GAME
Disclaimer: Yang punya Vocaloid banyak (minus saya), tapi yang buat: Crypton ama Yamaha Co. kan? Argh, yang buat Gakupo kalo nggak salah Internet Co, Ltd. Kalo fic ini, jelas punya SAYA.
Rating: Jaga-jaga, rated T.
Genre: Adventure. Ada saran tambahan?
"Siapa?"
Iris biru cerah itu terlihat menyala di tengah kegelapan yang ada di balik pintu.
GULP.
Gakupo dapat merasakan tubuhnya gemetar melihat iris cerah itu. Perasaannya bercampur. Cantik, takut, cantik, takut, cantik, takut, cantik—
Pintu itu dibuka, dan menampakkan seorang gadis dengan rambut panjang yang diikat dua. Rambut indahnya menari –nari mengikuti gemulainya gerakan sang pemilik. Teal dengan biru muda yang cantik... ah, perpaduan yang sangat cocok.
Cantik.
Hati Gakupo ikut luluh akan kecantikannya. Sejak dahulu ia ingin wanita dengan tubuh seindah ini dan rambut seindah ini serta iris cerah yang memukau itu. Ya—ia sebenarnya pernah menemui wanita hiburan yang menandingi kecantikan orang ini, dengan surai merah muda bergelombang, namun—sejak saat itu, ia menghilang begitu saja. Tapi—ini bukan waktunya untuk mengingat masa lalu, mengurusi wanita yang dipermainkan Gakupo. Ini masalah—
"Kalian siapa? Mau bertamu? Senangnya..." gadis itu melirik Gakupo dan Rin. Tatapannya menyiratkan kebahagiaan dan kerinduan—mungkinkah gadis ini senang sekali kalau ada tamu menghampirinya?
—hati Gakupo yang terpanah oleh manisnya si gadis.
-xXx-
"Jadi, namamu Rin, dan ini Gakupo-kun?"
(DEG, DEG, DEG. Jantung Gakupo berdegup lebih keras dan cepat dari biasanya setelah mendengar lantunan si gadis teal. Oh—di umurnya yang bahkan sudah—eh, hampir—diperbolehkan untuk minum bir itu, sudah hampir tidak pernah ada orang yang memanggilnya dengan akhiran –kun, bukan?)
"Iya. Dan kau, hng—"
"Miku Hatsune." Si teal kembali tersenyum—indah, bagai malaikat. Berbeda dari Meiko yang ditemui mereka sebelumnya, yang penuh dengan seringai iblis, Miku betul-betul orang yang bertebaran senyum malaikat yang dapat membuat orang lain hangat hatinya—hmm, mungkin?
"Ah, iya. Miku -chan!"
"Jadi, kalian ke sini untuk menghindari basah karena hujan, ya? Hng... kenapa kalian tidak di sini lebih lama lagi?" Miku sedikit menggembungkan pipinya, memberi kesan imut pada wajah manisnya.
(Dan lagi-lagi, hati Gakupo sukses terpanah oleh pesona Miku saat itu.)
"Ah? Oh iya, Gakupo-san, bagaimana kalau kita di sini lebih lama lagi?" Rin melirik Gakupo. Dan Gakupo hanya membalasnya dengan sebuah anggukan kepala.
"YEEY!" Miku berlompatan senang, sambil menjabat tangan Rin. Wajahnya terlihat begitu bahagia. Memang sih, ia terlihat kesepian. Apalagi... tak ada seorangpun di rumahnya kecuali dirinya sendiri.
... GREEK. Drap, drap.
"Eh?" ketiga orang itu menatap arah pintu yang barusan mengeluarkan suara dan menampakkan sedikit cahaya. Terlihat sosok bersurai biru dan beriris biru yang tak kalah indah dari si teal.
"Hai, Miku."
Mata Miku membulat, namun pupilnya mengecil. Air matanya seperti ditahan untuk keluar—ah...
"KAITO!" Miku langsung menghampiri lalu memeluk sang pria yang memanggilnya barusan. Sosok yang lebih tinggi membelai rambut Miku dengan tatapan lembut. Di bibirnya sedikit tersinggung senyum manis.
"Ahahaha—kau belum berubah. Ternyata kau masih di sini, ya, senangnya."
"Aku selalu menunggu kedatangan Kaito!"
—Ck. Gakupo berdecak pelan, kesal sedikit pada lelaki yang dipeluk Miku saat ini. Yah—sebenarnya daripada disebut kesal, perasaan ini lebih mengutamakan kata 'cemburu'. 'Cemburu' pun sebenarnya—sebenarnya—salah bagi Gakupo. Gakupo bukan siapapun bagi Miku. Bahkan, ia baru mengenal Miku saat ini.
(Namun kehadiran Miku mengingatkannya dengan orang itu. Salah satu wanita hiburan yang pernah ia 'mainkan', namun sebenarnya Ia cintai sepenuh hati.)
"Perkenalkan! Ini Rin dan ini Gakupo-kun." Miku menunjuk kedua orang yang sedang duduk sopan itu. Yang ditunjuk langsung membungkukkan badan sopan.
"E-Eng... Miku-chan, jadi ini kekasihmu..?" Rin bertanya ragu. Miku membalasnya dengan sebuah senyuman lagi.
"Bagaimana ya—" Miku tersenyum lumayan jahil. Tangannya dilingkarkan ke tangan Kaito lalu ia menempel ke Kaito.
"Wah—" Rin sepertinya terpesona oleh Miku (karena Miku yang terlihat sangat dekat dengan kekasihnya).
(Dan Gakupo diam-diam di sana berdecak sendiri karena perasaan cemburunya.)
"—bukan!"
...
"Hah?" bersamaan, kedua insan yang berambut cerah—ungu dan kuning—itu memiringkan kepalanya. Entah darimana datangnya, seperti ada efek suara "GUBRAK!" di sana beberapa waktu yang lalu.
"Ehehehe—Kaito kuanggap sebagai kakak di game ini!"
(Gakupo bernafas lega, dan diam-diam Kaito memperhatikannya.)
"Iya. Dan, hng—ada apa, Gakupo?" Kaito mengarahkan tatapannya ke wajah Gakupo dan Gakupo membalasnya dengan tatapan yang—urr—kurang pantas.
"Hmmm. Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan sekarang? 'Matahari' sudah mulai terbenam, mungkin waktunya makan sore."
"Baik!" Rin dan Miku menjawabnya serempak.
-xXx-
Rumah Miku, perkiraan sudah malam.
"Hngh..." Rin menghela napas. "Makasih sajiannya, ya, Miku-chan, Kaito-san. Maaf merepotkan, ehehehe..." Rin menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Miku dan Kaito membalasnya dengan senyum, seperti biasa.
"Ini nggak merepotkan, kok! Malah menyenangkan ada Rin di sini, hehehe... Rin, kau nanti sekamar denganku, ya!"
Rin terlunjak sebentar, tapi pada akhirnya mengiyakan kata-kata Miku. Sudah lama juga Rin tidak merasakan kehangatan bersama teman seperti ini.
"Kau tidur saja di kamarku, Gakupo." Kata Kaito.
"Hng." Gakupo mengiyakan cuek.
-xXx-
Kamar Kaito, perkiraan sudah tengah malam.
Kaito melirik teman sekamarnya sekilas—ah, tidak, bahkan ia sekarang memerhatikan Gakupo. Kaito tak dapat melepaskan pandangannya pada pria bersurai ungu yang tidur di sampngnya.
Sedikit tambahan; bukan hanya dengan sebuah tatapan biasa.
Kaito menatap pilu wajah Gakupo, sampai menggigit bibir bawahnya. Tak lama, bibirnya bergerak, seperti membisikkan sesuatu—
'Aku tak menyangka dapat bertemu kembali denganmu, Gakupo.'
"Hoi, Kaito—" tiba-tiba, Gakupo melirik ke arah Kaito—ternyata sejak tadi, ia belum tidur. Ia menyadari bahwa Kaito memerhatikannya terus-menerus.
"Untuk apa kau menatapku seperti itu?"
Dan Kaito tersenyum simpul. Entah kenapa.
—Baiklah, dan sekarang si rambut terong berusaha tidur untuk melupakan senyum simpul Kaito yang baginya menggelikan. Oh, ia harap orang yang bersedia memberikan kamar terhadap dirinya bukan seorang 'kau-tahu-apa'.
-xXx-
Rumah Miku, sepertinya pagi hari.
"Rin-chan, sebentar lagi kan kau melanjutkan pekerjaanmu, mengelilingi game ini. Bagaimana kalau kau ikut jalan-jalan ke hutan, dulu, bersamaku?" seperti biasanya, Miku menunjukkan senyum manisnya. Rin langsung saja mengiyakannya.
"Bagaimana kalau sekalian saja pakai motorku?" Rin menawarkannmyadengan riang. Wajahnya tak sedikitpun menyiratkan rasa curiga. Tetapi—
"Rin, bukannya sebaiknya kita berangkat sekarang? Bagaimana kalau pizza-nya busuk?" Gakupo mengernyitkan alis. Sebenarnya, ia sendiri tidak rela harus berpisah dengan si gadis manis berambut teal, namun di sisi lain ingin segera berpisah dengan si biru yang ia curigai 'tidak-tidak' itu.
"Tenang, Gakupo-san! Len bilang, pizza-nya tidak akan busuk." Lalu Rin pergi.
Pergi.
Ah, karena Rin benar-benar bersama Miku, berarti Gakupo dan Kaito tinggal berdua di rumah itu. Dan firasat Gakupo bertambah buruk semakin lamanya. Sepertinya celananya yang awalnya sedikit longgar kini menget—
Skip. Ini bukan cerita mesum dan slash.
Kaito duduk di sofa, tepat di sebelah Gakupo. Gakupo menjauhkan diri, memperbanyak jarak dari mereka berdua. Oh, walaupun kalau di tempat ber-slash-ria biasanya ia seme, tetap, untuk kali ini, Gakupo yang menajuhkan diri dari sang uk—
Skip lagi. Ini bukan cerita slash.
"Kenapa kau menjauh terus, huh?" Kaito melirik Gakupo. Gakupo tidak membalas tatapannya.
"Karena kita berdua laki-laki."
"Bukannya kalau kita sesama lelaki malah tidak mencurigakan?"
"KAU ITU YANG MENCURIGAKAN!" Gakupo mengarahkan telunjuknya pada pria satunya, masih dengan tubuh yang bergidik. Melirik Gakupo sebentar, dan Kaito malah tertawa lepas.
"H-HAHAHAHAHAHAHA—Kau kira aku gay? Dasar bodoh!" Kaito membanting tubuhnya sendiri ke sofa yang ia duduki, untuk melampiaskan seluruh rasa geli yang disebabkan Gakupo. Tertawa sepuasnya, sampai Gakupo hanya bisa diam di tempat.
"H-Haha.. H-Hah... Kau ini bodoh sekali, Gakupo. Aku ini normal. Yah, tidak sepenuhnya sih, tuan bodyguard."
SREK.
Telinga Gakupo sensitif mendengar ia dipanggil tuan bodyguard. Ia melemparkan tatapan tajam ke Kaito, instingnya yang lumayan tajam mengatakan bahwa pria di sebelahnya ini betul-betul mencurigakan.
"Hey, tuan bodyguard, aku tau tentang wanita hiburan langgananmu. Wanita yang sebenarnya kau cinta itu, loh—" Kaito menyeringai, sementara Gakupo membelalakkan mata. Kaito mendekati telinga Gakupo, dan berbisik,
"Tentang Luka Megurine."
-xXx-
Hutan North East, perkiraan pagi hari.
DRRR.
Rin mengendarai motornya dengan santai, dengan Miku yang menumpangnya. Miku sejak tadi menunjukkan senyum ceria, yah, namanya gadis yang baru mendapat teman baru.
Dan tidak lagi—terulang. Senyum yang berubah menjadi seringai. Seperti Meiko.
"Ah, ya, Miku-chan."
.
Tak ada jawaban.
.
"Miku-chan?"
.
Masih tidak ada jawaban.
.
"Miku?"
.
.
KRES.
.
"Akh—kenapa, Miku-chan?" Mata Rin sedikit mengeluarkan air mata.
.
TES.
Darah menetes. Dari telinga Rin. Karena sebuah luka bekas gigitan.
Dan karena fakta menunjukkan bahwa Miku menggigit telinga Rin.
"T-Tidak!"
Rin berlari menjauhi Miku, yang sekarang rambutnya berubah gelap, dan dengan seringai yang menyeramkan. Tempo detak jantungnya yang makin cepat menunjukkan betapa takut dirinya sekarang.
"Nee, Rin-chan. Kenapa menghindar?" memberikan jeda, Miku menjilat bibirnya. Memberikan kesan yang lebih menyeramkan. "Padahal kau yang tadi sudah menyerahkan dirimu padaku."
Air mata Rin terus keluar. Bibirnya kaku, lidahnya kelu. Terlalu takut untuk meneriakkan kata tolong. Ia hanya dapat terdiam, sambil berharap bahwa Miku sedang bercanda akan perlakuannya.
"Hihihi, Rin pada akhirnya kau meyerah, bukan? Kau diam, karena kau akan membiarkan tubuhmu kumakan, hihihihi—"
"Tidak! TIDAK! TIDAK MUNGKIIIIIN—" Rin berteriak sekecang mungkin, tapi suaranya tertahan melihat Miku sekarang berubah, menjadi serba hitam.
Berubah, seakan Rin sekarang melihat ilusi, mimpi buruk.
"Perkenalkan, Rin-chan." Ditaruhnya sedikit penekanan pada sufiks '-chan' di situ, "Aku sisi lain; sisi gelap Hatsune Miku. Zatsune Miku."
(Dan Rin menelan ludah untuk menahan rasa takutnya.)
"Dan satu lagi—aku ini..."
"Kau.. apa?"
Terlukis sebuah lengkungan pada paras indah Miku. Tatapannya mengeluarkan aura yang lebih mengerikan, membuat Rin semakin bergidik karenanya.
"Seorang..."
"Kanibal."
-xXx-
Rumah Miku, perkiraan waktu masih sama.
BRAK.
Gakupo membanting Kaito ke tembok, sambil menggenggam kerah baju Kaito kuat-kuat. Dahinya berkerut, alisnya berkutat, menunjukkan besarnya rasa marah.
"Kenapa, hng, Gakupo?" bibir Kaito masih membentuk sebuah seringai—atau lebih cocok disebut senyum kemenangan. Gakupo memukul dengan keras tembok persis di sebelah kepala Kaito, membuat benda itu retak. Membuat kesan marah lebih mengental.
"Darimana kau tau nama itu?" Gakupo menatap tajam Kaito, tetapi Kaito tidak melepaskan senyumnya. Tidak peduli akan lawan bicaranya yang sudah termakan emosi.
"Ah, dan satu hal lagi—kenapa kau sebagai bodyguard merelakan tuanmu begitu saja?" memperlebar seringainya, "Kau ingin mengulangi kesalahanmu yang dulu?"
Dan nafas Gakupo tercekat.
"Rin—APA YANG TERJADI PADANYA?"
'Nah, Gakupo... aku minta kau untuk memilih..."
"Apa maksudmu—"
"Luka atau Rin?"
.
(Dan saat Gakupo harus menghadapi kedua pilihan, cerita ini bersambung.)
.
Rin: Hey, author bego, gaya menulismu berubah lagi.
Author: Rin, diamlah. Aku lagi nggak mood hari ini.
Len: Ya, saking nggak moodnya, Master of Game gak muncul sama sekali di chapter ini, fuuh~
Author: Hng. Soalnya ane banting setir soal plot. Jadi ada Luka, yang jadi wanita hiburan yang Gakupo cinta blah blah (padahal harusnya gak ada) ama soal Kaito yang tiba-tiba jadi cenayang yang seme-ish begitu.
Kaito: Lu kira gua dukun?
Gakupo: Sudahlah author, makan dulu sana, ada review tuh—
Rin/Len/Kaito/Miku: KOOOK?
Author: Iye, iye. Bawel lu ah. Kayak gak tau cewek pe-em-es aje orz.
From:
1. Hiwazaki Evelyn: Makasih udah setia nunggu Kaito /bleh. Saya munculin deh, di sini, hehehehe. Agak maksa mungkin, maaf, deh. Soalnya ini termasuk hasil saya mbantingin mobil—eh setirnya orz orz. Saya suka Kaito 70% soalnya 130% udah buat Gakupo huehehehe /krik. Saya—jatuh padanya gara2 PV Kantarera orz orz, dia sangat menggiurkan di situ—apalagi Cendrillon ama magnet buat aku tambah leleh ama suaranya. OOH jangan lupa Appendnya yang begitu sekseehh /banyakbacotlu.
2. Natsu no Sakura: Maaf ya, aku maksa kamu. Maaf banget... tapi... JANGAN FLIP MOBIL JEMPUTANNYA—
3. Merodine V: Ririn ya? KHR itu sebuah animanga yang buat saya jatuh cinta~ Miku udah dimunculin nih :)) Semoga kemunculannya memuaskan hati anda :))
4. Karin Miyuki: LOOH FIC LQ BEGINI KOK BISA BUAT IRI SIIH ;; GA PERCAYA AKU— Hahaha xD mau bagaimana lagi, hati author mengatakan bahwa GakuRin itu manis /slapped
5. Sacchi-Yandere: WAAAH MAAF APDETNYA LAMA ORZ ;; Hahaha, siapa yaa, siapa yaaa? Sebenernya itu baru terungkap kalau fic ini mau selesai... atau kalau saya banting-banting setir mobil bisa pas tengah-tengah fic, sih...
NAAAH SEMUANYA YANG UDAH REVIEW... SANKYUU BANGET—
Review kalian sangat berharga bagi saya ;;
Buat semua reader yang diem-diem a la mafia /bleh/ juga terimakasih banyak—tanpa kalian, saya tak akan bisa berdiri—eh duduk di sini sambil ngetik nih fic. Huwowooo thanks banyaaaak—
Sekian deh, kalau begitu... maaf ya kalau saya bacotnya kegedean orz.
Still mind to review?
