Taehyung membiarkan Jungkook untuk mengecat seluruh dinding putih di rumahnya. Awalnya permintaan konyol Jungkook tidak di terima, namun melihat hasil lukisan pemuda tersebut yang tergantung pada dinding ruang tamu membuatnya terkesima.

Membawa kabar baik bahwa ia memperbolehkan untuk mengecat dinding-dinding rumahnya yang bewarna putih membuat Jungkook memekik girang.

Setiap akhir pekan Jungkook selalu melukis. Well, pekerjaannya sebagai desainer di perusahaan ibunya membuat hobi baru muncul dalam diri. Lukisan yang di buat kebanyakan abstrak; berpola garis melengkung, sejajar, hingga cipratan kuas yang di sengaja membuat dinding halaman belakang lebih bewarna.

Taehyung memang memperbolehkan. Namun hanya dinding halaman belakang saja yang boleh di lukis. Meski begitu, dinding yang bukan main besarnya tidak menyurutkan kebahagian Jungkook.

Kini, ia tengah duduk bersimpuh menghadap sebuah mangkuk berukuran sedang berisi cat bewarna krem. Mencelupkan kuas panjangnya lalu menorehkan pada dinding pucat, membentuk pola garis melengkung kebawah; hidung.

Jungkook jarang melukis wajah manusia. Namun, ini ayahnya. Ia rindu, jadi, ia memutuskan untuk melukis wajah rupawan ayahnya pada dinding yang semula bewarna putih.

Tangannya terulur mengambil mangkuk-mangkuk kosong di sebelahnya, menuangkan cat bewarna merah dan hitam. Masing-masing satu. Kemudian, ia mulai mencelupkan kuasnya lagi, menorehkan gambaran bibir tebal milik sang ayah yang bewarna merah kehitaman.

Meski pengusaha kaya, ayahnya tak luput dari orang-orang pada umumnya. Merokok. Membuat bibir ayahnya menghitam dengan beberapa gigi depan yang menguning. Jungkook pernah menemukan ayahnya dengan tiga kotak rokok di meja, sebotol minuman alkohol juga beberapa obat penenang.

Waktu itu bisnis ayahnya hampir di ambang batas, merasa kacau, ayahnya melampiaskan dengan hal yang tak baik. Jungkook kecil mengingatkan, namun saat itu ayahnya berkata, "Kau masih kecil, Nak. Besar nanti kau akan tahu rasanya hartamu ludes akibat orang picik yang menyamar menjadi karyawan magang."

Lalu sang ayah membelai rambut cokelatnya, mencium keningnya sebelum berjalan gontai menuju kamar atas. Jungkook kecil hanya menelengkan kepalanya bingung, berusaha mencerna perkataan orang dewasa yang membingungkan.

Berkutat selama hampir empat jam akhirnya lukisan sang ayah selesai. Jungkook memandang kagum pada hasil karyanya sendiri. Ia ingin menyentuh pipi sang ayah namun catnya masih basah, jadi, ia urungkan niatnya dengan membereskan segala macam peralatan, membuang koran-koran yang dijadikannya alas lalu mencuci tangan dengan kran di pojok taman.

Ia mengangkut segala peralatannya, melangkah masuk rumah melewati pintu belakang dan menemui Taehyung tengah menyesap kopi di meja dapur.

Jungkook meletakkan alat-alat melukisnya pada ruang di bawah tangga. Lalu, ia berjalan pelan ke arah dapur, sekedar mengambil segelas air untuk tenggorokannya yang mengering.

"Pagi tadi kemana?" Suara Jungkook terdengar, sedikit teredam oleh bunyi gelembung air yang meletus saat dirinya memencet tombol di dispenser.

"Hanya mengunjungi ibumu," Taehyung menjawab sekenanya, kembali menyeruput kopi yang tersisa separo. "Membicarakan sesuatu yang sedikit mendesak." Lanjutnya.

"Yeah, orang sibuk sepertimu apa yang tidak mendesak." Jungkook meminum air dalam gelas sambil berdiri, memuaskan dahaganya hingga air dalam gelas habis. "Ibumu menitip uang. Akan ku transfer nanti ke rekeningmu."

Jungkook menaikkan satu alis, menaruh gelas kosongnya di pinggiran wastafel. "Uang? Untuk apa?"

"Sesuatu. Belilah baju atau cat-cat mu, bersenang-senanglah selagi bisa, Jeon." Taehyung tersenyum dalam gelasnya. Jungkook memicingkan mata, tak suka pembicaraan Taehyung yang terlalu abu-abu. "Selagi bisa, maksutmu?"

"Seharusnya aku tidak mengatakannya pada bocah sepertimu." Jungkook menggeram, meremat jemarinya yang kini memutih di samping kedua pinggulnya. "Aku dua puluh satu tahun Kim—"

"Dan aku dua puluh delapan," Taehyung menyela Jungkook, menbuatnya bertambah marah. "Belajarlah yang pandai, Jeon. Ibumu akan bangga jika kau berguna."

Lalu, Taehyung pergi.

Hanya seperti itu. Meninggalkan Jungkook yang dirundung banyak pertanyaan. Ia merasa kepalanya pusing akan semua rahasia yang Taehyung sembunyikan.

Seharusnya ia tidak memikirkannya, namun, otak bodohnya malah melakukan sebaliknya.

—No Promises—

Seorang pria tua baru saja keluar dari lift, diikuti beberapa bodyguard berbadan besar dengan wajah mereka yang mengeras. Semua orang tunduk kala pria tersebut melangkah dengan angkuhnya, tangannya yang mulai keriput ia masukkan ke dalam kantong di celana bahannya, matanya yang menyipit karena kerutan di wajah membuatnya berjalan sedikit sempoyongan. Seperti orang mabuk, tapi bukan.

"Lakukan dengan benar." ia berbisik ke salah satu bodyguardnya, lalu sang bodyguard berlari pergi meninggalkan rombongan pria tua tadi.

Ia tiba di depan pintu kayu mahoni yang berukir relief bunga, mengetuknya beberapa kali sebelum sang empu membukakan dengan raut cemas-cemas. Seolah berkata pada diri sendiri 'seharusnya tidak kubuka pintu ini tadi'. Namun terlambat, karena kini pria tersebut melangkah masuk di temani seorang pesuruhnya yang berbadan besar serta berwajah garang.

"Tak ingin memberi pelukan padaku, teman lama?" Pria tua tersebut tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit, suaranya sedikit serak akibat terlalu banyak merokok dan minum alkohol, giginya yang kuning terpampang jelas, namun, wangi pria tersebut benar-benar maskulin. Layaknya seorang pengusaha yang masih muda, membuat pria di hadapannya malah semakin bergidik ketika ia merentangkan tangannya lebar-lebar.

"Senang bertemu dengan mu, Taejoon." Ia memeluknya singkat, mempersilahkan pria berumur rentan untuk duduk di sofa mahalnya yang baru di bersihkan seminggu lalu.

"Kau nampak ketakutan, apa yang membuatmu takut sahabat lamaku? Apa karena pesuruhku yang berwajah garang ini?" Ia tertawa di akhir kalimat, sedikit terbatuk lalu membenarkan posisi duduknya yang miring tadi. "Keluarlah, akan ku panggil jika sudah selesai."

Sang Bodyguard pun membungkuk pada tuannya, berjalan keluar sebelum melirik sekali pada Yunho.

"Nah, sekarang hanya ada kita."

"Aku masih belum dapat informasi apapun, Joon." Yunho meremat jemarinya, tak berani menatap mata pria di hadapannya. "Ku sangka kau senang berbasa-basi." ia tertawa pendek.

Lalu, raut wajah Taejoon berubah. Airmukanya berubah, sama halnya dengan atmosfer di ruangan ini yang mencekam. Matanya yang penuh canda tawa kini hilang, tergantikan dengan mata setajam belati, bak menusukmu bahkan jika ia hanya melirikmu sesaat. "Bukankah sudah ku bilang untuk tepat waktu, sahabatku?"

"Ya. Aku sudah berusaha. Namun, semua datanya hilang. Aku tak habis pikir ia terlalu picik untuk menyamar dan menghilangkan seluruh informasi terkait dirinya. Hanya ada keterangan palsu di surat-suratnya, kebanyakan informanku di bodohi dengan surat-surat rumahsakit."

Taejoon menegakkan duduknya, tersenyum remeh melihat sahabat lamanya berbicara tanpa gagap. "Apa yang kau tahu. Sesuatu yang berharga. Tak mungkin aku memberimu enam bulan untuk mencari informasi dan tak ada sama sekali yang kau dapat."

"A—ada. Ada. Ada informasi yang kudapat dari beberapa pihak," Yunho menelan ludah gugup, keringat membanjiri dahinya walau AC di ruangan ini menyala dengan suhu 16 derajat. "Dia bekerja sama dengan J Strauss and Company. Kudengar ada yang pernah melihat wajahnya di lobby. Namun kau tahu, sahabatku, bagaimana pemilik J Strauss and Company. Dia licik, bergerak layaknya belut dan menghilang bagai kabut asap."

"Hanya itu?"

"A—aku tak bisa menemukan apapun lagi."

Taejoon menatap ke arah luar, dinding pembatasnya yang berupa kaca membuatnya dapat melihat keluar.

Tangan Yunho menyelip ke belakang, memasukkan jari-jari panjangnya dalam selempitan sofa merah miliknya, mengambil sebuah benda dan—

Dor!

Tepat saat Yunho mengarahkan pistolnya pada Taejoon, sebuah peluru menembus punggungnya. Darah menyembur dari mulut, terakhir kali ia memelotot pada Taejoon yang tersenyum licik, lalu ambruk dengan pistol yang masih di tangan.

Taejoon berdecih ringan, menatap ke arah layar CCTV dan memberi senyum seolah ia berkata 'kerja bagus'.

"Sayang sekali kita harus bertemu seperti ini," Taejoon berjongkok, mengambil pistol berdarah yang di genggam oleh Yunho, menyelipkan pada jas hitam mahalnya lalu melangkah melewati mayat Yunho yang tergeletak di banjiri darah.

Di sudut ruangan, sebuah alat penembak mengeluarkan asapnya.

Taejoon membuka pintu dengan satu tangan, disambut oleh beberapa bodyguard yang menunggu di luar. "Kotor sekali di dalam, tolong bereskan."

Dan ia melangkah pergi dengan bercak darah di ujung-ujung sepatu pantopel mengkilatnya.

Di lain sisi, bodyguard yang di perintahkannya tadi tengah menggenggam sebuah remot kecil bewarna merah, bagian belakangnya dihiasi oleh jasad penuh darah dengan luka tembak di mana-mana.

"J Strauss and Company, hm? Bertemu lagi dengan musuh lama."

—No Promises—

Jungkook selalu menghabiskan akhir pekan dengan Mingyu. Bepergian ke sungai Han, mengunjungi taman-taman yang barangkali sudah lebih dari sepuluh kali mereka jelajahi.

Namun kini Mingyu dirundung berbagai tugas, membuatnya sangat jarang untuk sekedar mengabari Jungkook.

Dan, disinilah Jungkook. Duduk termenung di depan sebuah air mancur besar dengan sebungkus gandum. Sesekali ia memberikan gandum pada burung-burung dara yang turun sekedar mematuki jalanan beraspal dengan taburan gandum di sana sini.

Udara dingin, mungkin sebentar lagi musim dingin. Jungkook lupa membawa mantel, hanya jaket tipis bewarna biru yang kini ia gunakan.

Sesekali tangannya menarik jaket miliknya agar tertutup rapat, mencegah udara dingin yang menusuk tulang namun tak bisa. Jadi, ia biarkan saja jaket tipisnya terbuka.

"Hoy!"

Jungkook tersentak, membuat separo isi dari bungkusan gandum tumpah di jalan. Sontak burung-burung berdatangan untuk memakannya. Jungkook hanya memutar mata malas, sudah hapal dengan nada suara si pengganggu.

"Whops, tak lihat," Ia menutupi bibir mungilnya dengan tangan-tangan ramping miliknya. Kuteks bewarna peach sangat cocok dengan kulit tubuhnya yang putih. "Lagi pula, kau seperti seseorang yang baru putus cinta saja, Kak."

Ia mendudukkan dirinya di sebelah Jungkook, meletakkan winter earmuffsnya di samping paha miliknya. "Taehyung Oppa mana?"

"Mati." Jawab Jungkook cepat. Sontak pukulan mendarat di bahunya, membuatnya seketika meringis kesakitan. "Bodoh sekali."

"Kim Sejeong, jika kau menanyakan keberadaan si bodoh kepala workaholic itu jangan padaku. Tanya saja pada pengemis di jalanan. Barangkali kakakmu sekedar mampir untuk bersedekah kepada pengemis tua."

Sejeong memberenggut kesal, mencuri segenggam gandum utuh dari bungkusan di tangan Jungkook lalu melemparnya ke jalanan. Burung-burung mematuk, dan, ia tertawa seperti anak kecil ketika ada yang terbang ke arahnya.

"Lebih bodoh mana dengan yang bepergian keluar hanya menggunakan jaket tipis bewarna biru dengan sebungkus gandum yang ia beli barusan."

"Kau ya." Jungkook berujar sinis yang hanya di balas tawa riang dari Sejeong.

Nah, mari perkenalkan, Kim Sejeong, adik bungsu Kim Taehyung. Terpaut jarak sepuluh tahun dari sang kakak. Bulan kemarin ia lulus SMA dengan nilai terbaik nomor dua.

Sifatnya berbandinh terbalik dengan sang Kakak yang pelit senyum. Sejeong adalah pribadi hangat yang murah senyum, pandai bersosialisasi dan sangat handal dalam hal menganggu.

Pernikahan Jungkook dengan Taehyung yang baru berusia empat bulan membuatnya akrab dengan sang adik. Awalnya Jungkook senang dengan pribadi Sejeong, namun lambat laun ia terganggu dengan sikap 'mengganggunya'.

Bahkan saat dirinya berada di altat dengan Taehyung yang menggenggam tangannya ringan, Sejeong berada di barisan paling depan, meneriakkan 'Yatuhan aku tak percaya kakakku sudah tidak lajang' berulang kali yang mendapat lirikan sinis dari beberapa tamu undangan yang terganggu dengan suara cemprengnya.

Over all, Jungkook tetap menyayangi adik iparnya ini.

"Dengan siapa kau disini bocah?" Jungkook melemparkan gandum kejalanan. Burung yang datang semakin banyak karena Sejeong melemparkan terlalu banyak tadi.

"Sendiri," jawabnya, "Aku bosan dirumah dengan berbagai gadget. Aku ingin punya pacar dan menikah seperti Taehyung Oppa."

Jungkook menatap kaget ke arah Sejeong. Andai saja anak ini tahu bahwa pernikahan hanya menyesatkan baginya, mungkin ia akan berpikir seperti Jungkook. "Belajarlah dulu, cari kerja setelah itu baru menikah."

"Mudah saja, aku bisa kerja di perusahaan Taehyung Oppa."

Jungkook menyentil dahi Sejeong pelan, membuatnya meringis lalu mengusap dahinya yang sama sekali tidak memerah. "Bicara saja enak, kakak mu itu otaknya sudah gila oleh pekerjaan."

"Bilang saja kau tidak pernah di manja oleh Kakakku." ia mendengus, uap dingin mengepul di wajahnya

"Memang tidak pernah. Dan, tidak akan pernah." Jungkook menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan kekiri.

"Apa kakak masih dengan Mingyu Oppa?" Jungkook sedikit kaget mendengar nama Mingyu disebutkan. Tapi, ia mengangguk mantap menjawabnya. Dan, Sejeong kembali mendengus.

"Kenapa tidak putus saja? Bukankah Taehyung Oppa lebih tampan?" Sejeong sedikit menaikkan nada bicaranya di bagian 'putus saja'. Jungkook tertawa pendek, "Sayangnya aku lebih senang dengan pria tinggi."

"Memang dasarnya kau cebol kak, jadi alibi saja memilih pria tinggi untuk memperbaiki keturunan."

"Terserah." Jungkook melemparkan genggaman terakhir dari bungkus gandumnya.

Sejeong berdiri, menepuk-nepuk celana tebalnya yang kotor. "Aku pergi dulu. Mama akan marah jika pulang terlambat, Dah!"

Ia melambaikan tangannya penuh semangat meninggalkan Jungkook. Saat jarak mereka terpaut jauh, ia berteriak sedikit keras.

"Jangan lupa putuskan Mingyu Oppa dan berkencanlah dengan Taehyung Oppa!" di akhiri cekikikan jahil miliknya.

Jungkook geleng-geleng kepala, tingkah kekanakannya mengingatkan dirinya saat masih SMA dulu. Pergi bersama teman-temannya ke timezone, perang salju di halaman rumahnya, pergi ke perpustakaan hanya untuk mendinginkan diri. Kadang ia mulai merasa rindu akan masa-masa sekolahnya yang bebas dahulu.

Baru saja Jungkook ingin meninggalkan bangku taman, namun seseorang menyentuh bahu Jungkook kuat. Jungkook memalingkan tubuhnya untuk melihat siapa, dan yang ia dapatkan adalah seorang pria tua dengan keriput di wajahnya tengah tersenyum halus ke arahnya.

"Tuan muda Jeon?" tanyanya dengan seringaian di wajah.

—No Promises—

"Bodoh sekali aku meninggalkan winter earmuffs ku di bangku. Semoga saja masih berada disana."

Sejeong melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, berharap Jungkook berada di sana, atau, berharap jika Jungkook membawa earmuffsnya, jadi ia dapat mengambil kapan-kapan.

Namun, napasnya tercekat kala kedua oniksnya memandang dua manusia yang saling bertatapan.

Itu Jungkook. Dan—

Taejoon?

Sedang apa ia kemari? Bertemu kakak iparnya?

— No Promises —

Haloowww terimakasih sudah mengikuti cerita ini, huhuhu. terimakasih untuk fav and follow nya ya, dan juga, big thanks buat yang udh review kemaren!