- Anything Can Happen -
- Ai -
- 2014 -
- Mashashi Kishimoto, Naruto-
- Pairing : Sasuke U. Hinata H. -
- Rate : T -
- Romance/Hurt/comfort
Chap 6 Friend?
Sasuke POV
Galau? Uchiha Sasuke Galau? Tidak mungkin!
Hyuga Hinata, apa sih maumu? Setelah meminta diajari ciuman sekarang malah tidak mau bertemu denganku, (Oh... siapa yang minta kau ajari Sasuke? PeDe)
Selama seminggu ini dia tidak pernah bertemu denganku, dan selama itu pula aku menyadari sikapku, semakin menjadi-jadi, sering marah sehabis meeting karena gadis hyuga itu tergantikan lagi oleh si sadako, panggilan itachi untuk dia, tapi setelah apa yang kudengar hari ini dari Kakashi, bahwa si sadako itu telah kembali, akhirnya aku bisa berkesempatan untuk membalas dendam.
Awas kau, Hyuga Hinata!
Anything Can Happen
Sejak kedatangan Hyuga Hinata dalam hidupku, aku mengerti satu hal dan aku bahkan meyakini satu hal, cinta pada pandangan pertama itu ada, dan aku bersyukur mengalaminya, cih. Sasuke Uchiha sekarang kalah dengan cinta? Bahkan aku tidak tau gadis itu mencintaiku atau tidak, tapi ingatlah protokol Uchiha, bahwa 'Keinginan Uchiha itu adalah MUTLAK' sekali lagi tekankan bahwa 'KEINGINAN UCHIHA ITU ADALAH MUTLAK'
Aku duduk di tempat kerjaku, tempat yang didominasi warna biru kesukaanku, dan lambang kipas milik klanku, memangku dagu dengan kedua tangan yang saling menumpu, dan menatap kosong arah pintu menunggu seseorang yang kini ada dalam benakku.
HYUGA HINATA
Aku terkekeh pelan, menikmati saat-saat kejayaanku, si Sadako itu telah pulang, dan mangsaku akan sendirian, ups jangan lupakan Itachi, tapi toh Itachi punya kesibukan sendiri dengan perusahaan.
Tok tok tok
Sadar dari lamunan, suara pintu diketuk cukup keras, aku mulai memperbaiki posisiku saat ini, duduk tegap dengan keedua tangan diatas meja, berpura-pura membalik berkas, sungguh bukan Uchiha.
"Masuk." Kudinginkan nada suaraku agar terbiasa, tapi tak menutupi getaran suaraku saking senangnya.
"Permisi Uchiha sama, nona Hyuga Hinata telah sampai." Ucap sekretarisku, Yugao.
"Suruh dia masuk." Dan aku menatap Yugao. "Apakah staf lain sudah berkumpul?" aku menunggu reaksinya sejenak.
Yugao menggeleng. "Ini masih kurang setengah jam lagi Uchiha sama,"
Aku mengangguk, "baiklah, mana Hyuga itu?"
Normal POV
Dan Yugao terlihat sedikit melangkah mundur, mempersilahkan seseorang dibalik pintu yang memang tadi hanya sedikit terbuka. Dan sekarang terlihatlah wajah itu, wajah yang telah ditunggu-tunggu oleh sasuke sejak lama, wajah yang minggu-minggu ini tidak pernah menghiasi mata Sasuke.
Dengan langkah lembutnya ia mendekat kearah Sasuke sambil menunduk, serasa lantai adalah sesuatu yang berharga dari pada tatapan maut sang Uchiha.
"Duduk!" perintah Sasuke, saat Hinata masih melangkah semakin dekat kearahnya, sementara pintu sudah tertutup rapat kembali.
Kini suasana dingin mencekam terlihat di ruangan 1 itu. Hinata memilih duduk di sofa daripada duduk didepan Sasuke, yang masih berkutat dengan lembar-lembar pekerjaannya, padahal jika saja Hinata melihatnya, maka akan di temui tatapan Uchiha Sasuke yang tak lepas darinya diiringi dengan seringai entah artinya apa, dan dipalsukan dengan gerakan membolak-balik tiap halaman kertas kerjanya.
Oh… rasanya Hinata terintimidasi dengan suasana ini,minum minum… Hinata butuh minum, tenggorokannya tercekat, sedari tadi ia tidak mengatakan apapun.
"Haus?" Bagaikan air di hamparan oasis, akhirnya kata tawaran itu keluar dari mulut Sasuke.
Hinata menoleh kearah Sasuke.
Blussshhhhhhhhh
'Bibir itu…' entah sejak kapan Hinata memiliki pikiran mesum jika berurusan dengan bibir, bibir Sasuke.
Sasuke suka warna itu, melihat Hinata malu-malu, ia pun beranjak dan menuju kulkas kecil di pojok dekat jendela. "Aku hanya punya minuman bersoda, aku malas memanggil OB atau OG hanya untuk memesankanmu jus strawberry…" ucap Sasuke sembari melangkah semakin mendekat, lalu membuka kulkas kecil itu.
Mengambil 2 kaleng minuman bersoda, dan tertangkap oleh manic Hinata, "P-punya air putih t-tidak?"
"Kau juga anti pada soda?" Sasuke menolehkan kepalanya, tangan kanannya menumpu pada pintu kulkas.
"B-bukan anti, t-tapi itu tidak s-sehat untukku…" jawab Hinata sembari menundukkan kepalanya.
Sasuke mendengus lalu menutup pintu kulkas setelah mengambil 1 kaleng soda.
Splassss
Tutup soda terbuka dan sediki mencipratkan air di tangannya, ia beralih mengambil sebuah handuk kecil di samping wastafel lalu mengelap tangannya setelah sebelumnya ia meletakkan soda di meja kerjanya.
Melangkah mendekat kearah meja, ia menekan tombol telepon, lalu terdengar suara yang di load speak sebelumnya, suara Yugao. "Bawakan jus strawberry." Lalu dibalas dengan kata iya.
Hinata jadi tidak enak sendiri akhirnya, ia pun menatap Sasuke lama, Sasuke sedang mengambil sodanya lalu mendekat kearah Hinata sambil meminum soda itu, melihat pandangan Hinata dia jadi lucu sendiri, Hinata didepannya seperti anak kecil yang imut dengan pose tatapannya sambil setengah melamun itu.
'Hah... aku ingin mengerjainya.' Inner Sasuke.
"Kau mau?" Sasuke berdiri didepannya di batasi meja, sambil menyodorkan sodanya pada Hinata.
Hinata terkesiap dan menggeleng 1 kali, pandangan matanya sudah diturunkan kearah lutut Sasuke. 'Apa yang baru saja kupikirkan ya? Aku terpesona padanya?' inner Hinata.
Sasuke terkekeh melihat gelagat Hinata, membuat Hinata lagi-lagi menoleh padanya "Banyak orang yang terpesona olehku Hinata, bukan kau saja – " ucap Sasuke sembari melangkah kesisi, mendekat dan duduk di sebelah kanan Hinata, meneruskan uacapan yang belum selesai, sementara pandangan Hinata mengikutinya.
"Jadi jangan ditahan, ikuti kata hatimu." Jarang-jarang Uchiha Sasuke berdialog panjang, apalagi topiknya membolehkan seorang gadis menarik perhatiannya. Bukannya selama ini dia jijik pada gadis seperti itu?
Hinata terkesiap. 'Apa yang dia bicarakan?'
"Apa yang kau bicarakan Sasuke?" mengikuti kata hati ia menyuarakan pikirannya.
"He? Kau tidak paham?" Sasuke mendekatkan dirinya pada Hinata, spontan Hinata langsung memundurkan dirinya, bukan menggeser, akibatnya ia sulit mempertahankan posisinya, dengan sigap Sasuke langsung menangkap pinggangnya dan mendekatkan Hinata padanya.
"S-sas –" ucap Hinata yang bingung dengan keadaannya saat ini.
"Kenapa kau membuatku aneh Hinata?" sukses kalimat itu malah membuat iris Hinata membola, ada sesuatu yang sakit didalam perutnya.
Sreeeettt
Dan lelehan cairan kental merusak keadaan romantic ini, Sasuke terbelalak melihat Hinata mengeluarkan darah lewat hidungnya, ia semakin mengeratkan tangannya pada pinggang Hinata dan membawanya mendekat, tangan yang memegang kaleng soda langsung ia letakkan dimeja, dan dengan cepat ia menarik sapu tangan di balik kantong celana.
"Dongakkan kepalamu, kau mimisan!" ucap Sasuke, ada nada memerintah, khawatir dan penasaran disana.
Hinata hanya menurutinya, baru tau jika sekarang ia sedang mimisan, ini semua karena sorot tajam mata Sasuke yang membuat ia tidak sadar, bahkan tidak sadar akan rasa sakit perutnya.
Lama Sasuke men-deep hidung Hinata, hingga yakin darah tidak mengalir lagi, selama itulah pandangan Hinata pada Sasuke, Hinata merasakan kehangatan pria yang sudah di cap nya sebagai pria yang aneh, dingin dan semena-mena ini.
Sasuke tak memikirkan apapun, hanya memikirkan hidung Hinata, setelah yakin darahnya berhenti, ia perlahan menyingkirkan sapu tangan itu. Hinata mengembalikkan posisi kepalanya jadi normal, pegal rasanya, tapi tu ia rasakan setelah memutus kontak dengan mata sasuke.
"Kenapa pagi-pagi sudah mimisan." Gumam Sasuke.
"M-maaf…"
Sasuke masih memandang Hinata penuh dengan pertanyaan. "Kau sakit?" dan sukses mambuat Hinata tercengang, takut.
"Eh?" bukannya menjawab malah gumaman itu yang keluar, ia tak tau mau menjawab apa.
"Katakan!" tegas Sasuke.
Tok tok tok
Bersyukurlah pada orang yang berada di balik pintu itu, Sasuke langsung menyudahi sesi introgasinya. "Masuk." Ia melepaskan pegangan pinggang pada Hinata dan berjalan kearah weastafel guna mencuci sapu tangannya, tanpa rasa jijik.
Hinata tersenyum menoleh Yugao membawa nampan dan segelas jus strawberry disana. Meletakkan dimeja dengan hati-hati. "Para staf sudah berkumpul di ruang rapat Sasuke-sama."
"Hn. Suruh mereka menunggu 5 menit lagi." Balas Sasuke tanpa menoleh kearah Yugao.
"Baik. Permisi, Sasuke-sama, Hyuga-sama." Setelah menunduk sekilas, Yugao pergi dengan nampan di tangannya.
Sasuke meletakkan Sapu tangannya di kaitan samping handuk kecil, lalu membasuh tangan dan mengeringkannya dengan handuk, sementara Hinata menyesap jus strawberry nya berusaha melupakan kejadian tadi.
Sasuke tanpa berbalik kearah Hinata langsung berucap. "Kau masih punya hutang jawaban padaku Hinata. Sekarang bergegas keruang rapat, aku menyusul 5 menit lagi."
Dengan ucapan itu, Hinata langsung menegakkan tubuhnya. 'Kami… kenapa dia sepenasaran itu sih?' "Baik Sasuke, aku pergi dulu."
Dan selama rapat, pandangan Sasuke tak lepas dari Hinata yang mendengarkan sungguh-sungguh pada staf yang sedang presentasi dan berdebat.
'Mimisan, Suplemen, vegetarian, kekhawatran Itachi, kulit putih pucat. Ada apa dengannya?'
…
Brakkk
"Jangan buat aku pensaran Hinata!" Sasuke menyudutkan Hinata ke salah satu sudut ruanga di kantor Hyuga Corp, sudah seminggu ini Hinata menghindari Sasuke, dan herannya, ada saja yang membuat Hinata bisa lolos dari pertanyaan itu.
Pertama, Saat Sasuke sudah meyudutkannya setelah rapat itu, Hinata tiba-tiba menerima telfon dari Itachi untuk makan bersama, yang membuat Sasuke geram, karena lagi-lagi Cuma Itachi yang dituruti sang Hyuga satu ini.
Kedua, pertemuan rapat di di Uchiha Corp yang dilaksanakan 2 hari sekali itu, Hinata memutuskan datang tepat waktu demi menghindari Sasuke, lebih tepatnya pertanyaan Sasuke, dan setelah rapat itu, Sasuke kembali mengintimidasi Hinata, sial bagi Sasuke, ia menerima fakta bahwa Sakura sudah ada di lobi, sehingga urung mengintrogasi Hinata lagi. 'Siapa Sakura?'
Ketiga, pertemuan rapat ketiga di minggu ini, lagi-lagi Sasuke tidak berhasil mengkorek rahasia Hinata, Hinata mengalihkannya dengan ajakan mengobservasi hasil pekerjaan mereka, hingga ia lupa dengan masalah ini, Sasuke kan memag workaholic.
Dan disinilah ia sekarang, hari minggu di Hyuga Corp, walaupun Hyuga Corp libur pada hari minggu, tapi Sasuke tau jika Hinata berada disana dari maid kediaman Hyuga.
"K-kenapa kkau harus p-penasaran s-sasuke, i-itu bukan u-urusan mu." Balas Hinata yang tidak terima dengan perlakuan Sasuke, heran, pria didepannya ini kenapa…
Sasuke mengeratkan pegangannya pada kedua pundak Hinata. "Memang, tapi kau tau, kepalaku ini sekarang terisi dengan pertanyaan itu. Kau membuatku tersiksa dengan kediaman mu itu."
'Tersiksa?' dan entah mengapa, Hinata jadi terharu, sungguh, bisakah dia menganggap bahwa dirinya mempunyai 1 orang lagi teman berharga? "K-kenapa?"
"Aku pun tidak mengerti. Tapi…" Sasuke menunduk. 'Sial. Ini… mengapa keadaannya jadi seperti ini.' Niatnya mau memperjelas pertanyaannya, malah dia dihadapkan pada keadaan yang mungkin bisa menjadi ajang pengungkapan perasaannya.
"T-tapi?" Hinata berusaha mencari wajah Sasuke.
Deg.
Sasuke menghantarkan tatapan matanya menuju mata Hinata, seketika membuat kepala Hinata tegak kembali. "Kurasa otakku selalu khawatir padamu." 'Jawaban macam apa itu? Dan hell, seharusnya Hinata yang menjawab pertanyaanku.'
"Benarkah?" wajah Hinata berbinar. Membuat Sasuke terpesona. "Bisa kuartikan ini sebagai b-bentuk perhatian?" tanpa perintah Sasuke mengangguk satu kali. "A-aku… asal kau tau satu hal. A-aku kecanduan b-berteman. M-maka dari itu a-aku menjadi s-sosok pendiam dan suka gugup."
"Hn?"
"S-sasuke. M-mau berteman denganku?"
'Tidak. Aku mau jadi pacarmu.' "Hn."
"Apa i-itu artinya?"
"Tidak buruk."
Pertemuan ini tetap saja tidak menjawab pertanyaan Sasuke, tapi Sasuke cukup lega karena sekarang dia sudah selangkah lebih dekat dengan Hinata.
…
Sakura berkutat diruang dapurnya, munpung hari ini holday, maka dia meneruskan acara belajar memasak dengan sang ibunda tercinta, sekarang ia sedang mempelajari recep makanan asli jepang. Ditengah-tengah sesi memasak, Sakura jadi ingat dengan sikap Naruto yang sering memberinya pekerjaan tambahan, hingga ia jarang ada waktu untuk Sasuke.
"Okasan, aku bingung dengan sikap Naruto padaku."
"memang kenapa dengan sahabatmu itu?"
"Dia sekarang lebih suka memberiku pekerjaan yang banyak, hu…. Hingga aku tidak ada waktu untuk sasuke, barang untuk menelfon pun."
Kasannya tersenyum. Sebenarnya dia tau bahwa Naruto menyukai Sakura, begitupun Sakura, ayolah siapa yang tidak sadar perhatian Naruto selama ini, pengorbanan Naruto selama ini yang berusaha membahagiakan Sakura walau pun harus membiarkan Sakura berdua selalu dengan Sasuke.
"Kasan lebih suka kau bersama pacarmu yang sekarang Sakura."
"Eh? Kenapa kasan menjawab seperti itu? Sakura kan bukan bertanya harus memilih siapa antara Naruto dan Sasuke." Sakura mengerucutkan bibirnya. "Tidak ada yang lebih sempurna dari Sasuke untukku kasan."
Sang ibu hanya terkekeh melihat anak gadisnya, sang ibu hanya takut, karena rasa sayangnya pada Naruto bisa membuat anak gadisnya ini mungkin kehilangan kedua-duanya. "Kau harus focus pada Sasuke seorang. Rasa menyayangi sahabat memang perlu dan dibutuhkan, tapi jika rasa itu selalu kau adakan, maka kau bisa kehilangan keduanya."
Sakura menoleh, ia tau maksud kasannya itu apa, Sakura dan Naruto bersahabat saat mereka masuk SMP karena Naruto terang-terangan mengatakan bahwa ia menyukai Sakura, tapi Sakura tak pernah menyukai Naruto sebagai seorang pria, melainkan seorang teman.
"Hah…. Anak kasan banyak yang suka ya. Hihi. Kasan bangga padamu Sakura."
…
Sasuke dan Hinata berdua didalam kantor Hinata, Sasuke yang duduk disofa berwara soft itu hanya focus melihat Hinata yang sekarang sibuk dengan laptopnya.
"Sasuke." Panggil Hinata, lalu menglihkan pandangan kearah Sasuke.
"Hn." Jawab Sasuke.
"Menurutmu kapan Hyuga Corp bisa berdiri lagi?"
Pertanyaan itu sukses membuat Sasuke terdiam, tentu saja Sasuke tak akan membuat itu terjadi.
"Hn. Aku tidak tau."
"Itu bukan jawaban untuk seorang teman Sasuke, k-kau malah menurunkan s-semangat temanmu, tau." Pipi Hinata mengembung. Lalu menglihkan tatapannya kearah laptop.
"A-aku tau, k-kau yang membuat Hyuga Corp s-seperti ini – " Alis Sasuke terangkat. "Tapi s-sekarang kan kita berteman Sasu. K-kau. Setidaknya harus membantuku."
'Aku tidak punya banyak waktu Sasu, andai kau tau itu.'
"Bukan hanya aku, perusahaan lain pun seperti itu. Lagi pula salahmu sendiri meninggalkan perusahaan dan memberikan mandate pada bawahanmu, jadi tidak ada rasa ingin mempertahankan perusahaan yang kuat." Balas Sasuke sembari menyandarkan punggungnya.
"I-itu… aku tidak akan menyesal, lagi pula dia sudah berusaha mempertahankannya, kalau tidak perusahaan itu yang gencar menekan Hyuga, heran saja bahkan mereka siap menyodorkan banyak uang untuk keruntuhan Hyuga. Hm… padahal keluargaku tidak punya musuh."
"Ini bukan permusuhan Hinata, tapi ini sebuah persaingan." Kilah Sasuke, Ia memang tidak punya alasan mengapa ia harus meruntuhkan Hyuga Corp
.
"Tapi bagaimanapun caranya aku harus mengembalikan Hyuga Corp dalam waktu setengah tahun."
"sudah tenang saja, aku kan memberikan kau waktu 2 tahun." 'Itu kalau kau bisa lepas dari ku Hinata.' Lanjut Sasuke dalam hati. menyeringai.
"Kalau saja 2 tahun yang kau berikan itu nyata Sasuke." Dan Sasuke kaget dengan jawaban Hinata, apa Hinata bisa membaca pikirannya?
Sementara Hinata menerawang sendiri.
'Kalau mengehentikan kemo sekarang, maka penyakit anda akan semakin parah, dan tidak akan bisa di kemo kembali nona.' Seorang berperawakan tinggi tegap berbicara serius pada Hinata, pasiennya, yang kekeh pada pendirian bahwa ia mau menghentikan kemo untuk beberapa tahun.
'Tapi saya harus dok, perusahaan saya ada diujung kebangkrutan.'
'apa yang lebih penting? Hidup anda atau hidup perusahaan anda? Lagi pula keluarga Hyuga punya 2 inti perusahaan.'
'Tapi perusahaan inti yang akan bangkrut ini, adalah perusahaan yang dibangun oleh Tousan saya dok, saya tidak bisa membiarkannya, sementara Hanabi masih SMA. Mungkin saya akan mengambil alih selama Hanabi SMA dok, setelah itu saya akan mengalihkannya pada Hanabi jika dia sudah lulus.'
'Tidak, ini sangat berbahaya, kalau terlambat, tidak akan ada yang bisa menghentikan sel-sel itu nona.' Ucap sang Dokter sedikit sinis.
'Saya tetap pada penderian saya dok.'
'Nona Hyuga Hinata!'
'Berikan saya obat yang lebih kuat dok, saya mohon.'
'Anda tau jika menghentikan pengobatan, maka hidup anda bisa dihitung dalam hitungan bulan?'
'dan anda tau jika saya tidak menyelamatkan perusahaan maka hidup perusahaan hanya hitungan minggu?'
'Nona Hyuga!' lagi Dokter itu berteriak, sungguh keras kepala pasiennya ini, dia lebih mempertaruhkan kesehatannya dibanding dengan perusahaan yang bisa dibangun lagi.
Jangan lupa jika dokter itu tidak bisa menjamin kesembuhan Hinata.
'tolong saya dok, saya tidak perduli dengan hidup mati saya, saya sudah tidak punya Tousan dan Kasan, dan perusahaan itu adalah peninggalan Tousan saya, hasil keringat kerja keras Tousan saya dok.'
'Resiko dari penghentian kemo anda adalah sel kanker bermitosis dengan cepat, dan akan memperburuk keadaan, setelah itu kemo tidak ada gunanya sama sekali, bahkan bisa membahayakan anda, artinya anda tau? Anda tidak akan selamat nona Hyuga.'
'Saya siap dengan resikonya.'
Dokter itu menghela napas panjang, dia sangat menyayangi pasiennya ini sungguh, harus cara apalagi yang ia pakai agar pasiennya ini menurut. Tapi ia tau bagaimana perasaan Hinata, Perusahaan itu adalah satu-satunya peninggalan ayahnya yang meninggalakannya 8 tahun lalu karena kecelakaan yang merenggut kedua orang tuanya.
'Jika kau melakukannya, maka presentase hidupmu hanya sampai setengah tahun Hinata.' Yah sekarang sang dokter mengabaikan kesopanan antara Pasien dan dokter.
'setengah tahun Kabuto?' mata Hinata terbelalak, apa ia sanggup membangun Hyuga Corp dalam waktu secepat itu?
'Ya. Dan apakah menurutmu kau akan sanggup mendirikan lagi perusahaan itu dalam waktu setenga tahun? Oh ayolah Hinata. Kau tidak boleh menyia-yiakan hidupmu.'
'…..'
Teridam, Hinata hanya terdiam, apa ia sanggup?
'Hinata…'
"Ta
"Nata
"Hinata…." Sasuke mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Hinata yang mengarah pada Laptop.
"E-eh. S-sasuke. A-ap yang k-kau lakukan?"
"Hah…. Membuang waktu, kau melamun hah? Daripada kau melamun, lebih baik kau bekerja keras. Dasar." Sasuke menegakkan tubuhnya kembali kini dia berdiri disamping Hinata. Sementara Hinata hanya mendongak lalu berdiri.
"G-gomen…" ucapnya sembari menunduk, hampir saja matanya meneteskan air mata, tapi tidak jadi.
"Aku bilang aku ada janji dengan sahabat-sahabatku. Aku pergi."
"E-eh. I-iya.." Hinata menatap Sasuke yang hendak pergi.
Pukk
"Jangan terlalu berpikir keras, cukup bersandar pada Uchiha saja." Tepukkan dibahu Hinata membuat Hinata menjadi hangat, ucapan itu entah mengapa sangat melegakan, walau pun ada kata 'Bersandar' seharusnya Hyuga berdiri sendiri kan, tapi sudahlah, mungkin dengan itu Hyuga bisa bangkit kembali.
Hinata mengangguk. "Arigato…" setelah itu Sasuke pergi meninggalkan ruangan.
….
Musik klasik berdengung dengan indah, suasana kafe bernama Lemony Café menjadi Café favorite untuk kelima sahabat kecil ini, sayang nya 1 dari mereka ada yang belum datang.
"Mumpung Sasuke belum datang, jadi bagaimana? Apa rencana kita?" Kiba memulai pembicaraan.
"Kita harus berbicara 10 mata dengan Hinata tentunya, tapi susah kalau dia keburu takut seperti itu." Balas Naruto. "Kau puny aide Shika?"
"Hm, ini tidak terlalu sulit menurutku. Tapi dengan adanya kau yang bertemu Hinata terlebih dulu, ini sungguh –"
"Mendokudasai." Jawab ketiga orang lainnya.
"Hn." Jawab Shikamaru.
"Menurutku Hinata masih menjadi gadis yang lemah lembut, coba saja telfon dia, lalu kita ajak dia bertemu, aku yakin dia masih bisa di kelabui seperti dulu." Kiba bersuara lagi.
"kita Ccoba dulu seperti itu." Jawab Shikamaru, dan dibalas anggukan oleh semuanya.
Kleteng…
Sosok Sasuke datang sambil menahan raut wajahnya yang memerah, sungguh bukan Sasuke sekali. "Ada yang ingin aku tanyakan pada kalian semua."
Dan disinilah mereka sadar harus melibatkan Sasuke dalam misi 'Meminta Maaf pada Hyuga Hinata'
...
Just close your eyes
The sun is glowing down
You'll be alright
No one can hurt you now
Dering mobile phone Hinata berbunyi saat Hinata sedang bekerja dengan serius diruangannya, hari ini hari senin, awal pekerjaannya.
"Moshi-moshi."
"Hinata… ini aku, Naruto."
Wajah Hinata menegang. "N-na-ru-to."
TBC
SELAMAT TAHUN BARU MINA-SAN
semoga tahun ini kita semua hidup dengan baik dan bermakna positif selalu. Amin
oh ya untuk balesan review...
Ai senang sekali kalian semua masih antusias dengan Fic ini, semoga tidak pernah bosen akibat jalan cerita Ai yang monoton :) dan untuk sesalahan dalam penulisan, hehe akan Ai perbaiki di Chap depan, Arigato ne buat Umu lagi-lagi dapat pelajaran yang baru keinget, ah kalau dosen Ai baca, pasti Ai akan di marahi habis-habisan kalau melupakan cara penulisan yang baik dan benar.
untuk yang tanya kenapa kayak Humor ya? aduh... #garuk_kepala. Ai sendiri tidak mengerti, yang ada dipikiran Ai seperti itu, apa mungkin karena Ai suka sekali baca Akatsuki Humor ya, akibatnya ikutan aliran humor. tapi masa sih itu kayak humor? jadi Ai bikin tulisan yang bisa buat kalian ketawa ya? hehe... padahal Ai berpikir Ai tidak bisa buat cerita Humor, pengen banget jadi Author yang bisa buat cerita Humor #yak_Curhat.
bagi yang tanya Sakura, hm... e-eto, aku mungkin akan sedikit mengikut sertakan Sakura disini, mungkin bagian konflik aja ya, hm... gomen ne
Sasuke mendapatkan Hinata dengan cara kotor apa ndak ya? hm... kayaknya endak deh, hehe sedikit bocoran. lagi pula konfliknya cuma sekitar penyakit, selingkuh, dan berusaha melindungi. hm... yah itu saja sih yang bisa di bocorkan.
Cahya Uchiha kok nggak kelihatan? :)
oke segitu dulu balesannya. Big Thx buat rikarika, Ms.X, Uma, Lovely Sasuhina, andri961, syuci hyu, birubiru chan, momo tomato, dindachan06, apriliasiska, arumjinnie.
