BAD BEHAVIOUR © Seynee
Characters © Masashi Kishimoto
Translator : Aika Harumi
Chapter 6
.
.
"Es krim."
"Ya."
"Kau ingin aku pergi membeli es krim."
"Well, ya." Naruto mengangkat bahu.
Sasuke memelototinya frustasi. "Mengapa?"
"Karena," si pirang memulai, "Karena, Sasuke, hari ini panas, kau belum makan siang, aku ingin es krim dan kebetulan aku memiliki kartu diskon."
"Tidak."
Gantian Naruto yang melotot ke arah Sasuke. "Kenapa tidak?"
"Aku mempunyai pekerjaan yang harus dilakukan."
"Kau selalu melakukannya." Naruto kembali merasa panas. "Bahkan tadi malam, kau–" dia berhenti, menyadari bahwa ini bisa menjadi kesalahan yang sangat besar.
Namun, Sasuke tetap menyadarinya. Dia mendongak dari dokumen yang sedang dibacanya. "Tadi malam?"
Si pirang melirik ke segala arah selain Sasuke dan itu membuatnya terlihat lebih mencurigakan.
"Naruto." Suara Sasuke, jika mungkin, terdengar mengancam jiwa.
Naruto menghela napas. "Ino meneleponku tadi pagi."
Ah. Itu menjelaskan semuanya.
"Untuk apa?"
"Seperti biasa," jawab Naruto. "Dia juga ingin kau mengirimkan mobil ke alamat ini…" dia merogoh saku, mengeluarkan memo merah muda dan memberikannya ke Sasuke, "Dua jam dari sekarang."
Sasuke membaca alamat yang tertera di kertas. "Jangan bilang dia menerima pekerjaan di sini."
"Aku pikir begitu." sahut Naruto, sedikit menyesal. "Mungkin ini hanya pemotretan."
"Hmm."
Naruto mengamati Sasuke, terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, dan kemudian dia mendesah. "Aku harap kau akan mengatakan yang sebenarnya, Sasuke."
"Mengatakan apa ke siapa?"
"Mengatakan yang sebenarnya kepada Ino," pria pirang itu melanjutkan. "Katakan padanya apa yang sebenarnya terjadi dengan Itachi, katakan padanya bahwa kau tidak benar-benar menginginkan ini, katakan padanya bahwa kau sebenarnya bukan orang yang gila-ber–"
"Tidak." Suara Sasuke mengeras.
"Itu akan membuat segalanya menjadi lebih mudah," kukuh Naruto, "Untukmu. Juga untuknya."
"Itu akan membuat segalanya menjadi lebih sulit," balas Sasuke.
"Kau tahu, untuk seseorang yang begitu cerdas, sangat aneh melihat kau lebih menyukai melakukan hal bodoh," gumam Naruto. "Ino sangat mengkhawatirkanmu. Mengira kau terlalu keras pada dirimu sendiri, yang mana sebenarnya kau memang terlalu keras pada dirimu. Kau menghabiskan delapan belas jam di kantor setiap hari, Sasuke. Kau bahkan tidak makan malam keluar lagi, dan aku tahu kau tidur di sini kadang-kadang."
"Ini satu-satunya cara yang bisa dilakukan," balas pria berambut hitam itu dingin. "Kau juga akan seperti ini jika kau jadi aku."
Naruto menggelengkan kepala. "Ini bukan satu-satunya cara yang bisa dilakukan."
"Ini adalah sasu-satunya cara yang aku tahu."
"Hidupmu tidak harus–"
"Tidak," Sasuke tiba-tiba setuju, "Tidak, tidak harus seperti ini. Tapi memang seperti ini adanya, dan kau tahu betul mengapa."
"Jangan menjadi terlalu keras kepala. Jika Ino tahu–"
"Dia tidak akan tahu selama kau tetap tutup mulut."
"Kau tidak bisa menyembunyikan hal ini selamanya."
Sasuke menggelengkan kepala. "Kau akan melihatnya."
"Tidak." Bisik Naruto, sangat pelan sehingga Sasuke nyaris tidak bisa mendengarnya, "Kau yang akan melihatnya."
o.o.o.o.o
Editor tenten, agen dan kepala penerbit adalah orang yang sama, Sasaki Rima, adalah orang yang mungil, wanita ambisius dengan tatapan yang tajam setajam pisau. Ketika dia melihat Tenten datang bersama Sakura, terlambat tiga menit dari waktu yang mereka sepakati, Sakura nyaris bisa merasakan dengan nyata tatapan tajamnya. Rima tidak pernah menyukainya, dia berpikir Sakura adalah alasan Tenten sering menghilang dan hanya kembali dengan ide baru, ide gila untuk novel baru yang biasanya tidak disetujui oleh Rima, dan dengan terpaksa harus diterimanya karena tenten tidak menerima penolakan.
Terlebih lagi Rima adalah wanita yang sangat kurang berekspresi.
"Ini dia," Rima memulai, meletakan novel terbaru Tenten di atas meja, "Kami mendapatkan seorang model untuk sampul novelmu yang ini."
"Uh-huh," ucap Tenten, "Dan?"
"Dan apa?" Rima menatapnya geram. "Tidak ada 'dan' di sini, kecuali jika kau lupa tugas yang ku kuberikan padamu."
Wanita dengan rambut dicepol itu mengalihkan pandangannya, teringat dia mempunyai berkas yang harus dilengkapi. Dia mengerutkan dahi menatap lantai dan kemudian mendongak, "Jadi, sorang model, huh."
"Ya," Rima mengangguk. "Sebenarnya, dia sudah setuju untuk melakukan pemotretan dan sekarang sedang berdiskusi tentang ide untuk fotonya bersama Jun. Kau seharusnya pergi dan bergabung dengan mereka."
"Siapa?"
"Yamanaka Ino," jawab Rima, senyum bangga tersungging di bibirnya. "Kau seharusnya bangga. Dia adalah model internasional, dan itu akan memberi keajaiban untuk bukumu."
Sakura, tak dapat menghentikan dirinya, melebarkan matanya. "Yamanaka Ino?"
"Ya." Rima memberinya tatapan aneh. "Apakah ada masalah?"
"Tidak," Sakura segera menggelengkan kepala, sementara Tenten melirik ke arahnya.
"Itu bagus," balas sang editor dingin. "Pergilah. Mereka di ruangan Jun."
"Baik." Jawab Tenten, berdiri dan menarik Sakura bersamanya. "Ayo pergi, Sakura."
"Aku akan menunggu di luar," bisik Sakura. "Aku tidak ingin bertemu… kau tahu."
Tenten tersenyum nakal padanya. Jun selalu berusaha untuk menarik gadis-gadis, tapi untuk beberapa alasan yang tidak bisa dijelaskan, dia tampaknya lebih terpesona pada Sakura, sampai berusaha menggodanya dengan cara paling menjengkelkan. Hal itu membuat Sakura sangat terganggu. Sakura bertemu dengan pria itu tidak sesering Tenten, jadi itu bisa dimengerti.
"Yamanaka Ino di dalam," Tenten mengingatkannya, masih menyeringai. "Aku rasa dia tidak akan menggodamu ketika ada seorang supermodel di kantornya, bukankah begitu?"
"Ya," Sakura mengangguk. "Kau tau, aku pikir aku bisa mengetahui–lihat, mereka datang."
Dia benar. Jun dan seorang wanita yang diduga adalah Yamanaka Ino–dengan kaki panjang yang seksi, sangat langsing, dan rambut pirang mempesonanya, catat Tenten–keluar dari kantor Jun, berbicara dengan semangat tentang sasuatu dan yang terakhir tersenyum sopan sebagai respon.
Jun melihat Tenten dan melambai, "Tenten! Aku ingin kau bertemu seseorang," mulainya, dengan semangat menunjuk ke arah Ino yang sedang tersenyum manis, "Ini Yamanaka Ino dan dia akan membantu kita dengan menjadi model untuk sampul buku terbarumu!"
"Hayashi Tenten," Tenten menulurkan tangan dan menjabat tangan Ino dengan ramah. "Senang bertemu denganmu."
"Aku juga senang sekali bertemu denganm," balas Ino lembut. Dia mengangkat sebelah alisnya penasaran menatap Sakura. "Dan ini…apa kita pernah bertemu sebelumnya?" mengerutkan dahi, "Kau terlihat tak asing."
"Haruno Sakura," ucap Sakura, tersenyum canggung–ini sungguh Ino, si berisik, percaya diri dari masa kecilnya. "Kita…pernah satu sekolah dasar."
"Wow, sekolah dasar!" Jun berseru. "Itu sudah sangat lama."
"Benar," Ino tersenyum, wajahnya tetap santai dan tenang, tidak menunjukan keterkejutan. "Senang bertemu denganmu lagi, Sakura. Setelah sekian lama."
"Tentu," Sakura mengangguk sopan. "Bagaimana kabarmu?"
"Sangat baik," balas wanita pirang itu lembut. "Aku baru kembali dari Paris."
"Pasti menyenangkan sekali!" seru Sakura, tidak tahu apa yang harus dikatakan.
"Tentu, sangat menyenangkan," ucap Ino menyetujui, kemudia menghadap Tenten. "Aku juga berencana untuk berkerjasama denganmu, Hayashi-san."
"Cukup panggil aku Tenten!" Tenten melambaikan tangan acuh, "Setiap teman Sakura harus melakukannya."
"Kau juga bisa memanggilku Ino," sebuah senyum mempesona muncul di bibir sang model, "Ayo buat bukumu benar-benar terkenal. Aku sudah membaca bukumu yang sebelumnya, tapi tidak untuk yang satu ini. Kau bisa mengatakan padaku semua mengenai buku itu, jika kau–" terdengar nada dering klasik yang lembut, Ino meraih ponselnya, dan memberikan tatapan minta maaf, "Permisi sebentar. Halo?" dia berbalik. "Apa? Kau serius?"
Tenten dan Sakura bertukar pandang, Tenten dengan expresi senang menggodanya, Sakura dengan percampuran antara terkejut dan senang.
"Aku tidak tahu kau mengenal Yamanaka Ino," Tenten menyikutnya, berbisik ketika mereka melihat Jun sedang melirik Ino yang masih berbicara di telepon. "Teman sekolah dasar? Wow, Sakura."
"Aku tahu, aku juga terkejut." Sakura menggelengkan kepala. "Dia terlihat sangat tenang mengenai itu, bukan begitu?"
"Ya, dia seorang model," Tenten menyetujui, "Wajah dan semuanya. Mengejutkan kalian masih mengingat satu sama lain. Aku rasa aku tidak mengingat satupun teman sekolah dasarku. Oh tuhan, itu sudah sepuluh tahun yang lalu…" dia berhenti dan mengerutkan dahi. "Ibu benar, mungkin aku harus segera menikah dengan pria berikutnya yang akan kutemui."
"Pria berikutnya yang akan kau temui?" gantian Sakura yang tersenyum menggoda ketika dia menarik tangan Tenten dan menghadapkannya ke arah Jun. "Meskipun itu Jun?"
"Oh tuhan," Tenten seketika bergidik. "Tidak akan."
Pintu lift terbuka, dan keluarlah seorang pria yang terlihat sangat, sangat tidak asing bagi Sakura dan mengingatkannya kepada kejadian konyol yang dialaminya minggu lalu. Sakura bergidik–apa yang Uchiha Sasuke lakukan di sini?
"Oh, baiklah, jangan khawatir," Ino mengerutkan dahi di telepon dan berbalik untuk menghadap pria itu. "Dia sudah di sini, Naruto. Ya, aku akan menemuimu nanti. Dah." Dia menggelengkan kepala pada Sasuke. "Naruto mengatakan padaku kau kabur dari pekerjaan."
"Kau tidak bilang padaku kau menerima pekerjaan di sini," balas Sasuke.
Senyum menggoda muncul di bibir Ino. "Apa kau marah?"
"Tidak," ucap Sasuke. "Aku–"
"Hush," potong Ino, masih tersenyum ketika dia menusuk jarinya di lengan Sasuke, "Diamlah dan tunggu aku! Naruto sudah menceritakan semuanya kepadaku, dan kau sudah berjanji akan mengajakku keluar hari ini, jadi lupakan pekerjaan, oke?"
Sasuke mengerutkan dahi. "Aku masih–"
"Kau berjanji," Ino mengingatkan, melebarkan mata birunya.
Sasuke menghela. "Baik."
"Itu baru Sasuke yang ku kenal," wanita pirang itu menyengir, tidak menyadari percakapan mereka dapat didengar orang-orang. "Aku harus mengurus sesuatu, tunggu di sini, oke?"
Sasuke mengangguk ketika Ino menghadap Tenten, Sakura dan Jun, menepuk tangannya. "Baiklah, mari berbicara soal bisnis!"
"Siap," seru Jun, merangkul lengan Tenten dan menariknya kearah ruangannya. "Mari bicara soal bisinis di kantorku."
Pasrah, akhirnya Sakura hanya tinggal berdua bersama Uchiha Sasuke. Dia berbalik, mengerutkan dahi, dan berusaha mengabaikannya dengan duduk di sofa yang ada di situ. Dia mengeluarkan ponselnya dan memeriksa e-mail, berusaha menyibukan diri. Sakura menegakan tubuh ketika menyadari Sasuke menghampirinya. Mendongak, pandangan mereka bertemu dalam beberapa detik sebelum Sakura goyah dan mengalihkan tatapan.
"Jadi," ucap Sasuke pelan, "Kau tidak menceritakan pada siapapun."
Kepalanya seketika mendongak. "Mengapa aku harus menceritakannya?"
"Aku pikir kau akan menceritakannya."
"Tidak. Aku tidak suka mengadu, kurang lebih mengasihani diriku untuk apa yang telah terjadi." Dia menatap Sasuke tajam. "Mengapa kau berbicara padaku? Jika kau ingin memberiku uang lagi, aku sarankan kau segera memesan tiket penerbangan sebelum kau merendahkan ku lebih jauh."
"Semua ini bukan tentang uang," balas Sasuke. "Dan aku tidak akan melakukan itu."
"Benarkah?" Sakura mengangkat sebelah alisnya.
"Aku tidak suka kesalahan," jawabnya, menatap Sakura seolah penasran.
Sakura menyimpan ponselnya dan menatap Sasuke yang sekarang sedang menatap ke langit-langit dengan datar denan punggung lurus dan kedua tangan di dalam saku. "Keliatannya mood mu sedang bagus."
Sasuke mengangkan kedua alisnya menatap Sakura. "Mengapa kau berbicara padaku?"
"Aku merasa bosan," ucap Sakura dingin, "Ini bukan untuk kepentinganmu, jangan khawatir."
"Aku lebih suka untuk tidak berhutang budi padamu," balas Sasuke sinis, menatap Sakura tak suka. "Masih berpikir aku baik?"
"Aku rasa kau brengsek," balas Saura terus terang, merasa tidak perlu menutupi kejengkelan dan kekecewaan dalam suaranya. "Aku pernah berpikir kau adalah bajingan kelas A yang hanya mampu menyakiti perasaan orang lain."
"'pernah'?"
"Kau baik padanya."
"Siapa?"
"Ino," jawab Sakura. "Aku hanya bisa memperkirakan…" suaranya melemah.
"Apa?"
"Saat itu aku bertemu denganmu di hari yang tidak tepat, atau kau memang membenciku," Sakura menatap Sasuke, dan menambahkan, "Tanpa alasan."
Sasuke tidak mengatakan apapun untuk menyangkal ketika dia berbalik dan membalas tatapan Sakura dengan tajam.
"Baiklah," wanita beramput merah muda itu mengangkat bahu tidak terpengaruh. "Jadi kau membenciku. Baiklah, lagipula aku sangat tidak menyukaimu."
"Aku tidak bilang begitu," potong Sasuke. "Dan kau terlalu banyak bicara."
"Aku bersikap baik."
"Aku tidak butuh sikap baikmu."
Memiringkan kepalanya, Sakura mengamati Sasuke, sikap tubuhnya yang kaku, tatapannya yang dingin, rahangnya yang mengeras, caranya menatap Sakura, dan kemudian bertanya, "Jadi apakah Ino kekasihmu?"
Dalam satu detik, Sasuke tampak sedikit terkejut dengan perubahan topik yang mendadak, tapi ketenangannya segera kembali. "Tidak."
"Sayang sekali," ucap Sakura. "Kalian berdua terlihat sangat…nyaman satu sama lain."
Sasuke tidak menjawab, hanya melakukan sedikit gerakan. Ketika dia menatap Sakura, wanita itu sedang meraba ujung gaun mencoloknya, berusaha merapikannya. Dia mendengus. "Kau mempunya selera fashion yang bagus."
Sakura menghentikan gerakannya. "Apa yang kau tahu tentang fashion?"
"Cukup untuk mengomentari gaya mu," ujarnya. "Aku sudah mengenal Ino dari kecil."
"Aku sudah mengenalnya dari sekolah dasar."
"Benarkah?" Sasuke terlihat sedikit terkejut. "Dia tidak pernah mengatakan apapun tentang ini."
Sebenarnya, Sakura bukanlah teman dekat Ino, meskipun dia pernah berpikir mereka bisa menjadi teman baik jika dia tidak begitu sabar kadang-kadang dan ino tidak begitu…Ino. Tak perlu diungkapkan, sekolah dasar sudah sangat lama. Dia hampir tidak bisa mengingat ciuman pertamanya jika bukan karena buku diary nya, apalagi teman-teman sekolahnya. Ino hanya, well lebih mudah diingat karena hal-hal tertentu yang mereka lakukan ketika masih kecil.
"Aku tidak terlalu menonjol," bantahnya datar. "Lagipula dia juga tidak memberitahu tentangmu."
"Aku tidak bisa membayangkan mengapa dia harus, mengingat kalian tidak begitu dekat," balas Sasuke menyilangkan tangannya.
"Kau tahu," Sakura memulai, dengan penuh pertimbangan, dia menggigit bibir bawahnya. "Kau bisa membuat rekaman artis dengan baik."
"Apa?" Sasuke kembali menatap Sakura, terkejut dengan perubahan topic yang tiba-tiba.
Itu terlihat seperti Sakura sedang melompat-lompat, tidak tau persis kemana tujuannya dan hanya mengatakan apapun untuk memecah keheningan. Itu sedikit membingungkan mengingat Sasuke bukan orang yang banyak bicara–kolega-nya kebanyakan dingin dan tenang, tidak pernah berbasa-basi, tidak pernah membuang-buang waktu mereka atau kata-kata mereka. Wanita di depannya ini, yang ia anggap sedikit girlie, begitu…berbeda. Dia mengobrol, membuang-buang waktunya dengan menunggu di sini, membuang-buang kata-katanya dengan mengatakan sesuatu yang tidak akan Sasuke ingat…
Sasuke bertanya-tanya mengapa dia merasa tertarik, dan bertanya-tanya apakah dia harus membenci dirinya sendiri untuk itu.
"Kau punya gambarannya," ujar Sakura, lebih kepada diri sendiri, "Maksudku, kau tahu bagaimana biasanya seorang pria yang dingin, penyendiri, dan sangat tidak pedulian, tapi sebenarnya punya sisi romantis?" dia menghadap Sasuke, kemudian menyeringai. "Kau seperti orang itu. Aku pikir kau sebenarnya mempunyai sisi romantis. Hanya…terlihat oleh orang yang tepat."
"Jangan berpikir ke sana," ucap Sasuke datar, semua ketertarikannya sudah hilang. "Lagipula, aku tidak tertarik pada music."
"Benarkah?" gantian Sakura yang tertarik. "Aku rasa tidak ada seorang pun yang tidak tertarik pada music. Bahkan keheningan adalah music, kau tahu." Dia tersenyum dan mata hijau emerald-nya menatap jauh. "Terkadang ada jenis music yang sangat berisik."
Sasuke membuka mulut, hendak membantah dengan ucapan sarkastis lain, tapi pintu kantor Jun terbuka dan Ino keluar, masih berbicara dengan Tenten dalam obrolan santai. Mereka menghampiri Sakura dan Sasuke, keduanya tenggelam dalam percakapan mereka.
"Hey," sapa Sakura, "Bagaimana?"
"Aku rasa ini akan berjalan baik," Tenten tersenyum, terlihat seperti dia bisa menahan sedikit kegembirannya. "Ino luar biasa."
"Tidak, kau juga luar biasa," balas Ino tersenyum ramah. "Kau gampang diajak bekerjasama, dan aku bisa mengatakan ini akan menjadi lebih mudah dan menyenangkan untuk kita berdua. Mudah-mudahan untuk Jun-san juga."
"Dia bertanya-tanya mengapa kau tidak menanggapinya dalam beberapa hal," ucap Tenten, senyum menggoda tersungging di wajahnya. "Aku pikir dia akan ditolak atau diterima, tapi tidak keduanya, kau tahu?"
"Ya," Ino tertawa, suaranya jernih seperti lonceng, "Aku memilih untuk tidak melakukan keduanya," dia menghadap Sasuke dan Sakura. "Jadi apa yang sedang kalian lakukan?"
"Tidak ada," jawab Sakura, memaksakan senyum di wajahnya. "Kami hanya mengobrol."
"Mengobrol?" Ino terlihat terkejut, menatap Sasuke, tapi kemudian menutupinya dengan senyum indahnya. "Bukankah itu bagus! Sayangnya aku harus pergi sekarang, tapi Sakura–senang bertemu denganmu lagi, kita harus bertemu lagi lain kali! Kapan kau senggang?"
"Aku tidak yakin," aku Sakura, kemudian merogoh tas tangannya, mengeluarkan sebuah kartu nama. "Senang bertemu denganmu lagi, Ino. Telepon aku kapanpun kau senggang."
"Ini sebuah reunian," Ino berjanji sambil menggandeng lengan Sasuke. "Baiklah. Terima kasih untuk pertemuan yang menyenangkan, Tenten. Kita akan segera bertemu lagi."
"Aku harap lebih cepat." Ujar Tenten menyetujui. "Dan terima kasih kembali."
Ketika Sasuke dan Ino sudah pergi, Tenten menyikut Sakura.
"Jadi," ucapnya, "Dia tampan, huh?"
"Maksudmu Uchiha Sasuke?" gerutu Sakura.
"Ya." Tenten mengangguk. "Apakah dia kekasih Ino atau apa?"
"Dia bilang bukan," jawab wanita berambut merak muda itu. "Aku sudah tanya."
"Kau terlihat seperti sudah pernah bertemu dengannya di suatu tempat."
"Sebenarnya, ya. Aku sudah bertemu dengannya di suatu tempat. Dia tidak sama seperti yang terlihat, aku bersumpah."
Tenten mengerutkan dahi curiga. "Kau menyembunyikan sesuatu, benarkan?"
"Tidak sepenuhnya." Sikap cerianya kembali, Sakura menggandeng lengan Tenten. "Ayo cari sesuatu untuk dimakan, aku kelaparan dan lagipula seharusnya hari ini adalah hari kita!" Melihat ekspresi Tenten, dia menyeringai. "Aku akan menceritakan semuanya jika kau mentraktirku makan siang."
"Hanya jika kau mentraktirku untuk makan malam," balas Tenten licik.
"Hanya jika kau menceritakan semua tentang pria-asing-di-pesawat mu," ujar Sakura sama liciknya.
"Itu sebuah kesepakatan."
o.o.o.o.o
"Jadi," Ino memulai ketika mereka sudah berada di dalam mobil dan di luar halaman kantor. "Kau terlihat nyaman bersama Sakura."
"Kami pernah bertemu beberapa hari yang lalu."
"Benarkah?" Ino terlihat tertarik. "Dimana? Bagaimana?"
Pertanyaannya di balas dengan kerutan dahi, "Ngomong-ngomong mengapa kau sangat tertarik tentangnya?"
"Dia teman masa kacilku," Ino tersenyum, "Ditambah, aku pikir dia menarik. Lebih menarik daripada dulu. Mengapa kau bagitu menyangkalnya?"
"Aku tidak menyangkalnya," gerutu Sasuke, bersungut.
"Lalu bagaimana aku harus mengartikan muka cemberutmu?"
"Ini adalah hari yang buruk," jawab Sasuke ketus.
"Karena kau tidak dapat menyelesaikan banyak dokumen seperti biasanya."
Sasuke semakin cemberut menyadari bahwa wanita ini mengenalnya dengan sangat baik.
"Ini hari yang bagus untuk jalan-jalan, Sasuke," Ino tersenyum lagi, meraih lengan Sasuke dan memeluknya. "Melihatmu bertemu dengan orang baru juga membuatku senang. Sakura terlihat seperti wanita yang baik."
"Aku tidak keluar dengannya."
"Benarkah? Kau harus. Kau tidak mempunyai teman wanita dan itu membuatku khawatir, kau tahu. Lagipula ini Sakura, aku mengenalnya, dia tidak akan melakukan hal buruk. Dia begitu polos untuk melakukan sesuatu."
"Aku mempunyai mu sekarang."
Ino terdiam sebelum sebuah senyum mengembang di bibirnya. "Tapi tidak selamanya, Sasuke."
"Jangan berbicara tentang itu lagi."
"Tak ada salahnya membicarakan apa yang akan terjadi," ujar Ino lembut dan menatap ke luar jendela. "Aku tahu Naruto selalu ada bersamamu selama ini. Tapi meskipun dengannya, kau tidak pernah terbuka sepenuhnya. Tak ada salahnya untuk mempercayai orang lain Sasuke. Dan ketika aku pergi…"
"Dan kau menyuruhku untuk mempercayai orang yang tidak ku kenal?" Tanya Sasuke dingin dan tajam.
"Tidak," mata biru Ino mengamati wajah Sasuke, dia berkata, "Tidak, tentu saja tidak, tapi dia akan membuatmu terkejut."
Dia sudah melakukannya, pikir Sasuke, tapi tidak mengatakan apapun selain tetap memandang ke arah jalan.
"Baiklah," Ino menatap sebuah kartu nama dan mengetik nomor Sakura di ponselnya, menyimpannya. Dia kemudian menyerahkan kartu itu ke tangan Sasuke, tersenyum lembut. "Itu pilihanmu."
Terdiam, Sasuke melempar kartu itu ke kursi belakang. Ino hanya menatapnya dan kartu yang yang tergeletak di lantai mobil, menggelengkan kepala kemudian menyalakan radio, mendengarkan sesuatu untuk memecah keheningan.
.
.
.
TBC
.
.
Terima kasih sudah membaca, review, follow, dan favorite.
