Eiji Note : Eumm... hay adakah yang masih nunggu fic aneh ini? Gomen, updatenya kayaknya lebih lama dari kemaren ya? Akhir-akhir ini Ei sering sakit jadi gak ada waktu buat nulis (-.-) Ei itu jarang sakit tapi sekali sakit lamaaaa banget :3 jadi tolong di maklumi ya (^o^) Chapter ini lumayan panjang semoga kalian gak bosen ya bacanya (^o^) Oh iya Ei dah bikin poster fic buat semua FF Ei, tapi belum sempet di pasang, kalo ada yang mau liat kalian bisa liat di fb Ei (^o^)

Desclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto. But, this fic is mine. Namikaze Eiji. So, dont be Plagiator. Dont Copy my fic. And dont Bash my story. Thank You (^o^)

Rate : M

Pairing : ItaFemNaru slight SasuFemNaru

Warning : AU,OOC,OC,Typo bertebaran, EYD jelek. No flame. Kritik dan saran yang membangun dan menggunakan bahasa yang sopan diterima. Ide pasaran.

Gak suka ! Gak usah Baca !

.

.

Summary : Yang terukir di matamu bukan lagi aku. Tapi, 'dia' yang telah mengukir namanya di hatimu. Yang terucap bukan lagi aku. Tapi, namanya yang telah tersimpan dalam memorimu. Tuhan tau, 'Cinta' ini hanya untukmu. Dan aku tau, aku tak dapat lepas darimu. Walau hatimu tak lagi milik ku.

.

.

Happy reading Minna... (^o^)

.

.

Bad Love

By.

Namikaze Eiji

.

.

Cahaya matahari pagi membuat Itachi mengerjapkan matanya perlahan, mencoba membiasakan diri dengan sinar yang tertangkap oleh matanya. Setelah mulai bisa membiasakan diri ia dapat melihat Naruto yang tengah tersenyum kearahnya dari dekat jendela.

"Tachi, kau harus bangun. Bukankah hari ini kau ada rapat?" Itachi tak menjawab ia justru kembali bergelung dalam selimut hangatnya. Naruto berdecak kesal melihat sikap Itachi. Ada apa dengan pria ini? Kenapa dia jadi sangat pemalas hari ini? Mau tak mau Naruto berjalan menghampiri Itachi untuk membangunkan pria itu.

"Bukankah hari ini kau ada rapat? Kau tidak boleh terlambat." Itachi hanya bergumam tidak jelas dari balik selimut sebagai jawaban.

"Ah, sepertinya anak kita akan menjadi pemalas jika sikap Tousan-nya seperti ini." Itachi dengan sigap menyingkirkan selimutnya begitu mendengar penuturan Naruto. Dia tersenyum hangat kearah Naruto, membuat Naruto ikut tersenyum.

"Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu." Itachi tak beranjak dari posisi duduknya, ia justru menatap Naruto lama membuat sang gadis yang menjadi objek tatapannya salah tingkah dibuatnya.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanyanya tanpa bisa menutupi semburat kemerahan yang tampak kontras di kulit putihnya. Sebuah seringai tercetak jelas di wajah Itachi melihat Naruto yang salah tingkah akibat tatapannya.

"Kau melewatkan sesuatu, honey." ujar Itachi santai sembari melipat tangannya di dada dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Alis Naruto bertaut bingung mendengar ucapan Itachi, seingatnya tidak ada yang ia lupakan. Ia mencoba mengingat-ngingat kembali apa yang ia lupakan.

"Apa yang aku lupakan? Seingatku aku sudah menyiapkan air hangat untukmu mandi, menyiapkan sarapan,menyiapkan pakaian kantormu, dan mengingatkanmu tentang rapat penting pagi ini." ujar Naruto yakin, karena seingatnya memang tidak ada yang ia lupakan. Itachi berdecak kesal melihat Naruto yang sepertinya belum paham 'maksudnya'.

"Morning kiss. Kau melewatkan morning kiss ku." Wajah Naruto memerah mendengar ucapan Itachi, ayolah ini masih pagi dan pria ini sudah meminta sebuah ciuman? Yah, meskipun Naruto sama sekali tak keberatan memberikannya. Dengan perlahan Naruto berjalan menghampiri Itachi, ia memberikan sebuah kecupan singkat pada Itachi tepat di bibir pria itu. Namun, saat akan melepas kecupan singkat itu, tangan Itachi justru melingkari pinggang ramping Naruto membuat Naruto tak berkutik dalam kungkuhannya. Bibir Itachi mulai melumat bibir Naruto, ciuman kali ini lebih terkesan lembut seolah lewat ciuman ini Itachi ingin menyampaikan perasaannya, sebuah hisapan pada bibir bawah Naruto memgakhiri ciuman pagi mereka. Naruto merunduk malu setelah ciuman itu, entah mengapa setiap kali Itachi menciumnya wajahnya pasti akan memerah dan sebuah gelenyar hangat akan menjalari hatinya.

"Kau manis jika sedang merona seperti itu." bisik Itachi sembari menyembunyikan kepalanya pada perpotongan leher Naruto menghirup aroma citrus yang menguar dari tubuh istrinya. Setelah merasa cukup ia melepaskan pelukannya pada Naruto dan berjalan menuju kamar mandi.

.

.

Naruto bersenandung kecil sembari menyiapkan meja makan untuk sarapannya dan Itachi hari ini. Ia tersenyum puas melihat masakannya yang telah tersusun rapih diatas meja makan. Sebuah tangan melingkari pinggangnya, tak perlu menengok pun ia sudah tau pemilik tangan ini, siapa lagi kalau bukan suaminya. Ah, Naruto rasanya tak akan bisa berhenti tersenyum saat mengingat kata suami. Sungguh dalam khayalannya pun ia tak pernah membayangkan bahwa semua ini akan terjadi padanya. Pernikahan yang di dasari tanpa cinta dan lebih terkesan pada keterpaksaan ini pada awalnya kini telah berubah menjadi pernikahan yang dia impikan.

"Hari ini kau memasak banyak." Naruto bergumam sebagai jawaban. "Jika begini terus aku yakin dalam beberapa bulan ke depan aku pasti akan menderita obesitas." Naruto terkekeh geli mendengar ucapan Itachi.

Mereka sarapan dalam diam, namun kesan hangat sangat kentara di ruang makan ini. Setelah selesai sarapan, Naruto memasangkan dasi Itachi yang belum terpasang sempurna hal ini sudah menjadi rutinitasnya setiap pagi. Setelah merasa penampilan Itachi telah rapih, Naruto mengantar Itachi sampai depan pintu mansion Uchiha.

"Hati-hati dan jangan lupa makan bekal yang kubuatkan untukmu." Itachi tersenyum simpul lalu mengacak rambut Naruto gemas. "Kau juga jangan lupa minum vitamin yang dokter berikan untukmu." Naruto mengangguk, sebuah senyuman merekah di wajah cantiknya.

"Tentu."

Bad Love

Bulan ke empat

Kini usia kehamilan Naruto telah memasuki bulan ke empat. Naruto tengah bersantai di ruang tengah keluarga sembari menonton acara televisi kesukaannya atau mungkin lebih tepat film kartun kesukaannya. Tak jarang Naruto tertawa melihat adegan konyol film tersebut.

Ting...Tong...

Suara bel rumah mengalihkan fokus Naruto. Ia berjalan menuju depan untuk melihat siapa yang datang.

"Kaasan." Mikoto langsung berhambur memeluk Naruto begitu pintu terbuka.

"Kaasan merindukanmu Naru." ujarnya setelah melepas pelukan itu. Naruto tersenyum mendengar ucapan ibu mertuanya. "Aku juga Kaasan."

"Naru ayo ikut Kaasan?"

"E-eh, kemana Kaasan?"

"Kita akan membeli baju hamil untukmu. Jadi cepat kau ganti baju."

.

.

Dan disinilah mereka berdua berakhir disebuah toko yang menjual baju-baju untuk ibu hamil. Mata Naruto tak bisa berhenti menatap kagum kearah baju-baju yang ada di toko ini, hanya satu kata yang mampu menggambarkanmya. Indah. Tak hanya desain bajunya yang indah namun kain yang di gunakan untuk membuat baju ini juga sangatlah halus di kulit. Ia yakin harga baju-baju disini pastilah sangat mahal mengingat kualitasnya yang tak perlu di ragukan lagi.

"Naru, bagaimana dengan baju ini." Naruto memandang baju yang ditunjukan oleh Mikoto, baju berwarna pink soft itu memang sangat manis meski desainnya terlihat sederhana namun desain baju ini seolah menggambarkan kesederhanaan dan kehangatan seorang ibu. Naruto mengangguk setuju, Mikoto tersenyum senang melihat Naruto yang tampak menyukai baju pilihannya.

Setelah puas membeli beberapa baju ibu hamil mereka memutuskan untuk beristirahat di sebuah restoran tradisional jepang. Mikoto memesan banyak makanan seperti teriyaki, tempura, shabu-shabu, dan sukiyaki. Ia tersenyum simpul saat melihat Naruto yang tampak sangat menikmati makanannya. Mikoto memang sengaja memesan banyak makanan, mengingat nafsu makan wanita hamil memang lebih besar dari biasanya. Setelah selesai mengisi perut mereka, Mikoto mengajak Naruto pergi ke salon kecantikan.

"Sebagai wanita terutama seorang istri kita harus tampil lebih cantik terutama di depan suami kita." itulah yang Mikoto katakan sebelum mengajak Naruto pergi ke salon. Mereka melakukan berbagai perawatan kecantikan yang Naruto sendiri pun tak terlalu ingat namanya. Jujur saja, Naruto sendiri bisa di bilang sangat jarang pergi ke salon untuk melakukan hal seperti ini. Dia memang pernah pergi ke salon beberapa kali itupun atas dasar ajakan sahabatnya Ino, namun ia tak tau ada berbagai macam perawatan kecantikan yang baru dikenalnya. Seperti sekarang mereka tengah melakukan spa tubuh. Naruto merasakan tubuhnya sangat nyaman dan rileks. Dia memang tak biasa memanjakan tubuhnya seperti ini karena alasan sibuk mencari uang. Namun, Naruto merasa sangat bersyukur karena sekarang ia bisa merasakannya.

Hari sudah menjelang sore, ketika mereka selesai memanjakan tubuhnya di salon. Naruto merasa sangat senang hari ini, Mikoto benar-benar membuatnya merasa mendapat sosok kasih sayang seorang ibu yang selama ini tak pernah ia dapatkan.

Bad Love

Bulan ke lima

Usia kehamilan Naruto kini telah memasuki bulan ke lima, perutnya kini mulai lebih tampak membuncit dari sebelumnya. Untunglah sebelumnya ia dan Mikoto telah mempersiapkannya dengan membeli baju-baju untuk ibu hamil.

Naruto mematut tampilannya di depan cermin besar yang ada di kamarnya dan Itachi. Sedari tadi ia tak beranjak sedikitpun dari hadapan cermin. Terkadang alisnya bertaut saat memperhatikan bayangannya di cermin. Karena terlalu asik melihat pantulan dirinya di cermin, ia tak sadar kini Itachi telah berdiri tepat di belakangnya dan memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi.

"Apa yang kau lihat?" pertanyaan Itachi sedikit membuat Naruto terlonjak kaget. Ia membalikkan badannya kearah Itachi, membuat posisi mereka kini saling berhadap-hadapan.

"Tachi, lihat aku." alis Itachi bertaut bingung mendengar ucapan Naruto yang menurutnya sedikit aneh. "Apa aku terlihat gemuk memakai baju ini?" tanya Naruto. Ah, sekarang Itachi mengerti maksud ucapan Naruto. Ia tersenyum simpul melihat tingkah Naruto. Sekarang ia mengerti kenapa istrinya sejak tadi enggan beranjak dari cermin. Ia hampiri Naruto mendekatkan jarak antara mereka berdua, setelah tepat berada di depan Naruto, ia acak rambut gadis itu sayang sebelum membawanya ke dalam dekapan hangatnya. Ia ciumi puncak kepala Naruto beberapa kali.

"Kau memang terlihat lebih gemuk dari sebelumnya..." Naruto cemberut di sela-sela dekapan Itachi saat mendengar ucapan Itachi yang bisa di bilang terlalu jujur -sangat. "Tapi kau tahu? Itu hal yang wajar mengingat kau tengah hamil. Lagipula kau semakin seksi sekarang, aku suka." ucap Itachi di selingi kekehan geli di akhir kalimatnya sebelum mengeratkan dekapan hangatnya pada tubuh Naruto. Naruto merona malu mendengar ucapan Itachi yang bisa di bilang benar, tubuhnya memang lebih gemuk dari sebelumnya dan hal ini membuat payudaranya lebih besar dari ukuran sebelumnya. Sayang sekali sang sulung Uchiha tak bisa melihat wajah merona istrinya mengingat posisi Naruto yang berada dalam dekapannya.

Bad Love

Hari ini adalah hari libur, Naruto dan Itachi kini tengah bersantai di taman belakang. Mereka berdua duduk di kursi taman tepat di bawah pohon sakura. Kepala Naruto bersandar nyaman di pundak kokoh Itachi.

"Tachi, kau ingin anak laki-laki tau perempuan?" tanya Naruto ia sedikit memengadahkan kepalanya, menatap mata oniks Itachi langsung. Itachi berpikir sejenak. "Laki-laki atau perempuan tak masalah bagiku. Tapi aku ingin anak pertama kita laki-laki." Naruto mengangguk-nganggukkan kepalanya mendengar ucapan Itachi, sebelum kembali bertanya. "Memangnya kenapa jika anak kita perempuan?"

"Aku ingin dia meneruskan bisnisku. Tapi, kau jangan jadikan ini sebagai beban. Karena aku akan tetap menyayangi anak kita baik dia laki-laki atau pun perempuan."

"Terimakasih..." ucap Naruto tulus.

Bad Love

Bulan ke enam

Jarum jam telah menujukkan tepat pukul dua belas malam, namun Naruto tak kunjung dapat menutup matanya. Ia terus bergerak-gerak gelisah di tempat tidurnya, terkadang ia membalikkan tubuhnya menghadap kanan dan tak lama ia berganti posisi menghadap kearah kiri. Sikap Naruto tak luput dari perhatian Itachi, pria ini memang sudah terbangun beberapa saat lalu karena pergerakan Naruto.

"Kau kenapa? tak bisa tidur,hm?" Naruto menganggukkan kepalanya lalu menatap Itachi yang berbaring di sampingnya.

"Tachi, aku ingin sukiyaki." Itachi menghembuskan nafasnya saat mendengar permintaan Naruto. Ayolah ini sudah tengah malam, apa ada restauran tradisional Jepang yang masih buka pada jam sekarang?

"Ayolah kumohon." Naruto mengguncang pelan lengan Itachi, meminta agar keinginannya di penuhi. Mau tak mau Itachi beranjak dari tempat tidur, dengan sedikit mengantuk ia mencari kunci mobilnya.

.

.

Itachi mencoba fokus membaca dokumen yang ada di tangannya tak jarang ia memijat pelipisnya yang terasa pening hal ini tak luput dari perhatian Kakashi yang berdiri di hadapan Itachi.

"Anda nampak kurang sehat tuan." Itachi menghembuskan nafasnya mendengar penuturan Kakashi, ia taruh dokumen itu di meja kerjanya lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

"Apa terlihat sangat jelas?" tanyanya.

"Ya. Anda seperti kurang tidur." tanpa mendengar jawaban Itachi pun Kakashi sudah tahu bahwa tuan mudanya ini kurang tidur hal ini terlihat jelas dari kantung mata Itachi yang sedikit menghitam, namun ia tak tahu apa yang menyebabkan tuannnya kurang tidur. Sebenarnya penyebabnya adalah Naruto atau mungkin lebih tepatnya permintaan Naruto semalam. Semalam Itachi harus mengelilingi kota Konoha untuk membelikan Naruto sukiyaki hingga mengakibatkan ia kurang tidur.

"Jam berapa rapat dimulai?"

"Sekitar dua jam lagi tuan."

"Aku ingin tidur sebentar, bangunkan aku lima belas menit sebelum rapat." Kakashi mengangguk mengerti mendengar perintah Itachi.

Itachi tiba di mansionnya menjelang malam, ia melangkah lelah saat memasuki mansionnya. Matanya melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah jam sembilan malam, sebenarnya hari ini ia berniat pulang lebih awal untuk beristirahat, namun lagi-lagi ia harus menunda niatnya itu saat mendapat pesan dari Naruto yang menyuruhnya untuk membeli kue dorayaki persis seperti di filem kartun kesukaannya. Ia berjalan menuju dapur untuk menghilangkan rasa hausnya, ia dapat melihat makanan yang telah tersaji dengan rapih di meja makan, namun dari tadi ia belum melihat keberadaan Naruto, biasanya gadis itu akan menunggunya sembari menonton filem kesukaannya di ruang keluarga namun di ruang keluarga pun ia tak melihat Naruto.

Itachi berjalan memasuki kamar, saat membuka pintu ia melihat Naruto yang telah terlelap dengan nyaman diatas tempat tidur. Ia menghela nafas pelan, sebelum berjalan menghampiri Naruto. Ia dudukan dirinya disamping tempat tidur persis di sebelah Naruto. Ia belai lembut rambut Naruto, tersenyum simpul melihat Naruto yang tampak sangat nyenyak. Awalnya ia sedikit merasa kecewa mengingat saat Naruto bangun mungkin kue dorayaki itu tak lagi hangat, tapi tak apalah ia kan masih bisa menghangatkannya kembali dengan menggunakan microwave.

Bad Love

Bulan ke tujuh

Hari ini adalah hari libur, hari dimana semua orang menghabiskan waktunya bersama keluarga sekedar hanya untuk bersantai atau berjalan-jalan. Hari ini Naruto dan Itachi berencana untuk pergi bersama ke kuil Kiyozumi di Kyoto. Memerlukan waktu sekitar tiga jam untuk sampai ke kuil itu, selama perjalanan Naruto tak henti bicara sedangkan Itachi hanya mendengarkannya meski tak jarang ia menjawab ucapan Naruto jika memang hal itu memerlukan jawaban.

Naruto dan Itachi turun bersama saat sampai di kuil Kiyozumi, mereka berdua berjalan bersama sambil bergandengan tangan. Kuil Kiyozumi sendiri merupakan kuil terbesar di Kyoto, nama kuil ini diambil dari air terjun yang mengalir di tebing bukit yang berarti air suci.

Naruto menatap kagum bangunan di kuil ini, di sampingnya Itachi hanya bisa tersenyum tipis melihat raut wajah kagum dan bahagia Naruto. Bangunan utama kuil ini terbuat dari kayu dengan sebuah beranda luas ditopang pilar-pilar kayu di sisi sebuah bukit. Kuil Kiyozumi sendiri merupakan kuil budha kuno yang di bangun pada tahun 780 semasa periode Heian. Naruto dan Itachi berjalan menuju belakang kuil utama disana terdapat kuil Jishu-Jinja yang di depannya terdapat sepasang batu.

"Tachi, kau tau? Ada sebuah mitos tentang kuil ini." ucap Naruto semangat sembari tersenyum manis. Itachi memandang Naruto, menunggu kelanjutan cerita gadis itu. " Katanya jika kita datang ke kuil ini bersama orang yang kita cintai dan berciuman di sini maka mereka akan terus hidup bersama selamanya hingga ajal datang menjemput mereka kelak."

"Kau lihat sepasang batu yang ada di sana." Mata Itachi mengikuti arah telunjuk Naruto yang mengarah pada sepasang batu. "Batu itu di kenal dengan batu cinta atau batu keabadian, dulu ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Karena suatu perang pada zaman itu mereka terpaksa harus berpisah selama beberapa waktu. Mereka berdua berjanji untuk kembali bertemu di kuil ini." Naruto menjeda ceritanya sesaat, mata safirnya terlihat berubah menjadi sendu.

"Sang pria menepati janjinya untuk memenangkan perang dan kembali bertemu di kuil ini. Pria itu dengan setia menunggu kehadiran kekasihnya, namun...sang gadis tak pernah datang. Tak lama ia mendengar kabar bahwa gadis yang ia cintai telah meninggal karena sakit. Untuk mengenang kekasihnya ia membuat sepasang patung. Patungnya dan patung gadis itu sebagai simbol bahwa dia akan selalu mencintai gadis itu meski gadis itu telah pergi. Itulah mengapa sepasang batu itu disebut sebagai batu cinta atau batu keabadian." ujar Naruto mengakhiri penjelasannya. Ia mengalihkan pandangannya membuat mata safir dan oniks itu bertemu, sebuah senyum lembut menghiasi wajah cantiknya membuat Itachi pun ikut tersenyum membalas senyuman itu. Ia menarik tangan Naruto mendekatkan jarak antara mereka, lalu memeluk Naruto lembut mengingat kini tengah ada sosok mungil di antara mereka.

"Bagaimana kalau kita melakukannya?" goda Itachi, rona merah langsung menjalari wajah Naruto saat mengerti maksud ucapan Itachi barusan. Tanpa meminta jawaban, Itachi mencium Naruto, hanya ciuman lembut yang penuh cinta tidak lebih.

Bad Love

Hari ini adalah jadwal cek up Naruto. Tak seperti sebelumnya kali ini ia pergi bersama Itachi. Jadwal cek up hari ini sekaligus untuk melakukan USG terhadap bayi Naruto. Naruto duduk di kursi tunggu, sedangkan Itachi tengah mendaftar. Mata Naruto menatap sekeliling, disini banyak wanita-wanita hamil sama sepertinya. Ia tersenyum saat Itachi berjalan menghampirinya. Mereka duduk bersama dalam diam, jujur saja Naruto bingung ingin mengajak bicara, namun ia tak tau hal apa yang ingin dia bicarakan belum lagi perasaan gugup kini lebih dominan. Ia benar-benar gugup sekarang.

Diruang pemeriksaan Naruto tengah di periksa. Suster yang ada di sampingnya mempersiapkan alat-alat yang di perlukan untuk USG. Di sampingnya berdiri Itachi, tangan Itachi mengusap lembut permukaan tangan Naruto saat melihat raut gugup dari gadis itu, menenangkannya. Dokter mulai memeriksanya, sang dokter mulai memberikan penjelasan pada tampilan gambar mungil yang ada di layar monitor. Mata Naruto menatap haru pada gambar yang ada di layar monitor, jadi seperti itukah bentuk bayinya? Meskipun wujudnya memang belum terbentuk sempurna namun rasa untuk menyayangi dan melindunginya sudah tertanam kuat dalam diri Naruto. Disampingnya Itachi pun tak bisa menahan senyum bahagianya.

Mansion Uchiha

Itachi menyandarkan kepalanya pada kepala ranjang, matanya dengan teliti membaca dokumen-dokumen tentang saham Uchiha corp yang ada di tangannya. Disampingnya, Naruto menyandarkan kepalanya dengan nyaman pada bahu kokoh Itachi. Matanya tak henti memandangi gambar USG anaknya terkadang ia tersenyum lembut sambil mengusap gambar itu. "Dia begitu kecil." ucapan Naruto mengalihkan perhatian Itachi dari dokumen-dokumen yang berada di tangannya.

"Meskipun dia terlihat kecil, namun aku yakin saat dia besar nanti dia akan menjadi laki-laki yang kuat." Naruto tersenyum mendengar ucapan Itachi.

"Kau akan menjadi laki-laki yang kuat kelak." Naruto tersenyum lembut melihat Itachi yang berbicara di dekat perut besarnya. Tangan pria itu mengusap lembut perut Naruto, menyalurkan kasih sayangnya sebagai seorang ayah.

Bad Love

Bulan ke delapan

Tak terasa hari terus berlalu, kehidupan Itachi dan Naruto tampak sangat bahagia belum lagi sebentar lagi mereka akan kehadiran satu anggota keluarga baru. Naruto tengah mempersiapkan pakaian dan barang-barang yang akan di bawa Itachi selama perjalanan bisnisnya, rencananya ia akan pergi ke Inggris selama tiga minggu untuk mengurus salah satu cabang perusahaan Uchiha Corp yang ada di sana.

Itachi berjalan menghampiri Naruto yang tampak sibuk dengan kegiatannya. Dipeluknya Naruto dari belakang. "Aku pasti akan merindukanmu dan dia." ujarnya seraya mengusap pelan perut Naruto yang kini tampak membesar mengingat ini sudah menginjak bulan ke delapan. Naruto tersenyum tanpa membalikkan badannya, tangannya dengan terampil melipat pakaian Itachi lalu memasukannya ke dalam koper yang akan di bawa Itachi. Setelah selesai ia membalikkan badannya, merapikan dasi Itachi lalu mengusap pundak Itachi pelan. "Aku dan dia juga pasti akan merindukanmu." Itachi mengecup puncak kepala Naruto beberapa kali sebelum mengeratkan pelukannya. Naruto menyandarkan kepalanya dengan nyaman pada dada bidang Itachi menikmati masa-masa kebersamaannya sebelum kepergian Itachi.

Bad Love

Itachi memainkan tabletnya ia tengah mengamati kondisi cabang perusahaannya di Inggris yang mengalami sedikit masalah hingga membuatnya harus turun tangan secara langsung. Sebenarnya dia enggan pergi kesana, dia lebih suka berada disini bersama Naruto dan calon anaknya namun sebagai seorang pemimpin perusahaan besar ia harus bersikap profesional, mengingat banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada pundak Itachi. Cabang perusahaan itu memang bermasalah dan sepertinya Itachi harus sedikit mengubah kinerja perusahaan. Setelah selesai membaca mengenai permasalahan yang ada di cabang perusahaannya, ia menatap lama walpaper yang ada di tabletnya. Foto Naruto yang tengah tersenyum dengan baju hamilnya dan sebuah bunga camelia merah yang melekat pada samping telinganyalah yang ada pada layar tablet itu. Seulas senyuman terbit di wajah rupawannya, tangannya mengusap lembut layar tabletnya seolah itu adalah wajah Naruto sungguhan. Narutonya benar-benar cantik, itulah yang ada di pikirannya. Matanya menerawang saat melihat bunga camelia merah yang melekat pada samping telinga gadis itu.

.

.

Flashback On

Angin berhembus menerpa wajah cantiknya yang tengah terduduk pada sebuah kursi taman, jemari lentiknya sibuk merajut benang wol menjadi sebuah baju yang lucu. Sebuah senandung kecil terdengar dari bibirnya. Ya, Naruto kini tengah berada di taman belakang mansion Uchiha. Tempat favoritnya. Karena terlalu asik ia bahkan tak menyadari kehadiran Itachi yang telah berada di belakangnya jika saja tangan pria itu tak mengusap kepalanya lembut. Naruto mendongakkan kepalanya lalu tersenyum lembut kearah Itachi. Dikecupnya bibir Naruto, sebelum ia berjalan memutari kursi lalu mendudukan dirinya di samping Naruto.

Naruto kembali asik dengan kegiatan merajutnya, disampingnya Itachi mengamatinya dalam diam.

"Okusan, Aishiteru yo." Naruto mengalihkan perhatiannya lalu menatap tak percaya kearah Itachi. Pria ini baru saja menyebutnya istri dan menyatakan cinta padanya? Ia dapat melihat Itachi yang tengah tersenyum tulus kearahnya, tangannya terangkat lalu mengusap lembut pipi Naruto. "Mungkin agak sedikit terlambat, tapi aku tetap ingin mengatakannya." ujarnya lembut namun ketegasan tampak jelas dari setiap kata yang ia ucapkan. Mata Naruto berbinar bahagia mendengar ucapan suaminya.

"Aishiteru mo." Itachi mengambil sebuah bunga, lalu meletakannya di samping telinga Naruto.

"Cantik." semburat merah menghiasi pipi putihnya.

"Ini bunga apa Tachi?"

"Camelia merah. Kau tahu, bunga ini melambangkan kesempurnaan. Sama sepertimu Naru, yang menyempurnakan hidupku." Naruto memukul pundak Itachi pelan mendengar rayuan yang di lontarkannnya.

"Tersenyumlah, aku ingin memfotomu." Itachi pun memfoto Naruto yang tengah tersenyum kearah kamera, setelah itu mereka pun berfoto bersama dan melakukan selfie bersama.

Flashback Off

.

.

Itachi tersenyum saat mengingat kejadian itu. Ia menghela nafas pelan, ini bahkan belum satu hari ia pergi namun sekarang dia sudah merindukan malaikatnya itu dan malaikat kecilnya.

Drrrtt...Drrrtt

Getaran pada ponsel Itachi mengalihkan perhatian Itachi.

"Little brother, bagaimana kabarmu?

"Baik. Dan Nii-san bukankah aku sudah sangat sering mengatakan padamu untuk tidak memanggilku seperti itu." terdengar suara dengusan tidak suka dari sebrang sana. Itachi terkekeh geli sebagai jawaban.

"Selamat kau sudah menyelesaikan kuliahmu." Itachi tersenyum tulus, ia ikut merasa bahagia atas keberhasilan Sasuke.

"Hn. Kau juga Nii-san, bukankah sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah?" Seulas senyum kembali terbit di wajah Itachi. "Selamat, maaf aku belum bisa memberikan hadiah padamu."

"Hn. Tak apa. Kaasan, selalu menanyakan kepulanganmu kapan kau pulang? Ah, sayang sekali mungkin saat kau pulang aku tidak ada di sana."

"Hmm, tak apa aku mengerti Nii-san. Selesaikan saja pekerjaanmu dengan baik lalu pulang."

"Kabari aku jika kau sudah sampai jepang." Sasuke ber-hn- ria sebagai jawaban.

Bad Love

Kring kring

Bunyi lonceng tanda pengunjung masuk menandakan bahwa ada seorang pengunjung yang memasuki toko bunga ini.

"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya sang pelayan tokoh ramah.

"Kau mencari bunga untuk siapa?" tanyanya lagi.

"Untuk seseorang yang spesial."

"Ah, aku mengerti bagaimana jika bunga mawar merah atau bunga calla lily?" ujar sang pelayan toko memberi saran. Sasuke tersenyum sopan sebagai jawaban.

"Aku sudah memilih bunga yang ingin kubeli." sang pelayan toko mengangguk mengerti.

"Aku ingin sebuket bunga tulip putih dan bunga tulip merah. Ah, tolong tambahkan kartu ucapan di dalamnya."

"Kau ingin menulisnya sendiri atau-"

"Aku akan menulisnya sendiri." ucap Sasuke memotong perkataan sang pelayan.

Flashback On

"Jangan terus berlari seperti itu Dobe! Kau tau, kau seperti anak kecil." Naruto mendengus mendengar ejekan yang di tujukan Sasuke padanya.

"Siapa peduli!" jawabnya cuek seraya menjulurkan lidahnya ke arah Sasuke. Sasuke berdecak kesal melihat sikap keras kepala Naruto yang tak mau mendengar ucapannya.

Bruukk...

Naruto terjatuh dengan suara debaman yang cukup keras, Sasuke langsung berlari menghampirinya.

"Ck, dasar Dobe! Bukankah aku sudah memperingatkanmu." lain dimulut lain di hati, meskipun Sasuke membentaknya namun sebenarnya pemuda ini sangat khawatir dengan keadaan Naruto. Cairan bening nampak mengenang di pelupuk mata Naruto. "Gomen.." ucapnya yang lebih menyerupai bisikan saking pelannya untunglah Sasuke masih bisa mendengarnya. Sasuke menghembuskan nafasnya kasar, lalu membantu Naruto bangkit. Dia berjongkok membelakangi Naruto. "Naiklah ke punggung ku..."

"Tapi aku berat..."

"Tak papa, cepat naiklah.." dengan wajah yang merona merah karena malu akhirnya Naruto menuruti perintah Sasuke dan menaiki punggung pemuda itu. "Maaf merepotkanmu." bisiknya di samping telinga Sasuke seraya mengeratkan pegangan tangannya.

"Kau benar, kau itu sungguh merepotkanku...namun aku tidak keberatan jika itu kau Naru." Naruto mencubit pundak Sasuke pelan mendengar rayuan kekasihnya. "A-aahhkk, kenapa kau mencubitku?" ucapnya kesal.

"Kau memang pantas mendapatkannya." ucap Naruto santai.

Mereka berdua terus berjalan dengan Naruto yang berada dalam gendongan Sasuke. Seragam sekolah masih membalut tubuh mereka. Selama berjalan mengitari taman bunga ini Naruto tak henti berceloteh ria yang kadang hanya di balas dengan jawaban singkat Sasuke. Sasuke menghentikan langkahnya saat matanya melihat kursi taman yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Kau duduklah disini. Aku akan mencari obat untuk mengobati lukamu, mengerti?" Naruto mengerucutkan bibirnya lucu mendengar perintah Sasuke, sebelum mengangguk-nganggukkan kepalanya.

"Good girl."

.

.

Naruto menunggu kedatangan Sasuke, untuk menghilangkan rasa bosannya terkadang ia bersenandung kecil atau bernyanyi.

Doushite...

Kimi wo suki ni natte shimattan darou?

( Mengapa aku akhirnya jatuh untukmu? )

Donna ni toki ga nagarete mo kimi wa zutto

( Tak perduli berapa banyak waktu yang telah berlalu )

Koko ni iru to omotteta noni

( Tapi kau memilih jalan yang berbeda )

Demo kimi ga eranda no wa chigau michi

Doushite...

( Menga aku tidak bisa menyampaikan kepadamu )

Kimi ni nani mo tsutaerarenakattan darou?

( Perasaanku yang tumbuh setiap hari? )

Mainichi maiban tsunotteku

( Kata-kata mulai meluap )

Afuredasu kotoba akatteta non mou todokanai

( Tapi aku tahu, mereka tidak akan menyentuhmu sekarang )

Hajimete deatta sono hi kara

( Dari hari pertama aku bertemu denganmu )

Kimi wo shitteita ki ga shittanda

( Aku merasa, aku mengenalmu )

Amari ni shizen ni tokekonde shimatta futari

( Dan akhirnya kita berdua menyatu secara alami )

Doko ni iku nori mou issho de kimi ga iru koto ga touzen de

( Kemanapun kita pergi, kita selalu bersama )

Bokura wa futari de otonani natte kita

( Hal itu begitu alami bagimu untuk pergi denganku )

Demo kimi ga eranda no wa chigau michi

( Kita menjadi dewasa bersama-sama, tapi kau memilih jalan yang berbeda )

Doushite...

Kimi wo suki ni natte shimattan darou?

( Mengapa akhirnya aku jatuh untukmu? )

Donna ni toki ga nagarete mo kimi wa zutto

( Tidak peduli berapa banyak waktu yang telah berlalu )

Koko ni iru to omotteta noni

( Aku berpikir bahwa kau akan selalu disini )

Mou kanawanai

( Tapi sekarang tidak lagi )

Tokubetsuna imi wo motsu kyou wo

( Hari ini adalah hari yang spesial )

Shiawase kao de tatsu kyou wo

( Hari dimana kau berdiri dengan senyum kebahagiaan )

Kireina sugata de kami sama ni chikatteru, kimi wo

( Aku berdoa kepada Tuhan, untukmu )

Boku janai hito no tonari de

( Untuk orang yang berdiri di sebelahmu, walaupun itu bukan aku )

Shukufuku sarateru sugata wo

( Semoga kau bahagia )

Boku wa douyatte miokureba ii no darou?

( Aku hanya bisa berdiri dari sini dan melihatmu )

Mou doushite...

Kimi ga suki ni natte shimattan darou?

( Jadi mengapa aku akhirnya jatuh untukmu? )

Ano koro no bokura no koto

( Kita tak bisa kembali ke 'waktu itu' )

Mou modorenai

( Atau bagaimana kita )

Kangaeta Modorenai

kangaeta

( Dan bagaimana tentang kelanjutan hubungan ini )

Doushite...

Kimi no te wo tsukami ubaenakattan darou?

( Mengapa aku tidak dapat menggapai tanganmu? )

Donna ni toki ga nagarete mo kimi wa zutto

( Tidak peduli berapa banyak waktu yang telah berlalu )

Boku no yoko ni iru hazu datta

( Aku ingin kau selalu berada disisiku )

Sono mama nii

( Namun sekarang hal itu tidak akan pernah terwujud )

Soredemo kimi ga boku no soba nara to itte mo

( Tapi meskipun aku mengatakan aku ingin selalu bersamamu )

Eien ni kimi ga shiawase de iru koto

( Aku hanya berdoa dan berharap bahwa kamu akan bahagia )

Tada negatteru

( Selamannya )

Tatoe sore ga donna na sabishikute mo

( Tidak peduli jika hal itu akan membuat hatiku sakit )

Setsunakute mo

( Dan juga kesepian )

Why Did I Falling in Love With You

Original Song

By.

DBSK

.

.

Selagi bernyanyi Naruto memejamkan matanya, mencoba meresapi makna dari setiap kata yang ada dalam lagu kesukaannya itu.

"Itu lagu yang indah..." Naruto menengokkan kepalanya kebelakang saat mendengar suara Sasuke, ia tersenyum kearah Sasuke. Saat akan mencoba bangkit dari tempat duduknya ia meringis sakit karena luka pada bagian lututnya.

"Ck, dasar Dobe.." wajah Naruto memberengut kesal saat Sasuke mengejeknya. Sasuke berjalan menghampiri Naruto lalu berlutut di depannya. Di usapnya dengan hati-hati luka Naruto dengan tisu basah, setelah bersih, dengan sabar ia memberi luka itu obat merah. Naruto meringis kecil saat Sasuke membubuhkan obat merah pada lukanya.

"Tahan sebentar..." dengan hati-hati Sasuke meniup-niup kecil luka yang ada pada lutut gadisnya, berusaha mengurangi rasa sakit yang dirasakan Naruto.

"Selesai.." Sasuke tersenyum simpul seraya mendongakkan kepalanya pada Naruto karena posisi Naruto yang lebih tinggi darinya.

"Terimakasih..." dengan cepat Naruto mengecup pipi kanan Sasuke, setelah itu dia segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Mencoba menutupi rona merah pada pipi putihnya.

Sasuke terdiam membeku di tempatnya, dia masih merasa terkejut dengan sikap Naruto yang menciumnya duluan. Tak berapa sebuah seringai jahil muncul di wajah tampannya.

"Aku baru sadar jika kekasihku ternyata cukup agresif." Ia terkekeh geli melihat Naruto yang melotot kearahnya, jujur saja meskipun Naruto melotot dan melayangkan tatapan membunuhnya pada Sasuke hal itu sama sekali tidak menyeramkan justru sebaliknya ia terlihat sangat lucu dan menggemaskan secara bersamaan di mata Sasuke.

.

.

Hari sudah menjelang sore ketika Sasuke dan Naruto pergi meninggalkan taman itu.

"Terimakasih sudah mengajakku ke tempat ini...disini indah, bunga-bunganya juga indah. Emm, Suke dari mana kau tau aku suka bunga?" tanya Naruto penasaran.

"Tentu saja dari sikapmu. Kau akan sangat bersemangat jika sudah membicarakan tentang bunga. Dan ku akui kau cukup pintar jika menyangkut tentang bunga."

"Kau ini sebenarnya ingin memujiku atau mengejekku." ucap Naruto sedikit kesal karena ucapan Sasuke yang memujinya dan mengejeknya secara bersamaan. Sasuke terkekeh geli mendengar protes yang dikeluarkan Naruto. "Dua-duanya." jawabnya santai.

"Kau suka bunga apa Naru?" pertanyaan Sasuke yang tiba-tiba sedikit menyentak Naruto. Ia terdiam sejenak berpikir jawaban apa yang akan ia berikan pada Sasuke.

"Emmm...kurasa bunga tulip putih dan merah." Sasuke tersenyum mendengar jawaban Naruto.

"Kenapa?" tanyanya lagi.

"Bunga tulip putih terlihat sederhana, namun...jika diperhatikan dengan seksama bukankah bunga itu sangat cantik?" Sasuke memgangguk setuju dengan pendapat Naruto.

"Warna dan bentuknya memang terlihat sederhana, namun jika diperhatikan bunga itu sungguh indah, kesederhanaannya justru menambah keindahan bunga itu. Dan bunga tulip merah kurasa aku menyukainya karena bunga itu melambangkan cinta sejati. Kau tau bunga tulip merah ini memiliki kisah tersendiri. Dulu, ada seorang pangeran yang sangat mencintai gadis bernama Shirin, namun sayang gadis itu mati. Dan kematiannya membawa kesedihan yang sangat dalam untuk sang pangeran hingga ia memutuskan untuk lompat dari tebing, tetesan darah sang pangeran muncul pada tulip merah, sehingga bunga tulip ini melambangkan cinta tanpa pamrih, indah bukan Suke?" tanya Naruto semangat setelah mengakhiri penjelasannya.

"Ya.." sebuah senyuman bahagia terbit di wajah mereka.

Flashback Off

.

.

Sasuke tersenyum melihat buket bunga yang ada ditangannya. Ia merogoh ponsel yang ada di kantung celananya lalu menatap rindu pada foto gadis yang berfoto bersamanya. Mereka masih mengenakan seragam sekolah seolah mengukuhkan status mereka sebagai pelajar kala itu. Raut wajah bahagia terlihat jelas dari senyum mereka, dari foto itu tampak jelas bahwa itu adalah foto selfie dengan posisi Sasuke yang memeluk Naruto dari belakang.

"Aku merindukanmu, Naru..."

.

.

Tbc

.

.

Thanks For : | Riena Okazaki | Miku Ziwu | yukiko senju | lutfisyahrizal | ollanara511 | Aiko Michishige | riki ryugasaki 94 | zukie1157 | sivanya anggarada | miskiyatuleviana | akane uzumaki faris | iche cassiopeiajaejoong |

nurhasanah putri 146 | Dewi15 | NisaShouta | yunjae q | kyujaena | funny bunny blaster | ini dee | annisa ajja 39 | Guest1 | Guest2 | Guest3 | Guest4 | Guest5 | Uzumaki Prince Dobe-Nii |

Guest6 | Guest7 | Nara Kiki | Uchihaizumi67 | Shikaru51 | Nara Kamijo | Guest8 | Kaname | Aegyeo789 | PenaBulu | aiska jung | Guest9 | namika ashara | Guest10 | haruka | ai no dobe | .

.

.

Eiji Note : huwaaahh, akhirnya selesai sumpah tiga minggu baca fic ini terus ei sampe bosen xD. Sering banget kena WB blm lagi sakit yang gak sembuh-sembuh :'). Tapi lega rasanya bisa nyelesaiin chapter ini :D. Oh iya , panggilan Okusan itu Ei terinspirasi waktu liat Itazurana Kiss 2 (^o^) Ijin jiplak xD. Kalo kuil yang Naruto ama Itachi datengin itu Ei nyari dari mbah google :v. Kalo soal mitosnya itu semua cuma karangan Ei, alias tidak nyata dan berasal dari imajinasi Ei xD. Udah dulu ah jangan lupa ripiw ya :D.

.

.

Boleh minta ripiw? ^o^