Fanfiction KaiHun
Cast : Kai, Sehun! GS
Genre : Romance, Drama, Comedy
Summary : Kai adalah artis terpopuler di Korea Selatan saat ini dan Sehun adalah fan-nya. Disuatu musim panas, Sehun mendapat lowongan magang di agensi dimana Kai bernaung. Sehun berusaha keras—dan mempertaruhkan rasa malunya—dalam waktu dua bulan untuk membuat Kai jatuh hati padanya.
Chapter Five
Kai merengut. Bisa-bisanya Sehun kini berakrab-akrab ria dengan cowok super tinggi yang terus tersenyum lebar menunjukkan giginya yang sempurna. Kai benar-benar bersemangat ketika mereka naik taksi untuk kembali lagi ke Hongdae—Sehun sengaja mengajak Kai untuk berpura-pura pulang ke apartemen agar pihak agensi tidak ada yang curiga. Selain itu Kai juga butuh sedikit penyamaran—tapi semangatnya langsung menghilang ketika Sehun didatangi oleh sosok familiar yang pernah ia lihat beberapa hari yang lalu.
Jadi disinilah Kai, duduk menikmati musik live—yang harus Kai akui bagus-bagus semua penampilannya, dan menonton Sehun mengobrol akrab dengan cowok yang tempo hari ia kira kekasih Sehun. Siapa yang tidak akan mengira begitu? Sehun dan Chanyeol benar-benar akrab! Chanyeol bahkan sesekali mengusap puncak kepala Sehun. Belum lagi orang pertama yang Sehun mintai nomor ponsel adalah Chanyeol, bukan dirinya yang memberi ponsel untuk Sehun. Kai tidak cemburu, tidak kok! Dia hanya kesal karena Sehun malah bermesraan dengan cowok lain, bukankah itu namanya cemburu Kai?
"—lucu sekali. Pokoknya kapan-kapan kita harus nonton film itu." Chanyeol tertawa lagi. Kai rasanya ingin meninju gigi yang sempurna itu.
"Uh entahlah Oppa. Aku sedikit sibuk dikantor, mungkin tidak dalam waktu dekat." Sehun menolak sambil memasang wajah sedih. Bagus! Bagus Sehun! Tolak saja ajakannya, apa bagusnya film seperti itu? Aku bisa menyewa satu studio di gedung bioskop jika kau nonton film, Kai bersorak kesenangan dalam hati mendengar jawaban Sehun.
"Tidak apa, aku akan membeli filmnya agar kita bisa nonton bersama." Apa? Nonton bersama? Apa berarti mereka akan nonton berduaan saja? Jangan bilang mereka akan nonton dirumah berduaan. Lalu….lalu….
"Baiklah! Nanti akan aku hubungi jika kau sudah punya waktu luang." Kai rasanya menyesal sekali sudah memberikan ponsel baru pada Sehun. Sehun akan menghubungi Chanyeol? Padahal ponsel itu ia berikan agar Sehun menghubunginya.
"Bagaimana penampilanku tadi?" Chanyeol kembali bertanya.
"Wah, kau benar-benar hebat. Aku tidak tahu kau bisa bernyanyi sebagus itu." Sehun dengan jujur memuji kehebatan bernyanyi Chanyeol. Kali ini Kai harus mengakui jika Chanyeol memang sangat mempesona ketika sedang bernyanyi tadi, dan hal itu membuat Kai jadi semakin kesal dengan Chanyeol.
"Aku akan ke kamar mandi.." Kai berusaha menunjukkan kehadirannya.
"Ya..ya.." Sehun menjawab ringan. Kai hampir meledak karena terlalu kesal. Sehun hanya menjawab seperti itu?
"Itu..Kai?" Chanyeol langsung bertanya begitu Kai meninggalkan meja mereka.
"Hehe. Jangan bilang siapa-siapa ya. Dia sedang suntuk dan ingin jalan-jalan. Jadi aku mengajaknya kesini." Sehun merendahkan suaranya agar orang lain tidak ada yang mendengar ucapannya.
"Wah. Hebat sekali kau bisa jalan-jalan dengan Kai. Tapi Hun…" Chanyeol menimbang-nimbang perkataannya.
"Kenapa?"
"Wajahnya tidak terlihat baikan, malah sangat suntuk menurutku." Chanyeol berkata jujur.
"Benarkah? Apa dia tidak suka aku ajak kesini ya?" Sehun bertanya pada Chanyeol, meskipun pertanyaan itu lebih ia tujukan kepada dirinya sendiri.
"Entahlah.." Chanyeol hanya mengangkat bahunya pelan. Obrolan keduanya berhenti ketika Kai sudah berjalan kembali kearah meja mereka.
"Hun aku harus kembali ke belakang untuk penampilan selanjutnya." Chanyeol berkata sambil melihat jam tangannya.
"Oppa, jika aku tidak menontonmu sampai selesai tidak apa-apa?" Sehun bertanya penuh rasa bersalah. Chanyeol hanya tersenyum mengiyakan, meskipun dalam hati Chanyeol sangat menyesali kedatangan Sehun malam ini ditemani oleh orang lain.
"Hei, kau mau ke tempat lain?" Kai sudah duduk disampingnya. Wajahnya masih saja ditekuk. "Kita masih punya waktu sebelum tiga jam-mu habis."
"Terserah kau saja." Kai menjawab tanpa melihat kearah Sehun.
"Kau kenapa? Apa kau tidak suka dengan tempatnya?" Sehun bertanya. Kai sebenarnya sangat suka tempat ini. Makanannya enak, musiknya juga bagus, tempatnya tidak terlalu ramai. Entah kenapa Kai bisa merasa sekesal ini, apa iya karena Sehun yang lebih memilih mengobrol dengan cowok lain dibanding dengannya?
"Tempatnya enak."
"Lalu kau kenapa? Apa kau takut ketahuan?" Sehun tidak mengerti dengan sikap Kai yang bersungut-sungut seperti ini. Beberapa saat yang lalu Kai sangat bersemangat untuk jalan-jalan, tapi kenapa sekarang wajah Kai merengut seperti pantat ayamnya?
"Aku tidak apa-apa."
"Hah, baiklah ayo kita keluar dari sini." Lama-lama Sehun kesal juga dengan sikap Kai yang marah-marah tidak jelas. Jika Kai memberi tahu alasannya kan Sehun jadi tahu apa yang harus ia lakukan. Kai saja hanya membalas pertanyaannya dengan jawaban singkat, bagaimana Sehun tau apa masalahnya?
"Mau kemana?" Kai bertanya begitu mereka keluar dari Muse Cafe.
"Terserah kau mau kemana." Giliran Sehun yang menjawab dengan ketus.
"Kenapa kau jadi ketus begitu?"
"Bukannya kau yang memulai? Marah-marah tanpa sebab."
"Tanpa sebab? Memangnya aku gila marah tanpa sebab?"
"Lalu kenapa kau marah-marah?"
"A-aku…kare-karena..uh-uhm..disana tidak menjual tteokbokki. Aku kan ingin sekali makan tteokbokki!" Ah, Kai memang sepertinya perlu belajar berbohong.
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi sih? Tidak usah pakai marah-marah kan bisa!"
"Bagaimana aku bisa bilang? Kau sibuk bermesraan dengan 'teman'mu itu!" Kai menekankan kata teman pada kalimatnya.
"Bermesraan bagaimana? Jelas-jelas aku hanya mengobrol dengannya!"
"Hanya mengobrol?! Uh, sudahlah aku mau makan tteokbokki!"
"YA! Jangan marah-marah terus dong!" Sehun mempercepat langkahnya menyusul Kai.
"Pokoknya jalan-jalan hari ini tidak berlaku untuk membayar hutangmu!" Sehun masih merasa heran dengan kemarahan Kai hanya karena ingin makan tteokbokki. Sehun berpikir Kai memang hobi mengomel dan marah-marah jadi ia tidak ambil pusing dan menerima alasan 'ingin makan tteokbokki', Sehun tidak tahu isi kepala Kai tadi sudah dipenuhi dengan adegan mencekik Chanyeol.
Jalan-jalan tiga jam Kai dan Sehun berakhir, keduanya sudah berbaikan ketika mereka mulai makan satu panci ramyeon dan tteokbokki. Perdebatan mereka bukan tentang Chanyeol lagi, tapi tentang makanan-makanan terenak yang berada didaerah Hongdae. Tentu saja Kai yang menang, dia kan sudah tinggal di Seoul sangat lama jadi dia tahu lebih banyak tentang kuliner yang enak.
Hampir tengah malam ketika Sehun sampai di apartemen mewah Kai. Sehun segera pulang ke apartemen bibinya setelah dua hari tidak pulang dan mengabari bibi galaknya sama sekali. Sehun berdoa dalam hati agar bibinya sudah tertidur ketika ia sampai nanti, Sehun benar-benar lelah dan tidak ingin mendengar ocehan bibinya malam ini.
"Apa kau sudah tidak butuh tempat bermalam lagi huh?" Sehun mendengar suara bibinya didalam kegelapan apartemen yang baru saja ia masuki.
"Maaf bibi, aku benar-benar sibuk dikantor." Sehun menjawab pelan.
"Tentu saja kau sibuk. Sibuk menggoda laki-laki kesana kemari, karena aku tidak mengijinkan kau membawa pulang laki-laki jadi kau menginap ditempat mereka. Begitu kan?" Sehun mengepalkan tangannya, mencoba menahan amarahnya.
"Tidak bibi. Aku sungguh-sungguh sangat sibuk dikantor bibi. Aku tidak melakukan hal seperti itu."
"Sudahlah, aku tidak peduli kau bertingkah macam apa asalkan jangan kau kotori nama baikku." Sehun bisa mendengar suara kursi yang bergesekan dengan lantai kayu, tidak lama kemudian terdengar bunyi pintu yang tertutup. Bibinya sudah masuk kedalam kamar.
Aku benar-benar tidak paham dengan Bibi Joonmyun, jika dia memang tidak peduli padaku ya tidak usah menungguku pulang. Atau bibi menungguku pulang hanya untuk mengomeliku? Mengomel kan hobinya. Uh, jika saja bukan keluarga sudah aku cekik kemarin-kemarin! Sehun berjalan masuk ke kamarnya dengan wajah ditekuk. Kata-kata bibinya malam ini sungguh menyakiti hatinya, bisa-bisanya ia dianggap wanita murahan oleh bibinya sendiri?
Sehun mendesah lega ketika tubuhnya berada diatas kasur. Benar-benar hari yang panjang. Berlarian sepanjang hari, dan kemarin malam ia tertidur diatas karpet yang keras. Rasanya sungguh nyaman bisa berbaring dikasur seperti sekarang.
Tangan Sehun mengambil ponsel barunya dari kantong celananya. Diperhatikan lagi ponsel itu dengan seksama, ponsel yang sangat bagus dan pasti harganya sangat mahal. Tapi hal yang paling penting ponsel itu adalah pemberian dari Kai. Hal pertama yang ia buka adalah kontak yang ada di ponselnya, Sehun tersenyum lebar karena dugaannya sangat tepat. Nomor Kai sudah tersimpan didalam kontaknya.
'Hei beruang manja, terima kasih ponselnya. Benar-benar bagus. Selamat tidur dan semoga berhasil untuk konser besok!'
Sehun masih belum berhenti tersenyum ketika memencet tombol kirim di ponselnya. Kai yang dulu hanyalah bayang-bayang indah dalam benaknya kini seseorang yang nyata didalam kehidupannya.
'Wah kau tahu dari mana nomorku? Kau bahkan tidak meminta nomorku tadi. Tentu saja aku akan berhasil besok, apa kau tidak akan datang ke konser?'
Hati Sehun nyaris keluar mendengar pesan masuk ke dalam ponselnya. Pesan pertama yang ia terima di ponsel barunya dan pesan itu dari Kai.
'Tentu saja aku tahu, memangnya aku bodoh sampai tidak bisa menemukan nomormu yang kau simpan sendiri dengan nama Kai Tampan? Aku besok sudah bukan managermu lagi jadi aku harus kembali bekerja dengan kruku, selamat terus-terusan dimarahi oleh Minhyuk Sunbae! Kekeke..'
Send.
Tringg!
'Kau kan memang bodoh. Kau tidak penasaran dengan namamu di kontak ponselku? Asal kau tahu ya, kau itu jauh lebih galak dari Minhyuk Hyung!'
'Apa memangnya? Kau pasti menamaiku yang aneh-aneh kan? Benarkah aku lebih galak? Kalau begitu jangan minta aku agar menculikmu untuk berjalan-jalan!'
Send
Tringg!
'Cuma Bebek Bodoh kok, tidak aneh. Itu kan kenyataan. Kekeke. Baiklah, baiklah aku tarik perkataanku, kau adalah gadis paling manis didunia, jadi ajak aku jalan-jalan yaaaa?'
Sehun tidak hanya senyum-senyum sekarang. Tubuhnya tidak bisa diam begitu melihat pesan yang baru saja ia terima dari Kai. Gadis paling manis. Gadis paling manis. Rasanya Sehun ingin berteriak saking senangnya. Kaki Sehun sudah menjejak-jejak udara penuh semangat. Hati Sehun pasti sudah menjadi ladang bunga ketika Kai memanggilnya gadis paling manis.
—
"Ya! Cerita macam apa itu! Kau benar-benar norak!" Sehun menutup telinganya ketika Jongdae mengungkapkan idenya. Sudah berapa kali Sehun menolak ide yang Jongdae utarakan, bagaimana tidak? Ide Jongdae selalu mencangkup kejadian-kejadian klise ala percintaan sedangkan tugas mereka adalah membuat naskah untuk iklan pizza.
"Sehun, kau benar-benar kuno sekali. Kisah cinta itu bisa terjadi dimana saja termasuk dalam dapur restoran pizza!" Jongdae kali ini bersikukuh dengan idenya.
"Bukankah kita harusnya membuat iklan yang cocok ditayangkan di musim panas seperti ini? Jadi konsepnya harus yang ceria dan penuh semangat!"
"Ckck, setiap aku melihat kalian, aku tidak pernah melihat kalian tidak bertengkar. Apa ini masih tentang konsep tugas yang aku berikan?" Jisoo tiba-tiba masuk kedalam ruangan tempat Sehun dan Jongdae bekerja—atau berdebat sebenarnya. Sudah satu jam mereka menggunakan ruang pertemuan kru penulis namun sepertinya Sehun dan Jongdae tidak juga kunjung menemukan titik terang.
"Sunbae! Sehun itu tidak mau mendengarkan aku!" Jongdae si mulut ember langsung mengadu.
"Bukan begitu Sunbae! Semua ide yang Jongdae berikan terlalu norak dan semuanya pasti cinta-cintaan." Sehun tidak mau kalah.
"Kalau semua orang memiliki ide yang sama, tim kreatif tidak diperlukan lagi. Jadi bertengkar seperti ini adalah hal yang baik." ucapan Jisoo mengundang keterkejutan kedua juniornya.
"Hah? Jadi aku harus terus-terusan dengan cowok ember ini?"
"Ta-tapi aku tidak pernah melihat Sunbae dan anggota lain terus-terusan berbeda pendapat seperti ini.." Jongdae hanya mendelik galak kearah Sehun mendengar sindiran yang Sehun berikan untuknya.
"Itu karena kami sudah mengenal selama bertahun-tahun jadi kami sudah bisa mengatasi perbedaan tanpa harus bertengkar seperti kalian. Makanya aku ingin mengadakan acara menginap, supaya kita semua semakin mengenal sama lain dan mudah bekerja sama dalam menyatukan ide." Seperti biasa, Jisoo yang bijaksana mampu membuat keduanya terdiam. "Kapan kalian ada waktu untuk menginap?"
"Aku bisa kapan saja Sunbae." Jongdae menjawab cepat.
"A-ku juga bisa kapan saja. Tapi kalau jangan malam ini bagaimana?" Sehun tidak ingin menyulut kembali kemarahan bibinya yang baru saja padam.
"Tentu saja tidak malam ini, aku harus menyiapkan apartemenku sebelum kalian hancurkan." Ucapan Jisoo mengundang tawa dari dua pegawai magang tersebut. Setelah berbincang-bincang sejenak dan menanyakan progres yang Sehun dan Jongdae buat, Jisoo meninggalkan ruangan.
"Sehun, bagaimana jika kita mengikuti ucapan Jisoo Sunbae?" Jongdae tiba-tiba bertanya penuh semangat.
"Kau mau menginap berdua denganku? Dalam mimpimu!" Sehun langsung menolak mentah-mentah usul Jongdae, bahkan sebelum Jongdae sempat menjelaskan lebih panjang.
"Ya! Siapa yang mau tidur dengan cewek galak seperti kau! Bisa-bisa aku kau bunuh waktu aku tidur! Maksudku kita menghabiskan waktu bersama untuk mengenal satu sama lain.." Jongdae menyabarkan dirinya menghadapi Sehun.
"Uhh..kau mengajakku kencan?"
"Astaga, sudah berapa kali aku bilang kau sama sekali bukan tipeku Hun. Sudahlah ayo kita berjalan-jalan sejenak untuk mengenal satu sama lain!" Tanpa menunggu persetujuan Sehun, Jongdae sudah menarik tangan gadis itu keluar ruangan. Mana ada acara mengenal satu sama lain yang diawali dengan pemaksaan seperti ini?
Sehun akhirnya menurut saja dengan ajakan Jongdae meskipun sesungguhnya Sehun ingin bekerja dalam gedung saja. Badannya masih lelah dengan pekerjaan sementaranya kemarin sebagai manager Kai. Sehun dan Jongdae menyusuri jalanan Hongdae yang belum terlalu ramai.
"Kau mau ke cafe tempat temanku bekerja?" Sehun menawarkan karena mereka sudah berjalan-jalan selama lima belas menit tanpa tujuan. Sehun juga teringat dengan Chanyeol yang semalam ia tinggal begitu saja.
"Kau punya teman yang bekerja di cafe? Di Hongdae?" Jongdae terdengar bersemangat.
"Begitulah. Memangnya kenapa dengan bekerja di Hongdae?" Sehun heran dengan reaksi Jongdae yang menurutnya berlebihan.
"Biasanya orang-orang yang bekerja di Hongdae itu keren-keren. Pasti temanmu itu tampan atau cantik? Dia pasti juga penampilannya keren deh. Iya kan?" Sehun tidak tahu harus menjawab apa. Sehun tidak pernah menganggap Chanyeol tampan, atau penampilannya keren. Bagi Sehun, Chanyeol seperti kakak laki-laki yang berbakat musik dan baik hati.
"Uhm..bisa dibilang begitu. Temanku…cukup keren.." Sehun menjawab ragu.
"Wah! Kebetulan sekali, siapa tahu aku bisa dapat cewek keren disini!" Sehun menyesal sudah mengajak Jongdae bertemu dengan Chanyeol. Bisa-bisa nanti Jongdae akan melakukan hal memalukan yang dapat merusak nama baik Sehun didepan Chanyeol.
Ketakutan Sehun menjadi nyata. Jongdae benar-benar membuat Sehun ingin menenggelamkan diri di Laut Cina Selatan. Sudah setengah jam mereka duduk di salah satu meja di cafe tempat Chanyeol bekerja dan Jongdae masih terus memandangi Chanyeol dengan tatapan penuh kekaguman, membuat Chanyeol sedikit salah tingkah.
"Ya! Berhenti menatap Chanyeol Oppa seperti itu!" Sehun menendang kaki Jongdae pelan.
"Wah, temanmu benar-benar tampan Hun." Jongdae kembali melontarkan pujian untuk Chanyeol yang sedang mengelapi meja.
"Jongdae, apakah kau gay?"
"Hah?! Seenaknya saja! Hanya karena aku mengagumi Chanyeol bukan berarti aku gay kan?" Jongdae tidak terima dengan tuduhan yang Sehun berikan padanya.
"Habisnya kau melihatnya seperti itu.."
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, apa kau sama sekali tidak tertarik dengan Chanyeol? Dia benar-benar tampan dan keren! Bahkan lebih keren dari semua artis BT Ent yang pernah aku temui!" Sehun mencoba mengingat momen dirinya terpesona oleh Chanyeol. Sepertinya tidak ada. Sehun heran pada Jongdae, memangnya kenapa kalau Chanyeol keren dan tampan? Sehun tidak harus menyukai semua cowok yang tampan dan keren kan? Bagi Sehun, Kai jauh lebih keren dari Chanyeol.
"Selera orang kan berbeda-beda, kalau aku tidak tertarik dengan Chanyeol Oppa memang salah ya?" Mendengar jawaban Sehun, Jongdae hanya bisa menggeleng-geleng.
"Seleramu sepertinya cowok yang aneh ya. Seperti apa memang selera cowokmu?" Jongdae menyeruput minumnya sedikit, kemudian memasang telinganya tajam-tajam untuk mendengar informasi menari yang akan ia dengar.
"Kau seperti tukang gosip saja sih."
"Sudahlah kita kan harus mengenal satu sama lain, jadi ceritakan saja."
"Aku…aku suka cowok yang galak namun aslinya perhatian." Sehun teringat bagaimana Kai memberinya ponsel semalam, juga makan malam jjajangmyeon mereka. "Lalu aku suka cowok yang sedikit manja dan kekanakan." Sehun tersenyum mengingat Kai yang sering tiba-tiba ngambek tidak jelas.
"Kau sedang jatuh cinta ya?"
"Huh? Jatuh cinta? Aku kan cuma menjawab pertanyaanmu!"
"Kau jelas-jelas sedang menjelaskan sifat seseorang sambil membayangkannya. Lagi pula pada umumnya, orang akan menjawab seperti 'tampan, bisa bermain gitar atau hobi memasak', bukan jawaban seperti itu." Sehun tidak bisa mengelak. Dirinya memang membayangkan seseorang ketika menjawab pertanyaan Jongdae, apakah itu tandanya dia jatuh cinta pada Kai?
"Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan, aku hanya merasa kagum pada seseorang. Dia benar-benar orang yang hebat menurutku, jadi aku sering menganggapnya tipe cowok idamanku." Sehun menyangkal ucapan Jongdae. Tidak mungkin kan Sehun jatuh cinta pada Kai? Kai adalah bintang besar, sedangkan Sehun hanyalah gadis desa yang memiliki sedikit keberuntungan bisa bekerja di Seoul selama musim panas.
"Terserah kau sajalah. Tetap saja menurutku cowok idamanmu itu aneh sekali. Mana ada cewek yang suka cowok yang galak?"
"Dia tidak galak! Cuma sedikit…uhm…galak.."
"Pantas saja kau galak begini, tipe cowokmu saja yang galak-galak."
"Kau ini mau mengenalku atau mengajak bertengkar sih?" Mulai deh mereka.
"Maaf, maaf. Ayo sekarang kau tanya sesuatu tentang diriku." Jongdae mencoba memberikan aegyo-nya pada Sehun dengan memasang puppy eyes. Membuat Sehun bergidik seram, bagaimana mungkin ada cowok yang bisa ber-aegyo seperti itu?
"Kau kenapa Hun?" Chanyeol tiba-tiba duduk bergabung dengan mereka. Jongdae langsung menghentikan sikapnya yang sama sekali tidak manly.
"Dia tuh Oppa, melakukan aegyo sampai aku ingin muntah." Sehun menunjuk Jongdae yang bersikap sok keren didepan Chanyeol. Jongdae ingin dirinya dianggap keren juga oleh orang lain ketika dirinya dan Chanyeol bersebelahan, jadi perhatian cewek-cewek yang lewat tidak hanya terfokus pada Chanyeol saja.
"Aku tidak melakukan aegyo! Aku hanya membujuknya supaya tidak marah-marah terus." Jongdae mencoba sedikit membelokkan cerita.
"Marah-marah kenapa memangnya?"
"Sehun itu selalu marah-marah! Bahkan aku bernafas saja dia bisa marah-marah. Dia itu benar-benar seperti ibu hamil saja!" Jongdae langsung membeberkan kebiasaan Sehun yang belum Chanyeol ketahui.
"Galak? Benarkah? Setahuku Sehun tidak pernah marah-marah.." Chanyeol terkejut dengan ucapan Jongdae.
"Oppa jangan percaya pada si mulut ember ini! Mana mungkin aku marah-marah tidak jelas? Jongdae itu sukanya melebih-lebihkan, aku marah-marah padanya karena sikapnya yang sering memalukan. Aku sebagai teman kan jadi terkena imbas." Chanyeol tertawa melihat reaksi Sehun yang berbicara penuh emosi. Bagi Chanyeol, marah-marah Sehun seperti ini sangatlah menggemaskan.
"Memalukan? Aku kan cuma mempermalukanmu sekali waktu itu! Aku juga sudah minta maaf kan?" Hilang sudah sikap keren Jongdae yang tadi berusaha ia tunjukkan. Kini Sehun dan Jongdae jadi seperti ibu-ibu yang sedang adu mulut.
"Sudah, sudah, kalian bisa mempermalukan diri kalian jika terus-terusan bertengkar seperti ini." Chanyeol mengelus lembut lengan Sehun. "Kau sangat menggemaskan jika sedang marah-marah seperti itu Hun, kau seperti nenekku saja. Hahahahaha." Chanyeol tidak bisa untuk tidak menggoda Sehun.
"Apa? Jadi Oppa juga menganggapku tukang marah? Aku seperti nenek-nenek begitu?" Sehun jadi ikut kesal dengan Chanyeol. Sehun tidak terima dibandingkan dengan nenek Chanyeol yang suka pakai baju norak. Sehun jadi membayangkan dirinya pakai pakaian serba merah muda dan mengomeli Jongdae.
"Aw! Aw! Kan aku bilang kau menggemaskan, kau tidak tahu nenekku itu terkadang bisa sangat menggemaskan jika sedang bertengkar dengan kakekku?" Chanyeol melindungi dirinya dari pukulan-pukulan yang dilayangkan Sehun untuknya. Jongdae tentu saja tertawa terbahak-bahak, senang Chanyeol ada dipihaknya untuk mengerjai Sehun.
Tringg!
Sehun meraih ponselnya dan membuka pesan yang baru masuk. Kai. Senyum Sehun langsung muncul dan dengan cepat tangannya membuka pesan yang baru masuk itu.
'Wah sepertinya kau sangat sibuk bekerja ya..'
Sehun mengedarkan pandangnnya diseluruh tempat didalam cafe, mencoba mencari sosok Kai. Bagaimana Kai tahu dirinya sedang bekerja? Apa Kai sedang berada disekitar sini? Pasti Kai akan mengerjai dirinya lagi.
Sehun sama sekali tidak menyadari pesan yang dikirim oleh Kai barusan penuh dengan sindiran karena menurut Sehun keberadaannya di cafe kan memang salah satu bagian dari pekerjaannya hari itu, yaitu bisa mengatasi perbedaannya dengan rekan kerjanya.
Itu dia. Kai tidak berada didalam cafe tempat Chanyeol bekerja, tapi di cafe lain tepat diseberang jalan. Sehun bisa melihat Kai duduk bersama Minhyuk, mereka tampak sedang membaca kertas-kertas yang berserakan diatas meja.
"Aku pergi sebentar ya, aku akan menemui Kai sebentar." Sehun meninggalkan dua lelaki yang menatapnya bingung. Keduanya bertukar pandang dan memandangi langkah penuh semangat Sehun.
"Kai! Minhyuk Sunbae!" Sehun membungkukkan tubuhnya sopan.
"Oh, Sehun. Kai bilang kau sedang sibuk bekerja." Minhyuk memandang kaget Sehun yang tiba-tiba berada didepannya.
"Ah iya, aku sedang berdiskusi dengan rekan kerjaku di cafe didepan sana." Sehun dengan sopan menunjuk Jongdae yang tampak jelas dari tempat duduk Kai dan Minhyuk.
"Hmm, begitu. By the way terima kasih sudah menggantikanku selama dua hari. Kau mau tiket konser untuk nanti malam? Akan aku beri dua, sebagai ucapan terima kasihku." Minhyuk mengeluarkan dua buah amplop yang diyakini Sehun sebagai tiket konser.
"Tidak usah Hyung, dia kan sibuk sekali bekerja. Lebih baik kau berikan pada orang yang pasti akan datang. Lagi pula aku yakin Sehun akan kebingungan memilih 'teman' yang mana yang akan menemaninya datang ke konser." Kai berkata sinis sambil terus membaca kertas-kertas ditangannya. Sehun terkejut dengan perkataan Kai yang dingin, begitu juga dengan Minhyuk.
"Apa maksudmu? Aku kan memang sibuk bekerja. Aku juga tidak akan menerima tiket itu kok karena aku tidak bisa datang, jadi jangan khawatir aku akan membuang-buang tiketmu yang berharga." Sehun membalas perkataan Kai tidak kalah sadisnya. Minhyuk hanya memandangi keduanya bergantian, bingung.
"Baguslah kalau kau tidak mengambil tiketnya! Minhyuk Hyung akan memberikan tiket itu pada gadis-gadis yang lebih waras dibanding kau! Iya kan Hyung?"
"Uh-uh..te-terserah kau.." Minhyuk gelagapan dirinya dibawa-bawa dalam pertengkaran yang ia tidak paham bagaimana awalnya.
"Siapa yang mau melihat beruang tukang marah seperti kau! Berikan saja sana pada semua cewek cantik yang kau temui!" Sehun menghentakkan kakinya kesal. "Sunbae aku pergi dulu." Sehun membungkukkan tubuhnya lagi dan meninggalkan Kai yang sama sekali tidak memandangnya sejak ia datang, juga Minhyuk yang masih kebingungan dengan situasi yang dihadapinya.
"Awas saja kau datang!" Kai masih sempat berteriak, menambah kekesalan Sehun.
"Tidak akan!" Sehun membalas berteriak. Mereka tidak sadar sudah menjadi pusat perhatian pelayan-pelayan cafe.
Sehun menghentak-hentakkan kakinya, dia bersumpah akan merusak sepatu Kai sungguhan setelah ia kembali ke gedung BT Ent nanti. Sungguh Sehun tidak mengerti kenapa Kai hobi sekali marah-marah padanya.
Apa kau tidak tahu Hun, jika Kai sedari tadi memperhatikanmu yang terus-terusan berdekatan dengan Chanyeol dan Jongdae?
To Be Continue
Terima kasih atas review-reviewnya yaaa ^^
Semoga suka dengan chapter yang ini.
Jangan lupa review, kritik dan sarannya, author tunggu ^^
