Sidut siku-siku tak kasat mata sekarang tampak bertengger di dahi Sasuke. Ia tampak kesal karena makhluk berbeda jenis itu mengolok-oloknya. Bahkan yang satunya hanya seekor burung kecil. Sial! Ah! Dia tahu. Ini akan membungkam mulut gadis itu. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis.
Ia mengangkat tangannya, menggerakkan telunjuknya seolah untuk menyuruh burung kecil itu terbang. Burung itu mengerti dan menurut. Setelah terbang menjauh, dengan tawa yang masih setia di bibir Sakura, Sasuke berdiri sejenak hanya untuk menggapainya. Dengan tarikan cepat, gadis itu kini berada di pangkuan Sasuke, lagi. Dan tanpa hitungan menit, bibirnya menghentikan tawa gadis itu, mengejutkannya.
Sasuke menciumnya. Dengan kedua lengannya yang melingkar erat di pinggul gadis itu, ia menutup matanya, menikmati sentuhan lembut bibir Sakura. Sedangkan gadis itu, diam mematung karena terkejut.
.
.
.
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Story by Shizukano Aizawa
Warning: AU, OOC (sepertinya sangat), typo(s), etc.
Pair: SasuSaku
Rate : T
Karangan ini asli punya saya, please no plagiarism! Thanks!
.
.
魔法の学校
(Mahou no gakkou)
DLDR
Don't Like, Don't Read
.
"We do not need magic to transform our world. We carry all of the power we need inside ourselves already."
― J.K. Rowling
.
-Normal POV
Derap langkah kaki terdengar ramai di lorong-lorong sekolah. Jam istirahat berbunyi beberapa saat lalu. Pintu ruangan khusus King dan Queen yang biasanya tertutup, kini terbuka lebar oleh gadis bersurai merah muda yang wajahnya menunjukkan kekesalan yang sangat kentara. Setelah pintu kembali tertutup, ia berjalan dengan langkah cepat ke arah kantin.
"Selamat siang, Queen." Langkahnya sontak terhenti, berkedip beberapa kali sebelum menyadari bagaimana keadaan sekitarnya yang kian ramai. "Ah, selamat siang." Balasnya dengan senyum manis yang terukir di wajah cantiknya, menghilangkan raut kekesalan yang tadinya terukir di sana. Sial, aku lupa ini jam istirahat. Batinnya. Ia kembali melanjutkan langkahnya yang semula terhenti sambil sesekali membalas sapaan teman-teman dan seniornya dengan senyum ramah.
Sakura mempercepat laju langkahnya saat ia melihat kantin tak jauh di depan sana. Setelah sampai, ia melihat ke sekeliling, mencari seseorang yang sangat ingin ia temui. "Itu dia!" Ia segera berlari, memeluk orang itu saat ia berada di belakangnya.
"Pig!" Sakura berteriak, mengalungkan lengannya ke leher gadis bersurai kuning itu.
"Sakura? Kenapa kau?" Ino melepaskan rangkulannya, menarik Sakura yang merengek untuk duduk di sampingnya. Di seberang meja tempat mereka duduk sudah ada gadis bercepol dua –Tenten, senior mereka.
"Siang, Queen." Tenten menyesap susu kotak rasa pisang yang ia pesan setelah sebelumnya menyapa Sakura dengan senyum kecil.
"Hai, senpai." Balasnya dengan raut masam, ia tak lagi segan dengan seinor mereka yang satu itu, pasalnya mereka sudah berteman sejak Ino mengenalkan mereka satu sama lain tahun lalu. Ia kembali melirik Ino, memeluknya, "Ino-pig!" dan kembali merengek.
"Kau kenapa, sih? Bicara yang benar, baru merengek." Sakura tak mengindahkan pernyataan sahabatnya, ia masih merengek, bahkan ia memeluk Ino semakin erat.
"Oh, bukankah ini Queen." Sakura melirik sekilas siapa orang yang memanggilnya, tak lama, hingga ia kembali membenamkan wajahnya di dada sahabat karibnya, ia bahkan tak melepaskan pelukannya pada Ino saat melirik siapa orang yang menyapanya. Bocah ini! Batin Ino.
"Hei, di mana rajamu?" Sakura tidak melirik, ia hanya menggeleng tidak tahu. "Jangan tanya padaku, senpai." Bahkan hanya mendengar candaan dari senior cempreng ini saja membuatnya kesal setengah mati. Naruto hanya bisa menaikkan sebelah alisnya atas jawaban Sakura. Pemuda itu kini melirik Ino.
"Ada apa dengannya?"
"Mana ku tahu, senpai. Dia sudah begini sejak tiba tadi."
"Kau berkelahi dengan Sasuke, ya?" Pemuda mirip Sasuke itu baru saja sampai di tengah-tengah mereka saat sebelumnya melihat dua kuning dan satu merah muda mencolok di tengah-tengah kantin sedang dalam pembicaraan yang menarik perhatiannya. Ia seketika membuka suara, mengejutkan kumpulan mereka. Sai tersenyum kecil saat Sakura memutuskan untuk menatapnya. Sakura menatapnya sebal, tapi kemudian kembali membenamkan wajahnya di dada Ino.
"Oh, Sai! Ku pikir kau tidak akan ke kantin lagi." Naruto memukul kecil bahu Sai, pasalnya pemuda mirip Sasuke itu sudah ke kantin tadi, saat istirahat pertama mereka ketika ia pergi bersama Hinata untuk menemani gadis itu menemui profesor Asuma. Pemuda mirip Sasuke itu hanya mengaduh kecil sebelum melirik Sakura. "Aku haus," ia memberi jeda sejenak pada kalimatnya. "Hei Naruto, kita pergi saja. Kurasa Queen hanya ingin berbicara dengan sahabatnya." Naruto melirik Sakura sejenak sebelum mengangguk.
"Kalau begitu, kami duluan ya. Cepatlah berbaikan dengan King, hime." Sakura sukses memukul bahu Naruto sedikit lebih kuat saat ia membisikkan kalimat terakhir pada Sakura. Ia bahkan tak perlu melihat Naruto untuk memukulnya. Naruto tertawa kecil sambil mengaduh kesakitan, lalu pergi meninggalkan mereka bersama Sai.
"Sakura, teman Naruto-senpai itu tampan juga." Sakura mengernyitkan alisnya mendengar penuturan Ino. "Perkenalkan padaku, dong!" Sakura sontak melepaskan pelukannya. Ia cemberut dan beralih menatap Tenten yang kini sedang tidak memperhatikan mereka dan makan dengan tenang di hadapan keduanya. "Hei!" Ino terkejut saat Sakura berdiri dari tempat duduknya. Tapi gadis itu tidak peduli, toh lagi pula ia tidak pergi jauh dari sana, hanya pindah untuk duduk di samping Tenten.
"Senpai!" Sakura kembali merengek. Ia memeluk Tenten yang terkejut karena rengekan tiba-tiba Sakura. Ia tidak tahu kapan gadis itu pindah.
"Hai, hai. Ada apa, Sakura-hime?" Tenten mengelus punggung Sakura, namun tetap tidak meninggalkan makanannya yang tinggal separuh. Ino menggeleng frustasi. Sudah cukup! Sebenarnya ada apa dengan sahabatnya ini!
"Hei, little queen! Sebenarnya ada apa denganmu?" Ino berusaha sabar menghadapi tingkah kekanakan Sakura. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan sahabatnya yang satu ini, sifatnya masih saja seperti anak kecil. Duh, Ino seperti sedang mengasuh bayi besar saja.
"Aku sudah tidak suci lagi, pig!" Sakura merengek dalam pelukan Tenten.
"What!?" Ino sontak berdiri dan menggebrak meja, sedangkan Tenten sudah tersedak makanannya sendiri. Pandangan orang-orang kini terfokus pada ketiga gadis itu. Sial. Batin ketiganya. Sakura berdiri, menarik kedua gadis itu menjauh dari sana.
"Makananku!" Tenten seakan tak ingin lepas dari sana, namun tarikan kuat dari Sakura membuatnya ikut terseret.
Mereka berhenti tepat di depan ruang bersantai khusus King dan Queen. Setelah membuka pintu itu dengan kunci miliknya, ia kembali menyeret kedua gadis sahabatnya, dan mengunci kembali ruangan itu.
"Wow!" Itu adalah kata pertama yang keluar dari sahabat rambut pirangnya. Tentu saja mereka tidak pernah sekalipun diperbolehkan masuk ke ruangan itu, kecuali King dan Queen itu sendiri. "Apa tempat ini adalah ruangan yang orang-orang bicarakan itu?" Ino melihat ke sekeliling ruangan dengan mata berbinar. Mulutnya sekali lagi membulat lucu tanda kagum.
"Yang orang-orang bicarakan apa?" Sakura duduk di sofa di tengah ruangan.
"Lupakan dulu tentang itu! Jadi, apa maksudmu kau tidak lagi suci, hah?" Ino duduk di sofa di hadapan gadis itu, matanya menyipit ingin tahu. Di sebelahnya, Tenten juga ikut diam mendengarkan, namun setengah pikirannya masih mengingat makanannya yang tadi tertinggal di kantin. Oh, makananku! Batinnya.
"Pig! Senpai!" Gadis merah muda itu kembali merengek. Ia berdiri dari tempatnya dan bergegas memeluk kedua gadis di hadapannya. Ino memutar kedua bola matanya bosan.
"Simpan rengekanmu, katakan!" Ino mencubit gemas pipi sahabat pink-nya. Mendudukkan Sakura di antara mereka. Tenten mengelus pelan punggung gadis itu.
"Ayo little Queen, katakan pada kami. Apa maksudmu di kantin tadi?" Ah, makananku!
"Sasuke-senpai-" Sakura memberi jeda, membuat geram Ino yang berada di sampingnya. "Kenapa dengan senpai itu?" Ino benar-benar penasaran sekarang. Ada apa sebenarnya dengan King dan Queen ini!?
"-dia mencium bibirku, pig!" Rengekan itu kembali terdengar. Ino sontak terbelalak kaget, bahkan Tenten yang sedari tadi memikirkan makanannya kini benar-benar terfokus pada ucapan gadis itu.
"What!?" Teriakan nyaring terdengar dari sahabat kuningnya. "Tunggu! Kau tidak sedang bercanda, 'kan Sakura?"
"Jika aku bercanda, aku tidak akan membuatnya melayang entah kemana, pig!" Sakura kembali merengek.
"Hah!? Melayang?" Tenten akhirnya angkat suara. Gadis bercepol itu tidak lagi tahan untuk mengeluarkan suaranya.
"Aku refleks memukulnya dengan kekuatan penuh setelah ia melepaskan ciumannya, senpai." Sakura kini memeluk Tenten, merengek padanya. Tak berapa lama hingga tawa melengking keluar dari bibir mungil sahabat baiknya.
"Gila! Kau menghajar senpai es itu!? Hahaha!" Ino tak dapat menahan tawanya, begitu juga dengan Tenten. Walau ia tengah mengelus punggung kecil yang merengek padanya, ia tetap tak dapat menahan tawa.
"Little queen kita benar-benar tahu bagaimana caranya membuat suasana kian menarik, huh?" Ino lagi-lagi tertawa mendengar penuturan Tenten. Ia mengangguk sambil mengusap sudut matanya yang berair. "Benar, 'kan? Sudah ku bilang, tahun ini pasti akan menjadi tahun yang menarik!" Ino kembali tertawa.
"Kenapa kalian malah tertawa?!" Sakura melepaskan pelukannya pada Tenten, menatap kesal dua gadis di sana secara bergantian. "Bibirku sudah tidak perawan lagi dan kalian malah tertawa?"
"Hei, hampir seluruh gadis di sekolah ini ingin berciuman dengan king-mu, lil queen. Dan kau malah kesal karena itu? Para gadis pasti akan berteriak histeris jika mereka tahu kau dicium Sasuke-senpai." Tenten mengangguk membenarkan kalimat Ino.
"Dan kalian juga ingin berciuman dengannya?" Tenten sontak menggelengkan kepalanya keras, begitu juga dengan Ino.
"No, no! Tidak dengan kami. Aku sudah punya partner ciumanku sendiri." Tenten membayangkan dirinya tengah berciuman dengan kekasih pemalasnya Shikamaru. Ia bahkan sampai berteriak senang dengan wajah memerah karena membayangkannya.
"Walau aku tidak punya pasanganku sendiri, tapi aku tidak mau berciuman dengannya. Kau sendiri kan sudah tahu bagaimana gosip yang tersebar tentangnya. Player, baby!"
"Hei, tapi dia bukan player seperti yang orang-orang katakan!" Sakura berdiri membela Sasuke. Tenten sontak terkejut karenanya, begitu juga Ino. Namun di detik berikutnya, kedua gadis itu saling berpandangan dan menyeringai misterius.
"Hee, apa ciuman king begitu manis sampai kau membelanya seperti ini?" Wajah Sakura memerah. Ia menggeleng cepat.
"Kau gila! Tidak mungkin! Aku hanya mengatakan yang sebenarnya." Seru Sakura.
"Benarkah?" Tenten tak tinggal diam, ia juga ikut menggoda gadis merah muda itu.
"Tentu saja! Sasuke-senpai sendiri yang memberitahukannya padaku!"
"Wah, wah. Dan kau percaya?" Sudut bibir gadis pirang itu kembali tertarik membentuk seringai penuh arti. Sakura terdiam. Ia menyesali ucapannya.
"Sial." Gumamnya.
-Sasuke POV
"Aah!"
'BRUK'
Sial! Ini benar-benar menyakitkan. Aku baru saja mendarat tepat di atas rerumputan beranting di ujung pembatas pelindung sekolah bagian Barat setelah dihajar Sakura. Aku tidak tahu kalau gadis kecil itu punya kekuatan seperti monster. Ku pikir itu hanya gosip belaka yang Naruto buat.
"Ugh!" Perutku benar-benar terasa sakit karena pukulan super monsternya. Aku bahkan tak sadar sudah ada darah yang menempel di sudut bibirku sendiri. Gadis ini benar-benar gila! Bagaimana mungkin aku menjadi King seorang monster!
Tapi, tunggu! Aku kembali mengingat rasa manis itu, rasa manis bibir Sakura. Ah! Aku tidak tahu bibirnya begitu lembut dan manis! Ya, walau dia punya kekuatan seperti monster, tapi bibirnya benar-benar terasa manis. Mungkin tidak masalah jika aku harus merasakan dua atau tiga kali pukulan lagi jika aku bisa mencoba kembali rasa bibirnya. Ah, membayangkannya saja membuatku tersenyum!
Gila! Ini gila! Kenapa aku harus memikirkan rasa bibirnya!? Ingat Sasuke, kalian hanya partner King dan Queen untuk KMS! Tidak lebih dari itu! Kau harus selalu dingin pada orang-orang! Mereka tidak bisa dipercaya, termasuk gadis itu! Aku harus mengembalikan sifat lamaku. Tapi, kenapa aku merasa Sakura bisa dipercaya? Ah! Sudahlah! Aku tidak-
'KREK'
Aku melihat ke bawah, tak sadar menginjak sesuatu seperti dasi berwarna hijau yang sebelumnya tersangkut di ranting tajam saat aku berjalan kembali ke sekolah. Milik siapa ini? Tapi tunggu, bukankah ini dasi milik para junior? Kenapa ada di tempat seperti ini? Ini benar-benar aneh! Ada yang tidak beres disini! Aku harus segera kembali dan membicarakan ini dengan Tsunade-sensei.
-Sasuke POV –End
-Normal POV
Sasuke berjalan cepat menuju ruang kepala sekolah. Ia bahkan tak mempedulikan sapaan para murid di sekitarnya. Walau ia dapat dengan jelas mendengar isi pikiran mereka, ia tak peduli. Fokusnya kini hanya pada apa yang ia temukan tadi, dasi hijau yang menjadi penanda murid baru di sekolah itu.
"Sasuke!" Teriakan itu menghentikannya. Ia berbalik dan menemukan dua sahabat baiknya sedang melambaikan tangan padanya. "Hei, dari mana saja kau?" Naruto bertanya saat ia dan Sai sudah berada di dekatnya.
"Kau sedang terburu-buru?" Sai angkat suara saat ia melihat raut wajah Sasuke. Pemuda itu jauh lebih datar saat ia sedang memikirkan sesuatu yang serius, dan Sai tahu itu.
"Hn." Hanya jawaban singkat itu yang ia berikan untuk kedua sahabatnya. Naruto dan Sai hanya bisa tersenyum sambil menghela napas kecil saat Sasuke kembali berjalan menjauhi mereka.
"Kau tahu Sai, ku pikir dia tidak akan serius menjadi seorang King." Naruto tertawa kecil, melihat punggung tegap sahabatnya yang berjalan menjauh.
"Nah, kita tidak akan pernah tahu apa yang dia pikirkan. Hanya dia yang tahu tentang dirinya, dan kita." Sai tertawa kecil, mengingat sahabatnya yang satu itu memang bisa membaca pikiran semua orang. Ia bahkan mungkin sudah membaca pikiran mereka sekarang. Sai tak ambil pusing, ia berbalik dan mengajak Naruto kembali ke kelas mereka. "Kita tanyakan nanti saja tentang Queen." Lanjutnya, mengerti dengan apa yang ingin Naruto tanyakan pada sahabat es mereka. Dan pemuda pirang itu hanya mengangguk kecil sebagai jawaban dan mengikuti Sai kembali ke kelas mereka.
Sasuke memang bisa membaca pikiran kedua sahabatnya. Ia bahkan tahu mereka ingin menanyakan tentang Sakura. Tapi tidak untuk saat ini. Ia harus menghadap kepala sekolah terlebih dahulu. Memberikan informasi penting ini padanya.
Sasuke berdiri diam sejenak di depan pintu ruang kepala sekolah, mengaktifkan sensornya untuk mendeteksi siapa saja yang berada di ruang kepala sekolah saat ini. Tahu bahwa hanya ada Shizune-sensei dan Tsunade-sensei di dalam, ia masuk dengan membuka pintu besar itu dengan kedua tangannya.
"Oh, King!" Tsunade-sensei tak begitu terkejut. Ia tahu sudah ada seseorang yang berada di depan pintu untuk bertemu dengannya. "Ada apa? Apa ini mengenai masalah Sasori?"
"Tidak. Ada hal lain yang ingin ku bicarakan." Dan Sasuke menceritakan kejadian saat ia menemukan dasi berwarna hijau itu pada sang kepala sekolah. Oh, tapi tentu tidak dengan kejadian ia yang di hajar Sakura hingga ia jatuh mendarat di pembatas pelindung bagian barat itu.
-Normal POV –End
-Sakura POV
"Aku bisa mendengarmu membicarakanku, hime."
Wah, gila! Hampir saja aku tersedak susu strawberry-ku. Bagaimana mungkin senpai ini bisa ada di ruangan King dan Queen secepat ini!?
"Dan aku bisa mendengar isi pikiranmu saat ini."
"Ah! Haha." Aku baru saja masuk ke ruangan King dan Queen sesaat setelah aku mengakhiri pembicaraanku dengan Ino dan Tenten-senpai. Tapi ku rasa aku tidak menghabiskan cukup banyak waktu untuk berbicara, bagaimana mungkin senpai ini bisa ada di ruangan ini dalam waktu singkat?
"Kita memiliki sihir, Sayang. Aku bahkan bisa berada di depanmu hanya dalam waktu satu detik. Mau ku buktikan?"
"No, no! Tidak perlu, senpai." Aku tertawa kaku, mengingat kejadian memalukan yang dia lakukan padaku tadi. Sial! Aku yakin wajahku memerah sekarang. "Hn. Sangat merah." Sasuke-senpai tersenyum miring. Dia menggodaku!?
"Ah! Jangan membaca pikiranku seenakmu, senpai!"
"Anata." Oh ya, aku lupa. Duh, bagaimana bisa aku memanggilnya anata dengan keadaan seperti ini?
Aku melirik Sasuke-senpai sambil berjalan ke arah mejaku sendiri. Dia masih tersenyum miring, tapi matanya tak melihat ke arahku saat ini. Dia sibuk dengan dokumen-dokumennya sendiri.
Tanpa sadar, aku melirik ke arah bibirnya. Arg! Bagaimana mungkin bibir itu-
"–kau ingin ku cium lagi?" Gila! Mana mungkin!
Aku menggeleng kuat dan cepat mendengar pertanyaan Sasuke-senpai. Dia tak lagi melihat dokumennya. Matanya kini fokus padaku. Sudut bibirnya semakin tertarik ke atas, membentuk senyum cukup lebar. Sial! Dia pasti bisa membaca pikiranku sekarang.
Aku bergidik ngeri, memutuskan kontak mata kami. Aku bisa jantungan seketika karena dia!
"Tak perlu takut, aku tidak akan melakukan apa-apa padamu..." aku menatap kembali Sasuke-senpai. Ia tersenyum tipis.
"... tidak untuk saat ini." WHAT!? "Aku punya berita penting yang harus kau tahu, Queen." Tunggu, tunggu! Apa maksud Sasuke-senpai tadi!?
"Lupakan dulu masalah bibir manis kita, hime." Dia kembali tersenyum. Senpai mesum! "Hei, aku bisa mendengar itu!"
"Aku tidak peduli! Jadi, apa berita penting yang ingin Sasuke- anata katakan?" Aku membenarkan kata-kataku saat mendapat tatapan tajam darinya. Gila! Apa aku harus terus memanggilnya anata walau pada saat serius juga?
"Aku menemukan dasi hijau milik seorang junior di gerbang bagian barat. Dasi hijau itu tersangkut di ranting yang cukup tajam. Sepertinya dia dalam keadaan terburu-buru saat itu hingga ia tidak berusaha mengambil kembali dasinya." Sasuke-senpai diam sejenak, "ku rasa ada yang aneh saat itu."
"Aneh? Maksudnya?"
"Coba kau pikir, untuk apa seorang siswa berada di gerbang perbatasan bagian barat? Itu jauh sekali. Dan juga, di sana tidak ada apa-apa yang bisa kau lihat kecuali pepohonan tinggi dengan ranting-ranting tajam di bawahnya. Jika dia seorang guru, kita bisa memakluminya karena kemungkinan besar ia sedang berpatroli, tapi bagaimana dengan seorang siswa yang baru saja masuk?" Aku mencerna seluruh kata-kata Sasuke-senpai. Benar juga! Untuk apa seorang siswa baru mengelilingi hutan. Itu benar-benar aneh!
"Benar, 'kan?" Aku mengangguk meng-iyakan.
Tunggu! "Senpa- anata! Aku bisa bertanya pada pepohonan di sana!"
"Ah, benar! Kau bisa berbicara dengan tumbuhan dan hewan." Sasuke-senpai berdiri dari tempat duduknya.
"Tunggu, anata! Kita tidak perlu ke sana. Aku bisa meminta jawaban dari pohon di sekitar kita. Aku akan bertanya pada pohon apel di belakang mejamu." Aku berdiri, bergegas duduk di jendela tempat di mana tadi aku memukul keluar Sasuke-senpai. Sial, kenapa aku malah mengingat itu. Ah! Wajahku pasti kembali merah. Aku bahkan bisa melihat sudut bibir Sasuke-senpai yang tertarik ke atas.
Ah, aku tidak peduli! Aku Queen dan aku harus melakukan pekerjaanku sekarang. "Pohon apel, bisakah kau bertanya pada pepohonan di sekitar gerbang pembatas bagian barat tentang anak yang dasinya tersangkut di ranting?" Aku mengulurkan tanganku, menutup mata dan berbicara pada pohon apel di sana.
Tidak butuh waktu yang lama untuk pohon itu menjawab. Aku membuka mata dan menarik tanganku. Aku kembali menatap Sasuke-senpai yang duduk menatapku. "Aku dapat jawabannya."
Aku menghela napas kecil, "seorang siswi keluar dari gerbang pelindung, entah apa yang terjadi padanya tapi dia terlihat tidak baik. Dan sesaat setelah ia keluar dari gerbang itu, seekor ular berukuran besar datang menerkamnya." Aku kembali menghela napas. "Hanya itu yang mereka tahu, anata."
"Sangat tidak salah mahkota itu memilihmu menjadi Queen kali ini." Sasuke-senpai tersenyum. "Aku akan memberikan informasi ini pada Tsunade-sensei. Kau bisa istirahat sekarang."
"Tidak, aku akan ikut." Sasuke-senpai menatapku. Aku tidak akan meninggalkan tugasku sebagai seorang Queen.
"Baiklah, my lady." Sasuke-senpai tersenyum, berdiri dari tempat duduknya dan menggenggam tanganku, menarikku keluar dari ruangan King dan Queen untuk menginformasikan berita ini pada Tsunade-sensei.
To be Continued!
A/N : Terima kasih buat yang udah setia nunggu, ngefollow, favorite, jadi sider juga, review apalagi. Maaf telaat update yaak, lagi sibuk-sibuknya memang :')
Mind to RnR?
