Hari Ibu,Hari Ibu...
Apa itu hari ibu?
Apa itu hari dimana setiap ibu bebas menyiksa anaknya sampai puas?
Atau hari dimana semua anak di dunia bebas melakukan sesuatu pada ibu mereka?
Dari yang baik seperti memberi sesuatu yang sangat diinginkan ibu mereka atau bahkan melakukan hal yang sangat buruk sekali yaiutu membunuh ibu mereka?
Chapter 6
Perubahan
"Hei, hei, apa yang akan kau berikan untuk ibumu pada hari ibu nanti?" Tanya seorang gadis kecil berambut kuning ke temannya dengan rambut berwarna cokelat. Mereka adalah Ino dan Tenten, yang bisa dibilang orang yang satu kelas denganku tanpa embel-embelan kata 'teman'. Sedangkan aku Haruno Sakura, kau masih mengingatku bukan? Gadis berambut merah muda dengan mata emerald. Orang yang memiliki blog bernama Fleurs de cerisier yang juga bekerja sebagai pengrajin biola di toko musik dekat stasiun.
2 hari lagi adalah hari ibu, hampir semua anak di kelasku membicarakannya begitu juga dengan anak laki-laki. Nah yang saat ini duduk disebelahku sambil membaca not balok adalah Hyuuga Hinata, dia si Lavender Girl teman di blogku dan juga rekan kerjaku. Aku baru mengetahui bahwa dia La-chan sebulan yang lalu di hari pertamanya bekerja, dan 2 atau 3 minggu setelahnya ia pindah ke sekolahku dengan membawa Cocktail, yaitu Naruto orang yang ia sukai. Aku dan Hinata duduk sebangku, aku sangat kaget plus senang karena saat ini dia bersamaku. Sedankan Naruto, dia satu kelas dengan Sasuke.
Hari Ibu, sebenarnya buat apa hari ibu itu ada? Menurutku sih nggak penting banget. Aku akui, aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu, itu karena ibuku yang seperti kalian tahu, dia hanya menganggapku sampah dan seperti rumput liar di dunianya. Dan lagi kalau menyatakan kasih sayang gak harus di hari tertentu bukan? Walaupun aku juga tidak tahu apa itu kasih sayang.
"Eh Hinata, Hari ibu itu ada buat apa?" Aku bertanya pada Hinata yang saat ini sedang mempelajari not balok.
"Hari ibu?" dia menutup bukunya dan menengok ke arahku."Kalau tidak salah itu hari dimana kita mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan yang pernah mereka lakukan, blah... blah... balah.." Hinata menjelaskan –aku mengangguk saja dan pada akhirnya berhenti dan bertanya, " memangnya kenapa Sakura?"
"Tidak aku penasaran saja, bukannya hal itu bisa di lakukan di hari lain?" Tanyaku.
"Bisa aja sih, tapi jangan tanyakan aku kenapa ada hari ibu kalau bisa di ucapkan di hari lain."
"Oke, kamu ngapain kalau hari ibu?"
"Ya berhubung orang tuaku meninggal di tanggal itu aku pergi ke makam orang tua ku..."
"Oh begitu, maaf sudah bertanya."
"Gak apa-apa kok Sakura, aku senang kok bisa membantumu mengetahui hal-hal yang belum kamu ketahui..."
"Oke, boleh ikut ke makam orang tuamu gak? Sekalian berterima kasih karena sedah membawamu ke bumi untuk menjadi temanku."
"Boleh banget Sakura!" Ia terlihat bersemangat, dan ini mengingatkanku dengan guru gaje yang setiap hari penuh dengan semangat. Model rambutnya juga aneh, entah kenapa di kota ini orang-orang memiliki model rambut yang aneh.
Istirahat... istirahat... istirahat...
Roti dua, susu dua, lalu apa lagi ya? Somay juga boleh, lalu air putih. Sekarang kantungku penuh dengan makanan. Setelah Hinata selesai memilih-milih makanan di kanti, kita berdua ke atap dan ngumpul dengan Sasuke dan Naruto.
"Hoi Sakura! Ayo sini-sini! Wah banyak makanan aku minta ya!" Naruto teriak-teriak dan melambai-lambaikan tangannya di udara, Sasuke saat ini sedang menatap biola kesayangannya seperti biasa.
"Aku tidak mau membaginya padamu! Sama Hinata aja, Hinata beli banyak loh!" Aku melirik ke arah Hinata.
"Heran, Makanmu banyak tetapi tubuhmu tidak gemuk-gemuk." Komentar Sasuke yang sekarang sedang mengelap biolanya.
"Takdir..." jawabku singkat.
"Hinata, boleh bagikan?" Naruto mulai mendekati Hinata, dasar anak ini, kalau ada maunya pasti langsung sok manis. Aku dan Sasuke masih tidak percaya kalau dia Cocktail.
"Uhh-hmm..." Hinata mengangguk malu.
Aku sih langsung menghabiskan makananku dan mengeluarkan bukuku. Kali ini aku mebaca novel, tau novel yang berjudul Let Go? Aku suka dengan ceritanya, terlihat sederhana tetapi memiliki makna yang besar. Saat Caraka di bilang bodoh dengan gurunya, temannya Nathan membelanya. Di bagian itu aku jadi ingat saat acara bertukar pendapat di kelas. Si egois Shion membuat Kiba panas dengan perkataanya yang menghina bahwa Kiba itu bodoh –aku menggunakan kata yang halus di sini. Awal terjadinya sih aku tidak tahu, karena dari awal aku tertidur dan baru terbangun saat mereka berdua adu mulut. Dan aku merasa kesal karena mereka membangunkanku dan saat itu aku sedang bermimpi menjadi penyihir dan mengutuk 3 orang yang aku benci. Kata salah satu ego ku, saat itu Arkuria-lah yang menempati tubuhku, dia ego-ku yang bisa di bilang dark side dari diriku tetapi ia sangat bijak karena dia bilang dia adalah reinkarnasi seorang raja.
"Kamu itu bodoh! Kau tidak tahu apa-apa, yang kau tahu hanyalah soal anjing, anjing, dan anjing!" Shion menatapnya dengan sangar, wow! Aku tidak tahu kalau dia bisa begitu, menurutku dia manis loh! Tapi bukan berarti aku ini abnormal! Aku tetap suka lawan jenis! Aku tetap suka! Memangnya pernah ada yang aku sukai? Ti-tidak ada ya? TIIDAAK! Jangan-jangan aku...
"Memangnya aku tidak bisa menjadi orang yang berhasil apa? Dengan pengetahuanku soal anjing aku bisa menjadi sukses!" Kiba terlihat sangat marah.
"Tapi kau tetap bodoh! Nilai pelajaranmu selalu buruk kan? Intinya kamu itu BO-DOH!" Shion memberkian penekanan di kata 'bodoh'. Aku jadi ingat pada –orang yang mengaku bahwa ia adalah ibuku berkata sama seperti itu. Reflek aku menghentakkan tanganku di atas meja dengan kencang dan semua tatapan tertuju padaku.
"Apa hanya karena satu hal seseorang bisa dibilang bodoh? Apa karena satu hal seseorang dapat menyimpulkan sesuatu dengan mudahnya. Oke, aku akui Kiba memang bodoh di setiap pelajaran tepatnya di bidan akademik, tapi faktanya dia hebat di bidang non-akademik seperti olahraga dan soal anjing tadi, soal membuat strategi dia juga bagus. Dan fisiknya juga lumayan... itu kata anak-anak perempuan yang sering ngegosip di koridor. Dan satu lagi, aku berkata begitu bukan berarti aku membelanya, ini karena aku benci dengan orang-orang yang berpikiran sempit sepertimu." Kelas sepi. Guru Bahasa Indonesiaku, Anko berdiri dan menepukkan kedua tangannya sambil tersenyum.
"Ibu suka dengan cara berpikirmu," yang lain ikut bertepuk tangan.
"Bu kalau akting kita gimana?" Tanya Shion dan Kiba hampir bersamaan.
"Akting kalian juga bagus, sepertinya yang lain berpikir kalian bertengkar betulan."
"Jadi mereka berdua berantem hanya untuk mancing kita berpendapat bu?" Ino dengan ekspresi kaget bertanya pada Bu Anko.
"Yup, betul sekali."
Ha? Jadi itu semua bohongan? TIIDDAAAKKK! Arkuria! Untung saat itu dia bisa menahan emosinya, kalau tidak meja ini bisa hancur di buatnya.
"Ini baru Sakura yang aku kenal," Hinata berbisik kepadaku.
Nah begitulah ceritanya, menyebalkan sekali aku tidak suka kalau menjadi mencolok seperti ini.
Aku terus mebaca buku-ku, dan tanpa aku sadari saat ini aku hanya berdua dengan Sasuke. Tadi aku mendengar Naruto mengajak Hinata mencari foto yang bagus untuk tugas fotografinya.
"Hey Sasuke, kalau seseorang yang kamu sayangi harus kamu tinggalkan bagaimana perasaanmu?"
"Hah?" dia dia sejenak, "Kenapa bertanya padaku?"
"Kalau ada Hinata atau Naruto Aku pasti akan bertanya ke mereka juga, sudahlah ayo jawab."
"Tentunya aku akan merasa bersalah, apalagi kalau aku membuat janji untuk tidak meninggalkannya. Dan aku juga merasa menyesal kenapa aku harus meninggalkannya sendirian."
"Oooh, lalu apa yang akan kamu katakkan di saat-saat terakhirmu?"
"Jangan membenciku untuk mengingatku, mungkin ini permintaan yang egois tetapi aku tidak ingin kau membenciku, dan permintaan egois terakhir dariku jangan pernah menangis ketika mengingatku dan jangan merasa kesepian karena aku jauh dari mu. Tutup matamu dan ingatlah kenangan-kenangan kita berdua, lalu buka matamu dan lihatlah ke langit. Aku selalu ada di sana memperhatikanmu dari kejauhan dan memberikanmu cahaya untuk menghangatkanmu dari dunia yang dingin." Tatapan matanya melembut saat mengatakkan itu.
"Itu lebih mirip seperti surat wasiat bagiku,"
"Ah terserah kau saja deh!"
"Maaf, maaf, tapi aku juga hampir memiliki keinginan yang sama sepertimu kalau aku harus meninggalkan orang-orang yang aku sayangi."
"Memangnya kamu punya orang yang kamu sayangi?" Dia meledekku.
"Iya dong! Hinata, Naruto, Kamu, Lalu Chiyo-san, Sasori-kun, dan ego-egoku!" Kataku sambil menghitung dengan jari-jemariku saat menyebutkannya.
"Ego? Alter ego maksudmu?" Dia terliha bingung sekaligus antusias.
"Yup, aku lupa aku punya berapa."
"Pantas saja kamu suka berubah-berubah."
"Eh Sasuke bagaimana kalau kita membuat perjanjian?"
"Perjanjian apa?"
"Ya seperti... apa ya?"
"Yah kamu ini, kamu yang ngajak tapi lupa sendiri."
"Sudah deh nanti aku pikirkan saja,"
"Ya.. ya..."
"Kita cari Naruto dan Hinata gak?"
"Gak usah, nanti kita mengganggu mereka yang lagi mesra-mesra-an." Kata Sasuke sambil tertawa, dia pasti berpikir mana mungkin Naruto bisa romantis, walaupun dia sudah sering melihat postingan Cocktail.
"Aku akan membunuhnya kalau dia berani-berani menodai kesucian Hinata-ku!" Aku mengepalkan tanganku dengan mata berapi-api.
"Naruto mana berani kali, kau lebih cocok disebut ibunya Hinata daripada temannya."
"Chiyo-san juga bilang begitu, eh Sasuke ngomong-ngomong soal ibu, ibu-mu itu seperti apa?"
"Ibuku? Dia perempuan, dengan dua bola mata, satu hidung, satu bibir, dua teli-" Aku menghentikan ucapannya.
"Bukan itu, apa model rambutnya sepertimu?"
"Tentu saja tidak!"
"Kalau di keluargamu yang memiliki model rambut aneh sepertimu siapa saja?"
"Sepertinya tidak ada... Tapi aku lebih suka itu, kan orang lebih mudah mengingatku dan aku suka yang berbeda."
"Setuju! Aku kan jadi lebih mudah mengingatmu! Hahaha..."
"Terima kasih, aku senang mendengarnya." Dia tersenyum, senyumnya berbeda dari biasanya. Biasanyakan dia tersenyum meledek atau dipaksakan.
"No problemo..." Aku menepuk-nepuk bahunya.
"Sakura, ayo balik ke kelas habis ini pelajaran MTK!" Hinata berlari-lari ke arahku dan di ikuti oleh Naruto di belakangnya.
"Oke!" aku berdiri dan memberi isyrat ke Hinata, "Duluan ya!" kataku ke Sasuke.
Jangan melihat sesuatu dari satu aspek saja
Aku benci dengan orang yang memiliki pemikiran yang sempit
Banyak jalan menuju roma
Banyak jalan menuju kesuksesan
Tentunya dengan cara-cara yang positif
A/N:: Jadi bagaimana? Mau Review? Silahkan, nggak mau juga nggak apa-apa. Thx karena udah baca. Apa lagi mau ngeripyu... Novel Let go seru loh! Sederhana tapi amanatnya banyak banget! Tunggu chap selanjutnya ya! Di sini Yuuki gak nongol dulu, dia lagi mangkal di perpus buat nyari inspirasi(tidur).
