Naruto menatap tiga pria yang mengelilinginya, "Aku tidak apa-apa. Ada apa dengan kalian?"
Tak ada jawaban. Semua mata dalam ruangan tertuju pada Sai.
"Pergi kau, bajingan!" teriak Kyuubi kepada Sai.
Naruto yang menyaksikan itu menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kakaknya tidak pernah mengusir Sai sampai seperti itu. "Kyuu.."
"Diam kau Naru! Dia bukanlah Sai!" teriak Kyuubi lagi.
Bukan Sai? Lalu siapa? Naruto tahu jika Sai memang agak sedikit aneh beberapa hari ini. Tapi yang berdiri di depan mereka itu sahabatnya! Demi apapun!
"Kau tetap tidak mau pergi?"
Kyuubi mulai berjalan mendekati Sai. Saat sudah cukup dekat, laki-laki berambut orange itu menghantamkan tinjunya pada wajah sang Shimura.
"KYUUBI!" Naruto memegang lengan Kyuubi yang siap meluncurkan tinju lainnya. Gaara dan Iruka pun membantu memegangi badan si sulung Namikaze. Mata Naruto beralih pada Sai yang berdiri tak jauh dari mereka. Wajahnya merah menahan marah. "Pergilah, Sai! Kumohon!"
Sai mengusap wajahnya dengan lengan kaos yang dipakainya sebelum keluar dari kamar Naruto.
Empat orang yang tersisa dalam ruangan berusaha mengatur nafas mereka masing-masing. Iruka, yang merasa hal ini bukanlah urusannya memutuskan keluar dari kamar Naruto. Kyuubi masih berdiri di tempatnya bersama Naruto. Sedangkan Gaara telah berdiri di dekat jendela, mengawasi Sai yang keluar dari kediaman Namikaze sampai mobil laki-laki itu sudah tak terlihat lagi.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Naruto terdengar frustasi.
"Sai sedang dirasuki." Gaara akhirnya buka suara.
Naruto mengernyit. "Apa maksudmu, Gaa?"
Kyuubi mendengus. "Apa kau tidak merasakannya, bodoh? Sasuke sedang merasuki tubuh Sai!"
"Jangan bercanda, Kyuu! Itu mustahil!"
"Mustahil kau bilang?" Mata Kyuubi memicing, "Coba ingat, apa yang ia lakukan kepadamu beberapa hari ini!"
Naruto terdiam. Masih sangat jelas dalam ingatannya tentang kejadian di rumah sakit. Lalu kejadian beberapa menit lalu pun terlintas di otaknya.
"Dia bukan Sai, sayang. Kau tahu itu. Kau yang mengatakan sendiri padaku bahwa Sai aneh setelah ia sadar." Ucapan Gaara sukses membuat Naruto tidak jadi membuka mulut.
Gadis itu masih diam. Ia agak merasa aneh di sini. Bukankah pada awalnya Sasuke begitu ingin membunuhnya? Tapi, jika benar yang sedang merasuki Sai adalah Sasuke, kenapa Sasuke tidak membunuhnya tadi? Posisi mereka sangat dekat beberapa menit yang lalu.
"Tidak mungkin. Jika Sasuke memang benar berada dalam tubuh Sai, kenapa ia tidak mencoba membunuhku tadi?"
.
.
.
.
.
Boneka
Disclaimer: Masahi Kishimoto
Genre: Horror dan sedikit romance? Atau Romance dan sedikit horror? Saya buta genre..
Warnings: FEMNARU, Abal, Typos bertebaran, PoV berubah-ubah, SasuFemNaru, GaaFemNaru dan masih banyak lagi ._.
Don't like don't read
.
.
.
.
.
Seorang gadis berambut pirang dengan kulit berwarna kecoklatan terlihat sedang berlari sambil tertawa menuju ke arah danau. Wajahnya terlihat sangat gembira. Binar-binar nakal terpancar dari mata biru indahnya. Suara tawa tak berhenti keluar dari mulutnya.
Gadis mungil itu berhenti beberapa meter dari bibir danau. Ia sudah berhenti tertawa. Kali ini ia memandangi lukisan Tuhan yang tengah disajikan di depan matanya.
"Ini... indah sekali," ujarnya.
Kini, ia mendudukkan dirinya di rerumputan. Masih takjub memandangi danau di depannya.
Danau berair bening dengan pantulan pohon-pohon hijau di sekitar danau pada permukaannya. Lalu bukit-bukit di balik pepohonan menambah indah pemandangan di tempat itu.
"Bagaimana aku bisa melewatkan tempat indah ini? Aku tak pernah tahu jika di perbatasan ada tempat seperti ini!"
Gadis itu kemudian berdiri. Ia berjalan mendekati bibir danau. Gadis itu kembali berjongkok dan mengamati pantulan wajahnya di permukaan danau. Ah, airnya lebih bening dari yang ia kira. Ia bisa melihat ikan-ikan kecil berenang, bahkan batu-batu kecil yang ada di dasar danaupun terlihat dengan sangat jelas.
Ia mengulurkan kedua tangannya bermaksud untuk mengambil air danau itu.
TAP
"AAAAK!"
BYUUUR
Suara tawa seorang laki-laki terdengar.
Gadis pirang yang kini sudah masuk ke dalam danau itu merengut. Seluruh bajunya basah walaupun kedalaman danau di tempatnya terjatuh hanya setinggi pahanya saja, tapi karena posisi jatuhnya yang terbilang ekstrim –dengan kepala terlebih dahulu yang masuk ke dalam air- menyebabkan seluruh pakaiannya basah dari luar sampai dalam.
"Berhenti tertawa! Bantu aku naik ke sana!" perintah si gadis berambut pirang.
Si laki-laki yang kini sudah berhenti tertawa, menyilangkan lengannya di perut. Ia menatap gadis di depannya dengan pandangan tertarik.
"Bagus! Sekarang cepat bantu aku!" teriak gadis itu, lagi.
Pemuda yang ada di atas sana tak bergeming. Tetap memandangi si gadis dengan seringai di wajahnya.
Gadis bermata biru itu membalas memandangi remaja itu.
Si laki-laki berambut raven itu masih diam.
"Hei apa yang kau lakukan?! Cepat ulurkan tanganmu dan bantu aku untuk naik ke atas sana! Baju ini berat, kau tahu? Dan lelaki yang baik pasti akan senang hati membantu seorang perempuan!" ujar si gadis pirang dengan wajah yang kesal.
"Kalau aku tidak mau?" tanya si pemuda tampan. Seringainya makin melebar.
Gadis pirang itu menganga. Tidak percaya dengan pendengarannya.
'Apa-apan dia ini?!'
Telunjuk gadis itu teracung menunjuk laki-laki di depannya, "Kau! Kau yang membuatku terjatuh dan masuk ke dalam air ini. Kau harus bertanggung jawab, Teme!"
Mata gadis itu melebar sepersekian detik dan ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Namun, dengan cepat ia menurunkan tangannya. "Tapi kau pantas untuk dipanggil Teme!"
"Kami-sama, aku tak tahu bahwa gadis yang terlihat terpelajar sepertimu bisa mengetahui kata-kata seperti itu."
Gadis itu terlihat terkejut sementara pemuda itu kembali menyeringai.
"Sudah lupakan! Aku tak butuh bantuanmu untuk naik ke atas sana! Aku bisa sendiri! Lihat aku!" sombongnya.
Dengan sepenuh tenaga, gadis berambut pirang itu mencoba naik. Namun, dari semua percobaan yang ia lakukan, tak satupun membuahkan hasil. Ia selalu saja terpeleset dan kembali jatuh.
"Ck! Kau memang Dobe! Bahkan keledai pun tak akan jatuh ke lubang yang sama."
Gadis itu menggeram. "Diam kau! Lebih baik bantu aku keluar dari danau ini atau tidak sama sekali!"
"Apa yang akan aku dapatkan jika aku membantumu?" tanya si laki-laki berambut raven.
Si pirang menyipitkan matanya, "Dasar pemeras!"
"Oh, baiklah. Aku pergi."
Laki-laki itu mulai berjalan menjauhi danau.
Si gadis melihat ke sekitarnya. Danau ini sepi. Tidak ada orang selain dirinya dan pemuda itu di tempat ini. Ia baru saja kabur dari para penjaganya yang sedang menemaninya berkeliling kerajaan. Pasti akan membutuhkan waktu lama bagi penjaganya untuk sampai di tempat ini.
"Tunggu!" teriak gadis itu.
Laki-laki itu membalikkan badan. Seringainya masih ada di sana. "Apa yang akan ku dapatkan?"
"Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan."
.
.
.
"Apa yang kau lakukan, Sasuke?" tanya Itachi saat menemukan adiknya berada di salah satu ruangan dalam rumahnya.
Yang ditanyai hanya menaikkan bahunya.
Itachi menggeleng, "Bukankah aku sudah memberitahumu untuk menunggu dalam tubuh pemuda itu sampai purnama merah?"
Sosok transparan itu mendengus.
"Kembali ke sana, Sasuke!"
"Kembali katamu?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya. "Dan diam menunggu bulan purnama merah tanpa melakukan apapun?"
"Itu adalah cara terbaik. Aku tidak ingin jiwamu dimangsa olehnya. Mengertilah!"
"Kau tidak ingin jiwaku dimangsa? Maka berikan aku tubuh, Itachi!"
Itachi menatap sosok transparan adiknya dengan tidak percaya. "Tidak semudah itu, Sasuke! Aku tidak memiliki cukup kekuatan saat ini, kau pun sama. Maka dari itu, kita harus menunggu bulan purnama merah. Bersabarlah!"
"BERSABAR KATAMU?!"
Entah bagaimana, kini Sasuke mampu mengangkat Itachi beberapa senti di udara. Tangan Sasuke tidak lagi transparan, namun tidak juga nyata. Tapi tangan buatan Sasuke itu mampu untuk mengangkat kakaknya. Ia mencengkeram erat leher Itachi.
Itachi hanya diam dengan mata yang perlahan berubah berwarna merah.
Sasuke melepaskan kakaknya. Kali ini ia menendang meja yang ada di sampingnya sampai terbalik dan semua perabotan di atasnya pecah.
"Kau menyuruhku bersabar, Itachi?" Laki-laki yang berusia lebih muda itu tersenyum sinis. "Aku sudah terlalu bersabar selama ini! Aku sudah bersabar saat gadisku tidak mengingatku, aku berusaha mengingatkannya perlahan-lahan! Aku juga sudah sangat bersabar saat ada laki-laki lain yang menyentuh gadisku."
Sasuke menatap kakanya dengan mata berwarna merah.
"AKU SUDAH TERLALU LAMA BERSABAR! DAN KAU MASIH MENYURUHKU UNTUK BERSABAR LAGI?!"
"Sasuke!"
"Aku bukan Tuhan! Kesabaranku ada batasnya!"
Itachi menghela nafas. Ia memijit pangkal hidungnya. Kemudian ia duduk di kursi terdekat.
"Lalu, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Itachi mengalah.
Sasuke menatapnya. "Aku ingin tubuhku kembali saat ini juga."
"Kita harus menyerap kekuatan purnama merah untuk melakukan itu. Harus berapa kali aku mengatakan itu?"
Lelaki berambut panjang itu masih saja memijit pangkal hidungnya. Adiknya ini benar-benar. Bersabar sedikit saja tidak bisa. Rencana yang telah ia susun matang-matang selama ini tidak akan berguna lagi jika begini.
"Aku tahu siapa yang bisa membantuku."
Itachi membuka matanya yang sedari tadi tertutup. Ia menatap adiknya dengan tajam. Ia tak suka dengan rencana adiknya.
Sasuke menyeringai.
"Jangan bercanda!"
Lelaki yang lebih muda itu balik menatap kakaknya. "Apa aku terlihat bercanda?"
Si sulung bangkit dari duduknya. "Apa kau sadar dengan siapa kau akan membuat perjanjian? Kau akan kembali pada ular licik itu? Apa kau bodoh, hah?! Sasuke, keledai pun tak akan jatuh di lubang yang sama."
"Hanya dia yang bisa membantuku, Itachi."
"Hanya dia?!" Itachi menatap adiknya, kecewa. "Aku bisa membantumu! Aku bisa saat purnama merah datang, kenapa kau tidak mau menunggu, Sasuke?"
"Bulan purnama merah itu masih 21 hari lagi." Ucap Sasuke tenang.
"Itu tinggal sebentar lagi. Damn it, Sasuke!"
"Aku tidak bisa menunggu lebih dari ini, Aniki. Aku ingin segera mendapatkan gadisku kembali."
Ucapan Sasuke terdengar sangat mutlak. Itachi sudah tak bisa melakukan apa-apa lagi ketika tubuh transparan adiknya membaur dengan kegelapan dan menghilang.
"Sialan!"
.
.
.
"Dasar Dobe!" ujar pemuda tampan berambut raven yang kini terduduk di bawah pohon.
Sang gadis pirang melotot tak suka ke arah pemuda tampan itu. Ia diam tak menanggapi. Ia melanjutkan mengeringkan baju kebesarannya yang basah kuyup dengan mengipas-ngipaskan selembar daun. Walaupun ia tahu bahwa apa yang dilakukannya itu sebenarnya percuma. Namun, ini lebih baik daripada ia tidak mencoba sama sekali.
"Dobe!"
Wajah gadis pirang itu memerah. Ia melemparkan daun di tangannya ke arah laki-laki berambut raven itu, yang sayangnya daun itu tidak mengenai sang pemuda sama sekali.
"Kau memang Dobe, melempar saja tidak bisa!" laki-laki itu terus saja menggoda si pirang.
"Aish! Diam kau Teme! Berisik! Dari pada kau terus mengataiku Dobe, lebih baik kau melakukan sesuatu yang berguna! Bantu aku mencari pengawalku atau setidaknya bantu aku mengeringkan pakaian ini! Hari sudah semakin sore. Anginnya semakin dingin. Aku kedinginan dan aku ingin segera pulang!"
Laki-laki itu tidak menghiraukan gadis mungil yang duduk dua meter darinya. Ia memainkan kerikil kecil di tangannya lalu melemparkannya ke danau. Wajahnya masih datar. Namun, jika dilihat lebih teliti, sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Teme! Bantu aku!" jerit gadis itu.
"Berisik, Dobe."
"TEME!" gadis cantik bersurai pirang itu kembali menjerit.
Lelaki itu diam tidak menyahuti. Gadis itu melempar kerikil kecil dan mengenai sepatu laki-laki itu.
"Hn?" sahut si raven dengan nada menyebalkan.
"BANTU AKU!"
"Bahkan aku belum mendapatkan imbalanku."
Gadis itu menganga tidak percaya. Ia menghela nafas, ia ingat kata-kata orang tuanya bahwa ia harus selalu menepati janji. "Apa? Apa yang ingin kau dapatkan dariku, Teme?"
Pemuda itu menyeringai. Membuat sang gadis menggembungkan pipinya.
"TUAN PUTRI! AKHIRNYA KAMI MENEMUKAN ANDA." Teriak seorang dari sebelah kanan muda mudi yang sedang duduk di bawah pohon.
Gadis berambut pirang itu membalikkan badannya. Tersenyum dengan suka cita saat melihat rombongan pengawalnya datang menemukannya. Dengan cepat gadis itu berdiri dan berlari memeluk dayang yang menemaninya dalam perjalanan tadi.
"Syukurlah kalian segera datang. Aku sangat senang." Gadis itu masih saja memeluk dayangnya.
"Pakaian anda basah, Puteri. Sebaiknya anda segera mengganti pakaian." Ujar dayang itu lembut.
Gadis cantik berambut pirang itu mengangguk. Ia kemudian membiarkan dirinya dikelilingi oleh pengawal dan berjalan menuju keretanya.
"Tunggu sebentar," gadis itu membalikkan badan. Ia masih dapat melihat pemuda berambut raven yang menolongnya berdiri di bawah pohon.
Si pirang keluar dari rombongannya. Ia berjalan dengan anggun menuju pemuda tampan tapi menyebalkan yang telah menolongnya. Gadis itu tersenyum dengan hangat. "Hei, Teme! Terima kasih ya, maaf aku merepotkanmu. Dan maaf karena aku belum bisa memberimu imbalan. Tapi aku berjanji, jika kita bertemu lagi, katakan apa yang kau inginkan, aku akan mengabulkannya."
"Hn, Dobe." Pemuda itu tersenyum tipis.
Gadis itu menggembungkan pipinya. "Berhenti memanggilku Dobe! Aku memiliki nama. Naruko. Itu namaku."
Laki-laki itu mengangguk.
"Sampai jumpa."
Gadis itu kembali berjalan ke rombongannya. Ia agak bingung ketika melihat rombongannya membungkukkan badan mereka.
"TERIMA KASIH UCHIHA-SAMA." Kata mereka bersama-sama.
.
.
.
"Ada apa denganmu?" tanya Kyuubi saat mendapati adiknya melamun di dapur.
"Huh?" tanya Naruto.
Gadis yang tadinya berdiri menyender pada kulkas itu kemudian menarik kursi. Memakan ice cream yang baru saja dikeluarkannya.
Kyuubi menatap adiknya dengan pandangan memicing.
Naruto mendongak, sadar bahwa kakaknya menatapnya sedari tadi. "What?"
"What happen?"
"Kyuu," Naruto menunjuk Kyuubi dengan sendok ice cream di tangannya, "Don't answer a question with another question!"
Laki-laki berambut merah itu menyentil jidat adiknya. Tertawa kecil saat mendengar adiknya mengaduh. Ia kemudian duduk di sebelah si pirang dengan segelas air putih dingin di tangannya.
Naruto memegangi jidatnya yang baru saja menjadi korban kakaknya. "Sakit, Kyuu!"
Sang pelaku kekerasan hanya melirik adikknya lalu menenggak isi gelasnya sampai habis.
"Kenapa kau melamun?" tanyanya pada akhirnya.
Si rambut pirang menatap kakaknya. Ia kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali memakan ice cream cokelatnya.
"Siapa bilang aku melamun?!"
Kyuubi mendengus. Jelas-jelas adik semata wayangnya itu melamun tadi!
"Apa sih?" tanya Naruto saat mendengar dengusan kakaknya.
Kyuubi menggeser tubuh untuk menghadap adiknya, "Kau tadi melamun, bodoh!"
Naruto tetap cuek dan melahap ice creamnya.
"Aku tidak melamun. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu. Itu saja."
Sang kakak hanya bisa menepuk jidatnya. Adiknya satu ini.. astaga!
"Ada sesuatu yang menggangguku sedari kemarin, Kyuu." Kali ini si pirang telah meletakkan sendok ice creamnya. Ia menatap sosok kakaknya yang juga sedang menghadap ke arahnya. "Ia terus datang dalam mimpiku setiap malam. Aku takut, Kyuu-nii."
Naruto memanggilnya 'Kyuu-nii'. Adiknya hanya akan memanggilnya dengan embel-embel itu di saat tertentu saja.
Mata Kyuubi melembut melihat adiknya. Ia berdiri kemudian memeluk adiknya yang masih duduk. Membelai surai pirang yang ada di perutnya. "Selama ada aku, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu, Naru-chan."
.
.
.
"Ah, Sasuke. Kau kembali?" tanya sosok pucat berambut hitam panjang. Sosok itu masih memunggungi Sasuke.
"Orochimaru-sama."
Sasuke melihat keadaan sekitarnya. Gua ini memang tidak berubah sejak pertama kali ia menginjakkan kakinya di sini. Tetap gelap. Kelam. Lumut menumbuhi hampir seluruh dinding gua. Hanya sebuah obor yang menerangi ruangan.
Di belakang sang iblis ular, Sasuke dapat melihat sebuah penjara yang terbuat dari sihir. Di sana merupakan tempat jiwa-jiwa yang tidak bisa memenuhi permintaan Orochimaru yang pada akhirnya akan menjadi santapan sang iblis. Sasuke mendecih melihat mereka.
"Apa yang bisa ku bantu kali ini, Sasuke?" Orochimaru membalikkan tubuhnya. Wajahnya terlihat seperti ular.
Sasuke menundukkan kepalanya. "Aku ingin meminta bantuanmu, Orochimaru-sama."
Seringai licik terpampang di wajah ular Orochimaru. "Apa itu?"
"Aku ingin mendapatkan tubuhku kembali, Orochimaru-sama." Ujar Sasuke. Kali ini ia menatap mata sang iblis.
"Ah.." iblis berwajah ular itu tertawa. "Sasuke, Sasuke."
Sang Uchiha tetap menatap mata Orochimaru. Bagaimanapun ia harus kembali mendapatkan Naruto. Apapun caranya! Jika ia harus mengemis pada iblis ular ini, ia akan melakukannya!
"Apa alasanmu kali ini?"
"Aku ingin mendapatkan kekasihku kembali." Jawab Sasuke dengan tegas.
"Tentu saja aku bisa membantumu." Seringai pada wajah Orochimaru semakin melebar. "Ada harga yang harus kau bayar."
Sasuke mengangguk. Ia tahu Orochimaru. Iblis itu tak akan melepasnya semudah itu.
"Aku mengerti."
.
.
.
"Jadi namamu Sasuke, huh, pangeran?" tanya Naruko saat gadis itu berhasil menemukan laki-laki yang dicarinya di pesta Kerajaan Uchiha.
Pangeran Sasuke hanya menghela nafas, "Tak bisakah kau meninggalkanku sendirian?"
"Hey! Aku baru saja menemukanmu, Pangeran Sasuke!"
Sang raven tidak menanggapi ucapan gadis cantik di sampingnya. Ia masih diam di balkon yang sama sejak pesta itu dimulai. Tak mempedulikan keberadaan sang Puteri Namikaze. Ia lebih memilih menutup mata sambil merasakan angin yang membelai wajahnya.
"Sasuke.."
Tidak ada jawaban.
"Sasuke.." gadis itu mulai meninggikan suaranya.
Masih tidak ada jawaban.
"Sasuke!" bentak sang putri sambil menarik wajah sang pangeran agar menghadapnya. "Aku bosan! Jangan diamkan aku!"
Sasuke menatap mata gadis di depannya. Ia tertegun. Selama hidupnya, ia tak pernah melihat mata biru sejernih itu. Jika dilihat lagi, gadis di depannya bertambah cantik sejak ia melihatnya saat itu.
"Sasukeee." Gadis itu mulai merajuk.
Laki-laki bermata kelam itu mengalihkan pandangannya ke dalam ruangan pesta. Semua undangan berada di sana. Saling berbincang di pinggir ruangan dan banyak juga yang berdansa di tengah-tengah ruang pesta. Sangat ramai.
"Aku tak suka keramaian," ujar Sasuke pada akhirnya.
Gadis di depannya memutar mata. "Setidaknya ajak aku bicara, Pangeran Sasuke!"
Mendengar dua kata terakhir keluar dari bibir merah si pirang, Sasuke meliriknya tajam. "Berhenti memanggilku seperti itu!"
"Kenapa?"
"Aku tidak suka."
Naruko menggembungkan pipinya. Gadis itu menenggak habis minuman yang ada di gelasnya. Ia sangat sangat bosan! Sedangkan satu-satunya orang yang ingin ia temui, malah mendiamkannya seperti ini.
Puteri kedua dari Kerajaan Namikaze ini melirikkan matanya ke dalam ruangan pesta. Ia bisa melihat kakaknya sedang berdansa dengan Pangeran Uchiha Itachi di dalam sana. Ugh! Ia juga ingin berdansa seperti itu!
"Hey, Sasuke. Apa kau bisa berdansa?"
"Aku tak suka keramaian, Dobe."
Naruko mengambil gelas yang berada di tangan Sasuke dan meletakkannya di meja. Gadis itu kemudian mengambil tangan Sasuke, menyeret sang pangeran ke tengah balkon. Naruko meletakkan tangannya di leher lelaki di depannya.
"Kita berdansa di sini saja."
Sasuke kembali menatap mata biru yang indah itu. Ia masih diam sementara gadis di depannya mulai bergerak mengikuti irama.
"Ayolah Sasuke." Gadis itu merajuk untuk yang kesekian kalinya malam ini.
"Hn." Dengan itu, Sasuke melingkarkan tangannya di pinggang sang puteri.
Si pirang tersenyum, "Begini lebih baik."
Mereka berdansa mengikuti irama. Semua gerakan yang mereka lakukan begitu pas. Tidak terburu-buru. Hanya mengikuti musik yang mengalun dari ruangan pesta.
Tanpa sadar, Sasuke menaikkan sedikit ujung bibirnya. Diam-diam dia menikmati kebersamaan mereka. Menikmati wangi yang menguar dari tubuh dan rambut Naruko. Menikmati bagaimana gadis itu terasa sangat cocok berada dalam pelukannya. Seperti mereka diciptakan untuk satu sama lain.
Di sisi lain, Naruko terpana melihat pangeran di depannya tersenyum. Entah mengapa, rasanya ia ingin menjaga senyuman di wajah Sasuke. Ia menangkup pipi laki-laki di depannya.
"Kau sangat tampan jika tersenyum, Sasuke."
Mereka berhenti bergerak. Tak tahu siapa yang memulai, bibir Sasuke sudah menemukan bibir merah Naruko. Memagut tanpa terburu-buru. Tak ada nafsu atau hal lain dalam ciuman ini. Hanya sebuah ciuman yang menyalurkan perasaan.
.
.
.
Naruto menatap pepohonan di sampingnya. Pohon-pohon itu dengan cepat digantikan dengan laut yang sangat luas. Gadis pirang itu tersenyum. Segera ia membuka jendela di sampingnya. Kali ini ia tertawa saat bau khas lautan menyapa indera penciumannya.
Gaara yang ada di sampingnya ikut tertawa. Ia sengaja mengajak gadis matahari itu ke pantai. Kemarin, Kyuubi memberitahunya bahwa kekasihnya terus-terusan melamun di rumah. Naruto mengalami stress karena terlalu banyak pikiran. Ya, Naruto-nya selalu memikirkan Sasuke. Semua hal tentang Sasuke membuat Naruto murung beberapa hari ini. Ia tak suka melihatnya murung. Ia ingin mengembalikan keceriaan gadisnya. Gaara akan melakukan apapun demi melihat senyuman indah Naruto!
"Aku suka melihatmu seperti ini." Laki-laki berambut merah di sampingnya tersenyum dan mengacak rambut gadisnya dengan gemas.
Sang gadis yang biasanya marah saat kekasihnya melakukan itu, hanya tertawa. Kemudian ia menggeser tubuhnya dan mencium pipi laki-laki itu. "Thank you."
Gaara tersenyum simpul saat Naruto mencium pipinya. Jarang-jarang Naruto menciumnya duluan! Biasanya ia harus memulai terlebih dahulu. Menciumi gadisnya sampai gadis itu merengek dan baru berbalik menciumi wajahnya. Ia meraih tangan gadisnya dan membawanya ke bibirnya. Ia menciumi jari-jari itu sambil tetap mengemudikan mobilnya.
Oh, betapa ia sangat mencintai gadis berkulit tan di sebelahnya.
Setelah memarkirkan mobilnya, Gaara langsung kelaur dan mengejar Naruto yang sudah lari masuk ke dalam pantai sejak mobil yang mereka tumpangi sampai di area parkir.
Sambil mensetting kamera yang ia kalungkan di lehernya, ia mencari Naruto. Sangat mudah mencari gadis itu di tengah keramaian pantai. Gadisnya telah menanggalkan sandalnya entah di mana dan sedang asyik bermain air sendirian. Gaara mendekati Naruto-nya sambil membidikkan lensa ke arah gadisnya. Ia sangat senang memotret gadisnya. Karena di setiap foto yang gara dapatkan, ekspresi yang ditunjukkan Naruto selalu berbeda. Ia tidak ingin melewatkannya.
Gaara merengut ketika sadar bahwa berpasang-pasang mata sedang memperhatikan gadisnya saat ini. Ia tak suka melihat banyak pria yang memandang gadisnya. Dan lihat pakaian yang dipakai Naruto. Hal ini membuatnya makin geram. Gadisnya menggunakan celana jeans pendek berwarna biru muda dengan loose tank top putih. Dan astaga, strapless bra berwarna orange yang dipakai gadisnya terlihat sangat jelas bahkan dari tempat Gaara berdiri saat ini!
Ia berlari menghampiri Naruto.
"Hey," ia mencium gadisnya lalu memeluknya. Menunjukkan pada semua orang bahwa gadis cantik dalam pelukannya itu kekasihnya. Hanya miliknya. Milik Sabaku Gaara. "Kau suka tempat ini?"
Naruto mengangguk. "Sangat!"
Gadis itu melepaskan diri dari pelukan sang Sabaku. Ia berlari dan mencipratkan air ke arah kekasihnya sambil tertawa. Mereka bermain air seperti anak kecil.
Setelah puas bermain air, Gaara mengajak Naruto untuk mencari suasana yang sedikit lebih tenang. Mereka berjalan menyusuri pantai. Di tempat ini sedikit lebih sepi dari sisi pantai yang sebelumnya. Hanya ada beberapa orang saja di sini.
"Gaa.." Gadis berambut pirang itu memecah keheningan di antara mereka.
Laki-laki berambut merah itu menarik gadis di depannya ke dalam dekapannya. "Ada apa, hm?"
Si pirang menggeleng dan tersenyum. Gaara ikut tersenyum lalu memeluk pinggang gadisnya erat. Laki-laki itu menurunkan wajahnya.
Awalnya, gadis Namikaze itu menutup mata saat Gaara menciumnya. Namun, ia merasa seperti ada yang sedang memperhatikan mereka. Ia membuka sedikit matanya. Dan mata Naruto membola melihat sosok yang berada di balik punggung kekasihnya. Dengan cepat gadis itu melepaskan pelukkan Gaara.
Di sana, berdiri seorang laki-laki dengan kaos dan celana berwarna hitam. Rambut ravennya bergerak mengikuti angin. Mata hitamnya menatap tajam. Laki-laki yang sama dengan sosok yang datang di setiap mimpinya.
"Sasuke?"
.
.
.
TBC
.
.
.
THANKS FOR:
luviz. hayate, Kyuuuuu, choikim1310, viraoctvn, sivanya anggarada, uzuuchi007, Jasmine DaisynoYuki, Uzumaki Prince Dobe-Nii, Ryuusuke583, zadita uchiha, anita. indah. 777, shiroi. 144, Kyu-ru. 25, hanazawa kay, uzumaki ardiaz, UzumakiDesy, yukiko senju, Yoona Ramdanii, Dewi15, November With Love, Coccoon, Aegyeo789
Dan makasih banget buat Namikaze Eiji yang nggak kenal lelah ngingetin Za buat update :*
Makasih juga buat yang sudah follow dan favorite :*
HAPPY WEEKEND EVERYONEEE!
