Ohayou! Konichiwa! Konbawa!

.

Terima kasih sudah menyempatkan untuk RnR fic saya, ataupun memberikan fave/follow/faves. Saya senang sekali. X"D

Yosh, I will survive!

Dozo, Minna-sama~

.

Disclaimer: Kuroko no basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. Sket Dance belongs to Kento Shinohara.I didn't take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun.

Warnings: AR, boys love/shounen-ai, OOC, minim dialog, mild language, typo(s).

Special back sound: As Long as You Love Me – Justin Bieber (Lunafly Cover more good, though. IMO *cough*)

.

Saya sudah memberikan warnings. Jadi, jika tidak ada yang disukai, tolong jangan memaksakan diri untuk membaca. ;)

.

Have a nice read! ^_~

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

"Furihata-kun, kau mau kemana?!"

"Aku akan segera kembali, Kantoku!"

Tim Seirin yang sedang bersukacita di ruang loker, terinterupsi euforia kemenangan mereka tatkala melihat Furihata sesampainya di ruangan mereka lekas mengoabrik-abrik barang bawaannya. Mengambil sebuah tas kecil yang sejak setahun lalu selalu tersedia di tasnya, lalu tergesa-gesa keluar dari ruangan usai berpamitan pada sang pelatih. Tapi, mereka melanjutkan momentum yang tertunda itu dan membiarkan Furihata pergi—dengan asumsi asal bahwa paling-paling point-guard mereka itu hanya perlu melaksanakan ritual toilet atau semacamnya.

Tadi di lapangan, tepat seusai buzzer beater one play yang titel pemenang disabet oleh Seirin, saat Furihata sedang melonjak girang dengan Kawahara dan Fukuda, dilihatnya Akashi di salah satu tribun penonton terdepan tengah mengamatinya sembari bertopang dagu. Mata coklat berpupil mungilnya menangkap gurat luka baru di telapak tangan kanan pemuda bersurai merah itu, dan ini menyurutkan semerbak sukacitanya.

Sebelumnya luka itu tidak ada.

Pasti karena tadi meringkus para begundal Kirisaki Daichi. Gara-gara dirinya, Akashi jadi terluka.

Karena itulah Furihata mengambil perlengkapan P3K yang biasa selalu dibawanya sejak setahun lalu—mengingat dia orang bench dan terbiasa merawat teman-temannya, dan kembali ke lapangan pertandingan untuk melihat bahwa tim Rakuzan sudah lenyap dari tribun yang semula ditempati.

Furihata menghembuskan napas panjang. Diputarnya langkah balik. Ada interval sekitar dua jam sebelum pertandingan tim Rakuzan dimulai. Mungkin mereka akan pergi makan siang atau entahlah. Pemuda bersurai coklat itu berlari tergesa-gesa, menelusuri koridor demi koridor, menyelinap di antara lalu-lalang orang memohon maaf apabila tidak sengaja menabrak, mengedar pandang nyalang di aula utama dengan harapan menemukan surai magenta di antara setiap orang yang ditatapinya.

Nihil.

Nyaris berputus asa, Furihata berjalan menuju salah satu pintu keluar. Tepat di salah satu sudut, ditemukannya tim Rakuzan sedang berjubel menghalangi salah satu pintu keluar dari gedung dengan posisi tumpuk-menumpuk, riuh berkasak-kusuk. Impuls sudut-sudut bibirnya terangkat melawan tarikan gravitasi walau tadi dirinya sempat hampir terpuruk.

Sebenarnya ia ingin bertanya, di mana Akashi karena tak tampak presensi sang kapten di antara rekan-rekannya. Namun Furihata mengurungkan niatan tersebut, nyalinya keburu menciut merasakan aura toksik tim Rakuzan yang menyebabkan dirinya merinding.

Furihata menggumamkan permisi yang tak digubris oleh gerombolan anggota tim basket Rakuzan—tiada satu orang pun menotis persona ordinari seperti dirinya. Menyeruak dari pintu keluar, sekali lagi kelereng serupa iris kucing itu memindai sekeliling.

Bingo!

Ditemukannya figur emperor dengan aura regal itu berdiri di spot yang sama—di puncak tangga—seperti tahun lalu usai opening Winter Cup ketika meminta Kiseki no Sedai bertemu lagi. Airmuka yang semula putus asa kini mencerah, Furihata lekas memacu langkah.

CUP!

Furihata menghentikan langkah. Detik itu terpaku kaku melihat Akashi berciuman dengan seorang gadis berbalutkan kostum cheerleader Rakuzan.

.

#~**~#

A Kuroko no Basket fanfiction,

.

Silence

.

Chapter 6

"To Know Hurt Feelings"

.

By: Light of Leviathan

#~**~#

.

Gadis bersurai coklat gelap dipita dua itu mundur dengan wajah memerah padam. Ia memekik pelan dan meracau entah apa lalu memunggungi Akashi. Tepat saat itu, dia bertemu pandang dengan Furihata yang bergeming meski diterpa secercah redup matahari.

Pemuda yang menyaksikan semua itu kini bisa melihat jelas sosok sang gadis. Pendapat pertama yang melintas di benaknya adalah gadis tersebut sangat imut kendati gores keangkuhan mengeruhi mimiknya. Tingginya hanya sebahu sang kapten tim basket Rakuzan. Dadanya terlihat menjulang ketat dibalut kaus Cheerleader. Rona merah yang menyemberut di wajahnya menegaskan impresi imut di wajah gadis tersebut. Matanya besar seperti boneka, melebar sempurna menemukan sosok Furihata mematung tak jauh darinya.

"A-a-ano, i-i-ini tidak se-seperti yang ka-kaupikirkan!" Gadis dengan rambut dipita dua itu mengibas-ibaskan tangannya. Dia berkata-kata hal yang tak bisa Furihata mengerti karena tiada koherensi dalam perkataannya.

Ketika gadis itu bicara, Furihata mendapati sepasang manik heterokromik menatapnya.

Furihata tak memahami apa dirinya sedang cemburu karena Akashi begitu beruntung mendapatkan gadis seimut itu, atau cemburu karena belum pernah berciuman, atau merasa malu karena memergoki mereka berciuman, atau merasa bersalah karena menginterupsi mereka berciuman, atau—ASTAGA! Otaknya terus saja meneriakkan kata: BERCIUMAN. Dan kata itu menjelma terror baru dalam dirinya, momok mengerikan yang membangkitkan nuansa horror di sekitarnya.

Rinai kelopak wangi Sakura yang harum, angin dingin musim semi berkeriyap, mengantarkan kepala Furihata menunduk dalam senyap. Menahan tangan yang sedang mencengkeram tas kecil kebanggaannya itu berlabuh di dada lalu meremas keras-keras, melampaui sayatan baru yang mendecit dentang ritmis jantungnya. Atau menahan punggung lengannya untuk tak menyeka pelupuk yang memanas dan menyebabkan ia merasa bahwa dirinya begitu buruk. Atau berupaya memutus pita suara dengan bloody-scream melengking nyaring ke palung langit.

Furihata mengumpati kemana kaburnya tendensi pengecut, takut dan ngeri dalam personanya. Karena dari rentetan hal yang ditahan oleh ego dan harga diri seorang lelaki, Furihata menemukan dirinya membungkukkan badan sembilan puluh derajat sekilas, mereguk pahit saliva lalu melontar kata.

"Ma-maaf … mengganggu."

Surai terikat dua pita putih itu terkibas cepat saat empunya menggeleng-gelengkan kepala. "A-a-aku yang ha-harusnya minta maaf." Barulah dia membaca selengkung kata di punggung yang berbalutkan jersey hitam putih. "Ka-kau da-dari Seirin, ya?" tanyanya kikuk.

Furihata menegapkan tubuhnya kendati matanya terpancang pada lempeng-lempeng bata diinjak kakinya. "I-iya." Sudut matanya mencuri-curi pandang pada gadis yang meremat serat-serat remple roknya.

"Ti-timmu menang, 'kan? Selamat, ya…" ucapannya, sorot mata besar seperti boneka itu terlihat begitu tulus.

Mungkin ini kesombongan—pikir Furihata getir, merealisasi terbit rijeksi di hati. Furihata takkan keberatan bila yang mengucapkan hal barusan adalah orang yang tadi bertemu pandang dengannya dan duduk di deretan eksklusif tribun terdepan menyaksikan pertandingannya. Sungguh.

Tapi apalah yang memosi bibirnya untuk memaksa presensi senyum, Furihata gagal mengerti diri sendiri. Ia tidak sampai hati memupus tulus yang meluncur dari bibir yang berciuman dengan—Ya Tuhan!

"Te-terima ka-kasih." Furihata mengingat gadis itu yang tadi ada di puncak piramida performa tim cheerleader Rakuzan. "A-aku melihatmu tadi sa-saat opening Inter-High." Menahan kecapan pahit di rongga mulutnya tatkala mengungkap kejujuran. "Kau ke-keren sekali tadi. Hebat saat kau mengangkat kakimu ke atas ketika di puncak piramida."

"O-oh. Itu pose biasa saja, pose Billman Spin. Ke-kebetulan saja aku bisa." Gadis itu tersipu malu. "Yang hebat bukan aku, tapi teman-temanku." Membuang wajah ke samping, mengindikasi karakter tsundere.

Sunyi yang canggung kini melingkupi mereka. Furihata tidak betah karena mengetahui sepasang manik heterokromik itu pasti tengah menghunjamkan tatapan intimidatif padanya, ia ingin hengkang tapi tak tahu bagaimana cara melarikan diri dari semua ini.

"A-apa kau a-ada perlu dengan Akashi-kun?" tanya gadis tsundere itu perlahan.

Furihata berjengit mendengar nama itu bergema mengenaskan memenuhi ruang pendengaran. Tak berani menatap seseorang yang disebutkan namanya, tangan gemetar dan mendingin disisip angin itu merogoh tas kecilnya. Mengeluarkan sebuah kantung plastik kecil, menyodorkannya pada gadis tersebut—tak menghiraukan tatapan khawatir yang tertuju padanya—lalu buru-buru menjejalkan sebungkus plester ke remaja perempuan yang merupakan anggota tim Cheerleader.

"I-ini u-untu—e-eh? HEI!"

Pemain tim Seirin itu sudah tak mampu. Tak mungkin lagi mendefensi diri untuk tak rubuh—entah itu secara harafiah maupun getar tubuh atau hati retak yang meluruh. Duka dalam diri tersepuh. Absurditas gejolak yang memporak-poranda dirinya, membangkitkan karakter sejatinya: lari seperti pengecut sejati.

Lari seperti yang selama ini dilakukannya. Lari dari hamparan realita yang merealisasi deraan pedih, menyiksa diri, meranakan hati, membuatnya merasa derita.

Furihata tak tahu harus memuji diri atas keberaniannya menghadapi apa yang terjadi, atau memaki-maki seseorang yang menanamkan ketakutan termengerikan mengintimidasi dirinya sekaligus kurva enigmatis di bibir dan sorot mata yang memeluk hangat hati Furihata.

"E-eh … betadine, desinfektan, kassa … dan plester? Untuk apa orang dari Seirin ini memberikannya padaku?"

"Itu untukku, Agata. Berikan padaku."

"A-ah, ka-kau terluka, Akashi-kun! Tu-tunggu sebentar—"

Furihata mengerem langkahnya mendengar suara tenang yang menghunus pilu di ulu hati karena ekspetasi naïf kembali bersemi—Akashi tahu ia datang untuk membawakan medis kecil itu untuknya. Tak dapat menahan diri menolehkan kepala ke belakang.

"—ma-maafkan aku, Akashi-kun. Kau terluka gara-gara tadi menyelamatkanku dari siswa-siswa nakal yang menggodaku."

Gadis bermarga Agata itu penuh penyesalan tengah menepukkan kassa beroles betadine dengan lembut di rahang kiri pemuda bersurai magenta. Kemudian meraih sebuah plester, merekatkan pada punggung tangan yang Furihata tahu terluka karena memproteksi dirinya.

.

Mata kecoklatan itu membulat. Sistem pernapasan mengalami disfungsi. Sekujur tubuh diguncang getar tektonik.

Akashi melindungi siapapun, menyelamatkan siapapun yang butuh pertolongan. Bukan hanya Furihata saja.

Akashi yang itu beraura regal intimidatif.

Akashi yang meringkus jajaran kriminal di distrik tersepi.

Akashi yang bermata merah menyala.

.

"Terima kasih, Agata. Aku bisa mengobati diriku sendiri."

.

Jika Akashi mencintai gadis itu, Furihata akan mencoba mengerti—jangan geruskan determinasi sisa keberanian dan serakan keping hatinya yang tersisa.

Jika Akashi mencintai gadis imut yang sepertinya ketua Cheers itu, cukup tinggalkan dan buli dirinya sesadis yang selama ini Akashi lakukan pada penindak kriminalitas. Jangan selamatkan dirinya seperti yang tadi Akashi lakukan saat ia dibekuk trio siswa begundal Kirisaki Daichi.

tapi haruskah Akashi mengutarakan perasaan yang sesungguhnya tentang gadis itu langsung secara verbal? Berbincang saja mereka tidak pernah. Furihata tahu Akashi takkan bergaul dengan orang yang tak selevel atau bukan bidak di bidang catur kehidupannya.

Paling tidak, Akashi tak perlu tersenyum padanya dengan cara yang membuat pemuda malang itu mispersepsi, merasa dianggap ada eksistensinya di mata sang emperor. Pikir Furihata getir, kontinu berlari menghela reras rapuh Sakura tanpa henti tak terinvasi dengung konversasi sepasang insan yang dipatrinya sebagai sejoli.

.

Tatkala Akashi mengedarkan pandangan, nihil sudah manik solid kolong langit dimiliki seorang pemuda yang ia sadari sedari tadi bertremor sekujur tubuh dan menggigil.

Pemuda yang merupakan ketua organisasi siswa di sekolahnya itu mengajak sang gadis masuk lagi ke dalam gedung untuk mencari teman-teman mereka karena harus segera kembali ke hotel.

Menabahkan diri dan menekan emosi ke batas minimal, Akashi harus bersabar untuk tidak mengejar Furihata.

.

Tak seberapa lama.

Langit dirundung kelabu arakan awan murung. Dari benturan awan-awan gelegar petir tersandung.

Sirkumstansi berhawa pesimis ditingkahi langit mendesis gerimis, kemudian bertransformasi rinai tangis miris.

.

#~**~#

.

"Hujannya terlalu deras. Ayo kita berteduh dulu!" seru sang mantan center pada rekan-rekan setimnya.

"Ke Maji Burger saja!" usul sang ace berambut krimson.

"Yosh, sekalian kita makan-makan dan merayakan kemenangan!" seruan senior bermuka seperti kucing menyoraki garang sambaran petir.

"Mencari perlindungan dari hujan untuk makan-makan dan merayakan kemenangan, KITAKORE!"

"Izuki, tutup mulutmu!" sewot pemuda berkacamata.

Para pemuda dan seorang gadis berlarian menuju ke Maji Burger menembus hujan deras. Menyibak pintu bening resto tersebut menimbulkan denting nyaring, dan lengking ramah para pelayan menyambut mereka. Di dalam begitu ramai sekaligus sangat hangat membuat mereka yang baru datang mendesah lega, bersyukur karena memutuskan untuk mampir.

"Tuh, kan. Sudah aku bilang, Seirin pasti akan datang ke sini!"

"Itu bukan karena kalkulasimu karena prediksi cuaca yang keliru, Momoi, tapi kehendak Tuhan, nanodayo."

"Cih. Kukira akan ada segerombol gadis cantik berdada besar yang masuk, eh, ternyata—huh."

"Momo-chin tidak termasuk kategorimu, Mine-chin?"

"Tentu tidak!"

"Yo, Kurokocchi, Kagamicchi dan Seirin!"

Tim Seirin tercenung di pintu masuk. Serempak mereka berseru kaget menemukan tim-tim basket lain terdampar di Maji Burger, juga beberapa tim cheerleaders tak jauh dari mereka. Pantas saja Maji Burger penuh, mengingat resto ini biasanya sepi bila cuaca tak memungkinkan bagi pelanggan untuk mampir. Mereka pasti terjebak juga tak bisa pulang atau ke hotel masing-masing karena di luar terjadi badai hujan khas musim semi.

"Konbawa, Minna." Kuroko membungkukkan badan sekilas, santun seperti biasanya.

"Dari sekian banyak tempat di Tokyo, kenapa harus ada Kaijou, Shuutoku, Too, dan Yosen sekaligus di sini, heh?!" teriak Kagami stress.

"Woy, Bakagami, tempat ini bukan punyamu!" tanggap Aomine sebal.

"Tetsu-kun~" Momoi menerjang Kuroko dalam pelukan gemas yang membuat pemain bayangan itu dimaki oleh setim Seirin. "Ah, Rakuzan juga di sini, Kagamin."

"Astaga…" Berjamak tim Seirin bergumam kompak.

SRET!

"Furi, jangan! Apa yang kaulakukan, Bodoh?! Di luar hujan deras—" Fukuda menahan Furihata yang refleks menarik pintu untuk keluar.

"—tidak usah khawatir. Kita bersama-sama setim, tidak ada yang perlu ditakutkan," bujuk Kawahara yang ikut melepaskan cengkeraman jari-jemari kawannya itu dari gagang pintu.

"A-aku tidak enak badan, dan i-ingin cepat pulang—" Furihata berkata dengan nada memelas.

"Kantoku, Furihata-Senpai sakit dan ingin menerobos hujan untuk pulang," cetusan inosen seorang junior di tim regular Seirin yang menyaksikan trio seniornya bertengkar.

DUK! DUK! DUK!

"ITTAAIII!"

Aida yang semula berdiri di antara Hyuga dan Kiyoshi segera kalap menebas tiga kepala sekaligus sampai membentur pintu Maji Burger. "TIDAK BOLEH." Ditariknya berkali-kali kerah jersey pemain yang baru dijitak olehnya. "Kau point-guard starter untuk pertandingan besok, Furihata-kun. Bagaimana tim ini jadinya kalau kau tidak main besok?! Aku tidak mau tahu kalau besok kau sakit atau apa karena berlaku bodoh begitu!"

"Kantoku, aku dan Fukuda justru mencoba menahan Furi," protes Kawahara yang berlinang airmata karena gundukan muncul di kepala nyaris plontosnya, "kenapa kena pukul jugaaa?!"

"Astaga, Kantoku, Furi sedang tidak dalam kondisi baik dan kau malah memukulnya?" tanya Fukuda yang meringis mengusap-usap kepalanya.

Aida mengerjapkan mata. Ditelitinya pemuda yang lemas karena diguncang-guncang olehnya dengan tenaga berlebih. Barulah ia melepaskan Furihata dengan raut wajah agak menyesal. "Maaf, Furihata-kun. Nanti setelah hujan reda, biar Fukuda-kun dan Kawahara-kun mengantarkanmu pulang. Tapi sekarang, ayo tunggu bersama kami. Sebaiknya kau makan dulu—nanti aku berikan kau dopping vitamin supaya tidak sakit."

"Ba-baiklah." Furihata mengangguk pasrah. Ia membiarkan dirinya berjalan lesu mengekori para seniornya yang telah mem-booking sebuah tempat duduk untuk tim Seirin. Dilihatnya Kagami dan Kuroko secara ekslusif diungsikan ke sebuah meja panjang berisi anggota Kiseki no Sedai yang merupakan sentral atensi—berbatasan dengan tempat duduk tim cheers sekolah masing-masing. Berpretensi tak menyadari—yang sebenarnya gagal total—kerlingan halus mata merah dan merah tertuju padanya.

Fukuda berbaik hati memesankan makanan untuk trio kelas dua Seirin. Kawahara menunggu Aida memberikan dopping vitamin yang khusus disiapkan untuk para pemain, hendak memberikan pada Furihata yang menangkupkan kepalanya yang terasa berat di meja.

Pemuda bersurai coklat dikuyupkan hujan itu kini menggigil karena berada tepat di bawah terpa semilir Air Conditioner. Ia bersin sekilas, tak sengaja tatkala membuka mata bersitatap dengan sepasang mata merah menyala. Jantungnya berdentum menyakitkan, menghirup napas gugup. Refleks Furihata mengganti posisi kepala menghadap ke luar jendela, pada angin dan percik hujan yang menggemeretak kusen jendela Maji Burger—mendadak begitu atraktif untuk diterawang.

"Ini makananmu, Furi."

"Furi, obatnya dari Kantoku kau minum setelah makan. Oke?"

Furihata mengangkat kepala. Bergantian menatap kedua kawan karibnya itu dengan mata berkaca-kaca—karena influensi produksi lendir di hidung tiba-tiba meningkat bukan faktor eksternal lain namun entahlah. "Terima kasih," lirihnya terharu.

Tersenyum semampunya, Furihata setengah hati menyantap makanan yang tersaji di nampan.

Seseorang diam-diam tenggelam dalam kesunyian di tengah euforia kebisingan, menaruh atensi pada entitas lain yang menolak bertemu pandang dengannya.

.

Tsuzuku

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Mohon maaf sekali karena review chapter 4 dan 5 terpaksa saya gabung jadi satu. Plus, maaf pendek chapter 4, ya. Soalnya ini chapter 5-nya cepet update. /geplak

Yesh. Biasanya saya selalu nge-pair Furihata dengan chara cewek mary-sue crossover fandom, kali ini giliran Akashi yang dapet jatah. HAHAHA-#diinjek

t

Agata Saaya adalah chara cewek tsundere di Sket Dance. Development characters-nya menjadikan dia sebagai chara cewek tsundere mary-sue yang malangnya cintanya gak dinotis sama objek afeksi, Bossun. (?) Sebenernya banyak sih chara cewek almighty begini, tapi susah untuk nyari yang nggak sreg di hati saya. /lah/ Kok bisa Saaya nyasar di Rakuzan? Akan ada di chapter depan. ;)

.

And see you latte~

.

Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^

.

Sweet smile,

Light of Leviathan