Tadaaaaaaaaaaaaaaaa!

i'm back.. ^^

Maaf kalo Authornya gak banyak kata-kata a.k.a banyak omong!

padahal kliah dijurusan yang yang membutuhkan banyak komunikasi!

hehehe...

silahkan menikmati, jangan banyak basa-basi.. nanti ditinggal reviews!

Ichi..

Ni..

San..

Duaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar!

Aiden and The Strange Man

Waktu makan siang sudah terlewatkan beberapa menit. Keadaan rumah sakit yang berada dipusat distrik Jongno, Seoul National University Hospital, terlihat agak ramai. Beberapa namja yeoja dewasa berjubah serba putih layaknya dokter ada yang yang memilih untuk menghabiskan waktu makan siang mereka diluar hospital, daripada memilih kantin rumah sakit yang variasi menunya standart dan itu-itu saja. Kantin Seoul National University Hospital terlihat cukup ramai, terlihat agak padat. Bukan hanya dokter dan staf rumah sakit saja yang memilih makan di kantin. Tapi, juga dari umum-seperti kerabat/keluarga pasien yang dirawat atau sedang berkunjung untuk berobat- dan bahkan beberapa pasien rawat inap pun ada yang sedang menikmati jam makan mereka sebelum minum obat di kantin rumah sakit, semuanya berbaur menjadi satu.

Tapi, tidak untuk seorang namja muda yang tengah terduduk dikursi panjang abu-abu diruang tunggu tepat diluar ruang operasi. Namja itu mengenakan pakaian serba biru muda layaknya dokter yang habis melakukan operasi. Shower cap hijau masih menutupi rambutnya, masker pun menutup rapi hidung dan mulut namja itu, sarung tangan karet bekas terselip disaku celana operasinya. Ia menyandar pasrah tubuhnya dengan dinding rumah sakit, ia menerawang langit-langit yang tak terlalu tinggi rumah sakit paling bonafit dan bergengsi di Seoul itu, bahkan diseluruuh Korea Selatan. Sesekali mata sabitnya dipejamkan, seolah ia merasakan lelah yang berkepanjangan.

Dia sendirian. Baru saja ia mengalami pergelutan hebat didalam ruang berpintu ganda berbahan alumunium dengan sebuah lampu hijau diatasnya. Saat ini ia sedang mengalami shock teraphy, shock yang sering dan akan dialami para calon dokter muda yang sedang koas –kerja praktek-. Sisa-sisa keringatnya masih nampak disekitar dahi, leher, dan pelipisnya. Ruang operasi itu sudah 15 menit yang lalu sepi, pasien sudah dipindahkan ke intalasi ICU untuk penyembuhan dan pengawasan lebih lanjut, para suster sudah berlalu keruang ganti, dan para tim dokter yang medapat tugas untuk mengoprasi sudah membubarkan diri untuk istirahat makan siang, dan sekarang disinilah namja itu sekarang, sendirian.

Makan siang? Sudah tidak terdengar menarik ditelinganya, bergelut 5 jam didalam sana dengan alat-alat operasi. Bertarung membedah, menyayat, mengunting, menjelajah, menelaah, menjahit, dan bahkan memisahkan setiap organ dalam, khususnya daerah perut. Sesaat nafsu makan namja itu langsung pupus, saat ia bisa melihat langsung darah segar keluar mengalir saat seorang tutor dokternya mulai menyayat-nyayat kulit dan daging, bahkan hingga lambung dan usus si pasien. Daging-daging manusia terpampang begitu jelas dihadapannya selama 5 jam. Dan hingga pada akhirnya sejenis tumor-benda yang selama 5 jam itu paling dicari- tujuan utama operasi hari ini dikeluarkan dari "penyiksaan kecil" itu sudah dikeluarkan, diangkat dan diletakkan diatas mangkuk almunium. Seperti melihat meat ball mentah yang msih merah lengkap dengan saus darah segar diatasnya, kira-kira berdiameter 3cm. bayangan diruang operasi itu masih menghantuinya dengan sangat jelas! Operasi pertama yang ia saksikan, tidak akan dia lupakan.

Hingga sebuah suara yeoja yang sangat familiar baginya menyapa pendengarannya. Suara yang tidak asing, tapi untuk beberapa bulan ini jarang ia dengar.

" Jinki-ah..~~," sapa yeoja itu lembut. " Jinkiiii~~ gwaenchana?," tanya halus. Perlahan namja yang disapa Jinki itu membuka kedua matanya perlahan, untuk mencoba memastikan sesuatu. Bahwa ia tidak salah dengar.

" Jinki~~!," panggil yeoja itu lagi mulai tidak sabar. Mata sabit Jinki membulat sempurna, ia terlonjak kaget dari duduknya saat melihat siapa yang ada dihadapannya sekarang ini, di siang bolong. Ia juga menurunkan masker yang sejak tadi membekap hidung dan mulutnya.

" OMOOOOOOOO!," teriaknya agak histeris. Tapi, segera Jinki merendahkan suaranya. Dahinya berkerut bingung dengan kehadiran Noona satu-satunya itu. Ya! Sungmin yeoja itu tengah tersenyum manis tanpa dosa tepat dihadapan Jinki, ia segera mendudukkan tubuhnya disebelah namsaengnya itu.

" Aigooo.. Noonaaa~~!," tegur Jinki yang tidak tahu harus mengatakan apa dulu.

" Igee!," tiba-tiba Sungmin menempelkan segelas caramel macchiato dingin ukuran besar tepat dipipi chubby Jinki, dengan cepat sensasi dingin menyergap wajahnya.

" Yak! Dingin~~," protes Jinki dengan tindakan tiba-tiba Sungmin. Ia segera mengambil minuman tersebut, yang ia sudah tahu pasti ditujukan padanya.

" Jadi… seperti ini rumah sakit tempat kau koas!? Seoul.. National.. University.. Hospital," Sungmin menatap kagum kesegala arah sudut area operasi.

Jinki masih speechless dengan kehadiran tidak terduga yang dilakukan Sungmin, ini di distrik Jongno-gu sedangkan dia berkerja didistrik Gangnam! Apa yang sedang dia lakukan disini?. Berbagai pertanyaan memenuhi otak pintarnya, hingga ia bingung harus bertanya darimana.

" Hei! Pasti kau sedang bingung, bertanya-tanya bagaimana bisa aku bisa sampai ada disini?," Sungmin menatap Jinki yang sedang berekpresi masih terkejut. Tawa renyah pecah dari bibir Sungmin, ia agak gemas dengan air muka Jinki.

" Kajja! Kau bisa mewawancaraiku, sambil kita makan siang!? Mmh..," Sungmin segera berdiri dari duduknya, sedangkan Jinki ia msih belum terlihat akan berdiri. Wajahnya masih menyiratkan shock, sisa-sisa 5 jam opersai itu. Sekarang gentian Sungmin yang mengernyit bingung dengan Jinki.

" Kau.. terlihat pucat Dubu!," selidik Sungmin memperhatikan wajah sang saeng. " Mwo~~.. jinjja? Aigoo.. ini pasti efek dari 5 jam aku berada diruang opersai tadi pagi," jelas Jinki agak salah tingkah.

" Minum Caramel Machiato itu! Itu.. bisa membuatmu kembali segar," titah Sungmin pada Jinki. Namja itu mengangguk kaku, ia langsung menurut dengan gerakkan perlahan ia menyesap minuman beraroma khas dengan lelehan gula yang menghasilkan rasa pahit dan manis secara bersamaan.

Sungmin tersenyum sekilas melihat Jinki yang langsung menurut. " Ahk! Gomawo Noona~~.. aku ganti baju dulu!," Jinki segera beranjak meninggalkan Sungmin terlebih dahulu menuju ruang ganti dokter.

" Dubuuu~~.. chakkaman! Aku ikut!," rewel Sungmin yang sedikit berlari kecil mengekori Jinki menuju ruang ganti dokter yang berada dilantai 2 rumah sakit. Keduanya memilih naik elevator ketimbang escalator.

Matahari bersinar cukup terik. Kedua kakak beradik itu tengah duduk disebuah bench kayu disalah satu taman buatan yang tidak terlalu luas, yang sengaja dibangun untuk umum diarea rumah sakit yang cukup luas ini. Keduanya masih teriam satu sama lain sejak 5 menit sejak mereka duduk disana, sekeranjang medium ayam goreng yang sudah Sungmin belidisekitar rumah sakit sebelum ia datang berkunjung, mulai agak mendingin, belumada yang mulai untuk menyentuhnya. Bahkan seorang Chicken maniak seperti Jinki, entah ada angin apa? Ia tidak antusias untuk menyambar daging ungags favoritnya itu. Biasanya dia kan sangat lahap tanpa basa-basi dan perlu minta izin lagi untuk memakannya.

Dari tadi ia hanya menyeruput caramel machiatonya yang kira-kira sudah habis setengahnya. Sesekali namja muda itu mencuri pandang pada sang Noona yang tengah menatap kosong air mancur kecil yang ada ditaman, tepat dihadapan mereka.

Seakan mengerti akan tatapan Jinki yang penuh rasa ingin tahu, Sungmin menjelaskan bagaimana bisa ada di Jongno-gu. " Aku bosan.. jam mengajarku sudah habis, aku ingin makan siang ditempat yang agak jauh dari Gangnam. Aku naik bus, lalu naik subway.. dan terdamparlah aku di Jongno-gu! Aku ingat kalau namsaengku sedang praktek koas disalah satu rumah sakit didistrik ini,".

" Voilaa..! disinilah aku sekarang, duduk dibench kayu rumah sakit bersamamu. Aku bertanya pada resepsionist di lobi rumah sakit, tentang para calon dokter yang sedang koas hari ini.. dia menunjukkan aku harus bertemu kepala perawat dulu, setelah bertemu dengan yeoja tua itu.. aku langsung menanyakanmu. That's it!," cerita Sungmin singkat.

" Kau tidak makan? Itu kesukaanmu," tegur Sungmin yang akhirnya buka suara juga. Ia tersenyum simpul pada Jinki yang tengah menatap bingung dirinya.

" Akh!," Jinki terlihat salah tingkah. " N-nde.. a-aku akan memakannya! Tenang saja Noona," gagap Jinki sambil tersenyum lebar hingga kedua mata sabitnya tinggal garis.

Sungmin mengangguk, " Kau harus memakannya! Karena aku sengaja membelikannya untukmu.. sebagai permintaan maafku, karena tidak bisa makan malam bersama.. semalam," ungkap Sungmin ada nada bersalah didalamnya.

" Ah.. Noona.. gwaenchana! Aku yang salah.. pulang tiba-tiba, aku tidak bisa membaca situasi dirumah. Terutama mood-mu," Jinki jadi ikut merasa bersalah. " Tiba-tiba aku merindukan rumah.. bumonim.. dan… Kau! Sungmin Noona," cicit Jinki yang masih tertangkap dengar oleh Sungmin. Reflek yeoja itu tersenyum tulus pada namsaengnya dan mengacak namja berjubah putih ciri khas dokter.

" Kau ini…! Kau tahu? Noonamu ini juga sangat merindukan kehadiranmu dirumah.. babo!," jujur Sungmin. Yeoja itu memasang wajah gemasnya yang menggemaskan.

" Gomawo.. sudah merindukanku," balas Jinki, namja itu meletakan cup caramel machiatonya disebelah keranjang ayam. " Cha! Cepat makan ayam-ayam ini.. nanti semakin dingin!," titah Sungmin.

Jinki langsung memasang wajah tidak yakin, jujur saja ayam-ayam goring dengan warna keemasan itu terlihat mengugah selera, apalgi ukuran potongannya yang cukup memuaskan. Jinki menelan salivanya, namja itu menatap sejenak ayam-ayam itu yang seakan berkata " Ayo, kajja! Makan kami!", lalu beralih menatap Sungmin.

" Aissh.. jinjja~~!," rutuk Jinki sebal. " Waeyo?," tanya Sungmin. " Noona… tanpa mengurangi rasa hormat dan sayangku padamu, aku.. akan menyimpannya dan memakannya nanti saja bila sudah diflat," izin Jinki memberikan alasan.

" Mwo? Hei.. waktu makan siang masih agak panjang, makan saja! Kau ini.. bukankah kau sangat addict dengan ayam? Tidak enak bila dibiarkan saja," Sungmin masih memaksakan.

" Aigoo.. Noona~~," rengek Jinki memasang wajah memelas. " Asal kau tahu.. nafsu makanku sudah hilang dari 5 setengah jam yang lalu!," aku Jinki.

Sungmin menatap bingung Jinki. " Kau kehilangan nafsu makan? Memang apa yang terjadi 5.. setengah jam yang lalu? Mmh..,".

" Dari jam 7 pagi tadi.. aku harus ikut melihat proses dari sebuah operasi pengangkatan tumor di usus," ceritanya singkat, tiba-tiba wajah Jinki kembali pucat, bayangan menjijikan itu kembali berputar. Sungmin memasang wajah tidak percayanya. " Jeongmal? Lalu?," tanyanya polos.

" Hampir saja aku memuntahkan kembali sarapanku! Itu sangat membuatku pusing.. mual dan merinding," kenang Jinki agak sebal.

" Apa semenjijikan itu? Hingga… kau kehilangan selera makanmu? Apalagi ini makanan favoritmu dari kau kecil," Sungmin menatap intens wajah Jinki yang kembali memucat. Namja itu mengangguk lemah.

" Ah.. ya,sudah! Terserah kau saja," Sungmin mengalah mengikuti keinginan Jinki.

" Noona~~," sapa Jinki pelan, tatapannya menerawang kedepan memperhatikan orang-orang yang tengah berlalu lalang di area taman.

" Mmh..," jawab Sungmin dengan dehaman, tatapan yeoja itu juga tidak jauh berbeda dari si saengnya. " Waeyo?," tanya Jinki dengan nada pelan.

" Pasti kau punya alasan lain datang kemari? Jujur saja," sambung Jinki, ia masih belum menatap lawan bicaranya itu. Sungmin menoleh sejenak pada Jinki, dan sebuah helaan nafas lelah terhembus darinya.

" Jinki kau memang selalu tahu," cicitnya. " Aku ini adikmu! Aku namsaengmu satu-satunya, kita lahir dari rahim yeoja yang sama.. jadi, kau tidak bisa berbohong atau menutupi sesuatu dariku! Kau pernah dengar? Darah itu lebih kental dari air,"tutur Jinki, ucapannya itu terdengar bijak ditelinga Sungmin. Sejenak yeoja itu tersenyum.

" Aku merindukan Heenim Ahjummah.. haah! Lama tidak mendengar kabarnya, kita malah mendapatkan kabar duka," Sungmin memulai bahan obrolan.

" Nde.. nado! Bogoshipda," balas Jinki, ia juga sangat merindukan dan menyayangi Ahjummahnya itu, walau mereka tidak terlalu dekat. Karena Jinki lebih dekat dengan Hanggeng Ahjusshi –suami dari Heenim-, Heenim Ahjummah lebih dekat dengan Sungmin.

" Keduanya pasangan yang keren!," sambung JInki memuji keduanya.

" Kau benar! Aku setuju.. satu bulan lagi tepat seratus hari wafatnya Heenim Ahjummah," Sungmin mengingatkaN, Jinki mengangguk membenarkan.

" Bumonim sudah tahu? Aku takut mereka lupa," jawab Jinki. " Sepertinya mereka sangat ingat, tidak mungkin mereka melupakan hari wafatnya sepupu tercinta mereka," bela Sungmin.

" Kendeu, aku masih bingung dan penasaran.. dengan Hanggeng Ahjusshi. Dia dimana?," Jinki menoleh pada Sungmin dengan raut wajah ingin tahu. Sungmin menggendikkan bahunya, tanda dia juga tidak tahu.

" I don't know.. entahlah itu misteri," balas Sungmin seadanya.

" Dia hilang. Kalau pun dia sudah meninggal lebih dulu dari Ahjummah, eodiga? Pusaranya? Aku tidak melihat tanda-tanda itu," Jinki kembali menyedot Caramel Machiatonya yang sudah tidak terlalu dingin.

Tidak ada respon dari Sungmin, keduanya kembali hening beberapa saat. Sibuk dengan pikirannya masing-masing mengenai nampyeon dari Ahummah mereka itu.

" Aku harus menanyakannya pada dia! Namja itu.. pengacara Zhoumi, pasti dia tahu," batin Sungmin sambil memicingkan mata foxynya.

" Onttoki!," Sungmin memanggil jinki dengan panggilan yang sudah melekat lama pada Jinki, panggilan " Onttoki " itu Sungmin yang menciptakannya sejak mereka kecil.

" Yak! Aishh.. Noona~~, jangan panggil aku dengan nama itu bila sedang di lingkungannku (read: rumah sakit, kampus, dan bila ada chigudeulnya)!," rengek Jinki sebal, dia sudah berulangkali memperingatkan Sungmin gara tidak mempermalukannya dengan panggilan konyol itu.

Sungmin hanya menganggap angina lalu pada protes Jinki, ia memutar matanya malas. " Ya.. ya.. ya..," ucapnya santai untuk menyenangkan saengnya.

" Aku ingin bertanya.. pernahkah kau berharap mendapatkan warisan?," celetuk Sungmin. Jinki menatap bingung pada Sungmin.

" Tentu saja!," balas Jinki tegas. " Aku selalu mengharapkan sebuah warisan, terutama dari Aboji. Asal warisannya itu bukan perusahaan miliknya itu, aku tidak mampu untuk mengelolanya," jujurnya.

" Aigoo.. ternyata kau orang yang tamak juga, ya?," Sungmin menatap horor Jinki tidak percaya.

" Aku ini juga manusia normal yang membutuhkan harta, uang! Kalau aku tamak aku tidak akan memilih menjadi dokter, aku akan menjadi penjilat pada Aboji dan menjadi anak baik-baik dengan kuliah dijurusan manajement business, sesuai keinginan orang tua itu," sungut Jinki terima dengan perkataan dan tatapan Noonanya itu.

" Nde.. nde! Baiklah aku percaya," Sungmin mengalah berdebat dengan Jinki. " Lalu, jika ada yang memberimu warisan.. akan kau apakan? Kau pergunakan untuk apa?," cecar Sungmin lagi.

Jinki langsung mmemasang wajah seriusnya. " Mmh.. tergantung jenis warisannya. Jika itu uang?! Aku akan menggunakannya untuk sekolah kedokteran lagi mengambil spesialis di Jerman..," ungkap Jinki tentang apa yang yang akan digunakan dengan warisan berupa uang.

" Jinjja.. dasar nerd! Diotakmu hanya belajar dan belajar.. kapan kau akan memikirkan sebuah hubungan dengan seorang yeoja, haah?," tegur Sungmin dengan nada agak mengejek.

" Kau sendiri Noona? Sudah berapa namja yang kau tolak dari blind date yang dibuat oleh Aboji untukmu, haah? Kau sendiri tidak punya stock," balas Jinki memutar ucapan Sungmin. Yeoja itu langsung tersenyum kecut.

" Lanjut!," Sungmin mengalihkan, menggiring Jinki kembali pada topic membicaraan, " Warisan ".

" Kalau berbentuk benda, seperti bangunan atau rumah.. aku ingin membangun klinik dan yayasan yang bergerak dalam hal kemanusiaan dan kesehatan.. klinik umum, ibu dan anak. Ottokhae? Sungguh mulia bukan tujuanku dengan warisan-warisan itu?," pujinya pada dirinya sendiri.

Sungmin menaikkan sebelah alisnya, ia sungguh ingin muntah mendengar rasa percaya diri Jinki. " Kau.. tidak sedikit pun ingin menggunakannya untuk hal pribadi? Seperti untuk bersenang-senang melakukan yang kau inginkan?," tanyanya heran.

" Itu hal-hal yang aku inginkan! Warisan itu harus kita pergunakan dengan sebaik mungkin, bermanfaat, dan kalau bisa berguna bagi orang-orang disekitar kita.. warisan itu seperti pesan, amanat yang harus dijaga dan dipergunakan untuk hal-hal baik dan penting. Bukan untuk disalah gunakan," Jinki berujar bijak.

" Jangankan warisan.. gaji yang kita miliki atau harta kita sendiri saja, harus diusahakan digunakan sebijak mungkin dan sebaik mungkin, jangan terlalu boros.. komsutif," sambungnya lagi.

Sungmin terdiam mendengar perkataan JInki, ia jadi tersadarkan oleh sesuatu yang sedang dia hadapi menerawang menatap langit Jongno-gu disiang hari yang cerah.

" Kau.. akan menerimanya?," tanya Sungmin lagi dengan nada pelan. Jinki menggangguk," Tentu aku akan langsung menerima warisan itu, tidak perlu berfikir dua kali.. kesempatan hanya datang sekali, dan itu pesan, harta, dan bahkan kenangan yang harus dijaga sampai generasi selanjutnya, agar tidak hilang dan rusak termakan masa. Aku menjaganya sekuat aku bisa dan mengunakannya sebijak mungkin," ujar Jinki mantap dan meyakinkan.

" Jinki-ah~~! Aku.. aku..," Sungmin terbata, ia ingin mengungkapkan sesuatu. Ia ingin jujur pada Jinki.

" Wae?," respon Jinki singkat. " Aku mendapatkan warisan!," aku Sungmin cepat dan singkat.

Belum terlihat respon dari JInki, wajah namjan itu masih datar. Sepertinya ia masih berusaha mencerna ucapan Sungmin.

Hana..

Dul..

Set..

" HAHAHAHA….!," tawa pecah dari mulut Jinki, namja itu tertawa sejadi-jadinya. Ia seperti mendengarkan lelucon yang sama sekali tidak lucu. Sungmin menatap sebal pada Jinki, lebih tepatnya pada tawanya, caranya Jinki tertawa terdengara sangat menyebalkan.

Jinki berusaha mengontrol tawanya agar tidak menyinggung Sungmin sang sudah menatapnya sebal. Tawanya pun semakin rendah, dan bahkan lama-kelamaan tawa lenyap darinya.

" Ehem!," deham Jinki setelah ia mengakhiri tawanya yang laknat itu. Ia menegakkan tubuhnya, ia menatap Sungmin ragu-ragu.

" Warisan?," tanya Jinki. Ekspresinya seakan berkata darimana kau bisa mendapatkan warisan? Dari siapa orang dermawan itu? Ah.. Aboji? Dia masih sehat-sehat saja.

" Bukan dari Aboji," balas Sungmin, menjawab batin Jinki. Jinki terkejut, mendengar Sungmin bisa membaca batinnya.

" Kau pasti sedang bercanda?," ucap Jinki kasih tidak percaya, ia memicingkan matanya menatap wajah Sungmin lekat-lekat.

Sungmin menggeleng," Memang aku sedang memasang wajah bercanda?,". " Untuk hal inilah aku datang menemuimu, aku butuh teman untuk membicarakannya,"Sungmin sabar.

" Nugu? Darimana? Aboji masih sangat sehat jasmani dan rohaninya, dia tidak mungkin secepat itu.. lagipula disisinya itu ada seorang malaikat tanpa sayap yang dalam urusan keuangan dia sangat perhitungan," sekelebat bayangan sang Aboji dan Teukki melintas dikepala Jinki, makanya ia berkata seperti itu.

" Eomma?! Maksudmu?," Sungmin menaikkan sebelah alisnya menatap Jinki, dia pun mengangguk setuju dengan ucapan Jinki.

" Dari Heenim Ahjummah!," ungkap Sungmin lagi tanpa panjang lebar. " Mwoo?!," JInki terlonjak kaget. Mata sabitnya melotot tidak percaya pada Sungmin.

" Jeongmal?!," tanyanya terperangah. Sungmin mengangguk pelan. " Gotjimal!," Jinki masih tidak percaya.

" Aigoo.. Jinki-ah! awalnya juga aku tidak percaya.. aku seakan dipermainkan. Kendeu, aku punya buktinya," Sungmin berusaha meyakinkan Jinki, ia menceritakan ini agar ia bisa mendapat solusi. Karena ini masih ada hubungannya dengan Ahjummah mereka.

" Bukti?," ulang JInki. " Nde.. bukti secara tertulis, surat warisan yang ditulis langsung oleh tangan Heenim Ahjummah yang telah di matrai dan ditanda tangani olehnya, disaksikan langsung oleh pengacara keluarga Hangkyung Ahjusshi sendiri," jelasnya sesingkat mungkin, agar Jinki bisa langsung mengerti.

Jinki, namja itu masih shock. Dalam sehari ini dia sudah dikejutkan oleh dua hal; pertama operasi 5 jam dan kedua pengakuan Noonanya yang mendapat warisan. Ia kembali menyedot caramel machiatonya hingga habis dalam sekali sedot. " Lalu," cicit Jinki yang tidak tahu harus mulai darimana pada pengakuan Noonanya itu.

" Surat itu dikirim melalui pos.. kemarin pagi sudah ada dimeja kerjaku, tidak lama dari itu, pengacaranya menghubungiku. Dan sialnya.. pengacara itu hanya memberiku waktu seminggu untuk berfikir mau di apakan warisan itu," kenang Sungmin pada kejadian kemarin.

" Warisan.. dalam bentuk apa?," tanya Jinki singkat.

" Rumah dan beberapa aset berupa saham di beberapa perusahaan multinasional dan multiinternasional terkemuka," ungkap Sungmin sesantai mungkin.

" Kau sudah mengaku pada siapa saja?," Jinki kembali bertanya.

" Eunhyuk dan Wookie.. hanya mereka," jawab Sungmin seadanya.

" Apakah Aboji dan Eomma sudah tahu mengenai hal ini?," keduanya saling bertatap muka. Sungmin menggeleng kaku," sepertinya belum.. aku belum menceritakannya pada mereka,".

" Maka dari itu aku disini menemuimu.. aku ingin merundingkannya denganmu," lanjut Sungmin fokus pada tujuan awalnya. " Apa yang harus aku lakukan? Aku merasa tidak layak dan pantas untuk menerima warisan itu.. aku ragu," aku Sungmin pada Jinki.

" Mereka tidak memiliki anak?," tanya Jinki agak melenceng. " Sepertinya tidak, maka dari itu mereka mewariskannya padaku," Sungmin terduduk lesu, ia mulai kelihatan gelisah.

" Terima! Tanda tangani surat itu, segera temui pengacara Ahjummah," Jinki meyakinkan Sungmin, ia berkata to the point.

Sungmin mengernyit bingung, dengan respon Jinki yang diluar perkiraannya. " Jangan bingung lagi, kau harus yakin.. aku percaya Heenim Ahjummah, punya alasan kuat menjadikanmu sebagai ahli warisnya," Jinki kembali mempertegas Sungmin.

" Ji-jinki..," cicit Sungmin. " Tenang saja.. aku hanya akan bersaing denganmu Noona, hanya untuk warisan Aboji saja! Aku tidak merasa iri dengan kebaikkan Heenim Ahjummah yang mempercayakan semua miliknya padamu.. mmh!," Jinki meyakinkan, seulas senyum tulus terkembang untuk sang Noona.

" Jinki.. bukan itu maksud Noona! Hanya saja.. ini tiba-tiba sekali, 1 bulan lagi adalah 100 harinya Ahjummah.. aigoo!, kenapa semua menyuruhku untuk menerima itu? Dan sekarang kau," Sungmin menatap memelas pada Jinki.

" Seandainya Ahjummah atau Ahjusshi memberikannya padaku.. dengan senang hati aku akan menerimanya, karena itu bagian dari diri mereka.. hidup mereka," Jinki kembali berujar sesuatu yang bijak.

" Kendeu..," Sungmin menggigit bibir bawahnya galau. " Mwoya? Sudahlah Noona.. tidak perlu ragu, kalau perlu kau lihat rumah itu. Aku bisa menemanimu," tawar Jinki.

" Me-melihat apa?," ulang Sungmin. " Melihat rumah warisan itu.. siapa tahu setelah kau melihatnya langsung, kau menjadi berubah pikiran dan yakin untuk menerimanya. Aku harap kau tidak mengecewakan mereka," Jinki tersenyum tulus.

" Dan jangan pernah kau coba-coba untuk melelangnya, Noona!," ancam Jinki memperingatkan. " Malah aku sudaha punya pikiran dan merencanakan itu," gumamnya pelan.

" Mwo?," tanya Jinki, seakan dia mendengar Noonanya itu berkata sesuatu. " Akh! Ani.. ani.. tidak ada," elak Sungmin tersenyum kaku pada Jinki, berharap namja itu tidak mendengarnya.

" Baiklah.. waktu makan siang akan segera berakhir, 15 menit lagi," Jinki bangun dari duduknya.

" Jinki-ah~~! Aku belum selesai?," rengek Sungmin sebal, karena waktu istirahat Jinki sudah akan berakhir. Sungmin memasang sebalnya, ia pun langsung berdiri mengikuti Jinki.

" Jadi.. aku harus bagaimana?," Sungmin malah balik bertanya. " Sudah kebilang! Terima warisan Ahjummah, jangan kau tolak! Apalagi untuk melelangnya!," Jinki kembali memperingati Noonanya itu.

Tanpa keduanya sadari dua orang namja tengah berjalan kearah kakak adik itu, keduanya menatap mereka (Sungmin dan JInki) dengan tatapan yang dalam dan misterius. Namja jangkung berambut merah wine, ia tersenyum aneh pada keduanya. Namja yang lebih pendek, hanya menggelengkan kepalanya tidak habis pikir, namja itu berpakaian sama dengan Jinki, white robe khas dokter.

" Ehem.. annyeong JInki-ssi!," sapa namja itu ramah, mengintrupsi perdebatan kecil antara Sungmin dan Jinki. Jinki dan Sungmin otomatis menoleh kepada sumber suara.

Namja itu langsung melengkungkan senyum manis andalannya pada Jinki dan Sungmin bergantian. Sungmin membalasnya dengan senyum kaku, wajahnya terlihat bertanya-tanya. Ia menyiku Jinki.

" Ah.. annyeong Lee Uisanim!," balas Jinki tidak kalah sopan, ia menundukkan tubuhnya 90 derajat pada namja tersebut. Yang ternyata salah satu dokter di rumah sakit itu.

Jinki menengok pada Sungmin yang tengah memandang ingin tahu. " Noona.. kenalkan dia Lee Donghae uisanim!," titahnya pada Sungmin, agar mereka saling berkenalan.

Sungmin mengangguk kaku pada Jinki dan lalu menatap Lee uisanim sejenak dari ujung kaki sampai unjung kepala, lalu sebuah senyum manis ia torehkan untuk namja itu. Namja yang bertubuh tidak terlalu tinggi, berambut hitam kecokelatan, berwajah innocent seperti bocah, dengan kacamata berbingkai hitam menghiasi wajahnya yang bisa dibilang cukup prince charming.

Tanpa ragu Donghae menyodorkan lengannya untuk mengajak Sungmin berjabat tangan, Sungmin menyambut lengan besar itu. " Lee Sungmin! Aku.. Noonanya Jinki," Sungmin mempeerkenalkan diri sesingkatnya.

" Oh.. bangapsemnida, Lee Aggashi! Choneun Donghae.. Lee Donghae imnida," berbanding terbalik, namja itu memperkenalkan dirinya dengan sopan.

Segera tautan tangan keduanya terlepas. Hingga keduanya saling bertatapan, mata keduanya. Sungmin terperangah tidak percaya, ia dapat melihat dengan jelas retina namja itu. Sama dengan warna mata anak-anak itu, yang ada dalam mimpinya semalam, cokelat keemasan.

Sungmin kambali kedalam kesadarannya, ia tercekat sempurna. Ia tidak berani menatap Donghae terlalu lama, ia terlihat salah tingkah. " Mmh.. aku dokter pembimbing Lee JInki. Dia anak yang pintar dan berani. Dia menemaniku dan timku pagi tadi, operasi pertamanya," sambung Donghae sambil tersenyum kecil.

" Ah.. nde, Jinki sudah bercerita.. hingga nafsu makannya hilang," jawab Sungmin sekenanya, sesekali ia hanya melirik saja pada Donghae. " Wah.. jeongmal? Aigoo.. gwaenchana, itu memang sering terjadi oleh para calon dokter yang sedang koas sepertimu,". " Anggap saja itu shock therapy untukmu, sebelum kau melakukannya sendiri," Donghae menepuk-nepuk bahu JInki. Jinki hanya manggut-manggut sambil terkekeh kecil.

" Oh.. Hyung! kau datang lagi? Membeli darah segar lagi?," tanya JInki pada seseorang yang tengah menjinjing cooler box biru, tapi bukan pada Donghae. Ia bertanya pada namja jangkung berambut merah dengan kacamata hitamnya yang agak mencolok, namja jangkung berkulit pucat.

Mendengar ucapan JInki, Sungmin langsung menegakkan tubuhnya. Mencoba melihat namja yang menjadi lawan bicara Jinki. " Nde.. sepertinya dia ingin menghabiskan stok darah kita (read: SNUH)," cibir Donghae sambil melirik namja jangkung itu dengan nada bercanda.

" Ingat yang "butuh makan" bukan hanya isterimu.. kendeu, para pasien kami juga membutuhkannya," sambung Donghae mengingatkan.

Namja itu terkekeh kecil pada Donghae dan JInki, " Nde.. Darah lagi darah lagi, sebenarnya aku sudah sangat jenuh! Kendeu, ottokhae? Kalau tidak.. isteri tidak akan sembuh, dia itu anti dengan rumah sakit. Disangat menghindari tempat ini," ujarnya dengan ekspresi dibuat agak sedih.

" Mmh.. semoga bisa segera mendapatkan pendonor ginjal yang tepat, ya untuk isterimu!?," harap Jinki merasa kasihan.

Namja jangkung itu mengangguk. Dapat Sungmin lihat namja itu sedang melihat kearahnya, dari balik kacamata hitamnya yang sepertinya bermerek mahal.

Sungmin hanya membalasnya dengan senyuman singkat. Tapi, namja itu malah membalasnya dengan senyuman misterius atau kalau tidak salah itu sebuah seringai. Tiba-tiba bulu kuduknya meremang, Sungmin segera memutus kontak matanya dengan namja itu. Dan lebih memilih sedikit memundurkan tubuhnya dibelakang Jinki untuk berlindung, tanpa Jinki sadari.

Namja itu pun yang mengerti dengan pergerakkan Sungmin segera mengalihkan lagi ke pada Donghae. " Baiklah.. aku harus mengantar Tuan Darah ini beserta makannya dengan selamat hingga lobby! Aku permisi dulu," izin Donghae mengakhiri perbincangan singkat mereka. Ia tersenyum ramah pada Jinki dan Sungmin. Keduanya mengangguk pada Donghae, " Senang bertemu dengan anda.. Lee Agashi! Semoga kita akan bertemu lagi," sambungnya agak misterius, Sungmin menbalasnya dengan kekehan yang terdengar kaku dan memaksa.

" Kajja.. Tuan Vampire! Isterimu membutuhkanmu dengan darah-darah segar itu segera!," perintah Donghae pada namja itu, dengan nada bercanda. Namja itu pun mengangguk pada Jiinki dan Sungmin, Jinki dan Sungmin meresponnya berbeda. JInki tersenyum ramah sedangkan Sungmin terilhat masa bodoh.

Kedua namja menawan itu melenggang pergi semakin menjauhi Jinki dan Sungmin yang masih menatap punggung-punggung tegap itu. " Nuguya!?," tanya Sungmin dengan nada ketus pada Jinki.

" Nugu?," tanya JInki polos. " Namja yang membeli darah-darah itu?," tanya Sungmin sambil menatap terus namja jangkung itu yang mulai tidak terlihat. " Dia? Teman dari Lee Uisanim. Darah-darah itu untuk isterinya yang terkena penyakit ginjal yang sudah sangat kronis, sang isteri tidak ingin operasi.. dia menolak cangkok ginjal ditambah.. dia benci rumah sakit, dia tidak pernah mau cuci darah dirumah sakit. Lebih memilih cuci darah dirumah, melakukannya sendiri dengan alat cuci darah yang mereka beli sendiri," jelas Jinki sesingkatnya.

" Alat cuci darah sendiri?," Sungmin membeo. " Tentunya dengan izin dan lisensi dari rumah sakit," jawab Jinki.

Sungmin hanya ber-oh-ria dan mengangguk-ngangguk. " Pasti ssangat mahal," gumamnya.

" Memang perkerjaan namja itu apa?," tanya Sungmin dengan mata berbinar ingin tahu.

" Mmh.. kalau tidak salah, dia mengaku padaku.. pengacara,". Kata pengacara mengingatkan Sungmin pada pengacara keluarga Heenim ahjummah; Zhoumi.

" Kau pernah bertemu isterinya?," kembali Sungmin mengajukan pertanyaan. Jinki menggeleng pelan.

Sungmin menatap tidak percaya pada JInki. " Aniyo.. aku bertemu namja itu tidak sering, yang tadi itu ketiga kalinya. Setiap dia kemari, dia selalu bersama Lee uisanim.. kami tidak banyak mengobrol, kalau pun aku tahu.. itu karena aku yang bertanya langsung pada Lee Uisanim. Namja itu hampir seminggu sekali datang kemari untuk membeli stock darah.. mmh! Siapa yang tidak akan bertanya-tanya?," Jinki langsung meraih keranjang ayamnya.

" Noona.. sudah tidak ada yang ingin diobrolkan lagi, kan?," tanya Jinki memecah keheningan. Sungmin segera tersadar dari lamunannya, ia mengerjap lucu pada JInki. " M-mwo?,".

" Ah.. ani! Kita lanjutkan obrolan masalah warisan ini nanti lagi. Mungkin saat kau pulang akhir pekan besok," ujar Sungmin pada JInki. Jinki tersenyum kaku, dia menggaruk tengkuknya tidak gatal.

" Mmhh.. begini, Noona! Akhir pekan ini aku tidak pulang.. aku akan pergi ke Nami island untuk melakukan kegiatan sosial dan penyuluhan kesehatan disekolah dan beberapa panti asuhan disana," aku Jinki. " Jadi, berikan salamku pada Eomma dan Aboji, nde..?!,".

Sungmin mengangguk mengerti, " Nde.. baiklah! Gomawo..," ucapnya pelan, ia tersenyum simpul pada JInki. " Untuk apa?," Jinki balik bertanya.

" Waktumu dan.. saranmu," jawab Sungmin simple. " Aigoo.. Noona, aku hanya ingin membantumu. Aku ini, kan namsaengmu.. sudah seharus kita itu saling mendukung.. mengingatkan.. dan menyemangati," elak Jinki sopan.

" Aah~~ terserah kau saja. Yang jelas, sudah sedikit lega mengakuinya.. akanku pastikan.. keputusanku tidak akan mengecewakan!," janji Sungmin secara tidak langsung pada Jinki. Jinki mengangguk setuju.

" Yakso! Kau jangan memberitahu pada eomma.. atau aboji! Biar aku yang mengatakannya!," peringat Sungmin. " Yakso!," janji Jinki.

" Cha! Aku pergi.. aku harus kembali ke Gangnam. Yak.. jangan lupa kau makan itu," tunjuk Sungmin pada sekeranjang ayam goring ia beli untuk Jinki. " Jangan lupa.. hangatkan lagi sampai flatmu!," perintah Sungmin posesif. JInki mengangguk sebagai jawaban iya.

" Pai.. pai! Kau tidak perlu mengantarku, aku tahu jalan keluarnya," canda Sungmin sambil melambai dan berjalan meninggalkan Jinki ditaman rumah sakit.

" Pai.. pai Noona! Hati-hati.. jangan sampai terlewat stasiun! Gomawo atas ayamnya! Sampaikan salam dan ciumku untuk Eommaaa~~," pesan JInki setengah berteriak pada Sungmin yang sudah mulai menjauh, dan itu suksese membuatnya menjadi pusat perhatian.

Sungmin berjalan gontai dengan penuh pemikiran, ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit, lalu naik lift hingga turun menuju lobi rumag sakit. Pikirannya masih menerawang mengenai dua namja tadi yang baru ia temui.

Lee Donghae dan namja jangkung pembeli darah-darah itu. Tapi, lebih tepatnya pada mata salah satunya; Lee Donghae, namja itu. Warna matanya tidak asing, seperti melihatnya pada seseorang. Sungmin tiba-tiba melihat telapak tangannya, " Dingin," lirihnya pelan. Ya! Sungmin dapat merasakan tengan namja itu terasa dingin dipermukaan kulit Sungmin saat mereka bersalaman, dia tidak salah merasakan. Dahi berkerut bingung, saat bayangan namja jangkung yang bersama Donghae itu menyapa otaknya.

" Dan dia.. aneh," lirihnya lagi. " Mereka berdua memiliki aura yang dingin, kelam, dan berbahaya.. siapa? Nuguya?," tanyanya lirih pada dirinya sendiri. Ia segera tersadar dari pemikirannya saat pintu lift terbuka, dia langsung melangkah keluar menuju lobi. Ia buang sejenak pemikirannya itu.

Dan tanpa sadar dari dalam mobil Porche mewah silver berkaca hitam pekat, dari balik stir kemudi sepasang mata tajam tengah mengawasinya. Mengawasi Sungmin yang baru keluar dari rumah sakit dan langsung menyetop taxi.

Sebuah smirk kembali tercetak. " Mau sampai kapan Zhoumi-ah?," tegur seorang namja lain yang duduk disebelahnya.

Ia menoleh pada namja berjubah putih dengan name tag didadanya dr. Lee Donghae. " Tenanglah Aiden.. aku masih butuh waktu, yeoja itu cukup keras kepala juga! Aigoo.. dia sama saja dengan Kyuhyun," rutuknya.

" Kasihan anak-anak itu.. mereka harus segera memiliki Tuan yang baru. Dan Kris.. dia butuh orang dewasa untuk mengontrolnya," timpal namja yang disapa Aiden itu.

" Kyuhyun.. dimana setan itu? Jinjja.. aku tidak bisa terus-terusan datang kemari dan membeli kantung-kantung darah ini, mereka harus bisa mencari makan sendiri!," Zhoumi melepas kacamata hitamnya yang sedari tadi menutupi matanya.

" Aku bisa lepas kendali.. aroma-aroma manusia itu sangat mengundangku, Aiden.. aku salut kau bisa mengontrol rasa haus dan memburumu itu," sambungnya.

Donghae atau namja bernama Aiden itu hanya tersenyum, " Aku sudah terbiasa.. aku melatih mengontrol hasratku bersama Bummie dan yang lain. Memang Mochi itu tidak mengajarimu, haah.. dia bisa mengontrol dengan sangat baik,". Zhoumi menggeleng, " Aku selalu gagal.. maka dari itu aku selalu "makan" dulu sebelum terjun langsung ketengah-tengah manusia," ungkapnya.

" Kau akan langsung memberi makan anak-anak itu?," Donghae kembali bertanya. Zhoumi mengangguk," Nde.. seharusnya tadi malam aku memberi makan mereka.. aku sudah janji dengan anak-anak itu, kendeu.. tiba-tiba aku punya pekerjaan yang tidak bisa ditunda, dan yang ada itu kan menyiksamu.. lebih dari kehausanmu dari darah," cerita Zhoumi, dan reflek namja itu melirik daerah tubuh bawahnya. Dan tanpa sengaja Donghae mengikuti tatapan Zhoumi.

" Ck! Aissh…. Dasar pervet! Yadong kau Zhoumi!," rutuk Donghae berdecak sebal, ia menatap tidak percaya pada namja jangkung disebelahnya ini, yang ternyata mesum juga. Dipikir hanya Kyuhyun dan Changmin saja yang berotak agak mesum.

" Yak.. jangan menatapku seperti itu! Kau pun akan merasakannya kelak.. jika kau sudah menemukan yeoja vampire idamanmu! Kau tahukan yeoja itu tenaganya kuat sekali, stamina mereka luar biasa," timpal Zhoumi enteng tanpa dosa. Donghae menggeleng-geleng tidak habis pikir. " Kasihan mochi.. yeoja vampire yang malang mendapatkan suami vampire pervet seperti dia ini," batin Donghae, pada sepupunya itu.

" Ya.. tidakkah diantara klan kalian yang mau menerima anak-anak itu, melatih mereka?," tanya Zhoumi mengalihkan pembicaraan. Donghae menggeleng pasrah. " Kau lupa? mereka vampire yang dibuang.. mereka hanya vampire sampah, sudah tidak ada yang mau menerima, menampung, dan apa lagi menganggap mereka," jujur Donghae dengan agak berat hati.

" Malangnya.. memang, kesalahan apa yang anak-anak itu perbuat, haah? Mereka hanya korban Aiden," bela Zhoumi yang berusaha bersikap netral. " Mereka tidak tahu apa-apa.. terutama Kris, dia.. dia lahir.. disituasi sulit yang tidak bisa diterima oleh bangsa kita. Tidak cukupkah dengan terbunuhnya Hangkyung Gege dan Heenim Noona?," sambungnya dengan nada memelas pada Donghae.

" Anak-anak itu labil.. mereka butuh pengawasan, aku tidak bisa berada dengan mereka setiap hari," Zhoumi mengiba, Donghae tidak berani membalas tatapan namja itu, dia masih diam.

" Hanya Kyuhyun yang bisa melatih dan mendisiplinkan anak-anak itu," sambung Donghae menatap cemas pada Zhoumi. " Tapi.. sekarang dia hilang, sejak pertemuan itu. Pertemuan akbar yang membahas status Kris," lirih Zhoumi agak frustasi.

" Kisah anak-anak itu berbeda.. Jongdae.. dia kehilangan kedua orang tuanya akibat para pemburu vampire gila itu di Transylvania. Sehun.. putera dari mantan ketua klan kita, dia tewas saat perang dunia 1. Sebelum pada akhirnya Hangkyung Gege yang menggantikannya.. dan berujung dengan Yesung Hyung menjadi ketua, ada Chanyeol.. manusia yang terkena gigitan Kyuhyun, si setan itu malah merubahnya menjadi abadi. Menghancurkan kehidupan normalnya sebagai manusia. Lalu..," Zhoumi menggantung kalimatnya, ia sedikit mencuri pandang pada Donghae.

" Apa.. Bummie tidak merindukan namsaengnya? Suho?," sambung Zhoumi yang berkahir dengan sebuah pertanyaan.

" Jeongmal! Bummie.. dia selalu memikirkan bocah itu, Yesung Hyung benar-benar tidak memberikan kesempatan pada Suho.. dia membuang dan mencabut gelar bangsawannya," Donghae manatap lurus kedepan.

" Haah.. dia menjadi leader dan guardian bagi vampire-vampire muda itu Aiden. Dia menjadi sangat dewasa," ungkap Zhoumi. " Suho.. dia sangat merindukan Noona dan Hyungnya itu. Tidak bisakah Bummie menjenguk Suho? Aku yakin dia akan sangat senang," saran Zhoumi.

Donghae menoleh pada Zhoumi yang tengah menatapnya penuh harap. " Mwo?! Aku bertemu dan membantumu memberikan darah saja sebenarnya sudah melanggar perjanjian.. aku melakukannya secara sembunyi-sembunyi dari ketua dan yang lain, hanya Bummie yang mengetahuinya! Maka dari itu tugas Bummie saat ini sangat sulit, dia harus bisa agak menjauhkan Sulli dan Zelo dari Yesung Hyung agar.. dia tidak bisa melakukan vision dengan kedua anak itu," cecar Donghae.

" Haaaaaaahhh~~," Zhoumi mendesah malas. " Waeyo? Aku jadi ikut terasingkan seperti ini? Aigooo…," rutuknya tidak percaya.

" Karena kau membantu Kyuhyun dan berpihak pada pasangan itu," jelas Donghae menatap prihatin pada Zhoumi.

" Memang salah.. dengan apa yang dipilih oleh Hangkyung Gege?," Zhoumi balik bertanya dengan ekspresi serius. " Kau ini seperti baru menjadi vampire saja! Tentu saja.. apalagi..," Donghae menghentikan perkataanya.

" Hingga manusia itu hamil," sambung Donghae pelan. " Aigoo.. ck! Memikirkan masalah ini membuatku gila!," racau Zhoumi. " Kalian terlalu menghormat pada Grandmaster, sudah saatnya untuk klanmu itu mandiri.. dan membuat hukum sendiri!?," saran Zhoumi.

" Sampaikan itu langsung pada Yesung Hyung! Sudah.. waktu istirahatku sudah habis, aku harus kembali bekerja. Salam untuk Mochi.. dan anak-anak itu," Donghae langsung keluar dari mobil Zhoumi.

" Katakan itu langsung pada anak-anak itu, Aiden!," balas Zhoumi membalikkan perkataan Donghae padanya tadi. Donghae terus berjalan, ia tidak menoleh dia hanya mengangkat tangannya, melambai santai.

" Haah~~," Zhoumi mendesah. Ia menatap punggung Donghae semakin jauh dari mobilnya. " Kyu… kau dimana? Kau akan segera mendapat majikan baru.. kasihan anak-anak itu membutuhkanmu," lirihnya memakai kembali kacamata hitamnya dan menyalakan mesin mobilnya melaju meninggalkan parkiran rumah sakit, tepat saat Donghae benar-benar sudah masuk kedalam lobi.

To Be Countinue

How?

Kependekkan?

Ada masukan?

Saran?

Kritik?

Kentang atau Talas? hehehe sedikit plesetan ^^

Reviews, ye.. seperti biasa! ^^

Say Thanks dulu, ah~~:

dewi. : Iya! semoga terhibur dan moga-moga gak ngebosenin. Kalau ceritanya mulai gak sreg/ngebosenin bilang aja! ora opo opo... ;)

TifyTiffanyLee : Makasih pujiannya.. Hehehehe :)