Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

WARNING! Typo(s), OOC, Gaje, Crack Pairs, Alur dan Konflik yang tak jelas serta Penempatan tanda baca yang tidak sesuai dan banyak sekali kesalahan-kesalahan lainnya.

Thanks a lot untuk para reviewer dan yang telah fave & follow fict ini. Semoga chapter ini tidak mengecewakan kalian.


WARNING! DON'T LIKE DON'T READ!


CHAPTER 6 :

Ino menghela napasnya panjang sebelum membuka pintu bercat putih, pintu yang akan membawanya masuk ke dalam ruangan kerja satu-satunya orang yang tak pernah ramah kepadanya di rumah ini, ia memegang knob pintu yang terbuat dari besi itu kemudian menariknya, "Selamat sore, Nenek." Sapanya, kemudian berjalan mendekat pada Tsunade yang berlebihan.

"Ada perlu apa kau kemari? Bukankah sudah cukup jelas aku tidak pernah menyukaimu dan menganggapmu ada di rumah ini?" bentak Tsunade pada Ino, namun wanita yang kini tengah mengandung 1 bulan itu hanya tersenyum dan semakin melangkahkan kakinya mendekat pada Tsunade, "Aku mendengar dari Hero-san bahwa nenek sedang sakit kepala, jadi aku bawakan nenek curd rice dan aspirin ini untuk nenek." Ino meletakkan semangkuk curd rice, aspirin dan segelas air putih di hadapan Tsunade.

"Aku tidak pernah memintamu untuk bersikap baik dan perhatian padaku! Jangan pikir karena kau telah mengandung cucuku sekarang lantas sikapku padamu akan melunak! Tidak akan Yamanaka." Ujar wanita yang masih terlihat cantik dan sexy meskipun usianya tak lagi muda itu, ia memandang tak suka pada Ino yang hanya mampu memasang senyum palsunya, seolah ia tak mendengar perkataan Tsunade, "Meskipun begitu, aku menganggap nenek adalah nenekku sendiri." Tersenyum kecut Ino menatap langsung pada mata Namikaze dewasa itu, tersirat rasa sakit pada kedua aquamarine milik cucu menantunya itu, Tsunade terperangah namun sedetik kemudian ia mampu menguasai dirinya.

"Perjanjian tetaplah perjanjian. Skandal sekecil apapun pasti akan dimanfaatkan oleh saingan bisnis kami, kau tahu apa artinya? Kami akan bangkrut jika mereka mengetahui bahwa putra sekaligus pewaris Namikaze Corp mempunyai 2 istri. Apakah kau tega melihat orang yang kau sayangi hancur, Yamanaka?"

Perih. Perih sekali. Kata demi kata yang keluar dari mulut Tsunade itu nyatanya berhasil menghunusnya bak sebilah pedang yang terus menerus dicabut dan kemudian ditusukkan kembali tepat di hatinya.

Tentu saja ia tak ingin melihat Naruto hancur, namun apakah ia juga mampu pergi nanti? Meninggalkan putra/putri yang telah dilahirkannya, bersikap seolah ia tak pernah mengandung dan melahirkan padahal nyatanya ia memiliki bayi.

Tanpa sadar ia menundukkan kepala dan meletakkan tangan pada perutnya yang masih terlihat datar, mengusapnya lembut tanpa menyadari bahwa Tsunade kini tengah menatapnya jengah.

"Pergi dari sini!" perintah Tsunade sinis.

Ino menarik napas dan menghembuskannya kembali, "Baiklah nenek. Pastikan nenek meminum aspirin dan curd rice-nya." Dengan begitu Ino berbalik dan melangkahkan kakinya keluar, setelah menutup pintu ia menghela napas panjang dan menyandarkan tubuh rampingnya pada dinding di sebelah pintu ruang kerja Tsunade, "Kita akan baik-baik saja 'kan, nak?" Ino mengusap lembut perutnya dan tersenyum lemah, "Kau akan menjadi anak yang kuat, berjanjilah pada ibu, kau akan lahir dengan sehat, meskipun kita akan mengalami cobaan yang berat selama kau berada di dalam sana nanti. Jangan menjadi anak cengeng meskipun selama mengandungmu, ibu akan sering menangis." Sekali lagi Ino menghela napasnya panjang, merasa bodoh dengan apa yang baru saja ia katakan pada calon bayinya.

"Kau tidak apa-apa? Apa perutmu sakit?" Naruto yang baru saja naik ke lantai atas lantas panik begitu mendapati Ino bersandar pada dinding dan memegangi perutnya, ia berlari menghampiri istrinya yang terkejut dengan ekspresi Naruto itu, "Aku baik-baik saja, Naruto-kun." sergah Ino, melepaskan genggaman tangan Naruto pada tangannya dan meninggalkan lelaki itu yang menaikkan satu alisnya heran.

Menatap punggung istrinya yang menghilang di belokkan menuju kamar, Naruto tahu benar bahwa telah terjadi sesuatu pada Ino. Ia melihat ruang kerja neneknya dan menghela napas panjang, pasti ini semua karena neneknya.

Apa yang terjadi sesungguhnya? Ia benar-benar tidak suka menerka-nerka seperti ini hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyusul Ino ke kamarnya, ia melangkahkan kakinya cepat tanpa mengetuk pintu ia menerjang masuk ke dalam kamar yang di dominasi oleh warna ungu muda dan pastel itu.

"Ino-chan!"

Tak ada jawaban, ia malah menemukan sosok wanita cantik itu tengah meringkuk dibawah selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Naruto mencelos memandang sang istri yang bersikap demikian.

Pria Namikaze itu melepas dasi dan satu kancing pada kemejanya kemudian berjalan mendekati Ino yang masih tak mempedulikannya, "Ino-chan, Jangan membuatku khawatir dengan bersikap seperti ini!" Naruto mendudukkan dirinya di kasur empuk milik Ino dan mengelus lembut punggung wanitanya.

"Apa yang ada membuatmu sedih? Kau sakit? Kita ke Rumah Sakit." Cemas Naruto menarik selimut Ino namun istrinya tetap pada pendiriannya untuk menyembunyikan dirinya dibawah selimut ungu itu.

"Kau hanya mengkhawatirkan anak ini, kau tak pernah mengkhawatirkanku."

Huh?

Ino mengerucutkan bibirnya sebal, menyembulkan kepalanya dari dalam selimut yang otomatis membuat Naruto terkikik geli, "Hah! Kau membuatku khawatir, Baka!" protes pria jabrik itu kemudian tanpa mempedulikan Ino yang kesal ia malah ikut masuk ke dalam selimut tebal yang menutupi tubuh sang istri.

"Naruto-kun!" protes Ino mendorong tubuh sang suami agar menjauh darinya, "Kau mandi dulu sana! Kau benar-benar bau."

"Aku tidak mau. Salah siapa yang tiba-tiba saja tidak mempedulikanku?" kali ini Naruto memrotes keras Ino dan memeluk tubuh mungil Ino dari belakang. Tak ada reaksi yang dilancarkan Ino, Naruto kemudian menelusupkan jemari tangannya ke balik kaos yang dikenakan Ino membuat wanita yang memiliki rambut berwarna pirang platina itu menahan napas untuk sesaat, Naruto tersenyum simpul dan mengusap perut Ino lembut.

"Ibumu sedang merajuk, nak! Dia bertingkah seperti anak kecil saat ini, sebaiknya ayah memberi hukuman apa untuk ibumu ini?"

Ino tersenyum lembut mendengar pernyataan Naruto itu kemudian membalikkan tubuhnya untuk menatap pemilik mata sebiru langit itu, "Naruto-kun . . ." Ino membelai tanda lahir menyerupai kumis pada pipi Naruto kemudian mengecupnya singkat, "Jika aku pergi nanti, berjanjilah kau akan tetap memperkenalkanku sebagai ibunya."

Apa-apaan ini? bukankah sudah cukup jelas perkataannya waktu itu sudah ia tarik kembali? Ia tidak ingin Ino meninggalkan dirinya dan bayi mereka. Tidak! Ia tidak akan membiarkannya pergi lagi.

"Kau bicara apa?" Naruto meninggikan suaranya, melepaskan pelukan Ino padanya ia kemudian bangkit dari posisi tidurnya.

"Bukankah kita sudah membahas ini? Kau tidak akan kemana-mana! Kau, aku dan bayi kita akan bersatu selamanya. Kau mau meninggalkanku lagi seperti saat itu?"

Maafkan aku. Maafkan aku.

Ino memeluk Naruto erat dari belakang, menyalurkan kepedihan yang kini ia rasakan, ia benar-benar menolak untuk menangis namun ternyata pertahanan yang ia bangun runtuh juga, tubuhnya bergetar demi menahan tangisannya, Naruto menghela napasnya panjang, kedua tangan miliknya melepas pelukan Ino, ia berbalik dan menyibak helaian rambut yang menutupi wajah cantik wanitanya itu, "Apa yang dikatakan nenek padamu, hum?" Ino menggelengkan kepalannya sembari menatap lekat-lekat wajah sang suami, "Tidak ada." Ungkapnya, melepaskan kedua tangan Naruto yang membelai wajahnya.

"Lalu mengapa kau tiba-tiba mengatakan hal itu?"

"Aku tidak apa-apa. Hanya mood swing." Ino menjulurkan lidahnya untuk menggoda sang suami yang kemudian membuat Naruto menghadiahinya dengan gelitikan pada pinggangnya, membuat wanita yang tengah mengandung buah cinta mereka itu tertawa riang dan sejenak melupakan kesedihan dan rasa tertekannya.

"Naruto-kun, Hentikan!" Pintanya pada sang suami disela tawanya, "Salah siapa menggodaku, huh?" ungkap Naruto dan menghentikan kegiatannya menggelitiki sang istri, "Aku mandi dulu Ino-chan! Kau sudah minum susu?"

"Belum."

"Jangan bandel!" Naruto mencubit gemas hidung mancung sang istri kemudian menciumnya singkat, "Aku akan buatkan susu untukmu setelah mandi."

Ino tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Baiklah." Dengan begitu pewaris keluarga Namikaze itu keluar dari kamar istri keduanya itu untuk ke kamarnya bersama Sakura meninggalkan Ino yang kembali menghela napasnya panjang, "Aku tidak boleh lemah."

.

.

.

.

"Kau yakin kau baik-baik saja, Sakura-chan?"

"Hum,…" Sakura terlihat berpikir namun segera menyunggingkan senyumannya dan mengangguk, "Aku baik-baik saja, Naruto-kun!" ungkap Sakura, "Lagipula aku yang menyuruhmu untuk menemani Ino-chan. Dia membutuhkanmu, bayi yang ada di dalam kandungannya juga membutuhkanmu. Cepat kesana! Pergilah!" Sakura membalik tubuh Naruto agar meninggalkannya, "Baiklah, tapi…"

"Tidak ada tapi-tapian!" Ujar Sakura dan mendorong tubuh Naruto agar keluar dari kamar mereka, Sakura menghela napas panjang setelah akhirnya ia berhasil 'mengusir' Naruto dari kamarnya, ia mengunci pintu berwarna putih itu kemudian berlari dan menjatuhkan tubuhnya pada kasur empuk yang menjadi tempatnya dan Naruto menghabiskan waktu, dulu! Dulu sebelum dirinya divonis tidak dapat memberikan bayi untuk Naruto, Dulu saat Ino belum hadir di dalam kehidupan berumah tangga mereka.

Tanpa terasa ia menangis, entah mengapa dadanya terasa berat seperti ini?

Ia pikir ia mampu untuk menerima semua ini, ia bahkan yakin membagi Naruto itu tidak akan menyakiti hatinya namun nenek suaminya itu telah membuka matanya dengan apa yang terjadi sebenarnya. Jadi mereka adalah sepasang kekasih dulu? Jadi mempersatukan mereka itu sama saja semakin menjauhkan dirinya dari Naruto, bukan?

Ia benar-benar merasa bodoh dan dibodohi saat ini. ia berkali-kali mencoba untuk membuat Naruto jatuh cinta padanya namun selalu berakhir dengan penolakan darinya, apa kelebihan Ino darinya sehingga pria itu tak mampu melupakannya meskipun Naruto telah memperistri dirinya? Ya meski berakhir dengan dirinya yang pada kenyataannya tidak mampu memberikan keturunan untuk Naruto.

Mengapa mereka tidak pernah memberitahu dirinya bahwa mereka pernah mempunyai hubungan di masa lalu? Sengajakah?

Mereka pasti ingin mentertawakan dirinya yang seperti ini. tak mampu berbuat apa-apa, sedangkan mereka pasti tertawa dan bersenang-senang di atas penderitaan yang kini tengah menderanya. Mengapa dari sekian banyak wanita harus Ino yang dipertemukan dengannya?

Apa yang harus ia lakukan, Tuhan?

Jujur saja ia tak tahu apa lagi yang harus ia lakukan dan bagaimana ia harus memandang Ino nanti. Sungguh ia tak sanggup. Ia membenci semua ini. Ia membenci Yamanaka Ino untuk semua yang terjadi di dalam hidupnya bersama Naruto.

"Aku membencimu, Ino!"

Desisnya sembari memegang dadanya yang terasa perih dan sakit, "Aku membencimu…!"

"Ino-chan…"

"Huh?" Ino yang baru saja keluar dari kamar mandi menaikkan satu alisnya karena merasa heran dengan kehadiran Naruto, "Bukankah ini giliranmu di kamar Sakura?"

"Dia menyuruhku untuk kemari." Naruto menghampiri Ino yang berdiri di depan pintu kamar mandi dan memberikan segelas susu padanya, "Minumlah!"

Ino mengangguk dan menerima susu itu dari tangan Naruto, dengan cepat ia menenggak susunya hingga habis, huh~ ia benar-benar tidak menyukai rasa susu ini, namun demi janin di dalam kandungannya ia harus meminumnya, "Terimakasih." Ucapnya, Naruto menyunggingkan senyumnya dan mengacak rambut istrinya gemas, "Naruto-kun."

"Ya…?!"

Ino menggandeng suaminya manja, "Aku ingin makan ramen di Ichiraku." Bibirnya ia kerucutkan demi membuat Naruto menuruti kemauannya, Naruto terkekeh geli, "Ambil jaketmu! Pastikan si kecil tidak kedinginan didalam sana!" Naruto mengusap perut Ino singkat membuat wanitanya itu tersenyum senang dan menghadiahinya dengan ciuman singkat pada pipinya, "Kau yang terbaik."

"Aku tahu itu."

Keduanya kini berada di dalam mobil dalam perjalanan menuju Ichiraku, tempat dimana dulu mereka sering menghabiskan waktu mereka bersama saat masih bersekolah, "Apa kabar Shikamaru, ya?" Ino membolak-balik album foto penuh kenangan antara dirinya dan sahabat-sahabatnya dulu, Naruto, Sasuke, Karin, Shikamaru, dan Hinata.

"Aku belum menghubunginya lagi, ia sama sepertimu menghilang begitu saja begitupun juga dengan Hinata."

Ino memandang suaminya tak percaya, "Benarkah?"

"Aku menghubungi Neji dan keluarga Nara, namun mereka tidak memberikan informasi yang jelas mengenai keberadaan dan keadaan mereka."

"Haah~ Aku benar-benar merindukan mereka." Ino menghela napas panjang dan mengusap perutnya lembut, hal yang tanpa ia sadari menjadi kebiasaannya akhir-akhir ini.

Naruto tersenyum simpul dan satu tangannya ia gunakan untuk mengusap perut Ino lembut.

"Naruto!" sergah Ino, "Kemudikan mobilnya dengan benar!" teriak Ino kesal pada tingkah sang suami, Naruto menyunggingkan cengiran khas miliknya, "Hehehe maafkan aku Ino-chan!"

Ya Tuhan!

Hah~ Ino menghela napasnya panjang, "Ino-chan!"

"Kemudikan mobilnya dengan benar!"

Dengan begitu Naruto tidak menggoda Ino lagi dan lebih memilih untuk mengemudikan mobilnya dengan benar dan akhirnya sampai di kedai ramen favorit mereka, "Hm, Sudah lama ya!"

Ino menganggukkan kepala dan segera menarik tangan Naruto untuk masuk, tempat ini masih seperti dulu, "Paman!" seru Ino.

"Huh?" sosok pemilik kedai ramen itu menghentikan kegiatannya sejenak, "Ino-chan?" sapanya dan tak lama kemudian Naruto masuk ke dalam kedai membuat keterkejutan Teuchi semakin bertambah, "Naruto?!"

Naruto menyeringai lebar sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sementara Ino telah mendudukkan dirinya senyaman mungkin, "Aku mau beef ramen porsi besar, Paman!" pinta Ino.

"Kalian?"

Ino dan Naruto yang mengambil duduk di samping Ino menunjukkan cincin pernikahan mereka, "Wahhh! Selamat Naruto, Ino-chan!" ungkap pria paruh baya itu, keduanya mengangguk, "Tolong siapkan apapun yang ia minta, ia sedang mengidam paman."

Sang paman tertawa terbahak, ia sangat yakin bahwa keduanya akan berakhir di pelaminan. Bisa dibilang bahwa Teuchi adalah salah satu saksi kisah cinta mereka dulu hingga akhirnya kini keduanya menjadi suami dan istri dan tidak ada yang lebih bahagia darinya mendengar kabar ini, apalagi dengan kabar bahwa kini Ino tengah mengandung buah hati mereka, "Benarkah? Ternyata kau hebat juga ya Naruto!"

Mendengar pernyataan Teuchi sontak membuat wajah keduanya memerah menahan malu, "Hahaha, tunggu sebentar! Aku akan membuatkan pesanan Ino-chan. Kau mau pesan beef ramen juga?"

Naruto menganggukkan kepala, "Tentu saja."

Sakura terjaga dari tidurnya begitu mendengar suara mobil Naruto yang baru saja terparkir di halaman rumah, ia bergegas terbangun dari tempat tidurnya dan membuka sedikit tirai kamarnya, dapat ia lihat kini Naruto membukakan pintu mobil untuk Ino, begitu wanita pirang itu turun dari mobil prianya itu menutup kembali pintu mobil pabrikan Eropa itu, keduanya tertawa, entah apa yang mereka tertawakan saat ini, namun Sakura benar-benar merasa benci, marah dan dipermalukan dengan pemandangan itu.

"Jadi kau sudah mengetahui siapa wanita itu, bukan?" Tsunade tersenyum sinis pada sosok wanita berambut mrah muda dihadapannya, ia menyesap rokoknya dan kemudian menghembuskannya, terlihat puas dengan hanya memandang raut kesedihan dari cucu menantunya itu, "Bukankah kau masih berusaha agar Naruto mencintaimu?"

Sakura terpaku pada tempantnya duduk, seingatnya baru saja ia bahagia karena nenek dari Naruto itu mau datang ke tempatnya kerja namun ternyata ia datang dengan tujuan untuk memberitahunya tentang ini semua, foto-foto masa lalu antar Ino dan Naruto, bagaimana keduanya terlihat saling mencintai dan sahabat-sahabat baik yang mengelilingi mereka. Hal yang tentu saja tak ia miliki selama ini karena dirinya yang harus belajar, belajar dan belajar.

"Bukankah kau harus membenci wanita itu, Sakura? Apa kau tidak curiga jika Ino sudah mengetahui tentang kondisimu dan tiba-tiba datang kehadapanmu agar kau memilihnya untuk memberikan anak pada Naruto?"

"Apa maksud nenek? Apa mau nenek sebenarnya?"

"Kau tak menghargai usahaku untuk menjauhkan Naruto dari ular betina itu?! sekarang dia telah mengandung anak Naruto,kau pikir setelah ini Naruto akan tetap mempertahankanmu dan mencintaimu?"

Sakura menutup kembali tirai jendela kamarnya, wanita bermata emerald itu segera memakai sweeter-nya dan keluar dari kamar miliknya untuk menemui Naruto dan Ino.

"Darimana kalian?" tanya Sakura begitu wanita itu keluar dari kamarnya dan berpapasan dengan Naruto dan Ino yang tengah bergandengan tangan, "Sakura," sapa Naruto, "Kau belum tidur?"

"Aku menunggumu, Naruto-kun." rengek Sakura manja,kemudian menggandeng tangan Naruto yang masih bebas, "Aku ingin tidur bersamamu malam ini."

Belum sempat Naruto menjawab pertanyaan istri pertamannya itu namun sekarang Ino telah melepaskan genggaman tangan Naruto padanya, "Tidurlah bersama Sakura-san!" perintah Ino tersenyum pada sang suami.

"Tapi, bukankah tadi kau…?"

"Aku menarik ucapanku. Aku benar-benar kesepian tanpamu, kumohon." Sejenak Naruto terlihat berpikir dan memandang wanita berambut pirang panjang disampingnya yang menganggukkan kepala tanda persetujuaan, "Baiklah, Sakura-chan." jawabnya. Pria Namikaze itu kemudian mencium singkat dahi Ino, "Tidurlah!"

"Aku tahu. Selamat malam Naruto-kun, Sakura-san."

"Ayo Naruto-kun!"

Sakura menarik tangan Naruto untuk masuk ke dalam kamarnya, menyisakan Ino yang hanya memandang mereka hilang dibalik pintu berwarna merah muda milik Sakura itu. Ino menghela napasnya panjang, merasa aneh dengan perubahan Sakura yang baginya terlalu drastis itu.

Ada apa sebenarnya dengan Sakura yang telah ia anggap sebagai kakaknya sendiri itu?

.

.

.

.

TBC


! DON'T LIKE DON'T READ!

Thanks for support untuk semua yang telah mendukung cerita ini dan meminta untuk melanjutkan fiksi ini, jika tidak berkenan karena jalan ceritanya, Sekali lagi resiko di tangan pembaca :v.

ENJOY ^^

#VALE