MAY I LOVE YOU?

.


-6-

Sampai Jumpa


.

"Sebaiknya kau istirahat dulu, besok saja ke rumah induk."

Hinata agak kikuk ketika Naruto membimbingnya memasuki kediaman pribadinya yang berada di puncak suatu gedung apartemen belasan lantai. Ia diboyong begitu saja, tanpa diberi banyak penjelasan, selain bahwa Naruto sudah membebaskannya dari kekangan distrik merah. Namun yang membuat Hinata paling terkejut saat Naruto menyampaikan maksud untuk membawanya menemui orang tua dari pria itu.

"Ojamashimasu," ucapnya sembari mengekor pada Naruto, tanpa sadar meneliti sekelilingnya. Ada beberapa warna merah di antara hitam yang mendominasi. Bersih dan rapi untuk ukuran pria lajang yang tinggal sendiri.

"Kenapa?" Naruto tersenyum menyadari Hinata memandangi sekitar untuk beberapa saat, "Kau mengira ada wanita yang mengurusku?"

"Gomennasai, saya sudah tidak sopan."

"Memang ada, tapi itu housekeeper yang bertugas setiap hari." Naruto puas melihat Hinata sempat terkejut mendengar jawabannya.

"Kau mau minum?" tawar Naruto, yang hanya dibalas gelengan oleh Hinata.

Entah hanya perasaan Naruto, atau memang benar adanya, bahwa Hinata lebih pendiam dibanding saat kali pertama berjumpa, ditambah kecanggungan yang ketara. Hinata sebagai Lily tampak begitu percaya diri di matanya, juga luwes menghadapi lawan bicaranya. Apa sebuah nama sanggup berpengaruh dalam kepribadian? Atau memang inilah Hinata yang sesungguhnya?

"Aku baru sadar kalau ini sudah larut, sepertinya terlalu lama ku gunakan untuk berunding dengan Kurenai san tadi."

Memang benar Naruto telah menebus Hinata, membuatnya bebas dari segala tanggungan. Tapi jangan berharap banyak pada seorang Naruto yang tidak yakin pada ikatan, seorang pria yang terkadang justru merasa tidak percaya diri ketika sudah mengikat seseorang dalam hidupnya, seorang pria yang tidak bisa menjanjikan apapun kepada siapapun….

Kecuali, pada anak itu, Matsuri.

Gaara sebenarnya adalah kenalan yang baru ia jumpai lagi setelah jangka waktu yang lama. Lebih tepatnya saat Gaara mendatangi kafenya yang saat itu baru dibuka, masih dalam masa promosi. Pertemuan kembali yang tidak disangka-sangka lantaran Gaara masih mengingatnya. Kalau saja Gaara tidak menyapanya, ia mungkin akan terlupa. Lambat laun, ia dan Gaara menjadi dekat kembali.

Sejujurnya sejak awal ia sekadar menggoda ketika obrolan mulai keluar dari jalur yang biasa, tak tahunya Gaara menyambutnya dengan kesungguhan. Lantas ia tidak bisa jujur untuk itu, Gaara terlanjur berharap padanya. Mungkin itu menjadi balasan untuk dirinya yang telah bermain-main dengan perasaan orang lain, hingga ia sulit untuk mundur kembali lantaran tidak ingin semakin menyakiti. Akibat dari sisi dirinya yang bertindak tanpa didahului dengan berpikir.

Namun sesungguhnya ia adalah orang yang bisa menjadi begitu setia jika sudah mengikat seseorang, bahkan meskipun ikatan itu bias dan tak pasti, seperti hubungannya dengan Gaara.

Lalu ia tahu bahwa Gaara memiliki seorang putri angkat yang bernama Matsuri. Menurutnya, siapapun yang melihat bagaimana seorang Matsuri, pasti ingin sekali untuk mengenalnya dengan lebih baik, termasuk dirinya. Cerdas dan dewasa di usia belia. Naruto selalu mengagumi anak-anak yang demikian hebat di usia mudanya, karena saat seumuran mereka ia merasa tidak secemerlang itu.

Awalnya Matsuri bersikap dingin padanya, terang-terangan menunjukkan penolakan. Seorang gadis kecil yang sangat sulit untuk didekati, seperti memberi sekat di sekitar dirinya, menyaring orang-orang terdekat dengan begitu ketatnya. Namun ia tahu Matsuri hanya tidak mudah untuk menerima orang baru. Dan ketika ia menjadi semakin dekat bahkan dianggap sebagai papa sendiri oleh anak itu, ia merasa begitu senang sekaligus bangga. Kebahagiaan yang baginya teramat sederhana, ia merasa sangat beruntung hanya karena hal itu.

Suatu waktu Matsuri memintanya untuk berjanji bahwa gadis itu hanya akan menjadi satu-satunya anak dalam hidupnya. Saat itu ia memang tidak mengira akan memiliki anak yang lain lagi karena ia juga belum berpikir untuk mengikat seorang wanita. Namun ia tahu Matsuri hanya menguji rasa sayangnya saat itu. Karena ia ingin menunjukkan kesungguhan, ia menyatakan kesanggupannya, menjadikan Matsuri sebagai anak tunggalnya. Jauh sebelum ia mengetahui perasaan terpendam Matsuri kepadanya. Saat-saat di mana Matsuri membutuhkan keyakinan bahwa ia dapat dipercaya.

Dan ketika Matsuri ternyata datang dengan tujuan menginap di tempatnya, mendahului dirinya dan Hinata yang ia bawa ke sana, ia bingung harus menjelaskan dari mana.

"Sejak kapan kau di sini, pinky?" Naruto belum keluar dari keterkejutannya.

"Rasanya tadi sudah bilang ke Papa, pulang sekolah aku langsung ke sini."

"Ah sepertinya ponsel papa mati." Dengan kikuk Naruto mengusap tengkuknya.

"Ternyata aku datang di waktu yang salah."

"Tidak. Kenalkan ini Hinata Hyuuga."

"Matsuri," ucapnya dingin tanpa membalas bungkukan singkat Hinata.

"Kau kenapa belum tidur?" Naruto menengahi situasi yang mendadak kaku, "Ada game seru kah?"

Mendorong pelan bahu Matsuri ke kamar tamu, Naruto berlagak tidak menyadari gelagat yang memintanya untuk diantarkan pulang saat itu juga.

Hinata merasa semakin canggung kala melihat Naruto keluar dari kamar itu setelah menutup pintunya perlahan. Mengingat cerita Naruto, ia bisa menebak kalau gadis itu yang dianggap anak oleh Naruto, yang seumuran dengannya, yang juga mencintai Naruto. Ia jadi merasa tidak enak hati, karena bukan Matsuri, tetapi ia lah yang datang di saat yang kurang tepat.

Mendapati Hinata masih berdiri di tempat semula, Naruto merasa bersalah. Dengan langkah tergesa didekatinya Hinata, diraihnya lengan mungil wanita ciliknya, dengan sebelah tangan menarik koper Hinata, lalu dituntunnya menuju kamar yang lain.

"Kalau kau butuh ke kamar mandi, ada di sebelah sana." Naruto menunjukkan jalur menuju bilik tempat mandinya yang berada di dalam kamar bernuansa putih itu.

"Ini kamar Namikaze san?"

"Jangan sungkan, tidurlah."

"Lalu, Anda?"

"Aku belum akan tidur, kau duluan saja."

Dengan itu Naruto pamit keluar setelah memberikan sebentuk senyum pada Hinata. Menoleh ke pintu kamar lain, masih sama seperti ketika ia tutup tadi, agaknya Matsuri menuruti perintahnya untuk segera tidur. Sedangkan dirinya, menggeser pelan pintu kaca menuju teras penthouse. Angin malam serta merta menerpa tubuh jangkungnya, membelai rambut pirangnya yang tak lagi tertata. Melangkahkan kakinya keluar tanpa alas kaki, wajah malam kota menyambutnya.

Ada hal yang selama ini tidak diketahui orang lain, sesuatu yang cukup mengganggunya ketika rasa itu datang. Ia tidak tahu itu apa, namun ia merasa ada yang salah di dalam kepalanya. Sebelah tangannya terangkat, menutup sisi kepalanya yang berdenyut nyeri. Teramat nyeri hingga ia serasa ingin membenturkan kepalanya berkali-kali. Matanya panas, seakan ditusuk-tusuk dari dalam dan sulit untuk dibuka. Wajahnya meringis, air mata mengalir dari sebelah matanya tanpa kontrol dari tubuhnya.

Selama ini tak sekalipun ia keluhkan bahkan kepada keluarganya karena hanya menyerang sesekali. Ia menganggapnya sebagai sakit kepala biasa yang akan sembuh sendiri. Namun belakangan rasa sakit itu datang dengan kerap, hingga sehari dapat melandanya lebih dari satu kali. Terkadang ia malas hanya untuk tidur, karena ia akan dibangunkan oleh rasa sakitnya, seperti mimpi buruk yang terus menghantui.

.


.

"Pagi sekali," ucap Naruto melihat Matsuri sudah berseragam rapi dan hendak mengenakan sepatunya. Ia saja baru selesai membersihkan diri, masih berbalut kimono mandi dengan rambut agak basah.

"Ada ekskul pagi." Matsuri menjawab dingin.

"Kau tak sarapan dulu?"

"Males."

Naruto paham mood Matsuri sedang tidak baik, dan ia juga mengerti apa penyebabnya. Namun yang bisa ia lakukan hanya kembali berlagak bodoh. Ia tentu tak ingin menyakiti Matsuri, tetapi kali ini ia ingin tegas untuk keputusan yang diambilnya.

"Ayahmu bisa mengira aku tak memberimu makan."

"Kenyataannya begitu, Papa 'kan tak bisa masak. Ittekimasu."

"Itterasshai." Naruto menggumam ketika Matsuri pergi menyisakan debamam.

Di kamar, Naruto menemukan Hinata yang duduk di tepi tempat tidur, melihat ke arahnya begitu ia masuk. Hinata mungkin masih merasa kaku jika harus berhadapan dengan Matsuri yang juga sulit menerimanya, sehingga belum berani keluar kamar.

"Matsuri sudah berangkat."

"Saya pasti membuatnya tidak nyaman. Saya juga bisa dibenci kalau dia tahu saya enak-enakan tidur di sini, sedangkan Namikaze san di luar."

"Hei, tak masalah. Dan sikapnya memang begitu ke orang yang belum dikenalnya. Kau makanlah di dapur, aku mau ganti baju dulu."

"Baik."

Setelah Naruto siap, Hinata tahu ke mana ia akan dibawa. Seperti pernyataan Naruto semalam, ia akan dikenalkan kepada keluarga Namikaze. Tidak lain karena bayi yang dikandungnya. Jujur saja ia tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan mereka.

.


.

Sekuat apapun ia berharap ingin menghindar dari hari ini, keputusan Naruto tidak berubah. Waktu bergulir begitu saja, membawanya ke sebuah rumah bergaya semi kuno di distrik Minato. Begitu masuk ia dibimbing menuju ke sebuah ruangan yang hanya digelari tatami, seperti ruangan yang biasa digunakan untuk upacara minum teh. Ia dan Naruto duduk bersimpuh di hadapan dua orang yang ia ketahui sebagai orang tua Naruto. Ibu Naruto, wanita berambut merah yang memberikan kesan judes di pertemuan pertamanya itu, ternyata merupakan pribadi yang menyenangkan. Sedangkan ayah Naruto yang menurutnya mewariskan gen dominannya kepada Naruto, sejak awal tampak ramah, namun tidak banyak bicara.

"Sebaiknya selama hamil ini kau tinggal bersama kami, Hinata chan, kalian sama-sama belum memiliki pengalaman tentang bayi, 'kan."

Hinata tidak berani ikut mengambil keputusan atas apa yang direncanakan untuknya dan calon anaknya, calon cucu mereka. Ia mengerti bahwa yang mereka inginkan adalah bayi dalam kandungannya. Lain daripada itu, ia merasa tidak patut hanya untuk bersuara. Dan mereka benar, ia juga terlalu muda untuk merawat seorang bayi. Kalaupun nantinya mereka mengambil cucu mereka, ia tidak memiliki pilihan selain menyerahkannya. Ia percaya anaknya nanti akan lebih baik berada dalam perawatan mereka. Sebagai ibu tentu tidak mungkin rela dipisahkan dari anaknya, namun realistis saja, hidup anaknya akan lebih terjamin jika hidup bersama keluarga Namikaze. Asalkan ia masih diizinkan untuk menemui anaknya.

Masa depan memang belum pasti, namun Hinata seolah sudah merancang banyak hal dalam benaknya. Termasuk keinginannya untuk melanjutkan pendidikannya yang sempat terputus. Ia harus lebih memantaskan diri.

"Tapi kantor lebih dekat dari kondoku, Kaasan."

"Aku tidak bicara denganmu, Naruto."

"Che, lalu apa gunanya aku mengosongkan jadwalku hari ini."

"Tidak ada yang memintamu, tuh."

"Aku anak Kaasan bukan sih, jangan-jangan anak pungut."

Hinata tidak bisa menahan tawa kecilnya. Interaksi ibu dan anak yang menghibur, menyejukkan hatinya yang sempat susah karena memikirkan masa depan seperti apa yang menunggunya setelah ini.

.


.

"Namikaze san, apa Anda sakit?"

"Namikaze lebih dari satu orang di sini, siapa yang kau maksud?" goda Naruto.

"Saya 'kan bertanya kepada Anda."

"Kemarilah."

Naruto melambai padanya, Hinata lebih mendekat ke ayunan kayu yang diduduki Naruto. Awalnya Hinata ingin berjalan-jalan sebentar keluar rumah karena belum bisa tidur. Barangkali gemericik air yang mengaliri kolam ikan koi di taman belakang akan dapat membuainya hingga mengantuk. Namun yang ditemuinya justru warna pirang yang mencolok di antara pencahayaan taman yang remang. Seketika khawatir menyergapnya begitu melihat Naruto duduk merosot di ayunan yang berada tidak jauh dari gazebo di samping kolam.

Ragu-ragu ia mengambil tempat di sebelah Naruto setelah ia mendapatkan undangan untuk duduk. Ia nyaris lupa untuk bernapas ketika Naruto tanpa berkata-kata langsung merebahkan kepala berbantal pangkuannya.

"Hinata."

"Ya?"

Hinata belum terbiasa mendengar Naruto memanggil nama kecilnya. Ia pun tidak tahu dari mana Naruto mengetahuinya. Namun ia tidak dapat menyangkal fakta bahwa ia menyukainya.

"Jangan mudah percaya kepada orang lain."

"Eh?"

"Aku tidak memintamu untuk gampang curiga atau menaruh buruk sangka ke orang, hanya saja kau harus selalu waspada."

Hinata terdiam dengan pandangan ke depan. Ia tidak mengerti mengapa Naruto tiba-tiba berbicara demikian, namun ia tetap menyimak apapun yang dikatakan oleh pria ini.

"Yang tampak baik tidak selalu baik, begitupun yang terlihat buruk tidak selamanya buruk."

Ia beranikan untuk melihat wajah Naruto ketika merasa bahwa pria di atas pangkuannya itu tengah terpejam dengan lengan yang menutupi mata. Naruto tidak mengatakannya, namun ia dapat menangkap raut lelah di wajah yang biasanya sering tersenyum itu. Tangannya tergerak hendak membelai rambut pirang Naruto yang meskipun tampak acak-acakan sebenarnya lembut dirasakan, ia pernah meremasnya tanpa sadar dan seketika pipi bulatnya bersemu merah mengingat momen apa saat ia melakukannya, namun gerakannya terhenti di udara merasa tak sopan melakukannya.

"Selama ini kau pernah mengidam tidak, Hinata?"

Yang ditanya terkejut karena terlalu hanyut dalam keheningan sebelumnya.

"Mengidam?"

"Aku punya sahabat bernama Sakura. Dulu saat hamil, dia sering bilang ingin ini atau ingin itu, terkadang aku jadi korbannya yang dimintainya ke sana kemari. Dia bilang kalau itu namanya mengidam, bawaan bayinya, dan harus dituruti."

"Kalau perasaan ingin makan sesuatu, sepertinya pernah."

Naruto langsung bangun dan kembali duduk dengan benar, membuat bangku berlapis bantal tipis yang mereka duduki berayun pelan.

"Apa itu? Kau masih ingin?"

"Sekarang tidak lagi. Waktu itu ingin sekali salad buah, tapi saya menahannya."

"Nande? Kenapa ditahan?"

"Rasanya terlalu malam untuk makan. Dan saya pikir itu hal biasa, karena sebelumnya juga pernah terbangun gara-gara lapar."

Hinata menoleh merasakan telapak tangan Naruto di atas kepalanya, menemukan sepasang mata biru yang tampak lebih hidup di tengah keremangan.

"Mulai sekarang, kau harus bilang padaku, apapun itu. Jika memungkinkan, akan ku turuti semampuku."

Senyum Naruto melebar melihat Hinata mengangguk senang dengan tampang cerah. Ia juga tidak tahu dari mana datangnya. Namun perasaan sayang itu perlahan-lahan muncul, menghampirinya selangkah demi selangkah, meraih hatinya yang semula terasa kaku. Rasa sayang kepada sosok yang bahkan belum dilihatnya, yang kini berjuang untuk tumbuh di dalam rahim sang ibu.

.


.

"Namikaze san…?"

Hinata terbelalak ketika ia keluar kamar mandi dan menemukan Naruto sedang memegang ponsel putihnya. Ekspresi Naruto tampak keruh, dengan rahang yang mengeras. Sadar akan apa yang ada di dalam ponselnya, ia bergegas merebutnya. Benar saja, pesan-pesan teror itu yang tampil di layar.

"Kau meninggalkan ponselmu dalam keadaan terbuka, tak sengaja terbaca."

Bahkan Naruto berbicara dingin kepadanya. Tanpa berkata-kata lagi Naruto meninggalkannya, membuatnya tak mengerti akan apa yang dipikirkan oleh pria itu. Tangannya meremas ponsel mungilnya dengan erat. Teror-teror itu memang lebih sering datang semenjak ia menghuni kediaman Namikaze. Ia pun tak mengerti mengapa dirinya dituduh sedemikian rupa, salah satunya mengatainya menjerat Naruto dengan kehamilannya, padahal Naruto saja tidak menikahinya. Ia hanya sementara berada dalam pengawasan orang tua Naruto sampai ia melahirkan. Ia pun tidak berani berangan-angan.

.


.

Matsuri baru akan turun untuk sarapan ketika ia mendengar keributan di lantai dasar. Percekcokan yang sering ia saksikan, namun kali ini berbeda mengingat kedua pria itu seharusnya sudah tidak bersama. Ditambah perasaan kesal yang masih bersarang di hatinya jika melihat pria berambut pirang itu. Lebih tepatnya cemburu, ia tidak suka melihat Naruto membawa wanita lain ke kediaman pribadinya. Apalagi setelah tahu kalau seseorang yang diboyong papanya itu tengah mengandung. Ya siapa lagi bapaknya kalau bukan Naruto, dan kenyataan itu membuatnya benar-benar menyerah. Pria yang bertindak sebagai papanya selama ini tidak mungkin akan meliriknya, sudah saatnya ia melangkah mundur.

"Mengaku saja, pasti kau yang melakukannya."

"Tunggu dulu, kau saja belum mengatakan apa kesalahanku. Aku tidak mau mengakui sesuatu yang tidak ku lakukan."

"Kau yang mengancamku saat itu. Pasti kau yang menerornya."

"Teror? Murahan sekali caranya. Kalau pun iya, aku tidak akan mengotori tanganku sendiri."

Dengan teramat santai Matsuri melewati dua pria yang masih bersitegang itu. Seperti biasa keduanya langsung bungkam begitu ia menampakkan diri. Ternyata caranya masih manjur. Setidaknya ia tidak akan mendengar suara-suara keras yang akan mengganggu ketenangannya lagi.

"Kalau kau kemari hanya untuk itu, sebaiknya kau pergi. Akan ku anggap kita tidak punya urusan lagi."

"Gomen." Naruto berucap lirih.

Ia tidak ingin hubungannya dengan Gaara berakhir dengan pemutusan pertemanan juga meskipun tak lagi sebagai pasangan. Namun apa boleh buat jika Gaara yang menginginkan demikian. Tidak mungkin ia memaksa seseorang untuk tetap menyukainya, bukan suka yang mengarah ke cinta atau semacamnya, suka dalam artian tak membenci. Tetapi Gaara yang sekarang tampaknya sudah anti terhadapnya, dan ia harus menerima itu walaupun awalnya terasa berat mengetahui dirinya harus menghadapi kenyataan ini.

"Maaf untuk semuanya, juga terima kasih. Jaga dirimu baik-baik," pamit Naruto pada Gaara.

"Kalau Papa berani pergi, ku pecat jadi papaku," ancam Matsuri.

Naruto tidak mengerti mengapa Matsuri seolah menganggap caranya berpamitan seperti kata-kata perpisahan selamanya. Padahal ia tidak akan memutus hubungan sebagai ayah dan anak dengan gadis itu meski ia dan Gaara tidak akan sejalan lagi.

"Apapun yang terjadi, papa akan selalu menyayangimu."

Naruto memberikan pengertian kepada Matsuri disertai senyum simpul. Ia membawa Matsuri ke dalam pelukannya yang mengayomi. Jika biasanya Matsuri akan menolak perlakuannya mentah-mentah, kali ini gadis ini hanya bergeming.

"Mulai sekarang aku tidak punya Papa lagi! Aku cuma punya Tousan!"

Naruto tetap melangkah pergi bersama senyum getir, "See ya."

.


.

"Aku titip mereka."

"Naruto…." Kushina merasa sulit untuk menyampaikan apa yang ingin dikatakannya, "Kau yakin tidak akan memberitahunya?"

"Kalau aku mengatakan ini padanya, aku tidak yakin bisa sampai di sana sesuai jadwal. Atau malah tidak jadi pergi."

Naruto mencoba berkelakar, tetapi tidak mempan.

"Jangan khawatir, ini tidak akan lama."

Naruto mengecup kening ibunya penuh takzim. Dilanjutkan pelukan singkat dengan ayahnya. Ia hanya menunjukkan cengirannya melihat mata Karin yang berembun di balik kacamatanya.

Naruto melangkahkan kakinya menuju kamar Hinata. Mendapati Hinata duduk menyandar di tempat tidur, ia berjalan mendekat.

"Aku belum melihatmu keluar kamar, kau oke?"

"Cuma sedikit pusing."

Naruto meletakkan telapak tangannya di kening Hinata, "Kau demam."

"Benarkah?" Hinata menyentuh keningnya sendiri.

"Ck, bisa-bisanya. Memangnya kau tak merasa? Aku akan bilang pada Karin biar memeriksamu."

Hinata hanya meringis grogi. Ditambah Naruto yang memandangnya lekat-lekat. Ia sampai sulit untuk berkata-kata lagi.

"Namikaze san mau pergi? Bukannya hari libur?"

"Hm, sekalian makan siang di luar."

Hinata terpaku, tidak sempat bereaksi ketika Naruto meraih bibirnya ke dalam sebuah kecupan yang entah mengapa terasa begitu memilukan. Naruto tak lagi bersuara, sampai berbalik meninggalkannya.

Semenjak itu Naruto tidak muncul lagi dalam pandangannya. Tidak bisa ia temukan di mana-mana. Bahkan Naruto tidak datang ketika ia mengalami pendarahan hebat dan kehilangan bayinya. Dan semua tetap bungkam.

.

.

.

.


27112015

NARUTO belongs to Kishimoto Masashi sensei :)

! gain no profit from this fanfiction ! thanks for reading ! please don't copy without permission !


based on true "story"
request-inspired-by-uknowho