Chapter 6
Disclaimer: BTS milik BigHit, Their parents, and ARMY. Disini Val Cuma mau minjam mereka sebagai casts di fanfiction ini
Rated: T
Genre: Romance, Fantasy, Drama
Warning: typo, Gaje, DLDR, AU, Incest, etc…
Pairing: TaeKook/VKook/Top!Tae/Bott!Kook
Little note: Fanfic ini terinspirasi dari Frozen, ah BTW disini marga Jungkook Kim ya, bukan Jeon.
.
.
.
The Curse
.
.
.
Jungkook menjatuhkan dirinya di ranjang kamarnya. Dia benar-benar tidak bisa tidur semalaman mengingat apa yang sudah terjadi. Kim Taehyung, hyung yang amat sangat membencinya semalam menciumnya. Well, setelah kejadian itu Jungkook memang langsung didepak Taehyung keluar dari kamarnya dan hyungnya itu kembali lagi pada sifat awalnya yang memang sedikit –sangat kejam kepada Jungkook.
Jungkook tidak habis pikir kenapa Taehyung, yang notabene sangat membencinya bisa menciumnya semalam.
"Apa perkataanku salah?" Jungkook bertanya entah pada siapa. Dia menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan yang terus berkecamuk di dalam hatinya.
Mengingat soal ciuman itu entah kenapa jantung Jungkook berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya dan rona merah akan menghiasi wajahnya begitu kejadian semalam kembali terulang di benak Jungkook.
Ini salah, tapi entah kenapa Jungkook menyukainya.
"Tidak, tidak, tidak."
Jungkook menggelengkan kepalanya kuat. Dia tidak boleh menyukai hyungnya atau Taehyung akan semakin membencinya. Lagi pula hubungan darah merupakan hal yang tabu di kalangan masyarakat awam.
Jungkook bergegas beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan tergesa menuju kamar mandi. Hari sabtu mungkin dia memang mendapatkan jatah liburan dari pekerjaan paruh waktunya tapi sebagai gantinya di hari minggu seperti ini dia harus bekerja full time dan Jungkook tidak keberatan dengan itu.
"Yah, setidaknya dengan ini mungkin aku bisa melupakannya sebentar."
.
.
.
Taehyung mengacak rambutnya frustasi. Dia masih tidak bisa melupakan kejadian semalam. Bahkan Taehyung harus menelan obat tidur agar setidaknya dia dapat tidur nyenyak tadi malam. Tapi, itu hanya berlangsung sementara karena baying-bayang akan dirinya yang mencium Jungkook –melumat habis bibirnya dengan rakus, masih terbayang jelas di benak Taehyung.
Dan rasa manis bibirnya.
Taehyung menyentuh bibirnya dengan telunjuknya. Tidak peduli dengan guyuran air dari shower yang mungkin sudah menghapus jejak bibir Jungkook disana. Taehyung tidak peduli karena entah kenapa dia masih dapat merasakan manisnya bibir Jungkook di lidahnya yang kini ingin meminta lebih.
Jujur saja, Taehyung tidak pernah mengecap bibir dengan rasa semanis itu selama delapan belas tahun hidupnya. Dan sepertinya Taehyung menginginkannya lagi, lagi, dan lagi.
Bahkan lebih.
Taehyung menggasak surainya frustasi. Seharusnya dia membenci Jungkook segenap jiwa raganya. Tapi kenapa sebuah perasaan asing menyelimutinya dengan erat sekuat Taehyung mencoba untuk membenci Jungkook.
"Tidak. Aku tidak menyu –arrgh… Tae, dasar bodoh! Kenapa kau hampir mengucapkannya!?"
Dan detik itu juga, dibawah guyuran shower yang dingin itu Taehyung mulai meragukan perasaan bencinya terhadap Jungkook.
"Sialan."
.
.
.
Jungkook menghentikan langkahnya begitu melihat Taehyung yang sedang asik bersandar didekat pintu keluar. Otaknya otomatis memutar ulang reka adegan semalam dan Jungkook mati-matian menahan diri agar tidak membekukan seluruh rumah ini berkat perasaan asing yang saat ini tiba-tiba menghampirinya.
Mencoba menghiraukan Taehyung dan bersikap seperti biasa. Jungkook melenggang pergi menuju pintu keluar sebelum sebuah tangan besar menahannya pergi.
"Mau kemana?" suara berat Taehyung menyapa gendang telinga Jungkook membuat namja bergigi kelinci ini menundukkan kepalanya.
"Bekerja." Jungkook berucap lirih. Dalam hati dia bersyukur karena papanya, Chanyeol pasti sedang asik berkutat di ruang kerjanya atau jika dia melihat Jungkook saat ini mungkin lebam di tubuhnya akan bertambah.
"Kenapa?"
Jungkook mendongak menatap Taehyung saat suara berat itu perlahan melembut. Dia tidak yakin tapi mungkin saja memang pendengarannya sedikit bermasalah berkat dia yang terlalu sering menjadi samsak tinju keluarganya.
"Eh." Jungkook mengerjapkan matanya polos. Tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Taehyung. Dan Taehyung mencoba mati-matian menahan gairahnya agar tidak kembali menerkam kelinci kecil dihadapannya ini.
Tidak, aku harus membencinya bukan sebaliknya.
"Lupakan." Taehyung menghempaskan tangan Jungkook kasar sebelum berbalik pergi meninggalkan Jungkook yang teridam membisu. Setengah bingung dengan kelakuan hyungnya sebenarnya.
.
.
.
"Hei Kook, kau kenapa?" Wonwoo menepuk bahu Jungkook pelan. Sejak tadi teman kelincinya ini terlihat tidak focus dalam pekerjaannya. "Apa kau sakit?" Wonwoo bertanya dengan nada khawatir. Jungkook memang sering datang dengan keadaan seperti baru saja selesai berkelahi dan itu membuat seluruh pekerja café disini khawatir dengan bocah kelinci itu apalagi Seokjin yang merupakan pemilik café. Dan sekarang dia terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Entahlah, Wonwoo sendiri tidak tahu kenapa yang dia tahu saat ini Jungkook sedikit lebih banyak melamun dan itu membuat kinerjanya terganggu.
"A-aa.. aku baik-baik saja hyung. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu." Jungkook meraih nampan cokelatnya kemudian berjalan menuju dapur setelah memberikan sebuah senyuman kecil yang menurutnya bisa membuat Wonwoo sedikit lebih tenang.
"Kook, ada seseorang yang mencarimu!"
"Siapa?" Jungkook bertanya setengah berteriak disela kegiatan mencuci piringnya. "Kalau tidak salah namanya Park Jimin dan Kim Namjoon." Jungkook langsung menghentikan kegiatannya saat kedua nama tersebut disebut.
"Buat apa mereka kemari. Apalagi Namjoon?"
Setelah membereskan pekerjaannya Jungkook bergegas kedepan dan mendapati dua namja dengan tinggi badan yang berbeda itu tengah asik mengobrol dengan Seokjin. Jungkook mengernyitkan keningnya bingung dan berjalan santai mendekati ketiga namja itu.
Jimin yang pertamakali menyadari kedatangan Jungkook di antara mereka. "Hei Kook!" Pekiknya senang membuat Namjoon dan Seokjin menoleh kea rah Jimin. "Hei, Jungkook." Namjoon meninju pelan bahu Jungkook membuat namja yang paling muda meringis kecil. "Ah, Hei Namjoon hyung. Dan ugh Jimin."
Seokjin menekuk alisnya, memasang raut wajah sebal. "Kau tidak menyapaku Kook?" Seokjin bertanya dengan nada setengah sebal membuat Jungkook tersenyum kecil melihatnya. "Seokjin hyung, astaga jangan seperti itu. Kau tahu kan aku lebih menyayangimu." Jungkook berucap setengah bercanda membuat senyuman Seokjin mengembang sempurna.
"JUNGKOOK." Jimin membentak Jungkook membuat ketiga pasang mata disana menatap Jimin bingung. Jimin segera memeluk erat Jungkook dengan gerakan yang di dramatisir. "Astaga, jangan menyelingkuhi sahabatmu ini." Jimin semakin mengeratkan pelukannya membuat Jungkook hampir kehabisan nafas.
"Yya! Kau bisa membunuh Jungkook jika memeluknya seperti itu." Namjoon memperingati. Sedikit bersimpati dengan Jungkook yang ternyata memiliki seorang sahabat over protektif seperti Jimin.
Jungkook menginjak kaki Jimin keras setelah dia melepaskan pelukan mautnya dan mencoba menghiraukan Jimin yang malah berbalik memelototinya tajam. "Jadi, ada apa kalian mencariku? Dan ugh, kenapa kalian berdua bisa saling kenal?" Jungkook menunjuk Namjoon dan Jimin bersamaan.
"Sebenarnya aku kemari untuk menemui kekasihku. Tapi mendengar bocah bantet ini yang berteriak heboh memanggil seseorang dengan nama Kim Jungkook membuatku ikut-ikutan mencarimu. Dan hei, aku baru tahu kau bekerja disini." Namjoon memeluk pinggang Seokjin mesra membuat namja cantik yang dipeluknya itu merona hebat di buatnya.
"Aaa~ aku baru tahu kalau Jin hyung memiliki kekasih. Dan kita baru saja kenal kemarin hyung, kita bahkan belum saling mengenal dengan dekat. Dan aku yakin kalau Jimin tidak berteriak heboh mencariku kau juga tidak akan tahu jika aku bekerja disini." Jungkook berucap datar sedikit risih sebenarnya dengan Jimin yang kembali mencoba memeluknya dari belakang.
"Astaga Jim, kau kenapa sih? Jangan peluk-peluk aku bukan kekasihmu kalau kau mau tahu!" Jimin mempoutkan bibirnya sebal dengan ucapan sarkas Jungkook. Astaga Jungkook memang memiliki berbagai keperibadian yang berbeda-beda setiap harinya.
"Memang bukan sih, tapi kau itu sahabat tersayangku jadi tidak ada salahnya kan memelukmu seperti ini. Dan aku kemari karena aku merindukanmu." Jimin kembali memeluk Jungkook erat membuat Namjoon dan Seokjin yang sejak tadi menyaksikan interaksi dua sahabat ini tertawa kecil melihatnya.
"Park Jimin! Lepaskan aku ugh. Kau boleh memelukku tapi jangan didepan umum seperti ini dan kalau kau merindukanku sebaiknya pesan sesuatu karena aku harus bekerja." Jimin melepaskan pelukannya dan menatap Jungkook dengan binar mata yang kelewat antusias. "Sungguh? Kalau begitu aku akan memesan sesuatu." Jimin berdehem kecil sebelum menyebutkan pesanannya. "Aku pesan Kim Jungkook dengan sebuah bandana kelinci dikepalanya untuk seorang hyung dan sahabat tampan Park Jimin."
Jungkook mencebik kesal ke arah Jimin kemudian mendepak kepala Jimin dengan buku catatan yang dibawanya.
.
.
.
Lonceng mungil yang dipasang Seokjin di pintu café berdenting kecil menandakan ada seorang pengungjung yang datang. Bukan hanya seorang sebenarnya, melainkan dua orang namja dengan perbedaan warna kulit yang beruntungnya tidak terlalu Nampak.
"Hei Yoongi, Tae! Kenapa kalian kemari, dan dimana Hoseok?" Yoongi dan Taehyung berjalan mendekati Seokjin dan mendudukan diri mereka di kursi kosong disana. Yoongi berdecak kesal. "Tentu saja untuk memesan makanan hyung. Lagi pula café ini dibuka untuk umum kan? Dan soal Hoseok, dia pulang ke Gwangju. Noonanya sakit." Seokjin tersenyum kecil mendengarnya, sudah kebal dengan ucapan sarkas Yoongi yang sebenarnya menusuk hati.
"Hmn… kalau begitu semoga saja noona Hoseok cepat sembuh."
"Eh hyung dia siapa? Dan kenapa ada Jimin disini?" Taehyung menunjuk Namjoon yang duduk disamping kiri Seokjin dan juga Jimin yang duduk di sisi kanannya. Persis sekali seperti potret keluarga bahagia menurut Taehyung.
"Dia Kim Namjoon, kekasihku ngomong-ngomong. Dan memangnya Jimin tidak boleh kemari? Ayolah, café ini masih di buka untuk umum sayang." Kali ini sepertinya giliran Namjoon yang sedikit merona mendengar ucapan Seokjin lain halnya dengan Yoongi yang mendengus sebal. "Whoa, kenapa kau tidak pernah mengatakan kepada kami kalau kau memiliki kekasih?" Taehyung berdecak kagum, salut dengan hyungnya yang ternyata memiliki seorang kekasih.
"Buat apa harus mengatakannya? Dan Taehyung-ssi, sepertinya kau mengalami amnesia karena ini aku Kim Namjoon yang semalam." Taehyung tertawa kecil dan menampilkan cengiran kotaknya. "Sepertinya aku memang sedikit lupa Namjoon-ssi."
"Ermn.. permisi, tapi pesanan kalian sudah datang." Jungkook berujar pelan mengintrupsi. Dia menaruh pesanan Jimin dan Namjoon di hadapan mereka dan sukses menghentikan obrolan seru antara dua buah kubu yang bersebrangan meja tersebut.
"Aigoo~ kau manis sekali Jungkookie ku sayang." Jimin mengelus puncak kepala Jungkook gemas, menghasilkan sebuah decak sebal dari Jungkook walaupun namja kelinci itu tidak dapat menyembunyikan senyumannya. Karena, entah kenapa pujian Jimin terdengar seperti sebuah pujian dari seorang kakak di telinga Jungkook dan Jungkook menyukainya.
Mereka tidak memperhatikan Taehyung yang sejak tadi sudah menahan geraman kesalnya melihat pemandangan di hadapannya ini. Sepertinya seorang Kim Jungkook berhasil membuat Kim Taehyung cemburu berkat interaksinya dengan Park Jimin.
.
.
.
Jungkook berjalan menyusuri trotoar. Sekarang sudah malam dan dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya sepuluh menit yang lalu. Jungkook menendang sebuah kaleng kecil di hadapannya menghasilkan bunyi berisik yang sedikit mengganggu.
Klontang
Kaleng tersebut kembali terlempar ke arah Jungkook membuat namja cantik itu mendongakkan kepalanya kedepan. Mencari siapa saja si penendang. Karena, jika dia tidak menemukan pelakunya maka Jungkook akan menghubungi seorang Park Jimin untuk segera kemari atau bahkan membekukan Trotoar ini.
Matanya membulat kaget begitu mendapati sesosok Kim Taehyung yang sekarang tengah berdiri di hadapannya ini. Serius, tingkah hyungnya beberapa jam belakangan ini benar-benar aneh dan membuat Jungkook bingung.
"T-tae hyung." Jungkook melangkah mundur teratur. Menyaksikan hyungnya yang berdiri di sini, di trotoar jalanan Seoul yang mulai sepi lebih menakutkan dari pada bertemu sesosok hantu manapun. "Ada apa, kenapa menatapku seperti itu?" Taenyung berujar tenang. Kakinya perlahan melangkah maju, mengikuti Jungkook yang terus menerus mundur. Dengan cepat Taehyung segera menangkap tangan Jungkook dan menariknya pergi.
Jungkook menatap punggung tegap Taehyung bingung. Berbagai prasangka mmulai muncul begitu Taehyung membawanya pergi. Jungkook tidak berani bertanya, tidak dia tidak mau menerima delikan kejam dari Taehyung jika dia mencoba untuk bertanya. Yang Jungkook mau dia hanya ingin segera menyelesaikan hari ini dengan bergelung nyaman di ranjangnya. Tanpa gangguan dari papa dan hyungnya akan terdengar lebih menyenangkan. Sayang sekali, tapi itu hanya ekspektasinya belaka.
Taehyung membawa Jungkook menuju sebuah gang sempit dan begitu saja menghempaskan tangan Jungkook yang sejak tadi digenggamnya erat dengan kasar.
Jungkook meringis pelan melihat pergelangan tangannya yang kini memerah berkat hyungnya. Belum sempat Jungkook berkata apapun, Taehyung sudah lebih dulu memojokkan dirinya di tembok kumuh dibelakangnya.
"Kau, sejak kapan kau dekat dengan bocah pendek itu huh?!" Taehyung bertanya dengan deep voicenya yang membuat bulu kuduk Jungkook meremang. Jungkook mengernyit bingung dia menatap Taehyung dengan raut wajah penuh Tanya. "Hyung…" Taehyung semakin memojokkannya begitu tidak mendengar jawaban yang diinginkannya.
"Jawab aku!" Gumamnya pelan dan itu terdengar lebih mirip seperti sebuah perintah absolute yang tidak bisa dibantah.
"D-dia sahabatku, jadi wajar jika aku dekat dengannya."
Taehyung memandangnya dingin. Benar-benar dingin. "Jauhi dia!" Jungkook menatap Taehyung tidak mengerti. Sebenarnya, apa maksud hyungnya ini mengatakan itu?
"Jauhi Jimin."
Jungkook membelalakan matanya mendengar Taehyung mengucapkan kalimat dinginnya tersebut. Dia bilang untuk menjauhi Jimin? Tidak, tidak. Jungkook tidak mau. Dia tidak akan menjauh dari Jimin karena astaga, demi apapun yang ada di dunia ini Jungkook akhirnya bisa benar-benar merasakan apa itu rasanya memiliki seorang hyung. Seorang keluarga lebih tepatnya.
Jungkook menggelengkan kepalanya kuat. Setakut apapun dia pada Taehyung, kali ini dia haruslah cukup berani untuk menentang hyungnya itu. Dia tidak mau kembali kehilangan seseorang yang berharga dihidupnya.
"A-aku, aku tidak bisa hyung." Jungkook berucap lirih. Dia menatap hazel kembar Taehyung yang entah kenapa semakin gelap. Taehyung menggertakan giginya menahan amarah. "Jauhi dia bodoh!" Taehyung menaikan volume suaranya membuat Jungkook terdiam kaget di tempatnya. "Aku tidak suka melihat kau dekat dengannya." Taehyung melepaskan kukungannya dari Jungkook. Dia menggasak rambutnya kesal. Dia tidak tahu kenapa. Yang jelas, dia amat sangat kesal tadi siang melihat kedekatan Jungkook dan namja bantet itu.
"Memangnya kau siapa hyung?"
Jungkook bergumam pelan namun masih dapat didengar oleh Taehyung. "Huh?!" Taehyung menatap Jungkook dengan mata elangnya yang tajam. Seharusnya itu cukup untuk membuat Jungkook ciut seperti yang sebelumnya. Tapi kali ini tidak. Jungkook tidak takut sama sekali. Dia bahkan balas menatap Taehyung tajam, membuat namja tampan yang lahir di musim dingin tersebut tenggelam dalam pesona onyx kelam Jungkook.
"Kau bahkan tidak pernah menganggapku ada. Kau –kau dan papa selalu saja menyiksaku, memukulku, menganggapku hanyalah sebuah bayangan –sampah yang seharusnya tidak pernah ada didunia ini. Kalian –kau membenciku hyung. Kau membenciku disetiap detik jantungmu berdetak. Kau membenciku selama 11 tahun ini. Jadi kenapa, kenapa sekarang kau malah melarangku untuk berada di dekat Jimin padahal kau sendiri tidak pernah menganggapku sebagai adikmu?!"
Jungkook terkekeh pelan melihat Taehyung yang hanya diam mematung. "Jimin, dia bahkan lebih baik darimu hyung. Dia mungkin hanya sahabatku tapi setidaknya aku bisa merasakan kasih sayang seorang kakak darinya. Dia sudah seperti keluargaku hyung. Jadi tolong, tolong jangan suruh aku menjauh darinya karena aku tidak akan bisa melakukannya." Sekali lagi Jungkook menatap netra kembar Taehyung dengan mata yang mulai digenangi air matanya. "Kumohon hyung." Jungkook menunduk, menatap sepatunya dengan air mata yang masih setia mengalir deras.
"Sudah selesai?" Jungkook mengangkat kepalanya cepat. Dia tidak mengerti dengan hyungnya. Taehyung sendiri hanya terkekeh pelan melihat tingkah Jungkook yang entah kenapa malah terlihat sangat menggemaskan di matanya sekarang.
"Sudah selesai curhatnya huh?!"
Taehyung memasang seringai jahatnya. Untuk kali ini dia benar-benar merasa ingin menjadi penjahatnya. Yah walaupun Taehyung yakin di sepanjang hidupnya dia akan menjadi penjahat paling kejam untuk Jungkook.
Taehyung menarik dagu Jungkook mendekat. Jarak antara bibir mereka hanya tersisa beberapa centi dan Taehyung dapat merasakan harum nafas Jungkook di hidungnya.
Taehyung menyukainya,
Dia menyukai setiap hembus nafas Jungkook yang menyapa indera penciumannya dan Taehyung ingin menghirupnya lagi, lagi, dan lagi. Mungkin, Taehyung memang menyukai Jungkook. Dan Taehyung tidak peduli dengan fakta itu. Peduli setan dengan dirinya yang malah berbalik menyukai Jungkook walaupun seharusnya dia membencinya. Dia tidak peduli dengan semuanya, termasuk fakta bahwa Jungkook adalah saudaranya. Dia tidak akan memperdulikannya selama dia bisa kembali merasakan candu yang paling memabukkan.
Maka dengan seringai yang masih terukir di bibirnya Taehyung menyatukan bibirnya dengan bibir mungil Jungkook dan melumatnya rakus.
Jungkook memberontak ditempatnya membuat Taehyung harus menekan tengkuk Jungkook kuat agar kelinci yang tengah diciumnya ini bisa diam. Jungkook tidak ingin melakukan ini. Tidak, semuanya salah. Logikanya sudah berteriak keras agar Jungkook segera menghentikan semua kegilaan ini.
Tapi Jungkook menyukainya,
Dia menyukai setiap lumatan yang dirasakannya. Dia menyukai setiap hembus nafas Taehyung yang menyapa permukaan wajahnya. Walaupun ini semua salah.
Jungkook reflek mencengkram kuat kepala Taehyung saat dirasa ciuman mereka semakin panas dan itu membuat Taehyung menyeringai senang disela ciumannya.
.
.
.
"Jadi, turuti perkataanku?"
Taehyung menyeringai kecil melihat Jungkook yang saat ini benar-benar terlihat cantik. Walaupun sebenarnya sekarang Jungkook benar-benar berantakan tapi dimata Taehyung Jungkook terlihat cantik. Lebih cantik dari pada seorang yeoja manapun.
Setelah sesi ciuman mereka tadi, mereka berdua hanya terdiam untuk kembali mengisi persediaan udara di paru-paru mereka dengan rakus. Wajah Jungkook memerah sempurna dan Taehyung sangat senang melihatnya.
"T-tidak, aku tidak mau." Jungkook menggeleng pelan. Rona merah masih menghiasi wajahnya dan sepertinya namja cantik tersebut tidak menyadarinya. "Kenapa, apa kau memang sebegitu inginnya memiliki seorang hyung yang baik? Well, aku rasa aku bisa mencobanya." Seringai Taehyung masih melekat diwajah tampannya. Tangannya dengan nakal meraba telinga Jungkook.
Gelengan Jungkook semakin kuat. "Aku, kau tidak akan bisa seperti Jimin." Taehyung menghentikan kegiatannya di telinga Jungkook. "Kau tidak akan bisa benar-benar menerimaku hyung. Jadi, lebih baik hyung kembali seperti dulu. Kim Taehyung yang membenci adiknya, aku lebih menyukai kau membenciku hyung dari pada kau yang sekarang. Kau membuatku bingung."
Dan setelah mengucapkan itu Jungkook berjalan pergi meninggalkan Taehyung dalam kegelapan malam yang dingin.
.
.
.
Detik itu juga Taehyung benar-benar menyesali semuanya. Semua yang terjadi selama sebelas tahun ini dan kebenciannya pada Jungkook.
Dia menyesali semuanya.
"Aku memang seorang kakak yang bodoh."
.
.
.
Tbc
Aloha chingudeul~
I'm back dengan chapter 6 yang semakin nyeleneh.
Hehehe,, mianhae readers-nim. Tolong maafkan Val dengan sepenuh hati.
Dan Val ini 02 Line kalau mau tahu. Masih muda kan? Iyah, tahu kok #GR^^ jadi jangan panggil Val kakak atuh. Val juga lahirnya di bulan yang sama dengan Jimin oppa dan ugh kalau masalah tanggal, kebetulan tanggal kelahiran Val juga sama dengan tanggalnya Taehyung oppa.
Kalau mau lebih dekat dengan Val kalian bisa add WA Val kook~ (082190749348) #TimeToPromote
*Please jangan gebukin Val :P
Val juga nggak bosen-bosennya ngucapin banyak terimakasih buat readers-nim yang baik hati dan tidak sombong yang udah mau ngreview Val. #Kecupsatusatu
Last,
Mind to review?^^
