Chapter ini didedikasikan untuk :
Scsclouds ; KeyName ; Light luca ; dany ; 123 ; pyon ; Guest ; Drak Yellow ; Kurama nii-sama ; demorarion ; dwi2 ; black storm ; opek. Zesyu ; deEsQuare ; Ayuni Yukinojo ; fatayahn ; budey s. Reydit ; samsulae29 ; Nokia 7610 ; hime koyuki 099 ; bohdong. palacio ; ahmadbima27 ; Dark Namikaze Ryu ; Ntoe D Uzumaki dan asmi ajja.
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : AU, Mungkin akan sedikit bashing!character, OOC; Don't Like Don't Read.
I'am a Robot, Aren't i? © Ru Unni Nisa
~oOo~
Anak laki – laki berambut jingga gelap itu duduk sendirian di taman. Ia hanya bermain ayunan dalam diam. Tak ada yang mau duduk disampingnya karena ia terkenal dengan kekasaran etika. Ia mengangkat bahu, ia tak peduli orang berkata apa.
Ia hanya menatap keluarganya yang berada ditempat yang lebih ramai. Orang tuanya mengajak anak – anaknya untuk pergi ke taman karena akhir pekan. Ia hanya ikut, toh, di rumah ia bosan.
Anak laki – laki berumur sekitar 12 tahun itu memperhatikan dalam diam kegiatan keluarganya. Ia tidak suka tempat ramai seperti itu. Menyusahkan, berisik, dan sangat konyol. Berlari – lari hingga jatuh dan menangis pada akhirnya dipangkuan sang ibu. Hah! Dia ingin tertawa maniak didepan anak itu.
Dia melihat pada satu – satunya anak laki – laki yang berambut pirang. Anak itu lebih muda darinya. Tentu saja! Anak pirang itu adalah adiknya. Tidak mungkin, anak pirang itu lebih tua darinya. Konyol!
Ia mengetahui adik laki – lakinya yang bernama Naruto terlihat senang bermain dengan anak tetangga mereka. Uchiha Sasuke, bersama dengan kakaknya Uchiha Itachi – yang lebih muda beberapa tahun darinya. Ia melihat beberapa anak lain yang juga ikut bermain dengan mereka. Namun, ia lebih memperhatikan Naruto terlihat senang dengan gadis berambut merah muda.
Hah! Merah muda! Konyol, warna permen kapas. [Unni: Warna rambutmu juga konyol, Kyuu... _ Kurama: Aku tidak dengar. *Watados]
Saat itu ia melihat anak berambut pirang lain, siapa lagi kalau bukan adik perempuannya, kakak kembar Naruto, Naruko. Ia melihat Naruko memperhatikan Naruto dan yang lainnya bermain sementara dirinya hanya duduk bersama ayah dan ibunya. Melihat dengan pandangan iri dan tidak suka. Anak berambut jingga itu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Yup! Menangis dipangkuan ibunya. Menyedihkan. Dasar anak – anak. [Unni: Um...Kyuu, kamu tidak sadar kalau kamu juga anak – anak? _ Kurama : Diam! _ Unni : *Kabur]
Dia baru akan mencibir Naruko ketika ia mendengar ayahnya memanggilnya. "Kurama! Cepat kembali, kita akan pulang!"
Kurama menghembuskan nafas lelahnya. Dia ingin menjadi seorang dewasa dan tidak perlu disuruh seperti anak kecil seperti ini. Kesinilah. Kesanalah. Melakukan inilah. Melakukan itulah. Menyebalkan.
Dalam diam, Kurama berjalan dibelakang Naruto yang terlihat mencari celah untuk melambaikan tangan dan berteriak untuk bermain lagi besok. Kurama mau tak mau menyeringai kecil. Betapa naive masa anak – anak.
Malam setelah makan malan. Ia beranjak untuk ke kamar. Setidaknya mengerjakan tugas yang diberikan gurunya. Saat itulah ia mendengar diskusi dari ayah dan ibunya di dapur. Kurama mengangkat bahu. Ia tidak peduli. Seorang dewasa tidak akan mencampuri urusan orang lain. Oh, dan betapa menyesalnya ia ketika ia tidak mempunyai rasa penasaran itu.
Keesokannya, ia kembali diajak ke taman. Namun, ia sudah memiliki rencana untuk pergi ke toko buku membeli beberapa peralatan sekolahnya. Setelah berjanji demi sikap kedewasaan, akhirnya ayahnya melepaskannya untuk menjalankan rencananya dan menyusul keluarganya pergi ke taman.
Kurama sama sekali tidak mengerti, kenapa mereka sangat memaksakannya untuk pergi ke taman. Sementara ia sama sekali tidak memiliki teman untuk bisa diajak bermain disana. Kembali mengangkat bahu. Seorang dewasa akan menjalani apa yang akan mereka hadapi.
Ketika ia tiba dan kembali menempati tempat favoritnya. Melihat sekeliling. Ia melihat Naruko dapat bermain dengan anak – anak yang lain. Permainan yang tidak terlalu membuang tenaganya sehingga jantungnya tidak akan menjadi salah.
Ia mengerutkan dahi. Mengetahui sesuatu yang aneh. Ia merasa sesuatu yang tidak benar, dan seolah – olah ada yang ia lupakan. Kurama memutar otaknya. Ia mengabsen satu – persatu anak – anak yang ia ingat kemarin.
Hem...Beberapa anak yang tak ia kenal, kemudian ada Uchiha bersaudara, si anak perempuan berambut permen kapas, adik perempuannya, adik-
Oh, itu dia. Adik laki – lakinya, Naruto. Pantas ada yang hilang. Ia melihat sekeliling dan tak melihat Naruto dimanapun. Kemana Naruto pergi? Meskipun Naruto adalah anak yang sedikit terlalu bersemangat. Ia tahu Naruto tidak akan keluar batas sampai menghilang seperti itu.
Meloncat turun. Ia segera menanyakan pada orang tuanya.
"Kurama, sayang. Naruto ada di rumah, kamu tenang saja. Dia sepertinya sedang senang didalam rumah. Kamu tidak perlu khawatir." Ibunya menjawab dengan tenang. Meskipun begitu ia tetap tidak suka dipanggil 'sayang'. Hell, dia sudah 12 tahun. Panggilan itu hanya untuk anak – anak, dia sudah dewasa.
Tapi, sekarang Kurama cemberut ketika ia merasakan tangan ayahnya mengacak rambut jingganya. Ia berusaha menyingkirkan tangan ayahnya, ketika ia melihat mata ayahnya yang terlihat khawatir dan tidak tenang. Ayahnya memberikan senyum yang tidak pasti.
Itu salah, ayahnya biasanya memberikan senyum yang menenangkan. Bukan sebaliknya. Kurama mengangguk, seolah ia mengerti kegelisahan ayahnya.
"Kaa-san, aku ingin pulang duluan." Kurama melihat ibunya dan dengan cepat menambahkan ketika ia melihat ibunya tidak rela. "Aku ingin mengerjakan tugasku sebelum aku mendapat detensi karena tidak mengerjakannya."
Dengan itu ia tahu, ibunya melepaskannya.
Dengan cepat Kurama berlari, ia menahan erat tas kecil berisi peralatan sekolahnya. Jarak taman sampai rumah tidaklah begitu jauh hanya sekitar beberapa blok. Begitu sampai di rumah dan memutar knop pintu. Ia hampir memukul dahinya dengan telapak tangannya ketika ia lupa meminta kunci.
Tapi, tunggu dulu. Naruto ada di rumah, dia pastinya memiliki kunci rumah. Dengan cepat dan keras ia mulai memukul pintu. "Naruto? Buka pintunya! Naruto!"
"Kurama-niichan! Disini gelap! Tolong Naru! Naru takut gelap! Kurama-niichan!"
Jantung Kurama bergerak keras. Ia dapat mendengar Naruto menangis. Ia tahu, Naruto takut gelap. Ia harus segera masuk kalau tidak adiknya akan terkena serangan panik. Dalam keadaan seperti ini, Kurama berusaha menenangkan diri. Ia tidak punya kunci. Teriakan Naruto barusan membuktikan dia tidak punya kunci. Ia tidak mungkin kembali ke taman. Terlalu banyak membuang waktu.
Dengan terburu – buru ia melihat sekeliling dan terpaku pada tas belanjaannya. Secepatnya ia segera membongkar belanjaannya, teriakan Naruto membuat pikirannya berkabut. Ketika ia menemukan penjepit kertas yang ia beli. Ia segera memodifikasi untuk bisa diotak – otik dan membuka pintu. Begitu pintu bisa terbuka, Kurama tidak memperdulikan suara bang dari pintu yang ia buka dengan keras dan segera berlari menuju kamar adiknya yang dekat dengan ruang tamu.
Kembali membuka pintu kamar Naruto dengan bang yang cukup nyaring. Kurama segera melihat sekeliling dan terpaku disudut kamar, Naruto duduk dengan memeluk dirinya sendiri. "Naruto!" Ia segera menghampiri adiknya dan memeluknya.
Ia dapat merasakan tubuh Naruto kaku hingga akhirnya kembali relaks dan mulai menangis. Ia dapat merasakan tubuh Naruto yang bergetar karena takut. Benar saja, Naruto takut. Ia bahkan merasakan bulu kuduknya berdiri ketika melihat kamar Naruto yang sangat gelap dengan hadirnya suhu dingin yang mengganggu.
Apanya yang senang didalam rumah? Mau tak mau ia memikirkan kembali perkataan ibunya.
...
Itu sudah hampir 2 tahun ketika insiden Naruto yang terkunci di rumah. Kurama merasa dirinya menjadi lebih tak peduli pada orang tuanya, mungkin terutama ibunya. Ia mungkin masih menghormati ayahnya, namun ia masih kaget dengan sikap ayahnya yang sama sekali tidak berbuat apa – apa.
Hal itu juga membuatnya menjadi lebih protective pada Naruto daripada Naruko, yang memiliki semua perhatian ayah dan ibunya. Ia sering menolak ajakan Naruko yang terlihat ingin bermain dengannya.
Ia juga mengetahui, Naruto menjadi lebih pendiam dan terlihat takut untuk melihat pada ibunya. Mau tidak mau, ia tertarik apa yang dikatakan ibunya pada Naruto.
Hari ini adalah tanggal 10 Oktober. Ulang tahun kedua adiknya. Ia sudah menyiapkan dua buah gantungan tas yang sama berbentuk rubah dan bisa diberi nama. Ia memang tidak bisa menghasilkan uang banyak, tapi setidaknya ia bisa memberikan hadiah dengan uang ia tabung.
Ketika ia sampai di rumah, Kurama sedikit terkejut ketika ia melihat tak ada dekorasi. Setiap tahun ibunya pasti menyiapkan dekorasi yang berlebihan, menurutnya. Dan Naruto dan Naruko terlihat belum pulang. Rumah masih kosong.
Kurama tertarik. Apa mereka merayakannya tanpa kehadirannya? Well, Kurama berpikir ketika ia duduk di sofa dan melepaskan tasnya. Itu tidak mengejutkan, ibunya bahkan lupa dengan ulang tahunnya tahun ini, ketika Naruko meminta sepeda.
Ketika ia hampir menutup kamarnya. Telepon rumahnya berbunyi. Dengan malas, ia mengangkatnya dan mengetahui itu adalah ayahnya.
"Kurama, apa Naruto belum pulang?" Kurama mengerutkan dahi, suara ayahnya terdengar gugup. Sebenarnya, bukan hal itu yang membuatnya mengerutkan dahi, tapi pertanyaannya. Apa – apaan dengan pertanyaan itu?
Ia melirik jam dinding. Ini sudah hampir jam 6 sore. "Belum." Kurama menjawab datar. Ia menyimpitkan matanya, mengetahui apa yang selanjutnya ayahnya akan katakan.
"Um...bisa kau jemput, Naruto? Sepertinya dia ma-" Kurama langsung menutup teleponnya dengan kasar. Ia tidak peduli, jika teleponnya rusak atau harus meminta maaf. Ia terlalu geram dengan kenyataan yang ia peroleh. Naruto ditinggal. Sendiri. Lagi.
Dengan cepat ia segera berpakaian dan meninggalkan rumahnya untuk segera mendapatkan Naruto. Ketika sampai di sekolah, ia mengetahui sekolah tanpa pagar itu sudah kosong. Dan ia mendengar seseorang yang sedang menangis disudut ruang kelas.
Tanpa takut, Kurama berlari menuju kelas Naruto dan menemukan adiknya kembali duduk disudut ruang dan menangis dalam diam. Ini sudah dua kalinya, ia melihat Naruto seperti ini. Itu membuat dirinya merasakan entah apa namanya untuk bersumpah melindungi Naruto.
Ia segera menemani Naruto untuk tidur di kamar setelah mereka pulang. Naruto tidur lumayan cepat karena kelelahan. Ia memasang gantungan tas rubah itu ditas kesayangan Naruto, dan satunya ia pasang untuk ia sendiri. Ia melupakan kehadiran adiknya perempuannya.
Itu sudah melewati tengah malam ketika Kurama bangun dan mengetahui suara mesin mobil yang berhenti didepan rumahnya. Ketika ia memastikan Naruto tidur dengan nyaman tanpa diganggu, Kurama segera keluar kamar.
Dalam diam ia melihat orang tuanya keluar dari kamar Naruko yang dekat dengan kamar kedua orang tuanya. "Sudah cukup bersenang – senangnya?" Kurama berdesis tajam pada orang tuanya. Ia dapat melihat keduanya membeku, tak menyangka dirinya belum tidur.
"Kurama, sayang. Kenapa kamu belum tidur? Ini sudah larut." Ia melihat ibunya mengerutkan dahi ketika ia melihat padanya.
Gigi Kurama mengadu. Bagaimana bisa orang tuanya bertingkah seolah semuanya normal? "Bagaimana aku bisa tidur kalau Naruto sendiri ketakutan?"
"Oh, maafkan kami Kurama. Kami benar – benar tidak ingat. Saat itu Naruko ingin merayakan ulang tahunnya di luar, dan kami sangat sibuk." Ayahnya berusaha menjelaskannya. Ia dapat melihat dengan jelas penyesalan di wajah ayahnya.
"Sangat sibuk, sampai kalian lupa anak kalian yang lain dan yang lainnya juga berulang tahun hari ini." Kurama mencibir.
Mata ibunya menyimpit. Terlihat tidak suka dengan nada yang ia gunakan. "Namikaze Kurama! Kami tidak mengajarimu berkata seperti itu pada orang yang seharusnya kamu hormati."
Kurama memutar bola matanya. "Ya akan kulakukan jika mereka adalah orang yang memang patut kuhormati."
"Kurama kamu tidak seharusnya berkata seperti itu." Ayahnya berusaha menenangkan perkelahian yang mungkin akan muncul.
"Siapa yang peduli." Dengan itu ia kembali ke kamar Naruto. "Siapa yang peduli. Kalian hanya peduli pada anak kesayangan kalian, dan mengabaikan yang lainnya." Kurama berbisik disela nafasnya.
...
Hingga dua tahun berikutnya, situasi di rumah Namikaze sama sekali tak membaik. Ibunya terlihat hanya fokus pada Naruko, meskipun kadang menanyakan kabar pada Kurama, tapi ibunya tidak pernah terlihat peduli dengan Naruto. Dan itu membuat Kurama semakin salah. Dan ayahnya berusaha menjadi penengah.
Minato tahu, Naruto terlihat sakit. Tentu saja, hujan – hujanan selama pulang sekolah sama sekali bukan ide yang bagus. Ketika ia tahu, kondisi Naruto semakin parah. Minato berniat membawanya ke rumah sakit dimana ibunya sebagai kepala rumah sakit.
Kushina terlihat tidak merelakannya pergi dengan alasan hujan, namun Minato sudah tidak tahan lagi dengan kondisi Naruto yang mengkhawatirkannya. Ia sudah merasa bersalah telah mengabaikannya selama ini. Biarkan dirinya setidaknya membawa Naruto ke kondisi yang lebih baik.
Namun, seharusnya ia menuruti perkataan Kushina. Hujan deras itu sama sekali tidak membantu ketika ia menyetir. Ia sering melirik pada Naruto yang terlihat tidak nyaman berbaring di kursi penumpang. Itu membuat dirinya semakin resah. Sayangnya itulah yang membuatnya menjadi salah. Kecelakaan yang membuatnya kehilangan nyawa dan kondisi Naruto semakin parah dengan beberapa luka. Tapi setidaknya, Naruto sudah aman di rumah sakit.
...
Kurama mendengar pesan terakhir Minato pada Kushina. Itu membuatnya merasa bersalah mengenai sikapnya pada ayahnya yang hanya ingin keluarganya kembali utuh.
"Jangan abaikan Naruto."
Namun, bodoh! Hal itulah yang membuat keadaan menjadi semakin buruk. Kushina memang tidak mengabaikan Naruto. Tapi, mengabaikan lebih baik daripada sekarang. Ketika Kurama tidak ada, Kushina akan memerintahkan apapun pada Naruto. Menanamkan sesuatu yang tidak seharusnya dalam bentuk lisan.
Kurama tidak ingin mengetahui lagi. Ia pergi meninggalkan Naruto, dengan maksud ibunya mungkin akan lebih mengetahui Naruto saat dirinya tidak ada.
Tak ada yang tahu bahwa pemikirannya dan tindakannya hanya memperparah keadaan.
...
Jantung Kurama berhenti berdetak ketika ia mendengar bahwa Naruko meninggal. Adiknya meninggal, bagaimana bisa ia tidak bersama adiknya dan justru meninggalkan kenangan yang buruk terhadap adiknya. Waktu kecil, ia sering menengok kedua adik bayinya dan berjanji dalam hati untuk menjaga dan menyayangi mereka. Tapi, ia gagal, Sangat gagal.
Namun, jantungnya hampir saja jatuh ketika Tsunade mengatakan dia membutuhkannya. Ia tahu siapa yang dimaksud neneknya. Naruto. Pikiran negatifnya merajalela. Kushina tidak akan hidup tenang tanpa anak kesayangannya. Cukup satu. Ia tidak mau kehilangan yang lainnya. Ia tidak mau gagal yang kedua kalinya dalam satu hari. Itu benar – benar konyol dan sama sekali bukan tindakan orang dewasa.
Dengan cepat ia meninggalkan kelasnya. Dan segera membawa barang – barangnya yang sudah ia pak karena seharusnya dalam beberapa hari ia akan menjemput Naruto. Namun, nampaknya itu dipercepat.
Selama perjalanan itu ia hanya bisa mengutuk keadaan untuk tidak menjadi lebih salah lagi.
...
Kurama hanya diam menatap saudara satu – satunya yang ia miliki kini terbaring tak bergerak. Beberapa mesin medis menempel pada tubuhnya. Ia tak berani membangunkan adiknya yang sedang bermimpi tenang. Ia tidak berhak. Ini semua salahnya. Andaikan ia tidak pergi semuanya tidak akan menjadi seperti ini.
Ia hampir kehilangan adiknya yang lainnya. Hampir. Dan ia masih merasakan jantungnya yang bergerak sangat cepat, seolah itu adalah bom waktu yang akan meledak ketika ia terlambat sedetik saja sampai di rumah.
Damn. Seorang dewasa seharusnya tidak memiliki pikiran buruk seperti itu. Itu konyol.
Ia tak mengetahui kalau ia tertidur. Ia bangun ketika ia merasakan pergerakan di ranjang Naruto. Matanya melebar ketika mengetahui adiknya sudah sadar. Dan tanpa sadar ia mengeluarkan pertanyaan yang bodoh.
"Naruto? Kau tidak apa – apa?"
Kepalanya terinjak pikirannya. Pertanyaan konyol, yang seharusnya seorang dewasa mengetahui jawabannya. Tentu saja Naruto apa – apa! Lihat saja semua luka ini! Dan apa yang terjadi dengan kakinya! Kakinya!
Ia melihat Naruto berbisik. Namun, tubuhnya bertindak tanpa ia perkiraan. Ia memeluknya seolah Naruto sedang berada dalam kegelapan. Menenangkannya seperti belasan tahun yang lalu. Semuanya berlangsung sangat cepat bagi Kurama ketika ia merasakan Naruto menangis dibahunya. Oh, dia mendapatkan adiknya kembali. Adiknya! Dan ia tidak akan pernah melepaskannya lagi. Seorang dewasa tidak akan gagal dalam janjinya selama tiga kali. Itu kony-
"Bodoh."
Ah, itu adalah kata yang tepat saat ini. Ia berbisik setelah membaringkan Naruto yang terlelap. Betapa bodohnya dia. Dan betapa bodohnya hidup yang mereka jalani. Setidaknya satu kata bodoh itu dapat mengingatkannya untuk tidak mengulangi kesalahannya yang dulu. Meninggalkan Naruto. Itu bodoh, dan konyol.
~oOo~
Epilog
Suara kursi roda yang didorong itu memenuhi koridor. Diiringi dengan beberapa langkah kaki, perjalanan mereka ditemani dengan teriakan gila, tangis, senang, amarah dan bisikan aneh. Selama itu mereka menuju salah satu ruang sel.
Ruang sel itu sama seperti yang lainnya. Hanya saja yang didalamnya hanya ada seorang wanita berambut merah panjang yang tak terurus. Menggendong sebuah boneka perempuan yang memiliki rambut pirang panjang. Dan berbisik menyanyikan nina bobo.
"Bagaimana?" Seorang laki – laki dewasa berambut jingga yang menahan kursi roda itu bertanya pelan pada dokter yang menemaninya. Pandangannya tak lepas pada wanita yang terlihat tidak mengetahui kehadiran mereka. Sibuk mengurus boneka pirang itu.
"Maaf, Namikaze-san. Tapi ibu anda sama sekali tidak ada perubahan." Dokter pria itu terlihat peduli dengan pasiennya.
"Tak bisakah kita merawatnya di rumah, Kyuu?" Remaja berambut pirang yang duduk di kursi roda terlihat tidak tega dengan ibunya. Ibunya sendirian didalam sana. Ia bisa mengerti bagaimana perasaan sendirian itu. Dan itu sangat- menyakitkan.
"Maafkan aku, Naruto-kun. Tapi, kami selalu memastikan pasien dalam keadaan aman ketika mereka dirawat di rumah."
Pernyataan sang dokter membuat Naruto menghembuskan nafas lelahnya. Ia sedikit tegang ketika ia merasakan ibunya menghampirinya dengan penasaran. Ia juga merasakan Kurama bersiaga untuk menjauhkannya dari ibunya.
"Ah. Kamu mirip dengan anakku. Siapa namamu?" Pertanyaan itu terdengar dari orang yang normal.
"Na-Naruto." Menelan ludahnya, tak dapat ia elak, ia sedikit takut. Ia masih trauma kejadian itu dikamarnya.
"Naruto?" Ibunya berbisik mimpi. "Namamu mirip juga dengan anakku. Namanya Naruko. Apa kalian bersaudara?"
Pertanyaan itu cukup membuat Naruto terkejut. Pandangannya mengabur, air matanya mengendap keluar ketika ia mendengar ibunya mengetahui keberadaannya. Itu adalah hal yang sudah lama ia inginkan. Kehadirannya sebagai saudara Naruko dan Kurama. Bukan seseorang yang tak diinginkan. Tapi kenapa harus sekarang?
Sebelum ia menjawab. Kurama sudah menghentikannya. "Jangan mengejutkannya, Naruto." Naruto mengangguk. Ini sudah cukup membuatnya senang. Ia melambaikan tangannya pada ibunya ketika ia merasakan Kurama mendorong kursi rodanya untuk menjauh.
Ketika mereka keluar, Tsunade sudah menunggunya. Ia mengetahui sesuatu menyenangkan hati Naruto. "Bocah, jangan bilang senyummu itu adalah sesuatu yang bersifat masalah."
Naruto tidak menjawab, ia hanya tertawa. Tak memperdulikan Tsunade yang terlihat bingung. Dengan bantuan Kurama, dirinya duduk dikursi penumpang bersama neneknya. Dan mereka meninggalkan ibu mereka, percaya pada keahlian dokter di Rumah Sakit Jiwa.
Selama perjalanan, Tsunade mengetahui Naruto terlihat menendangkan sesuatu sambil melihat keluar jendela. Ia tersenyum, ini sudah sangat lama Naruto terlihat menikmati hidupnya. Ia melirik pada kaki Naruto yang terlihat kurus dan lemah yang tertutup dengan celananya yang panjang. Tentu, karena pukulan Kushina yang utamanya pada kaki dan patah yang terlalu signifikan. Mau tidak mau Naruto harus menerima dirinya yang tak bisa lagi berjalan. Setidaknya tanpa tongkat atau kursi roda.
Ketika mereka tiba, Tsunade membantu Kurama menaikkan Naruto di kursi roda. Mereka segera berjalan menuju pemakaman anggota keluarga mereka. Jiraiya, Namikaze Minato dan Namikaze Naruko. Makam mereka bersebelahan. Itu menguntungkan Naruto agar tidak berpindah terlalu jauh.
Selama berdo'a. Naruto tersenyum. Dalam kondisi seperti ini, ia dapat merasakan betapa irinya Naruko ketika melihatnya berlari. Well, Naruto benar – benar tak bisa berlari. Dan ia kembali ingat pada kata terakhir Naruko saat itu.
"Gomen nasai. Sayonara."
Naruto mengerutkan dahi dalam keadaan mata tertutup. Ia tidak berfikir mengenai permintaan maaf Naruko. Tapi, selama ini ia sama sekali tidak bisa membenci saudara kembarnya, Naruko adalah saudaranya, kakak kembarnya. Tak ada alasan untuk dia membenci Naruko.
Ketika ia memikirkannya. Angin sepertinya mengerti, melewatinya dengan lembut membuat rambut pirangnya bergoyang pelan. Ia membuka matanya, dan melihat langit. Tiba – tiba saja, ia menengok ke kanan dan melihat Naruko disamping ayahnya dan Jiraiya, kakeknya. Melambaikan tangan, ia berbisik.
"Sayonara."
Dan angin kembali membawa suaranya menuju Naruko hingga suaranya dan Naruko, ayahnya dan Jiariya menghilang.
THE END (Kali ini beneran yang terakhir)
A/N :
Ya, ampun. Saya merasa kaku ketika membaca ulang. Ini adalah fic Hurt/Comfort saya yang pertama. Saya harap tidak terlalu mengganggu.
Ok! Saya harap chapter ini cukup. Ini adalah chapter paling banyak diantara yang lain sebagai permintaan maaf saya dengan ending yang kemarin.
Yosh! Saatnya syukuran. Ayo makan – makan! Ada Sega Jamblang, Empal Gentong, Serabi, Docang, Es Cendol-
Kurama : Itu cuman makanan Cirebon.
Unni : Biarin #Blee... Emang siapa yang suruh kamu kesini?
Kurama : Loh? Pemain dapet jatah makan, kan?
Unni : Gak ada buat kamu. Semuanya buat readers dan Naruto-kun. Soalnya dia yang paling menderita disini.
Naruto : Whoa! Makanannya buat aku? Yosh! Ayo readers kita makan – makan. Tinggalkan Kyuu sendiri.
Kurama : Kamu jahat Naruto. *Diabaikan.
Unni & Naruto : Thank's, Kyuu!
Yosh! Lupakan Kurama yang drama queen. Sekarang ucapan terima kasihku. Ini adalah yang sudah review, favorite dan follow :
Blukang Blarak ; Cao Coa-chan ; Contractor BK 201 ; Dark Namikaze Ryu ; Haruno FARA Yuki ; Jigoku no arashi ; Kristoper ; Mr. Translators ; Namika Rahma ; Natsuyakiko32 ; Nokia 7610 ; Pajar Juventini ; Red. Dragon. Emperor97 ; TheBrownEyes'129 ; Vin'DieseL No Giza ; Vipris ; Zara Zahra ; ahmadbima27 ; ai airin ; akai girl ; anginmasadepan470 ; ardian. ajjh. 5 ; arrobeys. likeuzhyu ; black strom ; detri. setya ; fatayahn ; hime namikaze ; kurama nii-sama ; leontujuhempat ; opek. zesyu ; robyzek ; 2nd silent reader ; NaraZee ; Ukeri ; Uzumaki Shizuka ; ; claire nunnaly ; mitsuka sakurai ; son of satan ; uchiha kagami ; yeruyerudaru ; BluE chikusodo ; ryuu 123 ; joko. siswanto. 319452 ; tamu ; taka no me ; Hikari ; thor94 ; samsulae29 ; YonaNobunaga ; asimuchiha ; mifta. Cinya ; WTBIXyeL427 ; dikdik717 ; light luca ; kitsune ; silent reader ; black storm ; Drack Yellow ; bohdong. palacio ; 15w4nd10000 ; Mangekyooo JumawanBluez ; Blue-senpai ; Namikaze Sholkhan ; dany ; semua Guest.
Ini multichap pertama yang sudah complete. Terima kasih banyak (Membungkuk bersama para pemain).
Ru Unni Nisa
Sign-
Eet! Kata siapa udahan! Ada Omake bonus!
Omake
Pagi yang cerah untuk SMA KONOHAGAKURE. Dan- tenang. Tapi sepertinya hal itu tak berlangsung lama sejauh seorang remaja pirang yang duduk di kursi memasuki kelasnya yang sudah ia tinggal beberapa minggu selama berobat.
Saat didepan pintu kelasnya yang tertutup. Naruto menarik dan mengeluarkan nafasnya, berusaha untuk tenang. Ia agak gugup untuk kembali sekolah, setelah apa yang ia lakukan pada teman – temannya pada hari itu (itu adalah hari dichapter 1). Bersikap dingin dan tak peduli. Oh, itu bukan gue banget. Topengnya retak saat Kurama berjanji dia akan membawanya ke Inggris bersamanya.
Kembali menarik nafas, Naruto bersiap membuka pintu. Ia sudah berencana apa yang akan ia lakukan. Berteriak salam, meminta maaf dan kembali beraktivitas seperti biasa. Cukup dengan berfikir, itu bukanlah dirinya. Dirinya adalah orang yang bertindak – mungkin tanpa berfikir.
Dari sudut pandang pembaca, akan terlihat Naruto membuka dengan sangat perlahan. Namun, entah kenapa ketika ia membuka setengah dan pintu langsung bergeser terbuka seolah itu ada angin yang membukanya. Dan Naruto hanya diam melongo dengan wajah yang terlihat bodoh.
"OKAERI, NARUTO!"
Teriakan itulah yang membuatnya tak berkutik. Ia melihat semua teman sekelasnya mengenakan topi kerucut seolah sedang merayakan pesta ulang tahun. Dia bilang semua? Well, itu benar. Semua murid, termasuk Gaara, Uchiha, Neji dan mungkin Shikamaru yang terlihat sedang berusaha untuk tidur. Beberapa guru ia yang ia kenal dekat, Iruka-sensei, Kakashi-sensei DAN Ibiki-sensei! Sebenarnya ada apa?
Ketika ia tiba – tiba merasa seseorang mendorong kursi rodanya, ia melihat Gaara yang berbisik dengan wajah tak rela, tapi- senang?
"Aku akan berusaha untuk tidak menghajar Kakashi-sensei karena ia memasang topi konyol ini. Jadi pasang senyum bodohmu demi keselamatan Kakashi-sensei."
Tanpa sadar, mulut Naruto bergerak menjadi senyuman lebar, seperti biasanya ia di sekolah. Namun kali ini bukanlah topeng yang bergerak. Ini senyum asli dirinya.
Ia melihat Sasuke, Sakura dan Kiba meminta maaf padanya karena bersikap kasar. Ini membuatnya rindu dengan sekolah. Melihat Sasuke meminta maaf dengan gaya Uchiha-nya. Sakura yang hampir menangis. Dan Kiba dengan gaya santainya, dimana Akamaru akan menggonggong, meminta majikannya untuk serius.
Ia penasaran ketika ia memberitahu yang lainnya tujuannya yang sebenarnya. Tak tega, tapi mau bagaimana lagi. Kalau tidak sekarang, ia tidak mengucapkan selamat tinggal.
"Um, guys." Dengan itu semunya sunyi. "Sebenarnya aku kesini untuk mengucapkan Selamat Tinggal." Dan semakin sunyi. Naruto menggigit bibir bawahnya. "Aku akan tinggal dengan Kurama di Inggris." Sangat sunyi, bahkan angin tidak mau bergerak.
Naruto hampir menunduk, ketika ia hampir jatuh terloncat.
"NANI?!"
Suara itu bergema di sekolah. Ia yakin, bahkan menyayangi speaker sekolah. Naruto tertawa keras ketika ia melihat respon dari semua orang. Hinata yang pingsan dengan Neji yang menahannya, Sakura yang terlihat ingin menumbangkan pohon dalam sekali pukul, Kiba sudah hampir seputih bulu Akamaru, Ino mengangkat poninya memastikan telinganya berfungsi baik, lingkaran hitam disekeliling mata Gaara memutih, Kakashi-sensei yang menjatuhkan buku kau-tahu-buku-apa-itu, karet pengikat rambut Iruka-sensei putus, Ibiki-sensei hanya mengangkat alisnya, DAN Sasuke, rahangnya jatuh dengan sangat tidak-Uchiha-sekali.
Ketika semua orang mendengar Naruto tertawa keras. Mereka langsung menghela nafas lega dan ikut tertawa. Sebagian lainnya hanya tersenyum. Well, itu terus berlangsung hingga Naruto mematahkannya menjadi lebih sunyi daripada yang lain.
"Aku serius."
Dan tak ada yang berani bernafas.
FINISH
Beniat, memberikan review terakhir untuk fic ini?
Ru Unni Nisa
Sign Out
Jaa ne~
