¤ Diabolik Lovers ¤
.
...
Chapter 06- Believe you
...
.
Sudah sekitar sejam berlalu lamanya ia membawa tubuh kecilnya hanya berdiri disebuah jembatan kecil yang ada di mansion besar ini. Wajah cemas samar merahnya tak henti menatapi arah depan seperti tengah menunggu seseorang. Ah, tidak ia memang benar saat ini menunggu seseorang. Seorang pria pucat yang berstatuskan suaminya itu. Dari sejam yang lalu pun pria itu belum juga menampakan batang hidungnya.
Ia akan berhela nafas saat-saat kedua manik bak rusanya belum juga mendapati sosok pria itu. Kedua tangannya pun bertaut erat tak jelas sebagaimana tanda akan rasa gelisahnya itu. Rasa-rasanya ia ingin sekali cepat bertemu dengan sang suami dan mengatakan apa yang telah ia putuskan.
Pada akhirnya Luhan percaya, benar percaya dengan segala hal yang telah suaminya itu sampaikan kepadanya tadi. Percaya jika Sehun tidak akan menyakiti dirinya, tidak akan membuat dirinya menderita dan tidak akan membunuhnya karena darahnya dihisap. Ia percaya Sehun tidak seperti ini. Maka dari itu ia berniat mengatakan semuanya sampai Sehun tidak bertingkah untuk menghindari atau menjauhi dirinya.
Disana ia menunggu cukup lama namun yang ditunggu tak juga terlihat, Luhan sempat merasa putus asa. Tubuhnya yang tadi ia sandarkan dipinggiran jembatan ia tegakan tiba-tiba. Ketika berbalik seseorang entah sejak kapan sudah ada didepan sana. Berdiri angkuh menatapinya tajam. Seorang pria tinggi pucat namun bukan Sehun-suaminya itu.
Ia sedikit terkejut dan merasa tak asing dengan wajah pria itu, ketika ia mengingatnya pria itu berjalan mendekat padanya. Dia-pria itu salah satu teman sekolahnya dan juga teman dekat sang suami.
"kau..."
Pria itu tersenyum sangat tipis setelah mengambil tempat berdiri dihadapan Luhan. Kedua mata tajam merah pekat itu tak ingin lepas pada sepasang manik bak rusa lawannya.
"Kau adalah teman Sehun bukan?" Luhan bertanya agak ragu.
"Hm, Kris itu namaku..." dijawab langsung oleh pria tersebut.
"Kris, ada apa datang kemari? Apa kau ingin bertemu dengan Sehun?"
"Tidak, aku tidak ingin bertemu dengan suamimu itu."
"Lalu?"
Kris bergerak lebih mendekat tanpa henti memperhatikan setiap pahatan indah sosok kecil didepannya ini. Menghirup lebih dalam betapa aroma darah segar tercium begitu jelas dihidung mancungnya. Hal yang membuatnya bisa saja lepas kendali saat ini. Dan itu terjadi jika saja ia tidak mencoba tetap bertahan menahan emosinya.
Bisa saja ia langsung menyerang sosok kecil itu, menancapkan kedua taring berbisanya untuk melumpuhkan tubuh Luhan lalu ia akan bawa pergi jauh sosok itu. Sampai saatnya ia bebas menikmati keseluruhan yang Luhan miliki.
"Hanya kebetulan lewat dan melihatmu disini?" ia menjawabinya dengan nada bicara yang memang sudah sulit ia kendalikan akibat aroma harum nan menggoda sosok Luhan.
"Oh, aku pikir kau ingin bertemu dengan Sehun karena jika benar, Sehun sedang diluar sekarang."
"Yah, aku mengerti itu."
Keheningan setelah itu terjadi dimana Luhan yang diam menunduk sesekali melirik takut-takut kearah Kris yang tak henti menatapinya. Tatapan penuh minat tanpa Luhan sadari Kris mungkin akan gila jika terus menahan setengah mati hasratnya saat ini.
Hhhh...
Bahkan nafas pria tinggi itu terjadi lebih berat terkesan buru-buru. Ini menyiksanya jelas saja karena tidak ada yang bisa tahan dengan aroma menggoda seperti itu. Walau sedikit berbeda karena Kris tau didiri Luhan sudah terdapat aroma Sehun disana. Tapi siapa sangka itu justru terasa nikmat bagi Kris.
Ia berpaling cepat dengan mata ia pejamkan benar tak sanggup sudah ia menahannya, dan bolehkah ia cicipi sedikit saja sosok kecil ini?
Dengan mata yang kembali ia buka dan sekarang tampak lebih berkilat nafsu, Kris berpaling lagi pada Luhan yang memandangnya bingung. Sebelum akhirnya ia bergerak tergesah dan...
Bruk
"Ah, K-Kris..."
Kedua tangannya ia remas kuat pegangan jembatan itu, maju selangkah guna mendekat sampai tubuh kecil Luhan terkurung oleh tubuh besarnya itu. Ia memenjarakan tubuh Luhan diantara tubuhnya dan pegangan dijembatan tersebut. Luhan sungguh terkejut akan hal itu Kris membuatnya jadi semakin takut.
"A-apa yang kau ingin,kan?" suara Luhan mengecil akibat satu tangan Kris hendak mulai menyentuh wajahnya.
"Kau...hhh...sungguhh..." Kris benar akan kehilangan akalnya sekarang juga, lalu ia mengusap bergetar wajah manis didepannya itu. Sebelum ia menajamkan kedua matanya berkilat merah maka saat itu Luhan terpanah seolah pikirannya terserap oleh dua bola manik merah disana.
Wushhh...
Angin berhembus bersamaan dengan Luhan yang kini terasa kosong dengan tatapan hanya tertuju kearah depan. Kris berhasil mempengaruhi dirinya sekarang. Pria itu pun tersenyum puas seketika.
Dengan kedua tangan yang menangkup wajah Luhan kini, Kris mulai mendekatinya memiringkan kepalanya siap mengapai sepasang bibir kecil merah merona itu. Ingin menciumnya, menyicipinya dan merasakan rasa manis dibibir tersebut.
Cup
Menggeram rendah ketika bibirnya berhasil menyapa bibir kecil itu, rasanya begitu manis dan lembut. Sampai Kris benar tak bisa lagi menahan untuk tidak mencumbu pria kecil itu. Menarik cepat tengkukan Luhan agar ciuman mereka mendalam. Ia lumat terus secara bergantian bibir tersebut. Menikmatinya, merasakannya lebih sampai kepala Luhan terpaksa mendongak lebih.
Sementara yang dicumbu tidak tau apa-apa selain diam dengan segala pikiran kosongnya itu. Tak bergerak untuk membalas karena memang dirinya telah dikendalikan oleh sesuatu disana.
"mmhhh..." kedua nafas mereka bertubrukan dan mengakibatkan saling beradu. Kris sendiri tak hentinya bergerak kesana-kemari kepalanya menikmati bagaimana manisnya bibir kecil yang ia cumbu itu. Tanpa perdulikan jika bisa saja orang lain melihat mereka. Atau bahkan Sehun sendiri yang bisa saja memergoki mereka sekarang. Ia tak perduli asalkan ia bisa sedikit merasakan rasanya Luhan.
"mmgghhh..." menimbulkan suara lenguh samar Luhan disana, begitu Kris berkali-kali menggesekan gigi-giginya dipermukaan bibir bawah Luhan.
Butuh 5 menit lebih akhirnya Kris merasa cukup puas, ia hentikan ciumannya melepaskannya dan membiarkan wajahnya sedikit menjauh dari wajah Luhan. Matanya lalu tertuju pada manik rusa yang masih saja terbuka. Berlangkah mundur sekali sebelum ia mengembalikan keadaan Luhan seperti semula.
Dengan satu tangannya bergerak sekali kedepan wajah pria kecil itu, sedetik berikutnya Luhan tersadar sepenuhnya. Tersentak dan menatapi bengong sosok Kris yang masih dihadapannya.
"Aku rasa aku harus pergi sekarang."
"Eh? Pergi?" berangguk kecil dan berbalik badan.
"Yah, aku masih punya urusan lain...sampai jumpa!"
Luhan hanya bisa menatapi kepergian Kris dengan perasaan agak bingungnya. Memandang punggung lebar pria itu yang lama-lama semakin menjauh dan berakhir hilang dikejauhan. Tanpa ia tau apa-apa Kris telah melakukan sesuatu padanya.
Ia kembali dalam kesendiriannya disana, berlanjut menantikan kedatangan sang suami yang sejak tadi belum juga mendatanginya.
..
..
..
Sehun baru saja memasuki area mansion miliknya dengan mobil hitam mewahnya itu. Sudah terparkir tepat dihalaman para pegawalnya pun langsung menghampiri sang pangeran mereka. Ia keluar dari mobil lalu memberikan kunci mobil tersebut kepada salah satu pelayan disana. Memerintahkan pelayan tersebut untuk membawa mobilnya kegarasi yang ada dibagian utara mansion tersebut.
Sementara ia akan berjalan memasuki mansion pribadinya, dengan langkah santai dan diikuti oleh beberapa pelayan lainnya, sampai ia bertoleh sesaat guna bertanya sesuatu kepada mereka disana.
"pak Han dimana Luhan?" tanyanya.
"Tuan muda Lu mungkin sedang ada dikamar pangeran, setelah pergi keluar beberapa saat tadi."
Sehun memaksa hentikan langkahnya ketika pak Han memberitahu mengenai dimana sosok istrinya, bertoleh kembali dengan tatapan bertanya dan alis sebelah yang samar terangkat. Ia hanya sedikit kejut mengetahui jika Luhan pergi keluar? Kemana?
"Keluar maksudmu?"
"Ahh, itu saat anda pergi siang tadi tuan Lu keluar dan mungkin untuk pergi berkeliling" pak Han menjelasi, tapi Sehun sedikit tak yakin akan hal itu.
"Kau yakin hanya berkeliling?" saat itu ekspresi pak Han tampak gugup dan menunduk sebelum berangguk pelan, hingga Sehun terdengar menghela nafas dan kembali melangkah.
"Lain kali kalian harus mengawasinya, setidaknya cepat laporkan kepadaku jika ada apa-apa! Apa lagi ketika dia ingin keluar dari kawasan mansion ini!" titahnya sedikit agak kesal karena mereka tidak begitu mengawasi istrinya itu.
"Maafkan atas kelalaian saya pangeran dan saya pastikan ini tidak akan terjadi lagi" pak Han sedikit menyesali kelalaian mereka semua.
"Sudah semestinya."
Sampai dilantai dua dekat kamarnya Sehun meminta pak Han kembali pada pekerjaan mereka semua. Dan ia akan menuju kekamarnya langsung untuk menemui sang istri. Ada rasa rindu ia rasakan kepada pria kecilnya itu sejak pulang sekolah mereka tidak lagi berbicara. Bukan karena tak ingin atau Sehun marah akibat Luhan belum mempercayai dirinya, hanya saja ia mengerti dengan apa yang Luhan rasakan saat ini.
Dan ia hanya memberikan waktu kepada istrinya itu untuk berpikir dan pada akhirnya bisa lagi mempercayai dirinya. Ia hanya tak ingin Luhan merasa disakiti akan fakta mengenai siapa dirinya, siapa mereka semua yang ada dinegara ini dan hanya Luhan seorang-lah manusia disana.
..
..
..
Cklek
Pintu terbuka saat itu Luhan yang tadinya duduk diam dipinggir ranjang besar kamar mereka teralihkan. Bertoleh kepala hingga ia bisa melihat sesosok pria tinggi-lah yang menjadi penyebab pintu kamar itu terbuka. Sosok Sehun yang masuk dan sejenak berdiri diambang pintu ketika mata mereka bertemu.
"Sehun?" seru Luhan dengan nada bertanya, mendengar hal itu Sehun kembali berjalan lebih masuk kedalam.
Berjalan melewati tempat Luhan berada sedikit berbalik membelakangi sang istri. Tanpa balasan sampai semenit Sehun justru melepaskan jas santainya itu lalu meletakannya begitu saja disandaran sofa disana. Luhan sendiri bertekuk wajah sesekali melirik kearah suaminya itu.
Pikirnya apakah Sehun masih bertingkah menjauhinya? Atau pria itu memang ingin mrnjauhinya akibat masalah mereka siang tadi di sekolah. Luhan kalut ia sampai membiarkan kedua matanya mulai tampak berkaca-kaca dan mungkin tidak lama akan mengeluarkan air mata?
"Sehun-"
"Kau pergi berkeliling tadi?" tanya Sehun sudah memotong ucapan yang ingin Luhan katakan.
"Uh? Y-yah, hanya kejembatan kecil saja..." jawabnya dengan lirihan dan nada sungguh kecil, Sehun ber'oh'-ria tanpa membalikan tubuhnya karena kini tengah melepaskan beberapa kancing dikemejanya itu.
Setelah itu hening terjadi beberapa saat membuat Luhan semakin yakin jika Sehun mungkin marah kepadanya. Kedua tangannya dipahanya itu ia kepal erat menahan perasaan apa yang ia rasakan sejak tadi. Keheningan itu terjadi sekitar tiga menit lamanya. Sesekali akan terdengar suara helaan nafas lelah dari Sehun disana.
"Sehunn..." karena tidak tahan dengan keadaan Luhan pun kembali membuka suara dan kini beranjak perlahan mendekati Sehun.
"hm?"
"Sehun..." genggaman erat dilengan kemeja itu membuat Sehun akhirnya berbalik dan menemukan Luhan yang menunduk kembali diam.
"Ada apa hm?" bertanya lagi lantas pria kecil itu sedikit demi sedikit mengangkat wajahnya agar mereka bertemu tatap.
Dan Sehun bersumpah akan menyalahkan dirinya sendiri ketika melihat raut wajah istrinya itu yang begitu tampak menyedihkan. Wajah Luhan yang sendu dengan mata yang berkaca-kaca siap mengeluarkan air matanya. Dirinya sendiri-lah pasti yang telah membuat istrinya seperti itu. Ia pasti sudah membuat Luhan bersedih dan menyakiti pria kecil itu.
"Maafkan...aku..." Luhan berlirih lagi dan kini lebih terdengar menyakitkan.
"Kenapa meminta maaf?"
"Aku...aku seharusnya percaya padamu hiks...seharusnya aku bisa lebih percaya padamu hiks...maafkan aku hikss..." pada akhirnya Luhan pun menangis didepan sang suami dengan berkata meminta maaf.
Sehun jelas jadi merasa semakin bersalah karena ia tau memang dari dirinya-lah yang sudah membuat Luhan seperti ini. Maka Sehun langsung meraih tubuh kecil nan rapuh itu kedalam bekapan sayangnya.
"Sssthhh...jangan menangis heum, tidak seharusnya kau meminta maaf seperti itu sayang, aku tau bagaimana perasaanmu saat ini. Lagi pula aku tidak memaksamu untuk mempercayaiku" ujarnya lembut sambil membawa tangannya mengelus kepala Luhan.
"T-tidak aku yang salah hiks...aku hanya bodoh karena tak mempercayaimu hiks..."
"Hey, jangan berkata seperti itu! Wajar jika kau belum bisa percaya karena aku memang berbeda denganmu. Tapi sungguh aku tidak akan menyakitimu sayang..."
Itu benar Sehun memang berjanji sendiri kepada dirinya untuk tidak menyakiti sang istri, walau ia tau suatu saat nanti ia juga akan tetap membuat Luhan terluka dengan semua ini. Ketika Luhan tau yang sebenarnya. Tapi untuk saat ini biarkan Luhan merasa lebih tenang dengannya sebelum hari itu tiba. Ia hanya ingin Luhan percaya padanya agar tidak ada hal yang tidak diinginkan terjadi pada mereka.
Bahkan setelah mendengar semua apa yang telah ratu katakan padanya, setelah itu Sehun mulai merasa ini begitu berat untuknya. Menjadi calon penguasa negera mereka memang-lah begitu berat. Dengan banyaknya masalah dan juga cobaan akan muncul secara perlahan. Belum lagi ia harus tetap waspada dan terus menjaga sang istri agar tidak terlepas darinya.
"Hiks...Sehun maafkan aku hiks...maafkan aku..." isak Luhan menjadi dengan kedua tangannya membalas memeluk tubuh Sehun begitu erat, seakan ia tak ingin kembali ditinggal oleh Sehun seperti tadi.
"Kau tidak salah sayang, jadi jangan meminta maaf lagi yah...dan yah aku akan memaafkanmu."
"S-ssungguh? Hiks..." dengan wajah basahnya Luhan mendongakan kepalanya agar bisa melihat wajah sang suami.
Sehun yang tersenyum tipis sambil mengangguk bertanda jika ia telah memaafkan istrinya itu, walau sebenarnya ia tak merasa bahwa Luhan bersalah padanya karena justru dirinya-lah yang bersalah disini. Ia menyeka air mata dipipi Luhan dengan lembutnya.
"Kalau begitu terima kasih hiks...dan jangan menjauhiku lagi..." Luhan merengek kecil.
"Oh, tidak akan pernah sayang..." Sehun kembali memeluknya lebih erat sesekali hidung mancungnya ia tempelkan disuraian lembut Luhan.
"Terima kasih...terima kasih hiks..."
"Sekarang jangan menangis lagi yah!"
"Iya..."
Disana pada akhirnya mereka larut dalam pelukan hangat yang mereka lakukan. Dengan perasaan lega satu sama lain jika masalah ini telah terselesaikan dan mereka tetap bersama.
..
..
..
"Istri dari pangeran Oh benar menjadi incaran sekarang ini."
"Apakah itu semua berasal dari bangsa Lucha?"
"Mungkin sebagian? Aku tidak tau pasti, tapi diluar sana pasti ada yang telah merencanakan sesuatu agar bisa menjatuhkan pangeran Oh dari calon gelarnya."
Kris diam-diam menggertakan giginya mendengar ucapan seorang wanita bersama pria lainnya diruangan mereka ini. Tanpa memandang ia sudah tau apa maksud dari ucapan keduanya yang seakan tengah menyindir dirinya disana. Wanita itu melirik kearahnya dengan pandangan mengejek lalu melangkah mendekati pria lainnya.
"Sayang...apakah kau juga akan bertindak seperti itu?"
"Ahaha...walau aku memang tidak begitu setuju jika pangeran Oh naik tahta, tapi aku tidak akan melakukan hal sebodoh itu. Aku tidak gila dengan derajat sayang..." wanita itu tersenyum cemooh kembali melirik pada Kris disana yang tengah diam membatu.
"Oh, itu adalah hal yang bagus...setidaknya kau bukan termaksud orang-orang yang gila derajat itu. Ughh aku mencintamu sayang."
"Aku juga sayang..."
Selanjutnya suara kecipak peraduan bibir terdengar memenuhi ruangan tersebut. Tanpa melihat pun Kris tau apa yang kedua orang sialan itu lakukan saat ini, membuat emosinya menjadi saja. Sudah cukup mereka berkata menyindirnya, kini kedua orang itu malah mengumbar kemesraan mereka. Sungguh sial bagi Kris.
"eummphh-aahh sayangghhh..." lenguh sang wanita dan Kris tidak tahan mendengarnya.
Lantas dengan kepalan tangannya ia beranjak bangun dari posisi duduknya, melangkah cepat kearah beradanya dua orang sialan itu. Emosinya memuncak sampai akhirnya ia bertindak sekarang.
Sret
Bug
"Akhh!"
"Kris! Apa yang kau lakukan?" wanita itu berteriak kejut melihat bagaimana kuatnya Kris memberikan pukulan telak diwajah sang kekasih.
"Keluarlah jika ingin bermesraan sialan! Rumahku bukan tempat untuk memadu kasih" ujarnya dengan tegas dan berat tanda jika emosinya melandanya sekarang.
"Kau gila Kris, tapi jangan sampai memukulnya!" Kris beralih pada wanita itu.
"Kau, pergi! Aku muak melihat kalian!"
Wanita itu mulai tampak terdiam akibat perkataan Kris, ia lalu cepat beralih pada prianya membantunya untuk bangun setelah jatuh tersungkur dilantai akibat pukulan Kris tadi. Wajah kekasihnya yang kini sudah terdapat tanda biru dan bibir yang mengeluarkan darah.
"Kau marah karena merasa tersindir oleh ucapan kami?"
"Diam kau Hilda! aku pikir kau benar berniat ingin membantuku. Tapi sekarang aku tidak membutuhkanmu jalang!"
"Ck, kau memang sungguh gila Kris. Ren sayang ayo kita pergi!"
Kedua orang itu akhitnya berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut. Meninggalkan Kris yang masih dalam keadaan emosi, bahkan kedua matanya sudah berkilat merah. Jika kedua orang itu tidak lekas pergi ia yakin ia akan langsung melenyapkan keduanya dengan tangannya sendiri.
Ia berhela nafas atas kesendiriannya disana, mencoba menetralkan emosinya agar sedikit meredah. Setelah itu ia berjalan menuju rak-rak buku miliknya diujung sana. Berkeliaran mata tampak mencari sesuatu. Sebelum ia berhenti begitu apa yang ia cari telah ia temukan.
Sebuah buku atau kitab berlapis kulit coklat agak lusuh ia meraihnya, kembali berjalan kesofa disana dan duduk mulai membuka buku tersebut.
Kitab Flamoes, bab 17 halaman 320.
Kedua mata Kris kembali menajam ketika ia membuka sebuah halaman dan menemukan suatu hal penting menurutnya itu. Disana sederet kata-kata ia baca satu-persatu, dengan serius dan mendalami apa maksud dari bacaan tersebut.
Sampai hampir setengah jam larut dalam bacaan yang ia baca, saat itu otaknya mulai berputar untuk berpikir dan memahami kembali maksud bacaan tersebut. Sebelum ia menarik kedua sudut bibirnya keatas dengan raut wajah yang lebih tampak baik dari sebelumnya. Emosinya pun hilang entah kemana dan tergantikan dengan seringaian tampan miliknya.
"Luhan...aku akan mendapatkanmu segera" ujarnya tajam dengan desisan menyeramkan itu.
..
..
..
Sehun mengangkat sedikit tinggi dagu sang istri dan ia mendekatkan wajahnya perlahan. Luhan sendiri sudah memejamkan kedua matanya menantikan ciuman dari suaminya itu. Keduanya kini sudah berada diranjang empuk mereka dengan posisi Sehun berada diatas tubuh kecil istrinya.
Ketika Sehun sudah akan mendaratkan bibir tipisnya pada bibir kecil pria dibawah itu, seketika ia berhenti bergerak, mata yang sempat ia tutup tadi ia kembali buka guna menatapi sudut bibir kecil Luhan. Ia berkerut sebelah alisnya saat mendapati sesuatu yang janggal tepat pada bibir kecil itu. Luhan sendiri yang masih menunggu sang suami sedikit merasa heran karena tidak merasakan apa pun dibibirnya. Ia pun terpaksa membuka pula kedua matanya dan langsung bertemu dengan tatapan datar Sehun yang justru memandang pada bibirnya itu.
"Sehun..."
"Luhan, apa kau bertemu dengan seseorang tadi?" Sehun menanyainya.
"Hm? Seseorang?"
"Yah, saat aku tidak ada."
Sesesaat Luhan terdiam sambil memikirkan sesuatu, mungkin seseorang yang tadi ia temui? Ketika nama seseorang benar ada dipikirannya tiba-tiba kedua matanya tampak melebar lebih, lalu menatap pada Sehun lagi.
"hm yah...ada satu orang yang aku temui tadi" katanya.
"Siapa?" dan Sehun jadi tampak penasaran disana.
"Kris."
"Kris?"
"he'eum...aku bertemu dengannya tadi dijembatan itu."
"Bagaimana bisa?" nada suara Sehun seketika terdengar lebih memberat, bahkan tatapan itu pun menajam ia hanya terkejut mendengar nama Kris diucapkan oleh Luhan.
"Katanya ia hanya kebetulan lewat saja, aku pikir juga dia ingin bertemu denganmu" jelas Luhan memberitahukan.
"Lalu apa dia melakukan sesuatu padamu?" bergeleng kepala karena Luhan merasa Kris memang tak melakukan apa pun padanya, hanya berbicara sebentar lalu pria tinggi itu pergi karena ada urusan?
Tapi Sehun tak mempercayainya bukan karena yang mengatakan tidak ada, tapi ia tau Kris pria yang seperti apa. Lagi pula bagaimana bisa pria itu hanya kebetulan lewat di kediaman pangeran negara? Tidak mungkin hanya kebetulan lewat sementara kediaman pangeran dan keluarga Wu sangat-lah berjauhan. Maka dari itu Sehun sedikit merasa tak percaya jika Kris benar memang kebetulan lewat saja.
Bukan untuk mencurigai sahabatnya itu tapi Sehun juga merasa janggal karena dari aroma Luhan ia bisa merasakan aroma lain disana. Dan juga sudut bibir kecil istrinya tampak sebuah bekas gigitan kecil disana. Bekas gigitan dari taring yang tajam dan Sehun yakin itu bukan berasal dari taringnya.
Luhan sedikit bingung mendapati Sehun yang kini hanya diam saja sambil mengusap agak kasar sudut bibir miliknya, pria pucat itu tampak tengah berpikir keras saat ini. Dan entah apa yang ia pikirkan?
"Sehun, kenapa?" sampai akhirnya Sehun tersadar dari pikirannya tadi.
"Oh, tidak apa-apa..." balasnya beralasan lalu menjauhkan tangannya itu dari bibir sang istri.
"Kris...jangan terlalu dekat dengannya!"
"hm? Kenapa begitu?"
"Kau tau bukan? Hanya kau yang satu-satunya manusia dinegara ini, jadi jangan mudah percaya pada siapa pun selain aku mengerti!"
Walau Luhan tidak begitu mengerti mengapa ia tidak boleh begitu dekat dengan Kris, tapi ia juga bisa memahami maksud Sehun karena memang benar hanya dirinya yang manusia di negara aneh ini. Jadi ia tak bisa begitu saja mempercayai siapa pun selain Sehun sendiri sang suami. Mengerti akan hal itu ia berangguk kepala kembali sambil memeluk manja leher Sehun.
"Yah, aku mengerti Sehun-ah..." ucapnya dihiasi senyuman manis.
Tidak begitu merasa tenang tapi setidaknya Luhan bisa memahami dirinya, dan mungkin istrinya itu akan tetap percaya hanya kepadanya saja. Sehun berhela nafas legah sambil membalas senyuman dari Luhan. Ia hanya memang tak tenang sejak tadi kala mengetahui semua hal yang mungkin akan terjadi pada mereka nantinya.
"Mulai sekarang jangan pernah jauh-jauh dariku, jika ingin pergi keluar biasakan untuk mengatakannya lebih dulu kepadaku heum!" titahnya agar Luhan bisa lebih berhati-hati mungkin.
"Yah Sehun..."
"Bagus."
Selanjutnya Sehun akhirnya bisa mendaratkan bibirnya tepat disepasang belah bibir kecil itu. Menciumnya lembut perlahan melumatnya lebih pelan. Seakan Luhan akan tersakiti jika ia bergerak kasar sedikit pun. Luhan pun menyambutnya dengan senang hati tanpa ragu ikut membalasinya. Mata yang terpejam erat terus bergantian keduanya memperadukan bibir mereka. Menikmat apa yang telah mereka lakukan tanpa memperdulikan apa pun lagi.
"Mmpphhh..." Lenguhan itu menjadi tanda bagaimana dalamnya ciuman mereka.
Sehun sengaja menekan lebih bibir itu tepat dimana ada bekas gigitan disana, bekas gigitan taring yang Sehun yakini itu berasal dari seseorang, bukan darinya tapi bisa kemungkinan jika itu berasal dari pria tinggi itu, Kris. Dan Sehun merasa murka jika Kris benar telah menyentuh Luhan. Maka ia akan menghapus bekas sentuhan itu bagaimana pun caranya.
Lidahnya bermain nakal menjilati bekas tersebut, lalu sengaja mengeluarkan kedua taring tajam miliknya untuk bergesekan dengan kulit bibir itu. Disana Luhan terkesiap yang mendapatinya sambil meraih suraian sang suami untuk ia remas sebagai pelambiasan.
"Mngghh-Se-Sehuunnhhh..."
Sehun menjauhkan wajahnya dan membiarkan sesaat ciuman mereka terlepas. Luhan membuka mata menemukan langsung kedua manik Sehun yang berubah menjadi merah. Dan Luhan tau mengapa Sehun tampak seperti itu padanya.
"Sehuunnn..." rengeknya dengan pandangan sayu.
"Aku menginginkanmu sayang...jadi boleh-kah aku menghisapnya sekarang?"
Luhan tau pada akhirnya ia tetap akan membiarkan Sehun menghisap darahnya, ada rasa takut tentu saja ia rasakan tapi tetap saja Sehun akan membutuhkan dirinya. Kenyataan yang baru ia ketahui hari ini mengenai Sehun, tapi secepat inikah suaminya itu memintanya?
Dari kedua manik bak rusa itu Sehun pun menyadarinya, Luhan pasti merasa ketakutan apa lagi baru saja ia meminta apa yang ia inginkan dari istrinya itu. Ingin menahan hasratnya tapi ia sudah telanjut meminta. Ia jadi tak tahan sekarang dan ia harus melakukannya walau Luhan merasa takut padanya.
"Hanya sebentar, tak banyak jadi bisakah?" ia akan meyakinkan Luhan agar pria kecil itu tidak takut lagi.
"Sehun, tapi aku takut..." lirihan kecil itu Sehun jadi tak tega rasanya.
"Jangan takut yah, mungkin memang akan sedikit sakit. Tapi percayalah aku tidak akan melakukannya lebih heum."
Luhan kalut seketika antara takut tapi tak enak jika ia menolak, sementara Sehun pasti begitu menginginkannya saat ini. Sehun membutuhkannya darahnya maka seharusnya sebagai istri Luhan tetap harus menerimanya.
"Sayang..."
Lama berpikir akhirnya Luhan berangguk menerima, lalu kedua tangannya bergerak membuka kancing-kancing bajunya itu. Menyibak kerahnya agar lehernya dapat terlihat jelas.
"Sehun, lakukanlah! Hisaplah darahku sekarang..." ujarnya dengan penuh rasa yakin jika Sehun hanya akan menghisapnya saja. Mendapatkan lampu hijau dari sang istri Sehun tersenyum simpul.
"Oh, sebelumnya maafkan aku sayang..." bisik Sehun sambil mendekatkan wajahnya kearah leher pria kecilnya itu.
"y-yah tidak apa Sehun..."
Setelah itu Luhan merasakan sebuah tusukan begitu sakit mulai terasa dikulit lehernya. Rasa sakit yang tercampur dengan rasa panas yang luar biasa. Sampai ia tersentak dengan tubuh yang mulai bergetar halus, ini sungguh menyakitkan.
"A-akkhh...Se-Sehunnhh..."
"Ss-ssakitt...akhh..." rintihnya memejamkan kedua matanya guna menahan rasa sakit itu.
Sehun sendiri seakan tak perduli ia hanya sibuk dengan apa yang ia lakukan. Sudah menancapkan kedua taringnya dileher Luhan, ia langsung menghisap dan menyedot darah segar sang istri disana. Meminumnya sampai beberapa teguk lalu ia berdesis rendah menikmati betapa manisnya darah itu membasahi tenggorokannya.
Baru sadar Luhan kesakitan disana ia membawa tangannya untuk mengelus salah satu pipi Luhan yang ternyata telah dibasahi oleh air mata. Dengan terus melafalkan kata maaf didalam hati Sehun belum ingin mengakhirinya. Ia masih membutuhkan darah Luhan hingga ia merasa puas.
..
..
..
Tbc
..
..
..
XD
Saya tau ini ff melumut dan berdebu saking lamanya update, bayangkan lho dari 2016 eh smpe 2017 baru diupdate lagi...apa gk setahun tuh? XD
Dan kabar gembiranya saya masih sedia melanjutkannya walau sempet lupa gimana ceritanya wkwkwkk trus kudu baca dlu chap sebelumnya dan baru deh sekarang bisa update XD
Maaf...maaf...salahkan otak saya dan ketermalasan saya yang begitu menghantui hahaa... #ngaco XD udah ahh...yg lupa sama cerita ff ini mesti baca ulang deh kaya saya :D
Yaudah sampai jumpa dinext chap jika saya tidak late lagi huahahaa... #digorokHunHan XD
Salam saya Xdhinnie0595^^
( maaf typo maklum gk pake edit XD )
