a/n: Kembali dengan chapter baru~ Maaf menunggu lama untuk para readers! Sudah sangat sangat sangat lama ya? Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat ternyata. Terimakasih yang sudah baca fic ini~ Yang sudah review^^ Dan lain lain terimakasih ya^^ Sebelumnya saya mohon maaf bila ada misstypo ya, saat membuat chapter ini mesin otaknya sedang sedikit bermasalah, jadi terkadang diluar kontrol O_O Di chapter ini mohon maaf bila kurang menarik T^T, yang membuatnya saja bila tidak menarik T^T, jadi mohoh maaf m(_ _)m

Untuk balas reviewnya ditunda dulu yaa T^T maafkan sekali lagii m(_ _)m mungkin di chapter berikutnya bisa di balas^^


~Selamat membaca~

Disclaimer :Kamichama Karin & Kamichama Karin Chu © Koge Donbo

Warnings : AU,OC,OOC,miss typo, dll

.

.

.

~*An expensive girl*~


Hari berlalu begitu saja, kini sudah seminggu sejak kejadian jatuh-dari-tangga, Kazune diperbolehkan untuk pulang ke rumah, dan ia pun sudah di perbolehkan untuk bersekolah keesokan harinya. Kembali sebelum Kazune keluar rumah sakit, ia belum bertemu dengan Kira atau pun Karin lagi sejak kejadian itu. Kira yang berjanji akan menceritakan semuanya pun menghilang entah kemana, sedangkan Karin, Kazune tidak diperbolehkan untuk menjenguk Karin oleh orang tuanya. Sampai Kazune pulang pun, Kazune belum bisa bertemu dengan kedua orang itu. Tentu saja itu menjadi masalah bagi Kazune dan menjadi pikiran yang terus berputar.

[Kazune POV]

Pagi hari aku berjalan menuju sekolah bersama Himeka di sampingku, Himeka terlihat lebih bersemangat dari biasanya aku lihat di rumah sakit saat ia menjengukku. Senyuman manis terpampang di wajahnya selama perjalanan ke sekolah.

"Aku tidak sabar ingin masuk kelas! Bagaimana ya reaksi teman-teman kalau tahu kau sudah bersekolah kembali? Mereka kan tidak tahu kau akan masuk sekolah sekarang!" Himeka tertawa kecil membayangkannya. Aku pun meresponnya dengan tertawa kecil.

Tidak perlu waktu lama, kami sudah hampir sampai. Aku saja tidak menyadarinya karena yang ada di dalam pikiranku saat ini hanyalah Karin. Aku mengkhawatirkan keadaannya sekarang.

Brugh!

Aku melihat ke belakangku dan mendapatkan Himeka yang terjatuh bersama seorang gadis dari sekolah lain. Barang-barang mereka pun berserakkan. Dengan segera aku menghampiri Himeka karena khawatir bila ia terluka. Aku berlutut dan mensejajarkan tinggiku dengan mereka.

"K-Kau tidak apa-apa Himeka-chan? Maaf aku tadi sedang melamun," aku menggaruk pelan belakang kepalaku yang tidak gatal. Himeka sendiri hanya tertawa karena kejadian itu. Sedangkan seorang gadis lainnya membereskan barang-barangnya dan meminta maaf pada Himeka.

"Maaf! Aku sedang terburu-buru jadi tidak melihat jalan yang kulalui! Maafkan aku!" gadis itu berdiri dan membungkukkan badannya beberapa kali.

Himeka yang merasa tidak enak langsung berdiri dan berkata padanya bahwa ia tidak apa-apa.

"Ah tidak, aku juga minta maaf, aku juga salah tidak melihatmu," ujar Himeka sembari menebar senyumnya pada gadis itu. Tentu saja aku pun tersenyum pada gadis itu. Dan pada saat ia melihatku, ia langsung terhenyak dan semburat rona merah terlihat di wajahnya.

"A-ah iya. T-terimakasih. Kalau begitu aku harus pergi!" gadis itu pergi meninggalkan kami disini yang masih terdiam.

Lantas tanpa pikir panjang lagi, kami meneruskan perjalanan ke sekolah..

.

Di kelas dengan seketika menjadi ramai. Saat aku masuk halaman sekolah pun sudah banyak teman-teman yang menyambut kedatanganku kembali. Tentunya para Kazune-z yang lebih dahulu menghampiri, namun karena Himeka sudah biasa menghindari mereka, aku pun berhasil diselamatkan olehnya dan langsung menuju kelas.

Tampak sosok karibku yang sudah menunggu di bangku mereka masing-masing, salah satu dari mereka menyadari kedatanganku dan tentu saja ia terkejut.

"Kazune-kun?! Kau sudah bisa bersekolah lagi?! Kenapa kau tidak memberitahu kami!" Miyon yang pertama menyadari kedatanganku langsung membuat teman-temanku yang lain menatapku lurus.

"Kazune-kun?!" mereka meneriakkan namaku serempak dan akhirnya mereka saling cepat-cepat menghampiriku.

Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku beberapa kali dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan padaku. Namun, salah satu dari mereka, menanyakan hal yang begitu menarik perhatianku, atau mungkin lebih tepatnya informasi baru untukku, karena Jin yang tiba-tiba muncul dan bertanya dengan tatapan dingin, sangat dingin bila bisa dibilang.

"Kau sudah bertemu dengan Hanazono-san huh?" dengan seketika keheningan pun merambat dan membuat kelas yang tadinya ramai menjadi sunyi.

Aku sendiri yang mendapat pertanyaan itu langsung menjawabnya, "Aku baru bertemu dengannya sekali pada saat di rumah sakit, setelah itu aku tidak di perbolehkan lagi untuk melihatnya," aku menjawab sembari menghampiri Jin yang berada di depan kelasku.

Jin masih memasang wajah dinginnya, entah mengapa tapi firasatku berkata ada sesuatu yang ingin ia bicarakan denganku. Hanya berdua.

"Ya benar, aku ingin kau menjawab itu. Tapi apakah kau sudah melihat Hanazono-san hari ini huh? Atau Kira-kun?" ia bertanya sekali lagi dengan nada memojokkanku, meskipun aku tidak mengerti apa yang sedang ia rencanakan, tapi aku menjawabnya kembali.

"Belum," jawabku singkat membuat Jin tersenyum kecil namun mengandung banyak arti. Ia melipatkan kedua tangannya di depan dada lalu mendekatiku. Ternyata bukan hanya melipatkan kedua tangannya saja, ternyata ia mengambil handphonenya. Dengan cepat ia menekan tombol dan segera memperlihatkan sesuatu padaku.

"Baca ini baik-baik, kau akan mengerti mengapa aku bertanya seperti tadi," nada sinis ia lontarkan dan aku segera membaca SMS yang ia perlihatkan.

From: Kira Hanazono

Jin, aku tidak akan masuk sekolah untuk seminggu ini. Selama seminggu ini aku tidak ada, aku mohon tolong jaga Karin-chan, aku tidak bisa memperhatikannya di sekolah, beritahu SMS ini pada Kazune-kun, dan temannya yang lain.

Ah iya, mungkin kalian tidak akan mengenali Karin-chan yang sekarang, aku sendiri tidak tahu harus bagaimana untuk menjelaskannya, tapi kalian bisa bertemu dengannya di atap sekolah setiap sebelum masuk sekolah dan setelah selesai sekolah, atau saat istirahat di perpustakaan.

Bila ada apa-apa dengan Karin-chan kau bisa menghubungiku kapan saja.

Setelah selesai membaca SMS yang cukup panjang dari Kira, aku sedikit mengerti apa yang dimaksud dari SMS tersebut, tapi yang menjadi pikiranku adalah, mengapa Kira tidak dapat masuk sekolah? Mengapa Karin harus di jaga?

"Aku sedikit tidak mengerti pada bagian 'kita harus menjaga Karin-san', memang ada apa dengannya sampai ia bersikeras untuk meminta pertolongan kita? Karin-san bukanlah anak kecil lagi yang perlu di jaga seperti di taman kanak-kanak, bukan?" ujarku sedikit bercanda agar suasana di sekitarku tidak terlalu tegang.

Sebelum Jin menjawab, aku bisa merasakan sapaan tangan di bahu kananku, dan itu membuatku memutar badan dan menatap mereka di belakangku. Himeka, Miyon, Michi, dan Yuuki, semuanya menatapku dengan wajah sendu. Aku pun semakin heran dengan situasi yang begitu mendebarkan, untukku.

"Umh, Jin-kun. Lebih baik kita pergi ke atap saja, sebelum bel masuk sekolah berbunyi, kita masih mempunyai banyak waktu," ujar Himeka pada Jin seperti meminta ijin. Aku hanya bisa terdiam, menatap mereka yang kini mengajakku untuk pergi ke atap sekolah, dan kupikir kami akan pergi menemui Karin di sana.

.


Sampai di atap sekolah, pertama yang kucari dari lantai yang begitu lapang itu adalah sosok Karin, dan aku hanya menemukan seorang gadis dengan rambut tergerai dan terhembuskan oleh angin di ujung atap dari pintu tempat kami berada kini. Karena tidak ada ide harus melakukan apa, aku menatap mereka satu persatu, tapi mereka mengisyaratkanku untuk mendekatinya dan menyapanya, dan aku pun menuruti perintah mereka itu. Kupikir gadis itu adalah Karin, tapi bila dilihat dari ciri-cirinya, ia tidak terlihat seperti Karin yang biasanya. Namun aku tetap berjalan perlahan untuk menyapa Karin yang sedang menghadap ke arah luar sekolah, dan ia pasti tidak menyadari adanya kedatanganku ini.

"Karin-san?" kupanggil namanya untuk mengalihkan perhatiannya dari pemandangan luar sekolah. Namun tidak berhasil, lantas aku menepuk pundaknya pelan, dan berdiri di sampingnya. Di saat yang bersamaan, ia terkejut, dan menatapku seolah-olah aku ini orang jahat. Ia menatapku dengan mata yang membulat besar. Aku pun ikut terkejut pada saat melihat reaksinya yang begitu hebat. Ia bergeser dari tempatnya beberapa langkah menjauhiku dan masih dengan tatapan yang sama.

Kali ini aku bisa melihat gadis di hadapanku ini. Gadis dengan rambut blonde coklat, wajah pucat pasi, mata emarld yang biasanya terlihat cerah dengan pancaran kehidupan, kini... redup dengan kekosongan di matanya, tidak terlihat cahaya kehidupan, tidak terlihat binaran indah dari mata emarldnya.

"Karin-san? Ada apa denganmu? Apa kau sudah diperbolehkan untuk masuk sekolah? Tapi wajahmu masih terlihat pucat, dan dimana Kira?" tanyaku bertubi-tubi pada Karin, pertanyaan itu pun sebenarnya hanya untuk membuat mereka yang di belakangku bahagia, bukan dari diriku langsung.

Tapi yang kudapat hanyalah tatapan yang sama tanpa sepatah kata apapun yang keluar dari mulutnya. Tidak terlihat respon sama sekali pada pertanyaanku tadi, seakan ia tidak mendengar pertanyaanku semua. Tidak lama aku menunggu jawaban, ia memalingkan wajahnya lalu berjalan menjauhiku dan berhenti di tempat lain. Ia kembali diam dan menatap lurus ke luar sekolah.

"Itulah yang terjadi padanya. Sekarang kau sudah mengerti kenapa Kira menyuruh kita untuk menjaganya?" tanya Jin bersama teman-teman yang lain di belakangku. Aku hanya diam, terkejut dengan perubahan sifatnya yang begitu drastis. Memang benar ia selalu mengaggapku musuh, tetapi responnya saat itu sangatlah berbeda.

"Hahh, yasudahlah, toh dia juga selalu marah padaku," jawabku santai seperti biasa. Aku sudah berniat untuk kembali ke kelas, namun aku bisa merasakan tatapan mereka yang semakin tajam padaku.

"A-ah, iya, baiklah. Lalu apa yang harus kita lakukan? Ia tidak mau menjawabku," kembali kujawab tatapan mereka, dan aku pun hanya dapat melihat sosok Karin yang begitu down.

"Bagaimana kalau tanya sekali lagi?" pinta Miyon dengan memelas. Tapi itu hanya membuat kami menggelengkan kepala beberapa kali.

"Sepertinya hasilnya akan sama saja."

Kami semua diam, memikirkan cara untuk membuat Karin berbicara dengan kami. Tapi setelah kupikir-pikir, tidak ada salahnya bila aku mencoba bertanya padanya sekali lagi. Maka aku segera menghampirinya lagi dan diam disampingnya, lagi. Pertamanya aku hanya melirik pada Karin, lambat laun aku menghadap kepada Karin sepenuhnya. Aku memikirkan apa yang harus kukatakan pada Karin agar ia menjawabku dan satu-satunya yang terlintas di benakku hanyalah itu.

"Mungkin yang kau harapkan adalah Kira yang sedang berbicara denganmu sekarang ini bukan? Tapi maaf saja, aku bukanlah Kira. Aku tidak bisa berubah menjadi dirinya," aku kembali memalingkan wajahku pada pemandangan yang ternyata indah bila dilihat dengan seksama. Tidak semenit berlalu, aku bisa mendengar Karin melangkahkan kakinya kembali menjauh, aku pun menghela nafas dengan usahaku yang sia-sia, namun sebelum aku kembali pada teman-teman yang lain, aku terhenti.

"Jangan hanya karena kau sedikit tahu tentang diriku, kau bisa mencampuri urusanku," sepatah kalimat pun terucapkan oleh Karin, kalimat penuh teka-teki, dan itu membuat kami terkejut. Sudah lagi, aku yang menjadi sasarannya pun merasa sedikit tidak enak setelah mendengar celaannya, karena hanya aku yang baru tentang keadaan Karin saat di rumah sakit.

Karin berjalan melewati yang lain tanpa menatap mereka, melirik pun tidak ia lakukan.

.


[Normal POV]

Menit demi menit terasa begitu lama, suasana di kelas X-1 berubah sejak perubahan sikap pada salah satu jenius kelas mereka, Karin. Meskipun begitu, Karin selalu menjawab pertanyaan yang guru berikan pada murid-murid di kelas itu. Seakan ia berusaha keras menjawab tanpa didahului oleh orang lain. Sedangkan Kazune dan yang lainnya hanya bisa diam, tidak bisa berkata apa-apa, karena meskipun mereka bertanya atau berbicara pada Karin, mereka tidak akan mendapatkan jawaban apa-apa.

Sensei datang dan memberitahu bahwa pemilihan raja atau ratu sekolah akan segera dilaksanakan pada minggu ini, di malam minggu dan pada saat festival sekolah.

"Hah?! Yang benar saja?!" teriak salah satu murid di kelas. "Ye! Akhirnya festival sekolah diadakan juga!" murid perempuan pun ricuh dengan berita menggembirakan itu. Kazune, dan teman-temannya yang lain pun hanya bisa diam, bukannya tidak senang, tetapi hanya khawatir bila terjadi sesuatu pada Karin saat mendengar berita tersebut.

"Baiklah, persyaratan untuk menjadi calon Ratu atau Raja akan saya sebutkan. Pertama, mempunyai nilai rata-rata rapot di atas 90. Kedua, mempunyai afektif A di semua mata pelajaran. Ketiga dan yang paling penting, harus mempunyai sosialisasi yang baik terhadap teman atau guru, beretika baik, dan menaati peraturan sekolah," jelas Sensei pada murid kelasnya.

Tentu saja respon yang di dapat Sensei adalah keluhan. "Yah! Kalau begitu sih kecil harapan untuk anak yang biasa-biasa," ujar salah satu teman di kelas itu. Mendengar keluhannya yang seperti anak kecil itu membuat sekelas tertawa.

"Hahaha, iya. Tapi kalian juga seharusnya yang belajar untuk meraih gelar itu. Di kelas ini sudah ada Hanazono-san dan Kujyo-kun yang dapat mencalonkan sebagai Raja atau Ratu. Kalian seharusnya bangga pada mereka dan ikuti jejak mereka," ujar Sensei menasehati anak muridnya.

Kazune yang penasaran dengan reaksi Karin pada saat disebut namanya langsung menatap ke bangku Karin yang tepatnya berada di samping kirinya.

'Heh, raut wajahnya sama saja seperti tadi, rugi aku mengkhawatirkannya,' batin Kazune sembari menghela nafas panjang. Namu tanpa ia sadari, sesuatu sedang terjadi dalam batin Karin sendiri..

.

.

Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Setelah membereskan barang-barang, aku segera pergi menuju loker sekolah tidak bersama-sama dengan temanku yang biasa pulang bersama. Kupikir, paling kita akan bertemu lagi di depan sekolah nanti. Seiring berjalan menuju loker, aku melewati sekumpulan gadis-gadis yang sejak aku keluar kelas memperhatikanku dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Kyaa~ Kujyo-kun melihatku!" "Bukan! Dia memperhatian aku~" "Kau itu jangan gr, dia itu tertarik olehku~" "Tidak! Kujyo-kun melihatku!" "Bukan! Dia yang melihatku!" "Tidak!"

Dan telingaku seakan dibuat mekar oleh ocehan mereka.

'Andai saja aku membawa plester... akan kututup mulut mereka satu per satu...'

Akhirnya aku hiraukan mereka dan melanjutkan jalan menuju lokerku.

Tanpa sengaja aku melihat sosok Karin di hadapanku sedang berlari terburu-buru, atau mungkin itu hanya hayalanku saja? 'Haa, peduli apa aku dengannya?'

Sampai di depan loker, aku mendengar desas-desus di sekelilingku, mereka membicarakan sesuatu, dan yang kudengar mereka membicarakan seseorang.

"Benarkah?! Kasihan sekali ya, siapa yang berani melakukan hal itu padanya?" tanya seorang gadis di sampingku. Aku hanya diam mendengarkan sembari meletakkan bukuku yang tidak akan kubawa pulang.

"Iya benar, pakaianya basah kuyup semua. Yang kutahu mereka itu dari kelas yang terkenal itu, X-12. Jahat sekali mereka," ujarnya sembari berjalan pergi meninggalkan lokernya.

Aku terdiam, mendengar mereka membicarakan seseorang yang basah kuyup, kupikir gadis-gadis X-12 melakukan hal aneh lagi pada salah satu murid di sini.

"Hey bro, sedang apa kau disini diam saja?" tanya seseorang di belakangku. Aku pun segera melirik orang itu dan mendapatkan sekelompok teman-temanku yang biasa pulang bersama, Michi, Yuuki, Miyon, dan Himeka.

"Apa harus kujawab pertanyaan bodohmu itu? Kau lihat kan aku sedang meletakkan bukuku di loker," jawabku seperti biasa, dingin.

"Aww~ Kazune-kun, kejam sekali kau haha. Ah iya, apa kau dengar desas-desus yang baru saja terjadi? Aku hanya dengar sepintas ada yang di bully oleh gadis-gadis kelas X-12," ujar Himeka dengan gayanya yang sedang berpikir. Di lanjut oleh Miyon mereka langsung saja membicarakan tentang gosip itu. Aku tidak menjawabnya dan langsung saja pergi ke luar sekolah diikuti mereka.

Tepat di depan gerbang sekolah, aku melihat genangan air yang entah darimana asalnya karena tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba saja ada.

"Ah sepertinya yang mereka bicarakan itu benar, ada seseorang yang diguyur, tepat di depan sekolah," ujar Yuuki sembari melihat genangan air tersebut. Himeka dan Miyon memasang raut wajah prihatin, sedangkan Michi melihat sekeliling.

"Daripada memikirkan itu, lebih baik kita pergi ke toko es krim di dekat taman yang baru dibuka, bagaimana? Ada yang ikut bersamaku?!" dengan wajahnya yang bersinar-sinar, Michi menawarkan untuk pergi bersama ke toko es krim itu.

"Aku ikut!" Himeka mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan senyum tebar pesonanya. "Aku juga!" Miyon melompat dan mengacungkan tangannya ke atas seperti Himeka.

"Yahh, bila Himeka pergi, aku juga pergi," ujarku santai. Yuuki yang disampingku pun menggangguk setuju karena ia pun pulang bersama Miyon.

"Baiklah, kita pergi sekarang!"

.

.

.

Lama kami berjalan menuju toko es krim tersebut, sebelumnya kami melewati taman kecil dahulu, disana biasa terlihat sepi dan sejuk karena pohon-pohon dengan dedaunan yang lebat berada di sekelilingnya. Tentu saja, biasanya terdapat beberapa hewan kecil seperti tupai yang berkeliaran di sekitar taman itu.

"Kyaaa~ Ada tupai kecil~ Tupai kecil~ Tupai kemarii~!" baru saja kupikirkan hal itu sudah terjadi lagi. Ya benar, Himeka pecinta hewan kini berlari mengejar-ngejar tupai malang itu menuju taman.

"Hey Himeka-chan! Jadi membeli es krim tidak?!" tanyaku atau lebih tepatnya berteriak memanggilnya. Himeka menghiraukanku dan berlari begitu saja menangkap tupai itu ke taman.

"Hahaha dasar Himeka-chan! Baiklah, bagaimana kalau para lelaki saja yang membelikan kami es krim? Aku akan menunggu di taman bersama Himeka, bagaimana?" tawar Miyon dengan senyuman khasnya.

"Hmm, baiklah, kalau begitu hari ini akan kutraktir kalian es krim!" seru Michi dengan bersemangat dan dengan cepat ia menarikku dan Yuuki bersamanya ke toko es krim baru itu.

.

.


[Himeka POV]

Akhirnya setelah berlari kesana kemari mengejar tupai kecil itu, aku mendapatkannya di semak-semak rumput yang lumayan lebat. Tupai itu tidak terlalu liar, ia bisa dielus, tetapi ia sedikit takut bila aku angkat pada pangkuanku.

"Ssshh tenang saja~ Aku tidak akan menyakitimu tupai kecil~" ujarku pada tupai kecil itu, meskipun aku tahu bahwa tupai itu pun tidak mengerti apa yang aku katakan.

"Himeka-chan? Apa kau disana?" seru seseorang dari arah belakangku, ternyata Miyon mencari-cariku. Dengan segera aku menghampirinya sembari membawa tupai kecil itu di pangkuan tanganku.

"Lihat Miyon-chan! Tupai ini lucu sekali~" seruku sembari memperlihatkan tupai di tanganku ini. Miyon pun hanya tertawa kecil melihat tupai itu, lantas ia mengelusnya.

"Ah tupai ini jinak ya, ia bisa dielus!" seru Miyon smeakin gemas dengan tupai itu. Lantas aku mengingat kembali tujuan kita pergi kesini untuk apa.

"Benar juga, dimana Kazune-kun dan yang lainnya?" tanyaku pada Miyon yang kini sedang asik bermain dengan tupai kecil itu. Setelah mendengar pertanyaanku ia menatapku dan tersenyum kemenangan. Tentu saja aku bingung apa yang ia maksud.

"Michi-kun mentraktir kita semua loh~ Jadi kita hanya perlu menunggu disini! Ah bagaimana kalau kita mencari tempat duduk? Aku lelah setelah berjalan sedari tadi," ujar Miyon sembari melihat sekeliling taman mencari bangku taman yang kosong.

Aku pun ikut membantunya melihat sekeliling. Tidak perlu waktu lama, aku mendengar Miyon berseru kembali. "Ah disana saja bagaimana?!" serunya sembari menunjukkan bangku kosong di dekat air mancur taman. Aku hanya mengangguk setuju lalu pergi ke bangku kosong itu bersama Miyon.

Tepat sesaat aku melihat keadaan sekitar air mancur itu, aku melihat couple yang juga sedang duduk di dekatnya, aku tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas karena terhalang oleh air mancur, dan memang terlalu jauh untuk melihatnya. Aku pun langsung memberitahu Miyon yang sedang kulihat saat ini, karena perempuannya itu memakai seragam sekolah kita, sedangkan pemuda di sampingnya memakai pakaian bebas.

"Hey hey, itu murid sekolah kita bukan? Seragamnya sama dengan seragam kita," ujarku pada Miyon membuatnya memperhatikan couple itu juga. Tidak lama setelah Miyon melihatnya, ia pun segera menjawabku.

"Ehh iya benar juga, lalu pemuda itu siapa ya? Ia tidak memakai seragam sekolah," ujarnya bertanya-tanya. Selintas aku mempunyai ide menarik. Dengan segera aku pun menatap Miyon tajam, dan ternyata Miyon pun menatapku tajam, bisa terlihat bahwa kami memiliki pikiran yang sama. Mata kami pun bersinar-sinar sampai terlihat bintang bertebaran.

Tidak perlu waktu lama, dengan serentak kami berseru..

"Kita cari tahu!"

.

[Kazune POV]

"Tadi mereka pergi ke taman ya? Kalau begitu ayo, sebelum es ini mencair semua," ujarku sembari membawakan es krim milik Himeka. Michi dan Yuuki pun setuju denganku dan segera menyusulku kembali ke taman.

"Ah oke. Eh sebentar—"

Dugh!

Terdengar suara benturan di belakangku dan diikuti dengan suara "Ow!" dan "Kyaa!"

Sesaat aku melirik mereka yang berada di belakangku, aku melihat sesosok gadis yang terjatuh dihadapan Yuuki.

"Uhh maaf maaf, aku sedang terburu-buru! Maafkan aku sekali lagi!" ujar sang gadis merasa bersalah. Aku hanya diam memperhatikan Yuuki yang juga merasa bersalah.

"Eh tidak, tidak apa-apa. Tidak usah meminta maaf," pintanya pada gadis yang bila kulihat secara seksama, aku merasa mengenalnya.

"Ah kau itu, yang tadi pagi bukan?" celotehku dengan spontan. Michi dan Yuuki pun melihatku dengan bingung. Akhirnya aku mengingat gadis itu, gadis itu adalah gadis yang bertabrakan dengan Himeka tadi pagi.

"Oh! Kau itu temannya yang tadi pagi itu ya?!" tanyanya dengan terkejut. Michi dan Yuuki pun hanya bisa terdiam bingung dengan pembicaraan ini.

"Ya, begitulah," jawabku biasa dan ia pun hanya ber oh ria mendengar jawabanku yang singkat. Sejenak aku perhatikan ia membawa handuk kecil di tangannya dan sepertinya ia sedang terburu-buru sampai ia menabrak Yuuki tadi.

"Ah iya! Maafkan aku, aku harus pergi sekarang! Sampai bertemu lagi!" serunya sembari berlari kembali ke arah taman yang kami tuju juga. Kami disini hanya diam memperhatikannya dari belakang. Namun Michi membuyarkan keheningan kami ini dengan mengajak kami untuk segera pergi ke taman.

.

.


Sampai di taman, aku mencari Himeka dan Miyon yang sudah dahulu berada di taman ini. Michi dan Yuuki ikut membantuku mencari melihat sekitar, dan akhirnya aku temukan mereka di dekat air mancur.

"Itu mereka bukan? Ayo kita hampiri mereka," ujarku membuat Michi dan Yuuki mengangguk setuju. Kami berjalan menghampiri mereka yang sedang beraktifitas seperti.. uh mengendap-endap? Karena mereka sedang bersembunyi di balik air mancur yang besar itu. Kami terheran-heran melihat tingkah mereka dan segera bertanya pada mereka.

"Apa yang kalian lakukan disini?" tanyaku membuat mereka tersontak dan menghadap kami. Himeka dan Miyon saling bertatapan dengan cemas. Gerak-gerik mereka pun seperti yang terpegoki. Karena penasaran Yuuki berniat untuk melihat siapa yang mereka perhatikan itu, lalu memberikan es krimnya pada Miyon untuk dipegangi.

"Ada apa sih disana? Sepertinya kalian sedang menguntit seseorang," ujar Yuuki sembari berjalan ke samping air mancur itu untuk melihat siapa yang mereka lihat. "E-EH Yuuki-kun! Sebentar!" seru Miyon sedikit berteriak mencegah Yuuki. Aku dan Michi saling menatap heran. Sedangkan Himeka kini pun melihat ke balik air mancur itu dengan cemas.

"BUKANNYA ITU—"

Greb!

Dengan sigap Miyon dan Himeka membungkam mulut Yuuki dan segera menggusurnya(?) ke tempat kami ini.

"Shhss! Kau sudah tahu kan kita sedang menguntit! Jangan gagalkan rencana kami!" bentak Himeka dan Miyon bersamaan. Yuuki yang dibentak pun ciut menghadapi mereka dan seperti kucing kecil ia menunduk menyesal.

"M-Maafkan aku. Aku hanya terkejut karena gadis yang tadi menabrakku sedang bersama Karin-san dan Kira-kun," ujar Yuuki membuatku dan Michi terkejut. Kini kami tahu apa yang sedang mereka lihat disana, sepertinya disana ada Karin dan gadis yang menabrak Yuuki tadi.

"Kau lihat kan pakaian Karin-chan yang basah kuyup? Sepertinya yang dikerjai oleh kelas X-12 itu adalah Karin-chan. Aku ingin menghampirinya, tapi kulihat mereka sedang berbicara serius," dengan nada sedih Himeka menundukkan kepalanya.

"Iya! Aku juga ingin bertanya kenapa Karin-chan bisa dibully oleh mereka? Padahal aku tidak pernah melihat Karin-chan berurusan dengan mereka," ujar Miyon menegaskan. Rupanya Karin tidak pernah menceritakan soal itu pada mereka?

"Kalian tidak pernah diberitahu olehnya? Aku kira kalian sudah menyadarinya saat Karin-san datang dengan penampilan yang berbeda pagi ini." Dengan santai aku membicarakan hal itu pada mereka. Tentu saja mereka terkejut.

"J-Jadi Kazune-kun sudah tahu?!" seru mereka bersamaan. Aku hanya mengangguk kecil, sedikit sombong dengan hal itu.

"Wah tidak kusangka ternyata rival bisa juga ya perhatian,"celoteh Michi di sampingku, tanpa ragu aku menginjakkan kakiku pada kakinya. "Gah! I-Iya aku salah! Aku salah!" pekik Michi sembari memegangi kakinya yang kuiinjak. Aku memalingkan wajahku dan menghadap serius pada Himeka dan Miyon.

Setelah itu kami berencana untuk mendekati mereka, namun sebelum itu semua terjadi,

Ting!

Tiba-tiba saja aku melihat sosok gadis lain yang berdiri di depanku ini selain Himeka dan Miyon. 'Eh? Tunggu, perasaan aku tadi melihat ada 3 orang? Atau salah lihat? Tapi kan—' Sepertinya Himeka dan Miyon tidak menyadari hal ini, karena gadis itu berada sedikit di belakang mereka dengan rambutnya yang agak panjang menutupi bagian wajahnya, ia menunduk, dan tak tahu mengapa aku merasakan hawa dingin di sekitarku.. atau halusinasiku saja?! Karena gadis itu muncul tiba-tiba!

.

"U-Umh, daripada kalian disini mengendap-endap,

lebih baik kalian bergabung dengan kami, bagaimana?

.

.

.

~To be continue~

~RnR~


a/n: wahh selesai~ maaf di chapter ini Karin tidak terlalu banyak muncul ya, apalagi point of view Karin saja tidak ada, mohon maaf~