Hi Monogatari : Death Of Emperor

By Lavena Valen

Disclaimer by. MK

.

Warn for typo

This is AU fic

.

Dont like dont read!

.

Chapter 6 : Beginning Of Revenge

.

Beberapa orang bawahannya membuka pintu beton di depannya, sedangkan yang lainnya membawa beberapa obor untuk penerangan. Ketika penerangan dinyalakan, diruangan itu terlihat beberapa penjara yang di dalamnya penuh dengan anak kecil. Adapun di pusat ruangan, terdapat sebuah simbol tetragram di lantai dan sebuah meja menghadap ke barat.

"Dengarkan, aku tidak mau diganggu oleh siapapun. Jadi jangan biarkan siapapun masuk ke ruangan ini."

"Baik!"

Pintu ditutup rapat. Menyisakan dirinya seorang diri. Dia berjalan menuju pusat ruangan. Di meja telah tersedia sesaji dikelilingi lilin-lilin kecil. Sejenak ia menghela nafas panjang, mengosongkan pikirannya. Matanya tertutup dan ia mulai berkonsentrasi. Kedua lengannya bersatu, mulutnya membaca mantra.

Tak lama setelah pembacaan mantra, lilin di depannya mati serentak. Simbol tetragram bersinar dan orang-orang yang ada didalam penjara merintih kesakitan.

Dada mereka sesak dan mereka tidak bisa bernafas. Seakan seseorang mencekik mereka. Mereka mencoba memanggilnya, meminta tolong. Namun Kiba tidak menghiraukan permintaan mereka.

Tiba-tiba pintu betonnya terbuka lebar. Seseorang masuk dengan tergesa-gesa. "Bukankah sudah kuberitahu bahwa aku sedang melakukan ritual?"

"Tapi Sasuke bersikeras untuk masuk ke dalam. Dia..."

Belum sempat orang itu melanjutkan pembicaraannya, orang yang dibicarakan datang dengan membawa sebilah katana tipisnya.

"Kiba!"

"Oh, Sasuke ya? Ada apa?"

"Aku ingin bicara denganmu."

"Maaf aku sedang sibuk. Aku akan menemuimu nanti."

Sasuke tersadar, bahwa di sekelilingnya terdapat penjara-penjara yang di dalamnya terdapat orang-orang yang merintih kesakitan. Pakaian mereka lebih lusuh dan kotor dari para pekerja disini. Rambut mereka bahkan tidak disisir dan dibiarkan acak-acakan. Tubuh mereka kurus, hanya tinggal beberapa kilo daging dan kulitnya. Wajah mereka keriput dan bibirnya kering. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi disini tapi melihat kondisi mereka yang sangat buruk, dia tidak bisa diam.

"Kiba, apa yang terjadi pada mereka? Kenapa mereka ditahan?"

Kiba memberi aba-aba agar pembantunya meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.

"Sasuke, bekerjasamalah denganku. Kau seorang pangeran kan? Kau ingin merebut tahta bukan? Kalau begitu tepat sekali. Kau perlu kekuatan untuk bisa sampai disana."

"Apa maksudmu?"

"Ini adalah kekuatan raja. Orang-orang disini adalah pengorbanan untuk kekuatan itu. Jika kita berdua bisa mendapatkan kekuatan itu, kita bisa merebut tahta, tidak bahkan kita bisa menyatukan tiga negeri besar."

Sasuke teringat dengan suara yang pernah membisik di telinganya.

Ini adalah kekuatan raja. Aku akan memberikannya untukmu.

"Bagaimana? Kau ingin bergabung denganku? Kita bisa menjadi kuat dalam sekejap,"

Sekejap, eh?

"Berbicara tentang sekejap, kau juga telah menghilangkan nyawa ratusan orang dalam sekejap."

"Tidak pa-pa seratus duaratus orang mati. Toh, bukankah mereka tidak akan bertahan walau bukan ditanganku?"

"Kau benar. Tapi setidaknya..." Sasuke menarik pedangnya untuk merusak kunci penjara itu. "Mereka bisa menentukan jalan mana yang mereka pilih!"

CRRAKKK!

CRAAKK!

Dua sel telah terbuka.

Kiba menghampiri Sasuke dan memukulnya sekuat tenaga. "Apa yang kau lakukan, bodoh! Bukankah kau ingin menjadi kuat? Ingat orang lemah akan mati."

"Aku tahu!"

BUKK!

Sasuke balas memukulnya.

"Lalu kenapa? Kenapa kau menggagalkan rencanaku. Bukankah kau ingin merebut tahta, hah?" Kiba memukulnya.

"Aku pasti merebut tahta itu. Aku juga akan balas dendam. Tapi dengan caraku sendiri. Dengan kekuatanku sendiri. Aku akan mencarinya walau harus ke ujung dunia!"

Sasuke memukul Kiba kembali. Tak sadar keduanya telah mendapat luka lebam di pipi masing-masing. Darah keluar dari sudut bibirnya. Kiba bangkit, rautnya yang penuh emosi kini hanya menatap hampa. "Aku kecewa denganmu, kukira kita bisa berteman."

Sasuke mengusap darah yang keluar, senyumnya mengembang. "Maaf, sejak awal aku memang bodoh tidak bisa melihatnya. Tapi sekarang, aku adalah diriku, aku yang akan menentukan kemana diriku pergi."

Kiba mengeluarkan belati kecil yang tersimpan di lengannya. Dengan terampil dia memainkannya membuat Sasuke sedikit kesulitan.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

"Sakura... sakura..."

Sakura mengerjapkan matanya untuk kesekian kali, mencoba fokus. Orang yang dilihatnya pertama kali adalah ayahnya. "Ayah? Kenapa aku disini? Eh, bukannya tadi aku sedang bersama nenek Chiyo?"

"Dia tidak bisa kembali Sakura." Ayahnya mengajaknya bangkit lalu berjalan-jalan melihat lukisan yang terpajang di setiap dinding. "Ini adalah kenanganmu. Kau ingat?"

Sakura melirik sebuah lukisan dirinya saat masih kecil. Dia terlihat ketakutan dan selalu meringkuk di sebuah sel. Gelap dan sendirian. Terkadang saat malam tiba, dia menggigil kedinginan. Pakaiannya tidak seelok kini. Padahal dia tinggal di istana saat itu. "Ini kenangan dua belas tahun yang lalu?"

"Benar. Kau tahu kenangan ini diambil saat pengangkatan kaisar baru dari keluarga Uchiha."

Uchiha? Nama yang tidak asing. Kalau diingat nama itu pernah bersarang di otaknya sejak dulu.

.

.

"Hooiii... ada orang?"

"Siapa?"

"Eh, perempuan ya? Kukira semua tahanan di negeri ini adalah orang aneh dengan tampang garang. Siapa namamu?"

"Nama? Aku tidak punya."

"Yang benar? Kukira semua orang punya nama. Kalau begitu bagaimana aku menyebutnya ya? Ah, Sakura. Bagaimana dengan itu?"

"Sakura?" Dirinya hanya bisa merenung. Baginya sebuah nama itu hanyalah hal sepele. Dia tidak punya nama sejak lahir dan dia tidak butuh. Namun entah kenapa ketika orang dibalik pintu besi ini memberinya sebuah nama, dia ingin menangis. Dia tidak tahu apa yang terjadi dalam dirinya. Yang jelas perasaan itu membuatnya bersemangat.

Tangisnya makin menjadi karena terlalu senang. Dia bahkan mengulang-ulang panggilan itu dalam benaknya.

"Hei, kau menangis? Apa kau menangis? Kau tidak suka dengan nama itu? Kalau begitu..."

"Huaaaaa..." Sakura makin histeris. "Aku... suka. Sakura!"

"Begitu. Aku senang kalau begitu. Ah, panggil aku Sasuke. Namaku Uchiha Sasuke."

"Sa-su-ke?"

"Hn. Kenapa gadis kecil sepertimu dikurung seperti ini?"

"Kenapa ya? Aku tidak tahu. Aku hanya menuruti ayahku."

"Ayahmu? Dimana dia sekarang? Kau tahu namanya?"

"Tidak. Aku bahkan tidak tahu wajahnya." Keheningan terjadi diantara keduanya. "Sasuke?"

"Hn. Ada apa?"

"Bagaimana kau bisa sampai disini? Apa kau ditahan juga?"

"Kalau itu sih aku punya pintu rahasia di istana ini. Aku tahu seluk beluknya. Hari ini aku berkunjung untuk menyapa kakakku lalu aku bermain ke pintu itu. Ah, benar juga, aku akan bicara pada kakakku agar melepaskanmu."

"Kakakmu? Memangnya dia bisa?"

"Ya. Karena dia adalah kepercayaan kaisar, dia pasti bisa membujuknya agar membebaskanmu."

"Aku tidak bisa keluar dari sini. Nanti ayah marah."

"Kau bisa. Aku pasti akan membebaskanmu dari tempat ini. Aku janji"

Walaupun janji itu diucap oleb seorang anak kecil, rasanya dia percaya bahwa suatu saat anak kecil itu bisa membebaskannya dan bisa bertemu dengannya secara langsung. Dia ingin mempercayai hal itu.

.

.

"Ingatanku... kembali?"

"Ya, dan kau berhasil menemukan penyelamatmu. Sekarang giliranmu menyelamatkannya. Bukannya kau percaya dia akan menjadi raja yang baik?"

"Ya. Aku masih percaya."

"Pergilah. Dia menunggumu."

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

"Ada apa? Cuma segini kemampuanmu. Dangkal! Karena itu aku tidak suka bangsawan, mereka hanya bisa mengandalkan uang rakyat dan bersenang-senang!"

Sasuke tersungkur ke lantai. Pipi dan lengannya berdarah. Walau begitu tak ada sekilaspun terlintas di pikirannya untuk menyerah. Dia masih berpikir, bagaimana caranya mengalahkan Kiba. Lawannya itu mahir berpedang dan punya niat membunuh. Dia juga punya insting yang hebat.

"Sial!" Umpatnya.

Sasuke kembali bangkit dan menyerang untuk kesekian kali namun dia dihancurkan dengan cepat. "Untuk orang lemah sepertimu, mati saja!"

Gunakan, kau punya kekuatan.

-kekuatanku? Apa kekuatanku?

Sasuke teringat ketika pertama kali ia melihat Sakura. Gadis itu melayang dihadapannya, benar-benar melayang. Tidak mungkin dia seorang dewi atau semacamnya dengan kelakuannya seperti anak kecil. Tapi percaya atau tidak, dia adalah orang yang membunuh pasukan Fu, tidak salah lagi. Ini memang terdengar gila tapi Sasuke percaya bahwa Sakura adalah penyelamatnya dan dia adalah kekuatannya.

Kiba mendadak terhenti ketika melihat perubahan di pupil Sasuke. Dia pastikan dirinya tidak rabun atau mengidap kelainan mata. Cukup jelas walau sesaat kalau matanya tiba-tiba memerah.

"Maaf saja, aku masih belum ingin mati. Kau saja matilah!"

Kiba mematung. Ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya. Dengan cepat gerakan tangannya berubah menyerang jantungnya sendiri. 'Tidak mungkin!'

Sejenak ia memuntahkan darah. Tenaganya mendadak habis dan matanya memerah. Suhu tubuhnya mulai rendah dan kakinya tidak kuat menopang tubuhnya. Dia masih menatap Sasuke yang duduk di depannya dengan tatapan kosong. Dia duduk di sana dan tidak melakukan apapun.

'Sial! Apa yang terjadi padaku? Kenapa tubuhku...'

Kiba ambruk di tempat sementara Sasuke masih mengatur nafasnya. Lagi-lagi ia melihat orang yang dia kenal mati dihadapannya.

Belum selesai ia terkaget-kaget, lantai pusat ruangan itu kembali bersinar. Entah dari mana datangnya Sakura tiba-tiba berada di pusat lingkaran itu.

Wajahnya tenang dan matanya tertutup damai. Kedua lengannya ditekuk ke dada dan ia meringkuk. Tubuhnya melayang di udara. Ketika ia membuka matanya, senyumnya ikut mengembang. Ia menapakkan kaki jenjangnya di lantai lalu berjalan menghampiri Sasuke. Untuk sesaat mereka saling berpandangan.

Sakura dapat melihat banyaknya pertanyaan yang ingin diajukan oleh Sasuke. Matanya begitu antusias walau tubuhnya sudah lemah. Sebagai jawaban awal, Sakura hanya tersenyum.

Sasuke hampir jatuh jika saja Sakura tidak menuntunnya dengan cepat. "Sa-sasuke-kun!"

"Aku tidak pa-pa. Yang lebih penting, apakah kamu benar-benar Sakura? Kenapa kau masih hidup, bukankah waktu itu kau sudah mati?"

"Aku akan menceritakannya nanti. Sekarang kita harus membebaskan mereka dan pergi dari sini."

Sasuke mengangguk setuju. Saat mereka sampai di teras depan Karin, Juugo dan Suigetsu telah menunggu. Di belakang mereka terlihat siluet beberapa penjaga yang kalah telak. "Kalian..."

"Hoi, Sasuke... kau payah sekali. Melawan Kiba saja lama!" Kritik Suigetsu.

"Tapi aku tahu dia pasti bisa. Karena dia Sasuke.."

"Mereka semua membantumu ketika kamu sedang melawan Kiba. Tujuan mereka untuk mengurangi sebanyak mungkin bala bantuan." Tambah Sakura.

"Hei, Sakura. Kenapa kau bisa bersama Sasuke setelah pura-pura mati, hah? Lepaskan tanganmu!"

"Hei Karin, dari nada bicaramu boleh kutebak... kau sedang cemburu?"

"Hah, heh? Tidak lah! Mana mungkin aku cemburu dengan bocah ingusan sepertinya."

"Menurutku dia manis loh! Iya kan Sakura-chan?" Suigetsu tersenyum kecil. Ketika ia memanggil Sakura denga suffix -chan rasanya sangat menggelikan.

Sasuke hanya bisa mengamati gurauan mereka. Terkesan berisik tapi entah kenapa rasanya bernostalgia. Mereka mengobrol dengan santai layaknya saudara.

"Aku punya pengumuman untuk kalian. Mulai sekarang, tempat ini adalah milikku. Dan dalam waktu dekat ini aku akan pergi ke kediaman Uchiha... untuk mengambil kembali hakku sebagai keluarga Uchiha dan juga untuk mengusir mereka yang tak pantas menyandang darah Uchiha."

Suigetsu bersiul, nampaknya akan jadi menarik. Dia sudah lama tidak merasakan hal ini, adrenalin serasa akan meremukkan tubuhnya sampai-sampai ia tidak bisa menahan seringai kecil yang terpatri di bibirnya.

"Kelihatan menyenangkan, aku ikut!"

:::::::::::::::::::::TOBECONTINUED::::::::::::::::::::::

.

.

.

Chapter VII : Cooking Contest


A/N :

Huuuhhh... shock iya pas bikin chap yang satu ini. kan penuh dengan bunuh-bunuhan. Apalagi sih buatan author ini? gaje ya? Mungkin.

Oki di, stay karena author bakal apdet chapter berikutnya dalam beberapa menit, selamat membaca dan silahkan diriview...