Chapter sebelumnya :

Sehun pun bersekolah di jhs yang sama dengan Chanyeol dan ia mengikuti program akselerasi karena ia pintar. Dan setelah tiga bulan lamanya Baekhyun akhirnya membuka matanya dan kembali mengulang sekolahnya di tahun terakhir bersama Sehun. Setelah Baekhun sadar dan mengetahui semua yang terjadi, ia terus menerus mendekati Sehun dan meminta maaf dibantu oleh Chanyeol. Meskipun tidak pernah mendapat respon positif dari Sehun, Baekhyun tetap saja mendekati Sehun untuk mendapatkan pintu maafnya.

.

.

Kyungsoo World

Cast:

Do Kyungsoo as Wu Kyungsoo

Wu Yifan as Wu Yifan

ParkChanyeol asWu Chanyeol

Kim Joonmyeon as Wu Junmyeon

Kim Jongdae as Wu Jongdae

Kim Jongin

Oh Sehun

Zhang Yixing

Byun Baekhyun

Kim Minseok

Huang Zitao

Xi Luhan

and others(temukan sendiri)

Rate: T

Genre: GS,School-life, Family, Friendship, Romance.

.

.

.

.

Story by:

ucrittri

.

.

.

Selamat Membaca ^^

Sorry for typo

.

.

Gadis bermata bulat itu hanya menatap eskrim di hadapannya dengan pandangan kosong, saat ini ia dan Sehun sedang ada di kedai bubble tea langganan Sehun yang menyediakan eskrim juga. Tidak berselera, adalah alasan saat gadis itu ditanya mengapa eskrimnya tidak kunjung di santap. Sehun hanya menghela nafas saat melihat sahabat kecilnya hanya diam dan tidak bergerak sedikitpun, dan Sehun hanya meringis dalam hati untuk nasibnya kedepan. Pasalnya, Kyungsoo saat ini sangat berantakan, hidung memerah, mata bengkak, suara parau, rambut yang tadinya tergerai indah kini nampak kusut. Jika Sehun membawa pulang Kyungsoo dalam keadaan seperti itu, bukan tidak mungkin ia dihajar oleh para oppa yang sangat protektif terhadap si bungsu Wu. Apalagi daritadi Chanyeol terus-terusan mengirimkan pesan pada Sehun untuk segera membawa Kyungsoo pulang. Terima nasib sajalah, batin Sehun pasrah.

"Sooie, pulang yuk. Oppa mu sudah menyuruhku untuk mengantarmu pulang"

"shirreo"

"Sooie, ayolah ini sudah hampir malam dan disini dingin. Yuk pulang" Sehun menyampirkan jaket ke pundak Kyungsoo, yang segera ditampik oleh Kyungsoo.

"jangan menyentuhku Oh Sehun!" Kyungsoo mendesis dengan tatapan tajam pada Sehun.

"Soo? Kau kenapa?" Sehun sangat kaget melihat Kyungsoo yang sedang dalam mode marah.

"kenapa katamu? Kau anggap apa aku selama ini hah? Apa aku tidak penting lagi dalam hidupmu? Kau tau sendiri aku sangat dekat dengan eomma mu dan aku menganggap orangtuamu adalah orangtuaku juga. Tapi kejadian besar yang menimpa mereka bahkan tidak ada yang mau memberitahuku. Saat aku bertanya pada appa pun dia bilang mereka baik-baik saja. kalian membohongiku, aku tidak percaya kalian setega itu. Adakah alasan yang lebih logis daripada pendidikanku? Keluarga bukankah lebih penting? Ah ya, mungkin aku yang memang tidak penting dikehidupanmu dan keluargaku sendiri" Kyungsoo berdiri dan berlari keluar setelah mengeluarkan unek-uneknya. Sementara Sehun hanya terdiam dan tidak mengejar saat Kyungsoo meninggalkannya. Ia tidak bisa berfikir jernih saat ini.

Perkataan gadis itu memang benar, keluarga lebih dari segalanya. Ia tersentak saat ponsel di meja berdering dengan nyaring. Ponsel Kyungsoo. Sehun merutuki dirinya sendiri yang mengacaukan harinya dengan Kyungsoo, dan ia harus bersip-siap kena marah dari kakak-kakak Kyungsoo karena adiknya kabur begitu saja dan tidak ada dalam jangkauan matanya. Ia mengambil ponsel Kyungsoo dan mengangkatnya saat layar menampilkan Myeonnie Oppa's calling.

"yeobseyo"

"..."

"ia sedang ke kamar kecil hyung"

"..."

"ne hyung sebentar lagi kami pulang"

"..."

"ne hyung, anyeong" Klik.

Sehun mengakhiri panggilan, dan ia menarik nafas panjang. Masalah baru muncul lagi, dan ia dengan bodohnya berbohong pada Joonmyeon dengan mengatakan ia akan segera membawa Kyungsoo pulang, sedangkan gadis itu saja ia tak tau ada dimana sekarang. Sehun harus mencarinya dulu sekarang, mungkin Kyungsoo tidak akan jauh-jauh dari kedai bubble tea itu.

.

.

.

Kyungsoo pov

Dimana ini? Sial, aku tersesat. Aku merogoh saku untuk mengambil handphone dan hasilnya nihil. Ah tertinggal tadi di kedai bubble tea, tambah sial lagi tas berisi dompet malah ikut kutinggal.

Hei ini bukannya sungai han ya? Wah pemandangan malamnya indah sekali. Kabur sebentar tidak masalah kan ya? Lagipula aku sudah besar. Aku pun mendaratkan bokong di kursi dekat sungai. Kuhirup dengan pelan udara yang menyegarkan sembari menutup mata. Entah kenapa hari ini rasanya melelahkan sekali. Ingin rasanya menjauh dari Sehun dan keluargaku untuk saat ini. Hah lama-lama aku bisa gila jika memikirkan masalah hari ini.

"mangkalnya ko disini?" suara yang sedikit familiar memasuki gendang telingaku. Ku tolehkan kepala kesebelah kanan. Ah tentu saja, siapa lagi yang selalu menganggapku wanita murahan jika bukan namja bemulut pedas teman Sehun ini. Kim menyebalkan Jongin.

"aku tidak sedang mangkal. Maaf saja" tidak peduli aku dianggap tidak sopan oleh sunbaeku di sekolah ini.

"ey galak sekali. Lalu sedang apa kau disini dengan keadaan berantakan ini hmm?" tanyanya lagi.

"bukan urusanmu" tukasku.

"heh sopan sedikit pada sunbae mu" dia menjitak pelan kepalaku. Yak! Dipikirnya sedekat apa kami sampai ia berani berbuat begitu? Sialan.

"don't touch!"

"hahaha, kemana Sehun? Kau sendirian? Bukannya kalian pergi kencan ya?" kukira ia namja yang sedingin es dan hanya bemulut pedas, tapi aslinya cerewet dan kepo sekali ya.

"ku tinggal, dan aku tidak berminat kencan dengannya. Dia hanya sahabatku"

"wah pasti Sehun sakit hati jika kau berkata seperti itu di depannya"

"tak peduli, seperti ia peduli padaku saja"

"kalian bertengkar? Coba ceritakan!" dan tanpa sadar aku bercerita dari awal sampai akhir dan bagaimana aku ada disini sekarang.

"aku tidak tau harus menanggapi bagaimana. Karena itu masalahmu dan Sehun. Ini sudah malam, kau pasti sedang dicari oleh Sehun dan keluargamu. Ayo pulang" ia berdiri dan mengulurkan tangannya kepadaku. Entah kenapa aku menurut saja dan menyambut uluran tangannya.

"hey kau benar-benar wanita murahan ya?" sial, mulut pedasnya itu benar-benar tidak bisa dikondisikan dalam suasana seperti ini.

"aku hanya menyambut uluran tanganmu sialan!" ku hempaskan tangannya dan berjalan mendahuluinya. Ah aku benar-benar kehilangan kontrol emosiku saat berhadapan dengannya.

"yak! Jangan begitu. Mianhe untuk segala perkataanku yang menyinggungmu. Lagipula kau kan selalu di kelilingi dan bermesraan dengan namja-namja tampan dan aku tidak suka melihatnya" he? Apa aku tidak salah dengar?

"aku hanya bermesraan dengan oppaku. Dan kenapa lagi kau tidak suka? Bukan pacarku kan lagipula" aneh sekali sih dia ini.

"oppa? Jadi yang selalu mengantarmu ke sekolah itu oppamu?" tanyanya lagi

"hmm"

"yak jangan marah kan aku tidak tau jika itu oppamu dan malah menganggapmu murahan. Jujur saja, aku tidak suka dengan wanita yang selalu menempel pada pria-pria tampan dan kaya. Seperti lintah, tidak aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu. Kau boleh mengembalikan matamu ke ukuran semula. Tidak usah melotot begitu" tanpa sadar aku membolakan mataku yang sudah besar ini jadi tambah besar.

"memangnya kenapa kau tidak suka? Bukannya wajar ya jika yeoja suka dengan pria tampan dan kaya? Yah aku sih tidak begitu, mungkin. Karena aku belum pernah keluar dari zona oppaku dan Sehun" ngomong- ngomong kami sudah ada di mobil Jongin, oke aku tidak bisa bicara sopan dan menghormatinya sekarang. Salahkan dirinya yang selalu mengajak tarik urat jika bertemu sehingga hilang rasa respectku.

"yah mungkin karena wanita murahan dan penggoda yang bisa membuat keluargaku hancur, jadi aku bisa tidak suka pada wanita seperti itu" jawabnya gamblang. Aku sih tidak begitu peduli, dan tidak terlalu mau tahu tentang kehidupannya.

"oh begitu" jawabku sekenanya.

"kau tidak ingin mendengar ceritanya?"

"tidak. Tapi jika kau ingin, berceritalah. Aku akan mendengarkan" jawabku.

"kau sudah berani memakai banmal ya? Tanpa ada embel-embel sunbae atau oppa lagi. Berasa tua hah?" jadi dia baru sadar aku memakai banmal? Heol, kesadarannya berapa persen sih, dia tidak sedang minum soju kan.

"sudahlah, anggap saja kita teman sebaya hari ini. Jadi kau mau bercerita tidak?"

"ah yasudah, hanya hari ini kau ku perbolehkan memakai banmal padaku. Hmm bingung sih mulai darimana. Awalnya keluargaku harmonis, aku anak tunggal. Ayahku seorang pebisnis handal yang yah lumayan terkenal dan sangat setia dan selalu menomorsatukan keluarga, tapi saat ibuku mulai sakit-sakitan ia berubah. Suka mabuk-mabukan, dan sekertaris ayahku menopangnya. Mungkin dari situ timbul benih-benih cinta terlarang diantara mereka, padahal sekertaris ayahku itu adalah sahabat ibuku. Hahaha miris memang, dan ibuku tau semua perbuatan mereka hingga akhirnya meninggal dan yah ayahku dengan brengseknya langsung mengadakan upacara pernikahan tiga hari setelah kematian ibuku. Hebatnya lagi ia bukan menikahi sekertarisnya tapi seseorang yang dulu pernah hadir dihatiku. Pacarku saat itu. bayangkan saja Kyungsoo, kau dalam posisi berkabung dan berharap ada yang bisa kau jadikan sandaran dan tumpuan, malah dengan senyum manis beracunnya menikamku dari belakang dan berkata akan menikah dengan ayahku dan sudah mengandung 2 bulan. Aku yang menjadi pacarnya saja belum berani menyentuhnya sedikitpun. Jalang memang, maka dari itu aku tidak suka dengan wanita-wanita penggoda dan hanya melihat harta saja"

Aku heran dia bercerita banyak dengan wajah setenang itu dan tanpa ekspesi. Entah perasaanku saja atau apa, tapi mengapa orang-orang disekelilingku banyak yang mengalami masalah dengan keluarganya. Oke tidak banyak, hanya Sehun dan Jongin saja.

"ah begitu. Aku turut bersedih mendengar kabar ibumu. Aku mengerti sekarang kenapa kau sinis padaku. Tapi yah aku tadi sudah bilang kan padamu itu hanya para oppaku. Oppaku memang banyak sih" kenapa aku harus repot-repot menjelaskan pada Jongin ya, mungkin karena aku tidak ingin dicap buruk dan dimusuhi saja.

"maka dari itu aku ingin meminta maaf padamu Kyungsoo, aku sudah salah sangka padamu dan mengataimu wanita murahan. Padahal kau tidak seperti itu kan, dan aku juga minta maaf jika perkataanku selama ini membuatmu sakit hati, bahkan membuatmu menangis. Sekali lagi maaf ya" dia berkata seperti itu dengan tulus, mau tak mau aku menyunggingkan senyum kearahnya dan ia balas dengan cengiran bodoh. Cih kenapa malah terlihat tampan?

"sudahlah, aku tidak apa-apa. Jadi masalah salah paham itu sudah clear ya? Jadi masih lama tidak kita sampainya? Aku sudah lapar sekali. Hehehe" biar saja aku dianggap tidak tahu malu. Memang begitu kan?

"yak bagaimana bisa kita sampai rumahmu jika kau tidak memberi tahu dimana rumahmu? Kau itu bodoh atau bodoh sih? Heran bagaimana kau bisa menjadi peringkat satu saat ujian masuk" nah kan mulut pedasnya mulai lagi.

"aku tidak tau jalan ke rumahku. Hehe" dia menghela nafasnya pelan dan mendelik kearahku.

"ku telepon Sehun saja ya? Sambil kita makan dulu. Aku tidak tahan mendengar suara cacing diperutmu. Berisik sekali" Sial, aku malu sekali. Dasar perut tidak bisa diajak berkompromi.

"jangan berani-beraninya kau telepon Sehun. Aku tidak ingin bertemu dengannya" sahutku ketus. Aku masih kesal pada Sehun omong-omong.

"baiklah-baiklah, masalah pulang nanti kita pikirkan lagi. Sekarang kau ingin makan apa?"

"apa ya? Ayam goreng sepertinya enak"

"ah ayam goreng? Aku tau yang enak disekitar sini. Bukan restoran besar sih, Cuma rasanya lebih enak dari restoran bintang lima" yayaya, terserah kau saja Jongin aku sudah sangat lapar, ucapku dalam hati.

.

Kyungsoo pov end

Kyungsoo dan Jongin telah selesai makan, dan mereka masih duduk-duduk di restoran ayam itu sambil mengobrol ringan. Padahal jam sudah menunjukan angka 8, sampai Jongin menyadari Kyungsoo masih dengan seragam sekolahnya.

"jadi bagaimana kau bisa pulang Kyungsoo jika kau tidak ingat jalan pulang?" Jongin bertanya setelah menyeruput colanya.

"aku kan satu rumah dengan Chan oppa, kau masa tidak tahu rumahnya?"

"ah iya aku baru ingat kau adiknya si cambah tiang. Yasudah ayo pulang! Sudah malam."

"sopan sedikit Kim hitam, dia itu sunbaemu. Panggil dia sunbae atau hyung. Shirreo, aku belum ingin pulang"

"tolong bercermin ya, yang tidak sopan itu siapa! Lalu kalau tidak pulang kau mau kemana? Tidak malu masih memakai seragam hah?"

"bercermin aku sih sudah sering, dan aku cantik. Terimakasih. Kita jalan-jalan kuliner malam bagaimana? Aku belum terlalu kenyang makan ayam tadi, hehehe"

"tidak. Kau harus pulang, atau aku akan menghubungi si Oh albino itu untuk menyeretmu pulang"

"aku tak ingin bertemu dengannya sekarang, jebal. Ah baik-baik aku pulang. Dan kau-" omongan Kyungso terputus saat ia melihat Chanyeol dan Baekhyun sedang memasuki restoran.

"heh! Kau kenapa sih?" Jongin heran menatap gadis didepannya yang mendadak diam, ia pun mengikuti arah pandang Kyungsoo.

"sial, jangan panggil mereka" terlambat, Baekhyun terlanjur melihat Kyungsoo dan Jongin, lalu melambaikan tangannya.

"Kyungie sedang apa disini dengan si hitam ini? Sehun mana, bukankah kau ijin pergi bersamanya?" tanya Chanyeol dengan tatapan tajam.

"molla, jangan bahas Sehun please" Kyungsoo mencebikan bibirnya kebawah. Lucu sekali.

"nah, berhubung kau sudah bertemu oppamu ini, tugasku mengantarmu pulang dibatalkan ya pendek"

"siapa yang kau bilang pendek, Kim hitam?!" balas Kyungsoo tak terima disebut pendek.

"yak, kalian ini apa-apaan eoh? Kau pulang denganku, jelaskan kenapa kau bisa berakhir disini dengan si hitam ini sampai selarut ini. Jangan membantah! Ayo!" Chanyeol menarik tangan Kyungsoo agar berdiri dan mengikutinya keluar. Jelas saja Chanyeol marah, adiknya masih ada diluar malam-malam begini, masih memakai seragam pula. Sampai Chanyeol lupa jika Baekhyun tertinggal dibelakang dengan muka bingung dan shock.

"kau akan tetap disini atau ikut pulang Byun?" oke Chanyeol jika sudah memanggil marga berarti ia sedang dalam mode marah tahap tinggi.

"o-oke. Bye Jongin" Baekhyun berlari menyusul sepasang kakak beradik itu keluar.

Jongin menghela nafasnya, menyusahkan saja mereka itu, gumamnya.

.

.

.

.

"jadi ada yang ingin kau jelaskan Wu Kyungsoo, mengapa kau tidak bersama Sehun dan malah berakhir dengan Kim Jongin hingga tertangkap basah olehku ? Kau mulai berkencan sekarang? Apa kau tidak malu berkeliaran malam-malam masih menggunakan seragam? Coba jawab, jangan diam saja!"

Mereka saat ini ada di ruang keluarga, Chanyeol yang berdiri sambil bersedekap dihadapan Kyungsoo yang duduk seperti tahanan di sofa besar ruang keluarga. Kyungsoo menghela nafasnya lelah.

"aku tidak berkencan oppa, aku hanya kebetulan bertemu dengannya. Aku sedang marah pada Sehun dan meninggalkannya di kedai bubble tea bersama ransel dan ponselku. Dan aku lapar, maka dari itu Jongin dan aku makan terlebih dahulu sebelum pulang. Sudah jelas?"

"hey ada apa ini ribut-ribut?" Junmyeon datang sambil membawa segelas jus jeruk ditangannya.

"lihatlah hyung, maknae kita sudah bisa berkencan dan pulang dari batas jam wajarnya. Ia kutemukan sedang bersama adik kelasku di restoran ayam" jawab Chanyeol.

"yak oppa, kubilang aku tidak berkencan dengannya. Apa penjelasanku kurang jelas?!" Kyungsoo bangkit dari duduknya.

"bohong, jelas sekali tadi kau terlihat bahagia bersama Jongin. Mengaku tidak?!" Chanyeol maju selangkah mendekati Kyungsoo.

" . .dengannya" Kyungsoo melotot kearah Chanyeol dan menekankan kata perkatanya.

" . "

" "

" .berkencan" dan terjadilah aksi jambak-jambakan antara oppa dan dongsaeng itu.

Junmyeon menghela nafas, ada apa dengan kedua adiknya itu, setiap bertemu pasti ribut terus. Ia hanya menonton mereka ribut, terlalu malas untuk melerai sampai Yifan datang dengan raut muka kusutnya.

"aigoo, datang-datang sudah disuguhi pemandangan menyebalkan. Wu Chanyeol Wu Kyungsoo, berhenti sekarang!"

Tapi mereka berdua tidak mendengarkan Yifan dan masih asik menjambak satu sama lain. Bahkan Kyungsoo sekarang sedang mencakar wajah Chanyeol.

"Kubilang BERHENTI!"

Refleks Kyungsoo dan Chanyeol terdiam dan menoleh pelan kearah suara yang menyuuh berhenti dengan tangan masih ada dirambut dan muka 'musuh' masing-masing.

"berhenti kalian, memalukan. Ganti seragammu sekarang dan kembali dalam lima menit" – tunjuknya pada Kyungsoo, "-dan kau tunggu disini, jangan bergerak dan macam-macam" Yifan mengusap kasar wajahnya.

Kyungsoo dan Chanyeol hanya terdiam dan melaksanakan perintah kakak tertua mereka.

"hay semuanyaaaa, Jongdae is here. Wtf, ada apa dengan mereka?" Jongdae yang baru datang terkaget-kaget melihat keadaan dua dongsaengnya, rambut acak-acakan, muka merah padam dan nafas yang tersengal-sengal.

"biasa, bertengkar lagi. Tapi kali ini lebih ekstrim" jawab Junmyeon.

"si caplang itu benar-benar seperti anak kecil jika sudah bersama Kyungsoo, masalah apalagi kali ini hyung?"

"molla" Yifan yang menjawab dan duduk disofa single. Jongdae dan Junmyeon mengikutinya duduk dihadapan Yifan

.

.

Kyungsoo dan Chanyeol sedang berlutut dan tangan mereka mengepal keatas, persis seperti sedang dihukum jika membolos di sekolah. Sedangkan ketiga kakaknya kompak duduk di sofa ter panjang dihadapan mereka berdua, dengan bersedekap. Berlagak menghakimi, padahal dua diantaranya sudah ingin tertawa melihat kedua adiknya di'hukum' oleh yang tertua.

"jadi, jelaskan padaku mengapa kalian bertengkar!" Yifan membuka persidangan(?).

"Kyungie yang memulai/Chan oppa yang memulai" sahut Chanyeol dan Kyungsoo bersamaan. Dan keduanya saling menatap dengan sinis.

"Jelaskan Kyungsoo!" Yifan mulai lelah

Dan Kyungsoo pun menceritakan dari awal ia kerumah sakit jiwa dan berakhir dengan bertemu Jongin.

"nah semuanya sudah jelaskan Chanyeol? Lalu kenapa malah ribut? Ayo meminta maaf" Junmyeon dan segala sikap dewasanya.

"tidak mau. Huh" Kyungsoo memalingkan wajah.

"Soo-ie, jangan begitu" kali ini Jongdae yang menengahi.

"aku minta maaf ya Soo, tidak mendengarkan penjelasanmu dulu" Chanyeol melirik takut pada adiknya.

"hhh, iya oppa kumaafkan. Ayo sini peluk" Chanyeol dan Kyungsoo pun berpelukan. Ketiga kakak mereka melihat dengan gemas dan ikut memeluk mereka.

"nah begini kan manis" ujar Yifan.

"oh iya, jadi bagaimana nasib Sehun sekarang?" Jongdae bertanya setelah mereka melepas pelukan.

"ah pasti dia sedang gemetaran takut pada Yifan hyung jika tau membuat Kyungsoo seperti ini" timpal Chanyeol.

"sudahlah, biarkan saja. Jangan berani kalian apa-apakan, dia sahabatku" Kyungsoo tersenyum manis.

"tapi Soo-"

"sudahlah Yifan oppa, aku sudah memaafkannya. Mungkin tadi aku emosi gara-gara hari ini masuk masa periodeku hehehe"

"uh, ini memalukan, jangan bicarakan masa periode perempuan jebbal" Jongdae menutup kupingnya.

"sudah-sudah, ayo kita tidur. Ini sudah malam" Yifan memerintahkan semuanya untuk tidur.

"aku ingin tidur dengan Kyungsoo, bolehkan Soo?" tanya Chanyeol.

"aku juga" – Jongdae

"akupuuuun" – Junmyeon

"baiklah kita semua tidur disini ya oppa-oppa ku yang tampan. Ayo singkirkan sofa-sofa ini"

Malam itu mereka tidur bersama di ruang keluarga, dan Siwon hanya tersenyum saat melihat anak-anaknya tertidur dengan damai saat ia pulang. Ah ia jadi ingin ikut dalam kehangatan lima sibling itu.

Segera setelah mengganti baju dan mandi, ia menyelinap diantara Yifan dan Kyungsoo, dan beruntunglah mereka tidak terbangun. Ia memeluk anak bungsunya, mengecup pelan keningnya, dan berkata "selamat tidur bidadari dan para jagoan appa", kemudian ikut terlelap dalam keheningan yang nyaman.

.

.

.

Sehun bimbang didepan pintu utama mansion Wu, ia takut jujur saja. Setelah menimbang dan memantapkan tekadnya, ia memencet bel. Tak lama pintu terbuka, dan senyuman di bibir gadis yang membuka pintu perlahan luntur saat tau siapa yang memencet bel rumahnya sepagi ini.

"kau sudah pulang...emm Soo" entah bertanya atau memberi pernyataan Sehun menatap gugup Kyungsoo yang ada dihadapannya

"kau pikir yang berdiri dihadapanmu ini setan?!" jawab gadis itu sarkas.

"jangan marah kumohon-" Sehun menggenggam kedua tangan Kyungsoo dan raut wajahnya dibuat sesedih mungkin, "-dan oh iya ini aku membawa coklat kesukaanmu. Jangan marah lagi ya Soo-ie sayang. Nanti cantiknya hilang"

Jika diperhatikan sepasang sahabat itu seperti pasangan kekasih yang sedang bertengkar dan si lelaki sedang membujuk pacar perempuannya agar tak berkepanjangan marahnya.

"heh apa-apaan ini. Lepas!" Sehun terlonjak kaget saat melihat Yifan datang dari belakang Kyungsoo.

"e-eeh hyung an-anyeonghasseyo" ucap Sehun sambil membungkuk 90o dan tergagap.

"hmm, ayo Kyung sarapan" ucap Yifan tidak memedulikan Sehun.

"ayo Hun, kita sarapan bersama" ajak Kyungsoo

Dan akhirnya Sehun ikut sarapan bersama keluarga Wu. Dan yang menyedihkan adalah Sehun seolah tidak ada diruang makan mansion Wu,iya Sehun tidak ada yang menganggap. Kasihan. Jika saja Siwon masih dirumah pasti Sehun tidak semengenaskan ini. sayangnya kepala keluarga Wu ini sudah pergi pagi-pagi sekali.

Ditengah sarapan Yifan menyampaikan suatu hal yang membuat semuanya terkejut.

"Soo-ie kau tertarik dunia modeling tidak?" ucap Yifan membuka pembicaraan.

"dia kan pendek hyung, biarpun dia tertarik mana ada agensi yang mau memakainya" Chanyeol menyela sebelum yang ditanya menjawab.

"kurang ajar! Aku tak sependek itu ya oppa, kau saja yang tiap hari makan tiang hingga tinggimu menjulang seperti tiang listrik yang di tabrak oleh ketua DPR di Indonesia sana..."

"apa kau bilang? Berani ya bilang aku kurang ajar? Tidak sopan" Chanyeol bangkit dari kuburnya. Ralat. Dari duduknya.

"oppa duluan yang bilang aku pendek. Aku kan tidak pendek, aku tidak terima ya" Kyungsoo ikut-ikutan bangkit.

"memang kenyataannya kau pendek. Terima saja"

"aku tidak pendek"

"kau mem-"

Yifan menggebrak meja makan, ia jengah dengan kelakuan dua maknaenya yang setiap saat selalu bertengkar. Yang lain hanya bisa terlonjak kaget mendengar teriakan si sulung.

"DIAM! Hobi sekali sih kalian berdua ini bertengkar. Diam Chanyeol, aku sedang berbicara pada Kyungsoo. Dan kau Kyungsoo tidak baik berbicara seperti itu pada oppamu. Minta maaf kalian berdua. SEKARANG!"

"mianhe Soo" Chanyeol menundukan kepalanya.

"ne oppa, mianhe" Kyungsoo menghembuskan nafas kesal, ia bertaruh bahwa mereka pasti akan bertengkar lagi dalam waktu dekat.

"jadi Soo, bagaimana dengan pertanyaan oppa tadi?" Yifan kembali tenang.

"yah Kyungie sih suka jika berada didepan kamera. Tapi untuk mendalami menjadi model, Kyungie belum tau oppa. Memangnya kenapa oppa bertanya?"

"oppa akan meluncurkan brand seragam sekolah terbaru, dan oppa belum menemukan model yang tepat. Untuk model lelakinya oppa sudah mendapatkannya, tinggal model perempuannya. Kurasa seragam cocok dengan image mu Soo"

"oke, aku akan mencobanya. Kapan aku harus datang ke kantor oppa?"

"bagus, nanti aku tanyakan lagi pada karyawan bagian iklan dan aku akan memberitahukan jika sudah pasti"

"ne oppa"

"aku duluan ya, biasa sift pagi" Junmyeon meninggalkan ruang makan duluan.

"hati-hati oppa/hyung" jawab mereka serempak, kecuali Yifan tentunya, yang atensinya sedang tertuju pada namja disebelah Kyungsoo.

"Oh Sehun, sehabis sarapan ikut aku ke taman belakang"

Sehun menelan nasinya dengan susah payah, dan kemudian mengangguk pelan.

"kau bisu?"

"n-nne hyung,eh anniya. Ehmm maksudku iya aku akan ikut"

"hmm"

Dan apakah yang akan terjadi pada Sehun?

.

.

.

.

.

.

Sehun, Kyungsoo dan Chanyeol sudah sampai diparkiran sekolah. Sehun membuka pintu untuk Kyungsoo dan menggenggam tangan Kyungsoo dan tangan yang satunya ia gunakan untuk membawa tas sekolah Kyungsoo. Chanyeol tidak mau ketinggalan, ia menggenggam tangan Kyungsoo yang kosong. Sedangkan korban genggaman tangan dua namja tiang di kanan dan kirinya hanya bisa mendelikan matanya.

Seperti drama saja,pikirnya. Dan ia menatap Sehun yang hanya diam saja, bahkan saat di mobilpun ia tidak bicara sama sekali.

"Sehunnie, kau kenapa hmm? Mengapa diam saja?" tanya Kyungsoo lembut sambil mengelus pelan tangan Sehun dengan ibu jarinya.

"tidak apa-apa Soo" jawab Sehun dengan suara sedikit serak, bahkan ia memalingkan wajah dari Kyungsoo dan Chanyeol.

"kau menangis?" tanya Chanyeol memastikan

"an-aniya, untuk apa aku menangis" jawab Sehun sambil berjalan meninggalkan duo sibling yang hobi bertengkar itu.

Keduanya mengejar Sehun dan menghadangnya. Dan meledaklah tawa Chanyeol sambil memegang perut dan berjongkok. Matanya mengeluarkan airmata, bukan menangis tentunya, Chanyeol hanya terlalu banyak tertawa saat melihat wajah Sehun. Oh ayolah, siapapun disekolah ini tidak akan mengira jika Sehun bisa menangis sampai mata dan hidungnya memerah lucu dan bibirnya mencebik kebawah seperti anak kecil yang tidak dibelikan eskrim oleh orangtuanya.

Pangeran es yang tampan dan angkuh ini menangis? Heol apa kata warga sekolah? Hilang sudah image cool dan kharismanya.

"kau kenapa Hunnah?" tanya Kyungsoo cemas dan mengabaikan sura tawa Chanyeol yang menganggu pendengaran.

"sudah tidak apa-apa Kyung, ini aku kelilipan tadi. Aku tidak menangis"

"aku tidak bisa kau bodohi Oh Sehun. Jawab jujur kau ini kenapa? Aku khawatir. Dan bisa diam tidak sih oppa? Kau mengganggu sekali" delik Kyungsoo sebal pada Chanyeol yang masih saja tertawa

"jujur saja, aku tadi sangat takut saat dimarahi Yifan hyung, nyaris saja aku mengompol, oppamu yang satu itu menyeramkan saat marah. Aku tidak tahan, jadi aku menangis. Hueeee" Sehun memeluk Kyungsoo dan sesenggukan dibahu sempit gadis itu.

"omona, Oh Sehun kau tidak malu hah? Predikat pangeran esmu sedang dipertaruhkan hanya karena dimarahi Yifan hyung dan kau menangis. hahahahaha. Konyol sekali kau, sudah ayo masuk kelas. Kita jadi tontonan warga sekolah nih. Memalukan" Chanyeol menarik bahu Sehun agar terlepas dari Kyungsoo.

Dan mereka bertigapun masuk ke gedung sekolah dengan tatapan heran siswa siswi saat melihat wajah pangeran es sekolah mereka memerah dan berlinang air mata.

Yifan hyung mengerikan. Batin Chanyeol dan Sehun.

.

.

.

Kehidupan sekolah Kyungsoo berjalan dengan baik, hari-harinya semakin menarik saja. Surat, bunga dan coklat masih memenuhi lokernya, dan Tao tetap setia menempeli Kyungsoo dan selalu kegirangan saat membantu Kyungsoo membawa barang-barang hadiah dari loker gadis cantik itu. Karena Kyungsoo dengan baik hati memberikan separuh coklatnya pada Tao.

Kyungsoo juga masih saja sering bertengkar dengan oppa tiangnya, siapa lagi kalau bukan Chanyeol. Dan masih melakukan hal-hal manis bersama Sehun sebagai sahabatnya.

Kyungsoo merasa hari-hari sekolahnya benar-benar sempurna, jika saja pertanyaan Tao tidak mengusik pikirannya. Saat ini sepasang teman sebangku itu sedang berada di kafetaria karena free class, jadi mereka bisa dengan bebas berkeliaran.

"Soo, kau tau kan jika kau cantik-"

"aku tau" potong Kyungsoo

"dengar dulu bodoh, kau kan cantik, banyak penggemar, dan kau juga ramah serta sopan, lalu-"

"terimakasih pujiannya Panda, aku tersanjung"

"ku bilang dengarkan dulu! Ish main potong saja" Tao cemberut dan malas meneruskan perkataannya.

Kyungsoo tertawa, sungguh, temannya ini tidak cocok jika merajuk seperti ini.

"baiklah-baiklah, jangan merajuk please. Kau mengerikan. Lanjutkan Tao"

"huh, kau sih! Jadi apa kau tidak tetarik memiliki pacar?"

"pacar?"

"iyaaaaa, pacar"

"kenapa aku harus punya pacar? Dan apa kegunaan mempunyai pacar?"

"oh heol, masa-masa sekolahmu tidak akan membosankan jika kau punya pacar. Ada yang akan mengantar dan menjemputmu ke sekolah, bercanda saat di kafetaria, kencan romantis, saling mengirim pesan, main ke taman bermain, menaiki bianglala saat matahari terbenam-"

"stop stop stop, berhenti sampai disitu. Kau terdengar seperti yeoja Tao. dan lagi, memangnya kau sendiri punya pacar?"

"kau menghentikan khayalan indahku Soo, ehh? Hehehe aku sendiri belum punya pacar"

"nah kan, belum punya saja sok-sokan. Lagipula, jika hanya mengantar jemput, saling bertukar pesan, bercanda, main dan sebagainya aku sudah sering lakukan dengan Sehun. Jadi aku tidak butuh pacar jika kegunaan pacar hanya itu"

"pointnya bukan disitu saja bodoh, kau belum pernah merasakan ribuan kupu-kupu terasa melayang diperutmu saat kau bertatapan dengan Sehun sunbae kan? Dan kau tidak merasa jantungmu akan melompat dari tempatnya saat kalian bergandengan tangan. Yang kau rasakan hanya sebatas perasaan sayang pada sahabat. Tapi ini berbeda Soo, berbeda jika kau sudah menemukan tambatan hatimu" jelas Tao panjang lebar, seperti ia ahli dalam percintaan.

"jadi jika aku menemukan seseorang yang dapat membangkitkan ribuan kupu-kupu terbang diperutku, dan jantung seakan hilang dari tempatnya, berarti dia tambatan hatiku begitu? Dan aku harus memacarinya?"

"eu itu, aku juga bingung, harus memacarinya tidak ya? Ya haruslah, kan agar kita punya pacar. Gimana sih kau ini"

"siapa yang punya pacar?" Sehun tiba-tiba datang dan mengecup pipi Kyungsoo, ia tidak sendiri. Seperti biasa, Kim Jongin pasti selalu ada bersama Sehun.

"kalian tidak malu ya, melakukan skinship seperti pasangan kekasih seperti itu tapi tidak ada hubungan apa-apa?" sarkas Jongin.

"kami kan punya hubungan, iyakan Soo?" tanya Sehun pada Kyungsoo

"iya, kita kan sahabat" jawab Kyungsoo innocent, Sehun langsung keruh, Jongin dan Tao tertawa terbahak-bahak.

"tuh dengar tidak Oh? Sahabat, kuulangi SA-HA-BAT. Hahahaha"

"diam kau hitam. Kau juga panda. Sialan kalian ini"

"loh kalian kok sudah keluar kelas? Ini kan belum jam istirahat" tanya Kyungsoo.

"kami dikeluarkan dari kelas, karena tertidur saat pelajaran Mr. Kang. Siapa sih yang tidak akan tertidur saat mendengarkan si botak itu menjelaskan pelajaran?! Sehun yang suka belajar saja tertidur"

"anak teladan sekali ya kalian ini sunbae" Tao terkekeh pelan.

.

Dari pintu kafetaria, Luhan sedang mencari-cari Kyungsoo, dan ia tersenyum melihat Kyungsoo ada di bangku pojok dekat jendela. Langsung saja ia menghampiri empat orang yang sedang bercengkrama itu.

"hai, sorry mengganggu. Boleh kupinjam Kyungsoo sebentar? Ada yang harus aku bicarakan dengannya"

"bicara disini saja sunbae. Sepertinya tidak terlalu penting" Sahut Sehun ketus. Jujur saja ia cemburu. Hah? Cemburu? Tidak,aku tidak cemburu, batinnya menyangkal. Dan Kyungsoo hanya bisa mencubit Sehun karena tidak sopan.

"haha, baiklah. Aku bicara disini saja. jadi Kyungsoo, aku mendapat pesan dari oppamu, untuk mengajakmu ke kantornya hari ini. Dan ia menyuruh kita bedua dispensasi, berhubung ini masih pagi. Katanya ada yang harus dibicarakan tentang pemotretan. Dan ponselmu tidak aktif, jadi ia menyuruhku menyampaikan ini padamu"

"ah handphoneku ada di tas, dan sepertinya baterainya habis. Terimakasih oppa sudah memberi tahu, ayo kalau begitu. Tao, kalau kau ingin coklat ambil saja di lokerku ya, aku duluan semuanya. Bye"

Kyungsoo dan Luhan keluar dari kafetaria dengan diiringi tatapan tidak suka dari dua diantara ketiga namja yang ada disitu.

"ah aku mau pergi ke loker sunbae, duluan yah" Tao seakan mengerti situasi pergi dari situ.

"Luhan sunbae dipanggil oppa? Oppa katanya? Heh apa-apaan itu. Bahkan ia memanggilku Kim hitam, bagaimana ini Oh Sehun? Aku tidak terima. Aku juga ingin dipanggil oppa"

"jangan ooc Jongin, menjijikan. Aku juga tidak terima, seenaknya saja pergi dengan Kyungsoo"

"aku tidak suka jika Kyungsoo pergi dengan Luhan-Luhan itu. Dia kan idol, aku takut Kyungsoo diapa-apakan oleh fans Luhan yang slogannya bim alias bias is mine, tak terbayang deh"

"iya aku ju-, sebentar, kenapa kau khawatir pada Kyungsoo? Kau menyukainya Kim?" Sehun berteriak

"iya aku menyuka-, ah tidak, aku tidak menyukainya Oh" Jongin ikut berteriak.

"aku tak yakin, jika kau memang menyukainya ayo bertarung secara sehat. Kau tau aku juga menyukainya, ah ani aku mencintainya"

"terserahlah, aku bilang aku tidak menyukainya" lain dimulut lain dihati. Jongin memang menyukai Kyungsoo, tapi ia terlalu gengsi mengakuinya.

Selain itu, pemuda tan itu tau bagaimana perasaan Sehun yang notabennya adalah sahabat dekatnya dan mempunyai perasaan yang sama padi gadis bermata bulat dan pemilik bibir hati yang menawan itu.

.

.

.

hyaaaa akhirnya aku update lagi ini cerita ga jelas. masih ada yang nungguin ga ya? hmm hmm.

jangan bacok aku huhu karena menelantarkan ini begitu amat sangat lama :((

silahkan hujat hehehe...

tunggu next updatenya ya.

janji deh gaakan selama ini. muaah