Disclaimer: I don't own anything except this storyline.

A/N: Wow! Sy membuat semua makin murka ma Athrun *tawalaknatinnocent* (dampak GSD:HDR, crete's scene) lol XD~ (Athrunkuh maafkan saya *sembahsujudsungkem*plak*) but I'm still AsuCaga's hardcore fans forever!

Masih Athrun's POV :p mungkin para reader akan cukup terkejut dengan chappie ini *gulp*

Hampir semua charas di sini OOC! XP~

Warning: Idem.

Enjoy then~

-oOoxnelxoOo-

A beginning is only the start of a journey to another beginning

-unknown-

-oOoxnelxoOo-

.

.

.

Taken by You

.

Chapter 5

.

.

.

-oOoxnelxoOo-

"Impressive..." Ujarku datar, kedua alisku terangkat. Susah payah aku menahan seringai licikku. Wanita dihadapanku ini sungguh tangguh. Pantang menyerah. Berani. Penyuka tantangan. Begitu mandiri.

Luar biasa...

"Tapi..." Kutatap mata cokelat madunya yang tak tersirat keraguan sama sekali itu lekat-lekat. "Kau gagal nona."

'Sayang sekali...'

Ia masih belum menunjukkan reaksi yang berlebihan. Ia juga tak membantah perkataanku. Apa ia menyerah? Atau mencari waktu yang tepat untuk berbicara?

Bagaimana pun juga ia harus menjelaskan ini, aku sudah terlalu lelah seharian ini. Aku butuh istirahat dan ketenangan. Dan... Terlalu lama bersama wanita ini jelas bukan pilihan yang tepat.

Kuletakkan pena pemberian ibuku pada acara natal dua tahun lalu, kututup laptop dihadapanku. Fokusku saat ini hanya pada si blonde dihadapanku.

"Ms. Athha jelaskan apa yang membuatmu gagal pada tugas yang kuberikan padamu? Mungkin aku bisa memberimu kesempatan. Tentu saja itu... Tergantung pada... Penjelasanmu!" Seringaiku muncul tapi ini bukan seringai untuk menggodanya. Ini lebih sering kugunakan untuk melawan pesaing bisnis kami. Antara aku dan wanita didepanku ini, murni hubungan profesional. Semata hanya pekerjaan.

Jujur... Seperti ada yang aneh dengan perasaanku ini. Aku merasa senang... Itu jelas tapi juga merasa... Kecewa... Ada pula perasaan yang terasa asing... Entahlah -seperti sedih... Aku sendiri tidak yakin.

Kuhirup singkat udara disekitarku, berharap mendapatkan sedikit kejernihan pikiran. Kukesampingkan dulu perasaan yang...penting ini.

Hening...

Begitulah yang kudapat darinya. Masih belum ada jawaban yang pasti darinya. Aku masih sabar menunggunya, sampai...

"Ms. Ath -"

"Beri saya kesempatan lagi. Kumohon GM Zala.

Saya akan mencoba bicara lagi dengan Manajer Joule dan Presdir Zala. Jadi -"

"Ms. Athha kutegaskan padamu. Aku orang yang tegas dalam mengambil keputusan bila itu menyangkut pekerjaan -"

"Athrun..."

"Manajer Zala untukmu nona." Aku mengingatkannya tegas. Sebesar apapun aku menyukai bagaimana ia memanggil namaku tapi bukan di saat seperti ini.

"M-maaf..." Ucapannya terdengar benar-benar tulus. "Saya mohon beri saya kesempatan satu kesempatan lagi." Ia memohon padaku lagi. Benar-benar pantang menyerah sekretaris favoritku ini.

Ia berhasil membuatku berpikir lagi. Ia berhasil membuatku bimbang. Ia berhasil menggoyahkan pendirianku. Mungkin...

Mata indah itu memandangku penuh harap. Ia mulai terlihat khawatir dan gugup. Sepertinya ia akan mengatakan sesuatu.

"Saya..." Ia menggigit bibir bawahnya yang sedikit bergetar. Damn! Lakukan lagi, aku tak sungkan untuk melumatnya lagi. "Saya... Akan melakukan bahkan bila Anda menginginkan saya untuk... Umm... Untuk..."

Untuk?

Untuk apa?

'Untuk tidur denganku?'

Aku hampir meneriakkan kata-kata itu tepat di depan wajahnya.

"Untuk apa?" Sebenarnya aku sangat excited mendengar jawaban itu tapi aku mencoba berekspresi sedatar mungkin. Aku menahan kuat agar senyumanku tak muncul. Matanya mulai melihat ke mana-mana kecuali padaku. Bahasa tubuhnya juga mulai aneh. Kepalaku sedikit miring dan satu alisku terangkat, "Ms. Athha? Untuk apa? Apakah... Untuk tidur denganku?"

Raut wajahnya berubah menjadi pucat sebelum memerah kembali. Ia terlihat... Kesal! Sangat kesal bahkan! "A-apa! T-tentu ti-tidak. Demi Haumea apa yang kau pikirkan!? Aku bukan wanita seperti itu. Kau... Kau... Argh!" Bukan jawaban yang ku inginkan tapi aku juga tak terlalu terkejut. "Apakah tidak ada hal lain dalam pikiranmu Zala!?"

'Banyak sekali... Mulai dari menyumpal mulutmu itu dengan bibirku sampai merebahkanmu tubuh mungilmu diranjangku.'

"Tentu saja ada Ms. Athha. Kau pikir hanya itu saja diotakku huh!?"

"Ya ya tentu saja..." Ucapnya seraya mengejekku. "Selain pikiranmu yang kotor, kau juga berpikir mesum."

Well-well... Kemana Cagalli yang memohon-mohon padaku tadi? Mulutnya kembali menajam.

"Lalu... Apa yang akan kau katakan tadi?" Sekarang aku penasaran.

Ia berdehem kecil, membersihkan suaranya lalu menghela napas berat. "Hhh... Aku akan mengatakan untuk... Untuk... Ber-berlutut dihadapanmu."

Pfft... Aku hampir tertawa terbahak-bahak. Oh Tuhan... Selain virgin, ia juga sangat innocent dalam hal ini. God, I want this girl... Jika kau mau berlutut, biarlah aku berdiri tepat dihadapanmu sayang... Dan kau akan tahu 'apa' yang tepat berada di wajah manismu itu. Kupastikan kau takkan menyesal...

"Berlutut?" Senyumku muncul dan melebar. "Kau pikir kita hidup di jaman apa? Kekaisaran?"

"Tidak lucu Zala." Ia cemberut. "Dengar... Aku serius... Aku sangat menginginkan pekerjaan ini... Akuilah, kau melihat sendiri hasil pekerjaanku? Selain permintaanmu tadi pagi, bahwa pekerjaanku cukup... Baik."

Siapa coba yang merasa angkuh sekarang? Cagalli berhasil membuatku menjadi 'serius' kembali. Kudengarkan 'pembelaannya' baik-baik. "Teruskan." Ujarku.

Ia meneruskan sebelum membasahi bibir bawahnya. Apa ia sengaja melakukannya? Untuk merayu dan menggodaku? Jika benar... Shit, ia berhasil. Lihat ke arah lain Zala. Lihat yang lain! "Pertama, beri aku kesempatan sekali lagi, aku sangat membutuhkan pekerjaan ini. Kedua, aku akan berlutut di sini sekarang juga bila kau mau, tapi..." Ia berhenti sejenak dan melanjutkan, "Bila kau masih memperlakukan aku seperti... Seperti... Itu... Maksudku wa-wanita mura-murahan, kau benar... Lebih baik kau memecatku saja." Suaranya hampir tak terdengar saat mengucapkan bagian akhirnya.

Tsk! Makin merepotkan saja!

Pekerjaannya memang baik. Tapi kami berdua sangat bertentangan. Dia juga menolak untuk tidur denganku -baiklah Zala! Hilangkan bagian itu! Very unfair and unprofessional!

Sigh...

Kuakui aku sangat membutuhkan sekretaris seperti Cagalli. Cerdas, pekerja keras, pantang menyerah, mandiri, keras kepala (ini merepotkanku), cantik, polos, perawan, tak terjamah, manis, seksi... Yeah yeah, maafkan otakku tapi itu sudah menjadi satu paket, mau bagaimana lagi? Permintaanku itu juga tak 'serius' hanya untuk mengujinya saja bukan!?

Sebesar keinginanku berada di atas tubuhnya tak dapat mengalahkan keinginanku mencapai posisi tertinggi di perusahaan ini dengan tanganku sendiri. Dan Cagalli bisa membantuku. Baiklah pikiran penuh logikaku menang atas hormonku saat ini.

"Baiklah Ms. Athha... Ku beri kau kesempatan." Wajahnya berubah cerah. Aku berdiri menghampirinya. Dejavu? Nah! Kali ini aku menjadi anak baik-baik dengan menjaga jarakku darinya. Kulihat ia agak... Canggung dan terkejut. Cagalli seperti bersiap-siap memukulku wajah tampan dan berhargaku, jika aku mencoba menciumnya lagi. Diam-diam aku menelan ludah di balik senyum dan sikap tenangku. 'Oke, note taken! Jangan mencoba bercanda dengan singa liar saat membicarakan masalah yang sangat serius!' Kuulurkan tanganku. Ia menangkap maksudku walau aku yakin masih ada kecurigaan melingkupinya. Benar! Ia terlihat ragu-ragu meraih tanganku. "Tenang... Aku takkan menggigit. Sumpah... Kali ini aku serius. Percayalah..." Oke, darimana tiba-tiba datangnya kata "percaya" itu?

Percaya? Percaya? Terakhir kali aku memberi kepercayaan pada seseorang, berakhir... Tak baik. Terakhir kali seseorang memberikan kepercayaannya padaku, aku... Aku... Ah lupakan!

Kontras dengan Cagalli, kini ia menggengam tanganku mantap. "Terima kasih GM. Zala. Saya percaya. Anda juga harus percaya pada saya bahwa saya... Tidak akan mengecewakannya." Senyum tulus dan manis muncul di wajahnya.

'Percaya? Kucoba sayang...' Kutahan emosiku agar tak menariknya dan menguburnya dalam pelukanku. Na-ah! Bad moves Zala. Jangan lakukan...

"Kau tahu aku butuh bukti bukan janji." Balasku.

Ia mengangguk cepat. "Tentu. Kalau kau ingin, kau tinggal... memecatku bukan? Hanya saja aku ingin itu adil!" Masih dengan senyumnya yang lebar.

Pecat? Ya tentu saja... Kusipitkan mataku. Tinggal pecat! Justice? Tentu! Aku manusia teradil di dunia! Kau berikan aku satu ciuman, kuberikan kau seluruh tubuhku, kau menampar wajahku, kuremukkan semua tulang-belulangmu! Bagaimana, adil bukan?

Kuberikan senyum paling menawan milikku. "Baiklah... Kita mulai dari awal. Aku Athrun Zala. General Manager perusahaan ini. Selamat bergabung dengan perusahaan kami, Nona Cagalli Yula Athha." Wow! Bagaimana bisa tiba-tiba sikapku menjadi seperti ini. Apa wanita ini membiusku? Menghinoptisku? Tiba-tiba aku menjadi seorang... 'Saint Zala' dan aku... Lebih suka seperti itu.

Aneh...

Lebih dari aneh...

Mudah-mudahan Cagalli tak melihatku seperti alien turun dari luar angkasa dan terjebak di planet Bumi. Gosh... Sangat memalukan!

Saat melihat senyum Cagalli, semuanya terlupakan. Anyway, that's worth it. "Kau tahu... Kau sangat moody Zala, maaf maksudku GM. Zala." She's have a beautifull smile. "Baiklah kita mulai dari awal. Nama saya Cagalli Yula Athha. Saya adalah sekretaris dan asisten pribadi Anda."

"Good..." Kepalaku mengangguk lemah, sangat perlahan-lahan. "Kalau begitu kita... Teman?"

Teman? Aku tak percaya ini keluar dari mulutku? Apa yang terjadi padaku!? Great... Sekarang Cagalli benar-benar melihatku seperti alien, wajahnya terkejut dan matanya membesar.

"Teman? Ehm... Aku tak tahu GM. Zala, maksudku... Setelah yang terjadi -"

"Babe... Ingat, dari awal! Kita mulai dari awal."

"Umm... Maaf. B-baiklah k-kita berteman. Mungkin..."

My Goddess dan kebaikannya... Tak ada yang lebih sempurna daripada itu. Sigh...

"Teman," Aku menyakinkan lagi. Kuremas lembut tangan mungilnya.

Ia membalasnya. Senyum manis kembali terukir di wajahnya. Kalau aku tak dapat menahan hawa nafsuku, sudah kuserang ia dan karena ia sekarang seorang teman. "Teman. Tapi tetap kau harus lebih berusaha lagi Zala." Kudengar ia membalas permintaanku.

Then... Now, dia officially soon-to-be teman dan sekretarisku. Ya... Ini lebih baik. Aku membutuhkannya demi kenyamanan bekerjaku.

Hhh...

Mungkin benar kata sepupuku, aku harus berhenti bermain-main dengan para wanita. Mencari satu yang tepat. Menikah dan punya anak. Atau, fokus pada karierku saja.

Tapi...

Meh! Nanti saja! Aku tak mau tua tanpa hura-hura di masa muda. Persetan dengan nasehat sepupuku itu!

"Kalau begitu..." Tiba-tiba Cagalli bersuara kembali. Dan wajahnya sedikit merona. "Bisa aku membuat permintaan?"

Hmm... Agak mengejutkan. Belum benar-benar menjadi teman, ia sudah mempunyai permintaan. Tapi, tak ada salahnya mendengarkan. Ingat Zala, "lebih berusaha lagi". "Apa itu?" Ujarku.

"Hmm... Tolong berhentilah memanggilku babe atau baby..."

Huh!? Cuma itu!? Apa ia bercanda!? Itu 'kan cuma panggilan saja. Aku bahkan bisa memanggil nenek yang kubantu menyeberang jalan dengan panggilan itu. Hell... Kalau nenek itu memanggil balik aku dengan "babe", aku tak keberatan! Oh, come on Cagalli sayang...

"Oke."

Ia memiringkan kepalanya seolah tak percaya mendengar jawabanku. Cagalli berkedip berkali-kali memastikan agar ia tak salah dengar. "Bagus."

"Lalu, boleh aku memanggilmu yang lain?" Aku menyeringai.

"Mungkin."

Gadisku suka bermain-main juga rupanya. "Baiklah... Bagaimana kalau honey?"

"Itu juga tak boleh kecuali jika kau ingin aku sengat!"

'Sengat? Hmm-mmm... Boleh juga...' Oke, pikiran kotorku mulai ter-connect kembali. "Darling?"

"Tidak."

"Love?"

"Tidak!"

"Princess?"

"Hell No!"

"Adorable?"

"Huh!?"

"Cute?"

"Kau aneh Zala -"

"Neko?"

"Ap-apa! Berhentilah -"

"Apple?"

"..."

"Papaya?"

"Oh Haumea! -"

"My Pineapple?"

"Kau kira aku buah-buahan!"

'Pfft... Kau punya buah 'kan!?' Zala... Berhentilah berfikir mesum! "Maaf. Angel?"

"Kau ingin aku mati dan menjadi malaikat!?"

'God! No!' Mengapa ia punya pikiran seperti itu!? "Goddess?"

"Menarik tapi tidak!"

"Baiklah, sayang -"

"Itu juga tidak!"

"Hhh... So?"

"Cagalli."

"Perfect!" Ucapku setengah kubuat-buat. Tentu saja ia akan mengatakan itu. Aku hanya ingin menggoda dan bermain-main sedikit dengannya. "Kalau begitu panggil aku Athrun untuk lebih adilnya."

"Tapi... Kau bilang -"

"Hanya diantara kita. Kau mengerti maksudku 'kan?"

Ia mengangguk kecil. "Oke. A-Athrun, kalau begitu."

"Ya... Begitu." So fucking perfect! Sangat sempurna di lidahnya. Sangat sempurna di telingaku. Apalagi bila ia mengatakan dengan berteriak saat aku memuaskannya. Lupakan Athrun, it's pointless saat ini. Aku hampir memutar bola mataku karena pikiranku sendiri. Pathetic!

"Ehm... Satu lagi At-Athrun?"

"Hmm?"

"Bisa kau lepaskan tanganku, kurasa ini saatnya kita meninggalkan kantor, kecuali jika kau ingin aku lembur."

'Tentu saja! Aku ingin kau lembur diranjangku! Dan tidak! Aku tak ingin melepaskan tanganmu!' Ingin rasanya membisikkan itu ditelinganya. Kulepaskan perlahan dan ragu. "Cukup hari ini Ca-ga-lli, pulanglah."

"Terima Kasih. Selamat sore... MoodyAthrun..."

Aku tertawa kecil. "Mimpi indah untukmu... Cagalli."

Dan... Ia pun pergi. Lalu... Beginilah kehidupanku kedepannya dengan sekretaris baruku. Hanya kerja. No sex. Hanya kerja. No kiss. Hanya kerja. No touch. Hanya kerja. Hanya kerja. Hanya kerja. Kuulang terus dalam pikiranku. Hanya kerja!

Kalau ayah, ibu dan para tetua Zala mendengar ini, mereka pasti akan berteriak "God bless you, my son!" Dan mungkin aku akan langsung dinikahkan keesokkan harinya. Membayangkan saja membuatku merinding.

Apa aku harus menghubunginya lagi? Tidak... Aku tak boleh terlalu tergantung padanya. Kurasa sedikit vodka dan tequilla tak ada salahnya malam ini.

-oOoxnelxoOo-

Oh tidak... Aku masih merasakan dampak minuman tadi. Walau sudah ku siram diriku dengan air dingin, kepalaku masih terasa pusing. Salahku sendiri minum cukup banyak!

Mungkin satu butir aspirin akan menghilangkannya. Kuselipkan celana boxer-ku, duduk di tepi ranjang dekat meja nightstand-ku. Kuminum aspirin dan segelas air mineral yang selalu disiapkan Manna -entah aku butuh atau tidak. Kuambil smartphone-ku sambil merebahkan tubuhku pada tumpukan bantal di belakang punggung dan kepalaku.

'Thanks God it's heaven!'

Ini yang kubutuhkan setelah seharian memikirkan pekerjaan dan si pirang keras kepala itu. Kuhidupkan ponselku kembali -aku lupa mengisi baterainya semenjak selesai istirahat makan siang tadi dan... Holyshit! Bukan karena banyaknya text dan voice mail melainkan karena ada pesan dari ibuku! Setengah dari text yang masuk adalah darinya dan Ayah!

Fuck!

Lebih baik kubaca dulu, yang lain... Nanti saja.

Ibu: Sayang... Weekend ini kita makan siang bersama.

'Oh... Hebaaat...'

Ibu: Athrun sayang, kenapa kau tak membalas pesan Ibu. Ayahmu sudah setuju, jadi kau harus ikut besok. Ibu tidak terima jawaban tidak.

'Horibble weekend...' Bukan karena aku tak sayang Ibuku. Ia segalanya bagiku. Hanya saja...

Ibu: Athrun... Apa kau baik-baik saja? Apa kau sakit? Kenapa belum menjawab pesan Ibu?

'Itu karena ponselku mati, mom!' Tentu saja ia tak tahu idiot!

Ibu: Athrun Zala! Segera balas pesan ibu! Ayah bilang kau di kantor tapi saat ibu menghubungi kantor, katanya kau sedang tak ada di ruangan!

'Oops! She's mad! I'll be a dead meat this weekend! Maaf mom, aku di kantor tapi tak ingin di ganggu!'

Masih ada beberapa pesan dari Ibu, tapi aku tahu apa yang dia katakan so... Aku skip saja!

Biar besok aku hubungi Ibu lewat kantor. Kulanjutkan melihat pesan yang lain.

Ayah? Kenapa aku tak kaget!? Ada ibu pasti ada ayah! Nice... Very nice... Of course, aku mengatakan dengan tidak sungguh-sungguh.

Ayah: ATHRUN ZALA! Angkat ponselmu! Ibumu sangat khawatir! Kau tak ada diruanganmu!? Jangan berbohong Athrun! Sekretarismu bersikeras ingin aku mengosongkan jadwal padat ayah hari ini untukmu, jadi angkat ponselmu atau telingaku habis terbakar karena omelan ibumu! Kupastikan besok kau akan mengalami hal yang sama! Dan aku sangat sibuk! Banyak klien hari ini! Besok saja kita bertemu!

'Maaf ayah...' Aku hanya bisa nyengir. 'Hmm... Ternyata Cagalli benar-benar menghubungi ayah.' Membayangkan pembicaraan ayah dan ibu membuatku begidik. Omelan ibu sama dengan nightmare!

Next...

Yzak: Fuck Zaaaalllla! Aku sibuk! Berapa kali kukatakan, jangan membuat janji secara mendadak! Aku tak peduli bahkan jika kau pemilik perusahaan ini! Kalau aku mendengar telepon diruanganku berbunyi lagi, meskipun itu bukan dirimu -sumpah demi calon anakku, kupisahkan kepalamu dari tubuhmu! Kupotong kemaluanmu dan kugantung di depan kantor! Dan aku bersungguh-sungguh!

'Hey, itu tak adil! Dasar kakek tua pemarah! Bahkan ia menulisnya dengan huruf tebal semua! Mengerikan!' Untunglah hanya ada satu pesan text dan voice darinya. Aku tak mau mendengar pesan suara darinya. Aku masih menyanyangi telinga, kepala, leher dan... Kulirik boxer-ku singkat. Aku sampai menelan ludah gara-gara pesan mengerikan Yzak! 'Tapi... My Goddess... Ia... Pantang menyerah, sangat gigih, sangat berani. Aku tak bisa membayangkan apa saja umpatan yang dikatakan padanya. Aku sungguh beruntung mempunyai sekretaris seperti dia.' Tak kusadari senyumku mengembang saat memikirkannya.

Siapa lagi?

Dearka: Dude, kau kejam sekali. Kau pergi ke club tanpaku!? Itu namanya penyiksaan dan penghinaan! Kau tidak setia kawan, dude! Seharusnya kau mengajakku dan aku tak berakhir lembur di meja kerjaku! Sial kau Yzak dan moodswing istri hamil! Kau juga Zala, I hate you. Weekend ini aku tak akan mengajakmu ke party kenalan baruku. Damn Zala, she's fucking hot supermodel buddy! And I don't want to share to you! Jangan membalas pesan ini kecuali kau mentraktirku minum dan meminjamkan penthouse mewahmu for the next party.

'Fuck! Kau berakting seperti bimbo saja!? Groooss! Aku tak peduli kau tidur dengan supermodel atau superman! Just knocked yourself out! And damn no! Aku tak akan meminjamkannya kau boleh marah padaku selamanya! Terakhir kali kupinjamkan berakhir disaster!' Kira-kira itulah balasan textmail-ku padanya. Dearka dan sifat 'lebay'nya! Huft... Masih ada beberapa lagi darinya tapi kuhiraukan saja dan... Sedetik aku membeku. Sangat tak kukira, akhirnya ia menghubungiku.

Lacus Clyne!

Berapa lama? Cukup lama aku tak mendengar kabarnya...

Lacus: Athrun, ibumu mengundangku makan siang weekend ini. Apakah kau tak keberatan?

Pesan ini kuterima lima belas menit yang lalu. Wow, baru saja. Bila kubalas mungkin ia belum tertidur. senang mendengar ia masih berhubungan dengan ibu.

'Kau keluarga Lacus. I'm fine really dan aku harap kau juga? Kau ada di mana?' Kutekan tombol kirim. Beberapa detik kemudian ponselku bergetar. Ia membalasnya.

Lacus: Terima kasih Athrun. Aku baik. Aku masih berada di Orb. Aku akan datang, kuharap kau juga.

'Orb? Pantas, di sana masih siang hari.' Sigh... Ini takkan mudah. Kuketik, 'Aku akan menjemputmu.'

Lacus: Tak perlu repot Athrun. Tolong datang saja besok. Aku sangat merindukanmu, juga paman dan bibi. Aku harus pergi, maaf menganggu istirahatmu Athrun. Jagalah kesehatanmu selalu. Selamat malam Athrun.

Kuhela nafas berat. Kenapa aku merasa ia tak bahagia. Kuharap itu hanya firasat bodohku saja. 'Miss you too. Selamat malam Lacus. Kau juga. Salam untuk Paman Siegel.' Kupejamkan mataku sejenak. Kuhitung sampai sepuluh sebelum membukannya lagi.

Pesan terakhir dari... Eh!? Kira? Setelah Lacus, Kira!? Sungguh kebetulan. Bahkan melalui ponsel pun mereka berjodoh. God Bless me!

Masih samar aku teringat Lacus. Apa benar ia baik-baik saja? Tapi... Ah sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja!

Kira: Athrun, kawan baikku, temanku di Aprilius City akan mengadakan pesta weekend ini. Datanglah! Akan ku text alamatnya nanti. Oh ya, aku mengajak Dearka, Yzak dan Nicol juga. Kuharap kau datang. Many new hot chicks, fren! Kau takkan menyesal!

Sigh... Lagi-lagi harus kutolak. "Sebenarnya aku ingin tapi maaf aku tak bisa Kira. Weekend's lunch with my family dude and you knew my mom if I couldn't make it! Sorry... Atau kau ikut saja bersama kami! Ada di mana sekarang?" Aku berkata lirih sambil kuketik pesan untuknya. Yeah, ide yang bagus agar ibu tak menginterogasiku dan terus bertanya "siapa yang berkencan dengaku sekarang!?". 'Apa ini pesta yang sama seperti yang Dearka katakan? Hh... Tak mungkin 'kan? 'Pesta' seperti itu 'kan sangat banyak saat weekend! Well... Apa peduliku!'

Yang tak kusangka adalah ia segera membalas.

Kira: Hahaha... Tidak terima kasih. Cepat atau lambat kau harus menikah! Itu baik untukmu! Desember City, mendinginkan kepalaku!

Sial kau Kira Yamato! Kau tahu saja jalan pikiranku! Aku terkikik kecil. "Mengikuti jejakmu? No thanks. Tanyakan lagi kalau usiaku sudah tiga puluh tahun! Masih banyak ikan segar di luar yang harus dipancing! DC? Kau masih bertengkar dengan ayahmu!? Ia masih memaksamu ? Kau yakin tak mau ikut makan siang bersama kami?" Yup... Sent!

Aku bisa merasakan ia menghela nafas berat sebelum membalasku semenit kemudian.

Kira: LOL. Ya dan tidak. Masih seperti dulu dengan ayah dan tidak terima kasih, aku ingin berpesta saja! Setelah itu masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan.

"Oke..." Segera aku membalasnya. "Jam berapa di sana? Aku akan menelponmu?"

Kira: Sekitar jam tiga pagi. Dan jangan, aku sedang tak sendiri.

Mulutku membentuk 'o'. "Siapa? Istrimu?" Godaku.

Kira: Hahaha... Damn Zala kau memancingku, bukan!? Nice try btw!

'Bukan!?' Baiklah aku jadi sangat penasaran. "Kira, apakah kau benar-benar sudah menikah?"

Lama ia baru menjawab.

Kira: Aku tak bisa menjawab itu, maaf.

Oh great, aku membuat mood-nya menjadi buruk. 'Sorry... Kurasa aku akan tidur sekarang. Sebaiknya kau juga, mengingat kau lebih capek dengan kegiatan ekstramu dengan siapapun itu disampingmu... Kau yakin kau tak mau bertemu keluargaku, mereka pasti rindu padamu?'

Kira: None taken! Aku juga merindukan mereka. Akan kucoba mengosongkan jadwal next weekend. Salam untuk mereka. Aku juga merindukan mereka.

"Ya pasti. Kau tak merindukanku?"

Kira: Eww! Good night Athrun.

Aku kembali tertawa kecil. "Nite Kira." Oh damn! Hampir lupa. Pertanyaan ini selalu kuhindari, tapi rasa ingin tahuku melebihi segalanya. Kuketik pesanku yang terlewat padanya. "Aku lupa... Lacus akan ikut makan siang dengan keluargaku."

Sekitar lima menit aku menunggu balasannya.

Weird!?

Sepertinya ia sudah tertidur, tak berapa lama mataku juga terasa berat. Lebih baik aku tidur dan memimpikan bidadariku. Bidadariku yang susah untuk disentuh -yang hampir membuatku frustasi.


TBC


Pojok bacotan/curcol Nel: Setelah ini sy mencoba fokus pada fic sy yg lain terutama fic E! Huft... Jadi... Maaf klo updetnya bakal lama lagi... Maaf... m(_ _)m hutang fic bikin jerawat -..-" /abaikan curcol ini/

Special thanks to:

Ojou. Rizky,

NN: maaf ya membuat mimisan *pundung*, langsung sy donlot lagu itu! Akakak :v emang bener hotz!xD~ anyway makasih reviewsnya, mampir lagi ya XD~,

PopCaga,

RenCaggie,

Dewi Natalia,

Pandamwuchan/mybeibhmucumucu,

Ryukou/Horsychan: what do you mean about 'flying' thing? Anyway thanks for reviews, come again xD~,

Ichirukilover30,

Mr. Zala,

Lezala/cruelsizta,

*hug*

Thanks 4 supportnya guys! XD~

And Silent readers. (Klo ada)

Pliz ripiu~

Many Thanks,

Semangat!

Nel. ^o^)9