Maaf , saya baru bisa update lagi.

Padahal sudah rencana untuk update minggu kemarin, ternyata tidak bisa.

Karena pulang dari magang, saya langsung ke kampus buat ujian dan pulang ke rumah sekitar jam 8 malam. Jadi saya ndak bisa ke warnet.

Seperti biasanya saya mau balas review yang ndak log in.

Dan yang log in saya balas lewat PM seperti biasanya.

GerhardGeMi (Guest):

Makasih atas review-nya
pinginnya dihukum mati tapi saya takut ditaeur sama sasunaru lover, hheheh

Kalo soal sakura, mungkin nanti bias terjawab di chapter –chapter selanjutnya.

Nine (Guest):
wah maaf senpai… saya memang baru di ffn dan kurang bisa menentukan genre, hehehe. Karena kalo di cerpen ndak usah nyebutin genre.

Menurut senpai, genre yang pas buat fic ini apa?

Kasih sarannya senpa

Makasih atas saran dan review-nya

MJ (Guest):
Makasih buat review-nya

Ini sudah lanjut

NamikazeNoah (Guest)

Terima kasih atas review-nya

Ini sudah lanjut.
.

.

.

.

Truth, ThatI Love You

Disclaimer: Masashi Kishimoto

By: Ran Hime

Rate:T

Pair: SasuNaru, NaruSaku

Genre: Romance, Angst

Warning: OOC, Canon, Typo, Shonen-ai, Alur cepat dan alur maju mundur xp.

.

.

.

Chapter 6

Naruto nampak kurang bersemangat. Bahkan sepanjang perjalanan dari Negara Tetsu Ke Konoha, ia terlihat seperti seseorang yang sedang memiliki beban yang berat. Wajahnya kusut dan Shapire-nya terlihat redup.

"Kau mau kemana, Nar?" tanya Sai ketika ia melihat Naruto berjalan lebih dulu setelah mereka melewati pintu gerbang desa.

Yang lebih membuat Sai bertanya-tanya adalah langkah Naruto yang berbelok berlawanan arah dengan Hokage dan dirinya. Arah itu bukanlah menuju kantor Hokage.

Naruto herhenti melangkah, "Pulang!" jawabnya singkat lalu kembali berjalan.

"Kita harus ke Kantor Hokage dulu."

"Aku lelah!" sahutnya sedikit berteriak.

"Tapi Nar-"

Kalimat Sai terhenti ketika Tsunade mengisyaratkan kepada Sai agar membiarkan Naruto pergi. Sai mematuhi perintah Hokage sembari menatap punggung Naruto yang semakin menjauh. Setelah itu mereka berjalan menuju kantor Hokage.

.

.

.

oO0~Ran Hime~0Oo

.

.

.

Padahal tujuan awal Naruto adalah pulang. Lalu tidur di kamarnya sambil berharap sakit di kepalanya akan berkurang. Namun entah kenapa ia malah sampai di tempat ini. Berdiri di dalam sel penjara bawah tanah, tempat dimana Sasuke ditahan.

Naruto menatap tubuh Sasuke yang tersender di dinding. Tubuh yang beberapa hari yang lalu terlihat kecoklatan, kini telah kembali putih lagi seperti kulit putih khas Uchiha. Betapa kurusnya tubuh Sasuke, bahkan lebih kurus daripada 10 tahun yang lalu. Apa yang terjadi selama 10 tahun yang membuat Sasuke menjadi seperti itu. Apakah begitu berat hidupnya, hingga ia terlihat begitu kurus? Ataukah Sasuke sedang sakit? Satu persatu pertanyaan menggelayuti pikiran Naruto. Dan satu hal, Naruto ingin melihat mata onix yang tersembunyi di balik kelopak yang tertutup itu.

"Selamat Uchiha! Kau dibebaskan!" ucap Naruto memecah kesunyian. "Aku akan segera mengurus pembatalan pertunanganku dengan Sakura.

"Dobe...!" ucap Sasuke sambil membuka matanya. "Menikahlah denganku," ucapnya datar.

Mata Naruto melebar. Terkejut dengan perkataan Sasuke. Aku tak salah dengar, kan? pikir Naruto. Seorang Uchiha Sasuke, pujaan semua gadis di Konaha dan di luar Konoha, mengajaknya menikah. Gila!

"Apa maksudmu? Bukankah kau-"

"Aku tak peduli dengan Haruno," potong Sasuke cepat. "Aku datang hanya untuk menjemputmu."

Kau dilamar Nar! Tapi namanya juga Dobe. Ia malah memikirkan perasaan orang lain. Perasaan tunangannya, perasaan Haruno Sakura, yang bahkan mungkin akan bisa mengancam kebahagiaannya Nanti.

Naruto meremas kedua tangannya yang telah terkepal, sambil merasakan gemuruh di hatinya. Dadanya benar-benar terasa panas kali ini. Seenaknya sekali Uchiha itu berkata. Naruto melangkahkan kakinya mendekat ke arah Sasuke. Ia membungkuk lalu... Buggh... memukul wajah Sasuke dengan telak.

"Kau pikir bagaimana perasaan Sakura, hah?" teriak Naruto penuh amarah. Kedua tangannya mencengkeram Hakama depan Sasuke. Entah kenapa yang ada di pikirannya hanya Sakura! Sakura! dan Sakura!(seperti judul fic author saja XD Buagh *di tendang Sakura) Naruto memang menyukai bunga Sakura tetapi kali ini bukanlah tentang bunga.

Sasuke mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya dengan punggung tangannya. Ia dapat merasakan nyeri di pipinya akibat pukulan Naruto yang keras itu. Bagaimanapun Sasuke sudah lama tidak pernah berkelahi. Ia sudah menjadi orang yang baik di sebuah desa kecil di Negara yang lain.

Dari awal ia sudah menduga bahwa ia akan mendapat hadiah bogem mentah dari orang yang memberinya sebuah ikatan berharga. Naruto terlalu menggunakan perasaan jika sudah menyangkut Sakura.

"Lalu bagaimana dengan perasaanmu? Apa Sakura pernah memikirkan perasaanmu, Dobe?" ucap Sasuke datar, membalikkan kalimat Naruto.

Naruto tercekat. Dua kalimat itu tepat menohok ulu hatinya. Naruto terdiam dan tanpa sadar tubuhnya jatuh terduduk di depan Sasuke. Kedua tangannya melepas cengkraman baju Sasuke.

Kapan Sakura pernah memikirkan perasaannya? Ia rasa tidak pernah! Ketika di dalam misi ke Negara Kuni dulu, hanya Sasuke yang diKhawatirkan oleh Sakura. Meski ia dan Sasuke sama-sama terluka dan pingsan akibat pertarungan melawan Zabuza dan Haku. Sakura bahkan rela menangis dan memohon kepada dirinya agar Sasuke dibawa pulang, meski kenyataannya Sakura sangatlah tahu, jika ia mencintai Sakura. Lalu bagaimana dengan pertunangannya dengan Sakura? Jika Sasuke tidaklah pergi 10 tahun yang lalu, bisa dipastikan tidak ada pertunangan itu. Dan jika Tsunade tidak memaksa mereka agar bertunangan, tentu saja cincin itu takkan pernah menjadi pengikat diantara mereka berdua.

"Kau naif, Dobe!"

Naruto mengangkat wajahnya, menatap Sasuke. Onix itu memang bukan lagi yang dulu. Bukan lagi mata yang memancarkan kebencian dan rasa ingin balas dendam. Dia telah berubah.

Sasuke terkejut melihat ekspresi Naruto. Kumohon jangan menangis, bathin Sasuke ketika mata shapire itu terlihat semakin redup. Sasuke tak bisa bila harus melihat orang yang selalu menjadi rivalnya sedih. Sasuke segera menarik tubuh Naruto ke dalam pelukannya. Hal yang sudah lama ia rindukan ketika bisa bertemu dengan Naruto. Sasuke memperpendek jarak wajah mereka. Satu ciuman yang telah lama ia rindukan. Dengan amat lembut Sasuke melumat bibir Naruto. Hanya ciuman kerinduan, tak lebih. Lalu bagaimana dengan reaksi Naruto?

Naruto tertegun dan bergeming tak percaya. Ia tak dapat berkata apapun. Namun beberapa menit kemudian, Naruto meraih tengkuk leher Sasuke. Mengawali ciuman itu kembali ketika Sasuke hendak mengakhiri ciumannya. Naruto bukan ketagihan. Ia hanya ingin memastikan sesuatu. Perasaan dan hawa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Shapire-nya melebar ketika jawaban memenuhi otaknya. Naruto terlihat sangat tidak percaya. Ia melepas ciuman itu lalu menatap sejenak Sasuke yang nampak terengah-engah. Perlahan Naruto menggeser tubuhnya ke belakang. Seperti orang yang kebingungan, Naruto bangkit lalu berlari keluar dari sel tersebut. Meninggalkan Sasuke yang memandangnya bingung. Penjaga yang melihat tingkah Naruto, hanya menggelengkan kepala, lalu berjalan untuk menjemput Sasuke yang harus segera dibawa ke kantor Hokage.

.

.

.

The memory is still there
A warmth that will not fade
And you will know
Truth, that I love you.

.

.

.

oO0~Ran Hime~0Oo

.

.

.

Sasuke telah berdiri tepat di depan Hokage, meski ada meja yang menghalangi mereka. Sai, Kakashi, Yamato dan Shikamaru kini mengalihkan pandangan ke objek yang menjadi pusat perhatian. Sedangkan Sakura nampak menundukkan kepala, enggan menatap Sasuke, ketika mengingat kejadian di sel tadi. Kejadian yang terjadi antara tunangannya dan orang yang pernah dicintai. Diam-diam kau melihatnya, Sakura! Dan kau hanya diam saja melihat kekasihmu dicium orang lain, laki-laki pula. Dasar Fujoshi akut (plak *ditinju Sakura).

Sasuke menatap Hokage dengan ekspresi datar. Tak ada senyum terima kasih ketika ia mendengar bahwa dirinya dibebaskan.

"Kenapa dia dipenjara?"

Tsunade menaikkan sebelah alisnya ketika mendengar kalimat dari Sasuke. Tsunade berfikir sejenak lalu tersenyum ketika menyadari maksud Sasuke.

"Oh jugo!" Tsunade terdiam sejenak. "Ia sendiri yang meminta. Ia bilang, ia takkan keluar sampai kau datang"

"Aku sudah datang dan lepaskan dia." ucap Sasuke dengan dingin.

Mereka tidak terkejut dengan semua itu. Hanya saja Shikamaru sedikit tidak suka.

"Lebih dari itu, aku ingin tahu maksud kedatanganmu.

Sasuke menyeringai, "Tentu saja mengambil yang seharusnya menjadi milikku."

"Desa... posisi Hokage at-"

"Lebih penting dari itu," potong Sasuke, "Membawa jugo pergi dan juga Dobe."

"Eh... apa maksudmu?" ucap Tsunade di sela keterkejutannya. Bahkan tak hanya Tsunade yang terkejut tapi semuanya kecuali Sakura. Di dalam hati, ia sedang mengutuki Uchiha Sasuke agar hidupnya tidak pernah tenang dengan Naruto kelak. Sampai salah satu di antara mereka akan mencium kakinya dan meminta maaf.

"Aku akan membawa Naruto pergi."

Sasuke memutar badan dan melenggang keluar. Meninggalkan semua orang yang masih terkejut dengan sikap Uchiha terakhir.

.

.

.

oO0~Ran Hime~0Oo

.

.

.

Sambil rebahan, Naruto masih saja memikirkan kejadian tadi siang sewaktu di sel bersama Sasuke. Ia menyadari tentang suatu hal. Ciuman Sasuke menjawab semuanya. Perasaan yang sebenarnya telah tersampaikan sejak dulu. Ciuman itu? Naruto yakin itu bukanlah kali pertama Sasuke mencium dirinya seperti itu. Tapi kapan dan dimana? Naruto terus memutar otaknya, mencoba mengingat hal itu.

Di Akademi! Ia rasa bukan. Ciuman itu memanglah yang pertama. Tapi ciuman itu hanyalah ketidaksengajaan yang disebabkan oleh kecerobohan temannya. Naruto terus memutar ingatannya. Matanya melebar ketika ia menyadari sesuatu. Lembah Akhir.

Ketika ia pingsan setelah bertarung dengan Sasuke. Saat itu ia merasakan perasaan dan hawa hangat sama seperti yang ia rasakan tadi. Meskipun dirinya tengah pingsan dan basah kuyub akibat air di Lembah Akhir, namun ia merasakan hangat yang tenang dan nyaman.

Naruto melirik ke arah jendela. Di sana seseorang tengah berdiri. Wajahnya terlihat kurang jelas akibat lampu kamar yang tidak dinyalakan. Hanya biasan cahaya bulan -yang masuk ke kamar Naruto- yang sedikit memperlihatkan siapa orang tersebut.

"Kau?" ucap Naruto sambil mengangkat tubuhnya dan duduk di atas ranjang. Sosok itu berjalan semakin mendekat ke arah Naruto. Naruto menelan ludah menatap sosok itu, "Apa maumu?"

"Tentu saja 'memakanmu', bodoh!" ucapnya menyeringai lalu menerjang Naruto. Naruto yang terkejut tak mampu menghindar hingga mereka jatuh ke atas ranjang, dengan posisi Naruto di bawah sosok tersebut. Jangan berfikir macam-macam karena ini masih berada di rating aman, hehe (*plak... digampar reader).

"Kau gila, SASUKEEE...!" teriak Naruto yang telah sadar dengan posisinya. "Lepaskan!" ia berusaha meronta, "Apa maumu?"

"Aku hanya ingin bicara denganmu, Dobe!" Sasuke kian mencengkeram kedua tangan Naruto agar tak berontak.

"Tapi tak harus dengan cara seperti ini, kan?"

"Memangnya, kenapa?" Sasuke menyeringai, "Aku tak akan benar-benar 'memakanmu', kok!" kini senyumnya berubah jahil. Heh~ sejak kapan Uchiha punya ekspresi (* dicidori Sasuke)

"Tidak!" Naruto menggembungkan pipinya lalu memalingkan wajahnya ke samping. Ngambek!

"Dobe!"

Naruto menatap Sasuke kembali. Menatap onix itu, "Apa?"

"Ikutlah denganku," ucapnya datar. "Aku sudah mempersiapkan semuanya."

"Mempersiapkan apa?" tanya Naruto masih belum mengerti.

"Kita akan pergi dari sini. Meninggalkan Dunia Shinobi. Lalu kita akan menikah dan hidup bersama di suatu tempat." Sasuke terdiam sejenak, "Ikutlah denganku, Dobe!"

Setelah bertahun-tahun Sasuke mempersiapkan segalanya, akhirnya malam ini ia baru bisa mengatakan semua perasaan yang ia simpan selama belasan tahun hanya demi balas dendam. Perasaan yang terpaksa ia kesampingkan dulu hanya untuk mengetahui suatu kebenaran, kebenaran tentang pembantaian Klan. Kebenaran tentang perasaan Itachi. Dan kebenaran bahwa ia mencintai Naruto tidaklah pernah berubah.

Lalu bagaimana reaksi Naruto mendengar ungkapan hati seorang Uchiha Sasuke?

"Kenapa?" ujar Naruto dengan nada bergetar. Sekumpulan cairan bening memenuhi matanya, "Kenapa semua begitu egois terhadapku?" kini air mata itu benar-benar mengalir dari sudut matanya.

Sasuke tercekat ketika melihat Dobe-nya menangis. Ia sungguh tidak percaya jika pemuda di bawahnya yang selalu tertawa dengan cengiran, kini menangis. Pemuda yang tahan banting dan hanya meringis kesakitan ketika mereka adu jotos, kini benar-benar menangis.

Aduh, Sas! Namanya juga punya perasaan. Kau saja juga pernah menangis, padahal kau begitu dingin.

"Aku bukanlah orang yang selalu bisa tegar dengan semuanya. Aku juga butuh perhatian, kasih sayang dan sebuah ikatan."

Naruto menelan ludah bersamaan dengan rasa sesak yang memenuhi dadanya, "Kenapa semua begitu egois?" Naruto mengerjapkan matanya, membiarkan kumpulan air yang menutupi Shapire-nya tumpah, "Ayah... ibu... mereka seenaknya meninggalkanku tanpa membiarkan aku untuk melihat wajah mereka sama sekali. Mereka lebih memilih menyelamatkan desa dan mengorbankan kasih sayang yang seharusnya untukku." Naruto menarik nafas dalam-dalam agar dapat mengurangi rasa sakit tersebut.

"Aku hanya butuh perhatian ketika aku masih terlalu kecil untuk menjalani hidup tanpa orang tua. Tapi penduduk desa malah memandangku rendah hanya karena ada monster dalam tubuhku yang ditinggalkan oleh mereka. Lalu apa? Begitu mudahnya mereka melupakan semua hinaan untukku ketika aku dapat menyelamatkan desa."

"Kumohon jangan menangis, Dobe!" ujar Sasuke serak. Manik kelamnya menatap wajah mungil yang telah menjadi orang demasa. Dengan tangan kiri menjaga berat badannya agar tidak terlalu menindi Naruto, ia mengarahkan tangan kanannya ke wajah tan di depannya. Jari-jari yang tidak lagi lembut itu menyeka air mata yang tidak kunjung habis.

"Kumohon jangan menangis, dobe!" pintanya sekali lagi.

"DAN BETAPA EGOISNYA KAU, SAS!" bentak Naruto tidak peduli akan sentuhan dari Sasuke. Ia hanyalah ingin mengatakan perasaan yang memenuhi hatinya selama 13 tahun. "Kau ingat ketika di lembah akhir dulu, bukan? Kau bilang aku naif, kau bilang perasaanku naif." ucap Naruto dengan nafas yang sedikit tersengal. "DAN KAU BARU DATANG SEDANGKAN KAU SUDAH TAHU TENTANG PERASAANKU."

Sambil terus menyeka air mata Naruto, Sasuke merasakan sesak di hatinya. Mata dan hidungnya terasa panas. Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Sasuke masih ingat. Pukulan dari Naruto ketika di lembah akhir 13 tahun yang lalu. Ia sempat terkejut saat mengetahui perasaan Naruto bukanlah sebatas teman. Tapi bagaimanapun, Sasuke tidak ingin Naruto ikut dengannya ke tempat yang berbahaya. Maka dari itu ia bilang jika perasaan Naruto adalah naif.

"Kau sangatlah tahu perasaanku. Semua yang kulakukan kepada Sakura dulu, tidak lebih hanya untuk membuatmu marah."

Sakit... Sasuke benar-benar merasakan sakit di hatinya saat mendengar penuturan dari orang yang disayanginya. Sampai-sampai pandangannya tidaklah dapat melihat wajah manis Naruto.

"Aku tidak bermaksud meninggalkanmu waktu itu." Sasuke menatap lekat-lekat mata sebiru langit milik Naruto. "Tapi aku tidak bisa membawamu mengingat bukan hanya Akatsuki yang mengincarmu, tetapi juga Orochimaru."

"Tetapi tetap saja kau tidak pulang setelah membunuh Itachi. Dan apa yang sudah kau dapat?"

"Bagaimana kau bisa memaafkan orang yang telah membuat kakakmu membunuh dirinya sendiri demi menyelamatkan semua orang. Dan ternyata pengorbanannya dihargai dengan tuduhan penghianat desa."

"Kau pikir bagaimana perasaanku ketika penduduk desa menghinaku sedangkan aku hanyalah wadah untuk menyelamatkan desa, heh!" bentak Naruto dengan sengit.

"Maaf!" ujar Sasuke lirih, ketika ia merasa telah membuat sakit di hati Naruto semakin bertambah. Harusnya Sasuke menyakinkan Naruto untuk ikut bersama dengan dirinya, bukan malah membuat luka di hati Naruto kian bertambah.

"Apa itu klan? Apa itu desa? Aku sudah mendapatkan jawabannya. Dan itu adalah kau Dobe, tempatku pulang!"

"Jika memang aku adalah tempatmu pulang, kenapa kau baru datang? Perang sudah lama selesai, Sas!" Naruto menelan ludah mencoba menghilangkan sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Dan rasa sakit memenuhi kembali rongga dadanya.

"Aku masih butuh waktu sampai aku bisa membuktikan bahwa aku mencintaimu."

Naruto tercengang mendengan penuturan Sasuke.

"Kau pasti suka tempat itu. Sebuah tempat pulang dengan pohon Sakura yang akan membuatmu tenang."

Dan inilah akhir dari perdebatan mereka. Dengan rasa sakit yang mulai menguap, Naruto menarik tubuh kurus Sasuke ke dalam pelukannya. Menyembunyikan tangisannya di perpotongan antara bahu dan leher Sasuke. Naruto semakin sesenggukan di dalam pelukan Sasuke.

"Kumohon jangan menangis lagi, Dobe!" bisik Sasuke disela pelukannya.

"Kumohon jangan menangis lagi, Dobe!" bisik Sasuke di sela pelukannya.

"Kau tidak pernah makan ya, Sas! Kau semakin kurus," ucap Naruto di sela isakannya. Hampir saja Sasuke sweetdrop mendengar itu jika saja scene kali ini tidaklah angst.

"Kau memang ingin ku'makan', ya!"

"Tidak!" Naruto menggelengkan kepalanya.

Sasuke semakin mengeratkan pelukannya. Berharap rasa sakit di hati Naruto akan segera sembuh.

"Aku menunggumu besok di gerbang desa. Jika kau tidak datang sampai matahari terbit-" Sasuke terdiam sejenak dan menyiapkan kalimat yang tidak pernah inginkan untuk terucap, "Aku akan merelakanmu untuk Haruno."

.

.

.

To be continue.