Author's note: buseth dah! Mewek lah aq begitu selesai baca fic Nodame Cantabile yg judulnya 'The Confessions of Chiaki Shinichi" ato semacam itulah. Bener2…bikin aq HAMPIR nangis, tapi masih belum mampu membobol hati q bwat bikin aq nangis persis orang gila. Aniwei, kok jadi melenceng jauh yaaa?? Back to the first topic. Kalo di chap yang lalu aq bikinnya sedih2, skrng wktnya seneng2!! Setuju??? Yosh!! Lanjut ke story!! Oya, ngomong2….di sini saiya munculkan Teddie deh.. tapi jangan kaget yah kyk apa Teddie nanti…huehehehehe
__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Chapter 6 : Best Friends
This, this close I'm watching you
Why, why are we only friends?
No matter how, no matter how strong my feelings are
They don't reach you. You don't understand
I'm so in love with you
Konna ni Chikaku de – Crystal Kay
__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
'A true friend knows your weaknesses but shows you your strengths; feels your fears but fortifies your faith; sees your anxieties but frees your spirit; recognizes your disabilities but emphasizes your possibilities.'
Kalau kemarin Souji datang dan memainkan piano bak drakula yang kehilangan mangsanya, sekarang ia masuk dan memainkan piano sambil senyum-senyum. Wajahnya tampak penuh semangat dan gembira. Yosuke dan Chie melongo dengan sikap Souji yang lagi-lagi berubah drastic. Yah, sebenarnya hari ini adalah hari terakhir sekolah sebelum libur musim panas yang akan sangat panjang. Rise dan Yukiko hampir tersedak melihat tingkah Souji ketika mereka sedang berlatih tarik suara. Kanji tetap sibuk memainkan drumnya karena ia tak tahu insiden yang sempat terjadi kemarin. Pintu ruangan terbuka lebar, menampilkan sesosok lelaki- eh, tidak lagi, Naoto yang memakai seragam perempuan Yasogami .
"Gomene, Minna! Gomenasai!"
"Hei, tak masalah kok. Lagi pula kita baru saja mau mulai. Ngomong-ngomong, Naoto," kata Yosuke dengan kalimat terpenggal melihat penampilan baru Naoto. "Kau habis makan masakan buatan Chie, Yukiko, dan Rise yah?" Criiiing… sekejap Yosuke sudah dihujani tatapan ingin mempunuh para gadis selain Naoto. "Hahaha, kau tahu, aku ini lelaki yang jujur."
"Tapi, KAU terlalu jujur, Yosuke!" Chie menekankan kata 'kau' saat mengatakannya.
"Eh, ah, uh, sudah-sudah! Yuk kita latihan!" seru Yosuke berusaha menghindari aksi pembunuhan yang akan segera berlangsung beberapa saat lagi.
Naoto berjalan menghampiri senpai yang kemarin malam baru saja mencurahkan uneg-unegnya. Sepertinya senpainya itu baik-baik saja, kelewat baik-baik saja malah. Souji menghentikan permainannya, sadar akan kehadiran Naoto yang sudah mepet sekali dengannya. Kalau diukur-ukur, jarak antara pipi Souji dan Naoto hanya sekitar 2 cm saja.
"Na-Naoto! Se-sejak kapan kau,"
"Senpai, mainnya kok berhenti?" potong Naoto. "Ayo mainkan lagi!"
"He-hei, kita ini berkumpul buat latihan bersama kan? Lagipula, besok kita sudah libur."
Kanji tiba-tiba berdiri dari balik drumnya serta mengacung-acungkan stiknya ke atas. "Hei, kita bisa tidak latihan di rumah Yukiko-senpai saat liburan??"
Yukiko menggeleng-geleng. "Tidak bisa. Kalau kita latihan di sana, kasihan para tamu yang menginap."
"Oh, benar juga." Lalu Kanji kembali duduk.
Ganti Naoto yang bangkit berdiri dengan ide yang ia yakin benar-benar cemerlang. "Kalau begitu kita latihan di villa ku saja! Kebetulan villa sedang kosong, jadi bisa kita pakai untuk latihan!" Kalau dihitung-hitung sudah lama sekali Naoto dan kakeknya tidak berpiknik ke sana. Baik Naoto maupun kakeknya sama-sama sibuk, maka villa pun terlupakan. Naoto sendiri baru teringat kalau ia punya villa setelah Kanji mengusulkan untuk berlatih di rumah Yukiko.
"Mukya! Asyiiiiiikk!!! Kira-kira kita bisa menginap di sana berapa lama, Naoto?"
"Uhh…sekitar sepuluh harian atau lebih bisa kok, Ri-chan." Balas Naoto yang juga senang melihat seringai gembira Rise yang tak kalah dari Souji. Suasana sekejap berubah menjadi ceria berkat seorang Naoto. Di luar kesadarannya, Souji hanya melamunkan Naoto dengan senyuman yang tersungging di bibirnya. Naoto memang pembawa keceriaan, pikirnya.
"Kalau begitu, sekarang kita serbu Junes!! CHAAAAARGEE!!" seru Chie kelebihan semangat bak tentara yang akan berperang. Yosuke sweatdropped, diikuti Kanji yang tahu pasti apa yang telah direncanakan Chie.
"Chie-senpai, aku benar-benar salah 'kan kalau berpikiran KAU akan membuat bekal makanan??"
"Owh, Kanji-kun! Kau sudah bisa membaca pikiran seorang gadis ternyata! Seharusnya pikiran Rise-chan saja yang kau baca."
Rise terlompat kecil di tempat, terkejut mendengar ucapan senpainya yang barusan. Apa jangan-jangan ia di sana akan dijodoh-jodohkan dengan Kanji?? Rise dapat membayangkan liburan musim panasnya yang terburuk sepanjang sejarahnya jika ia akan dijodohkan dengan Kanji di Villa. "Chi-Chie-senpai! Iie!! I only love Souji-senpaaaaai!!" lagi-lagi lebay dan centil. Rasanya susah sekali untuk menghilangkan kebiasaan centil si Rise.
"Sayang sekali, Rise-chan! Souji-senpai sudah ada pemiliknya. Ya 'kan, Chie??" Yukiko menutupi mulutnya sambil tertawa kecil disertai dengan kedipan sebelah mata yang ditujukan pada sahabatnya yang suka sekali dengan warna Hijau. "Hauuuun!!" jawab Chie mengangguk-angguk setuju. Yak, ketahuan sudah oleh Yukiko kalau Souji dari tadi membisu karena melamunkan Naoto. Souji sih, tatapan matanya tidak berpindah-pindah tempat. Subject yang ia pandangi terus-menerus adalah gadis 'agak' feminine dadakan yang berambut biru gelap.
"Ouch! Ada benih-benih cinta yang sedang tumbuh nih! 2 benih cinta!" teriak Yosuke girang. Entah kenapa tiba-tiba girang.
"*sigh* Yosuke, kau ini benar-benar…tidak mengerti. Ja, pokoknya aku bagian membuat bekal makanan!! Yukiko, kau bagian pembeli bahan makan malam untuk di Villa! Rise-chan, kau bagian…ungg…apa yah?" katanya sambil bertopang dagu, berpikir dan mencari-cari tugas yang cocok untuk si artis.
Rise tertawa ala tante-tante (seperti Satoko di Higurashi) "Aku bagian menyiapkan pakaian-pakaian yang akan dibawa Souji-senpai saja yah?!" Kanji dan Yosuke semakin sweatdropped. Kalau Yosuke dan Kanji hanya double sweatdropped, Souji sudah triple sweatdropped. Ternyata pemuda berambut abu-abu itu menyimak juga pembicaraan yang sedang berlangsung.
"HAH?! Ogah!! Lagipula, aku bisa mengurus barang-barang yang akan kubawa seorang diri!! Tidak perlu repot-repot Rise-chan."
"Oooowh, ayolah Senpai. Tak perlu sungkan-sungkan!" Rise jadi semakin genit. Naoto hanya meringis saja. Entah ia sengaja meringis supaya tidak terlihat cemburu atau memang geli melihat tingkah Rise.
"Hahaha, tak perlu repot-repot!" kata Souji diikuti dengan balasan Rise.
"Hahaha, tak perlu sungkan-sungkan!" Rise meniru ucapan Souji hanya dengan kata 'sungkan-sungkan' dan 'repot-repot' nya saja yang berbeda.
Diam-diam Souji menggeram pelan. "Dasar artis kelainan!" kemudian ia menepuk dahinya sendiri, mengetes apakah ia demam atau tidak karena tingkah teman-temannya yang sudah termasuk 'kelainan'.
_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_
pada hari selasa pagi Yosuke dkk berkumpul di rumah Naoto. Di depan rumah naoto tampak berbagai kardus dan koper-koper yang tumpang tindih. Souji terbengong-bengong melihat tumpukan 'sampah' di matanya itu yang membuatnya gatal untuk menyingkirkannya karena mengangguk jalannya. Tak lama Naoto dan yang lain keluar dari rumah dan beranjak menuju bus yang sepertinya juga milik keluarga Naoto.
"Ah, senpai! Kami baru saja akan menjemputmu karena kau terlambat." Kata si gadis bertopi detektif.
"Gomen. Nanako terus-terusan menuturiku seperti anak kecil. Harus bawa obat ini, obat itu. Bawa baju ini, baju itu." Komentar Souji asal. Padahal sebenarnya ialah yang bangunnya terlambat. Dasar kakak yang mengkambing hitamkan adiknya!
"kalau begitu kita berangkat sekarang!"
Awalnya semuanya ramai-ramai saja di dalam bus pribadi milik keluarga Shirogane. Kanji ribut sendiri karena Yosuke terus mengejarnya supaya berbagi 'animal crackers'. Chie dan Yukiko sibuk mendebatkan makan malam yang akan mereka masak malam ini. Souji yakin 100% siapapun yang memakannya bisa tewas detik ia menelan makanan itu. Sekalipun tikus, kecoa, ikan, dan cicak! Rise entah sedang rindu dengan dunia karirnya yang serba kamera dimana-mana nyanyi-nyanyi ga jelas sambil dengerin mp3 playernya. Dengan begini kini meninggalkan Naoto yang sibuk dengan telepon dari Dojima dan Souji yang Cuma terbengong-bengong dengan keadaan sekitar.
"Oh, begitu. Ternyata itu…oh ya….terimakasih atas infonya, Dojima-san." Klik. Ia menekan tombol merah pada permukaan Hpnya. "Senpai,"
"Ya?"
"Kok dari tadi diam saja?"
"Oh" Souji Cuma ber 'oh' lalu kembali melanjutkan bengongnya. "Oi, Naoto, kenapa kita malah ke pantai sih?"
Naoto duduk di sebelah Souji yang bangkunya kosong. "Ungg…apa aku pernah bilang villa ku ada di pegunungan? Tidak kan?"
Yups. Naoto tak pernah bilang kalau villanya di pegunungan. Souji cuma sedikit cemberut lalu kembali memandangi jajaran pantai di luar jendela bus.
"Kau tak pernah ke pantai, senpai?" Tanya Naoto yang sepertinya tertarik dengan topik itu karena melihat senpainya yang terus-terusan memandangi laut lepas di sekitar daratan.
"Uh, ya. Aku tak pernah. Yang aku ingat saat kecil hanya suasana rumah sakit." Kata Souji. Dari nadanya terdengar ia masih tak ingin menceritakannya lebih lanjut. Naoto sadar dan mulai merasa bersalah karena telah membawa topik pembicaraan yang salah. "Maaf, aku tidak tahu.."
"Hahaha, tak apa. Liburan kali ini," Souji menoleh menghadap Naoto, menatapnya lekat-lekat. "Kau harus jadi tour leader ku. Keberatan?"
Naoto tersenyum lalu dilanjutkan dengan tertawa ringan. "Hahaha, aku hanya akan merasa keberatan bila disuruh mengangkat seluruh barang yang mereka bawa." Katanya seraya menunjuk biang ribut yang sedang membuat keributan di belakang bus tentunya.
"Naoto, kurasa kau perlu melengkapi bus ini dengan peredam suara. Jika tidak bus mu bisa meledak karena mereka."
Naoto tertawa terbahak-bahak. "Huhuhu…AHAHAHAHA!! Opps, maaf-maaf. Aku jadi mulai tertular Yukiko-senpai. Ngomong-ngomong, senpai," katanya terputus sejenak. "Aku mendapat firasat buruk mendengar apa yang sedang diperdebatkan Chie-senpai dan Yukiko-senpai. Sepertinya sesuatu yang sangaaaaaat buruk akan terjadi malam ini."
"Heh, mereka sedang memperdebatkan bagaimana membuat sushi. Mungkin mereka akan memasukkan durian di dalam sushi yang akan mereka buat?" Katanya membayang-bayangkan masakan Yukiko dan Chie yang pasti berantakan. Sepertinya ialah yang harus mengurus makan malah mari ini dan seterusnya sampai mereka kembali nanti.
_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+
Baru saja mereka menginjakkan kaki di permukaan pantai yang dipenuhi pasir, mereka langsung disambut oleh…uhh…bule kesasar mungkin??? Rambutnya yang pirang dengan mata biru, benar-benar ciri khas bule. Sayang sekali tinggi badan dan gemuknya tidak sesuai dengan ciri khas para bule pada umumnya. Rambutnya kaku terangkat ke sisi kanan, sepertinya dia juga macam cowok yang suka menyebar-nyebarkan feromon seenaknya. Naoto yang menyusul mereka dari belakang langsung disambut hangat oleh bule kesasar itu.
"Nao-chan!!! Long time no see!! I missed you soooo….little???" kata si bule aneh. Naoto yang tergoda untuk berbicara bahasa tersebut oleh Teddie sama-sama membalasnya dengan bahasa yang sama.
"Nice. What are you doing here anyway?" kata si pemilik Villa tenang-tenang saja dan lancar. Rise dan Chie Cuma geleng-geleng, menandakan mereka tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan keduanya. Kanji dan Yosuke masih paham, walaupun bahasa inggris mereka tidak sefasih Souji, Yukiko, dan Naoto.
"I uhhh…I soalnya lagi liburan. Hehehehe…bahasa inggrisnya apa yah?" bule aneh itu Cuma cengar-cengir sambir menggaruk-garuk kepalanya yang basah. Souji dkk sweatdropped. Bukankah depan-depannya dia bisa bahasa inggris? Teddie kemudian mengeluarkan kamus dari balik papan seluncurnya.
"Oh, I mean, because I'm having a holiday! Hehehe." Ralat Teddie setelah membuka-buka buku panduan berbicara bahasa inggris di genggamannya.
Rise mulai kesal ditandai dengan berkacak pinggang. Frustrasi karena tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan.
"Eksekiuuuuusemi!! Bisa tolong ngomong dalam bahasa yang bisa kupahami?? Aku tak mengerti!"
Teddie menoleh menghadap si artis berkuncir 2. "Kau bilang 'eksekusi' tadi??? Baiklah, ayo kueksekusi!" Teddie melangkah mendekati Rise lalu tiba-tiba ia sudah merangkul Rise yang terkaget-kaget. Rise menjerit-jerit minta tolong. Jika saja Rise adalah Chie, pasti Teddie sudah terpental ke ujung dunia. Sayang Rise adalah kebalikan jauh dari Chie. Feminine, centil, dan cerewet.
"MUKIIII!!! Souji-senpaiii!!! Tatsukete!!!!" Souji Cuma bengong melihat tingkah si bule kesasar dan Rise yang sedang menggilai dirinya. Apa nggak kebalik yah? Seharusnya Souji menggilai si artis, bukan si artis yang menggilai Souji. Entahlah apa yang membuat Rise begitu terpikat pada Souji.
"Hei, lepaskan si centil itu. Atau kau," Kanji menarik pundak Teddie, dimaksudkan agar Teddie melepaskan Rise. "Atau kau ingin-"
"Mukyaaa!!! Preman!! Huiiiii!!!" Teddie berlari sembunyi di belakang Naoto. "My cousin!! I'm scared!!"
Si leader dari group band itu menoleh, menghilangkan bengongnya. "Kau sepupu Naoto?"
"Yuppie!! I am!!" Teddie menongolkan kepalanya sedikit, masih begitu waspada terhadap Kanji.
"Maaf semuanya. Dia ini sepupuku yang…kesasar dari amerika. Dia kemari sedang berjemur di pantai." Kata Naoto menerangkan situasi sepupunya. "Namanya Teddie."
Chie nyengir lebar. "Yeah! Teddy bear!!" kemudian diikuti dengan cekikikan Yukiko yang awalnya pelan.
"Ck…snrk…ch-…Teddy bear?? Huhu…ick…huhahahahahaAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!"
"Uh, Teddie bisa tolong Bantu kami bawa barang-barang? Kau bawa drum set itu yah." Tunjuk Naoto ke arah bagasi bus yang terbuka lebar, menjatuhkan beberapa barang dan koper-koper saking penuhnya bagasi. Teddie yang awalnya senyum-senyum kemudian mendelik melihat satu set drum yang cukup besar dan memakan waktu untuk membawanya sampai ke villa Naoto yang kira-kira 10 meter lagi dari posisinya berada.
"Teddie tak mau!!! Bisa thewas Teddie khalau dhisuruh mhengangkhat begituhan!!!" katanya lebay ditambahi 'h'. Teddie kembali celingukan dan mendapati Naoto dan yang lainnya sudah berjalan menuju ke villa, meninggalkannya dengan satu set drum yang harus dibawa bule kesasar.
"Naoto-chan tetap kejam!! Huuaaaaaa!!!!" tangis Teddie meledak.
"Haaaaahhh…leganya! Semuanya sudah beres! Tinggal pilih kamar saja!" tak disangka, ternyata villa Naoto cukup bersih dan luas juga. Ditambah dengan terletaknya villa tersebut di pinggiran pantai. Baiklah, villa yang mereka tempati itu bercorak seperti bangunan Atlantis, sepertinya karena Naoto dan kakeknya menyukai misteri. Karena Atlantis merupakan misteri benua hilang. Villa Naoto tidak bertingkat namun cukup luas yang berisikan 10 kamar, 3 kamar mandi, 2 dapur, 1 ruang makan, dan satu ruang keluarga. Oh tidak lupa juga 1 perpustakaan dan ruang musik. Itu baru apa yang ada di dalam villa, belum lagi halaman depan yang mengelilingi Villa. Halamannya dipenuhi oleh berbagai macam bunga mencapai ke sana harus melewati balkon dulu. Ditambah di sana terdapat beranda khusus untuk bersantai(seperti minum teh, bercakap-cakap, dll) ditemani dengan pemandangan laut bebas dan deru angin laut yang sepoi-sepoi.
"Waaaahh, tak kusangka Naoto punya villa yang kawaii seperti ini!!" kata Rise yang baru saja meletakkan kopernya di kamar yang baru dipilihnya. "Naoto, kau pasti tidak membeli villa ini, kan?"
"Hah? Maksudmu aku mencuri villa ini? Begitu?"
"Bukan. Maksudku…villa seindah ini jarang sekali ditemukan. Pasti keluargamu menyuruh seseorang untuk mendesain dan membangunnya kan?" cerocos Rise panjang. Naoto hanya membenarkan posisi topinya sambil duduk di sofa empuk.
"Haha, benar sekali. Dan….yang mendesain villa ini adalah ibuku, ayahku kemudian menyuruh seseorang untuk membangunnya. Sebenarnya villa ini merupakan tempat liburan keluargaku saat musim panas. Yaaah, karena mereka semua sedang sibuk saat ini maka aku lah yang mengambil alih villa ini." Naoto menceritakan sejarah villa tersebut pada sahabat artisnya.
"Oi, Rise, aku butuh bantuanmu menata kamarku!" seru Kanji dari kejauhan. Sepertinya ia memerlukan bantuan menata.
"Tidak mau! Enak saja!" tolak Rise mentah-mentah.
"Oh, jadi seperti itu balasanmu atas pertolonganku yang tadi, huh?" Rise cemberut. Bibirnya maju dua senti. "Iya-iya! Huh, menyebalkan!" lalu si artis beranjak menuju ke arah Kanji. Si Yukiko dan Chie sedang sibuk-sibuknya menata bahan makanan di lemari dapur. Yosuke sedang sibuk memilih kamar bersama Souji yang sepertinya juga kebingungan memilih kamar.
"Ah!" kata Souji kemudian, membuyarkan lamunan Naoto. "Aku pilih kamar ini saja!" seru si pemuda. Naoto nyaris teriak mengetahui bekas kamarnya dulu itu akan dipakai oleh Souji.
"Oi, Souji, kau curang memilihihnya! Kau suka kamar itu karena bisa melihat pantai, kan?" kata si anak Junes yang sedikit iri karena kalah cepat.
"Begitulah." Lalu Souji menoleh ke arah Naoto. "Naoto, kau tak keberatan 'kan kalau aku menempati kamar ini?"
Sepertinya benar-benar ada yang salah dengan Naoto. Ia hanya mengangguk-angguk saja. Bibirnya tersenyum dengan sendirinya. Menerima jawaban oke tersebut Souji langsung memasuki kamar dan mulai menata barang-barangnya. Yosuke pun memilih kamar yang ada di sebelah kamar Souji.
Tak butuh waktu benar-benar lama bagi mereka semua untuk menyelesaikan aktivitas merapikan kamar baru mereka masing-masing. Setengah jam kemudian semuanya sudah berkumpul di ruang santai, alias ruang keluarga.
"Baik, setelah ini kita mau ngpain?" Tanya Rise. Berharap teman-temannya yang lain berpendapat sama dengannya. 'pantai!!'
"PANTAI!!!!" seru yang lainnya kecuali Souji dan Naoto penuh semangat.
"Hei, itu kurang seru. Bagaimana kalau diadakan lomba fashion show bikini??? Ewww…" seru Teddie yang sepertinya sudah mulai ngeres. Naoto segera menebas kepala Teddie dengan harisen yang dibuatnya kipas-kipas tadi.
"Tidak setuju!!" teriak para cewek selain Rise yang menganggap itu sudah biasa.
"Kalau begitu lomba renang di pantai saja deh…" tawar Teddie.
"Tidak mau!!" teriak Naoto seorang diri.
"Jangan-jangan kau tidak bisa berenang yah, Naoto?" ledek Chie dan Yosuke berbarengan dengan ajaib.
"Bu-bukan itu! Tentu aku bisa renang! Cu-Cuma…" wajah Naoto bersemu merah. Ia benar-benar tak ingin melanjutkan kalimat selanjutnya. "Aku tidak suka memakai….err….pakaian yang…terlalu terbuka seperti itu." Katanya Jujur.
"Ewww," Teddie kembali mulai menggoda. "Bagaimana kalau mengenakan bikini, Nao-chan??? Pretty pweasee??" lagi-lagi bahasa inggris Teddie kacau.
"Baju renang saja tak mau apalagi BIKINI , Ted!!!"
"Oh, ayolah, Naoto-kun!" mohon Yukiko. "Jika tidak kami benar-benar terpaksa harus menggunakan cara otoriter…" katanya kemudian.
"Itu tidak akan merubah keputusanku. Aku tidak mau renang!"
criiiiing…lirikan tajam segera menghujam Naoto. Rise segera menahan Naoto dari belakang. Chie memegangi kaki Naoto supaya Yukiko lebih mudah mengikat kakinya. Tak lama Naoto sudah terikat dan segera digotong para gadis. Lagi-lagi Yosuke, Kanji dan Souji merinding.
"Ternyata para gadis itu menyeramkan…." Komentar mereka.
"Ternyata para gadis itu benar-benar imut…" komentar Teddie lain sendiri dari yang lain.
_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_
pyurrr….pyuuurrr…kecipak….kecipak…..BYOOOOORRRRR….
Baru saja para gadis melemparkan Naoto yang sudah mengenakan baju renangnya ke arah deburan ombak. Naoto mengenakan baju renang biasa. Modelnya hanya mirip dengan baju selam yang panjangnya hanya se paha tanpa lengan. Naoto malu bukan main, tersirat jelas di wajahnya yang benar-benar merah seperti baru dibakar api saja. Para cowok menyusul tak lama kemudian. Bedanya, para cewek tidak membawa apa-apa, sementara para cowok membawa papan surving.
"Yeah!! Ini akan menjadi pertama kalinya aku berseluncur! Ted, ajari aku!!" seru pemuda yang mirip preman kegirangan. Teddie berjalan mendahului pemuda yang lain mendekati deburan ombak. Yosuke juga terlihat tertarik sekali ingin berseluncur. Sementara Souji cuek-cuek saja, lalu memberikan papan surving yang dibawanya pada Naoto.
"Kau saja yang main, aku sedang tidak berminat." Singkat, padat jelas, lalu Naoto ditinggal terbengong-bengong. Souji hanya duduk di kursi pantai sambil mengenakan kacamata hitamnya, menikmati suasana pantai. Tanpa pikir panjang Naoto segera bergabung dengan Teddie yang sedang mengajari kedua pemuda yang tersisa bagaimanha cara surving.
"Duluan yah, Ted!" kata Naoto singkat kemudian menaiki papan seluncurnya mendekati ombak. Ia menindih papan seluncurnya hingga mendekati ombak yang cukup tinggi lalu berbalik dan bangkit berdiri. Dengan keseimbangan yang begitu sempurna Naoto mampu mencapai kembali pinggiran pantai tanpa terjatuh sedikitpun. Para gadis yang lain ikutan terpesona, tidak menyangka seorang Naoto bisa surving layaknya orang-orang barat yang sudah pro.
"Wow! Itu tadi keren sekali, Naoto-kun!!" sahut Yosuke dari kejauhan. "Ajari aku dong!" lanjutnya kemudian. Naoto hanya geleng-geleng kepala, menandakan ia tak ingin mengajari siapapun. Kanji pun melirik usil ke arah Souji yang sedang asyik-asyiknya bersandar di kursi pantai di bawah payung yang teduh sambil menyeruput jus apelnya yang nikmat. Souji terlihat tenang-tenang saja. Tapi sebenarnya ia selalu mengawasi gerak-gerik Naoto sedari tadi di balik kacamata hitamnya.
"Ow, yeah! Bagaimana kalau kau mengajari Souji-senpai saja, Naoto-kun?" usul Kanji setelah menemukan ide usilnya. Kanji yakin benar kalau Naoto pasti memeliki pemikiran yang berbeda jika Souji tersangkutkan. Yosuke pun juga paham akan maksud Kanji, diikuti dengan sisa anggota group band yang lain.
"Benar itu! Aku yakin sekali Nao-chan pasti mau mengajari cowok terpopuler se sekolah. Ya 'kan, Nao-chan?" kata Rise menambah-nambahi disertai dengan cengirannya yang semakin melebar. Sepertinya ia baru akan berhenti nyengir setelah menyaksikan pertengkaran Souji-Naoto.
"TIDAK!" sahut keduanya berbarengan. Entah memang sudah janjian atau Cuma kebetulan belaka.
"Yah…yah…sudah kuduga apa reaksi kalian setelah mendengar ucapan Rise tadi. Ngomong-ngomong, Naoto," Yosuke sengaja menggantung kalimat yang belum selesai ia lontarkan. Supaya menambah kesan penasaran, pikir Yosuke. "Kau punya kapal boat, atau apalah. Sepertinhya pulau kecil yang ada di sana itu menarik untuk dikunjungi." Tunjuk Yosuke sembari menanyakan adanya boat atau tidak.
"Humm…tentu saja ada, senpai. Tuh ada di sana boatnya." Ujar Naoto sambil berjalan mendekati dermaga kecil yang sudah disinggahi boat pribadi keluarga Shirogane. Entah sejak kapan boat itu muncul, Yukiko dan Chie tidak ingat ada boat khusus di sana. Rise yang sudah kelewat tertarik dengan senang hati berlari secepatnya, menyebabkan butiran-butiran pasir halus terbang kesana-kemari karena dorongan kakinya yang melaju cepat. Kanji dan Teddie batal bersurving dan ikut-ikutan mengikuti Naoto bersama yang lainnya. Kecuali satu orang. Seseorang yang sangat popular, sok cuek, pendiam, namun sangat perhatian.
"Hoi, Senpaiiii!! Kenapa Cuma duduk bengong di atas pasir saja? Ayo kemari!!" teriak Rise dari atas boat yang telah dinaikinya disertai lambaian tangan. Sementara Souji hanya sedikit bergetar saja di atas pasir. Wajahnya memucat dan memucat. Naoto yang sudah bersiap-siap menyalakan mesin botany kembali turun dan menghampiri Souji yang tampaknya tegang sekali.
"Senpai, ayolah, kau tak akan tenggelam. Percayalah padaku!" kata gadis berambut biru tua itu mencoba menenangkan pemuda yang dihampirinya. "Ayolah, senpaiii!" sahutnya kemudian sambil menyeret Souji yang masih terbujur kaku. Selama menggeret Souji, Naoto hanya mendengar teriakan histeris Souji yang cukup pelan seperti 'hiiiiiiiii'. Begitulah. Tak butuh waktu lama keduanya sudah berada di atas boat bersama yang lainnya.
Rise dan Teddie berteriak-teriak ria di atas boat yang melaju cukup kencang, Yukiko hanya duduk manis sambil menata rambutnya yang terus-terusan dikacaukan oleh semilir angin keras yang dilaluinya, Yosuke, Chie, dan Kanji sedang berebut camilan animal crackers. Jika Rise dan Teddie berteriak keras karena kegirangan, maka Souji berteriak keras karena nyaris pingsan dengan kenyataan bahwa saat ini ia sedang berada di atas boat!! Boat yang berada di atas lautan lepas!
"Na-Naoto…berhenti…." Pinta Souji pelan, suaranya nyaris hilang ditelan suara berisik motor boat.
Dasar nasib, tak seorang pun mendengar kalimat Souji. Semuanya terlalu sibuk dengan diri mereka masing-masing. Dan karena sudah tidak tahan lagi…
BYUUURRRR…
Tak seorang pun menduga bahwa ketua group band mereka akan tercebur ke laut, sekali pun Naoto tak menyadarinya. Orang pertama yang menyadarinya adalah Yosuke yang berada tepat di pinggir Souji saat si rambut abu-abu itu tercebur. Yosuke segera melompat ke laut, mencari Souji yang sudah ditelan laut biru di sekitar mereka. Teddie yang reaksinya amat sangat terlambat dalam merespon keadaan yang sedang berlangsung di sana masih teriak-teriak ria, meskipun Rise sudah berhenti teriak ria dan memulai teriak histerisnya saat menyadari senpai tercintanya tenggelam! Naoto yang kesal setengah mati dengan ke-bego an sepupunya itu menendang Teddie agar tercebur sekalian ke laut.
Di sisi lain, Souji tidak sadar kalau dia sedang berada di tengah laut. Kepalanya pusing, kelopak matanya terasa berat sekali untuk tetap terjaga, napasnya terasa mulai sesak. Hal terakhir yang dilihatnya sebelum sepenuhnya pingsan hanyalah siluet hitam yang bergerak mendekatinya.
+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+
Hal paling terakhir yang diingat Souji hanyalah siluet hitam. Ikan hiu kah? Malaikat kah?? Reaper kah??? Naoto kah??? Hah, bukan saatnya memikirkan itu. Pemuda berkulit pucat itu bangkit dari posisi tidurnya selama beberapa jam yang lalu. Selembar kain putih basah jatuh ke pangkuannya begitu ia duduk sempurna. Ah ya, pasti dia akan segera ditertawakan oleh teman-temannya seketika saat ia beranjak keluar dari ruangan yang sedang ditempatinya saat ini. Lampu ruangan itu redup, namun cukup terang baginya saat ini. Lagi pula matanya bisa-bisa lebih perih lagi jika ia melihat sinar lampu terang benderang yang bersinar-sinar di kamarnya.
TOK…TOK…
Tanpa menunggu jawaban sang pemilik kamar sementara, pintu itu segera terbuka dan menampakkan sesosok pemuda yang sebaya dengannya dengan headphone yang melingkari lehernya. Yosuke langsung masuk tanpa menunggu sekecap izin dari si pemilik sementara.
"Yo! Merasa lebih baik??" katanya tanpa basa-basi langsung duduk di pinggiran ranjang Souji.
"Yah. Setidaknya merasa lebih…tenang. Aku rasa begitu." Jawabnya dengan nada ragu.
"Ayolah, kenapa kau tidak bilang pada kami sebelumnya kalau KAU phobia laut??" jelas sahabatnya sambil menekankan kata 'kau'.
Souji hanya menggaruk pelan kepalanya. "Hah, kupikir kalian akan menertawakanku. Makanya tak kuberitahu pada siapapun. Ngomong-ngomong," katanya terpenggal sejenak. "Kenapa kulitku jadi merah semua begini??"
Yosuke kemudian tertawa-tawa pelan. Awalnya pelan, tapi akhiranya keras juga.
"He-hei! Apa yang kau lakukan padaku saat aku pingsan?!"
"Heheh…sebelum sampai di villa kau dijemur terlebih dahulu supaya kering, kau tahu kenapa?" tawar Yosuke penuh misteri sambil memancing partnernya untuk berkata 'ya'.
"Apa?"
"Kau pasti akan meledak-ledak jika aku bilang 'kami mengganti pakaianmu', benar 'kan?"
"Heh, jadi kalian menjemurku sampai kering seperti ini?? Kenapa tidak sampai aku dehidrasi sekalian saja?" sindir pemuda yang tak tahu diri ini.
"Hei, jangan marah begitu, partner. Kalau bukan Naoto, mungkin kau sudah jadi makan siang para hiu yang berkeliaran di laut bebas sana."
"Hah? Apa maksudmu?" tanyanya dengan alis berkerut. Yosuke hanya tersenyum usil nan penuh misteri. Lagi-lagi…
Yosuke pun bangkit berdiri, masih dengan tertawa kecil berjalan menjauhi Souji yang raut wajahnya penuh dengan pertanyaan. Ia bermaksud meninggalkan Souji sendirian dulu saat ini, membiarkan partnerny6a tenggelam sekali lagi. Bedanya bukan tenggelam di laut, melainkan di dalam rasa penasarannya.
"Hei, bukankah kau yang menolongku tadi saat aku tenggelam, Yos?"
Yosuke menoleh sejanak, namun posisi padannya masih tetap menghadap pintu keluar. "Siapa bilang?" lalu ia keluar dari hanya menepuk wajahnya sendiri. Kulitnya terasa nyeri karena dijemur seperti ikan asin oleh teman-temannya. Berikutnya ia memutuskan untuk menyusul Yosuke keluar dari kamar.
Naoto baru saja meneguk the hangatnya sebelum ia muncratkan keluar dari mulutnya saat Kanji dengan ringan tangan melambai ke arah senpainya dengan raut wajah riang serta lega. Rise yang….yah kalian tahulah seperti apa si biang ribut satu ini ketika melihat senpainya. Si ex-idola ini segera menghambur ke arah senpainya dan memeluknya erat-erat, lalu menumpahkan air mata kadalnya seenaknya.
"Hauuuunnn, senpai!! Risette cemas, mukya!"
Yukiko dan Chie tersenyum sambil menawari Souji teh hijau. Yosuke menyeduh kopi panasnya sambil bergetar sedikit karena menahan tawa. Teddie yang sama seperti Rise langsung nempel seperti perangko.
"Sensei! Kalau memang phobia ya katakana saja pada kami! Jangan buat kami khawatir dong!"
tunggu-tunggu. Apa ada siaran ulang?? Tidakkah Teddie memanggilnya 'senpai' barusan??? Apa Souji salah dengar ataukah Teddie yang salah bicara??
"Sejak kapan kau memanggilku 'sensei', Ted?"
"Sejak Teddie mendengar kau adalah ketua group band, sensei!"
Souji hanya menghela napas pendek. Untunglah seluruh dugaannya mengenai phobianya yang akan ditertawakan itu tidak benar-benar terjadi. Souji menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu mendapati Naoto yang memerah tanpa sebab di ujung sofa.
"Nao, kau juga dijemur ya tadi?? Kenapa mukamu merah begitu?" Tanya si innocent Souji. (dasar…~siap2 nempeleng Souji~)
"Eh, ti-ti-ti-ti-"
"Nao?"
"Ng-Nggak ada apa-apa!" katanya cepat lalu segera berlari ke arah kamarnya sendiri. Sementara senpai yang menanyainya hanya terbengong-bengong. Yukiko menepuk pundak Souji dari belakang, mengisyaratkan sesuatu padanya. Souji tampak mengangguk-angguk yang menandakan ia setuju dengan maksud Yukiko.
"Nah semuanya, bagaimana kalau kuceritakan semuanya pada…Souji-kun?? Apa itu tidak apa-apa??" kata gadis rambut hitam lurus panjang meminta izin pada teman-teman sekitarnya terlebih dahulu. Dengan serempak dan disertai senyum yang sepertinya nyaris meledak semuanya mengangguk setuju. Yukiko pun juga terlihat bersusah payah menahan tawanya.
"Err…kau tahu kan siapa yang menolongmu tadi saat tenggelam??" Tanya Yuki pertama-tama. Souji hanya membalas dengan sebuah gelengan kepala.
"Bagaimana kalau kau menebaknya terlebih dahulu?" tawar Yukiko masih mempertahankan rahasia yang sedang disembunyikannya.
"Eumm…yang jelas bukan Yosuke, apa Kanji?? Kuharap ia tak melakukan apa-apa padaku." Lalu disambut tawa seisi ruangan kecuali Kanji yang tampak cemberut.
"Bukan-bukan," kata Yukiko. "Ayo tebak lagi."
"Err…Teddie??"
kali ini giliran Kanji yang menyahuti jawaban Souji dengan sebuah gelengan mantap. "Tak mungkin Teddie kuat membawamu ke permukaan, senpai. Mengingat postur tubuh Teddie lebih…kecil dan kurus darimu…hahaha!" tanpa menunggu, Teddie langsung menggigit lengan Kanji seperti beruang liar yang kelaparan (eh, emang dia beruang kan??). "Yeooochh!!! TEDDIE!!"
kali ini si pemuda memutar otaknya untuk menebak siapa. Tidak mungkin Yukiko, Chie pun mustahil, Rise apalagi! Option terakhirnya hanya satu!
"Naoto??" katanya kemudian setelah mengambil conclusion.
"Yups! Lalu tebak apa yang dilakukannya setelah itu!" sahut Chie penuh semangat. Sampai di sini Souji tak berani melanjutkan kalimat yang sebenarnya ingin ia lontarkan untuk benar-benar memastikan dugaannya yang kemungkinan besar tepat 100%.
"Jangan bilang kalau dia…melakukan hal yang sama seperti di…film-film biasanya…"
"YEAH!!!" seru semuanya serempak sambil bertepuk tangan riuh. Untuk yang kedua kalinya, Souji nyaris pingsan mendapati dugaannya benar.
Naoto…benarkah kau…
To be Continued…
__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
HuaAA, gomen kalau saiya nge-updet nya terlalu lama!! Habisnya saiya langsung sibuk bgt begitu masuk skula, mengingat saiya skrg kls 9!!! Sialan tuh guru!! Masa hari kedua masuk sekolah udah ada 3 tugas muncul?!!! What the heck!!! Grr….dan inilah akibatnya…fic saiya lagi2 semrawut ria akibat skula. Awalnya maw bikin villa Naoto di pegunungan, tapi karena saat itu musim panas…bukankah lbh baik ke Bali??? Eh soro2…maksud saiya ke pantai. Awalnya aq maw masukin juga adegan main parasailnya, tapi sayang saiya lagi males ngetiknya…(dihajar rame2).
Huah, kalian pastinya udah tahu apa yang dilakukan Naoto terhadap Souji. Huahahaha…(kok aq jadi ganas gini sih..??) Makasiiiiiiih buaaaaaaaaanyaaak bwat para pembaca yg udah bersedia meluangkan wkt bwat bc fic saiya yg aneh bin ajaib ini( alah…ada2 aj)!! Kyuuuu…^_^
Question corner:
T: kenapa Souji phobia laut???
J: soalnya dia ga pernah tenggelam di kali wkt kecil, huahahaha (ini Cuma ide berantakan saiya loh y, bukan nyata!!)
T: kok bisa??
J: soalnya dia ceroboh, trus nyemplung dech. Bagusnya lagi…dia jadi mirip zombie karena belepotan Lumpur di sana-sini.
Werrr….gomen semuanya kalau chap ini udah kelamaan trus aneh dan ga nyambung pula! (bungkuk2 sampe lordosis) kemungkinan besar chap selanjutnya akan lama updet, mengingat saiya run out of idea, plus terima kasih kepada sekolah saiya yang dengan ringan hatinya memberi saiya tugas bejibun yang aneh2 pula. Nah, boleh saiya minta reviews nya??? (dibom karena maksa) gyaooo, sekalian minta saran, kritik, atau inspirasi dunkzz (dilempar ke lahar karena bawel) kyaaaa!!!! Rolooooongg!!! (koq jadi Scooby-doo???) en makasih bnyk bwat yg udah bersedia baca dan reviews fic yg lelet ini yach!!
