Yahoo!

BLEACH Kubo Tite

You Are My Second Love © Yuinayuki

Don't like don't read! :D


Chapter : 6

Akhir



Angin sore berhembus tak terlalu kencang, tapi tetap dingin dan menusuk. Ichigo masih memegang tangan Rukia, mereka menatap satu sama lain. Rukia segera tersadar, menarik tangannya dari genggaman Ichigo sambil berjalan mundur. Ichigo maju mendekati Rukia yang masih melangkah mundur perlahan untuk menghindarinya.

Ichigo tahu, perkataannya tadi membuat Rukia kaget. Tapi itu sudah menjadi keputusan untuknya, hati kecilnya mengatakan dia harus mengatakannya. Lagi pula sudah lama Ichigo memikirkannya dan akhirnya dia mengatakannya. Dan respon Rukia tepat seperti apa yang dibayangkannya.

"Aku-" sebelum Ichigo menyelesaikan kata-katanya Rukia berbalik dan berlari menjauhi Ichigo. "Sial..!" umpat Ichigo lalu mengejar Rukia. Langkah kaki lebar Ichigo tak bisa ditandingi langkah kaki Rukia yang lebih kecil darinya tapi sayang Ichigo tak lebih lincah dari Rukia yang bertubuh mungil. Berapa kali Ichigo berusaha menangkap pergelangan tangan Rukia atau tasnya, tapi percuma Rukia terlalu lincah untuk menghindar darinya. Ichigo menyerah, lelah terus berlari, lelah menanti jawaban untuk kata 'tunggu'.

Ichigo pun tahu Rukia yang kaget tak akan mau dipaksa menjawab seperti yang dia harapkan. Dengan kekecewaan yang ada Ichigo berhenti tapi matanya tak lepas memandang punggung Rukia yang semakin kecil menjauhi dirinya.


Ichigo membaringkan tubuhnya di lantai kamarnya, tak beralaskan apapun. Dingin yang merayap ke punggungnya tak diperdulikannya. Ichigo menerawang langit-langit kamarnya.

Saat kau menanti sebuah jawaban dari orang yang baru mencuri hatimu pasti itu akan terasa lama, setiap detik, menit yang dilalui terasa bertahun-tahun lamanya. Dan saat orang itu menampik perasaanmu, tak memberi jawaban apa masih bisa tenang-tenang saja menghadapinya? Perasaan tak akan bisa dibohongi.

Ichigo tahu hal itu, perasaannya tak bisa dibohongi. Kecewa berat saat Rukia hanya menatapnya dengan kaget dan berlalu pergi tanpa memberikan jawaban apapun padanya. Seakan tak ingin melihatnya lagi.

Ichigo hanya bisa berharap dan menanti.


Rukia berjalan pelan di koridor sambil memeluk buku kertas tugas yang akan dikumpulkannya ke Ochi-sensei. Rukia menunduk, kepalanya pusing, tak habis pikir dengan apa yang dikatakan Ichigo kemarin. "Haah," Rukia menghela nafas berat. Ditatap koridor sepi yang dilaluinya. Tapi telinganya menangkap suara, suara dari ujung koridor. Langkah kaki seseorang yang tak begitu keras.

Deg! Jantung Rukia berdetak kencang melihat siapa yang dilihatnya. Matanya membulat, seketika keringat dingin bermunculan di dahinya. Rukia melangkah mundur perlahan. Gelisah merayapi tubuhnya, umpatan-umpatan dan sumpah serapah dikeluarkannya -walau dengan suara kecil-. Kenapa orang yang tak ingin dia temui seumur hidupnya sekarang malah ada di depannya melangkah dengan santai tapi seolah tak menyadari adanya Rukia!?

Rukia ingin lari, tapi kakinya serasa dipaku di tempat. Dan Rukia baru sadar, orang yang tak ingin dia temui seumur hidupnya juga satu sekolah dengannya hanya saja orang itu kakak kelas sedangkan Rukia murid angkatan baru. 'Bodoh, kau Rukia!' umpatnya. Tapi kenapa orang itu tidak pernah ditangkap oleh matanya!? Bukankah Shiba Kaien juga manusia terkenal?


Ichigo berjalan santai melewati koridor-koridor yang ramai dengan murid-murid yang saling tertawa dan mengobrol. Niatnya ingin pergi ke atap sekolah yang sekarang sudah jarang dilakukannya tapi seseorang menghadang tepat di depannya sambil merentangkan ke dua tangannya. Ichigo minggir ke kanan untuk melewati tapi bukannya membiarkan Ichigo lewat malah mengikuti Ichigo yang minggir ke kanan dan masih terus merentangkan tangannya.

Ichigo menyerah, "Turunkan tanganmu," ujarnya kemudian. Gadis itu menatap mata coklat Ichigo tajam tak berkedip. "Ada apa?" tanya Ichigo yang merasa tidak betah ditatap seperti itu.

Masih dengan tatapan serius dan tajam gadis itu membuka mulutnya tapi sedikit luluh juga tatapan tajam itu melainkan berganti dengan tatapan memelas, "Ichigo-kun, kumohon.. aku bingung!" suaranya sedikit tertahan. Ichigo menghela nafasnya, melihat sekitarnya Ichigo merasa bukan tempat yang tepat untuk membicarakan sesuatu yang pribadi.

"Ke halaman belakang sekolah, aku akan dengarkan, hanya sekali," Ichigo berjalan duluan diikuti gadis yang diikat ekor kuda itu ke halaman belakang sekolah.


"Ada apa?" tanya Ichigo tak sabar. Gadis itu terdiam tapi tidak lama kemudian dia membuka mulutnya.

"Kenapa kau menjauhi-ku? Kau marah padaku, kan!? Kenapa? Beritahu aku Ichigo-kun!" dari nada bicara gadis itu terdengar memaksa tapi menderita dan serak karena menahan tangisnya. Ichigo diam dan membiarkan gadis yang telah menjadi sahabatnya itu menangis di depannya. Itu sudah menjadi kebiasaannya dan jalan satu-satunya dari Ichigo jika sahabat ceweknya itu menangis, mendiamkan sampai lelah menangis dan akhirnya dia akan berhenti dengan sendirinya.

"Berhentilah menangis, sudah sana temui Toushiro!"

"Tidak!" isaknya, "Aku tidak akan pergi sebelum kau memberi jawaban Ichigo-kun!"

"Kau keras kepala, Hinamori!" suara Ichigo mengeras.

"Aku tidak perduli! Asal kau memaafkanku dan menjelaskan semuanya padaku, Ichigo-kun!" teriak Hinamori tak kalah keras dari Ichigo. Ichigo terdiam melihat Hinamori yang terduduk pasrah di bawah sambil menelungkupkan wajahnya yang banjir air mata. Ichigo menghela nafasnya lalu berjongkok di depan Hinamori.

"Bangun, aku akan maafkan bila kau bangun," Hinamori perlahan mengangkat wajahnya dan seperti mempertanyakan, apa-kau-serius? Ichigo mengangguk berdiri diikuti Hinamori. Ichigo berjalan ke pohon rindang di samping gudang, duduk bersila di depannya ada Hinamori.

"Beritahu aku, Ichigo-kun!" ujar Hinamori tegas.


Rukia menutup matanya sejenak, menghela nafas dan berusaha bersikap biasa-biasa saja. Rukia terus melangkah ke depan dan menundukan kepalanya. Tapi ternyata bukan hari baik Rukia, "Kuchiki!?"

Rukia tersentak, keringat mengalir ke lehernya. Rukia merasakan tepukan di bahunya saat mengangkat wajahnya Kaien tepat berada di depannya. "Kuchiki! Ternyata kau masuk ke sini juga?" Rukia diam, heran bercampur kaget. Kaien memamerkan senyum khasnya.

Tapi tak menghalangi Rukia memasang wajah tak sukanya. Rukia heran, Kaien yang dulu menampiknya dan berpaling pada wanita lain kini di depannya sambil menyunggingkan senyum dan berkata seperti tak punya dosa. "Bisa minggir?!" ujar Rukia ketus lebih ketus dari yang biasanya ia ucapkan ke Ichigo.

Kaien terdiam, senyumnya pudar. Rukia tak perduli dan ambil pusing, segera saja Rukia berjalan lurus meninggalkan Kaien. Tapi tidak kuat hanya berjalan saja, Rukia akhirnya berlari, berlari sekuat yang ia bisa. Tidak perduli orang-orang melihatnya seperti dikejar hantu, dan kertas tugas yang rencananya akan diberikan ke Ochi-sensei pun batal. Akan diberikannya nanti saja.

Rukia terus berlari menuruni tangga dan masuk ke kelasnya, nafasnya tak beraturan, keringat sudah membasahi lehernya, walaupun udara dingin tapi bagi Rukia sangat panas. Belum sampai ke tempat duduknya kakinya sudah tak kuat menahan tubuhnya dan terduduk di lantai. Kakinya terasa lemas tak bertenaga, dengan susah payah Rukia berdiri sambil memegang erat meja sampai ke bangkunya. Rukia menelungkupkan kepalanya, pusing dan perasaan lainnya bercampur. 'Kami-sama beri aku istirahat sebentar saja,' gumam Rukia.

Beristirahat dari semua yang mengganggunya, Ichigo saja sudah membuatnya pusing dan sekarang? Kaien?! Kepalanya sudah mau pecah dengan memikirkannya.


Ichigo menghela nafasnya lalu membuka mulutnya, "Intinya.. aku tidak marah padamu,"

"Kau menjauhiku! Jelas kau marah padaku!" potong Hinamori cepat.

"Aku belum selesai!" Hinamori terdiam, "Ada yang membuatku harus begitu, aku sedang ingin sendiri saja," jelas Ichigo.

"Aku.. tidak mungkin kau begitu Ichigo-kun! Aku.. sudah memikirkan ini sejak lama saat kau mulai jauh dariku," tiba-tiba wajah Hinamori merah, "Aku tidak ingin gara-gara waktu itu kau jadi jauh, aku tidak ingin kita yang sudah bersahabat lama jadi rusak karena hal seperti yang kau bilang waktu itu,"

Ichigo tersenyum, "Aku sudah melupakan, kau benar.. kita sudah lama bersahabat mana mungkin aku menghancurkannya dengan keegoisanku saja dengan memintamu jadi pacarku, padahal aku tahu kau sudah sejak lama menyukai Toushiro. Maaf ya merepotkanmu!" ujar Ichigo panjang. Hinamori tersenyum lembut tapi menjadi senyum yang mematikan.

"Dasar Ichigo-kun bodoh! Jangan bertingkah seperti baru mengenalku saja! Aku akui kau memang egois, bodoh, suka seenaknya, suka main ambil bekalku, suka mengacak-acak rambutku, suka mengerjaiku-"

'Hei! Hei! Hinamori bicara apa!?' batin Ichigo kesal. Hinamori terus bicara tanpa mengindahkan tatapan kesal dan aura hitam yang keluar dari tubuh Ichigo.

".. jelek pula! Ups!" Hinamori menutup mulutnya cepat ketika merasa aura hitam Ichigo membuat bulu kuduknya merinding.

"HINAMORI!" teriak Ichigo sambil menjitak kepala Hinamori pelan.

"Ukh! Sakit!" keluh Hinamori sambil meringis. Ichigo tersenyum puas.

"Sudah sana Toushiro pasti menunggumu! Hush!" usir Ichigo lalu mendorong punggung Hinamori. Hinamori menggembungkan pipinya kesal.

"Aku bukan ayam!" Ichigo tertawa puas membuat Hinamori tertawa juga, "Ya sudah, daah! Ah ya, Ichigo-kun!" Hinamori membalikan tubuhnya sebelum berlari pergi. Ichigo menaikan alisnya. "Capet cari pacar sana!" ujar Hinamori lalu menjulurkan lidahnya.

"Lihat saja nanti!" teriak Ichigo dan dibalas lambaian tangan dari Hinamori.

Ichigo tersenyum melihat sahabatnya digandeng mesra Toushiro, hatinya senang dan lega, beban berat yang ada di bahunya seakan terangkat tanpa menyisakan bekas. Ya, karena Ichigo jujur pada Hinamori tentang alasan dia menjauhinya dan meminta maaf atas keegoisannya, tapi beban itu hanya hilang berapa saat, kini beban itu dating lagi jauh lebih berat dari sebelumnya. Ya mau tak mau Ichigo harus menghadapinya. Rukia yang menjauhinya sulit untuk didekati lagi. Tadi saja Ichigo tak bertemu dengannya.

"Hah," Ichigo menghela nafas berat. 'Ke mana dia?' batin Ichigo lalu berjalan masuk ke gedung sekolah.


Rukia mencengkram dasi kupu-kupu merahnya erat, perasaan sesak tiba-tiba memenuhi paru-parunya tanpa menyisakan sedikit celah untuk udara masuk. Rukia terduduk di bangkunya dengan pandangan kosong. 'Apa tadi?' batinnya. Perasaan sesak tak kunjung hilang tapi semakin menjadi-jadi. 'Ke-kenapa aku ini?!' batinnya lagi. Tiba-tiba sekelebat pengelihatan yang tersimpan di memori otaknya terputar tanpa Rukia minta.

Memori saat dia melihat Ichigo berbicara dengan teman sekelasnya, Hinamori. Mereka terlihat dekat, akrab dan seperti sudah kenal lama. Lalu Ichigo yang tertawa lepas yang bahkan tidak pernah tawa selepas itu ditunjukannya pada Rukia.

"Kh!" rintih Rukia sesak di dadanya berkurang tapi tetap saja menyebalkan jika tidak hilang. "Aku kenapa..? Kh!" Rukia tidak dapat menahannya, ditempelkan dahinya pada lengan kanannya. Rukia bergitu sampai Ochi-sensei masuk dan memberikan materi pelajaran tambahan. Sesak di dadanya berkurang dan seperti tidak terasa.


Sudah hampir 2 hari Ichigo tidak pulang bersama Rukia, jangankan pulang bersama bertemu di sekolah pun tidak. Ichigo merasa gerah dengan sikap Rukia yang seakan menjauhinya. Dan hari ini Ichigo putuskan, mau tidak mau Ichigo harus bertemu dengan Rukia!

Ichigo berjalan melewati kelas Rukia, setelah tanya pada anak-anak kelasnya mereka bilang Rukia langsung pergi keluar saat bel istirahat sambil membawa kertas tugas sekelas. Ichigo berjalan ke ruang guru, kemungkinan besar Rukia masih ada di sana. Ichigo berbelok hendak menuruni tangga tapi sial apa yang dilihatnya bukan hal yang baik malah mengejutkannya.

"Hei, bagaimana kalau malam ini pergi? Aku tahu toko kue yang enak."

"Ya," petir menyambar-nyambar di telinga Ichigo mendengar jawaban Rukia. Apa yang sedang ada dipikirannya!? Wajah Ichigo menampakan rasa tidak suka dan marah yang bercampur, perlahan mendekati Rukia yang terlihat tenang dan masih bicara dengan laki-laki tidak dikenalnya itu. Ichigo mengamati wajah laki-laki itu terlihat terkejut sesaat lalu menyunggingkan senyum sambil menutup matanya dan mengangguk-angguk –jujur saja itu membuat Ichigo muak-.

"Rukia," panggil Ichigo dengan suara dingin dan segera saja menarik pergelangan tangan Rukia lalu membawanya ke atap. Ichigo marah besar terlihat dari wajahnya dan tingkah lakunya yang lebih kasar dari sebelumnya.

"Apa?! Sakit bodoh!" teriak Rukia. Ichigo kembali mencengkram pergelangan tangan Rukia sepertinya lebih kencang dari biasanya. Rukia meronta sekuatnya. "LEPAS!!" bentak Rukia.

Bukannya melepasnya Ichigo malah mengajukan pertanyaan dengan nada dingin, kasar dan entahlah apa, "Kenapa kau bersama laki-laki itu!? Siapa dia? Apa yang kau bicarakan dengannya? Kau akan pergi ke toko kue!? Kau terima ajakannya? Memangnya kau anggap aku ini apa Rukia!?" bentak Ichigo keras. Rukia diam tak bergerak dan berkata apa pun. "JAWAB!! Kau anggap aku apa!?"

"KAU BUKAN SIAPA-SIAPA BAGIKU! LEPAS!" bentak Rukia. "KAU MELARANGKU SEMENTARA KAU JUGA BERMESRAAN DENGAN WANITA LAIN! JANGAN SEENAKNYA MENGATUR-ATUR HIDUPKU!" teriak Rukia.

Ichigo terdiam begitu juga dengan Rukia, ke duanya lama tak bersuara lalu Ichigo memecah keheningan dengan pernyataan, "Aku akui, kau juga bukan siapa-siapa bagiku. Kau hanya pelampiasanku! Hanya untuk menghilangkan rasa kecewa saat ditolak. Haha.. rasanya menyenangkan sekali bisa melampiaskannya padamu."

Plak!

Tamparan keras telak di pipi Ichigo yang sekarang merah dan terasa perih karena udara dingin. "Brengsek! Aku bukan murahan!" Rukia segera menarik tangannya lalu berlari ke pintu keluar tapi sebuah pernyataan yang sama juga keluar dari mulut Rukia. "Jangan kau kira kau saja yang bisa melakukan hal itu! Aku melampiaskan gagalnya cintaku padamu! Kau juga PELAMPIASANKU!" ujar Rukia lalu benar-benar pergi. Ichigo terdiam, udara dingin tidak diperdulikannya, terduduk di bawah lalu berbaring sambil melihat langit luas. Pikirannya kosong.


"Berhenti! Berhenti!" teriak Rukia. Kamarnya berantakan, semua barang-barang dilemparkannya. "Kubilang berhenti!" teriak Rukia lalu melempar gulingnya. Berhenti, air matanya tak bisa berhenti begitu saja. Dia lelah ingin air matanya berhenti. Tapi.. berkali-kali berteriak dan melempar barang-barang tetap saja air matanya tak berhenti sampai akhirnya Rukia tertidur kelelahan.

To Be Continued~


Mari balesan repiunya dibaca! ^^

Ruki_ya: Iya tuh XD he-em masa pacaran mereka. Ini udah diupdate ^^.

Sora Chand: Iya betul! Setuju! XD Wakh, kalo gitu ini udah diupdate ^^.

tripleA-7sins: Iya :D. Hmm jadi awal itu Ichigo mau hubungan Rukia ma dia itu mulai dari awal lagi, sekian. Wkwk.. –maaf penjelasaannya emang gak nyambung XD- ini udah update kelanjutannya ^^.

Aya .: Iya ^^. Ngg.. iya jadiannya Ichigo minta dari awal lagi. Ini udah diupdate ^^.

Jess Kuchiki: Hehe.. hayoo siapa itu? Hehe.. XD Kalo dua riusnya kapan-kapan aja deh –ditabok- aaa.. ToTv. Ini udah diupdate ^^.

Himeka-Hikari Kamisa: Wkwkw.. Rukia kayaknya harus sekolah dari TK lagi XD –ditendang- hihihihihihi XD.

BeenBin Castor no Seiei: Iya nih! XD Iya setuju, harus semangat Ichigo!! XD Ini udah diupdate ^^.

Meong: Wakh! Benarkah!? Kalo gitu samaaa~ -banjir air mata- XD. Hahaha.. daaa juga~ 3.

Kuroneko Hime-un: Hehe.. enggak apa-apa ^^ XD. Semoga ini udah tambah panjang ya ^o^.

Riztichimaru: XDXD –merah kyk tomat-. Dia mau hubungannya itu dari awal lagi ^o^. Semoga iya ya –lho!?- XD. Ini udah diupdate ^^.

ichirukiluna gituloh: Uwaa~ asiiik~ XD semoga yang ini dapet 85, amiiin~ XDXD. Iya mana gak panjang-panjang pula ToT. Huwee ajarin gimana potong poni biar gak kependekan XD. Iyaa.. ^^ ini udah diupdate ^^.

Yaps, selese deh! Kalo chap ini kecepeten enggak? Aku mau cepet selese jadinya ngebut~ XD –halah- ah, makasih yang udah repiu nyampe sekarang maupun baca dsb.. makasih banyak! –peluk-peluk- XD. Maaf kalo tambah gaje dan bingungin~ XD.

Rewiew? :D