak terlihat lagi.

Mingyu menggeleng kepalanya. Mencoba membersihkan bayangan-bayangan yang timbul akibat pernyataan tidak wajar oleh adiknya.

Ia sebenarnya merasa lega bahwa adiknya selama ini tidak punya perasaan apa-apa dengan Wonwoo. Namun di sisi lain, ia merasa aneh bahwa dirinya dikatakan 'pemilik Wonwoo'. Seolah Wonwoo adalah miliknya yang begitu berharga.

Kepala Mingyu mencium papan pintu. Dirinya mendesah putus asa.

'Ciumannya saja aku belum dapat.'

.

.

.

.

.

.

.

Wonwoo's POV

Sebuah gedung yang sederhana, dengan dinding bata yang tidak di cat. Pintu alumunium yang terbuka lebar, dan sebuah papan dengan tulisan seadanya. Cukup menunjukkan bahwa di dalam gedung ini, ada sebuah pesta pora meriah dengan suasana klub malam kota.

Aku mengecek jam tangan. Sudah hampir malam.

Suasana dentuman musik sudah asik terdengar di telinga. Tapi air ludahku meneguk dengan payah. Aku merasa ketakutan dengan penampilan di luarnya, bagaimana jika di dalam. Orang dewasa mabuk, wanita setengah telanjang menari ria, dan bau rokok menganggu penciuman.

Tapi aku bersih keras. Sudah tekad kuat mencapai kemari, namun aku harus melarikan diri karena nyali yang menciut? Tidak. Aku harus melakukannya. Ini masih dalam angka peruntungan. Bisa jadi, aku pun juga tidak diterima seperti lokasi kerja sebelumnya.

Aku pun mencoba masuk.

Tapi kehadiranku sangat dicegah oleh dua orang bertubuh gempal yang sedari tadi menjagai pintu masuk. Aku benci orang-orang bertubuh besar untuk hari ini.

"Mau apa kau? Kau tidak diijinkan masuk. Anak sekolah tidak diperbolehkan masuk."

Sial. Mereka sangat mengikuti aturan untuk tidak mengijinkan siswa dengan seragam lengkap masuk ke wilayah berbahaya.

"Sa—saya ingin melamar pekerjaan." Kuulurkan sebuah kertas.

"Hmm.. Bukan berarti anak sekolahan sepertimu bisa bekerja disini. Cari kerja di tempat lain."

Huh? Aku mau saja. Namun tempat ini memiliki gaji yang lebih meyakinkan.

"Maaf, bisa beri saya kesempatan untuk menemui pemilik bar nya?" aku berusaha memohon.

"Tidak, tetap tidak. Pergilah." Ia terus menerus mencegat, membuatku habis kesabaran.

Aku berusaha menerobos masuk ketika dua pria itu menahanku. Tangan mereka sangat kuat membuat tubuhku hampir saja diangkatnya keluar. Aku berteriak sekuat tenaga, meminta tolong. Sengaja membuat-buat kegaduhan agar penghuni klub ada yang mengiba padaku.

"Hentikan."

Tak lama kemudian seorang pria keluar.

Berontakku berhenti. Beberapa menit mematung karena kulihat pria yang baru beberapa jam ini kutemui, malah dipertemukan kembali. Pria itu masih sama seperti yang di dalam mobil. Pria itu juga masih sama menggunakan setelan coat merah tua yang mahal, dan sebuah tongkat antik untuk menumpu tubuhnya yang sudah agak renta.

"Kau lagi rupanya."

Aku berusaha melepas dari sergapan dua pria tadi. Lalu membungkuk hormat kepada pria itu. Aku begitu menghormatinya karena pria ini sudah menolongku sebelumnya.

"Biarkan dia masuk."

Ekspresiku mungkin sudah berseri-seri, menatap kesungguhan pria itu mengintruksiku untuk ikut masuk. Aku pun memasuki tempat itu dengan sangat percaya diri.

.

.

.

.

.

"Hei, kenapa ada anak sekolahan kemari?"

Sayup-sayup kudengar orang-orang membicarakan hal yang sama. Aku segera menutupi dengan erat lambang sekolah di kantung kemejaku, dengan jaket sekolah yang sedari tadi hanya melingkar di pinggang.

Aku merasa canggung dengan situasi yang mendadak seperti ini. Belum pernah aku masuk ke dalam klub malam, belum pernah aku masuk ke tempat sarat orang kriminal dan sumber kesenangan orang-orang tak berguna ini. Tapi aku pun hanya terpaksa, dan setelah mendapatkan jawaban dari si pemilik bar, aku akan segera melarikan diri.

"Hei kau yang disana."

Seorang pria tiba-tiba menghampiriku. Dari penampilannya, menggunakan baju khas bartender, kurasa ia bekerja di belakang bar. Wajahnya menunjukkan bahwa dirinya sekitaran umur 40 tahunan.

"Kenapa kau bisa masuk kemari? Anak sekolahan tidak diijinkan masuk."

Bibirku tertutup rapat. Tidak tahu harus merespon apa.

"Ia kusuruh masuk." Ucap pria di sampingku datar. Lagak pria di hadapanku menjadi salah tingkah mendapati siapa yang mendapingiku. Ia membungkuk hormat, entah pada siapa. Mungkin pada kami berdua? Yang pasti, aku tidak tahu bahwa pria di sampingku ini begitu di tetuahkan.

"Kudengar kau ingin mencari pekerjaan?"

Aku mengangguk , membenarkan ucapan pria tua ini.

"Kau ingin bekerja di bar?"

Lagi-lagi aku harus membenarkan tebakan pria tua ini.

"Ijinkan dia bekerja di tempatmu, Sung."

Pria dengan penampilan bartender tadi langsung terperanjat. Dirinya sudah siap siaga menolakku, tapi perintah pria tua ini mengunci nyalinya.

"Ta—tapi, dia masih sekolah."

"Dia tidak bekerja dengan seragamnya , kan? Tidak ada yang tau." Pria tua ini senang sekali merespon jawaban tanpa ekspresi. Dingin sikapnya , membuat pria di hadapanku yang membeku diam.

"Eum. Kapan kau bisa mulai bekerja?"

Hatiku membucah. Girang rasanya dipertanyakan begitu. "Be—besok pun aku sudah bisa mulai!" tak butuh waktu lama ku enteng menjawab.

"Baiklah, kau diterima."

"YESSS!" tubuhku melompat-lompat kegirangan hingga beberapa pasang mata memperhatikanku. Dasar bocah, mungkin tanggapan yang mereka berikan. Aku tidak menggubris, dan masih terlena dengan kebahagiaan.

"Terima kasih banyak, Tuan! Terima kasih banyak." Kutunduk kepada pria tua itu berkali-kali. Beliau tidak merespon banyak, hanya anggukan yang sama. Ia kemudian berlalu pergi, hingga tak dapat kulihat orang itu lagi sudah tenggelam di balik keramaian.

"Si—siapa dia?" rasa penasaran ini membuatku mempertanyakannya kepada si pemilik bar. Pria ini lebih muda dari pria tadi, tapi lebih arogan. Aku tak suka responnya , mengamatiku dengan tatapan tak suka. "Beliau adalah pemilik klub ini."

Aku mengangguk paham. Dengan umur setua itu, masih saja sanggup mengawasi klub malam yang diisi anak muda dan musik-musik keras ini.

"Tugasmu di belakang bar. Menyediakan beberapa minuman. Aku tidak menyuruhmu menyediakan minuman keras. Kau hanya bertugas membersihkan dan menyediakan minuman ringan jika pemesan menginginkannya. Aku tak mau bar ku dianggap kriminal, telah mempekerjakan anak di bawah umur. Datang juga jam 7 malam, pulang jam 9 untukmu. Paham?"

Aku hanya mendecih. Kenapa semua orang menganggapku anak kecil padahal sebentar lagi umurku sudah 18 tahun?

"Baiklah." Ucapku mengalah.

Setelah percakapan yang tidak disambut baik serta dikenalkan dengan beberapa sunbae, aku berlalu pergi. Musik pengang ini membuat gendang telingaku agak sakit.

Kulihat sisi lain dari luar klub malam. Bulan sudah menunjukkan wujudnya. Aku tak sadar, sudah menghabiskan sekitaran 1 jam untuk meraih pekerjaan itu.

Aku mendesah lemah. Menyalurkan rasa lelah dan keluhku.

Kulihat kembali secarik kertas yang sudah menghuni lama di tasku. Check yang diberikan Mingyu tertulis beberapa angka.

"Aku butuh uang lebih banyak lagi untuk bisa melunasi hutang-hutang panti. Aku bisa menolong mereka."

Setelah merenungi beberapa saat, aku segera berlari menuju tujuan selanjutnya.

Rumah Mingyu.

.

.

.

.

.

.

Author's POV

Mingyu sedari tadi berganti posisi dari 2 jam yang lalu di kamarnya. Kalau tidak membaca komiknya, melihat ke jendela, bertelentang tidur, membuka random komputernya, kembali membaca komik lagi. Kegiatan tersebut menjadi siklus selama 2 jam hanya untuk menunggui kehadiran Wonwoo yang belum juga menampakkan diri.

Resah? Iya.

Khawatir? Iya.

Rindu? Eum..

Hatinya membuncah. Ia dengan frustasi melempar komiknya ke atas ranjang, dan memutar diri di kursi belajarnya. Putaran tubuhnya agak membuat kepalanya pusing, tak apa, demi menjernihkan pikirannya kembali.

Ting Tong

Dengan lekas tubuh Mingyu melesat dari kursinya, berlari keluar dari kamar, hingga hampir menabrak tembok. Jalannya dipelankan setelah sampai di depan pintu masuk. Berhenti sejenak, dan merapikan beberapa cabang rambutnya agar tampak rapih. Bau badannya? Tidak buruk.

Cklek

"Lama sekali bukanya."

Ekspresi kesal yang pertama kali menyambut Mingyu. Entah kenapa membuat dada anak itu berdentum cukup keras. Oh, dia ingin memukuli dadanya agar tetap tenang. Bukan waktu yang tepat berlagak khas fanboy begini.

"Oh, hai, Wonwoo! Maaf aku tadi terlalu menikmati acara televisi." Bebernya berbohong. Ia tidak mungkin mengujar bahwa dirinya sempat-sempatnya merapikan cabang rambut hanya untuk tampil lebih menarik di depan Wonwoo.

"Oh." Wonwoo tak tertarik merespon banyak. Ia masuk setelah diijinkan, dan berjalan mendekat ke ruang santai , tentu saja dengan perhatiannya ke seluruh penjuru area rumah Mingyu. Rumah ini selalu terlihat sepi setiap malam. Kemana semua penghuni, selain Mingyu?

"Orang tuamu kemana?" tanya Wonwoo.

"Mereka berdua selalu datang larut malam." Mingyu segera melempar diri di bangku meja makan, memperhatikan Wonwoo tengah menduduki diri di sofa tv. Meja makan dan ruang santai berhadapan. "Makanya kau hanya bisa temui mereka saat pagi hari, kan?"

"Kapan kau punya waktu luang bersama keluargamu? Orang tuamu sibuk sekali." Tanya Wonwoo penasaran sambil membuka isi tasnya. Tampaknya , ia merencanakan kegiatan belajar bersama di ruang tv saja.

"Sabtu, Minggu, dan tanggal merah. Kami selalu berencana melakukan perjalanan bersama-sama. Jika libur panjang, kami akan ke kampung halaman di Gyeonggi." Mingyu memperjelas semuanya. "Ibuku lebih suka berjalan-jalan di sekitar Seoul. Tapi ayahku yang asal dari Gyeonggi, agak punya homesick, jadi kami sering mengalah demi ayahku. Hahaha. Kalau kau perhatikan beliau agak tegas dan pendiam, sebenarnya dia pemalu dan menyebalkan."

Wonwoo yang mendengar fakta menarik Mingyu, membuatnya tersenyum hambar. "Keluargamu begitu bahagia. Ayahmu penuh dengan kenangan indah."

Mingyu perhatikan lagak Wonwoo begitu mendengar semua ceritanya. Serasa, ada yang begitu salah hingga membuat pemuda itu terlihat murung. Ia harus tahu bahwa Wonwoo selama ini sendiri, tidak seperti Mingyu yang masih punya keluarga lengkap.

"Eum. Kau ingin makan malam dulu, kan?" Mingyu segera mengganti topik. Mencairkan kecanggungan di antara mereka. "Aku akan buatkan sesuatu, sebentar."

Wonwoo agak terkejut. "Kau bisa masak?"

Mingyu mengedip sebelah matanya dengan sangat percaya diri. "Pemasak terbaik di keluarga ini."

Mingyu yang sudah berlalu ke dapur ,untuk menyiapkan hidangan terbaik. Membuat Wonwoo menunggu dalam keheningan. Ia tidak suka membosankan diri.

Baru saja mengeluh akan waktu yang terasa begitu panjang, datang Minji yang baru keluar dari kamarnya. Begitu girangnya Minji mendapati Wonwoo sudah berada di ruang tengah.

"Oppa!" Minji melompat ke Wonwoo, dengan kerinduan yang begitu besar. Memeluk erat Wonwoo, hingga hampir menjatuhkan tubuh Wonwoo ke atas lantai. Gadis ini punya kekuatan yang besar sama seperti kakaknya. Wonwoo memberikan tepukan menenangkan ke punggung gadis itu, selayaknya adik nya sendiri.

"Kak Mingyu, mana?" Minji bingung dengan ketidakhadirannya kakaknya yang begitu nempel jika ada Wonwoo.

"Oh, dia sedang masak."

"Hmm.. dasar suami andalan." Wonwoo hanya terkekeh mendengar sebutan tersebut. "Benar bukan , Oppa? Kau suka tipe suami andalan? Bisa masak, bisa melayani, terus patuh.."

Wonwoo perhatikan Minji dengan tatapan bingung sekaligus terkaget. Pipinya agak memerah. Kenapa Minji mengatakan semua hal itu padanya?

"Woah Oppa? Oppa mukanya merah gitu."

"Bu—bukan.." Wonwoo tidak bisa berkata-kata. Jujur, ia masih agak salah tingkah setelah kejadian pelukan di atap sekolah waktu itu.

Apa tidak sekalian saja ia mempertanyakan segala tingkahnya ini pada Minji? Mungkin anak ini lebih paham.

"Minji.. Apa maksud dari perasaan tidak nyaman saat dipeluk ?"

"Hmm?" Minji tidak mengerti. Ekspresinya bertanya-tanya. "Kau merasa tidak nyaman?"

"Ya. Misalkan jantungmu berdegup lebih kencang ketika dipeluk oleh temanmu sendiri. Bukankah itu aneh?"

"Tunggu, tunggu. Oppa membicarakan dirimu sendiri? Emangnya oppa dipeluk siapa?" Minji terdengar begitu penasaran. Ia tidak percaya anak yang punya penampilan preman ini bisa juga menarik seseorang untuk memeluknya. Siapa? Perempuan? Ia tidak rela Wonwoo direbut dari tangan kakaknya.

"Eum." Wonwoo menggaruk kepalanya dengan ragu-ragu. "Kakakmu.."

Minji langsung menjatuhkan rahangnya.

.

.

.

.

.

.

Keadaan begitu hening selama mereka makan-makan. Mingyu perhatikan lagak Wonwoo yang tidak juga mengangkat kepalanya selama makan. Padahal cuman ada Mingyu di hadapannya. Kenapa harus takut-takut menatap ke arahnya? Apa melihatnya akan membuat mood makannya berkurang?

Melihat sikap Wonwoo yang agak janggal, Mingyu beralih kepada Minji. Yang begitu tenang, dan agak tersenyum-senyum sendiri memakan makanannya.

"Kau sendiri kenapa senyum-senyum sendiri?" Mingyu membidik curiga pada segala tingkah adiknya. Kalau sudah ada Wonwoo, ada saja yang dilakukan gadis itu yang bikin bulu kuduk agak merinding.

"Oh gapapa. Aku terlalu khitmat sama makanan Kak Mingyu yang enak sekali. Benar bukan, Oppa?"

Wonwoo yang terdiam segera perhatikan Minji. Ia dengan takut-takut mengangguk. Lalu kembali menyendok makanannya.

Ok, Mingyu agak frustasi dengan keterdiaman Wonwoo. Baru beberapa jam lalu ia begitu aktif , sekarang menjadi pasif setelah bertemu Minji. Jangan-jangan, Minji melakukan hal-hal aneh lagi.

Setelah makan malam selesai. Piring-piring kotor berkeliaran di meja makan. Wonwoo mencoba membantu untuk merapikan.

"Wonwoo, kau tidak perlu merapikan. Kau bisa langsung ke kamar, tunggui aku saja. Biar aku yang selesaikan semua ini bersama Minji."

Kamar?

Wonwoo tiba-tiba menggeleng tidak mau. "A—aku di ruang tv saja."

"Kenapa? Toh, di kamar lebih nyaman. Kalau kau ketiduran, silahkan pake ranjangku saja. Nanti kubangunkan. Kau pasti capek." Mingyu memberikan penawaran semenarik mungkin. Mencoba menganjurkan Wonwoo, yang sedari tadi hanya menolak apapun.

Minji tersenyum sendiri melihat tingkah Wonwoo yang terlihat sensitif. Apakah jampinya beberapa waktu lalu buat Wonwoo jadi lebih sadar dengan setiap perhatian Mingyu bahwa itu bukan sekedar perhatian sebagai teman? Kenapa ia begitu senang telah berhasil menggodai Wonwoo.

"Kak Mingyu mending temenin Wonwoo oppa. Kayaknya dia gak berani masuk ke kamar Kak Mingyu, karena tidak sopan. Biar Minji yang beresin semuanya."

"Ooh, begitu, ya?" Mingyu meletakkan kembali piring-piring kotor. Masih belum sadar dengan situasi yang ada. "Kau bersihkan semuanya, awas kalau ganggu aku sama Wonwoo."

Minji hanya terkekeh. "Tidak akan pernah. Toh, privasi kalian paling aku utamakan disini." Minji segera berlalu dan membiarkan kepolosan kakaknya begitu saja.

Sementara itu Wonwoo yang sedang merapikan alat tulisnya di ruang tv, disadari dengan teguran Mingyu kepadanya. "Kita ke kamar, yuk."

Wonwoo menggeleng lagi tidak mau. "Di—disini saja."

"Disini panas. Kita lebih nyaman di dalam kamar. Kau akan bermalam lagi, kan?"

"Se—sebaiknya tidak. Aku harus pulang."

"Hah? Kok jadi pulang. Ini sudah larut."

Wonwoo mencoba mencari alasan untuk melarikan diri dari cegatan Mingyu berkali-kali. "Kita lanjutkan besok saja, tidak apa? Aku sedang tidak enak badan."

Mendengar pernyataan begitu Mingyu menjadi sangat khawatir. Ia duduk begitu dekat pada Wonwoo hingga dirinya pun tidak mampu menghindar lagi. Gerakannya terkunci, sementara tubuh Mingyu semakin maju mendekat padanya.

"Benarkah?" Mingyu tiba-tiba menempelkan dahinya ke dahi Wonwoo. "Kurasa tidak panas. Kau sakit dimananya?"

Wonwoo kembali merasakan hal yang tidak enak. Sama seperti kejadian siang lalu. Dadanya bergetar hebat. Kenapa semua tingkah Mingyu begitu tidak wajar kepadanya? Perasaan macam apa ini?

Minji pasti salah. Tidak mungkin Mingyu..

"KENAPA KAU TERUS MENYUSAHKANKU?!"

Mingyu terkejut dengan bentakan Wonwoo dan dorongan kepada tubuhnya hingga ia kembali terpental menjauh. Apa salahnya?

"Wonwoo, kau kenapa?"

Wonwoo tidak tahu juga. Pikirannya membludak kemana-mana. Kesalahtingkahannya , ketidaknyamanannya, semua keanehan ini membuat dia pusing kepala. Dia butuh waktu sendiri.

"Aku ada keperluan malam ini."

Mingyu melihat lagak Wonwoo yang berusaha menghindarinya. Ia tidak tahu apa yang menjadi kesalahannya.

"Aku antar sampai rumah, ya. Kumohon."

Wonwoo tidak lagi bisa menepik untuk permintaan Mingyu kali ini. Tidak merasa enak sudah membentak Mingyu untuk sesuatu yang tidak menjadi kesalahannya.

"Baiklah. Tapi ada tempat yang ingin kukunjungi, aku akan bermalam disana."

Mingyu mendesah kecewa mendengar bahwa Wonwoo tak ingin bermalam di tempatnya. Tapi ya sudahlah. Ia tak mau memperpanjang masalah. Mingyu tahu Wonwoo sedang terusik akan suatu hal yang selalu disembunyikannya. Mingyu harus cari tahu sendiri.

Sementara itu, Minji yang baru selesai beres-beres piring, melihat keduanya akan berlalu dari rumah.

"Loh, kalian mau kemana?"

Wonwoo tersenyum, mencoba menanggapi pertanyaan Minji dengan tenang. "aku harus segera pulang. Ada keperluan malam ini."

"Oppa, tidak terlalu cepat, kah?" Minji merangkul tangan Wonwoo. Seolah sulit melepas Wonwoo pergi lagi.

"Besok aku akan datang lagi, tenang saja."

Setelah memberikan salam berupa asakan di puncak kepala gadis itu, Wonwoo pun berlalu.

Sementara Mingyu memberikan tatapan tajam pada adiknya sebelum ia berlalu pergi. "Habis ini, beri penjelasan padaku."

Melihat sikap kakaknya yang kelihatan agak marah, membuat Minji menggaruk kepalanya dengan bingung. "Penjelasan apa?"

.

.

.

.

.

.

.

Sepeda motor Mingyu berhenti di depan sebuah gedung lusuh. Mingyu amati begitu lama gedung itu, menelusuri setiap area dengan mata tajamnya. Tidak seperti panti-panti modern, tempat ini seperti sudah dibangun cukup lama. Terlihat begitu tua.

Wonwoo kenapa mengajaknya kemari?

"Panti asuhan?"

"Ya. Aku dirawat disini sejak kecil."

Wonwoo bisa melihat tanda tanya besar tergambar di ekspresi wajah Mingyu. Ia sudah tebak, pastilah akan banyak rasa penasaran diukir Mingyu dalam pikirannya.

"Uang yang kau berikan padaku, hanya untuk panti ini." Wonwoo mengamati gedung lusuh itu dengan sedih. Betapa tak teganya jika melihat gedung yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama ini, akan rata oleh tanah.

"Semua anak yang menghuni panti ini, adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki."

Mingyu terdiam seribu bahasa. Membiarkan Wonwoo melanjutkan segala penjelasannya. Ia ingin tahu lebih banyak keterbukaan Wonwoo padanya.

"Aku akan berusaha melakukan segala cara demi menyelamatkan panti ini."

Mendengar hal itu, hati kecil Mingyu sedikit terusik. Malam itu, dengan nada lembutnya ia pun berucap, "Aku bisa membantumu."

Wonwoo memperhatikan Mingyu. Nada bicara Mingyu, terdengar serius.

"Apa yang bisa kubantu untuk menyelamatkan panti ini. Kau tinggal bilang." Ucap Mingyu kembali memperjelas ungkapannya.

Namun, Wonwoo terlihat tidak menyukainya.

"Mingyu, bisakah kau berhenti melakukan apapun untukku. Yang bahkan yang kulakukan untukmu itu hanya seujung biji jagung. Sedangkan bantuanmu terlalu besar. Dan sekarang, kau mau menolongku lagi?"

Mingyu kembali terdiam.

"Aku tidak suka dikasihani. Semua orang yang pernah mengasihaniku, pada akhirnya hanya akan menginjak harga diriku. Itu juga yang terjadi pada ayahku!" Wonwoo menegaskan diri. Membuat Mingyu bersusah payah untuk menenangkan Wonwoo yang cukup marah padanya.

"Wonwoo, aku melakukannya bukan karena mengasihani. Aku hanya melakukannya sebagai tanda—"

"Aku tahu kau punya segalanya. Kau punya keluarga yang mencintaimu. Kau punya uang banyak. Kau punya teman banyak. Kau tidak usah susah payah menghadapi kebencian orang-orang. Kau tidak akan mendapat tatapan ngeri dari semua masyarakat. Mendapat penilaian buruk. Kau tidak merasakannya jadi aku, Mingyu! Kau bisa bebas begitu saja memperdayaku? Setelah itu kau akan menertawakanku!"

Mingyu mencegat dua tangan Wonwoo. "Wonwoo! Kau mengatakan ini, karena trauma mu, kan!?"

"Hah!? AKU TIDAK PUNYA TRAUMA! Hentikan omong kosongmu, br*ngsk!" Wonwoo mencoba melepaskan diri. Ia terus menerus memberontak, hingga kekuatannya sendiri hampir saja habis.

Mingyu agak kerepotan menghadapai keliaran Wonwoo. Apalagi tindakannya bisa membangunkan kesadaran masyarakat di waktu tidur saat ini.

Mingyu menarik nafas panjang untuk berpikir. Ia tidak punya pilihan lain.

*Kiss*

Bibir Mingyu tiba-tiba melekat di bibir Wonwoo.

Sentuhan begitu hangat itu, berbaur dengan nafas di antara keduanya. Dingin malam itu, jadi kurang terasa. Konsen Wonwoo kepada sentuhan yang diberikan Mingyu, dan Mingyu konsen pada bagaimana respon Wonwoo setelah ini.

Tubuh Wonwoo tiba-tiba berhenti memberontak. Seiring waktu, tubuhnya lemah, seakan sentuhan di bibir itu, melumat semua kekuatannya.

Mingyu melepas ciuman itu pelan-pelan. Ini benar-benar pikiran gila, memang. Ia terlalu mengikuti anjuran dari sebuah buku yang dibacanya. Namun, ternyata ampuh. Wonwoo lebih tenang dan jinak dari sikapnya yang begitu liar beberapa waktu lalu.

"Ma—maaf." Mingyu sudah harus meminta maaf atas sikap kurang ajarnya. Ia benar-benar tidak punya pilihan lain.

Wonwoo dan Mingyu saling bertukar tatapan.

Tak lama kemudian, Wonwoo mengambil tasnya, dan beranjak pergi. Meninggalkan Mingyu yang diliputi begitu banyak penyesalan, dan juga setumpuk penjelasan yang ingin ia ungkapkan dari pikirannya. Tapi, Mingyu tidak mampu menahan Wonwoo lagi jika ia tidak mau meneruskan percakapan di antara mereka.

Baru beberapa saat, langkah Wonwoo berhenti. Tubuhnya tegar tidak mau berbalik arah, sekedar membalas pandangan Mingyu. Mingyu bisa mendengar tarikan nafas lemah dari Wonwoo yang sedang memunggunginya. Apakah Wonwoo mau mengucapkan 'sampai jumpa'?

Semoga..

"Jika, panti ini tidak bisa tertolong. Kumohon, enyahlah dari kehidupanku.."

Tubuh Wonwoo melaju ke dalam panti tanpa ucapan salam apapun.

Tubuh Mingyu pun hanya mematung diterjang angin malam.

.

.

.

.

.

.

.

[Flashback]

Air mata Wonwoo hampir saja berjatuhan. Tongkat pemukul di tangannya dipegang kuat, bergetar hebat dalam genggamannya.

Ia begitu takut, sangat takut.

Apa yang harus ia lakukan?

"Wonwoo, berikan tongkat itu pada Ayah!"

Wonwoo yang otaknya berputar kemana-mana , hanya mengikuti arahan ayahnya. Tubuhnya masih bergetar ketakutan. Diserahkan tongkat yang sudah terkena cipratan darah itu ke genggaman ayahnya.

Ayahnya segera menarik tubuh kecil dan rapuh Wonwoo ke dalam rangkulannya. Pelukan yang begitu kuat untuk menenangkan keresahan pada puteranya.

"Ayah, aku takut." Isak tangis anak itu melukai hati Ayahnya sedikit demi sedikit. Sangat sedih mendengar anak sematawayangnya harus ikut terlibat akan kejadian seperti ini

Ayah Wonwoo memandang nanar ke sekelilingnya. Juga pada tongkat yang sudah ada di genggamannya. Tidak ia percaya, puteranya bisa melakukan hal yang kelewat berbahaya. Tapi bisa menyelamatkan nyawanya.

"Ayah.. aku takut. Ada darah."

Wonwoo mengusap darah di pipi ayahnya. Ayahnya tahu, anak kecil ini cukup takut dengan darah.

Beliau ingin mengubah pemikiran puteranya tersebut.

"Wonnie~ Darah itu tidak perlu kau takutkan. Jika memang darah ini menjadi tanda bahwa kau membela dirimu, dan menyelamatkan harga dirimu, darah ini tidak perlu kau takutkan. Darah ini tanda kekuatanmu. Kau ini laki-laki, Wonwoo. Jangan tunjukkan kau lemah. Ayah bangga padamu."

"Benarkah? Darah itu tidak menakutkan?"

"Ya. Asal dilakukan demi kebaikan, darah itu tidak menakutkan." Ayahnya tersenyum hambar. Bersusah payah menahan keresahan yang sedang melandanya.

Ayah Wonwoo memeluknya kembali. "Jikalau pun ayah tidak ada, itu karena ayah melakukannya demi kebaikanmu dan orang lain. Ada kalanya kita berkorban lebih banyak daripada menunggu orang mengasihanimu."

"Ya, ayah orang baik. Ayah gak jahat."

Tanpa disadari Wonwoo, ayahnya menangis di balik punggung anak itu. "Kalau ayah tidak ada, Ayah minta, jaga dirimu baik-baik. Banyak orang yang kau percayai bahkan akan menyakitimu pada akhirnya. Bibi Ahyeol adalah orang yang terbaik, ok?"

"Ayah, paman ini orang jahat. Padahal paman ini sangat ayah hormati, bukan?"

Ayahnya begitu gemas dengan segala pertanyaan polos Wonwoo. Ia mengangguk.

"Ayah tidak lagi mempercayainya. Ayah benci orang-orang seperti itu."

"Aku juga ayah. Aku juga." Dan mereka pun kembali memeluk satu sama lain. Seolah tidak mau terlepas oleh waktu.

Tapi, Wonwoo tidak tahu.

Bahwa setelah ia lepas dari pelukan ayahnya, keesokan pagi ia tidak akan bisa bertemu ayahnya lagi.

Sejak saat itu, ia begitu merindukan pelukan hangat ayahnya.

.

.

.

.

.

.

.

To be Continue


ada beberapa note yang mungkin bisa menjawab pertanyaan kalian.. kalau kalian mau nanya [asal gak menjurus spoiler] silahkan saja ^^

1. pengadaan flashback disini gak terlalu jelas. Miyu sengaja sih wkwk.. karena kumau readers sendiri nerka masa lalu Wonwoo tuh gimana dengan menggabungkan potongan flashback yang ngebingungin dan masih agak tersirat. lagipula, untuk chapter khusus flashback (seperti beberapa permintaan readers), sepertinya tidak bisa terpenuhi. Karena udah menjurus spoiler banget. So, nikmatilah potongan flashback ambigunya!

2. Nama Kim Minji mungkin gak sesuai sama nama sodara perempuan Mingyu yang asli (Kim Minseo). Aku sengaja. Karena karakteristik Minseo sama Minji lumayan beda. (terutama dari tinggi badan, yg Minji disini tingginya hampir sama kayak Mingyu #mianMinseo-ssi). Minji emang OC dariku, lepas dari Minseo. Tapi kalau kalian mau membayangkan Minji seperti Minseo, atuh silahkan ^^

3. Beberapa ilustrasi Wonwoo dan Mingyu , seperti penampilannya kayak gimana dalam plot ini, ada gambarnya. Kutaruh di wattpad ku. Kalau kalian mau update disini dan disana, silahkan. Disana lebih lengkap aja ada ilustrasi tokoh dan momentnya. Tapi cerita gak berubah. Silahkan berkunjung : 344754740-eye-witness-author%27s-note atau cari user Miramiyu

Review dan dukungan kalian sangat berpengaruh akan kelangsungan jalan cerita ini. So, dont forget review/follow/favorite !

See you ~'^')~