WARNING!
IF YOU DON'T LIKE BOYS LOVE/SHONEN AI/YAOI, PLEASE JUST IGNORE IT.
Fandom : Super Junior
Cast : Super Junior and SMTown
Pairing : KiHae, HanChul
Rated : M/MPreg
Chapter : 6
Genre : Romance, Hurt/Comfort.
Disclaimer : All cast belongs to God and themselves.
~Nappeun Bam~
"Ketika sang pujaan tak memihak, pada siapa kau kan berpijak. Bunga layu tak berarti ia akan mati. Hanya tinggal menanti akan datangnya bunga indah yang kan mengganti."
Chapter 6: Hyacinth Merah
Sang raga terbaring lemah pada lembutnya kapas. Bulir peluh membasahi raga yang terlelap. Hembusan nafas teratur menandakan kehidupan bagi sang pemilik nyawa. Rautnya gusar, namun ketenangan tergambar padanya yang terlelap. Membiarkan sang bunga tidur yang menyergap.
"Dia sudah tertidur?" Tanya Heechul kepada anaknya Kibum, memastikan keadaan Donghae.
"Hm." Jawabnya singkat. Donghae kini tertidur di kamar Kibum. Kembalinya ingatan Donghae yang begitu tiba-tiba membuat kondisi Donghae sedikit menurun. Donghae pun tak henti-hentinya menangis, membuat kondisinya semakin lemah. Hingga kini ia terlelap dengan nyamannya.
"Kenapa kau tidak memberitahuku, kalau kau telah menemukannya, pabo?" Tanya Heechul yang kesal dengan kelakuan anaknya.
"Merepotkan." Jawabnya ketus, malas menanggapi mamanya.
"Yak! Anak sialan. Ke sini kau, jelaskan kepada ku SE. MU. A. NYA Tan Kibum!" Amarahnya meluap dengan kelakuan anaknya. Bagaimana tidak, sosok yang mereka cari-cari selama lima tahun ini ternyata keberadaannya dirahasiakan oleh anaknya sendiri.
"Aku pun baru bertemu dengannya." Sungguh Kibum sangat malas untuk menceritakannya. Akan sangat melelahkan bila harus menceritakan semuanya.
"Anak itu, aku begitu merasa bersalah kepada Jaejoong dan Yunho. Andai bila waktu itu kita cepat kembali ke Korea, semua ini pasti tidak akan terjadi." Heechul mendesah, menyesali apa yang telah ia lakukan. Meninggalkan keluarganya ke negeri bambu, jika saja saat itu mereka langsung kembali setelah mendengar kabar kecelakaan yang menimpa keluarga Donghae. Jika saja saat itu mereka berada di Korea, mungkin mereka tidak akan kehilangan Donghae. Bukan bertemu dengan Donghae dengan keadaan seperti saat ini. Heechul begitu menyesal.
"Ini semua bukan salahmu yeobo." Hangeng berucap mencoba menenangkan istrinya. Yah memang semua itu bukan salah istrinya, melainkan salahnya. Ia lebih memilih perusahaannya ketimbang keluarganya. Saat itu perusahaannya dalam keadaan sangat krisis namun di saat yang bersamaan salah satu keluarganya yang berada di Korea, yakni keluarga Donghae mengalami kecelakaan dan hanya Donghaelah korban yang selamat. Dan ketika mereka kembali ke Korea, mereka mendapat kabar bahwa Donghae telah dibawa oleh kekasihnya ke Seoul. Namun setelahnya tidak ada yang mengetahui kabar Donghae. Seakan Donghae hilang bersama kepergian keluarganya.
"Ia pasti melalui masa-masa yang sulit. Tapi bersyukurlah, sekarang ia telah bersama dengan kita lagi." Lanjut Hangeng.
"Hmm.. Yah kau benar. Lalu Kibum, bagaimana kelanjutan penyelidikannya?" Ujar Heechul mengalihkan pembicaraan.
"Sepertinya ini benar-benar bukanlah suatu kecelakaan belaka." Jawab Kibum, yang disambut dengan wajah heran dari kedua pria dewasa lainnya.
"Entah bagaimana caranya, pihak kepolisian berhasil memperbaiki semua ponsel korban dan mengembalikan data-data ponsel tersebut. Dan mereka menemukan sesuatu." Ujar Kibum menggantung pada kata-katanya.
"Apa yang mereka temukan? Jangan menggantung saat bercerita." Imbau Heechul, kesal dengan anaknya yang suka sekali mengerjai dirinya.
"Ck.. Mereka menemukan kontak panggilan terakhir yang sama pada ponsel Donghae dan sopir truk yang menghantam mobil Donghae. Waktu panggilan mereka pun ada pada hari yang sama. Seperti yang kita ketahui, supir itu adalah seorang tahanan seumur hidup yang seharusnya masih berada di dalam bui." Lanjut Kibum, sunggung sebenarnya ia malas untuk menjelaskannya. Berbicara panjang lebar hanya membuatnya lelah.
"Lalu kenapa ia bisa keluar dari tahanan? Lalu siapa orang yang menelpon supir itu yang juga mengenal Donghae? Apakah ada yang membenci keluarga Donghae? Aigoo.. Kenapa hal ini harus menimpa kalian? Lalu bagaimana tindakan selanjutnya yang akan dilakukan pihak kepolisian?" Heechul bertanya tiada henti. Ia tidak habis pikir, jika memang ini adalah bukan sebuah kecelakaan melainkan pembunuhan, lalu siapa yang melakukannya? Keluarga Donghae dikenal dengan keluarga yang sangat baik, tidak ada yang membencinya. Keluarga yang begitu ramah dan damai serta royal pada siapapun. Lalu sebab apa seseorang hingga ingin membunuhnya? Tak ada satu alasan apapun yang terlintas dibenaknya.
"Pihak kepolisian saat ini masih menyelidiki pemilik nomer.." Kibum menghentikan penjelasannya tiba-tiba setelah mendengar seseorang mendekati mereka.
"Donghae-ah, kau sudah bangun? Kemarilah!" Heechul mengerti, ia pun tak bertanya kepada Kibum. Ia hanya membimbing Donghae untuk mendekat. Donghae pun hanya tersenyum membalasnya. Ia duduk di samping Heechul, menyandarkan kepalanya pada bahu Heechul. Masih terpantri pula wajah sembabnya sehabis menangis tadi.
"Kau sudah lebih baik?" Tanya Hangeng, yang disambut kembali dengan senyuman oleh Donghae.
"Kalian sedang membicarakan apa, sepertinya serius sekali?" Tanya Donghae yang sedikit merasa ada ketegangan di antara mereka.
"Ahh.. hanya pembicaraan biasa antar keluarga. Kenapa kau terbangun?" Tanya Heechul, mengalihkan pembicaraan. Hal yang ia bicarakan tadi untuk saat ini lebih baik dirahasiakan dulu dari Donghae.
"Aku hanya sedikit mual dan sepertinya ia tidak ingin tidur." Ujar Donghae sambil mengusap perutnya. Menunjukkan seseorang yang ia katakan tidak ingin tidur, janinnya yang kini aktif bergerak dalam kandungannya. Heechul yang melihatnya pun ikut menyentuh perut Donghae, merasakan janin yang bergerak di sana.
"Pergerakannya bagus, kau merawatnya dengan baik, Hae-ah. Pasti berat sekali harus merawatnya sendirian." Ujar Heechul sedikit mengiba. Merawat diri sendiri dalam kondisi mengandung pasti sulit.
"Ahh.. aniya. Jung ahjuma setiap hari selalu ke apartemenku dan membawakanku makanan. Kibum pun sudah membantuku banyak." Balas Donghae sedikit bersemu saat menyebut nama Kibum.
"Aishh.. Jung Hera, awas kalau aku bertemu dengannya, akan aku kuliti dia. Mengapa ia tidak mengabariku kalau kau telah kembali ke Mokpo? Menyebalkan. Tapi aku akan berterima kasih padanya karena telah menjagamu, Hae."
"Kedepannya kandunganmu akan semakin besar, Hae. Itu akan mempersulitmu melakukan segala hal jika sendiri. Tinggallah di sini, akan lebih menyenangkan bila kau ada di sini. Aku sedikit bosan jika harus terus melihat dua namja menyebalkan itu." Heechul menunjuk kedua pria yang sedang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Namun yang disindir tak menggubrisnya. Donghae pun hanya bisa terkekeh.
"Maaf Imo, aku tidak bisa." Jawab Donghae atas tawaran Heechul. Yang tentu mendapat tatapan kecewa dari Heechul.
"Wae?"
"Aku ingin sekali tinggal di sini, tapi aku akan mengadakan pagelaran musik bulan Oktober ini bersama Hyukjae dan Kyuhyun. Akan sangat melelahkan jika harus berangkat dari sini. Jeongmal mianhae Imo." Balas Donghae dengan penyesalan.
"Kyuhyun? Si evil itu juga tidak memberitahu aku jika kau kembali! Kenapa kalian semua sangat menyebalkan. Kenapa kalian melupakanku HAH?!" Heechul benar-benar kesal. Bagaimana tidak, orang-orang terdekatnya tidak ada yang memberitahunya akan kepulangan Donghae. Ia benar-benar ingin melahap mereka semua bila bertemu mereka.
"Kau terlalu sibuk." Balas Kibum dingin. Tidak ingin menanggapi kelakuan mamanya.
"Kau juga, pabo." Hardik Heechul.
"Sudahlah imo, yang penting aku sudah berada di sini." Donghae tersenyum, mencoba menenangkan imonya yang memang tempramennya yang suka meledak-ledak.
"Huft, baiklah jika kau mengatakan seperti itu. Entah mengapa aku tidak pernah bisa membantahmu maupun ibumu, Hae." Ujar Heechul, ia telusuri wajah dan tiap lekuk tubuh Donghae, membuatnya tersenyum rindu. Donghae pun hanya bisa menatap bingung.
"Jika seperti ini kau mirip sekali dengan Jaejoong. Ketika mengandungmu rambutnya pun tidak pajang, sama seperti rambutmu saat ini. Hah, aku merindukan orang tuamu. Mungkin lain kali kita harus ke makam orang tuamu bersama-sama." Tawar Heechul. Kata-kata yang terlontar dari bibirnya terasa akan kerinduannya. Donghae pun mengerti, ia sendiri begitu merindukan kedua orang tuanya. Apalagi Heechul, sudah lebih dari dua puluh tahun Heechul tidak bertemu dengan orang tua Donghae, Jaejoong yang tak lain adalah adiknya sendiri.
"Hmm.. Tapi aku penasaran kenapa kau hanya melupakan Kibum, Hae?" Tanya Heechul, yang mengundang pria lainnya yang sejak tadi berkutik dengan bukunya menoleh kepada mereka berdua, Kibum.
"Mungkin karena saat itu kalian tidak ada di sekitaku?" Jawab Donghae sedikit ragu.
"Ketika aku sadar aku tidak mengingat apapun. Dokter mengatakan aku hanya amnesia sementara. Tapi sampai saat ini, masih banyak yang tidak dapat aku ingat. Yang bisa aku ingat hanya apa yang telah aku lihat. Sedangkan aku baru melihat Kibum belum lama ini. Salahkan Kibum yang tidak pernah mau mengirimkan fotonya setiap kali mengirim email kepadaku. Jadi tidak ada memori apapun yang aku ingat tentang kalian." Donghae mempoutkan bibirnya, sedikit kesal setelah mengingat kebiasaan jelek Kibum yang tidak pernah mau mengirimkan fotonya selama di Cina.
Plakk~
Pukulan indah mendarat di kepala Kibum. Heechullah sang pelaku pemukulan tersebut, yang tentu mendapat protes dari sang korban. Namun tak digubris oleh sang pelaku. Heechul lelah menghadapi kelakuan anak satu-satunya itu. Ia heran darimana asal sifat dingin anaknya itu. Hangeng memang termasuk pria dingin, namun tidak seakut anaknya. Ia heran.
"Setelah mendengar itu, aku menyesal telah mendengar rengekanmu karena Donghae melupakanmu." Yah, Kibum merengek memang benar adanya. Sikap dinginnya yang bagaikan salju itu, akan benar-benar mencair jika sudah berhubungan dengan Donghae. Jika berhubungan dengan Donghae, hatinya kan melunak dan sensitif.
Setelahnya pun hanya terdengar suara saling mengejek antara anak dan ibu. Memperdebatkan hal sepele layaknya anak kecil. Bukannya mereka tidak akur. Namun memang beginilah interaksi mereka. menyalurkan rasa sayang mereka dengan cara yang sedikit berbeda. Tidak ada sedikitpun kebencian dalam setiap pertikaian mereka. Tidak pernah ada amarah dari setiap pertengkaran mereka. Hanya sebuah perselisihan kecil yang menunjukkan rasa perhatian mereka. Meninggalkan Donghae dan Hangeng yang hanya bisa terkekeh melihat kelakuan mereka.
~Nappeun Bam~
Donghae merasa gelisah dalam tidurnya, namun rasanya sedikit berbeda dengan rasa-rasa sebelumnya. Ia seperti menginginkan sesuatu, namun sesuatu yang tidak ia ketahui. Karena merasa tidak nyaman, maka ia putuskan untuk mengambil cardigan dan keluar dari kamarnya. Ia pandangi sebuah pintu yang berada dihadapannya, kamar Kibum. Tangannya bergerak ingin mengetuk pintu tersebut. Namun ia urungkan niatnya, kakinya pun melangkah meninggalkan tempat itu. Baru beberapa langkah Donghae beranjak, terdengar suara pintu terbuka. Menampakkan sosok pria tampan dengan wajah kantuk yang terlihat jelas.
"Hae? Kenapa kau di sini?" Tanya Kibum dengan heran melihat Donghae berada di depan kamarnya.
"Ahh.. Aku.. Ahh.. Aku hanya membutuhkan sesuatu di bawah dan.. aku.. takut bila harus sendiri ke bawah." Aku Donghae. Ia ragu untuk mengatakannya.
"Lalu kenapa tidak memanggilku? Seperti orang lain saja. Aku antar." Ajak Kibum. Ternyata memang tidak ada yang berubah dari Donghae, penakut. Kibum terkekeh memikirkannya.
"Kau ingin apa?" Tanya Kibum.
"Salad buah." Jawab Donghae singkat, namun wajahnya menampakkan ekspresi yang menandakan bahwa ia benar-benar ingin makan salad buah.
"Kau yakin?" Tanya Kibum kembali, merasa tidak yakin dengan apa yang dikatakan Donghae. Namun yang ditanya hanya membalasnya dengan anggukan antusias.
"Dengan pisang. Aku mau dengan pisang." Pinta Donghae, yang langsung membuat Kibum mengerutkan keningnya. Pisang? Ia tidak yakin akan memdapatkan pisang di dalam kulkasnya. Dan benar saja ia tidak menemukannya.
"Maaf, aku tidak punya Hae. Dengan apel dan pir saja, bagaimana?" Tanya Kibum lagi.
"Tapi aku maunya pisang Kibum." Jawab Donghae dengan wajah memelas. Membuat Kibum tak kuasa akannya. Takut bila pria dihadapannya kini akan menangis.
Pica? Kibum memcoba menebak. Pica atau biasa orang-orang menyebutnya dengan ngidam. Tapi biasanya pica terjadi pada triwulan pertama saat kehamilan, sedangkan usia kehamilan Donghae sudah memasuki bulan kelima. Namun, jika memang benar demikian, maka ia harus menurutinya. Bukan karena bila ia tidak menurutinya maka anak yang dikandung Donghae akan menjadi 'ileran', itu hanyalah mitos. Tetapi jika Donghae menginginkannya, itu tanda bahwa nutrisi yang sedang dibutuhkan oleh tubuh Donghae ada pada buah pisang. Namun dimana tempat untuk mendapatkan pisang? Buah pisang adalah salah satu buah yang langka di Korea dan sekarang waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Ia berpikir keras.
"Baiklah, tapi kau harus sedikit menunggu lama. Aku akan pergi ke pasar 24 jam di dekat sini. Berdoalah aku dapat menemukan pisang." Pinta Kibum. Ia sedikit bersyukur karena ada pasar tradisional yang buka 24 jam di sekitar rumahnya.
"Aku ikut." Lagi-lagi Donghae meminta dengan memasang wajah yang membuat Kibum tak tahan melihatnya.
"Huft. Baiklah, aku akan ambilkan mantel dan celana panjang untukmu." Kibum pun kembali ke atas untuk mengambil keperluan Donghae, karena pada jam ini suhu akan sangat rendah. Ia tidak ingin Donghae demam karenanya.
"Ayo berangkat." Mereka pun pergi bersama dengan berjalan kaki. Menikmati waktu dini yang dingin namun cukup menyejukkan.
Terdengar suara ramai saling bersahutan. Para penjual saling berseru menjajahkan dagangannya. Para pria-pria gagah memanggul karung-karung besar berlalu lalang melintas dalam jarak pandangnya. Terlihat pula para wanita membawa tumpukan bahan pangan dalam keranjangnya. Bau amis dan manis bercampur menjadi satu menusuk indera penciumnya.
"Hkk.." Terdengar suara batuk tertahan dari Donghae. Sepertinya bau amis yang menyengat, memancing rasa mualnya kembali.
"Aku tak apa." Belum sempat Kibum bertanya, namun Donghae sudah menjawab kegelisahaan hatinya. Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka. Mencari bahan-bahan yang mereka butuhkan.
Mereka terus menyusuri pasar. Benar duganya, sangat sulit mencari pisang di pasar tradisional. Mereka terus mencari dan sesekali bertanya dengan pedagang lainnya. Namun nihil. Dan seperti di tempat-tempat lainnya. Mereka selalu menjadi pusat perhatian, di mana pun mereka berada. Penampilan mereka yang rupawan dan bersih, bahkan sangat bersih, kini sedang berkeliling di sebuah pasar yang dapat dikatakan kotor dan kumuh bila dibandingkan dengan sebuah mall. Namun mereka tak peduli, bukankah semua manusia itu sama.
"Dokter Kibum, kau kah itu?" Terdengar suara seorang wanita baya dari salah satu toko. Kibum yang merasa dipanggil pun mendekat pada sumber suara. Ia tak ingat, salah satu pasiennya kah? Ia tak ingat, namun ia merespon dengan baik.
"Nee, Annyeong Haelmoni?" Sapa Kibum dengan ramah.
"Wah, ternyata kau sudah sangat besar dan tumbuh menjadi pria yang sangat tampan. Kau pasti tidak mengingatku. Terakhir kali kita bertemu, saat kau masih kecil." Terang sang wanita baya itu.
"Mianhae." Kibum menundukkan tubuhnya, meminta maaf karena tak mengingatnya.
"Tak apa. Ku dengar kau sudah menjadi dokter seperti ibumu. Wajahmu tak berubah sama sekali, hanya rahangmu yang semakin tegas. Ahh apakah dia istrimu?" Tanya wanita itu menunjuk pada Donghae. Kibum pun hanya membalasnya dengan senyuman, mengamini apa yang dikatakan wanita itu. Sedangkan Donghae, hanya terdiam dengan wajah yang memerah.
"Ahh kau sangat cantik, siapa namamu, agashi?" Tanya wanita itu kepada Donghae.
"Donghae, haelmoni." Jawab Donghae dengan senyum manis yang tak lepas dari bibirnya.
"Kau sedang mengandung? Kalian pasangan yang sangat serasi. Semoga kalian menjadi pasangan yang langgeng dan harmonis. Anak kalian juga, semoga sehat selalu dan lahir menjadi anak yang pintar." Doa wanita itu, yang lagi-lagi membuat Donghae tersipu.
"Ada apa denganku? Kenapa aku begitu senang mendengarnya?" Donghae membatin. Ia bingung dengan perasaannya saat ini. Apakah ini menandakan bahwa ia benar-benar telah melupakan Siwon? Ataukah ini karena perasaannya yang dulu terhadap Kibum telah kembali? Apakah bisa dengan semudah itu ia melupakan Siwon yang telah memberikan segalanya hanya untuk dirinya? Tunggu dulu.
"Sejak kapan aku mengenal Siwon? Mengapa tak ada ingatanku tentang Siwon di saat sebelum kecelakaan itu?" Donghae terus bergelut dengan pikirannya, hingga terdengar suara menyadarkannya.
"Kau tak apa, Hae?" Tanya Kibum khawatir dengan Donghae yang tiba-tiba terdiam.
"YA. Ahh aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit melamun, maaf." Donghae meminta maaf, tak ingin Kibum mengkhawatirkan dirinya.
"Syukurlah, ayo kita pulang." Ajak Kibum.
"Eh?" Donghae bingung. Pulang? Lalu bagaimana dengan pisangnya?
"Sepertinya kau benar-benar melamun. Shin haelmoni, memberikan pisang untukmu. Berterimakasihlah padanya." Kibum sedikit menjelaskan kebingungan Donghae.
"Ahh mianhae haelmoni, aku tidak mendengarkan. Dan terima kasih untuk pisangnya."
"Gwaenchana, bersyukurlah aku memilikinya. Kau tidak akan mendapatkannya di pasar seperti ini. Dan jagalah kesehatanmu."
"Nee.. Sekali lagi terima kasih, sampai ketemu lagi haelmoni. Annyeong." Mereka pun pergi meninggalkan pasar setelah berpamitan.
"Kau ingin dengan yogurt atau dengan mayo?" Tanya kibum sambil memotong buah-buah yang telah ia dapat.
"Yogurt sepertinya segar." Jawab Donghae.
"Baiklah aku akan membuatnya dengan plain yogurt dan tidak ada protes." Ujar Kibum dengan cepat, mengetahui bahwa Donghae akan menyelanya. Donghae pun hanya bisa pasrah.
"Makanlah pelan-pelan." Kibum menyerahkan semangkuk salad buah dengan apel dan pisang sebagai isiannya. Tak ikut makan, ia hanya duduk memandangi Donghae yang melahap saladnya.
"Kau saja yang habiskan, Bumie." Perintah Donghae tiba-tiba, sambil menyodorkan mangkuknya kepada Kibum. Yang tentu mendapat penolakan dari Kibum.
"Kau baru memakannya dua sendok, Hae. Bahkan pisangnya kau belum sentuh. Makanlah perlahan." Kibum mencoba bersabar akan tingkah Donghae saat ini.
"Tapi aku sudah tidak menginginkannya, Bumie." Sekali lagi Donghae merajuk. Wajahnya nampak polos dan bibirnya ia poutkan. Membuatnya terlihat begitu menggemaskan di mata Kibum.
Dan entah apa yang sedang Kibum alami saat ini. Melihat Donghae seperti itu membuat suhu tubuhnya meningkat. Sepertinya iya harus setuju dengan pendapat orang-orang, bahwa orang hamil akan terlihat lebih seksi. Dan benar adanya, saat ini Donghae terlihat begitu seksi di matanya. Ia pandangi tiap lekuk tubuh Donghae, mata sendunya yang begitu teduh dan bibir tipisnya, membuatnya tak kuasa menahannya. Hingga..
Chuu~
Ia tautkan bibirnya pada bibir tipis milik Donghae. Mengecapnya lembut, merasakan manis dari buah yang dimakan oleh Donghae. Menikmati sensasi memabukkan dari oral lawannya. Donghae tak menyambutnya, namun tidak juga melawannya. Cukup membuat Kibum menginginkannya lebih. Hingga akhirnya ia rapatkan tubuhnya dengan Donghae, ia raih tengkuk Donghae, membawanya pada lumatan yang lebih dalam. Ia hisap bibir atas dan bawah Donghae bergantian, melumatnya semakin kasar, seakan mengajak sang lawan untuk bermain dengannya.
Eunghh~
Terdengar lenguhan halus dari bibir Donghae, sepertinya ia mulai menikmati perlakuan Kibum kepadanya. Bibirnya mulai bergerak mengimbangi Kibum. Tangannya yang mencengkram piyama Kibum mulai bergerak menuju leher Kibum. Mencoba ikut memperdalam lumatan mereka. Kibum yang mendapat balasan seperti itu pun semakin membuatnya menggila.
Kibum raih tubuh Donghae yang terduduk, semakin merapatkan tubuh Donghae, mendekapnya erat. Kemudian Kibum angkat tubuh yang lebih kecil darinya itu terduduk di atas meja. Mencari posisi yang lebih nyaman untuk memperdalam tautan mereka. Saling melumat penuh dengan gairah. Menjadikan hawa dingin dalam ruang makan tersebut menjadi memanas.
Trraanngg~
Suara tempat sendok yang terjatuh menghentikan aksi mereka. Mereka saling menatap dengan nafas yang tersengal. Keadaan keduanya berantakan akibat aksi mereka sendiri, deru nafas mereka terdengar nyaring diruangan yang sepi itu. Donghae palingkan wajahnya dari Kibum yang masih menatapnya. Wajahnya merah padam dan tatapan Kibum kini semakin membuat wajahnya semakin memerah. Kibum merapikan rambut dan pakaiannya serta mendudukannya kembali ke atas kursi.
"Lanjutkanlah makanmu, itu bagus untuk menambah nutrisi dalam tubuhmu." Terang Kibum sambil menyodorkan kembali mangkuk Donghae. Kepalanya tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang juga ikut memerah. Setelah melihat Donghae menyantap saladnya, ia bergegas merapikan sendok yang berserakan tadi. Keduanya terdiam, suasana di sana menjadi dingin kembali dan suasana canggung menyelubungi mereka. Donghae pun menghabiskan saladnya dengan tenang. Setelah selesai mereka pun kembali ke kamar mereka masing-masing. Namun mereka pergi dalam bisu, tak ada satu pun yang saling berujar.
"Apa yang telah aku lakukan." Kibum bergumam, tidak mengerti apa yang telah ia lakukan.
~Nappeun Bam~
Pagi yang begitu cerah menyambut mereka yang terjaga. Menyebarkan aroma embun pagi yang begitu menyegarkan. Senyum sang mentari menghangatkan hati yang bersemangat. Namun lain hal dengan mereka. Kini seakan ruangan seakan menjadi mendung dan begitu gloomy. Kesunyian menyapa mereka, kecanggungan menyelimuti mereka. membuat dua orang lainnya menatap mereka dengan heran.
"Mengapa tiba-tiba makananku menjadi hambar?" Celetuk Heechul. Kelakuan dua anaknya itu membuatnya tidak berselera makan.
"Han, apa anakmu terbentur di kepalanya?" Heechul berbisik dengan suaminya. Heran dengan kelakuan anaknya saat ini. Tidak seperti biasanya, anaknya kini terlihat sangat bodoh. Apa yang sebenarnya terjadi antara Kibum dengan Donghae? Ia begitu penasaran. Sejak tadi pagi Kibum dengan Donghae terlihat seperti remaja yang baru saja saling jatuh cinta. Dimana mereka akan terlihat saling mencuri pandang namun tak ada yang berani memulai pembicaraan. Ia tertawa geli melihatnya, mengingat usia mereka yang saat ini hampir menginjak kepala tiga.
"Haaaahh.. Han temani aku keluar. Di sini panaaaaaas sekali." Heechul pun jengah melihat mereka hanya diam. Maka ia memilih untuk meninggalkan mereka berdua. Mungkin memberikan waktu untuk mereka berdua itu lebih baik. Atau mungkin ia dapat mengintip dari jauh lebih mengasyikkan. Ia terkikik membayangkannya. Heechul dan Hangeng pun pergi meninggalkan meja makan. Meninggalkan mereka yang semakin terdiam.
Setelah kepergian kedua orang tuanya membuat Kibum semakin gusar. Apa yang harus ia lakukan dalam keadaan seperti ini? Ia melirik Donghae yang masih terdiam menikmati sarapannya. Memperhatikan Donghae begitu intens, mengingatkannya akan momennya semalam bersama dengan Donghae yang begitu panas.
"Sampai kapan kau hanya mau memperhatikanku?" Tanya Donghae memecahkan keheningan di antara mereka. Kibum pun sempat tersentak mendengar penuturan Donghae yang tepat sasaran. Namun ia mencoba meneguhkan hatinya.
Kibum bergerak mendekati Donghae. Ia sandarkan tubuhnya pada sisi meja. Ia raih dagu Donghae, menampakkan wajah kesal namun dengan makanan memenuhi mulutnya. Bolehkah ia mencium lagi sosok dihadapannya kini? Tak tahan melihat ekspresi menggemaskan itu.
"Apa yang akan kau lakukan jika aku menciummu kembali?" Tanya Kibum asal, ia pun tak mengerti mengapa ia mengatakan pertanyaan itu.
"... " Donghae hanya terdiam, masih mengunyah makanannya. Ekspresinya pun dapat dikatakan menyebalkan bagi Kibum. Apakah Donghae akan menolaknya? Kibum mencoba menghapus jarak di antara mereka. Ia ingin mengetahui respon Donghae jika ia menciumnya kembali.
"Aku akan memaksamu menikahiku, jika kau berani menciumku kembali." Jawab Donghae sebelum Kibum berhasil menciumnya. Membuat Kibum menghentikan aksinya dan kekehan kecil menyusul setelahnya.
"Baiklah kalau begitu, dengan senang hati aku akan melakukannya." Balas Kibum menerima tantangan dari Donghae. Ia pun kembali mencoba mencium Donghae. Namun aksinya terhenti kembali karena perkataan Donghae.
"Tapi anak ini?" Donghae tertunduk, ia takut Kibum tidak mau menerima akan keberadaan anak yang di dalam kandungannya.
Mendengar hal tersebut, membuat Kibum sedikit tertegun. Ia tangkup kedua sisi wajah Donghae, mengecup lembut kening pria itu. Berharap dapat menghilangkan rasa gusar di hati Donghae.
"Anakmu adalah anakku. Aku tak dapat membencimu, aku tak mampu membenci segala yang ada padamu, Hae. Saranghae." Ia kecup kembali kening Donghae, kemudian hidung dan selanjutnya bibir manis Donghae. Menyampaikan rasa kasih yang begitu mendalam yang ia rasakan sudah begitu lama. Entah sejak kapan, namun rasa itu terasa sudah begitu lama.
~Nappeun Bam~
Berbulan-bulan telah Donghae lalui dengan baik. Tidak ada hal yang mengganggunya. Kibum pun sejak kejadian itu telah resmi menjadi kekasihnya. Kini usia kandungan Donghae sudah menginjak bulan ke tujuh. Perutnya sudah semakin membesar. Membuatnya terlihat benar-benar seperti ibu-ibu hamil. Hari-harinya pun ia lalui sebagaimana hal layaknya. Hampir setiap hari ia akan berkunjung ke rumah sakit meskipun itu bukan jam kontrolnya. Ia akan membantu Sooyoung menangani anak-anak atau mungkin hanya menunggu Kibum di ruangannya. Dan pada sore harinya ia akan pergi latihan ke sanggar untuk pagelaran yang akan diadakan dalam waktu dekat ini. Semua ia lakukan dengan seperti biasanya. Tidak mengetahui apa yang akan terjadi dengannya setelahnya.
Kibum melaju mobilnya dengan cepat. Setelah mengantarkan Donghae kembali ke apartemennya, ia langsung bergegas berpamitan dengan Donghae ketika membaca pesan dari Kyuhyun untuknya.
From : EvilKyu
Aku mendapatkan masalah mengenai daftar tamuku. Ini menyangkut keberadaan Donghae. Aku takut ini akan menjadi masalah besar. Datanglah sekarang ke apartemen Hyukjae.
To be continue..
.
Ahhhhh.. mianhae.. ternyata updatenya lebih lama dari yang diperkirakan.. *bow
saya lagi sibuk ppl jadi agak sulit nyari waktu untuk nulis..
maaf juga kalau ceritanya kurang memuaskan.. sekali lagi jeongmal mianhaeyo..
dan makasih yang udah baca, review, fav maupun follow ff abal ini..
mungkin ff ini akan selesai 3/4 chapter lagi..
sampai ketemu lagi di chapter selanjutnya..
jaljayoooooooo ^_^
