Identity

Exonoir

Chanyeol x Baekhyun

Romance, Smut, Fantasy, GS

Warning YAOI area. Don't like, don't read.

.

.

Sebelumnya, author ingin mengucapkan terima kasih kepada peachsil yang tidak berhenti menyemangati author ketika kehilangan ide. Dan juga ohmysehun yang selalu membantu author menyusun kata-kata yang berantakan :"D terima kasih banyak atas bantuannya :)

.

.

Chapter 5. Silence

.

.

Suara pintu yang dibanting terdengar menggelegar ditelinga seorang bocah laki-laki berumur 7 tahun itu. Bocah itu terbangun dari tidurnya kemudian mengintip keadaan diluar kamarnya dengan sembunyi-sembunyi. Ia melihat ketika sang Ibu tersungkur ke lantai karena didorong oleh seorang pria yang memakai mantel berwarna cokelat yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ayahnya sendiri.

Ayah dari bocah itu memegang secarik kertas ditangannya, kemudian ia melempar kertas itu tepat ke wajah sang Ibu yang bersimbah air mata yang tumpah dipipinya. "Tanda tangani itu secepatnya dalam waktu kurang dari seminggu!" bentak sang Ayah seraya ia membuka kenop pintu depan rumah, lalu ia berlalu tanpa menutup pintu itu—meninggalkan sang Ibu yang menangis tersedu-sedu dan terlihat menyedihkan.

Bocah laki-laki itu keluar dari kamar, berusaha untuk membantu Ibunya bangkit dari lantai. Tapi sang Ibu justru menyingkirkan tangan mungil bocah itu dengan tatapan jijik yang kentara diwajah cantiknya. "Jangan menyentuhku! Ini semua karena ulahmu!" bocah itu terkejut hingga tubuhnya membentur ke dinding.

Dia melihat pada tangannya sendiri kemudian berpikir, apakah Ibunya tidak ingin disentuh olehnya karena tangannya kotor?

Karena kepolosannya yang tidak dapat membaca suasana; bocah itu berlari ke dapur, berniat untuk mencuci tangannya di washtub yang berada disebelah kulkas. Begitu ia berdiri didepan washtub, tangan mungilnya berusaha menggapai keran air yang jauh dari jangkauannya. Dia memutar otak, ia kemudian menarik salah satu kursi makan agar dapat menjangkau keran air.

Bocah itu menaiki kursi yang ia bawa dengan hati-hati. "Hap!" serunya ketika ia berhasil naik keatas kursi itu. Tangan mungilnya itu memutar keran air kemudian mengusap kedua tangannya. Setelah ia selesai mencuci tangannya hingga bersih, bocah itu kembali ke Ibunya yang masih tersedu-sedu didepan pintu.

Dia menarik salah satu pergelangan Ibunya, tapi Ibunya malah menampar wajah bocah itu hingga bibirnya berdarah. "Sudah kukatakan jika aku tidak ingin kau menyentuhku!" Ibunya sengaja menekan kata kau ketika ia berbicara.

Bocah itu menyentuh pipinya sendiri dengan air mata yang membendung dikedua matanya. Dia tidak ingin menangis agar Ibunya tidak semakin marah... tapi rasa sakit yang ia rasakan diwajahnya tidak terkira hingga air mata yang sebenarnya ia tahan sekuat tenaga, tumpah begitu saja.

Berisik karena mendengar suara anaknya yang menangis, sang Ibu dengan tega menjambak rambut bocah itu kemudian menggiringnya masuk ke dalam kamar dengan kasar. Bocah itu meronta-ronta sambil mencengkram pergelangan tangan Ibunya dengan sekuat tenaga, walaupun kekuatan itu tidak sebanding dengan Ibunya.

Bocah itu tidak berhenti menangis ketika Ibunya mendorong tubuh anaknya hingga ia tersungkur ke lantai kayu dikamar itu. "AKU TIDAK TAHAN MENDENGARMU! DASAR ANAK SIAL! KENAPA WAJAH SIALMU ITU MIRIP SEKALI DENGAN AYAHMU!" tidak berhenti disitu, sang Ibu langsung mengunci pintu itu dari luar agar bocah laki-laki itu tidak dapat keluar.

Bocah itu berteriak semakin keras ketika ia hanya melihat kegelapan didalam kamar itu. Ia mengetuk pintu kamarnya dengan kedua tangan mungilnya beberapa kali. Tapi sang Ibu tetap saja tidak membuka pintu itu. Bocah itu ketakutan. Dia memeluk kakinya sendiri, dan menunggu Ibunya agar membuka pintu itu secepatnya.

. . . .

Chanyeol tersentak dari tidurnya; titik-titik keringat menghiasi didahi serta telapak tangan lelaki bertubuh tinggi itu, tak luput nafas yang memburu menandakan kekhawatiran yang telah dialamainya. Chanyeol sedikit bangkit dan menyadarkan kepalanya pada dipan ranjang sambil berusaha menghitung debaran jantungnya yang tidak karuan. Lelaki itu menatap langit-langit kamarnya, bersyukur jika itu hanyalah mimpi.

Dia menghapus titik-titik keringat didahinya menggunakan punggung tangan dengan lemas. Rasanya ia telah kehilangan setengah nyawa miliknya karena mimpi buruk itu.

Lelaki dengan tinggi 185cm itu menggapai ponsel yang ada diatas meja disamping ranjang tanpa mau memalingkan wajahnya. Ia ingin memeriksa sudah berapa lama ia tertidur melalui ponselnya. Dan ketika ia melihat layar ponsel itu, ia sedikit terkejut karena jam masih menunjukkan pukul 01:32AM.

Lengan kanan Chanyeol terulur untuk menutup kedua matanya. Meskipun manager Kim menyuruhnya untuk istirahat yang cukup, tapi Chanyeol tidak bisa melakukannya. Pikiran lelaki itu kemana-mana hingga membuatnya tidak bisa kembali tidur. Sejujurnya, itu adalah kedua kalinya ia bermimpi tentang masa lalunya sejak ia berumur 16 tahun.

"Kau baik-baik saja?" suara lembut itu membuat Chanyeol terkejut. Dia menoleh kearah sumber suara dan mendapati sesosok gadis bertubuh sintal yang meringkuk dilantai sambil menyandarkan punggungnya pada kaca jendela kamarnya. "mimpi buruk?" lelaki itu melirik tangan dan kaki Baekhyun, syukurlah jika mereka masih terikat. "kau mau menceritakannya?" gadis itu kembali melanjutkan.

Chanyeol memberikan senyum masam, "Bukan masalah penting," Ia berbohong. "ngomong-ngomong, apa aku membangunkanmu?" ia melihat gadis itu menggeleng kepalanya beberapa kali dengan gerakan yang lucu.

"Aku tidak bisa tidur." Baekhyun mengaku. Gadis itu memalingkan wajahnya yang bersemu merah kearah salju yang sedang turun diluar jendela. "aku suka melihat salju... mereka sangat indah dan dingin," meski Baekhyun merasa kedinginan karena duduk dilantai tanpa selimut, gadis itu tidak berhenti tersenyum ketika membayangkan dirinya bermain salju untuk yang pertama kalinya ketika berumur 5 tahun. Walaupun ia berakhir di IGD rumah sakit karena tergelincir es, dan mendapatkan 3 jahitan dikepala belakangnya; Baekhyun tidak pernah menyesalinya.

Menyadari jika bibir dan tangan Baekhyun yang gemetaran, Chanyeol turun dari ranjang sambil membawa selimut tebalnya. Dia kemudian berjongkok didekat Baekhyun sambil melingkarkan selimut ke leher gadis itu. "Pakai itu. Udaranya sangat dingin malam ini." Gumamnya dengan suara serak tepat ditelinga kiri gadis itu.

"T-tapi..." Baekhyun mendongak menatap pipi Chanyeol yang sangat dekat dengan wajahnya. Ia terkejut karena perlakuan Chanyeol yang tiba-tiba sangat baik kepadanya. Meskipun ia merasa sangat senang karena idolanya memperhatikan dirinya, disisi lain Baekhyun takut karena itu service terakhir dari idola kepada fans sebelum akhirnya Baekhyun dibunuh.

Chanyeol menarik dirinya agar dapat menatap mata Baekhyun dalam-dalam, "Aku terbiasa tidur tanpa selimut. Jadi kau saja yang pakai." Begitu ia selesai bicara, Chanyeol kemudian menepuk kepala gadis itu beberapa kali sambil menyunggingkan senyum hangat sebelum ia merangkak naik keatas ranjang.

"Te-terima kasih..." ucap Baekhyun dalam gumamannya. Sejujurnya gadis itu tidak tahu harus bersikap bagaimana. Tidak ada yang pernah memperlakukan Baekhyun dengan lembut selain Jung Jaehyun. Gadis itu merasakan jantungnya berdebar kencang karena mengingat sentuhan tangan yang mantap dan kokoh dikepalanya.

5

Tubuh Jessica, Ibu kandung Byun Baekhyun, membeku begitu ia mendengar berita jika anak gadisnya menghilang tiba-tiba selama acara pelelangan berlangsung. Wanita berumur 37 tahun itu sengaja membatalkan seluruh jadwalnya yang padat di London agar dapat kembali ke Korea secepatnya. Ia bahkan tidak ingin menunda kepulangannya ke Korea karena ingin mengetahui perkembangannya langsung, tidak hanya melalui telepon.

Ini sebabnya dia selalu menyuruh pengawal Jung untuk mengawasi Baekhyun dari kejauhan ketika gadis itu keluar rumah sendirian. Walaupun Jessica terlihat seperti tidak memberikan perhatian terhadap anak gadisnya; dia sebenarnya sangat menyayangi Baekhyun. Karena itu ia tidak memperbolehkan Baekhyun keluar rumah dalam waktu lama; ia tidak ingin kejadian yang menimpa 14 tahun lalu kembali terulang. Itu adalah kali pertama Baekhyun tiba-tiba menghilang ketika mereka bermain ski.

Dokter mengatakan jika Baekhyun menderita amnesia ringan karena pukulan keras dikepala belakangnya, tapi yang Jessica tahu, Baekhyun sengaja diculik oleh sekumpulan gangster yang menginginkan imbalan yang besar karena kedua orangtuanya public figure.

Sejak kejadian itu Jessica dan suaminya Byun Jungsu bersandiwara didepan anak gadisnya. Mereka mengatakan kebohongan pada Baekhyun agar tidak membuatnya gadis itu trauma. Dan mereka tidak ingin Baekhyun tahu jika ia pernah diculik ketika masih kecil.

Tapi sepertinya mereka salah.

"Aku dibandara sekarang, sayang, 30 menit lagi sebelum take off. Tidak ada perkembangan dari pihak kepolisian?" suara Jessica terdengar sedikit bergetar meskipun ia berusaha untuk terlihat tegar didepan banyak orang. "begitu rupanya...entahlah sayang...pikiranku benar-benar kacau sekarang..." ia menghela napas pelan sembari membenarkan posisi sunglasses miliknya yang sedikit melorot. Ia tidak ingin media melihat matanya yang bengkak karena tidak berhenti menangis semalaman.

5

Ketika menjelang tengah hari, Baekhyun terbangun dari tidur nyenyaknya setelah semalaman tidak bisa tidur. Ia bingung ketika menyadari dirinya tidak lagi tidur diatas lantai, dan yang lebih mengejutkan, tangan dan kakinya dapat bergerak bebas didalam selimut. Apa mungkin ini semua perbuatan Chanyeol?

Gadis itu membuang pandangannya kearah meja disebelah kanan ranjang, dan mendapati sebuah nampan berisi dua mangkuk dan satu piring yang tertutup plastic wrap pada bagian atasnya. Penasaran dengan isi didalamnya, Baekhyun bangkit dan memposisikan dirinya duduk ditepi ranjang.

Sebelum memberanikan diri untuk mengambil nampan itu, ia menoleh keseluruh ruangan untuk mencari keberadaan Chanyeol, tapi lelaki jangkung itu tidak ia temukan dimanapun. Ia hanya melihat secarik kertas post-it berwarna kuning yang menempel pada plastic wrap yang menutupi permukaan mangkuk agar makanan yang ada didalamnya tetap hangat. Sepertinya Chanyeol yang meninggalkan kertas itu untuknya. Di kertas itu tertulis;

Aku pergi karena acara live di Busan nanti malam

Ikatanmu aku lepas sementara

Makan dan tonton aku distasiun MBD pukul 7

-yeol-

Begitu selesai membaca, Baekhyun melepas seluruh plastic wrap yang ada, tapi perhatiannya terhenti kepada salah satu mangkuk yang berisi cairan berwarna cokelat dengan kentang dan wortel yang dipotong dadu. Ia mencicipi kuah makanan itu sedikit—takut jika ada kandungan yang tidak di inginkan didalamnya.

Terkejut karena rasanya sangat lezat, kedua mata Baekhyun membulat lebar.

Chanyeol yang memasak ini?

"Aku tidak tahu dia pandai memasak!" itu pertama kali Baekhyun merasakan japanese curry dalam seumur hidupnya. Tidak mau menunggu lagi, Baekhyun memasukkan nasi, potongan katsu dan kuah japanese curry kedalam mulutnya yang kini menggelembung penuh.

Baekhyun tidak menyangka jika Chanyeol justru akan memberikannya masakan buatannya setelah 4 hari ia berada disini. Dan itu lebih dari yang diharapkan Baekhyun—mengingat ia tidak diberikan makan dan minum apapun oleh Chanyeol.

5

Chanyeol memutar berbagai tombol analog pada alat pioneer DJ didepannya agar dapat menghasilkan irama yang enak didengar sambil berseru kepada seluruh fansnya. Lelaki jangkung itu merogoh saku celana untuk mengambil ponsel pintarnya agar dapat merekam suasana ramai dan penuh sesak ribuan orang yang hadir pada acara live malam itu. kemudian menguploadnya kedalam story akun instagramnya, real_pcy.

"BUSAN! MAKE SOME NOISE!" Chanyeol melompat-lompat mengikuti irama lagu dari Marshmello ft. Khalid Silence yang ia remix sedemikian rupa. Suara lagu itu menggema ke seluruh penjuru Busan Sajik Baseball Stadium bersama permainan laser berwarna-warni yang sangat indah—siapapun yang melihatnya pasti akan terpaku dan turut ikut

Seperti yang diprediksikan, dengan cepat hastag #CHANYEOLinBUSAN menjadi tranding topic nomor satu di sosial media hanya dalam beberapa menit saja. Ribuan orang saling berlomba untuk mengupload kemegahan konsep acara DJ Chanyeol On the Road Concert yang sangat menarik perhatian berbagai kalangan.

Dan ketika Chanyeol hendak mengupload video lagi ke instagramnya, gerakannya terhenti ketika layar berubah menjadi kontak seseorang dengan nama x. Sontak itu membuat lelaki itu terkejut tentu saja. X adalah nama kontak samaran dari Kris; ia tidak ingin ada siapapun yang tahu—tidak terkecuali Tao ataupun manager Kim. Keberadaan Kris didunia sangatlah rahasia. Dunia bahkan tidak tahu jika Kris Wu masih hidup hingga detik ini.

Chanyeol mendecak kesal sebelum menyingkirkan headset yang melingkar dilehernya agar ia bisa berbicara kepada Kris secara privasi. Dia menyingkir sedikit jauh dari meja pioner DJ agar para fansnya tidak melihat ia menerima telepon disaat-saat seperti ini.

"Apa yang kau mau?!" kerutan di alis Chanyeol menunjukkan seberapa emosinya ia sekarang.

"...yun...au...bur!" suara Kris diseberang sana terdengar terputus-putus—mungkin Chanyeol tidak mendapat sinyal yang bagus ditempat ini.

"Hah?! Aku tidak bisa mendengarmu!" meski ia telah menutup sebelah telinganya agar dapat mendengar lebih jelas, tetap saja suara Kris tidak terdengar jelas olehnya.

"APA?!" suara Chanyeol sedikit membentak.

Kesal karena sendari tadi Chanyeol tidak bisa mendengarnya, Kris mengulangi perkataannya untuk yang ketiga kalinya, dan kali ini ia memastikan untuk melakukannya dengan suara yang lebih lantang, "BAEKHYUN MAU KABUR!"

Hening. Seolah suara yang ada disekeliling Chanyeol lenyap dari muka bumi dan digantikan oleh gema dari pernyataan Kris jika Baekhyun mau kabur. Tangan Chanyeol mengepal dengan erat. Inilah sebabnya ia tidak ingin mempercayai wanita. Dan percaya atau tidak, perasaan emosi yang terpendam dihati Chanyeol yang paling dalam kembali bergejolak membara.

Ia tidak mau kejadian yang dulu terulang lagi.

Chanyeol berusaha untuk menahan amarahnya ketika ia menyadari posisinya sekarang. Dia tidak bisa begitu saja kembali ke Seoul. Ini adalah konser tour untuk mempromosikan single terbarunya. Lelaki jangkung itu berdiri diposisi ini seperti sekarang dengan susah payah. Tidak sedikit pengorbanan yang harus ia lakukan agar dapat naik ke permukaan. Ia tidak berhenti berenang meski berbagai arus tidak berhenti menerpanya.

Tidak ingin membuat fansnya kecewa, Chanyeol tiba-tiba memutuskan sambungan telepon dari Kris secara sepihak. Meski ia terlihat menyunggingkan senyum didepan semua orang, nyatanya Chanyeol tidak ingin tersenyum sekarang. Pikirannya kacau tentu saja, tapi ia harus menjadi profesional dalam bekerja, jadi Chanyeol memilih untuk menahan amarahnya.

5

Begitu Baekhyun menghabiskan masakan buatan Chanyeol yang diberikan kepadanya, ia turun dari ranjang untuk melihat sekeliling kamar yang super-duper rapih itu. Baekhyun menghampiri sebuah pintu lemari yang seluruhnya terbuat dari kaca, kemudian menggeser salah satu pintu itu agar ia terbuka. Awalnya Baekhyun melihat tidak ada yang aneh—hanya sekumpulan piyama yang terbuat dari kain satin yang menggantung sesuai dengan urutan warna dari yang-paling-gelap ke yang-paling-terang.

Ketika menyentuh salah satu piyama didalamnya, samar-samar ia melihat sebuah kotak besi dibagian bawah piyama-piyama itu. Penasaran dengan benda misterius yang ia lihat, gadis itu menyingkirkan setengah dari piyama itu ke kanan dan kiri agar bagian bawah dari lemari itu terlihat. Dan benar seperti dugaannya, kotak misterius itu adalah sebuah brankas.

Brankas itu setinggi 40cm dengan lebar 50cm dan panjang 47,5cm dengan plat tebal, yang Baekhyun yakini dapat tahan api dan anti maling. Gadis itu menyernyitkan dahinya, seolah menerawang apa saja isi yang ada didalamnya hingga Chanyeol membeli brankas dengan keamanan tingkat tinggi.

Mungkinkah dibalik pintu kecil itu adalah seluruh rahasia dari seorang DJ Chanyeol?

Gadis itu berjongkok sedikit agar ia dapat mengamati brankas itu dari dekat. Jika diamati sekilas, Baekhyun mengira jika Chanyeol tidak akan mungkin memberi kata sandi yang mudah ditebak. Dia kemudian melihat beberapa tombol angka berwarna hitam yang jika diamati dari dekat seperti tidak memiliki bekas sentuhan jari apapun.

Sial dia tidak mengira jika Chanyeol cukup pintar juga.

Diam termenung didepan brankas itu cukup lama, membuat Baekhyun memikirkan hal yang gila. Ia mengurutkan tanggal deretan single lagu yang telah Chanyeol keluarkan, kemudian menggabungkannya menjadi satu.

Dimulai dari single pertamanya Fight for None yang rilis tanggal 4 oktober—yang berhasil menarik perhatian anak muda dikala itu hingga menjadi lagu paling sering diputar di clubbing.

Beberapa bulan kemudian muncul lagi single keduanya Helpless yang rilis tanggal 9 febuari—yang mengangkat nama Chanyeol sebagai DJ dan public figure.

Tidak lama setelah itu, ia kembali merilis single berjudul Cherry Blossom atau sakura no ga tari—adalah single yang Chanyeol keluarkan ketika debut pertama kali di Jepang yang rilis pada tanggal 5 mei.

Dan yang terbaru adalah Beauty in Darkness yang rilis pada 4 november sebagai perayaan ulangtahunnya yang ke 24 tahun—meskipun tidak sedikit yang tidak yakin jika ulangtahun DJ muda itu adalah bersamaan dengan tanggal ia merilis single itu.

Kesal karena ia tidak mendapat clue apa-apa, Baekhyun menghela napas dengan berat. Gadis itu mengerinyitkan dahi sambil melipat kedua tangannya dibawah dada. Sepertinya ia telah melupakan sesuatu. Jika setiap tanggal Chanyeol merilis singlenya diurutkan menjadi satu, itu berarti 4-9-5-4. Sedangkan kata sandi brankas setidaknya ada 6 angka kombinasi. Lalu dua angka terakhir apa?

Gadis dengan IQ 136 itu memutar otak dengan cepat. Ia mengubah setiap angka yang ada dikepalanya sesuai dengan urutan abjad karena iseng. Dan jika angka 4-9-5-4 diubah, maka berarti D-I-E-D dalam urutan abjad.

Hening.

Oke, mungkin itu hanya kebetulan—atau mungkin sengaja melakukannya? Mau tak mau ia menepis seluruh pemikirannya. Percaya diri dengan keempat angka yang ia temukan dari menggabungkan tanggal rilis single Chanyeol, ia menekan tombol angka 4-9-5-8 sebagai kombinasi dari brankas itu, tapi pintu itu tidak bergerak sedikitpun. Memang sepertinya harus menggunakan 6 angka kombinasi.

Meskipun Baekhyun tidak berharap banyak, tapi setidaknya Baekhyun melakukan apa yang ia bisa. Ia dengan percaya diri memasukkan angka 00 pada bagian terakhir hingga membentuk angka kombinasi 4-9-5-8-0-0?

Click!

BOHONG!

Yang benar saja! Pintu itu benar-benar terbuka!

Rahang Baekhyun terjatuh sangking terkejutnya. Ia tidak percaya jika seorang Chanyeol justru memakai deretan tanggal ia merilis single-nya—entah itu memang disengaja atau tidak, yang jelas deretan angka itu menjurus kepada kata died 00.

Baekhyun menarik napas dalam-dalam sebelum ia menyentuh ganggang pintu brankas itu. Ini adalah moment yang Baekhyun tunggu-tunggu setelah menderita selama 4 hari tidak makan dan minum. Gadis itu tidak berhenti menyunggingkan senyum diwajahnya yang selembut kapas dengan pipi yang merona kemerahan.

Chanyeol salah besar karena telah meremehkan Baekhyun begitu mudah.

Ketika gadis itu membuka pintu brankas yang terbuat dari baja-berkualitas-yang-tebal-dan-tahan-api itu, Baekhyun menemukan sebuah toples kaca yang lumayan besar didalamnya, beberapa dokumen yang dimasukkan kedalam 3 map plastik bening, dan sesuatu yang dibungkus kain berwarna hitam dengan lebar 25cm yang diletakkan dipaling sudut.

Sebelum memeriksa toples kaca yang menarik perhatiannya sejak tadi, Baekhyun memeriksa bagian dokumen terlebih dahulu, mungkin ia akan menemukan sesuatu yang penting disana. Ia mengambil map pertama yang terletak paling atas dari tumpukan map itu kemudian membacanya dengan teliti, "Ini sertifikat kematian..." gumamnya.

"...siapa Hwang Miyoung? Apa itu nama Ibu kandung Park Chanyeol?" mata gadis itu turun kebawah dan menulusuri setiap tulisan yang ada disana. Jemari lentik itu berjalan turun digaris kertas yang ia pegang, hingga retina cokelat gadis itu berhenti pada bagian penyebab kematian.

Tertusuk pisau pada dada kiri. Ditemukan meninggal didalam rumah.

"Dibunuh? Itu cara meninggal yang mengerikan..." merasa tidak enak karena telah membaca sesuatu yang tidak terduga, Baekhyun memutuskan untuk mengembalikan map itu ke tempatnya. Kini ia beralih pada map yang kedua, dan didalam map itu ia menemukan banyak kertas—seperti kontak kerja dari perusahaan rekaman ternama, hingga kertas berbahasa Jepang yang entah apa artinya. Ia berasumsi mungkin itu adalah kontrak dari perusahaan rekaman di Jepang ketika debut dan mengeluarkan single Cherry Blossom.

Selanjutnya ia membuka map yang ketiga.

Baekhyun terkejut ketika melihat itu adalah surat panggilan pemeriksaan kepolisian kepada Kim Junmyeon untuk membawa sekaligus menjadi wali dari lelaki kecil bernama Park Yeol yang masih berusia 9 tahun, untuk menjadi saksi dalam kasus pembunuhan Ibunya. Baekhyun membaca isi dari surat panggilan itu yang ternyata menyangkut perkara kematian dari wanita bernama Hwang Miyoung.

Didalam surat itu dijabarkan alasan kenapa bocah itu harus menghadiri pemeriksaan itu. Pada bagian pertama, bocah itu satu-satunya saksi yang berada di TKP, dan pada waktu yang sama ia ditemukan oleh warga tidak jauh dari korban yang telah berlumuran darah.

Baekhyun tidak percaya dengan apa yang ia baca. Bocah berumur 9 tahun itu menyaksikan kematian Ibunya dengan mata kepalanya sendiri? Itu adalah sesuatu yang mengerikan!

Lantas apa hubungannya dengan Park Chanyeol?

Lama termenung karena memikirkan siapa Hwang Miyoung, Park Yeol, dan Kim Junmyeon yang ada didalam sertifikat kematian dan surat panggilan itu, membuat Baekhyun menghela napas panjang. Dia tidak mengerti kenapa surat-surat itu ada didalam brankas milik Chanyeol. Mungkinkah bocah bernama Park Yeol itu adalah Park Chanyeol?

Gadis itu meletakkan map-map itu kedalam brankas. Dia tidak ingin membuang waktu hanya untuk melamun. Meskipun ia telah mengetahui beberapa kemungkinan jika Park Yeol adalah nama asli dari Park Chanyeol, tapi itu tidak cukup. Jika memang benar Park Yeol adalah Park Chanyeol, mungkin itulah alasan kenapa lelaki itu tidak ingin mengumbar masa lalunya dan mengganti namanya menjadi Park Chanyeol.

Tidak mau menunggu lagi, ia merogoh kain berwarna hitam yang terletak dipaling ujung. Dia kemudian membuka kain itu agar dapat melihat isi didalamnya.

Alis gadis itu mengkerut ketika melihat sebilah pisau dengan ganggang yang terbuat dari kayu berwarna cokelat tua. Tidak ada yang special dari pisau itu, seperti halnya pisau-pisau dapur pada umumnya. Ia membolak-balik pisau itu, memperhatikan setiap inci dari pisau stainless steel yang ia pegang. Tapi pisau itu memang tidak ada yang aneh. Baekhyun membungkus pisau itu kembali kedalam kain, lalu meletakkannya kembali kedalam brankas tanpa menaruh curiga sedikitpun.

Dan begitu Baekhyun mengangkat toples kaca itu keluar dari brankas agar dapat melihatnya dari dekat, ia hanya melihat sebuah benda berwarna cokelat kekuningan yang dimasukkan kedalam toples kaca berisi air. Karena air itu sedikit keruh, ia tidak dapat melihat isi didalam toples itu dengan jelas. Namun setelah ia melihat dengan teliti, ternyata benda itu adalah sebuah jantung manusia yang telah mengalami pembengkakan ukuran.

5

"Jadi... ID baebyeons06 itu adalah Byun Baekhyun?" jemari Sehun berhenti ketika ia melihat wajah gadis yang selama ini bermain game online bersamanya melalui mesin pencarian google. Tidak susah untuk mencari foto Baekhyun karena gadis itu adalah anak dari public figure yang sering disorot oleh media.

Meskipun Sehun bertemu dengan Baekhyun hanya melalui game online, tapi entah mengapa hubungan mereka sangat dekat, lebih dari sekedar keluarga. Jika mereka ada waktu luang, gadis itu enggan untuk menceritakan tentang keluarganya—mungkin itu karena ia tidak ingin ada yang tahu jika ID baebyeons06 adalah Byun-Baekhyun-yang-itu.

Lelaki berumur 17 tahun itu menyandarkan punggungnya dikursi roda sambil mengerucutkan bibir. Itu adalah penemuan yang besar, tentu saja. Dia tidak pernah menyangka jika gadis yang selama ini berbicara kepadanya dengan suara yang riang dan gembira adalah gadis dari keluarga terkenal.

Jika dibandingkan dengannya yang bukan siapa-siapa, mereka seperti berada didunia yang berbeda, antara langit dan bumi.

Dan ketika Sehun hendak membuka cuplikan berita dari tv yang di upload ke youtube tentang hilangnya Baekhyun saat pelelangan, suara teriakan sang Ibu membuat langkahnya terhenti.

"Sehun! Jeno! Makan malam sudah siap! Ayo cepat kalian keluar!" begitu ia mendengar suara panggilan dari sang Ibu yang berteriak dari dapur, Sehun tidak langsung menurut. Lelaki itu malah memutar cuplikan berita di youtube tanpa memperdulikan konsekuensinya jika tidak menurut perintah sang Ibu yang memegang kendali dirumah.

Menurut berita yang ia lihat didalam layar komputer miliknya, Baekhyun terakhir kali terlihat sebelum mati lampu yang terjadi selama beberapa detik—itu adalah waktu yang sama ketika Sehun merogoh saku celana untuk mencari ponsel pintarnya. Setelah lampu menyala dan semua pengunjung diperiksa satu persatu karena hilangnya kalung ratusan juta, hanya gadis itu satu-satunya yang menghilang selama acara berlangsung. Banyak yang menduga jika gadis itu yang telah mencuri kalung ratusan juta itu dan kabur begitu saja, tapi tidak banyak juga yang mengatakan jika Baekhyun diculik oleh komplotan yang merencanakan pencurian itu.

Sehun menyernyitkan dahinya ketika menemukan banyak keganjilan dalam berita itu. Seperti dugaannya, ini adalah masalah besar.

Namun ketika jemari Sehun hendak membuka video yang lain, tiba-tiba jendela pencariannya berubah putih dengan tulisan your connection is lost pada setiap jendela yang ia buka.

Oh shit! Tolong jangan bilang jika Ibunya mematikan sambungan wifinya!

Samar-samar Sehun mendengar suara teriakan Jeno dari lantai dua, "AAHHHHH! EOMMA! SAMBUNGAN WIFINYA MATI!" dari suaranya saja Sehun dapat mengerti bagaimana perasaan Adiknya itu. Ibunya pernah mematikan sambungan wifi ketika Sehun sedang bermain game online—parahnya, itu adalah momen ketika ia dan keempat anggota teamnya sedang bertanding melawan musuh.

Benar-benar mimpi buruk.

"EOMMA MEMANG SENGAJA MELAKUKANNYA! SEKARANG CEPAT TURUN KAU OH JENO! DAN KAU JUGA OH SEHUN! JANGAN SAMPAI EOMMA MENARIKMU KELUAR DENGAN PAKSA HANYA KARENA KAU MEMAKAI GIPS!" aungan menyeramkan dari sang Ibu membuat Sehun bergidik ngeri. Ia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti perintah yang Ibunya katakan sebelum ancaman itu berubah menjadi kenyataan.

Ketika kursi roda Sehun berhenti disamping kanan tangga, ia tiba-tiba mendengar suara pintu depan yang terbuka. Sesosok pria berkacamata muncul dari balik pintu itu selang beberapa saat kemudian. Sosok paruh baya itu menghela napas berat sambil membungkukkan badan untuk melepas sepatu yang ia pakai lalu menatanya kedalam rak sepatu seperti biasa.

Sehun menyambut kedatangannya sambil memutar roda pada kursi rodanya menghampiri sosok pria berjanggut yang kini memperlihatkan wajahnya dengan jelas. "Selamat datang, Ayah." Pria paruh baya itu menyentuh kepala Sehun sebelum menghampiri sang Istri yang berdiri dibelakang Sehun yang turut ikut menyambut kedatangan Suami.

Pria itu memberikan mantel dan tas kerjanya kepada sang Istri sambil menghela napas berat, "Jadi? Bagaimana kelanjutan kasusnya, sayang?" suara lembut itu terdengar samar-samar dari belakang kursi roda Sehun.

"Team penyidik masih memeriksa TKP lebih lanjut karena banyak keganjilan disana." Dengan malas pria paruh baya itu menjelaskan kepada Istrinya kelanjutan dari masalah yang sedang ia tangani. Sejujurnya saja, beliau benar-benar tidak ingin membahas masalah pekerjaan jika sudah berada dirumah. Dia ingin menstabilkan pikirannya yang kacau karena pekerjaan yang melelahkan itu.

Sehun tidak bisa berharap banyak dari Ayahnya untuk cepat-cepat menemukan Baekhyun. Ia tahu jika masalah yang sedang Ayahnya tangani itu bukan masalah yang kecil karena Sehun cukup yakin jika pelaku bukan orang yang sembarangan. Mereka bergerak secara profesional. Dan yang membuat Sehun ketakutan, apakah Baekhyun masih hidup pada detik ini?

Ketika Sehun tenggelam kedalam dunianya sendiri, ujung kaki lelaki itu yang digips tiba-tiba merasa geli. Lelaki itu menunduk dan menemukan Vivi, anjing jantan dengan jenis Bichon Frise berbulu seputih salju dan selembut kapas itu, tengah menjilati Ibu jari kakinya. "Vivi, hentikan." Tangan lelaki itu menggayuh-gayuh untuk mengusir Vivi yang sendari tadi tidak ingin lepas darinya.

5

Baekhyun meletakkan toples kaca itu masuk kedalam brankas dengan wajah pucat pasih. Otot rahangnya lemas dan terjatuh seraya ia mencoba untuk bangun dari dunia mimpi. Sekujur tangannya gemetaran dan ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Jika Baekhyun menyatukan seluruh dokumen yang ia temukan, ditambah dengan pisau dan jantung manusia itu, apa mungkin Chanyeol yang membunuh Ibunya?

Gadis itu menutup mulutnya menggunakan kedua tangan untuk menahan suaranya agar ia tidak berteriak. Air mata menetes di kedua pipinya yang kini bersemu merah. Dia takut. Dia tidak ingin berada disini lagi. Chanyeol benar-benar orang yang berbahaya, dan itu terbukti dari jantung manusia yang berada didalam toples kaca itu.

Baekhyun menoleh kearah pintu kamar yang tertutup rapat. Ia mencoba untuk bangkit dari lantai meskipun kedua kakinya tidak memiliki tenaga hingga ia berulang kali terjatuh dan membuat lututnya sakit. Gadis itu memutar ganggang pintu, tapi pintu itu tidak bergeming tepat seperti harapannya. Chanyeol pasti mengunci pintu dari luar.

Tapi ia tidak menyerah begitu saja. Baekhyun berlari masuk ke kamar mandi dan mengambil apapun yang ia temukan untuk membuka kunci pintu itu. Dimulai dari sikat toilet, hingga plunger. Namun tidak dari keduanya ada dapat membuka pintu itu.

Baekhyun mengusap titik-titik keringat yang menetes ke pelipis matanya. Gadis itu terduduk diranjang rambil melirik pada jam dinding yang menempel diatas kepala ranjang. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Sekarang jam telah menunjukkan pukul 06.58PM; jika ia tidak keluar dari apartemen itu sebelum Chanyeol kembali, ia mungkin berada dalam bahaya.

Baekhyun menyernyitkan dahi begitu ia menyadari sesuatu. "Pisau..." gadis itu melirik kearah brankas yang pintunya masih dalam keadaan terbuka. Ia tidak tahu harus menggunakan pisau yang telah merenggut nyawa seseorang atau tidak, tapi saat ini ia benar-benar tidak memiliki pilihan lain.

Gadis itu berjongkok kemudian mengambil kain berwarna hitam yang ia letakkan didalam brankas itu. Meskipun awalnya ia enggan melakukannya, tapi Baekhyun akhirnya menetapkan keputusan. Ini adalah satu-satunya cara agar ia bisa kabur!

Dengan gerakan cekatan, Baekhyun mengangkat besi yang menghubungkan engsel pintu agar dapat terlepas. Jika kedua engsel dipintu itu rusak, mengkunci pintu tidak akan menjadi masalah. Pintu akan terlepas dari bingkainya, dan Baekhyun bisa kabur dari apartemen itu.

Napas Baekhyun memburu ketika ia berusaha membuka engsel kedua yang berada sedikit lebih tinggi dari tubuhnya. Begitu ia berhasil melepas kedua besi yang menyambungkan engsel-engsel itu, gadis itu menendang pintu agar pintu itu roboh ke lantai. Ia melempar pisau yang ia pegang ke lantai, kemudian melompat keluar, tapi langkahnya terhenti ketika melihat sesosok jangkung yang berdiri dibawah anak tangga dengan senyum mengerikan yang tercetak jelas diwajahnya.

"Ini sebabnya aku menolak untuk membiarkanmu hidup, Silent Rat. Kau mungkin cantik, tapi kau tidak bisa membodohiku."

Suara itu... Baekhyun langsung mengenali suara itu dari manapun;

Kris.

5

To be continued. . .
.

.

Don't forget to like this story, share, and comment down below. Thanks guys!
-exonoir