Hello Daddy
Chapter 5: Touch
.
.
.
Jungkook mendengus. Tangannya sibuk mengganti channel tv, tidak ada tayangan yang menarik hari ini.
Pandangannya beralih keatas, melihat tangga yang menghubungkan dengan kamar pribadi Taehyung. Jungkook bahkan belum pernah masuk ke dalam kamar pemuda itu.
Jungkook menggeleng keras.
"Untuk apa juga penasaran dengan kamarnya." Bisiknya.
Tapi Jungkook tetap tidak bisa menepik rasa penasarannya. Bahkan berjam-jam setelah kejadian ciuman pagi tadi, Taehyung tak juga keluar kamarnya.
Jungkook memejamkan matanya erat. Mengingat kejadian tadi pagi membuatnya merasa begitu malu.
Sial.
Bahkan ia menikmatinya.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Netranya kembali terbuka dan langsung disuguhkan figur pemuda Kim yang berdiri di ujung anak tangga.
Suara langkah kakinya bahkan tidak terdengar.
Jungkook memekik, "Kau seperti hantu saja muncul tiba-tiba."
Taehyung terkekeh, "Maafkan aku."
"Kau sibuk?"
Jungkook mengernyit, "Aku bahkan tidak tau apa yang harus dilakukan di rumah sebesar ini." Ia mendengus, "Aku hampir mati bosan."
Pemuda Kim tersenyum, kakinya kembali melangkah mendekati Jungkook. Berdiri tepat didepan Jeon.
"Kalau begitu ayo pergi!"
"Kemana?"
"Berkencan."
Pupil Jungkook melebar. Melihat senyum hangat dan konyol dari kawan lamanya membuat darahnya mengalir lebih cepat dan tubuhnya memanas.
Sial. Kim Taehyung itu benar-benar sesuatu.
.
.
.
Jungkook mendengus, "Terserahmu saja."
Taehyung melirik sekilas kearah Jungkook sebelum kembali fokus menyetir, "Kau tidak ingin pergi ke suatu tempat?"
"Tidak. Aku hanya bosan di rumah. Terserahmu saja ingin pergi kemana."
Taehyung menghela nafasnya pelan. Ia baru mengetahui bagaimana rasanya saat kekasihmu mengatakan 'terserah'
Taehyung memutuskan untuk menepikan mobilnya membuat Jungkook menatapnya penuh tanya.
"Kenapa berhenti?"
"Kau bilang terserahku. Aku sebenarnya tidak ingin kemana-mana sih."
Jungkook mencebik, "Lalu kenapa kau mengajakku keluar?"
Taehyung menoleh, netranya menatap mata pemuda disebelahnya intens. "Aku hanya ingin dekat denganmu."
Pandangannya kembali menatap lurus, "Setidaknya dalam mobil ini, aku sudah dekat denganmu. Kita tidak perlu kemana-mana lagi."
Jungkook menggeram, "Dasar tidak peka."
Taehyung menaikkan satu alisnya penuh tanya.
"SEHARUSNYA KAU TAU KALAU AKU LAPAR!"
Meskipun Taehyung hampir mati akibat serangan jantung, namun ia tidak bisa berhenti tersenyum lebar. Setidaknya ia berhasil membuat Jungkook mengatakan apa yang diinginkannya.
"Jika kau bicara kan aku jadi tau apa yang harus dilakukan, sayang."
Jungkook mencebik, pandangannya beralih keluar jendela. Rasanya begitu malu begitu melihat senyum lebar Kim Taehyung.
"Kau ingin makan dimana, sayang?"
"Terserahmu."
Taehyung tersenyum tipis, ia sangat tau kepribadian Jungkook. Pemuda itu pasti sangat malu sekarang.
"Kalau begitu aku akan membawamu ke restoran favoritku."
Dan Taehyung dengan semangat kembali menyetir. Ia merasa hari ini akan menjadi sangat menyenangkan.
.
.
.
"Maafkan aku, Jungkook-ah."
Jungkook mendengus, "Lupakan saja. Lebih baik kita segera pulang, sebentar lagi kau harus menjemput Anna, kan?"
Taehyung mengangguk, dengan berat hati ia kembali melajukan mobilnya. Dalam hati ia mengumpat kebodohannya sendiri.
Tadi setelah mereka sampai direstoran lalu melihat menu yang disediakan, Jungkook bergegas bangkit dari duduknya. Taehyung yang tidak mengerti apapun mencoba menghalangi pemuda Jeon. Dan dengan wajah masamnya, Jeon Jungkook mengucapkan,
"Aku pikir kau masih ingat kalau aku alergi seafood."
Saat itu Taehyung ingin mengubur dirinya hidup-hidup.
Taehyung menghembuskan nafasnya pelan, "Maafkan aku, sayang."
Jungkook mendengus, tangannya terlipat didepan dadanya dengan pandangan kesamping menatap kaca jendela mobil.
"Jangan memanggilku sayang, memangnya kau siapa."
Taehyung melipat bibirnya ke dalam, berusaha untuk tidak terbahak disaat-saat seperti ini. Bisa-bisa Jungkook benar-benar marah padanya.
"Baiklah, maafkan aku."
Setelahnya tidak ada pembicaraan diantara mereka. Taehyung fokus menyetir sementara Jungkook terus menatap jalanan yang mereka lalui.
Sangat canggung.
Begitu mereka sampai di rumah Taehyung, Jungkook langsung turun dari mobil dan masuk ke kamarnya tanpa sepatah katapun.
Wajar saja Jungkook marah.
Taehyung berdiri di depan pintu kamar Jungkook, ia memutuskan untuk minta maaf secara sungguh-sungguh. Bagaimanapun Taehyung tidak ingin suasana canggung ini terjadi lebih lama lagi.
Taehyung mengetuk pintu didepannya pelan. Tidak ada sahutan apapun dari Jungkook.
Nafasnya menghela pelan, mencoba mengendalikan debar jantungnya yang bertalu kencang.
Sekali lagi Taehyung mengetuk pintu kamarnya, tidak ada jawaban.
"Jungkook, aku masuk ya."
Meski tidak ada jawaban Taehyung tetap membuka pintunya perlahan, setidaknya dia sudah minta ijin.
Begitu pintu terbuka ia melihat Jungkook berbaring di ranjangnya, memunggunginya.
"Jungkook."
"Tinggalkan aku sendiri."
Taehyung meneguk ludahnya kasar. Kakinya tetap melangkah maju. "Maafkan aku."
"Keluar dari kamarku!"
Netra pemuda Kim mengerjap, "Tapi ini rumahku."
Jungkook bangkit dari tidurnya, netranya menatap Taehyung tajam. "Kalau begitu aku pulang sekarang."
Ia beranjak, melangkah dengan menghentakkan kakinya ke lantai.
Taehyung yang menyadari kebodohannya, langsung menghalangi Jungkook dengan memeluk tubuhnya erat.
"Aku hanya bercanda, maafkan aku."
Jungkook mencebik. Tangannya sibuk mendorong-dorong dada Taehyung agar pelukannya terlepas namun Taehyung justru semakin mengeratkannya.
"Lepaskan aku brengsek!"
"Maafkan aku."
Jungkook tidak berhenti, ia tetap mendorong-dorong tubuh Taehyung.
Taehyung menggigit bibir bawahnya, tubuhnya terasa sedikit sakit karena pukulan Jungkook yang tak main-main.
Taehyung memutuskan untuk menjatuhkan tubuh mereka berdua di ranjang, lalu dengan cepat mengukung Jungkook dibawahnya.
Jungkook memekik, "Apa yang kau lakukan, Kim Taehyung?!"
"Tenanglah, Jungkook. Jika kau tidak tenang, aku akan memperkosamu sekarang."
Jungkook diam. Matanya menatap horor.
Taehyung tertegun, awalnya hanya ingin mengancam pemuda manis itu. Tapi melihat posisi mereka, Taehyung menjadi berpikir kotor.
Sial.
"Jungkook sayang, maafkan aku."
"Oke. Sekarang lepaskan aku."
Mendengar kalimat dingin Jungkook entah mengapa membuat Taehyung meremang. Ia tau ada yang salah dengan dirinya.
Kepalanya menggeleng pelan, mencoba kembali berpikir normal. Namun hasratnya justru semakin bertambah.
Ia meneguk ludahnya, "Boleh aku menciummu?"
Tidak ada jawaban dari Jungkook membuat Taehyung mendekatkan wajahnya perlahan.
Jungkook tidak menolak, bahkan saat bibir mereka bertemu.
Taehyung semakin memperdalam ciumannya, satu tangannya mulai menyentuh perut rata Jungkook yang masih tertutupi baju.
Taehyung tau, Jungkook juga menikmati setiap sentuhannya. Jadi tangannya mulai membuka kancing kemeja Jungkook, setelahnya menyentuh dadanya perlahan.
Taehyung melakukan semuanya secara perlahan, tidak ingin menyakiti Jungkook.
Jungkook terhanyut dengan perlakuan Taehyung, tangannya beralih melingkar di leher pemuda Kim dengan jemari yang meremat helainya lembut.
"Mommy, Daddy. Anna pulang."
Jungkook mendorong tubuh Taehyung kuat-kuat sehingga membuat Taehyung terjungkal dan jatuh ke lantai.
Jungkook duduk sembari merapikan pakaiannya panik. Anna yang tidak mengerti hanya menatap mereka lugu.
"Kenapa daddy menindih mommy?"
Mereka berdua saling bertatapan. Bingung harus menjawab apa.
Taehyung berdiri sembari memasang senyumannya paksa. "Kenapa kau sudah pulang, sayang. Baru saja daddy ingin menjemputmu."
Iya menghampiri Anna, membawanya ke dalam gendongannya. Mengecup pipi putrinya berkali-kali.
"Iya tadi saem mengijinkan pulang lebih awal. Karena hanya Anna yang belum dijemput, jadi tadi diantar oleh saem sampai depan rumah."
Taehyung mengangguk sembari melangkah keluar kamar. Netranya melirik ke arah Jungkook sekilas sebelum menutup pintunya.
"Anna sudah makan?"
Bocah kecil itu menggeleng lucu. "Anna ingin makan dengan mommy."
"Anna menyukai mommy?"
Anna mengangguk, "Anna sangat menyukai mommy."
Taehyung tersenyum, selama putrinya nyaman dengan Jungkook tidak akan masalah untuknya. Jungkook akan menjadi miliknya. Pasti.
"Baiklah. Sekarang Anna duduk disini dulu. Daddy panggilkan mommy, nanti kita makan siang bersama, oke?"
Anna mengangguk lugu. Taehyung mendudukkan putrinya diatas sofa perlahan. Setelahnya ia kembali ke kamar Jungkook.
Ia mengetuk pintu kamar Jungkook sebentar sebelum masuk ke dalam. Tidak lupa menutup pintunya kembali, agar Anna tidak mendengar pembicaraan mereka.
Jungkook menatap Taehyung yang menghampirinya, "Ada apa lagi? Kau mau dipergoki putrimu lagi?"
Taehyung menggeleng. "Jungkook, sebelumnya maafkan aku. Aku tidak bermaksud-"
"Lupakan saja."
Netra Taehyung mengerjap, "Jadi tidak masalah?"
Jungkook mengangguk. Ia bahkan tidak menyadari jawabannya, sampai Taehyung kembali mendorong tubuhnya, membawanya kedalam kukungan posesif pemuda Kim.
Jungkook terkejut. Hampir saja ia memekik jika tidak menyadari keberadaan Anna.
Jika Anna mendengar, habis sudah mereka.
Taehyung menatap netra Jungkook dalam. "Sungguh. Aku sangat mencintaimu, Jungkook. Aku memujamu selalu."
Taehyung kembali melumat bibir Jungkook. Pemuda dibawahnya benar-benar candu baginya.
Segalanya tentang Jungkook adalah candu baginya.
"Aku mencintaimu."
Binar netra pemuda Kim membuat Jungkook tertegun. Tangannya membingkai wajah tampan pemuda diatasnya.
"Sejujurnya, aku masih meragukan perasaanku. Bantu aku membuatnya menjadi jelas."
Taehyung tersenyum. Ia menyatukan dahi mereka sebelum kembali menyatukan bibir mereka.
Jungkook menikmatinya. Taehyung menyentuhnya begitu lembut dan memabukkan, membuatnya nyaman.
Taehyung melepaskan ciuman mereka setelah menyesap sudut bibir Jungkook. Ia tersenyum sebelum berbisik dengan suara dalamnya,
"Kau cantik, sayang."
Membuat sekujur tubuh Jungkook meremang.
Sial.
Jungkook menginginkan Taehyung.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
Author's Note:
Maaf ceritanya rada sengklek. Authornya lagi agak-agak soalnya wkwkwk
Jangan lupa reviewnya
Aii-nim
2018.07.07
