Aku bukan yang punya XXX HOLIC. kalo aku yang punya, XXX HOLIC nggak akan pernah tamat, dan genre nya jadi shonen ai
Warning: Yaoi XD
Chapter 6
Red ties
Hari itu adalah pagi hari yang tenang. Kimihiro sedang duduk di beranda, memainkan Shamisen-nya sambil melamun. Saat itu jemarinya terselip, membuat bunyi musiknya menjadi aneh. Ia membeku. "Permainan yang buruk menggambarkan suasana hati yang buruk," komentar Shizuka yang diam-diam menyelinap ke sampingnya, melingkarkan lengannya di pinggang Kimihiro dan menariknya ke atas pangkuannya. Kurogane dan Fai tersenyum melihat pemandangan itu dan Natori mengerang iri. Shiori yang duduk tak jauh dari mereka terkekeh geli.
"APA YANG KAU LAKUKAN?!" seluruh tubuh Kimihiro menegang. Ia membayangkan gunung berapi yang siap meledak.
Tapi Shizuka malah berkata santai sambil menyesap tehnya, "Mainkan lagu yang lain," tahu itu akan mengganggu sang lord. Ia menghitung dalam hati, 1... 2... 3...
"AKU TIDAK MENERIMA PERMINTAAN!"
Binggo.
Shizuka mengamati pipi sang lord yang menjadi merah muda, warna itu menjalar ke telinga dan lehernya. Shizuka mengusap telinga itu. "BERHENTI MENYENTUHKU!"
Shizuka tersenyum miring. Ia suka mengamati Kimihiro. Tapi akhir-akhir ini, keinginannya menyentuhnya, walau hanya sekedar tepukan ringan, usapan atau cubitan semakin besar setiap waktu. Ia akan dengan mudah merindukan keberdaan Kimihiro jika pria itu tak bersamanya. Dan jika bersamanya, tangannya akan otomatis bergerak menyentuhnya, walau ia menyadari itu sama saja dengan cari mati. Shizuka sangat bersyukur dilahirkan dengan pengendalian diri yang kuat. Ia tidak tahu apa yang akan menimpanya seandainya ia menuruti separuh yang ada dipikirannya mengenai Kimihiro.
Shizuka suka mengamati Kimihiro. Terlebih lagi dalam pakaian yang dirancang khusus untuknya. Siang ini ini ia memakai Kimono berwarna hampir merah jambu, dihiasi dengan dua lingkaran, hijau dan kuning di dada dan lengannya. Ia suka saat Kimihiro memakai warna cerah. Ia tampak menawan, dan kulit pucatnya tampak menonjol dalam balutan pakaian-pakaian itu. Shizuka menangkup tangan Kimihiro, kulit gelapnya sangat kontras dengan warna kulit Kimihiro yang bagaikan bulan purnama. Kimihiro melemparkan pandangan bertanya, dan hanya dibalas Shizuka dengan senyum mengejek. Ia senang menganggu sang lord, karena ia bisa melihat semburat warna merah menjalar di pipi, telinga dan lehernya. Bibir sang lord juga tampak atraktif saat ia cemberut seperti itu. Dan saat ia akan melontarkan kemarahan, bibirnya juga membentuk sudut mencabik yang menarik. Shizuka menutup telinganya. "BERHENTI TERSENYUM DENGAN CARA SEPERTI ITU DAN BERHENTI MEMANDANGIKU DENGAN TATAPAN MESUM! JANGAN MENYENTUHKU, JANGAN TIBA-TIBA BICARA DI TELINGAKU DAN JANGAN MELAKUKAN SESUATU YANG ANEH!"
"Tidak mau."
Kimihiro meledak.
Saat Kimihiro sudah tenang, Shizuka berkata, "Ini adalah hari ketujuh. Aku menghawatirkanmu karena kau tampak cemas."
Kimihiro membuka mulutnya sambil memandang Shizuka seakan mencari kebenaran bahwa pria itu khawatir padanya. Bibirnya merapat dan ia tampak sedih. "Ini bukan pertama kalinya aku menghapi masalah yang serupa, kau tak perlu khawatir."
"Aku akan melindungimu."
"Huh," ia tampak kesal, "Bukan hanya aku saja yang terancam nyawanya."
"Apa kau mencemaskanku?"
"Seperti aku bisa mencemaskanmu saja! Kau itu kepala batu!"
"Aku membuatmu khawatir," sambil berkata begitu Shizuka meraih tangan Kimihiro dan mengusapnya dengan bibirnya. Matanya yang emas memaku mata biru yang membelalak menatapnya. Natori berdehem dan Kimihiro mengibaskan tangannya.
"Aku tidak khawatir, bodoh."
Kimihiro memutuskan sia-sia saja melawan Shizuka, ia kembali memainkan Shamisennya di atas pangkuan Shizuka. Pangeran melingkarkan lengannya ke sekeliling perut Kimihiro dan menariknya merapat, ia menyusupkan bibir dan hidungnya ke leher Kimihiro, mencicipi apa yang tersedia di sana. Permainan musik itu berhenti, dan Shizuka menyadari tubuh Kimihiro gemetar dalam sentuhannya.
Ia hanya melirik saat Natori, Kurogane dan Fei yang perlahan meninggalkan mereka. Shiori sudah pergi jauh lebih dulu. Shizuka mempergunakan kesempatan itu untuk mengusap-usapkan tangannya ke paha Kimihiro. Shizuka menurunkan Kimono Kimihiro, "Ah," serunya saat Shizuka menggigit kulit pucat di bahunya.
"BERHENTI MENGIGITKU!"
xxXxx
Terdengar suara kereta kuda berjalan cepat mendekat. Genpachi melompat dan berlari membuka pagar untuk kereta bangsawan yang berderu lewat. Kereta yang di kawal sekumpulan prajurit itu berhenti di halaman depan. Lord Hatori Kagetora turun dari kereta dan bersitatap dengan mereka. Natori dan yang lainnya bergerak merunduk dalam, sedangkan Shizuka menahan Kimihiro beberapa detik lebih lama di pangkuannya, sebelum melepaskan pria itu. Ia melihat mata tajam lord Kagetora berkilat saat melihatnya, dan tatapannya berhenti pada Kimihiro. Ia membelalakkan mata.
"Selamat datang di kediaman sederhana kami, lord Kagetora," sambut Natori.
"Aku memenuhi janjiku untuk berkunjung, Kobe-san," ia mengarahkan ucapannya pada Shizuka, tapi tak melepaskan matanya dari Kimihiro.
"Silakan duduk," kata Kimihiro, "Aku akan membawa makanan," ia beranjak diikuti Nayo dan Saori.
"Dia tampak feminim untuk ukuran seorang pria bukan, Kobe-san."
"Kimihiro pria yang lembut," sahut Shizuka tanpa mengubah ekspresinya.
"Apakah dia kekasihmu? Aku melihatnya duduk di pangkuanmu," tanyanya dengan nada tertarik yang tidak ditutupi.
"Benar."
"Hm..."
Shizuka menangkap pandangan tajam Natori yang tidak senang. Ini adalah bagian dari taktik. Semakin lord Hatori menganggap Kimihiro menarik, semakin mudah ia terjerat dalam jebakan. Dan Kagetora sangat menyukai barang milik orang lain.
Tak lama, Kimihiro kembali bersama dua orang pelayannya sambi membawa set peralatan makan yang sudah diisi penuh.
Kagetora mencicipinya dan berseru, "Sungguh makanan luar biasa!" kepada Nayo ia bertanya, "Siapakah pelayan yang membuat makanan seenak dan seindah ini?"
Kimihiro mengerutkan dahi dan Shizuka menegang.
Nayo menjawab, "Watanuki-sama yang telah memasaknya."
"Kau Watanuki-san?" ia menoleh pada Kimihiro. Shizuka merasakan pria itu perlahan menjauh dari sang lord.
Eskpresinya tidak terbaca saat ia menjawab, "Saya merasa terhormat jika anda menikmatinya, Kagetora-sama."
"Sungguh luar biasa bakat yang kau miliki. Aku juga melihatmu memegang Shamisen sebelumnya, apa kau juga memainkannya?"
"Saya masih belajar." Jika tidak mengenal baik Kimihiro, Shizuka pasti tidak menyangka itu adalah cara Kimihiro untuk menjawab dengan dingin. Biasanya pria itu tampak hangat dan menyenangkan saat bicara, kecuali saat berperan sebagai gunung berapi.
"Watanuki-sama adalah pemain yang handal. Ia cepat belajar," sahut Fai sambil tersenyum.
"OH! Bisakah kau memainkan aku sebuah lagu?"
Kimihiro berdiri dan mengambil Shimasennya. Tangannya gemetar, tapi terbantukan oleh kehadiran Shizuka yang duduk tak jauh di belakangnya, menepelkan lututnya diam-diam di pinggul Kimihiro. Ia mengambil napas untuk menenangkan diri dan mulai bermain.
Kagetora bertepuk tangan keras saat permainan selesai. "Sungguh berbakat. Kau pria yang sangat berbakat, Watanuki-san."
"Terima kasih."
"Kau adalah tuan rumah yang menyenangkan, Watanuki-san. Aku akan senang bisa berkunjung kemari lagi."
Kimihiro merundukkan tubuh.
Menjelang siang, lord Kagetora berpamitan. Kimihiro memandang Shizuka dengan bingung.
"Bencana itu mungkin bukan dari lord Kagetora?"
"Kita akan berjaga-jaga. Hari masih panjang."
Kimihiro mengangguk muram. Shizuka tersenyum, menarik Kimihiro ke arahnya dan memeluknya lembut. "Aku akan menjagamu."
Kimihiro berjuang melepaskan diri dan melompat ke belakang. Shizuka menaikkan kedua alisnya melihat wajah memerah sang lord. "KAU! KAU HANYA MENCARI KESEMPATAN UNTUK MEMPERMALUKANKU!"
"Hnh."
Dari kereta kuda yang berjalan menjauh, lord Kagetora memandang keluar jendela, ke arah Kimihiro dan Shizuka. Ia menjilat bibirnya dan tersenyum, yang seandainya Kimihiro tahu, ia akan jijik melihat cara pria itu tersenyum.
xxXxx
Matahari sudah lama terbenam saat Shizuka meraih Kimihiro dalam pelukannya. Dengan malas Kimihiro protes, "Jangan menyentuhku."
"Hnh."
"Aku bersumpah setelah malam ini, aku akan menendangmu dari kamar dan menikmati bisa tidur di futonku SENDIRIAN!"
"Hnh."
"Tidak bisakah kau bicara dengan normal."
"Kau gelisah." Dagu Shizuka menempel di puncak kepala Kimihiro. "Kau tidak perlu khawatir. Aku pasti akan melindungimu, begitu juga Kurogane, Fai dan Natori. Mereka akan melindungi kita."
"Hitsuzen tidak pernah mengatakan apapun dengan jelas. Aku tidak akan pernah tenang sebelum mengetahui apa yang sebenarnya membahayakanku."
"Hitsuzen tidak hanya tentang hal yang pasti, Kimihiro. Takdir yang sudah di tetapkan tetap memiliki harapan. Kita membuat takdir kita sendiri."
Kimihiro mendengus, "Kau sangat percaya pada harapan."
"Aku percaya pada orang, pada usaha dan harapan manusia untuk membuat hidup menjadi lebih baik. Takdir tidak hanya satu, dan mencapai takdir yang menyakitkan tidak selalu harus melewati jalan yang sulit. Seandainya takdir tidak bisa dihindari, tidak selalu ada penyesalan saat menghadapinya."
Kimihiro membalikkan tubuh menghadap Shizuka, "Tapi kita menghadapi kematian, Shizuka."
"Ramalanmu tidak mengatakan tentang kematian."
"Tapi mungkin berakhir begitu."
"Mungkin."
"Aku mungkin tidak tahu tentang takdirku. Tapi kau sudah jelas, Shizuka. Aku lah yang akan membuatmu terluka. Kau memang bodoh karena tidak membiarkanku pergi!"
"Kalau kau pergi, aku tetap akan mencari cara untuk melindungimu."
Kimihiro tertawa mengejek, "Bagaimana bisa. Kau bahkan tak mengenalku."
"Hitsuzen akan mencari cara supaya aku bisa mengenalmu."
"Omong kosong."
"Kau ada di pelukanku sekarang. Tidak perlu mempertanyakan Hitsuzen."
Suara benda keras menyentak mereka berdua. Lantai di bawah mereka bergetar akibat derapan langkah kaki. Terdengar suara teriakan dan pedang di cabut. Shizuka bangkit. Kimihiro menegang, tak melepaskan genggamannya.
Shizuka memandangnya sekilas, "Tunggu disini," dan berlari pergi.
Kimihiro bangkit. Berdiri sendirian di tengah kamar dengan ketakutan. Sudah terjadi? Apa kami bisa melewatinya?
Tusukan tajam di tengkuknya membawa rasa sakit dan pedih. Tangannya melayang kesana dan mencabut jarum itu. Ia terjatuh dengan lutut lebih dulu, dan seketika tubuhnya limbung, jatuh di atas tatami. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang mulai tak fokus. Ada air mata disana.
Lalu pintu geser menuju beranda terbuka dan sesosok bayangan masuk ke dalam. Pria itu bertubuh besar dan ramping, memakai pakaian hitam, penutup kepala dan wajah yang sama warnanya. Matanya memandangnya dengan kilat berbahaya. Lalu, hanya ada kegelapan.
xxXxx
"Kau menangkapnya?" tanya Shizuka sembari melihat seorang pria yang sedang ditindih di atas tanah oleh Kurogane dan dihunus pedang oleh Natori. Genpachi memandang berang pria itu sambil membawa kayu, Nayo dan Siori memandang ngeri tak jauh dari sana.
"Ya," Natori melepas penutup muka pria itu dan bertanya, "Siapa kau? Apa mau mu? Siapa yang menyuruhmu."
Pria itu menggeleng-gelengkan kepala ketakutan. Air mata merembes deras. Bukan tipikal pembunuh bayaran. Tatapan Natori melayang pada Shizuka sebelum bertanya sekali lagi, "Apa mau mu? Jawab, atau aku akan menusukkan pedang ini ke lehermu!"
"Maafkan saya tuan. Maafkan saya. Saya hanya berniat mencuri beras!"
Natori seketika menghujamkan ketakutan pada Shizuka, "Pencuri tidak punya niat membunuh."
Seketika Shizuka berlari seperti anak panah menuju kamar. Ia menggeser pintu dengan kasar dan menemukan futon mereka kosong. Pintu yang mengarah ke halaman terbuka. Siori terkesiap di sebelahnya, berhambur dalam pelukan Nayo.
"Natori," kata Shizuka saat merasakan pria itu berdiri di belakangnya. Tanpa banyak bicara, Natori mengeluarkan kompas miliknya. Benda itu mengeluarkan sinar dan menerangi ruangan itu. Perlahan cahaya itu menunjukkan jejak-jejak emas dan merah di udara. Kompas itu istimewa, memiliki kemampuan gaib untuk mencari jejak jiwa seseorang, dan jiwa Kimihiro sangat kuat hingga tampak begitu jelas pada udara malam.
"Bagaimana?"
Natori menyipitkan mata, "Warnanya tidak baik. Selain warna jiwa lord Kimihiro yang menggambarkan ketakutan, ada jejak lainnya yang sama kuatnya, membawa teror dan kematian."
"Pangeran," panggil Fai dengan suara mendesak.
Shizuka mendekati Fai yang bersimpu memandang ke arah tatami. Ada setetes darah disana.
"Kita bisa mengikutinya?" katanya pada Natori dengan nada geram. Matanya masih menatap bintik merah disana.
"Bisa, tapi aku sudah bisa menebak kemana, ini akan sulit."
xxXxx
Shizuka ingin sekali mencabut pedang dan lari sekarang juga untuk menyelamatkan Kimihiro. Tapi dia tahu lawannya adalah seorang lord yang tidak bisa sekedar ditusuk dengan pedang. Ia punya kekuasaan yang menjaganya, maka hanya kekuasaan yang bisa menghancurkannya. Shizuka memakai baju formal kenegarannya. Berupa monstuki hitam dan hakama hitam. Pada punggung monstukinya terpasang lambang keluarga istana, berupa lingkaran dengan bunga sakura di tengahnya. Di dadanya tergambar lambang kedudukannya sebagai pangeran kedua kerajaan Yamato.
Ia berderap keluar kamar, dimana Natori sudah menunggunya dengan balutan kimono resmi kepala keamanan istana. Nayo, Saori dan Genpachi seketika menghamburkan diri menyembah dan tidak berani melihatnya saat tahu siapa Shizuka sebenarnya, sambil berseru, "Yang Mulia!"
"Kuda sudah siap," sahut Kurogane.
Pada para pelayannya, Shizuka berkata, "Siapkan obat-obatan. Kita akan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk."
"Baik, Yang Mulia!" seru mereka dalam sembahnya.
Shizuka melompat naik ke kudanya. Melesat dalam sekali sentakan dengan pedang di pinggangnya, siap dicabut.
xxXxx
Kimihiro membuka mata dengan ketakutan. Ia mengamati sekelilingnya, ia berbaring di atas tempat tidur di sebuah kamar mewah dengan ornamen berlebihan gabungan karya seni dari berbagai wilayah kerajaan. Tangan dan kakinya terikat. Belaian di punggungnya menyentaknya dan ia berputar menjauh. Mendapati lord Kagetora memandangnya dengan senyum menjijikkan. Pria itu menjilat bibirnya. Tapi perhatian Kimihiro tidak berada disana, melainkan pada asap hitam pekat yang berkumpul di sekeliling tubuh sang lord.
Ia tersentak dan terisak.
"Ssssttt..." pria itu membelai dadanya, menyusupkan tangannya di balik kimono Kimihiro. "Aku tidak akan menyakitimu."
Kimihiro bergerak menjauh mendorong tangan pria itu sambil menjerit, tapi pria bertubuh lebih besar itu menahannya. Asap hitam seketika menyerang Kimihiro. Ia tersentak, terbatuk dan berusaha mengambil oksigen. Tubuhnya menggulung seperti bola mencoba menahan serangan itu. Air mata mengalir tanpa suara dan tubuhnya gemetaran hebat.
"Kasihan sekali. Kau pasti ketakutan. Tapi aku tak kan menyakitimu," pria itu bergerak di atasnya.
Lord Kagetora memang tidak menyakitinya, tapi asap hitam itu menyakitinya. Kimihiro menjerit kesakitan. Darah menyembur dari mulutnya, matanya membelalak dan berputar ke belakang. Darah merembes dari luka di lengannya akibat sentuhan asap itu, dan tidak berhenti.
Lord Kagetora melompat menjauh ketakutan. Tapi asap hitam itu membesar tak terkendali setelah mencicipi darah Kimihiro. Kini makhluk itu memiliki keinginan sendiri, dan itu adalah memakan Kimihiro.
xxXxx
Shizuka menderap kuda memasuki halaman kediaman lord Kagetora. Pasukan penjaga berusaha menghalanginya, namun Shizuka menghunuskan pedang pada mereka, "Jangan halangi aku." Mengetahui siapa pria di atas kuda itu, para prajuritnya menurunkan senjata dan menyembah ketakutan. Shizuka melompat dari kudanya dan menyerahkan tali kudanya pada Fai sebelum berlari masuk diikuti Kurogane dan Natori. Saat itulah ia mendengar teriakan Kimihiro.
Teriakan itu menjadi semakin keras dan menyedihkan. Ia berlari mengikuti asal suara, berpapasan dengan prajurit dan pelayan yang kaget. Ia menendang pintunya dan mendapati sang lord, setengah telanjang, jatuh terduduk di atas karpet sambil memandang ke arah tempat tidur. Tempat Kimihiro menjerit kesakitan dan darah merembes dari tangan dan mulutnya. Ia bisa melihat dengan jelas, bahkan dari matanya yang tidak memiliki pengelihatan tajam pada makhluk halus, asap hitam yang membumbung tinggi melingkupi Kimihiro. Menyakitinya dan bertambah kuat. Seketika ia meleparkan pedangnya dan memeluk Kimihiro. Asap itu hanya sedikit bergolak menjauh, tidak lenyap dan darahnya tidak berhenti.
"Kimihiro! Kimihiro!" ia tidak menjawab. Ia tak sadarkan diri dan itu tidak lebih baik dari jeritan kesakitannya. Darah tertumpah dimanapun Shizuka melihatnya.
"Apa yang kalian lakukan!" lord Kagetora berteriak. "Beraninya kalian memasuki kediamanku tanpa ijin. Penjaga! Penjaga!"
"Aku tak kan melakukannya jika jadi kau," ujar Natori dengan suara geram. Pandangan lord tersentak pada seragam Natori dan pada Shizuka yang telah mengendong Kimihiro. Natori berkata dengan suara lantang. "Lord Hatori Kagetora. Atas tuduhan penculikan yang dilakukan kepada lord Watanuki Kimihiro dari kastil selatan yang merupakan keluarga peramal kerajaan, dan atas tuduhan telah menyakitinya, kau di tangkap," pria itu tampak lemas saat Kurogane mengangkat tubuhnya dan membawanya pergi. "Segala kejahatan yang kau lakukan menyangkut kasus ini akan memberatkanmu di pengadilan," tambahnya.
Lalu pria itu beralih pada Shizuka. Ada kemarahan, rasa sakit dan teror di mata sepupunya. Masalah mereka belum selesai.
xxXxx
Shiori dan Nayo bergerak cepat membersihkan tubuh sang lord dan membalut lukanya. Tak sampai waktu lama, perbannya kembali basah. Dengan putus asa, Shiori berseru frustasi, "Ini bukan luka biasa, Pangeran! Darahnya tidak mau berhenti!"
Shizuka masih menggenggam tangan Kimihiro. Ia sangat pucat karena kehabisan darah dan lingkaran hitam di bawah matanya semakin tampak jelas. "Kimihiro..." rintihnya.
Natori menepuk lembut bahu Shizuka, mencoba memberinya kekuatan. Ia sudah sering melihat orang menyambut kematian, memang ada yang menyambut kematian tak terhindarkan macam ini. Hatinya tercabik melihat kesedihan Shizuka, pria biasanya tak pernah menunjukkan perasaan apapun, dan kesedihan yang kini menghiasi wajahnya sangat menyakitkan. Menyakitkan melihat orang yang dicintai perlahan pergi.
Fai yang awalnya hanya terisak, kini menangis keras di bahu Kurogane, sementara pria itu tak mampu berbuat apa-apa selain balas memeluknya. Kurogane tahu betapa berharga lord Watanuki bagi Fai. Mereka teman sejak kecil.
"Aku akan melakukan apapun... apapun untukmu Kimihiro. Aku mohon kembalilah..." bisik sang pangeran.
Tiba-tiba terdengar suara kereta mendekat, Lonceng kereta itu bergemerincing saat ia bergerak, lalu berhenti di halaman. Nayo berlari keluar, dan tak lama ia kembali bersama seorang wanita yang sangat cantik. Kimononya sehitam malam, dengan manik-manik yang berkelip ketika terkena cahaya. Rambutnya tergerai panjang dengan hiasan bulan dan bintang di atasnya. Perhiasannya indah dan ia berjalan dengan anggun.
"Apakah aku terlambat?" tanya suara merdu itu beraksen selatan.
"Lady Yuuko!" seru Fai.
"Siapa dia, Fai?" sahut Kurogane.
"Lady Ichihara Yuuko, penyihir dan juga guru Watanuki-sama."
"Penyihir?" bisik Shizuka.
"Dan penyokong Kimihiro-chan," sahutnya sambil mendekati Kimihiro. "Bisa dibilang walinya...?" ia menepuk pipi Kimihiro, "Ma... ma... ma... kau sudah berjuang dengan keras Kimi-chan."
"Kau bisa menyembuhkannya?" Shizuka bertanya.
"Kau tahu aku bisa menyembuhkannya," jeda sejenak, "Tapi sama seperti transaksi lain yang dilakukan dengan penyihir, ada harga disetiap permintaan. Kau sanggup membayarnya?"
"Lady Yuuko!"
"Akan kuberikan apapun."
Yuuko menggeleng, "Aku hanya akan mengambil harga yang pantas untuk setiap permintaan."
"Apa harganya?"
"Darahmu," ia memandang Kimihiro dengan sedih, lalu beralih pada Shizuka, "Darahmu untuk menggantikan darahnya."
"Akan kuberikan."
"Pangeran!"
"Dan satu lagi. Kau tidak akan bisa meninggalkan Kimihiro sepanjang hidupmu."
"Apa maksudmu?"
Yuuko meraih tangan kanan Shizuka, lalu ia seakan menyentuh sesuatu di udara, dekat dengan jari kelingking Shizuka. Ia menarik udara itu, dan seketika mereka semua mampu melihat benang merah tipis yang terikat di kelingking Shizuka. "Apa kau tahu mengapa benang pengikat jodoh berwarna merah? Itu karena benang itu melambangkan ikatan, yang kuat seperti hubungan darah. Mereka yang terikat benang ini akan menjadi keluarga, dan meneruskan generasinya. Coba lihat," benang merah Shizuka melayang lenyap dan terputus di udara. Tidak terikat pada siapapun. Lalu Yuuko mengangkat jari tengan Shizuka, dan menarik benang merah disana. Ia terkesiap saat benang itu terikat pada jari kelingking Kimihiro. "Dengan membagi darah, kau juga membagi takdir," ia melepaskan benang itu, dan benangnya menghilang dari pandangan. "Apa kau siap mengikat dirimu pada Kimihiro sampai kematian memisahkan kalian?"
Tanpa ragu, Shizuka berkata, "Aku bersedia."
Yuuko menepuk tangannya, "Selamat! Kalian resmi menjadi suami istri!" Shizuka menatapnya dengan pandangan kosong, lalu jatuh ke lantai.
"Pangeran!"
"Pangeran!"
"Ma... ma... sepertinya dia terkena anemia."
Well... Yuuko selalu membawa harapan, kan? Dia termasuk orang yang percaya pada kekuatan harapan dan usaha manusia. Yuuko adalah agen hitsuzen, dan terkadang ia memutar balikkan takdir dan bertindak egois demi kebahagiaan orang yang disayanginya.
Siapa yang tega nggak memasukkan karakter macam ini di cerita? Yuuko wanita yang sangat luar biasa.
