Summary : kau adalah udara bagiku yang akan kuhirup hingga nafas terakhirku, namun kini dia ada didekatku menjadi tumpuhanku saat udara tentangmu mulai menipis, dan kau tahu ada dia yang menjadi hatiku kini yang memberiku kehidupan walau tampa udara dan tumpuan itu.

Disclaimer : FF ini punya saya loh *gak nanya* sungmin punya appa eomma adiknya dan fansnya , kalau kyuhyun baru suami sahnya author *diintai sparkyu* , author disini hanya minjam nama dari member super junior, selebihnya maaf kalau ada salah salah ya, happy reading chingudeul ^^

Warning! : Ganderswith, typo bertebaran, tidak sesuai dengan EYD, beberapa ada bahasa korea yang mian banget kalo salah arti , author newbie ^^

Cast : Lee sungmin, Cho kyuhyun, Lee donghae, Kibum, Ryeowook, Kangin, Shindong.

.

.

.

na oerowododoe neol saenggakhalddaen
misoga naui eolgule beonjyeo
{Tidak masalah jika aku kesepian ,Setiap kali aku teringat padamu
Senyum menyebar di wajahku – hope is dream that doesn't sleep _ kyuhyun super junior}

.

.

.

ireohge sangcheo soke seulpeumdeuleul samkinchae
miso jitneun nae moseubeul neoege boyeo julge
ijeneun apeuji ana

eonjena neowa hamgge irugopeun kkum ango
galsu eobdeon jeopyeoneseo neoreul bulreobolgge
nae maeum dahae saranghaneun neoreul

suara tepuk tangan dari para mahasiswa yang mengikuti gladi resik di gedung itu pun terdengar riuh ketika part terakhir lagu itu dinyanyikan Kyuhyun dengan sempurna, ya Kyuhyun memang selalu memainkan lagunya dengan hati yang menghipnotis siapa saja yang mendengarnya, dia tampak sangat berbeda ketika sedang bernyanyi di atas panggung , dia tidak terlihat menyebalkan bahkan aura casanovanya pun menghilang, yang terlihat hanya seorang namja dengan wajah tampan, suara merdu dan aura ketenangan yang terpancar.

"Kyuhyun-ah"

terdengar suara namja memanggil nama Kyuhyun, dia pun berbalik untuk memastikan siapakah pemilik suara itu, Kyuhyun tersenyum.

"Yunho hyung" Kyuhyun berjalan kearah Yunho, dahinya menyeringit melihat seorang namja yang berdiri di samping Yunho itu, 'sepertinya dia bukan mahasiswa fakultas kesenian, aku tidak pernah melihatnya' batin kyuhyun.

"Ya, Kyuhyunah suaramu memang selalu yang terbaik, lama tidak berjumpa ne"

"Ahh kau terlalu melebih-lebihkan hyung, aku tau kau sibuk hyung"

"Hey, kau yang sibuk aku selalu ada di kampus tapi kau yang terlalu sering tidak datang ke kampus"

"Ahh baiklah aku akui aku memang sedikit sibuk hyung," Kyuhyun melirik namja yang berdiri disamping Yunho sejak tadi dan memperhatikan percakapan mereka.

"Dia temanmu hyung?" lanjut Kyuhyun

"Ahh aku hampir lupa memperkenalkannya padamu, kenalkan ini sahabat ku Kibum dia baru datang dari Amerika, dia mahasiswa fakultas kesenian dia datang kemari untuk melihat festival kesenian tahunan kita"

"Annyeong Kibum imnida" namja itu tersenyum kearah Kyuhyun, namun hanya di balas wajah datar oleh Kyuhyun.

"Annyeong Kyuhyun imnida, baiklah hyung aku pergi dulu ada yang harus aku kerjakan"

"Ya, Kyuhyun-ah jangan pergi dulu aku sengaja datang kemari untuk meminta bantuanmu menami Kibum melihat-lihat area festival kesenian, kau bisa kan?"

Kyuhyun menatap Yunho dengan malas

"Ya, hyung kau ini merepotkan saja"

"Ayolah sekali ini saja, banyak yang harus aku kerjakan jadi aku tidak bisa menemaninya kau mau menolongku kan" ucap Yunho sambil merangkul bahu Kyuhyun. Kibum hanya tersenyum melihatnya.

"Ah, arraseo hyung"

"Perlakukan dia dengan baik, dia tamu di dalam festival ini"

Kyuhyun mengangguk pelan, Yunho pun berjalan pergi meninggalkan kedua namja itu yang masih berada dalam suasana yang canggung

"Baiklah hyung ayo ikuti aku kita akan mulai mengitari area festival"

"arraseo"

Mereka berdua kini berjalan mengitari area Festival yang berada di halaman kampus itu, dimulai dari Stand Alat musik daerah, Stand Karya Pahatan, Tari dan masih banyak lagi. Di sepanjangan perjalanan suasana yang tadinya sangat canggung lama kelamaan mencair, mereka berdua sudah mulai membicarakan banyak hal dengan santai. Mereka juga membicarakan tentang kehidupan Kibum di Amerika.

"Kau tidak berminat tinggal di Amerika Kyu?"

"Ani hyung aku sudah sangat nyaman tinggal di Korea, lagi pula jika aku pergi ke Amerrika bayangkan saja berapa banyak yeoja yang akan patah hati hyung" mereka berdua tertawa bersama.

"Ah kau terlalu percaya diri Kyuhyun-ah"

"Itu kenyataan hyung, kau harus tau banyaknya yeoja yang setiap hari ingin berkencan denganku"

"Jinjja kalu begitu kenalkan satu yeoja untukku arraseo" Kibum menyikut pelan perut Kyuhyun.

"Itu hal mudah Hyung" Kyuhyun tersenyum ,

"Baiklah hyung ini stand terakhir yang ada di festival ini, stand lukisan, sepertinya belum terlalu banyak lukisan yang di pajang disini"

Kyuhyun masuk kedalam tenda putih besar itu di ikuti Kibum, di lihatnya beberapa orang sedang menghias dinding tenda dan ada juga yang merapihkan lukisan-lukisan yang akan di pajang. Pandangan Kyuhyun Kini tertuju pada dua yeoja yang sedang merapihkan lukisan di salah satu sudut tenda, ya pandangannya tertuju kepada Sungmin yang sedang bersama Ryeowook.

"Kyuhyun-ssi" Ryeowook berjalan menghampiri Kyuhyun.

"Apa yang kau lakukan disini, kau bersama Yesung hyung?" ucap Ryeowook sambil melihat namja yang berdiri di belakang Kyuhyun, wajahnya tidak terlihat karena terhalang tubuh Kyuhyun.

"Ya, Kau hanya mencari Big head itu padahal jelas-jelas ada aku namja tampan yang sedang berdiri di hadapanmu"

"ahh arraseo, apa yang kau inginkan? Kami sedang sibuk jika ingin melihat-lihat silahkan tapi jangan mengganggu ne"

"Aku tidak ingin mengganggu , aku sedang mengantar seseorang untuk melihat-lihat area festival, sekarang tugas mu untuk menjelaskan apa saja yang ada di stand ini kepadanya" Kyuhyun meminggirkan badannya, terlihat seorang namja berwajah tampan dengan senyum yang terlukis daiwajahnya, Ryeowook pun terdiam , senyum namja itu benar-benar bisa melumpuhkan hatinya dalam seketika.

"Annyeong haseyo Kibum imnida" suara namja itu memecahkan lamunan Ryewook.

"Ah.. ne Kim Ryeowook imnida, bangapseumida"

"Bagaimana Ryeowookssi kau bisa menjelaskan lukisan apa saja yang akan di pamerkan di stand ini?"

"Mianhae tapi itu bukan tugas ku kyuhunssi, itu tugas…" belum selesai menyelesaikan perkataannya , tiba-tiba sungmin sudah berada di belakangnya ,

"Wokkie-ah kenapa lama sekali masih banyak lukisan yang harus di rapihkan dan di pajang"

"Nah, tugas menjelaskan tentang lukisan di stand ini adalah tugas Minnie"

Sungmin berbalik matanya kini bertemu pandang dengan mata milik namja itu, namja yang 4 tahun menghilang meninggalkan dirinya, namja dengan senyum pembunuh, namja yang selalu mencubit pipinya ketika dia menangis , namja yang sudah Sungmin anggap sebagai udara yang harus dia hirup setiap hari namun udara itu memutuskan hanya menjadi semilir angin yang lewat, namja itu yang selalu hadir di dalam mimpi Sungmin, namja itu…

"Minnieah"

*Sungmin Pov*

Benarkah? Apakah aku sedang bermipi, oppa … Kibum oppa… apakah itu kau? Aku sangat ingin memelukmu memastikan kalau ini semua bukan mimpi, oppa apakah itu kau? Bogoshipo oppa… jeongmal bogosipho.

"Minnieah" suara namja itu memecahkan lamunanku, lagi-lagi aku menatap matanya berusaha meyakinkan diriku bahwa ini bukan mimpi 'kau tidak bermimpi Lee Sungmin'

"Minnieah apakah benar kau" namja itu mendekat, dia memelukku erat, aku masih termangu tak percaya 'tuhan jika ini mimpi aku tak ingin pernah bangun'

"Kibum oppa" aku membuat sedikit jarak diantara pelukannya aku tatap wajahnya dan kedua manik itu, 'iya benar kau kibum oppaku'

"Oppa kau benar Kibum oppa Ku?"

Kibum oppa mengangguk pelan sambil tersenyum, ya tuhan aku sangat bahagia akhirnya dia kembali, udara itu kembali, aku harap aku bisa bernafas lebih lama , semoga.

*Sungmin Pov End*

*Kyuhyun Pov*

"Oppa kau benar kibum oppa ku?"

Apa? Oppa ku, ya! Sebenarnya apa hubungan namja ini dengan sungmin, lalu kenapa sungmin memanggilnya oppa? Apa dia sepupu sungmin, entahlah … hey tapi lihatlah mereka berdua sangat larut dalam perasaannya sendiri bahkan mungkin mereka tidak sadar masih ada aku dan Ryewook yang memperhatikan tingkah mereka sejak tadi.

"Hyung, kau mengenal gadis aneh ini" ucapku sambil menarik lengan kibum hyung.

"Ne tentu saja sangat mengenalnya bahkan" aku menaikkan sebelah alis mataku, mengisyaratkan aku tak mengerti maksud perkataannya.

"Minnieah, apakah dia?"

Sekarang apa lagi, lihatlah aku dapat melihat semburat merah yang ada di pipi chubbienyam ketika Ryeowook mengatakan itu, siapa sebenarnya namja ini?. Aku melihatnya mengangguk pelan kearah wookie, sesekali dia tersenyum kearah namja yang ada di sebelahku ini, senyum yang sulit di tebak mengandung arti apa, aishhh siapa dia dan apa hubungannya dengan sungmin.

*Kyu Pov end*

*Author Pov*

"baiklah ming besok kau jangan sampai telat ne ke acara pembukaan festival"

"Arraseo wokkieah, aku duluan ne" sungmin melambaikan tangannya kearah Ryeowook dan mulai berjalan menjauh.

Hari ini masih belum bisa sungmin percayai, dia bertemu dengan kibum oppa, namja yang selama ini dia tunggu telah datang kembali. Bukankah serahusnya sungmin senang? Ya seharusnya memang seperti itu, namun ada sedikit rasa ketakutan yang terbesit di dalam hati sungmin ketika dia mengingat lagi penyakitnya.

"Oppa kau kembali, tapi aku takut jika aku harus meninggalkanmu terlebih dahulu, oppa aku takut.. andai kau mengetahuinya" batin sungmin.

Sungmin berjalan pelan menuju halte bus, dilihatnya di sepanjang jalan daun-daun maple yang berguguran, dia terhenti ketika wajahnya merasakan sesuatu yang menetes dari langit.

"Hujan?" ucap sungmin sambil mendongakkan kepalanya menghadap langit, satu demi satu bulir hujan mulai jatuh mengenai wajah sungmin, dia tersenyum merasakan terpaan air hujan di wajahnya.

"sudah lama sekali hujan tak mengenaiku, sekarang aku ingin merasakannya kembali karena aku takut tidak akan pernah lagi bisa merasakan segarnya air hujan yg membasahi kulitku" sungmin tersenyum dia memperlambat langkahnya, menikmati setiap air hujan yang membasahi tubuhnya. Perlahan air mata itu meleleh di pipinya bersatu dengan air hujan, hingga sulit untuk di bedakan.

"Eomma , kau melihatnya? Kibum oppa kembali, aku harap dia masih kibum oppa ku yang dulu.. eomma jangan cepat-cepat memintaku untuk menemanimu ne, aku masih ingin bersamanya hingga salju terakhir mencair . ku mohon eomma" monolog dalam pikiran sungmin terhenti ketika dia tidak lagi merasakan air hujan yang menyenth kulitnya, dia melihat ke sisi kirinya, seorang namja berwajah teduh kini telah berada di sampinya memegang sebuah jaket untuk menutupi kepala nya dan kepala sungmin.

"Jika kau ingin menyembunyikan air matamu jangan pernah menggunakan hujan, sudah ku bilang kapan pun kau ingin menyembunyikan air matamu aku siap meminjamkan bahuku" namja itu tersenyum hangat kearah sung min. sungmin membalas senyuman itu.

"Gomawo Donghaeah, aku hanya ingin merasakan hujan, aku takut jika aku tidak punya kesempatan lagi" sungmin berjalan lagi di ikuti donghae yang menyamakan langkah sungmin.

"Kau baik-baik saja?"

Sungmin hanya mengangguk pelan sambil terseyum dan tetap berjalan. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti di depan sebuah restoran bergaya Italia, dilihatnya seseorang yang tidak asing di dalam restoran itu.

"Hae"

"Ne" ucap donghae yang tangannya masih sibuk menutupi kepala sungmin dari terpaan air hujan dengan jaketnya.

"Apakah itu appa?" sungmin menunjuk kearah dua orang yang sedang duduk didalam restoran yang terlihat jelas dari balik jendela.

"Dimana"

"DI restoran itu" Donghae melirik kearah yang di tunjuk sungmin, dia memperhatikan dengan seksama , siapa orang yang ada di dalam restoran itu.

"Donghaeah benarkah itu appa, bukankah itu seorang wanita?"

"Ne sepertinya itu appa mu, tenanglah Minnieah mungkin itu hanya relasi bisnisnya jangan berpikiran negative arraseo?"

Sungmin terdiam cukup lama sambil memperhatikan kedekatan kedua orang yang berada di dalam restoran itu, dilihatnya appanya tertawa bahagia, tawa yang jarang Sungmin lihat setelah kepergian eommanya. 'apakah mungkin wanita itu? Appa apakah ini sungguh seperti apa yang aku pikirkan kah? Kenapa appa'

"Minnieah, gwencana" Donghae menatap wajah sungmin

"Sudahlah aku yakin itu relasi bisnis ahjussi, ahjussi tidak mungkin melakukan sesuatu seperti yang kau pikirkan sekarang, kajja kita pulang kau sudah terlalu lama terkena air hujan lihatlah wajahmu sudah sangat pucat Minnie"

Sungmin menatap Donghae dia tersenyum, 'kau salah Hae, appa tak pernah mengajak relasi bisnisnya untuk membicarakan urusan bisnis di retoran, aku tak yakin Hae, mungkinkah cinta appa kini telah dia berikan untuk wanita itu, yang sudah beberapa kali kulihat bersama appa? Entahlah"

"Minnie, gwencana?"

"Ne kajja kita pulang" sungmin melangkahkan kakinya menuju arah mobil donghae, Pikirannya kini terfokus pada appanya, dan sebanarnya siapa wanita itu.

Sungmin merebahkan dirinya diatas kasur bersprei pink itu, kepalanya terasa sakit dan lagi-lagi rasa mual dan sakit di hatinya terasa, dia berusaha memejamkan matanya namun sepertinya sia-sia dia tetap masih terjaga dan bisa merakan sakit yang menyarang tubuhnya, sungmin mengigit bibirnya pelan, tangannya meraih sebotol obat yang ada di meja di samping tempat tidurnya, dia meminumnya cepat berharap bisa menetralisir rasa mual dan sakit di bagian hatinya.

Trutt Trutt Trutt

Iphone bewarna putih itu bergetar , "My Oppa" tertulis nama si pemanggil di layar itu, senyum sungmin terlukis di bibir plumnya.

"Yeobseo"

"Kau belum tidur kelinci?"

"Belum oppa mungkin sebentar lagi, ada apa oppa"

"Gwencana aku hanya ingin berbicara denganmu, aku sungguh tidak percaya bisa bertemu dengan mu di kampus"

"Aku juga oppa, ini semua seperti mimpi, oppa?"

"Ne?"

"Oppa masih sama seperti yang dulu kan"

Terdengar suara tertawa dari ujung saluran telefon itu,

"Tentu saja aku selalu sama seperti dulu Minnie, kau juga kan? Tidak ada hal yang aku lewatkan bukan?"

Sungmin terdiam cukup lama, air matanya kini lagi-lagi menetes.

"Minnie gwencana? kau sakit?"

"Aniyo oppa, gwencana… tidak ada yang berubah oppa, aku masih sama seperti dulu, kelinci yang suka menangis" sungmin tertawa pelan 'Sangat banyak yang telah kau lewatkan oppa, entah bagaimana aku harus meceritakannya padamu, aku sangat merindukanmu oppa' sungmin terdiam lagi.

"Syukurlah aku bahagia jika kau masih seperti dulu, Minnieah"

"Ne oppa"

"Besok aku akan datang lagi ke kampusmu untuk melihat acara pembukaan festival, kau mau menemaniku?"

"Ne oppa akan aku temani"

"Baiklah sudah malam, kau tidur ne"

"ne oppa"

"Minnie"

"Ne?"

"Ada yang ingin aku katakan besok"

Sungmin tersenyum

"Akan aku tunggu oppa"

Bip, Sungmin memutuskan sambungan telefon itu. Dia terduduk da samping ranjangnya, dia menenggelamkan kepalanya diantara kedua tangannya sungguh Sungmin tidak sanggup lagi menahan air mata yang sedari tadi mencoba untuk keluar dari pelupuk matanya.

Bukankah seharusnya sekarang Sungmin bahagia karena orang yang dia cinta telah datang, namun kebahagian itu seakan tertutupi oleh rasa takut dihati Sungmin, dia takut tak punya banyak waktu bersama Kibum , dia takut berpisah lagi dengan Kibum , sedangkan takdir yang ada di depannya tidak memeberi pilihan untuk bersama lebih lama dengan Kibum, hati Sungmin sakit dan perasaan takut yang kini telah menyelimuti perasaannya, satu kalimat untuk mewakili semua perasaannya 'Aku tidak ingin berpisah dengan siapapun'. Sungmin masih tersedu saat terdengar pintu kamarnya di ketuk seseorang.

Tok…Tok

"Ne, siapa?"

"Donghae, boleh aku masuk"

"Masuklah Hae"

Donghae membuka pintu kamar sungmin, lalu masuk kedalam dan di lihatnya sungmin yang terduduk di samping tempat tidur dengan mata sembab dan wajah yang terlihat pucat

"Minnie gwencana" Donghae berjalan cepat kearah Sungmin, dia memegang bahu sungmin lalu menempelkan tangannya di kening Sungmin.

"Minnie kau demam, aku harus memanggil dokter " Donghae hendak beranjak pergi namun langkahnya terhenti ketika sungmin menarik tangannya.

"Aku tidak perlu dokter Hae, besok demamku pasti sudah turun tenang saja"

"Tapi Minne, aku harus tetap.."

"Hae jebal,"

"Ne arraseo" Donghae pun kemabali duduk di samping Sungmin, dia mengusap pucuk kepala Sungmin lembut.

"Kau yakin akan baik-baik saja Minnie?"

"Ne arraseo, percayalah hae aku akan baik-baik saja. Hae apakah kau pernah jatuh cinta?"

Tangan Donghae terhenti mengusap rambut Sungmin, Ketika pertanyaan itu keluar dari bibir Sungmin, Donghae terdiam.

"Donghaeah, kau mendengarku bukan apakah kau pernah merasakan jatuh cinta"

Domghae tersenyum dia menatap sungmin lembut

*Donghae Pov*

Aku tersenyum menatapmu, melihat iris foxy yang lembut itu, kau bertanya padaku apakah aku pernah jatuh cinta? Tentu aku pernah, bahkan aku sekarang sedang merasakan getaran-getaran cinta itu.

"Donghaeah kenapa tidak menjawab"

"Tentu saja aku pernah merasakannya, Wae Minnieah kau sedang jatuh cinta?"

"Apa yang kau rasakan ketika melihat orang yang kau cintai Hae"

Dia menanyakan hal itu, bagiku itu bukan pertanyaan sulit, semua perasaan yang aku rasakan ketika melihat orang yang ku cinta sangat mudah aku deskripsikan ketika aku menatapmu Minnieah.

"Tentu saja aku merasa sangat bahagia Minnie, aku sangat bahagia jika bisa melihat senyumnya , aku juga sangat bahagia ketika bisa selalu ada di dekatnya, menjaganya memastikan semua akan baik-baik saja, namun aku takut ketika dia menangis. Aku takut dia menangis karena ku, aku takut menyakitinya dan yang paling penting aku takut jika ternyata aku sama sekali tidak pernah ada di dalam hati orang yang aku cintai itu."

Aku melihatmu terdiam, kau seperti sedang mencerna semua perkataanku tadi, sungguh Minnie aku ingin menyentuh hatimu, memeberitahumu rasa yang ada di hatiku, bisakah aku masuk kesana walau hanya sedetik saja.

"Hae apa yang akan kau lakukan jika orang itu tidak mencintaimu?"

Aku tersenyum kearahnya

"Aku akan tetap mencintainya, hingga dia merasakan tulusnya cintaku untuknya"

"Beruntung sekali orang yang kau cintai Hae, aku harap dia juga mencintaimu."

"Minnie"

"Wae?"

"Kau ingin mendengar lagu khusus untuk orang yang aku cintai?"

"Tentu aku mau Hae, tapi tak apakah jika aku mendengarnya? Inikan lagu yang khusus untuk orang itu"

"Tak apa Minnieah"

Aku tersenyum lalu menarik nafasku pelan, aku menggenggam tangnya dan ku tatap kedua iris foxy itu.

The loneliness of nights alone
the search for strength to carry on
my every hope has seemed to die
my eyes had no more tears to cry
then like the sun shining up above
you surrounded me with your endless love
Coz all the things I couldn't see are now so clear to me

You are my everything
Nothing your love won't bring
My life is yours alone
The only love I've ever known
Your spirit pulls me through
When nothing else will do

You're the breath of life in me
the only one that sets me free
and you have made my soul complete
for all time

Every night I pray
On bended knee
That you will always be
My everything

Aku melihat mu terdiam, entah apa yang sedang kau rasakan saat ini, apakah aku bisa menyentuh hatimu Minnie? Kau bisa merasakannya Minnie, ini tulus dari hatiku yang paling dalam. Aku masih menggenggam tangan mu, belum ada yang memulai pembicaraan di antara kita masih hening hingga suara detak jantung kita pun bisa terdengar jika kita mendengarkan dengan seksama, aku menarikmu kedalam pelukanku, kau tidak menolak kau hanya diam.

"Minnieah"

"Ne, mengapa kau memelukku Hae?"

"Saranghae"

Ya akhirnya satu kata itu keluar dari bibir ku, kau menarik tubuhmu dari pelukanku aku menatap matamu lagi , entah aku tidak bisa membaca arti dari tatapanmu.

"Hae kau serius? Kau sedang bercanda bukan? Mana mungkin aku?" aku melihatmu Nampak bingung dengan hal yang baru aku katakan tadi.

"Minnie jeongmal saranghae, aku sudah lama merasakan perasaan ini padamu apakah kau memiliki perasaan yang sama kepadaku?"

Aku mengenggam tangan mu lagi, aku tatap kedua matamu untuk meyakinkan mu bahwa aku benar-benar mencintaimu, kumohon Minnie izinkan aku untuk mencintaimu.

"Aniyo Hae kau pasti sedang bercanda kan? Kau tidak mungkin mencintaiku"

Kau menarik tanganmu dari genggamanku, kau berdiri menjauhiku. Apakah ini artinya aku sungguh tidak bisa memasuki hatimu Minnie?

"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang Minnie, aku akan menunggumu besok sore. Datanglah ke pantai jika kau menerimaku tapi jika tidak kau tak perlu kesana, jika kau tak kesana ketika aku kembali dan bertemu denganmu akan kupastikan semua akan tetap seperti biasa tidak akan ada yang berubah, aku akan tetap menjadi Donghae yang akan selalu melindungimu" aku tersenyum ku usap lagi pucuk kepalanya, lalu kuputuskan untuk keluar dari kamarnya.

Aku harap kau datang besok Minnie, semoga.

*Donghae Pov End*

.

.

.

"Kyuhyun oppa"

"Oppa Saranghae"

Suara riuh para penggemar Kyuhyun itu terdengar dimana-mana, dia baru sala menyelesaikan penampilannya di salah satu program music malam itu. Kyuhyun hanya tersenyum sesekali dia melambaikan tangannya kearah fans-fansnya sebelum menuruni stage dan kembali kebelakang stage.

"Huft melelahkan" gumannya pelan.

"Kau selalu hebat Kyuhyunah"

"Aku tau hyung tampa kau katakana pun" ucapnya pada shindong sambil menyunggingkan senyum evil andalannya.

"Kau besok akan tampil bukan diacara pembukaan festival di kampusmu, pasti banyak wartawan yang akan meliput"

"Ya sepertinya begitu, festival tahunan di kampusku memang cukup banyak menarik perhatian masyarakat, bahkan ada seorang masiswa dari universitas di Amerika yang sengaja datang kemari untuk melihat festival itu"

"Jinjja, kau harus menampilkan yang terbaik kalau begitu"

"Arraseo hyung, datanglah ne"

"Jika aku tidak sibuk aku akan datang besok,oh ya bagaimana dengan yeoja itu? Yeoja yang kau katakan akan segera menjadi yeojachingu mu? Apakah kalian sudah berpacaran?"

Kyuhyun terdiam, dia jadi kembali teringat tentang Sungmin dan Kibum, setelah pertemuan Sungmin dengan Kibum tadi Kyuhyun makin penasaran sebenarnya apa hubungan mereka berdua, 'apakah aku harus bertanya pada Kibum hyung?' batinnya

"Ya, babo kau mendengarku?"

Shindong berteriak tepat di kuping Kyuhyun,

"Aishh Hyung, kau sedang melakukan apa kau ingin aku tuli di usia muda eoh? Aku dengan yeoja itu sudah resmi berpacaran"

"Jinjja baguslah kalau begitu, lusa kau akan menghandiri sebuah acara penghargaan untuk para musisi, aku sudah berbicara kepada salah satu pimpinan acara itu bahwa kau akan kesana bersama yeojachingumu itu."

'aish habislah aku kenapa aku harus berbohong, lihatlah sekarang aku sendiri yang terkena batunya' batinnya

"Kyu, kau bisa bukan datang bersamanya?"

"Ah aku tidak mau hyung, untuk apa? Kekasihku tidak ingin terlalu terekspose ke public"

"Ayolah Kyu ini juga bisa membantumu menghilangkan image negative tentang dirimu yang selau bermain-main dengan para yeoja. Kau harus datang bersamanya aku tidak menerima alasan apapun, arraseo?" Shindong menepuk pelan bahu Kyuhyun lalu beranjak pergi meninggalkan Kyuhyun.

"Ya Hyung.. aishhh dia selalu sesuka hatinya, bagaimana ini apa yang harus aku lakukan" Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.

Kyuhyun pun mengikuti langkah Shindong menuju basement , tapi ketika dia hendak menuju basement seorang namja yang baru dia kenal hari ini menghampirinya.

"Kyuhyunan" namja itu mendekat kearah Kyuhyun dan menepuk punggung Kyuhyun pelan.

"Kibum hyung bagaimana kau tau aku ada disini?"

"Sangat aneh jika aku tidak tahu kau berada disini, sadarlah kau penyanyi terkenal sangat mudah mencari keberadaanmu Kyuhyunah"

"Ahh kau mulai terlihat seperti Yunho hyung terlalu melebih-lebihkan"

"Kau mau menemaniku minum?"

Kyuhyun melirik kibum, dia mngerenyitkan dahinya.

"Kajja aku tidak menerima penolakan" Kibum tersenyum kea rah Kyuhyun sambil merangkul pundaknya, mereka berdua kini tengah berada di dalam mobil, menuju sebuah klab. Sesampainya di klab, kyuhyun tidak lupa memakai penyamarannya topi dan kaca mata hitam.

"Kau selalu menggunakan itu Kyuhyunah?"

Kyuhyun membenarkan posisi kaca mata hitam yang dia pakai.

"Jika aku tak menggunakan penyamaran , tak terhitung berapa banyak yeoja yang akan mengerumuniku hyung"

"Aku tidak menyangka kau seterkenal itu" Kibum tersenyum sambil menenggak soju yang ada di meja di hadapannya

"Kau meragukan pesonaku hyung?"

"Aniyo aku percaya Kyu" Kibum terkekeh pelan, Kyuhyun pun memasang wajah kesal lalu ikut meneggak sebotol soju itu.

"Kau mempunyai keluarga di Seoul kah hyung?"

"Ne , Halmoni ku tinggal di seoul tapi aku sangat jarang mengunjunginya lebih sering dia yang mengunjungiku ke Amerika."

Kyuhyun menganggukkan kepalanya pelan mengisyaratkan bahwa dia mengerti.

"Kau tinggal dengan siapa di Seoul Kyu?"

"Aku tinggal sendiri di apartement walaupun sebenarnya omma ku juga tinggal di Seoul"

"Kenapa kau tidak tinggal dengannya?"

"Anii, aku merasa tidak nyaman hyung"

Kibum tidak melanjutkan lagi pertanyaan tentang keluarga Kyuhyun, mereka berdua terdiam beberapa saat hingga Kyuhyun membuka percakapan lagi.

"Hyung…"

"Wae?"

"Sebenarnya apa hubungannmu dengan Lee Sungmin?" Kyuhyun memasang wajah serius, tapi kibum malah tersenyum kearah Kyu.

"Minnie… dia adalah kelinciku , seseorang yang sangat berarti bagiku dari masa lalu, dan aku harap dia bisa menjadi masa depanku"

Kyuhyun terdiam, dia mencoba mencerna perlahan kata-kata Kibum , 'masa lalu yang dia harapkan bisa menjadi masa depan? Tunggu dia dan sungmin?' Kyuhyun membelalakan matanya lebar.

"Kau dan Sungmin ? pasangan kekasih?"

"Ani Kyu, wae sepertinya kau ingin tau sekali? Apakah ada masalah?"

"Aniyo hanya saja aku penasaran" Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari Kibum, lagi dia menenggak sebotol soju yang ada di hadapannya.

'Apa jangan-jangan Sungmin dan Kibum hyung adalah sepasang kekasih?' batin Kyuhyun.

.

.

.

TBC

Huaaaaa akhirnya update, shyndrome hari raya membuat saya mager untuk buka laptop hhee, maaf ya buat yang menunggu kelanjutan FF ini, saya menggantungkan rasa penasaran kalian hhheee…

Di chap ini saya belum bias balesin review nih lagi agak sibuk hhee, mudah2n di chapter selanjutnya saya bias balasin review kalian, dan buat yang review saya ucapkan terimakasih ya *ciumin satu-satu*

Okedeh tetep terus baca kelanjutan FF saya ya ^^ kamsahamnida,,, dan jangan lupa review n review …

V

V

V

V

V

REVIEW PLEASE ^^