Naruto © Masashi Kishimoto

Maydaysignal © White Apple Clock

Elements © EXO's Song: Mama

Rate: T

Chapter: 6, The Reason Behind The Dark[Last Chapter]

Genre: Supernatural, Sci-Fi

Main Character: Temari, Nara Shikamaru, Hyuuga Neji, Haruno Sakura Slight!ShikaTema

Warning:AU, OoC, typo, gaje, dll.

DLDR!


Temari's PoV

Suasana pagi yang cerah mampu membangkitkan semangatku yang perlahan mulai ceria. Aku melangkahkan kaki dengan riang, menapaki aspal trotoar sembari bersenandung asal. Kedua tanganku penuh menggendong paper bag berisi barang belanjaan yang kubeli beberapa menit lalu di supermarket dekat sini. Tampak roti, daun bawang, beberapa buah tomat, dan segala macam sayuran menyembul malu pada ujung paper bag–hampir terisi penuh dan ini berat sekali.

Langkah demi langkah mulai terasa berat. Pegal mendera lengan yang sedari tadi masih menggendong dua paper bag yang terisi penuh. Peluh juga bersiap untuk meluncur di balik helaian rambut emasku yang bersinar diterpa sinar Mentari. Ugh, paper bag sialan ini semakin lama semakin terasa berat.

Sial, jaraknya masih jauh.

"Hah, sudahlah. Aku sepertinya tidak sanggup lagi untuk berjalan."

POOF!

Aku bergerak melintasi dimensi ruang dan waktu demi menggapai jarak apartemen Sakura yang lumayan jauh dari supermarket. Yah, sebenarnya tidak jauh jika aku tidak belanja sebanyak ini–oh, maksudku, aku tidak menyangka akan sebanyak dan seberat ini! Ya ampun, aku hanya menuliskan beberapa bahan yang perlu kubeli untuk memasak di apartemen gadis keturunan Haruno itu. Dengan alasan, aku ingin menyambut kepulangannya dari Rumah Sakit. Terlebih, ini weekend. Aku ingin istirahat dan menikmati waktu bersama temanku.

POOF!

Kini dengan jarak kurang dari satu meter aku telah berhadapan dengan pintu besi hitam elegan. Sejenak tanganku melepaskan satu paper bag dan merogoh saku hotpants jeans yang tenggelam dalam besarnya kemeja kotak-kotak pink yang kukenakan. Jari ini dengan luwesnya menekan beberapa angka meskipun dengan satu tangan. Diakhiri dengan tombol hijau dan saatnya menunggu panggilanku disahut oleh seseorang di seberang sana.

"Moshi-moshi, Temari-chan. Ada apa?"

Aku tersenyum ceria meskipun aku tahu yang di sana tak dapat melihatnya. "Buka pintu apartemenmu, Sakura-chan," kemudian di akhiri dengan tawa kecil.

"Astaga, ada apa kau kemari?" tanya Sakura. Disusul dengan suara langkah kaki yang membuatku semakin tersenyum senang.

CKLEK!

–"Peluk aku, Sakura-chan. Aku merindukan kepulanganmu dari Rumah Sakit!"

Masih dengan sebuah senyum yang terpatri cerah di wajah, Sakura memelukku dengan erat. Mengabaikan paper bag yang menghalangi pelukan kami. We don't care. Yang penting aku bisa melepas kerinduanku dengan si Cherry ini.

"Kemana saja kau selama ini, huh?" Sakura meninju bahuku pelan, kemudian menuntunku untuk masuk ke dalam apartemennya.

"Direktur sialan itu terus mencekokiku dengan tugas-tugas ringan yang selalu menyita waktuku. Kau tahu, bahkan aku tak bisa belajar di rumah untuk mengejar ketinggalanku," cerocosku dengan satu napas. Langkah demi langkah menuntunku pada sebuah mini bar di area dapur. Dua paper bag itu kini telah berdiri tegak di sebelah deretan gelas kosong.

Sakura tertawa, tangannya meraih sebuah gelas dan mengisinya dengan sepertiga gelas itu dengan air. "Minumlah. Kau terlihat lelah sekali. Jangan lupa untuk bernapas, Temari-chan."

Aku meneguknya hingga tandas. Dilanjutkan dengan tarikan dan buangan napas beberapa kali hingga aku mendapat ketenanganku kembali. Teal-ku menyusuri setiap sudut ruangan ini. Gosh, look. Minimalis. Dengan cat putih di setiap dinding dan beberapa vas bunga di beberapa tempat. Aku tak menyangka si Haruno ini mendapat apartemen yang begitu ekslusif.

"Jangan terlalu kagum, orang tuaku yang menanggung uang sewanya. Tugasku cukup memelihara dan menjaga ini." Seakan bisa membaca pikiranku, aku hanya mendecih pelan. Kemudian tertawa menunjukkan bahwa decihanku tadi tidak perlu dianggap serius.

"Well, siapa yang mengantarmu pulang?" tanyaku. Kini aku mulai berpindah pada dapur. Mengeluarkan sayur-sayuran dari paper bag-paper bag ini.

"Menurutmu siapa lagi kalau bukan Sasuke-kun?" Sakura melempar pertanyaan balik. Kini dirinya telah berdiri di sampingku dengan sebilah pisau dan sebuah papan potong.

Seketika kepala emasku menoleh dan mendelik tak percaya. "Wow. Kemana saja aku selama dua bulan ini? Dan apa-apaan itu? Sasuke-kun? Girl, you gotta be kidding me. Aku masih ingat dengan jelas dua bulan yang lalu kau memanggilnya dengan 'si Uchiha' sebagai panggilan," racauku. "Bersihkan dulu kentangnya, Sakura-chan."

"Yah, sejak Shikamaru-senpai menikmati masa hukumannya kau menghilang entah kemana. Kau bahkan pindah sekolah. Pantas saja kau kudet dengan perkembanganku," desis Sakura. Tangannya lihai membersihkan kulit kentang dengan sabut. Sementara itu aku mendengar dengan jelas satu helaan napas lolos dari bibirnya.

"Hei, kau tak menganggap percakapan-percakapan kita di messanger?" Aku membela diriku sendiri. Namun disambut dengan rolling eyes Sakura.

"Apa-apaan aku membalas pesanmu pada pagi hari dan kau balas lagi saat keesokan harinya. Aku tak suka menceritakan peristiwa yang sudah basi."

Suasana mendadak hening dan canggung. Aku masih sibuk dengan kegiatanku sendiri–juga Sakura. Rencananya hari ini aku ingin memasak Beef Greenow Barbeque Sauce. Hanya suara dua pisau yang saling memotong brokoli dan kentang yang menjadi pengisi kekosongan. Hingga saat aku hendak mengiris daging, topik pembicaraan mulai terangkat kembali demi mengusir keheningan yang tak kusuka ini.

"Sebenarnya aku tak hanya pindah sekolah, Sakura-chan."

"Maksudmu?"

"Aku juga pindah apartemen–lebih tepatnya menjaga sebuah rumah. Menempatinya untuk sementara."

Sakura menghentikan aktivitasnya. Zamrud bening miliknya menatapku penuh tanya. "Ke mana?"

"Uhm, ke rumah Shikamaru-senpai," lirihku sebagai jawaban.

Potongan kentang itu kini telah direndam dalam sebaskom air garam. Posisi Sakura sudah berubah. Menghadapku yang masih asyik mengiris daging. "Untuk apa?"

"Yah, dia meminta tolong sesuatu padaku."

PLUNG!

Potongan-potongan brokoli segar berlomba-lomba melompat ke kolam air garam. Disusul dengan irisan daging yang kulumuri dengan garam, merica, dan perasan limau di tempat yang berbeda. "Ada pertanyaan lagi, Nona Sakura?"

Tawa lepas kembali menggema menyambutku yang telah berkacak pinggang. "Ya Tuhan, aku hanya penasaran, Temari-chan! Aku sudah lama tidak bertemu si Tua Nanas itu."

"Dia memintaku untuk menjaga Sunny dan Wolfie. Dan aku berencana untuk membesuknya hari ini." Teal-ku menelusuri paper bag mencari setoples kecil pasta barbeque. "Kau mau ikut?"

Kepala bubble gum itu menggeleng kecewa. "I'd love to. Tapi, aku ingin menjemput orang tuaku di bandara. Titip salamku padanya, Temari-chan."

Selanjutnya hanya gurauan-gurauan ringan yang mengiringi acara memasak kami sepanjang hari ini hingga sore nanti.

.

Sore menjelang. Garis jingga menghantar kepergian Mentari menuju peraduannya di sebelah barat. Gugusan awan melambat seakan masih betah tak mau beranjak dari cakrawala. Dihiasi dengan kawanan burung yang elok bermigrasi membentuk pola segitiga.

Sepasang flatshoes merah berpita berhenti melangkah ketika sebuah gedung–yang membuat orang-orang memunculkan persepsi negatifnya–berada di depan mata. Flatshoes-ku hanya berjarak sekian meter pada sebuah gerbang hitam tinggi. Dengan sebuah buku album merah di gendongan, aku mengeratkan buku tersebut dalam dekapan. Kepalaku menengadah, dengan bola mata yang menatap sendu tulisan di atas gerbang itu.

Konoha's District Prison.

Ini adalah kunjungan pertamaku di bulan September–tepatnya dua bulan setelah keputusan hakim atas hukuman Shikamaru. Dan aku di sini, tak hanya ingin menepati janji. Tapi, juga membebaskan kerinduan yang membelenggu akhir-akhir ini. Tak muluk-muluk, aku ingin melihatnya saja. Mengetahui bagaimana kabarnya. Apakah dia baik-baik saja di sana? Apakah dia di-bully oleh tahanan yang lainnya?

Baru membayangkannya saja membuatku miris. Apalagi mengetahui yang sebenarnya.

"Maaf, untuk keperluan apa Anda di sini?" Seseorang yang berjaga bertanya padaku.

"Untuk membesuk." Aku menekan tombol di jam tangan. Seketika muncul sebuah panel transparan berwarna toska mengudara. "Kau bisa lihat. Anggota inti die Sechs. Kepala Divisi Penyembuhan dan Kesehatan. Name code, Athena."

"Baiklah. Silahkan," petugas itu membuka gerbang, "sebelum itu, mari ikut saya. Ada beberapa prosedur yang harus Anda lakukan."

Setelah melewati beberapa prosedur, akhirnya aku di sini. Duduk diam menunggu seseorang. Sekali lagi aku melirik jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tangan. Dua menit sudah terlewati dengan menunggu. Dan ia tak kunjung datang menghampiri.

Hingga pada tiga menit setelahnya sosok tinggi itu muncul dari balik pintu. Langkahnya berat demi menggapai kursi kosong di hadapanku. Wajah tirusnya menyunggingkan senyuman tipis. Dengan kedua tangan yang terborgol di depan badan kurusnya yang berbalut seragam tahanan.

"Selamat sore, Shika-senpai."

Aku sudah berdiri–bahkan kau mendengar aku sudah menyapanya. Sapaanku di balas gumaman disusul dengan kuapan–ciri khasnya yang pemalas. Suara kursi berderit sebelum ia duduk. Dan di situlah aku mengyunggingkan senyum lebar pertanda senang tiada tara–yang sebenarnya juga kugunakan sebagai topeng mengingat begitu miris melihat kondisinya saat ini.

"Bagaimana kabarmu?" Tanyaku.

"Baik. Bagaimana denganmu?"

"Yah, seperti yang kau lihat."

Hening mulai menghinggap. Secara kontras menimbulkan kepanikan pada diriku sendiri. Pasalnya, aku sedang berusaha keras untuk mencari topik pembicaraan untuk melepas rindu. Tak rela jika keheningan ini merenggut waktu besuk yang terbatas.

Ah, aku teringat sesuatu.

"Hm, aku rasa seorang Ayah pasti merindukan anak-anaknya bukan? Apalagi jika sang Ayah sedang merantau," ujarku dengan senyuman tipis. Sementara Shikamaru mengernyit atas perkataanku yang kuakui cukup membingungkan.

Hei, seharusnya ia tidak bingung. Ke mana predikatnya Si Wikipedia Berjalan?

"Tapi, jangan khawatir. Karena sang Ayah akan segera mengetahui keadaan mereka dari anak buahnya." Aku mengangkat sebuah album merah yang tergeletak di pangkuanku sebelumnya. "Album perkembangan Wolfie dan Sunny–anak-anakmu."

Seketika wajah cerah ceria itu terpancar di wajah pucat Shikamaru. Dengan segera ia memintaku untuk menyerahkan album tersebut padanya. Lembar demi lembar ia buka dengan antusias. Menatap dengan binar kebahagiaan dalam setiap potongan foto polaroid tentang peliharaannya. Membaca sepatah-dua patah kata yang sengaja kutulis dengan tinta warna-warni sebagai caption.

"Mendokusai, kau juga merapikan kamarku? Mencuci semua piringku? Berkebun di halaman rumahku?"

Jejalan pertanyaan darinya diikuti dengan grey yang menatapku sumringah. Aku hanya mengangguk dan tak ingin berkomentar. Tidak mau merusak momen bahagia yang sedang menyelimuti Shikamaru saat ini.

Sampai pada lembaran terakhir, ia enggan menutupunya. Malah tangannya bergerak menggenggam tanganku. Menatapku sendu penuh rasa bersalah.

"Maafkan aku."

Sekarang giliranku yang mengernyit heran, "untuk apa?"

"Semuanya. Die Sechs, teman-temanku, keluargaku,–"

Dia semakin mengeratkan genggamannya. Menatapku lurus dengan mantap.

"–dan kau."

Aku hanya diam. Bermaksud untuk menunggu kalimat selanjutnya yang akan dilontarkan oleh Shikamaru–meskipun aku cukup terkejut mendengarnya.

"Aku bodoh, Temari. Aku bermaksud meninggalkan jabatanku di die Sechs demi balas dendam kematian orangtuaku oleh Black Crows–mafia sialan yang merenggut nyawa mereka. Aku bersumpah, Temari. Hanya membalas dendam. Aku menyusup dengan niat untuk membunuh mereka semua.

"Tapi, entah setan apa yang merasuki diriku. Aku justru terbuai dengan iming-iming yang terus diberikan oleh Direktur Pusat Black Crows. Aku telah hilang jati diriku yang dulu. Bagaikan monster, sekarang aku suka melihat orang-orang sengsara–apalagi yang mati dalam kesengsaraan. Ampuni aku, Kami-sama. Kau bisa ambil semua harta yang kudapatkan dari perbuatan keji itu."

Kepala hitamnya menunduk dalam. Membuat rambutnya yang panjang tak terikat jatuh bebas menutupi raut wajah yang pilu. Menyembunyikan tumpahan air mata yang ebrlomba-lomba jatuh melewati gravitasi. This cry-baby always make me feel sympathy. Perlahan mataku mulai memanas. Hatiku sedikit demi sedikit teriris dengan isak tangisnya yang mulai pecah dan setengah mati untuk ditahan. Tuhan, aku tak menyangka ternyata dia serapuh ini.

"Temari."

Grey-nya yang basah menatapku intens. Tangan kanannya tak lagi menggenggam tanganku –menyeka air mata dan menyusupkan helaian rambutnya di balik daun telinga. Kemudian kembali menggenggamku. Dan kini mengerat seakan ingin harapannya tersalur hanya dengan sebuah sentuhan kulit.

"Ya?" Sakutku. Dengan tatapan yang masih belum lepas darinya.

"Bantu aku untuk memulai semuanya dari awal setelah aku melangkahkan kaki dengan bebas keluar dari sini–"

Aku mengangguk paham.

"–terutama dengan hubungan kita. Kembali seperti dulu."

A-apa?

"Maaf, Nona. Waktu untuk membesuk sudah habis." Seorang pegawai membungkuk sopan di hadapanku dan Shikamaru.

"A-ah, baiklah. Aku akan mengunjungimu dua bulan ke depan, Shika-senpai."

Aku membungkuk sejenak kemudian segera bangkit. Meraih album merah tersebut lalu pergi meninggalkan Shikamaru yang sudah pergi dengan petugas yang mengawalnya untuk kembali ke tahanan.

Sebelum sosok Nanas itu benar-benar menghilang, aku baru teringat sesuatu. "Shika-senpai! Sakura-chan kirim salam padamu!"

Dia berhenti. Dengan tangan membentuk isyarat ok dan senyuman lebar ia membalas teriakanku. Lalu ia benar-benar menghilang setelah pintu tertutup.

Aku masih tersenyum. Meskipun sosok punggung tegap itu sudah tak terlihat lagi di pandangan, tetap saja masih menarik atensiku dalam bayang-bayangnya. Well, mungkin inilah alasannya memintaku untuk membesuk dua bulan sekali selama dua puluh tahun ke depan. Untuk mengetahui situasi sekitarnya bersamaku–yang secara tak langsung membantuku mengobati rasa rindu yang pasti akan menderaku di beberapa waktu kemudian.

PIP!

Jam tanganku berbunyi. Pertanda sebuah pesan khusus masuk. Aku menekan tombol tersebut kemudian terpampang sebuah panel yang mengudara berwarna hijau transparan. Menampilkan sebuah wajah berkharisma dengan rambut perak yang melawan gravitasi.

"Athena. Kepala Divisi Kesehatan dan Penyembuhan. Anggota inti die Sechs. Keyhole dan Unicorn. Siap menerima tugas."

Tangannya yang mulai keriput menekan pelipisnya. Frustasi. "Athena, kembali ke kantor Divisi. Segera."

"Baiklah, Hatake-sama."

PIP!

Tugas sepertinya kembali memanggil. Membuatku mau tak mau harus beranjak dari tempat ini. Setelah keluar dari gedung tersebut, sejenak aku menatap langit. Seakan ingin bercerita kepada hamparan awan putih tentang perasaanku saat ini.

"Bantu aku untuk memulai semuanya dari awal–termasuk hubungan kita. Kembali seperti dulu."

Ada sesuatu yang menjalar dengan hebat saat kalimat itu kembali berputar di ingatan. Ada desiran yang mempercepat laju pembuluh darah–mengkomando untuk mengumpul di pipiku yang memanas. Rasa itu telah kembali. Rasa yang sebenarnya yang tak pernah pergi. Dan selamanya tidak akan pernah pergi.

Aku masih mencintainya–dan aku merasa dia masih mencintaiku.

"Hanya dua puluh tahun. Hanya. Anggap saja dua puluh tahun itu sebentar. Aku yakin waktu pasti tak akan terasa berputar cepat. Aku juga yakin, kerinduanku ini adalah sesuatu yang fana. Karena, pada akhirnya aku akan menjemputmu pulang dengan pelukan hangat. Dengan pertemuan kita yang kekal."


THE END


Bales review non-login:

Guest: Ini udah di-update ya, maaf ga kilat. Thanks for review~!


A/n: Haloo! Apa kabar readers? Akhirnya tamat juga ya, hehe:D Eits, tenang, ntar ada sekuel kok;) Tapi ntaran ya, tunggu ada waktu dulu, huahaha–/digampar/Yosh, mind to review?