Tittle : Story Of The Three Detectives ( 3rd Case : The Kidnapper )
Cast : Cho Kyuhyun, Lee Donghae, Park Jungsoo. Etc.
Rate : T
Genre : Friendship, Adventure, Actions.
Summary : Tiga pemuda berprofesi sebagai Detective Muda. Berbagai kasus mereka tangani. Bagaimana petualangan mereka dalam memecahkan kasus.
Selanjutnya.
Kyuhyun POV
Perasaanku tidak enak ketika Donghae Hyung berniat pergi ke rumah Choi Siwon seorang diri. Jadi aku menempelinya sebuah alat pelacak sekaligus penyadap yang ku taruh di kerah kemejanya. Selang tidak beberapa lama ia pergi akupun mengikutinya menggunakan mobil. Butuh waktu lebih lama untuk perjalanan ke Osan dengan menggunakan mobil.
Sekitah hampir 3 jam akhirnya aku sampai di depan rumah Siwon, berbekal dari alat pelacak sekaligus penyadap yang kutempel. Aku memakirkan mobilku tepat di depan pintu pagar rumah Siwon.
Dengan seksama kudengarkan pembicaraan mereka yang berhubungan dengan kasus itu. Akupun tersenyum saat Donghae Hyung menganalisis kasus secara tepat. Sebenarnya aku sudah punya garis besar pemecahan kasus itu saat Siwon tengah berada di mansion, tapi aku mau menyerahkan seluruhnya pada Donghae Hyung. Dan ternyata ia berhasil.
"Aku bangga padamu Hyung." Gumamku sambil berniat masuk ke dalam mobil dan kembali ke mansion. Namun aku melihat seorang anak kecil yang kuyakini sebagai Daniel tengah berjalan masuk ke dalam rumahnya selepas dari taman rumahnya. Aku melihat sesuatu di tangannya, sesuatu yang panjang dan runcing. Tapi dari jauh aku juga bisa kulihat tatapan matanya yang tajam dan penuh dengan kemarahan.
"Anak Panah."
Ia pun masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintunya. Akupun mengurungkan niatku untuk pulang dan malah melangkah masuk menuju rumah mewah tersebut. Tanpa menekan bel dan permisi, aku langsung membuka pintu pagar dari rumah tersebut. Langkahku terasa sulit karena kakiku yang masih sakit.
"Hai Daniel. Orang tuamu menunggumu di kamarnya. Temuliah mereka!" aku mendengar jelas suara Hae Hyung di telingaku. Tanpa memikirkan kakiku yang sedang sakit aku langsung berlari secepat mungkin untuk masuk ke dalam rumah. Perasaanku benar-benar tidak enak.
"Arrrrggghhh" Tepat ketika kubuka pintu, kulihat Donghae Hyung tersungkur di lantai dengan tangan yang memegang lehernya. Tanpa pikir panjang kudorong anak kecil itu dari hadapan Donghae. Kuraih kepala Donghae, kutundukkan kepalaku dan langsung saja kuberikan pertolongan pertama yaitu dengan merobek sedikit kulitnya dan menghisap darahnya. Kuludahkan darahnya di lantai rumah Siwon. Kulakukan itu secara berkali-kali.
"Aaaarrrrrrgggghhhhh" Kudengar teriakan Donghae yang lebih keras dari pertama.
"Bertahanlah Hyung." Kataku padanya. Setelah itu perlahan kesadarannya mulai hilang dan ia benar-benar pingsan. Mungkin tidak tahan menahan rasa sakit. Kudengar langkah kaki terburu dari lantai atas dan tidak lama Siwon serta –yang kuyakini- istrinya berada di ruang utama rumahnya.
"Ya Tuhan!" Teriak Siwon setelah melihat apa yang terjadi di rumahnya.
"CEPAT PANGGIL AMBULANCES!" Teriakku padanya. Ia pun menyuruh pelayannya untuk memanggil ambulance secepat mungkin. Aku terus mengenggam tangan Donghae, setidaknya tadi aku sudah mengeluarkan racun dari tubuhnya. Kuharap aku belum terlambat.
Siwon pun terdiam memandangi Daniel yang kini tengah menangis. Entah karena menyesal atau hanya mencari simpati saja.
"Maafkan anakku Kyuhyun-ssi."
"Jangan benci ataupun marah padanya Siwon-ssi. Berikan ia penjelasan dan berikan waktu yang menyenangkan untuknya. Jangan biarkan dia merasa sendiri disaat seperti ini."
Kemudian dengan penuh rasa sayang ia memeluk anaknya yang masih menangis itu. Kulihat sang istri yang tersenyum memandangi suami dan anak tirinya itu.
"Maafkan anak kami pemuda, kami akan menanggung seluruh biaya rumah sakit dan akan membayar berapapun karena telah memecahkan kasus kami." Ucap sang istri padaku.
"Tidak apa Nyonya. Donghae Hyung pasti selamat."
Tidak lama ambulance datang dan membawa Donghae ke rumah sakit. Mereka juga turut membawaku karena melihat aku yang tidak bisa berjalan. Masalah mobilku dan motor Donghae akan dibereskan oleh Siwon entah apa yang akan dilakukannya, tapi ia bilang akan mengantarnya ke rumah kami.
Donghae langsung di bawa ke UGD untuk penanganan, sementara aku hanya di ruangan biasa. Mereka membalut kakiku setelah menyuntikkannya sesuatu. Terasa sangat sakit, kata Dokter ini akibat berlari secara tiba-tiba. Dan dalam beberapa hari kakiku tidak boleh digunakan secara paksa. Akupun keluar dari ruangan itu dan menunggu Donghae di luar Ruang UGD.
Kira-kira 1 jam menunggu, Dokter akhirnya keluar dari ruangan.
"Anda keluarga dari pasien di dalam?" Aku menganggukan kepalaku.
"Ya Dokter. Bagaimana keadaannya?"
"Dia baik-baik saja. Pertolongan pertama pada racun di tubuhnya sangat membantu, bahkan tidak terdeteksi lagi racun di tubuhnya. Ia pingsan mungkin karena shock. Ia sudah sadar sekarang, anda bisa menemuinya." Aku mendesah lega mendengar perkataan Dokter. Aku membungkukan badanku sebagai ucapan terima kasih. Kulangkahkan kakiku perlahan ke ranjang tempat Donghae Hyung. Dilehernya terpasang perban hampir sama seperti di kakiku.
"Kau baik-baik saja Hyung?" Tanyaku.
"Iya. Aku tidak apa-apa Kyu. Kau baik-baik saja kan?" Aku menganggukan kepalaku
"Kata dokter aku sudah bisa langsung pulang Kyu. Kita langsung pulang saja ya. Kita naik taksi saja."
"Baiklah. Kau bisa berjalan kan Hyung? Siwon sudah mengurus administrasinya." Ia tersenyum dan mengangguk. Kamipun pamit pulang pada Dokter dan Suster yang ada di sana. Dengan susah payah akhirnya kami mendapatkan taksi yang mengantar kami ke mansion.
Sekitar satu jam kami sampai di mansion kami. Donghae Hyung membantuku berjalan menuju ke dalam. Aku memutuskan untuk langsung masuk ke kamarku untuk istirahat, mengingat hari yang sudah mulai gelap. Begitupun dengan Donghae Hyung, ia mengucapkan selamat malam padaku dan langsung masuk ke kamarnya. Hah! Hari yang sangat berat untuk kami. Semoga besok lebih baik.
Author POV
Keesokan harinya
Dengan keadaan yang lebih baik, kini mereka sedang berada di ruang makan menikmati sarapan mereka. Masih tanpa hyung tertua mereka. Seiring berakhirnya kasus yang berhasil ditangani oleh Donghae - dengan sedikit bantuan Kyuhyun – maka berakhir pula rasa penasaran yang sempat bersemayam di hati Donghae tentang keberadaan vampire.
"Kau hebat Hyung. Bisa menyelesaikan kasus itu. Walaupun ada kejadian yang tidak diinginkan." Kata Kyuhyun sambil memainkan laptop di hadapannya. Kyuhyun bangga dengan semangat Donghae yang sangat besar saat mencoba memecahkan kasus.
"Ini juga berkatmu Kyu, seandainya kau tidak datang di saat yang tepat mungkin aku tidak ada di sini bersamamu sekarang."
"Sebenarnya aku mengikutimu sejak awal Hyung, aku berdiri di depan rumah Choi Siwon dan mendengarkan percakapan kalian dengan alat penyadap yang kutempelkan di bajumu."
"Aish! Kau masih meragukan kemampuanku ternyata." Sebuah pukulan kecil bersarang di bahu Kyuhyun.
"Tapi, tindakanmu benar juga Kyu, kalau sampai aku mati karena racun tersebut, nanti tidak akan ada detektif tampan di kota ini." Ujar Donghae dengan senyum bangganya. Kyuhyun hanya memutar bola matanya malas.
"Kakimu sudah sembuh Kyu?" Kini mata Donghae beralih ke kaki sang magnae.
"Masih terasa sakit kalau berjalan Hyung. Lalu bagaimana dengan luka di lehermu Hyung. Apa masih terasa nyeri?" Giliran sang magnae yang bertanya.
"Masih terasa perih Kyu, karena kau menggigitnya terlalu dalam." Gerutu Donghae mengingat bagaimana Kyu menggunakan hampir seluruh kekuatan giginya untuk merobek kulit Donghae.
"Kalau tidak begitu, kau mungkin sekarang sekarat di rumah sakit."
"Hehehe.. Benar juga! Terima kasih Kyuhyun." Ujar Donghae sambil mencoba menciumi pipi Kyuhyun.
"Lepas Hae! Jauhkan bibir tebalmu dari pipiku. Aish! Aku tidak mau terkena air liurmu!" Kyuhyun mencoba melepaskan diri dari Donghae yang secara brutal mencoba menciumnya.
"Tapi aku belum pernah menciummu Kyu, Jungsoo hyung juga." Donghae protes sambil memanyunkan bibirnya.
"Ah! Ngomong-ngomong kenapa sampai sekarang Jungsoo Hyung belum pulang. Kapan dia kembali Kyu-ah?" Tanya Donghae penasaran sambil menghentikan acara mencoba mencium Kyu.
Kyuhyun menghela nafas lega, karena sudah lepas dari tingkah Donghae.
"Tadi Jungsoo hyung menelpon, kemungkinan besok siang dia sampai sini." Jawab Kyuhyun.
"Kau tidak meminta oleh-oleh Kyu?"
"Jungsoo hyung sedang pelatihan di Jepang, hyung. Bukan rekreasi."
Donghae menghembuskan nafas kecewa. Dipikirannya ia sudah membayangkan bagaimana Hyungnya itu akan membelikan banyak makanan dan oleh-oleh dari Jepang.
"Bagaimana kalau kita buat penyambutan untuknya,Kyu. Kita dekor mansion ini lalu kita buatkan masakan kesukaan Jungsoo hyung? Kau setuju?"
"Jungsoo Hyung hanya pergi 2 hari Hyung, tidakkah itu terlalu berlebihan." Protes Kyuhyun. Pasalnya ia dan Donghae sedang dalam kondisi yang tidak baik. Tidak mungkin mereka melakukan pekerjaan yang berat-berat. Donghae menatap Kyuhyun dengan puppy eyes.
"Aish! Baiklah kita akan belikan makanan kesukaan Jungsoo Hyung saja untuk besok. Kau belum boleh terlalu lelah." Untuk kali ini Kyuhyun menuruti keinginan Hyung keduanya tersebut. Dan tentu saja kini senyum bahagia terpampang di wajah Donghae.
"Hyung. Tanganmu tidak sakit kan?"
"Hmm. Tidak. Kenapa?"
"Bisakah kau lakukan seperti kemarin hyung?" Donghae menatap Kyuhyun dengan bingung. Dilihatnya kyuhyun yang tengah bermain laptop, di sampingnya terdapat sepiring menu sarapan yang belum disantapnya.
"Ah! Kenapa tidak langsung To the Point saja Kyu. Kau ini!" Tangan Donghae mengacak rambut Kyuhyun gemas. Dan sebuah semburat merah muncul di kedua pipi magnae.
"Kyu. Mengapa kau kemarin bilang kalau aku tidak pernah mampu menyelesaikan kasus seorang diri?" Tanya Donghae sambil memasukkan satu sendok nasi ke dalam mulut Kyuhyun.
"Loh memang kenyataannya seperti itu kan Hyung."
"Yah memang benar, itu berarti aku tidak pantas berada di sini bersamamu dan Jungsoo hyung. Aku ini tidak berguna. Aku bodoh." Kata Donghae sambil terisak.
"Kau memang bodoh Hyung." Kyuhyun berucap tanpa ada nada bersalah sedikitpun.
"Aku dan Jungsoo hyung juga orang-orang bodoh." Donghae melihat Kyu dengan tatapan penuh meminta penjelasan.
"Kalau para detektif sudah menganggap dirinya pintar, lalu apalagi yang bisa mereka pelajari dari berbagai kasus yang mereka tangani."
"Anggaplah selalu kalau diri kita adalah orang bodoh, dengan itu kita mempunyai tujuan hidup. Kalau kau sudah menganggap dirimu pintar, maka tidak ada yang kau dapatkan kecuali kesombongan dan merasa sempurna. Tidak peduli bagaimana pendapat orang lain dan hanya akan mempercayai diri sendiri. Kalau sudah begitu kau hanya akan menunggu hari kehancuranmu, hari dimana kau terjatuh dan tidak akan ada yang menolongmu."
"Jadi aku akan selalu menganggapmu orang bodoh. Karena ketika kau terjatuh, aku akan menolongmu."
Donghae menatap Kyuhyun dengan mata yang berkaca-kaca. Direngkuhnya tubuh sang magnae ke dalam peukannya. Sambil terisak sesekali Donghae mengucapkan kata terima kasih. Sementara sang magnae hanya mengelus punggung sang kakak dengan sayang, bermaksud mengurangi kemungkinan Hyungnya itu akan menangis lebih keras.
"Apa aku melewatkan sesuatu?" Sebuah suara yang mereka kenal membuat mereka harus rela melepaskan pelukan hangat keduanya.
"Jungsoo hyung!" Teriak Donghae sambil meloncat ke arah hyung tertuanya dan memberikan sebah pelukan yang sangat erat.
"Kau bilang akan pulang besok Hyung." Kyuhyun yang kakinya masih sakit hanya bisa duduk terdiam melihat kedua hyungnya berpelukan.
"Rencana kami akan menyambutmu pulang besok gagal total. Kenapa kau tidak beri tahu kami lebih dulu hyung?" Sambung Donghae. Jungsoo mengacak rambut Donghae gemas.
"Kau berlebihan Hae! Aku hanya 1 hari di sana, lagipula aku mempunyai firasat buruk tentang kalian berdua. Apa aku benar?"
"Ya. Sebenarnya kasus yang aku ambil kemarin membuat aku harus rela merasakan sakitnya saat kulit di bagian salah satu tubuhku dirobek secara paksa." Keluhnya.
Donghae pun mulai menceritakan bagaimana ia berhasil memecahkan kasus tapi dengan hadiah luka robek di lehernya. Dan juga bagaimana kyuhyun membantunya.
"Aku bangga padamu Hae-ah. Lalu bagaimana dengan luka kalian berdua? Apa sudah baikan?" Tanya Jungsoo khawatir.
"Leherku masih terasa perih Hyung, namun dokter sudah memberiku obat penghilang rasa sakit. Tapi kyuhyun, kakinya semakin parah akibat ia berlari untuk menolongku kemarin." Donghae menatap Kyuhyun dengan menyesal.
Jungsoo kini tengah menatap Kyuhyun dengan raut wajah yang susah dijelaskan. Antara takut, cemas dan khawatir. Ia melepaskan nafas yang terdengar putus asa dari mulutnya. Membuat kedua adiknya menatap Jungsoo dengan bingung.
"Kyu. Tolong jaga dirimu baik-baik." Raut wajah yang semakin bingung kini terpampang di wajah kedua adiknya.
"Apa maksudmu Hyung, tentu saja Kyu akan menjaga dirinya baik-baik dan aku juga akan menjaganya Hyung." Dilingkarkannya tangan Donghae pada bahu adiknya.
Sementara Kyuhyun menatap Jungsoo dengan tatapan curiga. Ia tahu ada yang tidak beres terjadi di Jepang. Dan itu adalah sesuatu yang tidak baik untuknya. Tidak ingin bertanya lebih jauh, perlahan Kyuhyun melepaskan tangan Donghae dari bahunya dan berniat untuk pergi ke kamarnya. Istirahat adalah sesuatu yang paling dibutuhkan olehnya sekarang.
"Aku akan beristirahat sebentar. Bangunkan aku kalau kalian membutuhkanku."
Dengan langkah kaki yang masih terseok, kyuhyun berjalan menuju kamarnya. Ditutupnya pintu kamarnya dan mulai berjalan ke arah kasurnya. Mencoba tidur dengan posisi terlentang dan menaruh lengannya pada kedua matanya. Ingatannya berlari pada ucapan hyung tertuanya, ia yakin ada sesuatu yang akan membuatnya dalam bahaya suatu hari nanti. Namun memang karena sifatnya yang cuek, Kyuhyun tidak ingin memikirkannya terlalu jauh. Perlahan rasa kantuk menyerangnya, membuatnya harus merasakan indahnya alam mimpi yang mungkin tidak pernah akan terjadi di kehidupan nyata.
Donghae POV
Jungsoo Hyung sudah pulang dari pelatihannya di Jepang, namun dia mengatakan hal aneh yang menyuruh Kyuhyun untuk menjaga dirinya baik-baik. Aku penasaran kenapa Jungsoo Hyung berkata seperti tu. Apa terjadi sesuatu di Jepang? Dan ini berhubungan dengan Kyuhun.
"Aku akan beristirahat sebentar. Bangunkan aku kalau kalian membutuhkanku."
Perlahan Kyuhyun melepaskan tanganku yang bertengger di bahunya dan memilih untuk beristirahat di kamarnya. Kuperhatikan terus punggungnya yang semakin jauh dari pandanganku. Kuhembuskan nafas saat melihatnya sudah menutup pintu kamarnya.
"Apa maksudmu Hyung? Kenapa kau berbicara seperti itu? Kau membuatku takut."
"Tidak apa Hae. Selain Kyuhyun kau juga harus hati-hati Hae!" Bukannya menjawab pertanyaanku, Jungsoo Hyung justru memperingatkanku juga.
"Kau aneh sekali hari ini Hyung. Apa kepalamu membentur sesuatu saat berada di Jepang?" Ledekku. Jungsoo hyung hanya menatapku sambil tersenyum. Senyum yang sangat mencurigakan.
"kau tidak kemana-mana hari ini Hae?"
"Nanti siang aku akan menemani Kyunnie untuk Check Up. Untuk mengetahui kondisi kakinya. Kau mau ikut Hyung?" Tawarku padanya.
"Tidak Hae. Aku masih ada beberapa urusan nanti siang. Nanti kau kabari aku perkembangannya saja." Perintahnya. Aku hanya menganggukan kepalaku sebagai jawaban. Lalu kami berbincang mengenai Jungsoo Hyung saat di Jepang.
Tidak berapa lama Jungsoo Hyung pamit untuk pergi lagi. Katanya ia tidak akan pulang sampai malam nanti. Merasa bosan, akhirnya aku memutuskan untuk menonton acara berita yang ada di TV. Banyak sekali kejahatan yang terjadi akhir-akhir ini. Pencurian, pembunuhan, penculikan para pemuda, untuk apa mereka menculik para pemuda di Seoul. Bukankah akan lebih menguntungkan kalau yang diculik itu para balita. Dan yang paling heboh tentang terdeteksinya sekelompok mafia di Jepang yang sangat meresahkan banyak warga.
"Apa jadi orang jahat itu menyenangkan? Mengapa mereka mau melakukan hal yang melanggar seperti itu. Bukankah lebih enak jadi orang baik. Disenangi banyak orang, dipuja, tidak dibenci..."
Hhaaahhh... Kenapa juga aku memikirkan hal itu.
Tiba-tiba Kyuhyun duduk di sampingku dengan mata yang masih mengantuk. Bukankah tadi dia bilang ingin beristitahat, kenapa sebentar sekali. Ah! Biarlah. Terkadang dia memang aneh.
"Hidup itu pilihan Hyung. Baik atau buruk. Hitam atau putih. Laki-laki atau perempuan. Kaya atau miskin. Neraka atau surga. Dan lain sebagainya. Kalau semua orang baik, lalu untuk apa polisi bekerja. Kalau semua orang kaya, lalu siapa yang akan berkerja. Dan kalau semua orang Laki-laki, lalu kau akan menikah dengan siapa." Dia tertawa sendiri saat mengatakan kalimat akhirnya. Sama denganku yang tak dapat tidak tersenyum mendengar ejekannya.
"Lalu apa yang kau mau Kyu, jadi orang baik atau buruk?" Tanyaku serius padanya.
"Aku tidak keduanya Hyung. Karena pada dasarnya manusia sering memilih, jadi terkadang bingung dengan pilihannya sendiri. Memutuskan jadi orang yang baik tapi dengan cepat mereka merasa bosan karena terus-terusan merasa mengalah, memutuskan menjadi orang yang buruk, tapi terkadang mereka menyesal diakhir. Begitupun dengan aku Hyung." Jelasnya panjang lebar. Aku hanya menatapnya takjub, dia begitu dewasa diumurnya yang bahkan 4 tahun dibawahku.
"Hyung jadi mengantarku untuk Check Up kan?" Pertanyaannya membuatku berhenti menatapnya. Kulirik jam yang bertengger di tembok mansion kami.
"Jadi. Kau bersiap-siaplah, kita akan berangkat sebentar lagi." Perintahku yang dijawab anggukan kepala olehnya.
Setelah rapi, aku dan Kyuhyun pun siap untuk ke rumah sakit kemarin untuk Check Up. Sedikit ada argument tentang siapa yang menyetir mobil.
"Kau ini bodoh atau apa sih! Kakimu seperti itu tapi tetap memaksa ingin menyetir. Duduk di kursi penumpang atau aku telpon Jungsoo Hyung!" Ancamku. Ia memajukan bibirnya dan kemudian duduk di kursi penumpang. Akupun mengacak rambutnya gemas saat melihat ia masih saja cemberut.
Aku mulai melajukan mobilku menuju rumah sakit, tidak terlalu jauh jadi aku mengemudikannya tidak terlalu cepat.
Kehentikan mobilku saat melihat lampu berwarna merah berada di depanku. Kulihat ke samping, Kyuhyun sedang asik membaca buku, kali ini ia membaca novel misteri. Anak itu suka sekali dengan hal yang berbau misteri.
Tiba-tiba kurasakan seseorang atau lebih membuka pintu belakang dari mobilku dan betapa kagetnya saat salah satu dari mereka mengalungkan tangannya di leher Kyuhyun dan tangan yang lainnya memegang senjata api.
"Ya! Siapa kalian?!" Teriakku. Kulihat Kyuhyun yang sama terkejutnya denganku, namun ia hanya diam mungkin takut dengan moncong pistol yang kini berada tepat di pinggangnya.
"Diam! Ikuti perintah kami. Kalau tidak maka anak ini akan kutembak. Arahkan mobil ini sesuai perintahku." Ancamnya. Karena takut terjadi apa-apa dengan Kyu, akhirnya aku menuruti permintaannya. Kulihat kembali wajah Kyu yang sedikit ketakutan tapi tetap tenang. Asih! Bagaimana bisa ia berekspresi seperti itu.
'Ya Tuhan selamatkan kami.' Doaku dalam hati.
TBC
Maaf Updatenya lama akibat terkapar di rumah akibat sakit. Kerjaan juga lagi banyak #AuthorCurhat #Abaikan. Entah bisa lanjut atau tidak mengingat menjelang akhir tahun kerjaan pasti menumpuk.
Thanks buat yang buat review di chap sebelumnya.
Review Please :D
